by admin admin | Feb 9, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar tidak selalu harus duduk rapi sambil membuka buku. Terkadang, belajar justru paling bermakna saat anak bergerak, mendengar, mencoba, dan merasakan langsung. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) yang berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026.
Hari itu, suasana kelas 1A terasa berbeda. Bukan suara pensil atau halaman buku yang terdengar, melainkan bunyi tak… dum… tap… yang berpadu ceria. Ya, kakak shalih–shalihah sedang belajar ritme musik bersama Ayah Eka, Ayah dari Kak Hiro, yang hadir sebagai narasumber kegiatan BBOT.
Mengenal Ritme Lewat Alat Musik Sungguhan
Sejak awal kegiatan, antusiasme kakak shalih–shalihah sudah terlihat. Ayah Eka datang membawa beberapa alat musik sederhana namun menarik perhatian: stik drum, tamborine, dan wave drum. Satu per satu alat diperkenalkan sambil menunjukkan cara memainkannya.
Kakak shalih–shalihah mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka belajar bahwa ritme adalah pola bunyi yang teratur, yang membuat musik terdengar hidup dan menyenangkan. Bukan sekadar bunyi keras atau pelan, tapi ada aturan, tempo, dan kekompakan di dalamnya.
Anak-anak pun diajak mencoba secara bergantian. Ada yang masih ragu-ragu memukul stik drum, ada pula yang langsung percaya diri mengikuti ketukan. Semua proses ini menjadi bagian penting dari belajar—tidak harus sempurna, yang penting berani mencoba.
Belajar Musik Bisa dari Apa Saja di Sekitar Kita
Yang membuat kegiatan ini semakin seru adalah saat Ayah Eka mengajak kakak shalih–shalihah berpikir kreatif. Ia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan ritme, tidak harus selalu menggunakan alat musik mahal atau khusus.
“Benda di sekitar kita juga bisa jadi alat musik,” ujar Ayah Eka.
Tak lama kemudian, sebuah galon air pun dijadikan contoh. Ketika dipukul dengan pola tertentu, galon menghasilkan bunyi yang unik dan menarik. Kakak shalih–shalihah pun terkejut sekaligus kagum. Ternyata, benda sehari-hari pun bisa menjadi sumber bunyi dan ritme.
Dari sini, anak-anak belajar bahwa kreativitas bisa lahir dari hal sederhana. Musik tidak terbatas di panggung besar, tetapi bisa hadir di kelas, di rumah, bahkan dari benda yang sering mereka temui.
Saatnya Praktik dan Bekerja Sama dalam Kelompok
Setelah mengenal ritme dan berbagai sumber bunyi, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik bersama kelompok. Kakak shalih–shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat alat-alat yang tersedia—baik alat musik maupun benda sekitar.
Tantangannya bukan sekadar menghasilkan bunyi, tetapi menciptakan ritme yang indah dan selaras. Dengan arahan Ayah Eka dan pendampingan guru, kakak shalih–shalihah mulai berlatih memainkan ritme secara bergantian dan bersama-sama.
Proses ini melatih banyak hal sekaligus. Anak-anak belajar mendengarkan teman, menunggu giliran, menjaga tempo, dan bekerja sama. Mereka menyadari bahwa ritme yang bagus tidak bisa dihasilkan sendiri, melainkan perlu kekompakan.
Momen Spesial: Mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara
Puncak kegiatan BBOT hari itu terasa sangat istimewa. Setelah cukup berlatih, kakak shalih–shalihah diajak memainkan ritme untuk mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara.
Nada mars yang sudah familiar kini terdengar berbeda—lebih hidup, lebih bersemangat, karena diiringi oleh ritme hasil karya tangan-tangan kecil penuh percaya diri. Wajah kakak shalih–shalihah tampak berbinar saat mereka menyadari bahwa bunyi yang mereka hasilkan bisa berpadu menjadi musik yang indah.
Momen ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang rasa bangga. Bangga karena bisa berkontribusi, bangga karena bisa berkarya bersama teman-teman.
