fbpx
Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini

Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini

Pagi itu, Selasa, 20 Januari 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Ada ketenangan yang menyelimuti, namun juga semangat yang hidup di wajah kakak shalih-shalihah. Hari itu bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan hari perenungan dan penguatan iman melalui Peringatan Hari Besar Islam Isra’ Mi’raj.

Dengan mengusung tema “Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini”, SD Islam Bintang Juara mengajak seluruh siswa untuk kembali menelusuri peristiwa agung yang menjadi tonggak utama kewajiban shalat. Sebuah peristiwa luar biasa yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dihidupkan maknanya dalam keseharian anak-anak.

Karena sejak awal, sekolah meyakini satu hal penting:

shalat bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa—dan cinta pada shalat perlu ditanamkan sedini mungkin, dengan cara yang tepat dan menggembirakan.

Isra’ Mi’raj: Peristiwa Langit yang Mengubah Kehidupan Umat

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari peristiwa inilah Allah ﷻ menghadiahkan shalat lima waktu sebagai ibadah utama umat Islam.

Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu di bumi, shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Rasul-Nya di langit. Ini menjadi isyarat kuat bahwa shalat memiliki kedudukan istimewa—sebagai penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.

Makna inilah yang ingin ditanamkan kepada kakak shalih-shalihah: bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, apalagi beban, tetapi hadiah penuh cinta dari Allah.

Belajar Shalat Sesuai Tahap Perkembangan Anak

Dalam peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, SD Islam Bintang Juara merancang rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar setiap jenjang kelas. Anak-anak tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak terlibat aktif—mendengar, mempraktikkan, berdiskusi, dan merefleksi.

Setiap jenjang memiliki pendekatan yang berbeda, namun tujuannya sama:

membangun pemahaman yang benar dan cinta yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan.

Kelas 1 dan 2: Berkisah, Meniru, dan Menumbuhkan Kebiasaan

Untuk kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2, kegiatan diawali dengan berkisah bersama Pak Solekan Al Hafidz. Dengan gaya tutur yang hangat dan bahasa yang dekat dengan dunia anak, Pak Solekan membawa anak-anak masuk ke dalam kisah Isra’ Mi’raj.

Bukan kisah yang rumit, melainkan cerita yang penuh imajinasi dan makna. Anak-anak diajak membayangkan perjalanan Rasulullah ﷺ, langit yang luas, dan betapa istimewanya shalat yang Allah perintahkan langsung.

Dari kisah tersebut, anak-anak mulai memahami bahwa:

  • shalat adalah perintah Allah,
  • shalat adalah bentuk cinta kepada Allah,
  • dan shalat perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Setelah sesi berkisah, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan adab berwudhu dan tata cara shalat. Anak-anak diajak meniru gerakan, memperhatikan urutan, serta mengenal sikap-sikap sederhana dalam shalat, seperti berdiri rapi, tertib, dan tenang.

Di usia ini, belajar shalat bukan tentang sempurna, melainkan tentang membiasakan. Anak belajar melalui meniru, mengulang, dan merasakan bahwa shalat adalah aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.

Kelas 3 dan 4: Aku Bisa Shalat dengan Benar

Berbeda dengan kelas bawah, kakak shalih-shalihah kelas 3 dan 4 mulai memasuki fase berpikir lebih sistematis. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun lebih reflektif dan partisipatif.

Dipandu oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz, kegiatan diawali dengan pemaparan materi bertema “Aku Bisa Shalat dengan Benar”. Anak-anak diajak memahami kembali:

  • rukun shalat,
  • urutan gerakan,
  • serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar shalat sah sesuai syariat.

Yang menarik, setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi shalat dan penilaian teman sebaya. Anak-anak saling bergantian menjadi pelaku dan pengamat. Dengan panduan yang jelas, mereka belajar mengamati apakah shalat temannya sudah sesuai atau belum.

Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga:

  • belajar mengamati,
  • belajar memberi masukan dengan santun,
  • dan belajar menerima koreksi dengan lapang dada.

Inilah proses penting dalam pembelajaran: belajar bersama, bukan saling menghakimi.

Kelas 5 dan 6: Mengapa Kita Harus Shalat?

Memasuki kelas 5 dan 6, anak-anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Mereka tidak lagi cukup hanya tahu “bagaimana”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa”.

Untuk itu, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sesi Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Mengapa Kita Harus Shalat?”, dipandu oleh Pak Ali As’ad Al Hafidz.

Dalam sesi ini, anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok diminta mengambil kertas berisi studi kasus yang berkaitan dengan shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh kasus yang dibahas:

“Jika sedang shalat, ada cicak yang buang kotoran di bahu kita, apakah batal shalat kita?”

Melalui diskusi ini, anak-anak diajak berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang mereka miliki. Setelah itu, Pak Ali memberikan penjelasan yang meluruskan pemahaman, sekaligus mencontohkan gerakan shalat yang tuma’ninah—tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh kesadaran.

Di sinilah anak-anak belajar bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi ibadah yang menuntut kehadiran hati.

Refleksi Bersama: Menilai dan Memperbaiki Kualitas Shalat

Setelah seluruh rangkaian kegiatan per jenjang selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penilaian praktik shalat secara individu untuk semua kelas. Penilaian ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana refleksi.

Anak-anak diajak:

  • mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
  • memperbaiki gerakan yang masih keliru,
  • dan menyadari bahwa kualitas shalat bisa terus ditingkatkan.

