fbpx
Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Suasana aula sekolah pagi itu terasa berbeda. Senyum ceria, rasa penasaran, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan ketika kakak shalih–shalihah berkumpul untuk mengikuti Puncak Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim di SD Islam Bintang Juara.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Acara dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh Pak Amir dan Bu Laila, yang mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kegiatan dengan penuh kegembiraan.

Puncak Festival Ramadan tidak hanya menjadi momen pengumuman pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi tentang Idulfitri, penampilan inspiratif dari para peserta terbaik, serta pembagian apresiasi kepada siswa-siswi yang telah menunjukkan bakat dan usaha terbaik mereka.

Penguatan Materi Idulfitri: Kembali kepada Kesucian

Sebelum memasuki sesi pengumuman pemenang festival, kegiatan diawali dengan penguatan materi tentang Idulfitri yang disampaikan oleh Pak Ali.

Dalam pemaparannya, Pak Ali menjelaskan bahwa Idulfitri memiliki makna yang sangat mendalam. Secara bahasa, Idulfitri berarti kembali kepada kesucian. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih—baik hati, pikiran, maupun perbuatannya.

Pak Ali juga mengajak kakak shalih–shalihah memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan salat Idulfitri.

Beliau menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan salat Idulfitri dimulai sejak matahari terbit hingga sebelum waktu zuhur. Ini berbeda dengan salat Jumat yang dilaksanakan pada waktu zuhur.

Selain waktu pelaksanaan, terdapat juga perbedaan dalam jumlah takbir pada salat Idulfitri.

Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan jika ditambah dengan takbiratul ihram, maka jumlahnya menjadi delapan kali takbir. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah pendek, dan yang disunnahkan adalah Surah Al-A’la.

Sedangkan pada rakaat kedua, terdapat lima kali takbir. Jika ditambah dengan takbiratul qiyam, jumlahnya menjadi enam kali takbir.

Agar penjelasan semakin mudah dipahami, Pak Ali kemudian mengajak Kak Syabil dan Kak Nadhif untuk maju ke depan menjadi model praktik salat Idulfitri. Dengan contoh langsung, kakak shalih–shalihah dapat melihat secara jelas urutan gerakan dan bacaan salat Idulfitri.

Pak Ali juga mengajarkan niat salat Idulfitri, yaitu:

“Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.”

Artinya: Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Di akhir sesi, Pak Ali juga mengingatkan beberapa sunnah sebelum melaksanakan salat Idulfitri, di antaranya:

  • Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat
  • Mandi untuk menyambut Idulfitri dengan niat karena Allah Ta’ala
  • Berhias secukupnya, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian
  • Berjalan kaki menuju tempat salat, serta dianjurkan mengambil jalur berbeda saat berangkat dan pulang
  • Mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah

Penjelasan ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih–shalihah agar dapat menyambut Idulfitri dengan pemahaman yang benar.

Penampilan Bermakna dari Peserta Terbaik

Setelah sesi penguatan materi, acara dilanjutkan dengan penampilan istimewa dari para peserta terbaik Festival Ramadan.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah ceramah dari Kak Akhtar, yang menjadi peserta terbaik Da’i Cilik kelas tinggi. Dalam ceramahnya, Kak Akhtar menyampaikan pesan tentang pentingnya adab seorang anak kepada orang tua dan guru.

Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Pesan yang sederhana namun penuh makna ini disampaikan dengan penuh percaya diri.

galeri penampilan bermakna puncak festival ramadan

Selanjutnya, suasana menjadi lebih meriah dengan penampilan Kak Sena dan Kak Balya yang menyanyikan lagu Rukun Iman. Lagu tersebut mengajak semua yang hadir untuk kembali mengingat dasar-dasar keimanan dalam Islam.

Tidak kalah menarik, Kak Ayra tampil membawakan cerita Islami tentang Nabi Nuh AS, nabi yang dikenal dengan kisah bahteranya yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.

Penampilan lain datang dari Kak Ihsan, yang menyampaikan ceramah bertema Nuzulul Qur’an, serta Kak Ganendra yang bercerita tentang salah satu sahabat Rasulullah, Usamah bin Zaid, seorang pemimpin muda yang dipercaya Rasulullah memimpin pasukan di usia yang sangat muda.

Acara penampilan ditutup dengan duet merdu dari Kak Naura dan Kak Neyva, yang membawakan lagu Islami dengan penuh penghayatan.

