by admin admin | Oct 22, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Semarang, 21 Oktober 2025 – Langit siang itu tampak cerah dari Lantai 2 SD Islam Bintang Juara. Para kakak shalih dan shalihah berkumpul dengan semangat berbeda dari biasanya —hari ini mereka merayakan Peringatan Hari Santri Nasional 2025. Bukan sekadar upacara atau seremonial, peringatan kali ini begitu istimewa karena dihadiri oleh tamu kehormatan dari tanah penuh berkah: Syeikh Othman Abbas dari Yaffa, Palestina.
Sejak awal acara dimulai, suasana terasa hangat sekaligus haru. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema, menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Guru, siswa, dan orang tua yang hadir seolah tersentuh oleh getaran spiritual yang kuat.
Syeikh Othman Abbas: Tamu dari Tanah Para Syuhada
Syeikh Othman Abbas bukan sekadar tamu biasa. Beliau datang membawa pesan, kisah, dan keteladanan dari tanah suci yang penuh perjuangan—Palestina. Dalam tausiyahnya, beliau menceritakan tentang semangat para penghafal Al-Qur’an di tengah kondisi sulit, bahkan di bawah ancaman perang dan keterbatasan.
Dengan lembut dan penuh kasih, beliau berkata bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk diingat, tapi juga untuk dijaga dan diamalkan.
Beliau mengingatkan anak-anak agar tidak hanya bangga menjadi penghafal, tapi juga menjadikan hafalan itu cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Para kakak mendengarkan dengan khidmat, beberapa bahkan tampak terharu. Melalui kisah yang disampaikan Syeikh, mereka memahami bahwa menjadi santri sejati berarti berjuang, bersabar, dan selalu mencintai Al-Qur’an, di mana pun berada.
Pesan tentang Doa dan Cinta untuk Palestina
Momen paling menggetarkan adalah ketika Syeikh Othman Abbas mengajak seluruh hadirin untuk berdoa bersama bagi keselamatan dan kebebasan rakyat Palestina. Tangan-tangan kecil para kakak terangkat, bibir mereka bergerak lirih mengucap doa. Di antara suara yang bergetar, ada ketulusan yang begitu dalam—doa dari hati anak-anak Indonesia untuk saudara seiman mereka di negeri jauh.
Guru-guru memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan nilai ukhuwah Islamiyah dan empati global: bahwa umat Islam adalah satu tubuh, dan doa adalah bentuk cinta yang paling indah. “Dari sekolah kita yang kecil ini,” ujar salah satu guru, “kita bisa menyalakan cahaya besar untuk dunia—melalui doa dan hafalan kita.”
Meneladani Semangat Santri: Menjaga Hafalan, Menjaga Hati
Selain mengenalkan kisah Palestina, kegiatan Hari Santri kali ini juga menjadi pengingat penting bagi para kakak untuk menjaga hafalan Al-Qur’an mereka dengan sungguh-sungguh.
Syeikh Othman Abbas berpesan bahwa hafalan bukan sekadar angka juz, tapi cermin dari keistiqamahan hati.
“Setiap ayat yang kalian hafal akan menjadi pelindung,” kata beliau lembut, “dan setiap kali kalian membaca, Allah sedang meneguhkan iman di hati kalian.”
Pesan ini menjadi pembelajaran berharga yang melampaui batas waktu. Kakak-kakak Bintang Juara belajar bahwa menjaga hafalan berarti menjaga hubungan dengan Allah, dan bahwa menjadi santri adalah pilihan hati yang penuh makna.
Nilai-Nilai yang Ditanamkan dalam Hari Santri 2025
Kegiatan penuh makna ini menanamkan berbagai nilai penting yang sejalan dengan dimensi profil lulusan dalam pembelajaran mendalam, antara lain:
- Kemandirian Spiritual: Anak-anak belajar menguatkan ibadah dan menjaga hafalan dengan kesadaran diri, bukan karena disuruh.
- Empati dan Kepedulian: Doa untuk Palestina menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama, meskipun berbeda jarak dan budaya.