Refleksi ini menjadi penutup yang kuat, karena anak-anak tidak hanya pulang membawa cerita tentang Isra’ Mi’raj, tetapi juga kesadaran untuk memperbaiki shalat dalam keseharian.

Menanamkan Makna: Shalat adalah Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban

Dari seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan utama terus dikuatkan:
shalat bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan.

Shalat adalah:

  • tempat mengadu,
  • ruang menenangkan diri,
  • dan sarana mendekatkan hati kepada Allah.

Sebagaimana nasihat yang sering kita dengar dan kembali digaungkan dalam kegiatan ini:

“Perbaiki shalatmu, maka Allah SWT akan memperbaiki hidupmu.”

Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh orang dewasa yang membersamai mereka.

Penutup: Menumbuhkan Cinta Shalat sebagai Bekal Kehidupan

Peringatan Isra’ Mi’raj di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah proses pendidikan yang dirancang untuk menyentuh akal, hati, dan kebiasaan anak.

Melalui kisah, praktik, diskusi, dan refleksi, kakak shalih-shalihah belajar bahwa shalat adalah bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Bukan karena takut dimarahi, tetapi karena cinta yang tumbuh dari pemahaman.

Semoga dari kegiatan ini, tumbuh generasi yang:

  • mengenal shalat sejak dini,
  • mencintai shalat dengan sadar,
  • dan menjadikan shalat sebagai penopang hidupnya di masa depan.

Karena ketika shalat sudah tertanam di hati anak, insyaAllah ia akan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka ke mana pun mereka pergi.*** (CM-MRT)

Outing Class ke Planetarium UIN Walisongo: Petualangan Menjelajah Sistem Tata Surya

Outing Class ke Planetarium UIN Walisongo: Petualangan Menjelajah Sistem Tata Surya

Langit  pada Senin pagi (19 Januari 2026) itu terasa istimewa. Bukan hanya karena cuacanya yang cerah, tetapi karena ada rasa penasaran yang berbinar di mata kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara. Hari itu, kelas 1 dan kelas 6 bersiap melakukan sebuah perjalanan belajar yang berbeda dari biasanya—bukan sekadar duduk di kelas, melainkan menjelajah alam semesta.

Melalui kegiatan Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, anak-anak diajak mendekat pada ciptaan Allah yang begitu luas dan menakjubkan: langit dan seluruh isinya. Sebuah pengalaman belajar yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.

Belajar Sains dengan Cara yang Menghidupkan Rasa Ingin Tahu

Bagi SD Islam Bintang Juara, belajar sains bukan sekadar menghafal nama planet atau urutan tata surya. Sains adalah tentang mengamati, merasakan, bertanya, dan menemukan makna. Itulah mengapa kegiatan Outing Class ini dirancang sebagai pengalaman belajar langsung yang memberi kesan mendalam.

Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani dipilih karena menjadi ruang yang tepat untuk mengenalkan dunia astronomi secara nyata. Di tempat inilah, anak-anak dapat melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana ilmu pengetahuan berpadu dengan keagungan ciptaan Allah.

Sejak langkah pertama memasuki area planetarium, kakak shalih-shalihah sudah disambut dengan suasana yang memicu rasa ingin tahu. Bangunan, alat-alat observasi, dan penjelasan awal dari pemandu membuat anak-anak semakin antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

1. Meneropong Langit: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Teleskop

Salah satu momen yang paling ditunggu adalah kesempatan meneropong benda langit menggunakan teleskop. Bagi banyak anak, ini adalah pengalaman pertama mereka melihat langit melalui alat observasi sungguhan.

Dengan bimbingan pemandu, kakak shalih-shalihah diajak memahami cara kerja teleskop, fungsi lensa, dan bagaimana alat ini membantu manusia mengamati benda-benda langit yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Anak-anak bergantian mengintip melalui teleskop, wajah mereka penuh rasa takjub.

“Aku lihat cahaya terang!”
“Itu matahari ya?”
“MasyaAllah, ternyata langit luas sekali…”

Ucapan-ucapan polos itu menjadi bukti bahwa belajar langsung dari sumbernya mampu membangkitkan rasa kagum dan keingintahuan alami anak. Di momen ini, sains tidak lagi terasa abstrak—ia hadir nyata di hadapan mata.

2. Menonton Video Sistem Tata Surya: Belajar Visual yang Menguatkan Pemahaman

Setelah sesi observasi, kegiatan dilanjutkan dengan menonton video edukatif tentang sistem tata surya di ruang planetarium. Melalui visual yang menarik dan penjelasan yang mudah dipahami, anak-anak diajak menjelajah lebih jauh tentang matahari, planet-planet, serta fenomena alam yang terjadi di luar angkasa.

Video ini membantu anak memahami:

  • posisi matahari sebagai pusat tata surya,
  • perbedaan karakter setiap planet,
  • serta keteraturan sistem yang Allah ciptakan dengan sangat sempurna.

Bagi kakak kelas 6, materi ini memperkuat konsep sains yang sudah mereka pelajari di sekolah. Sementara bagi kakak kelas 1, tayangan visual ini menjadi pengalaman awal yang menyenangkan untuk mengenal dunia luar yang begitu luas.

Outing Class Kelas 1: Pengenalan Project Based Learning

Kunjungan ke planetarium ini memiliki makna khusus bagi kakak shalih-shalihah kelas 1. Kegiatan ini menjadi Tahap Pengenalan Project Based Learning (PBL) dengan tema “Peristiwa Pagi, Siang, Sore, dan Malam”.