Puncak Festival Ramadan: Pengumuman Peserta Terbaik

Momen yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman pemenang Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang dipanggil. Berikut daftar peserta terbaik dalam berbagai cabang lomba:

1. Festival Azan

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Fatih (2A)
  • Juara 2: Zaky (3A)
  • Juara 3: Dipa (2A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Royan (5)
  • Juara 2: Naoki (4B)
  • Juara 3: Farabi (6)

2. Festival Da’i Cilik

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Ihsan (3B)
  • Juara 2: Alin (3A)
  • Juara 3: Hafsa (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Akhtar (5)
  • Juara 2: Hasna (4A)
  • Juara 3: Zahra (6)

3. Festival Kaligrafi

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Afsenia (3A)
  • Juara 2: Jezira (3A)
  • Juara 3: Feisya (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Al Kindi (4A)
  • Juara 2: Damar (4B)
  • Juara 3: Ghaza (5)

4. Festival Tahfiz

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Hisyam (3B)
  • Juara 2: Oki (1C)
  • Juara 3: Kaira (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Hya (5)
  • Juara 2: Banyu (5)
  • Juara 3: Fakhri (4B)

5. Festival Duet Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Sena – Hanya (2A)
  • Juara 2: Gentala – Jaziel (3A)
  • Juara 3: Rama – Karuna (1A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Naura – Neyva (4B)
  • Juara 2: Satria – Gesang (5)
  • Juara 3: Syabil – Aqasha (6)

6. Cerita Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Aira (3B)
  • Juara 2: Hanif (3A)
  • Juara 3: Abim (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Ganendra (4A)
  • Juara 2: Aleena (4A)
  • Juara 3: Sophia (4B)

7. Pengetahuan PAI & BTQ

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Rafif (3A)
  • Juara 2: Nura (2A)
  • Juara 3: Rumaisa (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Thalita (5)
  • Juara 2: Moza (4A)
  • Juara 3: Lina (4B)

8. Festival Tartil

Khusus untuk festival ini hanya diperuntukkan bagi kelas tinggi, terutama yang sudah belajar Qiraaty Juz 27 dan Ghorib. Dan inilah para peserta terbaiknya:

  • Juara 1: Yossi (5)
  • Juara 2: Nadhif (6)
  • Juara 3: Allea (5)

Menumbuhkan Calon Pemimpin Muslim

Puncak Festival Ramadan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani tampil, serta menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.

Dari panggung kecil tempat mereka membaca Al-Qur’an, bercerita tentang kisah para nabi, hingga menyampaikan ceramah, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keberanian, dan semangat untuk menyebarkan kebaikan.

Karena sejatinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan melalui kegiatan seperti inilah nilai-nilai tersebut mulai ditanamkan sejak dini kepada kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam. Pada bulan inilah Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Pintu rahmat dan keberkahan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, jika kita melihat perjalanan sejarah Islam, justru pada bulan Ramadan banyak peristiwa besar yang terjadi.

Rasulullah SAW dan para sahabat tetap aktif berdakwah dan melakukan berbagai perjuangan besar pada bulan Ramadan. Semangat mereka menunjukkan bahwa Ramadan bukan waktu untuk melemah, tetapi justru menjadi momen terbaik untuk meningkatkan amal dan kebaikan.

Semangat inilah yang ingin ditanamkan kepada siswa-siswi SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim.

Kegiatan ini menjadi salah satu program yang dirancang untuk memberikan ruang bagi kakak shalih–shalihah dalam menyalurkan potensi, sekaligus menumbuhkan karakter positif selama bulan Ramadan.

Menghidupkan Bulan Suci dengan Kegiatan Positif melalui Festival Ramadan

Festival Ramadan bukan sekadar perlombaan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Melalui berbagai cabang festival Islami, kakak shalih-shalihah diajak untuk:

  • menampilkan kemampuan terbaik mereka,
  • belajar tampil percaya diri,
  • melatih keberanian berbicara di depan umum,
  • sekaligus memperdalam pemahaman agama.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tahap awal pemetaan potensi siswa untuk mempersiapkan delegasi sekolah dalam ajang Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni (MAPSI).

Dengan demikian, festival ini tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan bakat siswa secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan karakter pejuang, kreativitas, dan rasa percaya diri pada diri setiap anak.