- Literasi Keagamaan: Mereka mengenal sosok ulama dunia Islam dan memahami pentingnya dakwah dalam bentuk ilmu dan keteladanan.
- Rasa Syukur dan Tanggung Jawab: Melihat perjuangan rakyat Palestina, anak-anak belajar bersyukur atas kedamaian yang mereka rasakan di Indonesia.
Kesimpulan: Menjadi Santri di Zaman Kini
Peringatan Hari Santri 2025 di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan hati untuk memperkuat iman, menjaga hafalan, dan menyalakan doa untuk sesama.
Melalui kisah dan nasihat dari Syeikh Othman Abbas, anak-anak memahami bahwa santri bukan hanya yang tinggal di pesantren—tapi siapa pun yang berjuang menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupannya.
Hari itu, cahaya iman menyinari halaman sekolah. Dari tangan-tangan kecil yang berdoa, mengalir harapan besar: semoga cahaya Islam terus bersinar, dari Bintang Juara untuk dunia.***(CM-MRT)
by admin admin | Oct 18, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Bagi siswa SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ bukan sekadar menghafal ayat suci Al-Qur’an, melainkan juga bentuk latihan keikhlasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab spiritual.
Secara sederhana, Tasmi’ berarti memperdengarkan hafalan Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru atau penguji. Kegiatan ini menjadi momen istimewa, karena para peserta tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga menguji ketenangan hati dan ketulusan niat mereka dalam mencintai Kalamullah.
Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ menjadi bagian penting dari program pembinaan keislaman. Selain untuk memastikan ketepatan hafalan, kegiatan ini juga melatih keberanian anak-anak tampil di depan umum — dengan landasan adab dan kesungguhan.
Sabtu yang Penuh Cahaya di SD Islam Bintang Juara
Pada Sabtu, 18 Oktober 2025, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Sejak pagi, lantunan ayat suci terdengar lembut dari ruang Kelas 4A, 4B, 5, dan 6. Hari itu, sekolah mengadakan Ujian Tasmi’ Semester 1 Tahun Pelajaran 2025–2026, yang diikuti oleh 16 kakak shalih-shalihah pilihan.
Mereka adalah:
Kak Rafif Al, Kak Danendra, Kak Aqasha, Kak Nadhif, Kak Kenzi, Kak Ciello, Kak Ghaza, Kak Fatih, Kak Hanum, Kak Hasna, Kak Ayla, Kak Yulia, Kak Najma, Kak Shafna, Kak Nura, dan Kak Adzkiya.
Ada kakak yang menampilkan hafalan Juz 29, ada pula yang menampilkan Juz 30. Dua juz yang berisi banyak surat pendek dan menjadi dasar bagi hafalan para penghafal cilik.

Ujian di Hadapan Orang Tua dan Tim Penguji
Yang membuat suasana semakin haru adalah, setiap peserta membacakan hafalan di hadapan kedua orang tua serta tim penguji dari SD Islam Bintang Juara. Ada yang tampak tenang, ada pula yang berusaha menahan degup jantungnya agar tidak kalah cepat dari lidah yang melafazkan ayat-ayat suci.
Para orang tua menyimak dengan penuh bangga — ada senyum haru, bahkan tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika mendengar anaknya melantunkan ayat dengan suara lembut dan penuh penghayatan. Ujian ini bukan hanya tentang berapa banyak ayat yang diingat, tapi tentang seberapa dalam makna Al-Qur’an hadir dalam hati anak-anak mereka.
Menapaki Jalan Hafalan dengan Kesungguhan
Setelah setiap peserta menyelesaikan tasmi’-nya, tim penguji memberikan penilaian terkait ketepatan bacaan, tajwid, dan kelancaran hafalan.
Dari hasil penilaian itu akan ditentukan apakah peserta dinyatakan lulus atau perlu mengulang sebagian bagian hafalannya di kesempatan berikutnya.
Namun, tidak ada kata gagal dalam perjalanan ini. Karena setiap langkah menghafal Al-Qur’an adalah amal yang bernilai.