Di usia awal sekolah dasar, anak-anak masih belajar memahami konsep waktu dan perubahan yang terjadi dalam satu hari. Melalui Outing Class ini, mereka tidak hanya diberi penjelasan secara verbal, tetapi diajak melihat keterkaitan langsung antara matahari, cahaya, dan pergantian waktu.

Anak-anak mulai dikenalkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:

  • Mengapa pagi terasa terang?
  • Kenapa sore langit berubah warna?
  • Mengapa malam gelap dan muncul bulan serta bintang?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi proses Project Based Learning, di mana anak akan diajak mengamati, berdiskusi, dan menyimpulkan berdasarkan pengalaman nyata.

Belajar Mengamati Alam Sejak Dini

Bagi kelas 1, pengalaman ini menjadi langkah awal untuk melatih keterampilan observasi. Anak-anak belajar bahwa peristiwa pagi, siang, sore, dan malam bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan bagian dari sistem alam yang teratur.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak berhenti di planetarium. Sepulang dari kegiatan, anak-anak akan diajak:

  • mengamati langit di rumah,
  • memperhatikan perubahan cahaya,
  • dan menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan rasakan.

Inilah esensi Project Based Learning: belajar yang berkelanjutan dan bermakna.

Kelas 6: Menguatkan Konsep dan Rasa Tanggung Jawab Belajar

Sementara itu, bagi kakak shalih-shalihah kelas 6, Outing Class ini menjadi sarana untuk menguatkan pemahaman sains sekaligus melatih sikap belajar yang lebih dewasa. Mereka tidak hanya menikmati kegiatan, tetapi juga diajak berpikir kritis dan reflektif.

Kelas 6 mulai memahami bahwa:

  • ilmu pengetahuan berkembang melalui observasi dan penelitian,
  • manusia diberi akal untuk mengkaji alam semesta,
  • dan setiap penemuan seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.

Melalui pengalaman ini, kakak kelas 6 belajar bahwa sains dan iman bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.

Menumbuhkan Rasa Kagum dan Syukur kepada Allah

Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa kagum terhadap kebesaran Allah. Ketika anak-anak melihat luasnya langit, jauhnya benda-benda angkasa, dan keteraturan sistem tata surya, mereka diajak menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.

Rasa kagum ini menjadi awal dari sikap:

  • rendah hati,
  • bersyukur,
  • dan semangat untuk terus belajar.

Belajar sains bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang merasakan kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

Outing Class sebagai Pengalaman Belajar Holistik

Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan bukan sekadar kunjungan edukatif. Ia menjadi pengalaman belajar holistik yang mencakup:

  • aspek kognitif melalui pemahaman sains,
  • aspek afektif melalui rasa kagum dan syukur,
  • serta aspek sosial melalui kebersamaan dan kedisiplinan selama kegiatan.

Anak-anak belajar mengikuti aturan, bergantian, mendengarkan penjelasan, dan menghargai lingkungan belajar di luar sekolah.

Belajar Tidak Selalu Harus di Dalam Kelas

Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Alam, lingkungan, dan tempat-tempat edukatif seperti planetarium adalah sumber belajar yang sangat kaya.

Dengan membawa anak keluar dari rutinitas kelas, sekolah memberi ruang bagi anak untuk:

  • merasakan pengalaman baru,
  • memperluas wawasan,
  • dan menemukan bahwa belajar itu menyenangkan.

Menyalakan Mimpi dan Cita-Cita Sejak Dini

Siapa tahu, dari kunjungan sederhana ini, kelak akan tumbuh:

  • ilmuwan,
  • peneliti,
  • atau generasi yang mencintai ilmu pengetahuan dan alam semesta.

Petualangan menjelajah sistem tata surya ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang menyalakan mimpi dan rasa ingin tahu yang akan terus hidup dalam diri kakak shalih-shalihah.

Penutup: Belajar dari Langit, Bertumbuh untuk Masa Depan

Melalui Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan UIN Walisongo, kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan.

Dari meneropong benda langit, menonton video sistem tata surya, hingga mengenal konsep waktu dan peristiwa alam, anak-anak belajar bahwa alam semesta adalah ruang belajar yang tak terbatas.

Semoga petualangan ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi pembelajar yang:

  • kritis dalam berpikir,
  • kuat dalam iman,
  • dan luas dalam wawasan.

Karena ketika anak-anak diajak mengenal langit, sejatinya mereka sedang diajak mengenal kebesaran Allah dan potensi diri mereka sendiri.***(CM-MRT)

Cegah Bullying dengan Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog

Cegah Bullying dengan Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog

Belakangan ini, kasus bullying atau perundungan semakin sering terdengar di masyarakat. Mulai dari ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga perundungan yang melibatkan media digital. Fenomena ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk karakter, adab, dan kesehatan emosional anak-anak.

Kesadaran inilah yang menggugah SD Islam Bintang Juara untuk mengambil langkah preventif dan edukatif. Bukan menunggu masalah terjadi, melainkan mencegah sejak dini melalui pembelajaran yang tepat, kontekstual, dan menyentuh dunia anak. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi, Psikolog, dengan fokus utama pada pencegahan bullying melalui penguatan adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital.

Kelas Inspirasi ini dirancang untuk menjangkau seluruh jenjang, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi:

  • Sesi 1: Selasa, 6 Januari 2026 untuk kelas 1–3
  • Sesi 2: Rabu, 7 Januari 2026 untuk kelas 4–6

Dua hari yang penuh makna ini menjadi ruang belajar, refleksi, sekaligus penguatan nilai-nilai persahabatan yang sehat bagi kakak shalih-shalihah.