Festival Ramadan dilaksanakan pada hari Rabu – Kamis, 11 – 12 Maret 2026. Hari Rabu adalah pelaksanaan festival untuk kelas 1-3, sementara hari Kamis adalah pelaksanaan festival untuk kelas 4-6. Kegiatan ini dilaksanakan bergantian dengan Jelajah Budaya Islam di Nusantara.

Ragam Cabang Festival untuk Kelas 1–3

Kakak kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti berbagai cabang lomba yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Salah satu cabang yang menarik adalah lomba Azan dan Iqomah. Dalam lomba ini, siswa belajar melantunkan panggilan salat dengan suara lantang dan penuh keberanian. Selain melatih vokal, kegiatan ini juga menanamkan kecintaan terhadap ibadah salat sejak dini.

Ada juga lomba kaligrafi dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar menulis huruf Arab dengan indah sekaligus melatih kesabaran dan ketelitian.

Pada cabang Da’i Cilik, siswa menyampaikan ceramah singkat dengan berbagai tema menarik, seperti:

  • hikmah dan manfaat berpuasa,
  • adab terhadap orang tua dan guru,
  • pentingnya berteman tanpa bullying,
  • peristiwa Nuzulul Qur’an,
  • serta keutamaan malam Lailatul Qadar.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Selain itu, terdapat juga lomba tahfiz Al-Qur’an yang dibagi menjadi tiga level, disesuaikan dengan pencapaian hafalan masing-masing kakak. Adapun levelnya sebagai berikut:

  • Level 1 (Surat Ad-Dhuha sampai An-Naas)
  • Level 2 (Surah Al-Buruj sampai Al-Lail)
  • Level 3 (Surah An-Naba’ sampai Al-Insyiqaq)

Penilaian dilakukan berdasarkan makharijul huruf, tajwid, kelancaran bacaan, serta adab saat membaca Al-Qur’an.

Lomba berikutnya yaitu cerita Islami, siswa diminta menceritakan kisah para nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, yaitu:

  • Nabi Nuh AS
  • Nabi Ibrahim AS
  • Nabi Musa AS
  • Nabi Isa AS
  • Nabi Muhammad SAW

Melalui kisah-kisah ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang keteguhan iman, kesabaran, dan perjuangan dalam menyampaikan kebenaran.

Tidak hanya itu, kakak kelas 1–3 juga mengikuti lomba cerita Islami serta duet lagu Islami. Lagu-lagu yang bisa dipilih antara lain:

  • Ramadan Tiba – Opick
  • Rukun Iman – Nussa Official
  • Nabi Putra Abdullah
  • Aku Cinta Allah dan Rasul

Melalui kegiatan bernyanyi, kakak shalih-shalihah dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulullah dengan cara yang menyenangkan.

Cabang lainnya adalah pengetahuan PAI dan BTQ, yang menguji pemahaman siswa tentang huruf hijaiyah, rukun iman, rukun Islam, kisah para nabi, serta fiqih dasar seperti tata cara salat dan puasa.

Cabang Festival untuk Kelas 4–6

Kakak kelas 4 hingga 6 mengikuti cabang festival yang tidak jauh berbeda. Namun ada satu cabang yang lebih menantang dan mendalam, yaitu tartil Al-Qur’an. Di mana peserta membaca ayat Al-Qur’an dengan tajwid yang benar serta irama yang indah. Surah yang dibacakan dipilih secara acak saat peserta akan tampil, sehingga kakak shalih-shalihah harus benar-benar mempersiapkan diri.

Selain tartil Al-Qur’an, cabang festival lainnya sama dengan kelas 1-3, hanya berbeda level tantangannya saja.

Untunk cabang kaligrafi, kakak kelas 4-6 harus membuat tulisan lafal tahlil “La ilaha illallah”. Sementara itu, pilihan lagu untuk lomba duet lagu Islami juga berbeda, yaitu:

  • Rindu Muhammadku – Haddad Alwi & Vita
  • Marhaban Ya Ramadan – Haddad Alwi
  • Sholawat Ala Muhammad – Opick
  • Assalamualaikum – Opick

Pada cabang Pengetahuan PAI dan BTQ, kakak shalih-shalihah diuji pemahamannya tentang tajwid, makna surat Al-Fatihah, Al-Kafirun, dan Ad-Duha, serta berbagai materi keislaman seperti rukun iman, kisah nabi, zakat, hingga sifat wajib dan mustahil bagi Allah.

Manfaat Festival Ramadan bagi Siswa

Kegiatan Festival Ramadan memberikan banyak manfaat bagi perkembangan siswa.