Seperti yang sering disampaikan para guru:
“Yang penting bukan siapa yang paling cepat khatam, tapi siapa yang paling tulus menjaga hafalannya.”
Menuju Puncak Tasmi’: Perayaan para Penghafal Cilik
Bagi kakak-kakak yang dinyatakan lulus, mereka akan melangkah ke tahap berikutnya, yakni Puncak Tasmi’ yang akan dilaksanakan pada akhir Semester 2. Di momen itulah, para penghafal cilik akan tampil bersama teman-teman yang lulus di semester berikutnya, memperdengarkan hafalan dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Acara Puncak Tasmi’ ini menjadi bentuk apresiasi atas ketekunan dan komitmen kakak shalih-shalihah dalam menjaga Al-Qur’an. Bukan hanya sebagai penghafal, tetapi juga pengamal nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat Tasmi’ untuk Kakak Shalih-Shalihah
Selain menilai kemampuan hafalan, kegiatan Tasmi’ memberikan banyak manfaat yang mendukung pembentukan karakter dan spiritualitas anak-anak Bintang Juara:
1. Menguatkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an
Tasmi’ menumbuhkan rasa cinta mendalam terhadap Al-Qur’an. Anak belajar bahwa membaca dan menghafal bukan kewajiban semata, melainkan sumber ketenangan hati.
2. Melatih Fokus dan Disiplin
Untuk tampil di depan penguji, kakak harus berlatih dengan konsisten. Proses ini membentuk pola pikir teratur dan melatih fokus — keterampilan penting dalam belajar dan kehidupan.
3. Menumbuhkan Keberanian dan Percaya Diri
Melantunkan hafalan di depan orang tua dan guru membuat anak belajar mengelola rasa gugup, berbicara dengan lantang, serta menghargai usaha diri sendiri.
4. Menguatkan Nilai Spiritual dan Akhlak
Tasmi’ menjadi sarana pembentukan karakter. Anak belajar rendah hati, tidak cepat puas, dan selalu berusaha memperbaiki bacaan agar lebih baik lagi.
5. Mengasah Kolaborasi antara Sekolah dan Orang Tua
Kegiatan ini menguatkan sinergi antara pendidikan di sekolah dan pembiasaan di rumah. Orang tua turut mendampingi, memberi semangat, dan menyaksikan buah dari proses panjang anak dalam menghafal.
Penutup: Dari Lantunan Ayat, Lahir Generasi Qur’ani
Ujian Tasmi’ Semester 1 di SD Islam Bintang Juara bukan hanya ajang uji hafalan, tapi perjalanan spiritual yang menumbuhkan nilai keikhlasan, disiplin, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Dari lantunan ayat-ayat suci yang terdengar hari itu, terpancar cahaya harapan — semoga setiap anak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak, berilmu, dan beradab.*** (CM-MRT)
by admin admin | Sep 9, 2025 | Berita, Berita Utama, Edukasi, Religi
Hari Selasa, 9 September 2025, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Aula sekolah dipenuhi semangat syukur dan rindu kepada Rasulullah SAW. Peringatan Maulid Nabi kali ini mengangkat tema “Nabi Muhammad Idolaku, Akhlaknya Teladanku”. Tema ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan pesan mendalam bahwa teladan Nabi perlu dihidupkan dalam keseharian anak-anak shalih-shalihah.
Acara dipandu hangat oleh MC, Bu Shilvi dan Bu Hana. Kegiatan diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21–22 yang dibacakan khidmat oleh Pak Rizki, lalu sari tilawah oleh Bu Ulya. Ayat ini mengingatkan bahwa Rasulullah SAW adalah uswah hasanah—teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan.
Pesan Penuh Inspirasi
Bu Ni’mah kemudian memberikan tausiyah singkat yang penuh makna. Beliau menyampaikan bahwa ketangguhan Nabi Muhammad SAW sudah terlihat bahkan sejak beliau dalam kandungan. Ayah beliau wafat sebelum lahir, namun Allah menjadikan Rasulullah sebagai sosok yang sabar, kuat, dan penuh syukur.