Bullying Berawal dari Konflik yang Tidak Terselesaikan

Dalam dunia anak-anak, konflik adalah hal yang wajar. Berebut mainan, berbeda pendapat, merasa tidak adil, atau tersinggung oleh perkataan teman merupakan bagian dari proses tumbuh kembang sosial. Namun, konflik yang tidak disikapi dengan tepat dan dilakukan berulang—baik oleh anak maupun oleh orang dewasa di sekitarnya—dapat berkembang menjadi perundungan.

Bullying sering kali tidak dimulai dari niat jahat, tetapi dari:

  • emosi yang tidak terkelola,
  • kurangnya keterampilan berkomunikasi,
  • serta minimnya pemahaman tentang adab berteman.

Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali bukan hanya dengan larangan “jangan mengejek” atau “jangan memukul”, melainkan dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bersikap sebagai teman yang baik, bagaimana menyampaikan emosi, serta bagaimana merespons konflik secara sehat.

Sesi Kelas 1–3: Aku Sayang dan Peduli pada Teman

Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Kakak shalih-shalihah kelas 1 hingga 3 berkumpul dengan penuh antusias. Sesi pertama Kelas Inspirasi ini mengangkat tema “Aku Sayang dan Peduli pada Teman”, tema yang sederhana namun sangat fundamental bagi anak usia awal SD.

Bunda Vivi Psikolog menyadari bahwa anak-anak kelas 1–3 masih berada pada fase belajar mengenali diri dan orang lain. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun tidak bersifat ceramah, melainkan melalui gerak, lagu, dan interaksi yang menyenangkan.

Melalui lagu dan aktivitas sederhana, kakak shalih-shalihah diajak mengenal adab-adab berteman, seperti:

  • menyapa dengan ramah,
  • bergantian saat bermain,
  • meminta maaf ketika melakukan kesalahan,
  • serta membantu teman yang sedang kesulitan.

Dengan bahasa yang mudah dipahami anak, Bunda Vivi menekankan bahwa menyayangi teman bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan sehari-hari. Anak-anak diajak merasakan bahwa memiliki teman itu menyenangkan ketika kita saling peduli dan menghargai.

Gelak tawa, gerakan tangan, dan nyanyian ceria mengisi sesi ini. Namun di balik keseruannya, tersimpan pesan penting: setiap anak berharga dan layak diperlakukan dengan baik.

galeri kelas inspirasi kelas 1-3

Menanamkan Adab Berteman Sejak Dini

Pada usia kelas 1–3, anak-anak sedang belajar membentuk konsep tentang benar dan salah dalam hubungan sosial. Di fase ini, keteladanan dan pembiasaan menjadi kunci utama.

Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami bahwa:

  • mengejek bisa melukai perasaan,
  • mendorong teman bukanlah solusi,
  • dan diam saat melihat teman disakiti bukanlah sikap yang benar.

Anak-anak dilatih untuk peka terhadap perasaan teman, meskipun masih dalam bentuk sederhana. Dengan pendekatan yang hangat, mereka belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan bicara, bukan dengan menyakiti.

Langkah kecil ini menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan bullying sejak usia dini.

Sesi Kelas 4–6: Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan

Berbeda dengan sesi pertama, Kelas Inspirasi untuk kelas 4–6 pada Rabu, 7 Januari 2026 hadir dengan nuansa yang lebih reflektif. Tema yang diangkat adalah “Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan”, menyesuaikan dengan tantangan sosial anak usia akhir SD.

Pada fase ini, anak-anak mulai:

  • lebih sadar terhadap penilaian teman,
  • lebih intens dalam pergaulan,
  • serta mulai bersentuhan dengan dunia digital secara lebih luas.

Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah mengenali ragam emosi yang sering muncul dalam pertemanan: marah, sedih, kecewa, cemburu, hingga rasa tidak dihargai. Anak-anak diajak untuk bercermin pada diri sendiri.

Apakah ketika marah, emosinya meledak-ledak?
Apakah ketika sedih dan kecewa, perasaannya lama sekali hilang?

Pesan penting yang disampaikan adalah:
marah boleh, sedih boleh, kecewa juga boleh—asal tahu cara mengelolanya dengan tepat.

galeri kelas inspirasi kelas 4-6

Mengelola Emosi agar Tidak Menyakiti

Dalam sesi ini, Bunda Vivi menekankan bahwa emosi bukanlah musuh. Emosi justru menjadi sinyal yang membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Masalah muncul ketika emosi:

  • tidak dikenali,
  • dipendam terlalu lama,
  • atau diekspresikan secara tidak tepat.

Kakak kelas 4–6 diajak mempelajari cara-cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti:

  • menarik napas perlahan,
  • mengambil jeda sebelum bereaksi,
  • serta menyampaikan perasaan dengan kata-kata yang baik.

Dengan cara ini, anak-anak belajar bahwa emosi yang terkelola dengan baik akan melahirkan pertemanan yang sehat, sementara emosi yang meledak-ledak berisiko melukai diri sendiri dan orang lain.

Literasi Digital sebagai Bagian dari Pencegahan Bullying

Salah satu pembahasan penting dalam sesi kedua adalah literasi digital. Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah menyadari bahwa pertemanan hari ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.

Komentar, pesan singkat, emoji, dan unggahan di media sosial bisa menjadi sumber kebahagiaan—namun juga bisa menjadi sarana perundungan jika tidak digunakan dengan bijak.