Belajar Seni, Menumbuhkan Karakter
Melalui kegiatan BBOT Kelas 1A ini, pembelajaran seni musik tidak berhenti pada pengenalan alat atau ritme semata. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar nilai-nilai penting seperti keberanian mencoba, kerja sama, disiplin, dan kreativitas.
Belajar ritme juga membantu anak melatih konsentrasi dan koordinasi. Mereka belajar bahwa setiap bunyi memiliki waktu yang tepat untuk dimainkan. Semua ini menjadi bekal penting dalam tumbuh kembang anak, baik secara akademik maupun karakter.
Orang Tua sebagai Inspirasi di Ruang Kelas
Kehadiran Ayah Eka sebagai orang tua dalam kegiatan BBOT kembali menegaskan bahwa pendidikan adalah hasil kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Anak-anak melihat langsung bahwa orang tua juga bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi.
Interaksi hangat antara Ayah Eka dan kakak shalih–shalihah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh kedekatan. Anak-anak merasa dihargai, didukung, dan semakin termotivasi untuk belajar.
Belajar yang Berbunyi, Bergerak, dan Bermakna
Kegiatan BBOT Kelas 1A: Belajar Ritme bersama Ayah Eka menjadi bukti bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang menyenangkan tanpa kehilangan makna. Musik menjadi jembatan untuk mengenalkan ritme, kerja sama, dan kreativitas sejak dini.
Di SD Islam Bintang Juara, setiap pembelajaran dirancang untuk menyentuh akal dan hati. Karena ketika anak belajar dengan gembira, maka pengalaman itu akan tinggal lebih lama dalam ingatan.
Dan hari itu, melalui bunyi stik drum, tamborine, wave drum, bahkan galon air, kakak shalih–shalihah Kelas 1A belajar satu hal penting:
belajar bisa berbunyi, bergerak, dan sangat menyenangkan.***
by admin admin | Feb 6, 2026 | Berita, Berita Utama, Pembelajaran
Ada getaran berbeda pada Kamis, 5 Februari 2026. Bukan sekadar kegiatan luar kelas biasa, tetapi sebuah perjalanan untuk menyelami akar budaya. Dengan semangat bertajuk “Menjaga Warisan, Menyuarakan Budaya”, kakak shalih–shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara melakukan eksplorasi seni ke Sanggar Teater Lingkar.
Langkah mereka disambut hangat oleh Om Pay, Pak Dadi, dan Kak Sindhu. Senyum ramah dan suasana sanggar yang penuh nuansa tradisional langsung membuat kakak shalih–shalihah merasa sedang memasuki ruang istimewa—tempat seni dan budaya hidup serta diwariskan.
Belajar Fokus dan Teknik Vokal Bersama Om Pay
Kegiatan dimulai dengan sesi seni teater bersama Om Pay. Sosoknya tidak asing bagi sebagian kakak, terutama yang pernah mengikuti proyek film Hari Guru. Pertemuan ini terasa seperti reuni kecil sekaligus kesempatan belajar yang lebih dalam.
Om Pay mengajak kakak-kakak berdiri membentuk lingkaran. Tidak langsung berakting, mereka justru diajak melakukan olah napas. Tarik napas perlahan, tahan, lalu hembuskan. Awalnya terdengar sederhana, namun perlahan kakak menyadari bahwa napas adalah fondasi utama dalam teater.
Setelah itu, mereka belajar teknik vokal. Suara harus jelas, lantang, tetapi tetap terkontrol. “Teater itu bukan berteriak,” ujar Om Pay, “tetapi bagaimana menyampaikan pesan dengan penuh kesadaran.” Kakak shalih–shalihah pun mencoba mengucapkan kalimat dengan intonasi berbeda—marah, sedih, bahagia—dan suasana pun penuh tawa sekaligus pembelajaran.
Latihan fokus ini bukan hanya untuk seni, tetapi juga melatih konsentrasi dan kepercayaan diri. Seni teater ternyata menjadi jembatan untuk membangun karakter.