“Kalau kita ingin menjadi hamba Allah yang sejati, mari teladani perjuangan Rasulullah. Beliau selalu sabar, tidak mudah menyerah, dan tetap rendah hati,” pesan Bu Ni’mah yang menambah kesyahduan acara.
Kreativitas Islami dari Para Siswa pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025
Setelah itu, giliran perwakilan kakak shalih-shalihah tampil memeriahkan Maulid Nabi dengan bakat terbaik mereka. Para penampil adalah beberapa peserta MAPSI tahun 2025.
✨ Rebana An Najma Junior membuka penampilan dengan shalawat merdu, membuat suasana makin semarak.
🎙️ Khitobah oleh Kak Ihsan menggugah hati. Dengan gaya penuh semangat, ia menegur kebiasaan buruk anak-anak zaman sekarang:
“Giliran internetan, TikTok-an, game-an… 10 menit kurang, 20 menit ketagihan, 30 menit malah kecanduan! Boleh kenal teknologi, tapi jangan lupa untuk mengaji. Boleh kenal HP, tapi sholat jangan lupe…”
📖 Macapat Islami oleh Kak Chacha dan Kak Altamis menghadirkan nuansa budaya Islami yang sarat pesan moral.
📚 Cerita Islami oleh Kak Aira mengingatkan bahwa jujur adalah kunci kebaikan. Ia mengajak teman-temannya berkomitmen:
“Kalau ada tugas sulit, jangan mencontek. Kalau tidak sengaja merusak barang orang lain, harus berani minta maaf. Dengan jujur, kita akan disayang Allah, dan itu berarti kita meneladani Nabi Muhammad SAW.”
Setiap penampilan bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana mendidik karakter Islami sejak dini.
Penutup Penuh Syahdu
Acara ditutup dengan shalawat bersama yang dipimpin Rebana An Najma Senior. Lantunan shalawat menggema, menghadirkan suasana haru sekaligus bahagia. Kakak shalih-shalihah dan para guru yang hadir larut dalam doa dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Makna Besar di Balik Maulid
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang mengenang kelahiran beliau. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah momentum menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam hati anak-anak. Melalui cerita, shalawat, dan pesan moral, mereka belajar bahwa akhlak mulia adalah kunci kesuksesan hidup dunia dan akhirat.
Seperti tema yang digaungkan, “Nabi Muhammad Idolaku, Akhlaknya Teladanku”, kakak shalih-shalihah diingatkan untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan sejati dalam berkata, bersikap, dan bertindak.
👉 Dengan kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara berharap kakak shalih-shalihah tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap membawa cahaya Islam ke masa depan.***(CM-MRT)
by admin admin | Nov 29, 2024 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Salah satu kegiatan dalam Quranic Leadership Camp (QLC) 2024 SD Islam Bintang Juara pada Jum’at, 29 November 2024 adalah materi keputrian. Materi ini disampaikan langsung oleh Bu Ni’mah selaku Kepala Sekolah. Diambil dari kitab Riyadhus Shalihin, Bu Ni’mah menyampaikan materi ini sebelum kakak shalih-shalihah memulai Salat Zuhur.
Sementara kakak shalih beranjak ke masjid untuk melaksanakan Salat Jumat, Bu Ni’mah mengajak kakak shalihah melingkar di Ruang Connecting Lantai 1. Dengan bahasa yang ringan dan santai, Bu Ni’mah menyampaikan ilmu fiqih terkait aurat, haid, tata cara mandi besar kepada kakak shalih-shalihah.
Walau bahasannya cukup berat, karena disampaikan dengan cara yang asyik, juga ekspresi dan gestur yang hidup, kakak shalihah insyaAllah mampu menerima materinya dengan lebih mudah. Penasaran pesan-pesan apa saja yang disampaikan bu Ni’mah dalam materi keputrian, Ayah Bunda?