Anak-anak diajak memahami bahwa:

  • kata-kata di dunia digital tetap memiliki dampak emosional,
  • menyebarkan pesan tanpa berpikir bisa melukai orang lain,
  • dan tidak semua hal perlu dibagikan atau ditanggapi.

Literasi digital ini menjadi bekal penting agar kakak shalih-shalihah mampu bersikap bijak, empatik, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara online.

Sekolah sebagai Ruang Aman untuk Bertumbuh

Melalui Kelas Inspirasi ini, SD Islam Bintang Juara menegaskan komitmennya untuk menjadikan sekolah sebagai ruang aman, tempat anak-anak dapat belajar, berekspresi, dan bertumbuh tanpa rasa takut.

Pencegahan bullying bukanlah tugas satu pihak saja. Ia membutuhkan:

  • keterlibatan sekolah,
  • dukungan orang tua,
  • serta kesadaran anak-anak itu sendiri.

Dengan membekali kakak shalih-shalihah pemahaman tentang adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital, sekolah berharap anak-anak tidak hanya mampu menghindari perundungan, tetapi juga menjadi agen kebaikan di lingkungannya.

Menjadi Teman yang Baik adalah Keterampilan Hidup

Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog bukan sekadar kegiatan tematik. Ia adalah bagian dari proses panjang membentuk karakter anak agar:

  • mampu memahami dirinya,
  • menghargai orang lain,
  • dan menyelesaikan konflik dengan cara yang bermartabat.

Menjadi teman yang baik adalah keterampilan hidup yang perlu dilatih sejak dini. Ketika anak-anak belajar mengelola emosi dan bersikap empatik, mereka tidak hanya terhindar dari perilaku bullying, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional, sehat secara sosial, dan berakhlak mulia.

Melalui ikhtiar ini, SD Islam Bintang Juara berharap setiap kakak shalih-shalihah dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, saling peduli, dan saling menjaga—karena sekolah yang aman adalah pondasi bagi masa depan yang lebih baik.***

Menguatkan Regulasi Emosi Anak Sejak Dini: Refleksi Parenting Kelas 2 SD Islam Bintang Juara

Menguatkan Regulasi Emosi Anak Sejak Dini: Refleksi Parenting Kelas 2 SD Islam Bintang Juara

Sabtu pagi, 8 November 2025, ruang kelas 2A, 2B, dan 2C SD Islam Bintang Juara tidak dipenuhi suara anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi kali ini dipenuhi oleh Ayah Bunda yang hadir dengan satu kesadaran yang sama: belajar kembali memahami dunia emosi anak, sekaligus emosi diri sendiri sebagai orang dewasa.

Kegiatan Parenting Kelas 2 ini dipandu oleh Bu Muhayati, wali kelas 2A, dengan tema utama mengembangkan regulasi emosi dan keterampilan sosial anak. Tema ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses observasi panjang guru terhadap dinamika kakak shalih-shalihah kelas 2 dalam keseharian belajar, bermain, dan berinteraksi.

Sejak awal, Ayah Bunda diajak memahami bahwa pembahasan tentang emosi anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang dewasa di sekitarnya. Sebelum berbicara tentang bagaimana anak mengelola marah, sedih, kecewa, atau takut, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita mengenali dan mengelola emosi kita dengan baik?

Regulasi Emosi Anak Dimulai dari Orang Dewasa

Dalam pemaparannya, Bu Muha menegaskan bahwa pendidikan emosi tidak hanya terjadi melalui nasihat, aturan, atau konsekuensi. Anak-anak belajar regulasi emosi terutama melalui contoh nyata: bagaimana orang tua bereaksi ketika lelah, bagaimana guru merespons kesalahan, dan bagaimana orang dewasa menghadapi konflik sehari-hari.

Ayah Bunda, guru di sekolah, serta orang dewasa lain yang terlibat dalam pengasuhan kakak shalih-shalihah sesungguhnya sedang “mengajar” setiap hari—bahkan tanpa kata-kata. Karena itulah, upaya membangun regulasi emosi anak perlu dilakukan secara kolaboratif antara rumah dan sekolah.

Dalam konteks inilah Bu Muha kembali mengingatkan pentingnya playdate kelas. Bukan sekadar ajang bermain, playdate menjadi ruang bertemunya nilai, pola asuh, dan komunikasi antarorang tua agar pendampingan anak lebih selaras.

Membaca Karakteristik Perkembangan Anak Kelas 2

Paparan kemudian dilanjutkan oleh Bu Ni’mah, yang mengajak Ayah Bunda melihat lebih dekat karakteristik perkembangan kakak shalih-shalihah kelas 2 TP. 2025–2026. Pada fase ini, anak-anak berada dalam masa transisi penting menuju fase perkembangan berikutnya, sehingga banyak dinamika yang muncul secara bersamaan.

Secara umum, ditemukan bahwa sebagian besar anak shalihah kelas 2 masih mengalami tantangan dalam menampilkan ekspresi yang sesuai, terutama pada kegiatan terstruktur seperti membaca nyaring, menyampaikan ide, atau tampil di depan kelas. Menariknya, beberapa anak sebenarnya memiliki gagasan, namun lebih nyaman menyampaikannya kepada teman dibandingkan kepada guru.

Di sisi lain, kegesitan dan kemandirian anak juga masih menjadi pekerjaan rumah. Hal ini tampak dalam aktivitas sederhana seperti menyelesaikan makan siang atau menuntaskan tugas harian. Dari sisi sosial-emosi, fluktuasi emosi masih sering muncul dan membutuhkan pendampingan yang konsisten.