Mengenal Karawitan dan Etika yang Menyertainya
Setelah sesi teater, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia karawitan bersama Pak Dadi. Suara gamelan yang lembut terdengar memenuhi ruangan. Satu per satu alat musik diperkenalkan:
Peking, Saron, Demung, Gong, Kempul (gong kecil), Rebab, Gambang, Gendher, Bonang, Kenong, Slenthem, Kepyak, Kendhang (termasuk kendhang ludruk dan kendhang jaipong dari Jawa Barat), Kethuk, hingga Gong Cina.
Kakak shalih–shalihah tidak hanya melihat, tetapi mendengar dan merasakan resonansi setiap alat. Setiap instrumen memiliki peran unik dalam menciptakan harmoni.
Namun sebelum praktik, Pak … menekankan etika dalam karawitan. Untuk anak shalih, duduk bersila dengan kaki kanan ditumpangkan di paha kiri. Untuk shalihah, duduk timpuh—kedua kaki ditekuk ke belakang dan ditumpuk satu sisi, dengan posisi tubuh tegak dan tenang.
Etika ini bukan sekadar aturan posisi duduk, tetapi bentuk penghormatan terhadap seni dan budaya. Tubuh harus tenang, hati harus fokus.
Dan MasyaAllah, meski baru pertama kali mencoba, kakak shalih–shalihah sudah mampu memainkan pola sederhana. Ketukan demi ketukan terdengar menyatu. Wajah mereka tampak takjub—ternyata gamelan bisa dimainkan bersama dengan kompak.
Menjelajah Dunia Pedalangan Bersama Kak Sindhu
Petualangan budaya belum selesai. Setelah karawitan, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia pedalangan bersama Kak Sindhu.
Di hadapan mereka terbentang kelir—layar putih tempat bayangan wayang dimainkan. Kak Sindhu memperkenalkan berbagai istilah penting dalam dunia pedalangan:
- Cempala: alat untuk membuka pertunjukan wayang
- Keprak: alat yang digoyangkan dalang untuk membangun suasana
- Gebog: tempat menaruh wayang
- Kelir: layar putih tempat wayang dimainkan
- Blenchong: lampu penerangan dalam pertunjukan
- Gunungan/Kayon: simbol kehidupan, bisa bermakna gunung, angin, api
- Gapit: pegangan gunungan dari tanduk kerbau
- Cepengan: teknik memegang wayang
- Tudhing: penggerak tangan wayang
- Gegel: penggerak siku wayang dari kuningan
Setiap istilah membawa kakak lebih dalam pada filosofi dan teknik pedalangan.
Bertemu Tokoh Punakawan
Tak lengkap rasanya belajar wayang tanpa mengenal tokohnya. Kak Sindhu memperkenalkan tokoh Punakawan: Bagong, Petruk, Gareng (Dengklang dan Ceko), serta Semar.
Anak-anak tertawa saat mendengar karakter unik masing-masing tokoh. Namun di balik kelucuan Punakawan, tersimpan pesan kebijaksanaan. Wayang bukan hanya hiburan, tetapi media penyampai nilai moral dan filosofi kehidupan.
Belajar Solah: Menggerakkan Wayang dengan Rasa
Kakak shalih–shalihah tidak hanya menonton demonstrasi, tetapi juga praktik langsung melakukan solah—teknik menggerakkan wayang. Tangan-tangan kecil itu belajar mengatur gerakan agar tampak hidup di balik kelir.
Tidak mudah. Butuh koordinasi, fokus, dan rasa. Namun ketika satu tokoh wayang mulai bergerak luwes, senyum bangga pun merekah.
Menutup Hari dengan Pesan Bermakna
Di akhir kegiatan, Kak Sindhu menyampaikan pesan penting: budaya adalah warisan yang harus dijaga. Jika generasi muda tidak mengenalnya, maka perlahan ia bisa hilang.
Kegiatan hari itu bukan sekadar kunjungan, tetapi pengalaman yang menanamkan kesadaran. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang perlu dibanggakan.