Tiga Hal Penting dalam Materi Keputrian
Pada sesi sebelum Salat Zuhur ini, Bu Ni’mah menitikberatkan pentingnya muslimah untuk belajar fiqih. Karena sebagai seorang perempuan, dari ujung rambut hingga ujung kaki ada banyak hal yang harus dijaga.
Bersyukurnya agama Islam telah memberikan aturan yang jelas tentang bagaimana muslimah menjaga dirinya. Dalam waktu yang cukup singkat, namun banyak sekali hikmah yang bisa dicatat dalam materi keputrian yang disampaikan bu Ni’mah siang ini.
1. Menjadi Muslimah Cerdas
Pada bagian pertama materi keputrian, Bu Ni’mah menyampaikan pentingnya menjadi muslimah yang cerdas. Yaitu muslimah yang tidak FOMO (Fear of Missing Out) alias suka ikut-ikutan tren. Sementara dalam Islam sudah jelas ada aturannya.
Dalam beberapa hadis juga disampaikan larangan untuk menyerupai orang kafir, salah satunya dalam Hadis Riwayat Abu Dawud dan Hasan;
Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”
Dalam hal ini, bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah berhati-hati ketika menyukai lagu-lagu barat, Korea atau Jepang. Terutama ketika kakak shalihah tidak memahami makna lagunya, karena ada lagu-lagu yang liriknya berisi tentang kemaksiatan.
2. Belajar Memakai Jilbab Segi Empat
Selanjutnya, Bu Ni’mah juga mengajak kakak shalihah, terutama yang sudah Kelas 6 dan bersiap untuk masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi, belajar cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat. Pertama, kakak wajib mengenakan ciput. Selain agar rambut bagian depan tidak keluar, ciput juga membantu menahan rambut bagian belakang tergerai. Bu Ni’mah memberikan tips kepada kakak shalihah untuk mengikat rambutnya lalu dimasukkan ke dalam ciput. Bagi kakak shalihah yang memiliki rambut panjang, rambutnya bisa digelung dan dirapikan ke dalam ciput.
Hal ini agar rambut bagian belakang kakak shalihah tidak mengintip, atau malah keluar dari jilbab. Rambut adalah bagian dari aurat perempuan, sehingga harus dipastikan rambut tidak boleh terlihat.
Kedua, kencangkan jilbab di bagian bawah dagu dengan jarum pentul atau peniti. Pastikan bagian ujung depan jilbab tidak menutup wajah. Muslimah memang perlu memiliki rasa malu, tetapi ada tempat dan waktunya.
Ketiga, kakak bisa menarik jilbab ke sisi bahu kanan atau kiri. Lalu kaitkan dengan peniti. Bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah tidak menggunakan jilbab dengan cara dililit di leher, pastikan panjang jilbab selalu menutup dada.
Bu Ni’mah juga membagikan tips lainnya terkait cara mengenakan jilbab segi empat. Di beberapa pondok tertentu, ada aturan yang melarang santrinya mengenakan jilbab yang ditarik ke bahu kanan/ kiri.
Agar aurat tetap terjaga, pastikan jangan ditali bagian bawah, tapi berikan peniti di bagian jilbab yang menjuntai. Sehingga saat kakak sedang beraktivitas, aurat tidak terlihat.
“Pakai jilbab memang panas, kak… tapi lebih panas lagi api neraka,” ujar Bu Ni’mah saat menuntaskan bahasan tentang cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat.

3. Aturan Memotong Rambut untuk Perempuan
Masih berkaitan dengan aurat, Bu Ni’mah juga membagikan pesan penting terkait rambut. “Lebih baik kakak shalihah memotong rambutnya di rumah, daripada di salon. Kecuali kakak bisa memastikan salon tersebut amanah dalam menjaga rambut kita yang telah terpotong tersebut,” kalimat Bu Ni’mah sebagai pengantar bahasan berikutnya dalam materi keputrian.
Rambut perempuan juga merupakan aurat, oleh karenanya penting untuk menjaganya, termasuk saat akan memotongnya. Bu Ni’mah berbagi pengalaman bagaimana beliau diajarkan oleh ayahnya cara menjaga rambut yang telah dipotong.