Sementara itu, karakteristik kakak shalih kelas 2 justru menunjukkan energi sosial yang sangat besar. Mereka dikenal solid, aktif berbicara, dan senang berinteraksi—bahkan pada situasi yang seharusnya tenang. Dari sudut pandang positif, ini menunjukkan kebutuhan sosial yang kuat. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, anak masih kesulitan memahami batasan konteks: kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya fokus.

Bu Ni’mah menegaskan bahwa energi besar bukanlah masalah, selama diarahkan dengan tepat. Tantangan muncul ketika anak belum memahami aturan, konteks ruang, dan kontrol diri yang sesuai dengan situasi.

Menggali Akar, Bukan Sekadar Mengatasi Permukaan

Salah satu refleksi penting dalam parenting ini adalah pemahaman bahwa perilaku anak jarang muncul secara tiba-tiba. Banyak pola yang sesungguhnya berulang sejak usia dini, hanya saja tampilannya berubah seiring bertambahnya usia.

Bu Ni’mah menjelaskan bahwa pola perilaku tertentu bisa muncul di usia 3 tahun, muncul kembali di usia 6 tahun, lalu kembali terlihat di usia 12 atau 13 tahun. Karena itu, dalam menangani konflik atau perilaku berulang, guru tidak hanya fokus pada kejadian saat ini, tetapi juga berupaya menarik akar permasalahan.

Pendekatan ini membantu sekolah dan orang tua untuk tidak terjebak pada reaksi sesaat, melainkan membangun strategi pendampingan jangka panjang—terutama sebelum anak memasuki masa pra pubertas dan pubertas.

Perspektif Psikolog: Regulasi Emosi sebagai Pondasi Kehidupan

Materi inti kemudian disampaikan oleh Bunda Vivi Psikolog, yang menegaskan bahwa isu regulasi emosi dan keterampilan sosial bukanlah hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus yang ditangani semakin kompleks dan sering kali baru ditangani ketika anak sudah remaja atau dewasa.

Karena itulah, pendampingan sejak usia SD menjadi sangat penting. Bunda Vivi mengingatkan bahwa masa pra pubertas sering kali terlewatkan, padahal pada fase inilah gejolak emosi mulai muncul. Anak perempuan, misalnya, umumnya memasuki pra pubertas lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Artinya, anak usia kelas 2–3 sebenarnya sudah perlu dipersiapkan secara emosional.

Salah satu perhatian khusus adalah kondisi emosi yang datar sejak dini. Anak belajar ekspresi pertama kali dari orang tuanya—dari cara orang tua bermain, berbicara, dan menunjukkan emosi. Jika orang tua minim ekspresi, anak pun berisiko meniru pola yang sama.

Mengenali, Mengelola, dan Mengekspresikan Emosi secara Sehat

Dalam regulasi emosi, Bunda Vivi Psikolog menekankan bahwa prosesnya tidak berhenti pada mengenali dan mengelola emosi saja. Anak juga perlu belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat dan bermanfaat.

Sedih boleh, marah boleh, bahkan melawan boleh—selama dilakukan sesuai konteks dan tidak berlebihan. Anak juga perlu dilatih menyampaikan cerita berdasarkan fakta, bukan sekadar label emosi. Kemampuan ini sangat berpengaruh terhadap cara anak menyelesaikan konflik dan berinteraksi secara sosial.

Terkait gadget, Ayah Bunda diingatkan untuk menerapkan prinsip 4D:

  • dibutuhkan,
  • dipinjami,
  • didampingi,
  • dan dibatasi.

Paparan berlebihan terhadap gadget terbukti berdampak pada emosi, kualitas tidur, dan daya juang anak.

Sentuhan, Kegiatan, dan Kelekatan Emosi

Sebagai penutup, Bunda Vivi mengingatkan dua hal sederhana namun fundamental: sentuhan dan kegiatan. Pelukan, pijatan, kehadiran fisik, serta keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak menjadi fondasi penting dalam membangun kelekatan emosi.

Anak yang merasa didengar, ditemani, dan dipahami akan lebih mudah belajar mengelola emosinya. Dari kelekatan inilah tumbuh kepercayaan, resiliensi, dan kemampuan sosial yang sehat.

Bunda Vivi Psikolog menyampaikan bahwa 3 K-si masih menjadi tiga kunci utama dalam membangun hubungan dengan anak; kelekatan emosi, komunikasi efektif dan konsistensi.

Menjaga Fitrah, Menguatkan Ikhtiar Bersama

Parenting Kelas 2 SD Islam Bintang Juara menjadi ruang refleksi bahwa mendampingi anak bukan soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang bersedia terus belajar dan berproses. Anak-anak kelas 2 masih berada dalam fase fitrah yang kuat. Tugas kita bersama adalah menjaga fitrah itu tetap tumbuh sesuai tahapannya.

Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empati, dan konsistensi, insyaAllah kakak shalih-shalihah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan siap menghadapi fase berikutnya—dengan hati yang sehat dan emosi yang terkelola.

Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empatik, dan konsistensi antara rumah dan sekolah, insyaAllah kakak shalih-shalihah siap melangkah ke fase berikutnya dengan hati yang lebih matang dan emosi yang lebih terkelola.

Karena pada akhirnya, mendidik regulasi emosi anak adalah perjalanan bersama—antara anak, orang tua, dan guru—yang saling menguatkan dalam ikhtiar dan doa.*** (CM-MRT)

Serunya Kakak Kelas 5 Belajar Bersama Ahli di RSWN: Melihat Lebih Dekat, Mendengar Lebih Jelas

Serunya Kakak Kelas 5 Belajar Bersama Ahli di RSWN: Melihat Lebih Dekat, Mendengar Lebih Jelas

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) Kelas 5 SD Islam Bintang Juara kali ini mengambil tema “Mengenal Indera, Menyapa Dunia: Mata yang Melihat Cahaya, Telinga yang Mendengar Cerita.”