Budaya yang Disuarakan, Warisan yang Dijaga
Melalui eksplorasi pedalangan, karawitan, dan teater di Sanggar Teater Lingkar, kakak kelas 5 tidak hanya belajar seni. Mereka belajar tentang disiplin, etika, kerja sama, dan penghormatan terhadap tradisi.
Suara gamelan yang mengalun, bayangan wayang di kelir, dan napas yang teratur dalam latihan teater menjadi saksi bahwa warisan budaya masih hidup—dan kini disuarakan oleh generasi muda.
Karena menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan yang berakar kuat pada jati diri bangsa.***
by admin admin | Feb 5, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar untuk anak kelas 1 bukan sekadar mengenal angka dan huruf. Lebih dari itu, belajar adalah proses memahami dunia—melalui benda di sekitar, cerita, dan pengalaman yang bermakna. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kegiatan ini terasa istimewa karena menghadirkan Ayah Rais Kandar dan Bunda Karina Yudono, orang tua dari Kak Inayah, yang mengajak kakak shalih–shalihah belajar dengan cara sederhana, konkret, dan penuh makna.
Belajar Konsep Berat dan Ringan dengan Cara Nyata
Pembelajaran dimulai dari hal yang sangat dekat dengan dunia anak. Ayah Rais dan Bunda Karina memperkenalkan timbangan sederhana dari hanger. Dengan alat ini, kakak shalih–shalihah diajak membandingkan dua benda: mana yang lebih berat, dan mana yang lebih ringan.
Saat dua benda digantungkan di sisi kanan dan kiri hanger, anak-anak memperhatikan dengan saksama. Ketika salah satu sisi turun, spontan mereka berseru, “Itu lebih berat!” Dari sini, konsep berat dan ringan tidak lagi menjadi istilah abstrak, melainkan pengalaman visual dan nyata.
Kakak shalih–shalihah pun mencoba satu per satu. Mereka belajar bahwa ukuran benda tidak selalu menentukan beratnya. Ada benda kecil yang ternyata berat, dan ada benda besar yang justru ringan. Proses ini melatih rasa ingin tahu dan kemampuan observasi sejak dini.
Cerita yang Membuat Konsep Lebih Hidup
Setelah praktik menimbang, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Bunda Karina membacakan sebuah cerita sederhana yang mengaitkan konsep berat dengan fenomena alam, yaitu hujan.
Kakak shalih–shalihah diajak membayangkan awan di langit. Awan membawa air di dalam “tubuhnya”. Ketika air itu semakin banyak dan semakin berat, awan tidak mampu menahannya lagi. Maka, air pun jatuh ke bumi sebagai hujan.
Cerita ini membuat anak-anak terkesima. Mereka mulai memahami bahwa konsep berat tidak hanya ada pada benda yang bisa dipegang, tetapi juga ada di alam sekitar. Belajar pun terasa seperti mendengarkan kisah petualangan, bukan pelajaran yang membosankan.
Mengaitkan Ilmu dengan Nilai Kehidupan
Yang membuat kegiatan BBOT ini semakin bermakna adalah saat Ayah Rais mengajak kakak shalih–shalihah berpikir lebih dalam. Ia bercerita bahwa timbangan tidak hanya ada di dunia, tetapi juga ada di akhirat.
Dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, Ayah Rais menjelaskan bahwa kelak amal baik dan dosa manusia akan ditimbang. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Pesan ini disampaikan dengan lembut, tanpa menakut-nakuti, namun penuh makna.
Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa konsep berat dan ringan juga bisa dimaknai secara nilai. Amal baik yang banyak akan menjadi “berat” di timbangan kebaikan. Sebaliknya, perbuatan buruk perlu dihindari agar tidak memberatkan timbangan dosa.
Pembelajaran Tematik yang Menyentuh Akal dan Hati
Kegiatan BBOT Kelas 1B menjadi contoh pembelajaran tematik yang utuh. Anak-anak tidak hanya belajar sains dan matematika sederhana, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Semua disampaikan melalui pengalaman langsung dan cerita yang dekat dengan dunia mereka.