Setelah rambut dipotong, potongan rambut tersebut dikumpulkan lalu dikubur. Saat menguburnya, ada doa yang harus dibacakan. Bu Ni’mah juga mengajarkan kakak tentang doa ini. Seperti apa doanya? Coba Ayah Bunda bisa mengajak kakak shalihah untuk recalling ya, kira-kira kakak shalihah ingat tidak ya doa yang sudah diajarkan Bu Ni’mah ini.
4. Aturan Haid dan Tata Cara Mandi Besar
Di ujung materi keputrian, kak Adlina bertanya tentang hukum rambut yang rontok saat sedang haid. Dari pertanyaan tersebut, Bu Ni’mah lalu membahas sedikit tentang haid dan tata cara mandi besar.
Bu Ni’mah menyampaikan bahwa penting bagi kakak shalihah mencatat kapan haid dimulai. Bukan hanya tanggal, tetapi juga jam haid tersebut dimulai.
Apabila setelah hari kelima belas dari haid pertama, darah masih mengalir, maka darah tersebut dihukumi sebagai darah istiadhoh. Artinya, kakak shalihah tetap harus melaksanakan salat meski darah masih mengalir.
Bu Ni’mah juga menyampaikan penting bagi kakak shalihah untuk mengumpulkan rambut yang rontok, dan kuku yang dipotong saat sedang haid. Nanti ketika sudah dalam keadaan bersih, dan akan melaksanakan mandi junub, potongan rambut dan kuku tersebut bisa ikut disucikan.
Terkait mandi besar, bu Ni’mah juga berpesan bahwa air yang digunakan untuk membasahi rambut dan tubuh haruslah dalam kondisi mengalir. Oleh karenanya, berhati-hati apabila kakak shalihah mandi menggunakan bak atau ember. Apabila airnya tidak sejumlah dua kulah, maka air tersebut masuk kategori dalam air musta’mal. Air ini dihukumi sebagai air yang suci tapi tidak bisa mensucikan.
Bagi yang tidak memiliki shower di rumahnya, Bu Ni’mah menyarankan untuk mandi di bawah kran yang dinyalakan. Hal itu jauh lebih aman dalam mensucikan.
Tak lupa Bu Ni’mah juga mengajarkan doa yang harus dibaca saat melakukan mandi besar usai tuntas haid, yaitu;
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’aalaa.
Artinya, “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah Ta’ala.”
Demikian sepenggal cerita Quranic Leadership Camp bagian dua tentang materi keputrian yang bisa kami bagikan. Semoga bermanfaat dan nantikan cerita keseruan QLC selanjutnya, Ayah Bunda!***(CM-MRT)
by admin admin | Sep 18, 2024 | Kegiatan Siswa, Religi
SD Islam Bintang Juara mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 Hijriah dengan tema “Menjadi Generasi Pemimpin Setangguh Rasulullah SAW.” Acara yang diselenggarakan pada hari Rabu, 18 September 2024 ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada para siswa. Berbagai kegiatan menarik dilaksanakan untuk memeriahkan acara, melibatkan siswa dan guru, dengan semangat cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Bintang Juara Bershalawat: Grup Rebana dan Persembahan Guru
Kegiatan dimulai dengan acara Bintang Juara Bershalawat yang diiringi oleh Grup Rebana An Najma. Grup rebana ini merupakan kelompok musik Islami yang terdiri dari kakak shalih-shalihah yang memiliki bakat seni dalam bermusik, khususnya dalam memainkan alat-alat rebana. Penampilan mereka memukau para hadirin dengan lantunan shalawat yang indah, menciptakan suasana penuh ketenangan dan khusyuk.