Melalui kunjungan ke Rumah Sakit Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN), kakak shalih-shalihah belajar langsung tentang bagaimana indera penglihatan dan pendengaran bekerja, serta cara menjaganya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari Pembelajaran Mendalam (PM), di mana peserta didik tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari praktik nyata di lapangan bersama para ahli di bidangnya. Ini juga merupakan tahap pengenalan dalam Project Based Learning terkait bunyi dan cahaya.

Sambutan Inspiratif dari dr. Lia Sasdesi Mangiri

Kunjungan edukatif ini dibuka dengan sambutan penuh semangat dari dr. Lia Sasdesi Mangiri, Sp.Rad, selaku Wakil Direktur Pelayanan RSWN.
Beliau mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan indera sejak dini.

“Menjaga mata dan telinga berarti menjaga cara kita memahami dunia,” ujar beliau, memantik semangat belajar para kakak kelas 5 yang mendengarkan dengan antusias.

Belajar Kesehatan Mata dan Telinga Bersama dr. Fathiya Khansa Diarti

Sesi materi utama dibawakan oleh dr. Fathiya Khansa Diarti dengan topik “Kesehatan Mata dan Telinga.” Melalui presentasi interaktif, beliau menjelaskan berbagai penyakit yang umum terjadi, seperti rabun jauh, infeksi telinga, serta kebiasaan buruk yang sering dilakukan anak-anak, misalnya menonton terlalu dekat atau mendengarkan musik dengan volume tinggi.

Kakak-kakak sangat antusias bertanya. Salah satu dari mereka, Kak Banyu, bertanya, “Dok, kenapa mata bisa minus?”

dr. Fathiya menjawab dengan sabar, “Karena bola mata terlalu panjang, sehingga bayangan jatuh di depan retina. Tapi bisa dikoreksi dengan kacamata.”

Keenam kakak yang paling aktif bertanya mendapatkan mug spesial dari pihak RSWN sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajarnya.

Mengunjungi Poli Mata: Melihat Dunia Lewat Teknologi Medis

Perjalanan berikutnya membawa kakak ke Poli Mata. Di sana, mereka disambut oleh dr. Asri dan tim medis yang memperkenalkan alat-alat pemeriksaan penglihatan.

Kakak belajar membedakan mata sehat dan mata yang mengalami gangguan, serta mencoba alat untuk mengukur minus kacamata. Momen ini membuat mereka takjub — betapa teknologi kedokteran begitu membantu manusia menjaga nikmat penglihatan yang Allah berikan.

Menjelajah Poli THT: Belajar Menjaga Pendengaran dan Pernapasan

Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan ke Poli THT, bertemu dengan dr. Joko dan tim. Di sini, kakak dikenalkan berbagai alat untuk memeriksa telinga, hidung, dan tenggorokan.

Mereka juga diajak melihat langsung proses pemeriksaan di ruang audiometri, tempat dokter menguji kemampuan mendengar seseorang. Kakak tampak penasaran melihat grafik suara di layar — bagaimana gelombang suara bisa diukur dan ditampilkan dengan teknologi.

Makna Pembelajaran Mendalam di Dunia Nyata

Kegiatan Belajar Bersama Ahli bukan sekadar kunjungan edukatif, tetapi merupakan praktik nyata dari Pembelajaran Mendalam di SD Islam Bintang Juara. Melalui pengalaman langsung di dunia kerja profesional, kakak belajar mengaitkan pengetahuan akademik dengan kehidupan nyata — memahami fungsi tubuh sekaligus menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sebagaimana pesan dari Bu Linda (Wali Kelas 5) di awal kegiatan,

“Kita belajar hari ini agar lebih menghargai setiap anugerah Allah. Mata dan telinga bukan sekadar alat, tapi jendela untuk memahami dunia.”

Kesimpulan: Dari Rumah Sakit, Pulang dengan Ilmu dan Kesadaran Baru

Kunjungan edukatif ke Rumah Sakit Wongsonegoro ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Kakak shalih-shalihah tidak hanya membawa pengetahuan tentang kesehatan mata dan telinga, tetapi juga kesadaran spiritual dan sosial untuk menjaga karunia Allah yang begitu berharga.

Belajar langsung dari para ahli membuat mereka memahami bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah, dan setiap ilmu yang dipelajari adalah bentuk syukur atas ciptaan-Nya.*** (CM-MRT)

Serunya Kelas 1A Belajar Bangun Ruang Lewat Permainan bersama Bunda Erni

Serunya Kelas 1A Belajar Bangun Ruang Lewat Permainan bersama Bunda Erni

SD Islam Bintang Juara, BBOT SD Islam Bintang Juara, belajar bangun ruang, pembelajaran menyenangkan, pembelajaran bermakna, bangun ruang kelas 2, kegiatan kolaboratif, kegiatan numerasi, pembelajaran berkesadaran, pembelajaran mendalam

Belajar Bangun Ruang dengan Cara yang Tak Biasa

Selasa, 28 Oktober 2025 menjadi hari yang penuh tawa dan semangat di Kelas 2C SD Islam Bintang Juara. Hari itu, suasana kelas berubah menjadi arena permainan edukatif yang seru. Kakak shalih-shalihah tak hanya duduk di kursi belajar seperti biasa, melainkan berlari, berdiskusi, dan bereksperimen bersama.