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri. Kakak shalih-shalihah belajar tampil di depan banyak orang dan menyampaikan kemampuan terbaik mereka.
  2. Melatih keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Kakak belajar berusaha dengan maksimal dan menerima hasil dengan sikap sportif.
  3. Mengembangkan kreativitas dan bakat. Setiap cabang festival memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi yang mereka miliki.
  4. Memperdalam pemahaman agama. Melalui kegiatan seperti tahfidz, tartil, ceramah, dan pengetahuan PAI, kakak semakin mengenal ajaran Islam secara lebih mendalam.

Yang paling penting, kegiatan ini membantu menanamkan nilai bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Membangun Generasi Pemimpin Muslim

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi yang berkarakter kuat, percaya diri, dan memiliki kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.

Dari panggung kecil tempat kakak shalih-shalihah melantunkan azan, membaca Al-Qur’an, atau menyampaikan ceramah singkat, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan semangat untuk terus melakukan kebaikan.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah kesempatan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dan melalui kegiatan seperti inilah, semangat itu mulai ditanamkan sejak dini kepada setiap kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.

Apakah Ayah Bunda penasaran siapakah yang terpilih menjadi penampil terbaik untuk masing-masing kategori festival? Tunggu informasinya di hari Jumat, 13 Maret 2026 ya!***

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.

Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.

Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.

Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.

Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.

Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.

Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.

Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:

  • Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
  • Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)

Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.

Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita

Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.

Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Tantangan Membuat Ketupat dari Pita

Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.

Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.

Namun justru di sinilah letak keseruannya.

Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.

Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan

Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.

Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.

Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.

Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak

Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

  1. Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
  2. Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
  3. Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  4. Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
  5. Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.

Belajar Budaya, Memahami Makna

Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.

Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.

Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.

Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)

Sehari Bersama Al-Qur’an: Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Sehari Bersama Al-Qur’an: Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Pekan terakhir sebelum pembagian rapor tengah semester dua selalu menjadi waktu yang dinanti oleh kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara. Biasanya, pekan ini diisi dengan program Leadership Journey, sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kedewasaan pada anak.

Namun kali ini terasa berbeda. Kalender menunjukkan bahwa pekan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan—bulan yang penuh keberkahan. Maka kegiatan Leadership Journey pun disesuaikan dengan nuansa Ramadan.

Hari pertama, Senin, 9 Maret 2026, dibuka dengan kegiatan istimewa bernama SBQ (Sehari Bersama Al-Qur’an). Tujuannya sederhana tetapi sangat mendalam:

mengajak kakak shalih–shalihah lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merasakan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam itu.

Sehari Bersama al-Qur’an dalam Tiga Bentuk Berbeda

Agar kegiatan lebih fokus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, SBQ dibagi menjadi tiga titik kegiatan berdasarkan jenjang kelas.

Kelas 1 & 2: Mengenal Makna Surah Al-Qadr

Di ruang kelas 2A dan 2B, kakak kelas 1 dan 2 berkumpul bersama Pak Ali. Suasana terasa hangat dan penuh semangat.

Pak Ali memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak mengenal salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kakak shalih–shalihah diajak memahami makna turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.

Pak Ali menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut.

Setelah memahami maknanya, kegiatan dilanjutkan dengan penyimakan bacaan salat. Kakak dipanggil satu per satu untuk menemui guru mengaji. Di sana, bacaan salat mereka disimak dengan teliti.

Kegiatan ini sangat penting. Karena membaca Al-Qur’an dan bacaan salat dengan benar merupakan fondasi ibadah seorang Muslim sejak kecil. Anak-anak belajar memperbaiki tajwid, pelafalan huruf, dan kelancaran membaca.

Dari ruang kelas sederhana itu, proses kecil sedang terjadi: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini.

Kelas 3 & 4: Mengenal Keutamaan Tilawah Al-Qur’an

Sementara itu di ruang kelas 3A dan 3B, kakak kelas 3 dan 4 mengikuti sesi bersama Pak Solekan. Kegiatan dimulai dengan membahas 10 keutamaan membaca Al-Qur’an (tilawah).

Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat, Pak Solekan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah biasa. Ia memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya:

  1. Mendapat ketenangan hati
  2. Mendapat 10 kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca
  3. Menghilangkan sifat iri dan dengki
  4. Mendapat syafaat di hari akhir
  5. Dimasukkan ke surga oleh Allah SWT
  6. Menjadi sebaik-baik manusia
  7. Akan ditemani malaikat
  8. Mendapat dua pahala bagi orang yang belajar membaca Al-Qur’an; pahala membaca al-Qur’an dan pahala tekad belajar
  9. Diangkat derajatnya oleh Allah
  10. Dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka

Kakak shalih–shalihah tampak kagum mendengar betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an.