Tidak hanya kakak shalih-shalihah yang berpartisipasi, para guru pun turut memberikan persembahan spesial. Mereka membawakan shalawat secara bersama-sama, menunjukkan bahwa kegiatan ini adalah momen kebersamaan dan kebanggaan seluruh komunitas sekolah. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa semakin mencintai Nabi Muhammad SAW dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Dai Kecil: Tausiyah Inspiratif dari Kak Daffa Kelas 5
Acara berlanjut dengan sesi Dai Kecil, yang menampilkan Kak Daffa, kakak shalih kelas 5, sebagai pembicara utama. Dalam tausiyahnya, Kak Daffa membahas tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Ia juga mengingatkan teman-temannya tentang pentingnya bersikap jujur, bertanggung jawab, dan selalu berbuat baik kepada orang lain.
Meski masih muda, Kak Daffa mampu menyampaikan pesan-pesan moral dengan penuh percaya diri dan inspiratif. Tausiyahnya mengajak para siswa untuk mengikuti teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kepemimpinan, yang akan berguna bagi mereka di masa depan. Sesi ini mendapat apresiasi dari seluruh peserta yang hadir karena mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara sederhana namun bermakna.
Kelas Kepemimpinan: Belajar Memimpin Sesuai Fase Usia
Setelah sesi tausiyah, acara dilanjutkan dengan Kelas Kepemimpinan yang dibagi menjadi tiga fase sesuai jenjang kelas siswa. Fase pertama, untuk kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2, dibimbing oleh Pak Ali. Dalam fase ini, kakak shalih-shalihah diajarkan tentang nilai-nilai dasar kepemimpinan, seperti tanggung jawab, kerja sama, dan saling menghormati. Kegiatan ini dilakukan melalui menonton video, permainan dan simulasi sederhana agar mudah dipahami oleh kakak shalih-shalihah yang masih cukup muda usianya.
Fase kedua diikuti oleh kakak shalih-shalihah kelas 3A dan 3B yang dibimbing oleh Pak Solekan. Pak Solekan membagikan empat sifat utama yang ada dalam diri Rasulullah SAW, yaitu Shiddiq (Benar dan Jujur), Fathonah (Cerdas), Amanah (Dapat Dipercaya), Tabligh (Menyampaikan). Pak Solekan menyebutkan bahwa untuk bisa menjadi seorang pemimpin, maka setidaknya kakak shalih-shalihah harus memiliki satu atau dua sifat tersebut.
Fase ketiga, yang melibatkan kakak shalih-shalihah kelas 4, 5, dan 6, dibimbing oleh Ustaz Fahri. Berbeda dengan pembimbing dari Fase A dan B yang merupakan guru internal SD Islam Bintang Juara, pembimbing untuk fase tinggi didapuk dari luar sekolah. Beliau adalah seorang Hafiz Qur’an.
Ustaz Fahri berbagi kisah Rasulullah SAW, dan mengajak kakak shalih-shalihah bermain kuis interaktif terkait dengan materi kisah yang telah dibawakan. Tak hanya itu, Ustaz Fahri juga mengajak kakak shalih-shalihah untuk melakukan sambung ayat. MasyaAllah…

Penutup
Peringatan Maulid Nabi 1446 H di SD Islam Bintang Juara menjadi momen penting dalam membentuk karakter kepemimpinan siswa. Melalui kegiatan-kegiatan seperti Bintang Juara Bershalawat, Dai Kecil, dan Kelas Kepemimpinan, kakak shalih-shalihah tidak hanya diajak untuk memahami makna kepemimpinan, tetapi juga untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani Rasulullah SAW, diharapkan mereka dapat tumbuh menjadi generasi pemimpin yang tangguh, adil, dan bijaksana di masa depan.
by admin admin | Feb 27, 2024 | Artikel, Edukasi, Religi
Qailulah, atau tidur siang, adalah kebiasaan tidur singkat selama siang hari yang memiliki signifikansi dan dukungan dalam ajaran Islam. Praktik ini tidak hanya merupakan tradisi budaya, tetapi juga memiliki dasar-dasar agama yang kuat dalam Islam. Berikut adalah artikel yang menjelaskan manfaat qailulah dan dalil-dalil yang mendukungnya.