Semua itu karena hadirnya sosok istimewa—Bunda Erni Widiyastuti, orang tua dari Kak Firda, yang menjadi narasumber dalam kegiatan BBOT (Bintang Belajar Orang Tua) hari itu. Tema yang diangkat pun menarik: “Ada Bangun Ruang di Sekitarku.”

Lewat sentuhan khas orang tua yang kreatif dan penuh kasih, Bunda Erni berhasil mengubah pelajaran matematika menjadi pengalaman bermain yang bermakna.

Bangun Ruang Itu Dekat dengan Kehidupan Sehari-Hari

Kegiatan dimulai dengan cerita ringan dari Bunda Erni. Ia memperlihatkan berbagai benda yang sering dijumpai di rumah—mulai dari kemasan bedak, kotak susu, hingga bola kecil. Bunda kemudian bertanya, “Kira-kira, ini bentuknya seperti apa, ya?”

Spontan tangan-tangan kecil terangkat tinggi. “Balok, Bu!” seru salah satu kakak. “Bola, Bunda!” jawab yang lain dengan penuh semangat.

Di sinilah konsep matematika menjadi hidup dan kontekstual. Kakak shalih-shalihah diajak untuk menyadari bahwa bangun ruang bukan hanya ada di buku pelajaran, tapi juga di sekitar mereka setiap hari.

Permainan Seru: Lari Cepat ke Nama Bangun Ruang!

Setelah sesi pengenalan, kegiatan berlanjut dengan permainan interaktif. Bunda Erni menyiapkan beberapa kertas besar bertuliskan nama-nama bangun ruang seperti kubus, balok, tabung, dan bola yang ditempel di sekeliling kelas.

Ketika Bunda Erni mengangkat sebuah benda, setiap kelompok harus berdiskusi cepat menentukan bentuknya. Begitu sepakat, mereka berlari ke arah tulisan yang sesuai! Sorak sorai pun memenuhi ruangan — penuh tawa, semangat, dan kerja sama.

Lewat kegiatan sederhana ini, anak-anak belajar melatih kecepatan berpikir, komunikasi, dan kolaborasi dalam kelompok. Mereka tidak sekadar menghafal bentuk, tetapi memahami dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata.

Menarik Jaring-Jaring Bangun Ruang: Dari Datar Menjadi 3D

Setelah berlari-lari seru, giliran sesi eksplorasi bentuk. Bunda Erni menunjukkan jaring-jaring bangun ruang dari karton warna-warni. Kakak diminta menarik garis lipatan untuk melihat bagaimana bidang datar bisa berubah menjadi bentuk tiga dimensi.

Wajah kagum terlihat di mana-mana.
Wah, ternyata kalau dilipat bisa jadi kotak, ya!” seru salah seorang kakak.
Ini seperti main puzzle!” tambah yang lain.

Tahap ini membantu anak memahami struktur ruang secara visual dan kinestetik, sekaligus mengasah ketelitian serta koordinasi tangan-mata.

Kegiatan Kreatif: Menggunting dan Melipat Bangun Ruang Sendiri

Kegiatan ditutup dengan tantangan terakhir: membuat bangun ruang dari jaring-jaring kertas. Setiap anak mendapatkan lembaran pola dan peralatan gunting serta lem. Dengan bimbingan Bunda Erni dan guru kelas, mereka mulai menggunting, melipat, dan menempel bagian-bagiannya.

Tak hanya keterampilan motorik halus yang berkembang, tapi juga kemandirian dan tanggung jawab terhadap hasil karya sendiri. Beberapa kakak bahkan saling membantu, menunjukkan semangat kolaborasi yang hangat.

Yuk bantu aku biar lemnya nggak lepas,” kata Kak Firda pada temannya — bukti bahwa belajar juga bisa jadi wadah menumbuhkan empati.

Manfaat Belajar Bangun Ruang Secara Bermakna

Apa saja manfaat belajar bangun ruang?

1. Menguatkan Literasi Numerasi

Melalui kegiatan bermain dan praktik langsung, anak belajar konsep pecahan, bentuk, dan volume dengan cara alami dan menyenangkan.
Numerasi tidak lagi terasa kaku, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari.

2. Melatih Kolaborasi dan Komunikasi

Kegiatan kelompok seperti diskusi bentuk dan lomba cepat membuat anak belajar berpendapat, mendengarkan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

3. Mengasah Keterampilan Motorik dan Kreativitas

Menggunting dan melipat jaring-jaring melatih koordinasi, ketelitian, dan daya cipta.
Anak belajar bahwa berpikir matematis juga bisa ekspresif dan kreatif.

4. Membaca Tahap Perkembangan Siswa

Bagi guru, kegiatan ini menjadi momen penting untuk membaca karakter dan tahap perkembangan siswa — bagaimana anak berkomunikasi, memimpin, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Kesimpulan: Belajar yang Bermakna, Gembira, dan Kolaboratif

Melalui kegiatan BBOT Kelas 1A bersama Bunda Erni Widiyastuti, pembelajaran bangun ruang menjadi lebih dari sekadar pelajaran matematika.
Ia berubah menjadi pengalaman yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan — sesuai nilai-nilai Pembelajaran Mendalam di SD Islam Bintang Juara.

Dari bermain hingga berefleksi, dari benda sederhana hingga konsep ruang, semua mengajarkan hal besar: bahwa belajar paling indah adalah ketika hati ikut terlibat.*** (CM-MRT)