Namun pembelajaran tidak berhenti di sana. Pak Solekan kemudian mengenalkan seni membaca Al-Qur’an atau An-Naghom fil Quran—teknik memperindah suara saat tilawah. Anak-anak diajak memahami bahwa membaca Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan irama yang indah tanpa mengubah makna.

Beliau menjelaskan sejarah munculnya seni membaca Al-Qur’an, yang dipengaruhi oleh budaya syair dalam tradisi Arab serta berbagai perkembangan sejarah Islam.

Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan beberapa jenis ragam lagu dalam tilawah, di antaranya:

  • Lagu Bayyati
  • Lagu Shoba
  • Lagu Hijjazi

Melalui video contoh, kakak shalih–shalihah mendengarkan bagaimana setiap lagu memiliki nuansa yang berbeda. Setelah itu, mereka diajak mencoba menirukan irama tersebut.

Ruang kelas pun berubah menjadi tempat belajar yang penuh semangat. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai berani mencoba. Semua belajar memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.

Kelas 5 & 6: Muhasabah dan Refleksi Diri

Di titik ketiga, kakak kelas 5 dan 6 mengikuti sesi bersama Pak Zaki. Kegiatan dimulai dengan sebuah pengingat yang sangat mendalam: bersyukur atas nikmat usia. Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah merenungkan waktu yang telah Allah berikan.

  • Apakah waktu itu sudah digunakan dengan baik?
  • Apakah fasilitas yang Allah berikan sudah dimanfaatkan untuk kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak anak-anak melakukan muhasabah diri.

Pak Zaki juga mengingatkan bahwa saat belajar agama atau menuntut ilmu (tholabul ilmi), yang paling utama adalah memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.

Dalam sesi ini, kakak juga dikenalkan dengan empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga, yaitu:

  • Ahli Al-Qur’an (orang yang rajin membaca Al-Qur’an)
  • Orang yang menjaga lisannya
  • Orang yang memberi makan kepada orang lapar
  • Orang yang berpuasa di bulan Ramadan

Pak Zaki menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkan pertolongan dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan disebutkan bahwa orang yang khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan akan didoakan oleh 60.000 malaikat.

Sebagai penutup, Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah untuk menjadi orang yang bertakwa—yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika sendirian maupun di tengah keramaian.

Kegiatan kemudian ditutup dengan membaca Surah Yasin bersama-sama, menghadirkan suasana yang khusyuk dan penuh ketenangan.

Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an bukan sekadar agenda Ramadan. Kegiatan ini adalah upaya membangun fondasi spiritual anak-anak sejak usia dini. Melalui SBQ, kakak shalih–shalihah belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat pelajaran agama.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Mereka belajar membaca dengan benar. Belajar memahami makna. Belajar merasakan kedekatan dengan firman Allah.

Dari ruang-ruang kelas sederhana itu, benih-benih generasi Qurani sedang ditanam. Generasi yang hatinya dekat dengan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.

Karena ketika anak-anak tumbuh bersama Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi umat.***

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.

Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.

Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.

Dari Rasa Gugup Menjadi Berani

Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.

Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.

Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.

Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini

Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.

Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.

Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:

  • Menyusun materi sederhana
  • Memahami isi pesan yang akan disampaikan
  • Melatih keberanian berbicara di depan umum
  • Mengelola rasa gugup
  • Menyampaikan dakwah dengan santun

Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.

Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya

Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.

Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.

Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.

Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak

Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.

  1. Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
  2. Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
  3. Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
  4. Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
  5. Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.

Dakwah yang Tumbuh dari Hati

Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.

Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.

Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.

Membentuk Generasi yang Siap Memimpin

Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.

Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.

Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.

Melalui kultum:

  • Anak belajar berdiri tegak.
  • Anak belajar menyampaikan kebenaran.
  • Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.

Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”

Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.

Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka

Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”

Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:

  • Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
  • Residu: sisa dari bahan yang digunakan.

Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring

Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.

Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.

Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.

Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.

Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.

Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.

Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan

Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.

Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.

Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.

Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.

Anak-anak belajar:

  • Menghitung perbandingan secara nyata
  • Memahami konsep dilusi
  • Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
  • Bertanggung jawab terhadap lingkungan

Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.

Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.

Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***