Dalil-dalil yang Mendukung Qailulah
Berikut ini beberapa hadits yang mendukung tentang pentingnya manfaat Qailulah dalam kehidupan sehari-hari:
1. Hadits Riwayat Abu Daud
Rasulullah SAW secara rutin berpraktik tidur siang. Beliau bersabda, “Qailulah adalah sunah dari Allah. Allah menetapkan hal itu pada waktu siang dan menghilangkan barakah dari tidur pada waktu malam.”
2. Hadits Riwayat At-Tirmidzi
Abu Bakr Ash-Shiddiq melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidur sejenak pada siang hari adalah pintu keberkahan, dan tindakan bijak bagi mereka yang melakukan pekerjaan yang berat.”
3. Quran Surat Ar Rum: 23
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan (QS Ar-Rum: 23).
Manfaat Qailulah untuk Kesehatan Tubuh
Selain dianjurkan dalam agama, Qailullah juga ternyata memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh, di antaranya:
1. Istirahat Fisik
Qailulah memberikan kesempatan bagi tubuh untuk istirahat sejenak, mengurangi kelelahan dan meningkatkan energi fisik.
2. Peningkatan Kewaspadaan
Tidur siang dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi, membantu seseorang menjadi lebih produktif dalam aktivitas sehari-hari.
3. Pemulihan Mental
Qailulah juga memberikan istirahat mental, membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional.
4. Peningkatan Produktivitas
Dengan memberikan jeda sejenak selama siang, qailulah dapat meningkatkan produktivitas saat melanjutkan aktivitas setelahnya.
5. Peningkatan Kesehatan Jantung
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidur siang dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan memperbaiki kesehatan kardiovaskular.
Nah, setelah mengetahui manfaat tidur siang, apakah Ayah Bunda semakin tertarik untuk meluangkan waktu untuk istirahat di jam-jam setelah makan?

Nasehat agar Tidak Berlebihan saat Qailulah
Meskipun qailulah dianjurkan, Islam juga menasihatkan agar tidak berlebihan dalam tidur siang. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidur siang yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan dan kehilangan berkah.
Para ahli medis juga berpendapat bahwa qailulah bisa bermanfaat jika dalam pelaksaanaannya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pada Waktu yang Tepat
Diutamakan qailulah dilakukan antara pukul 13.00 sampai dengan 15.00. Waktu tersebut sering kali merupakan saat kebanyakan orang makan siang, yaitu periode di mana kadar gula darah bisa turun.
2. Waktu Tidak Terlalu Lama
Tidur siang harus singkat. Para ahli biasanya merekomendasikan durasi tidur siang antara 10-30 menit. Tidur siang lebih dari satu jam justru membuat badan tidak bugar.
3. Pilih Tempat yang Tepat
Selain waktu yang tepat, sebaiknya Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah tidur siang di ruangan yang nyaman untuk tidur. Misalnya ruangan tersebut harus baik sirkulasi udaranya, dan mendapat penerangan yang cukup.
Sebagai informasi, SD Islam Bintang Juara sudah menerapkan qailulah sejak tahun pertama sekolah ini berdiri. Usai makan siang, kakak shalih-shalihah mendapat kesempatan untuk beristirahat singkat, kurang lebih 30 menit, sebelum memulai aktivitas berikutnya.
Dengan menerapkan qailulah secara rutin, alhamdulillah kakak shalih-shalihah jauh lebih bisa produktif menjalani aktivitas selanjutnya.
Qailulah dapat dijadikan sebagai praktik yang sehat dan bermanfaat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, asalkan dilakukan dengan seimbang dan sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kebersihan dan waktu pelaksanaan tidur siang agar sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.***
Referensi:
- https://www.acehutara.go.id/berita/kategori/kesehatan/tidur-siang-sunnah-rasulullah-saw-yang-dipraktikkan-barat
- https://lampung.nu.or.id/syiar/ini-waktu-tidur-yang-dianjurkan-dan-tidak-dianjurkan-dalam-islam-o79t3
- https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6951940/ini-dua-waktu-tidur-yang-baik-menurut-islam