Pendekatan seperti ini membantu kakak shalih–shalihah memahami pelajaran dengan lebih mudah. Mereka tidak hanya mengingat konsep berat dan ringan, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
Kehadiran Ayah Rais dan Bunda Karina menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga, di mana orang tua turut terlibat aktif sebagai pendamping dan inspirator.
Anak-anak melihat langsung bahwa belajar tidak hanya milik guru di sekolah, tetapi juga bisa dilakukan bersama orang tua. Hal ini menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan semangat belajar yang lebih besar.
Belajar yang Menyenangkan dan Berkesan
Sepanjang kegiatan, wajah kakak shalih–shalihah Kelas 1B dipenuhi rasa antusias. Mereka tertawa, bertanya, mencoba, dan mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Tanpa disadari, mereka telah belajar banyak hal dalam satu kegiatan sederhana.
Melalui BBOT “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang bermakna—menghubungkan ilmu, pengalaman, dan nilai kehidupan.
Karena sejak dini, anak perlu belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk dipahami, dirasakan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.***
by admin admin | Feb 4, 2026 | Berita, Berita Utama, Pembelajaran
Belajar matematika tak selalu harus duduk rapi di bangku sambil menatap buku. Di SD Islam Bintang Juara, pembelajaran bisa terjadi di mana saja—bahkan di dapur. Itulah yang dirasakan oleh kakak shalih–shalihah kelas 3B pada Rabu, 4 Februari 2026, saat mengikuti kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan.”
Hari itu, suasana kelas berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh rasa penasaran. Bunda Dian, orang tua dari Kak Ayman, hadir membawa bahan-bahan sederhana yang biasa digunakan di dapur: tepung dan minyak. Dari bahan sederhana inilah, kakak shalih–shalihah diajak memahami konsep pecahan dengan cara yang nyata, bisa disentuh, dan terasa menyenangkan.
Dari Dapur ke Konsep Matematika
Kegiatan diawali dengan obrolan ringan. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah membayangkan aktivitas yang sering dilakukan di rumah, seperti membantu bunda membuat kue. Anak-anak pun langsung terhubung dengan cerita tersebut. Dari sini, pembelajaran dimulai—bukan dari rumus, melainkan dari pengalaman sehari-hari.
Perlahan, Bunda Dian memperkenalkan adonan kue sebagai media belajar. Tepung dan minyak dicampur, diaduk bersama, lalu diuleni. Proses ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi sarana melatih sensori motorik kakak shalih–shalihah. Tangan bergerak, otot bekerja, dan fokus pun terbangun secara alami.
Mengenal Pecahan Lewat Sentuhan dan Rasa
Saat adonan sudah terbentuk, petualangan matematika pun dimulai. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah mengamati adonan secara utuh. “Kalau ini satu adonan penuh,” tanya Bunda Dian, “lalu bagaimana kalau kita bagi menjadi dua?”
Dengan penuh antusias, kakak shalih–shalihah melihat adonan tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Dari sinilah konsep setengah (½) diperkenalkan—bukan sebagai simbol di papan tulis, melainkan sebagai adonan yang benar-benar ada di hadapan mereka.
Petualangan berlanjut. “Kalau seperempat bagaimana?” Adonan pun dibagi lagi. Kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa semakin kecil bagian, semakin banyak potongan yang terbentuk. Konsep pecahan yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sangat nyata.
Belajar dengan Bertanya dan Bereksplorasi
Bunda Dian tidak hanya memberi contoh, tetapi juga mengajak kakak shalih–shalihah berpikir dan bertanya. Anak-anak diajak menebak, menghitung, dan membandingkan: mana yang lebih banyak, setengah atau seperempat? Mana yang lebih kecil?
Proses ini melatih logika berpikir dan pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa pecahan adalah bagian dari satu kesatuan, dan setiap bagian memiliki ukuran yang berbeda.
Kesalahan pun menjadi bagian dari proses. Ketika ada adonan yang terbagi tidak sama rata, Bunda Dian mengajak kakak untuk memperbaiki bersama. Dari sini, anak-anak belajar bahwa mencoba ulang adalah hal yang wajar dalam belajar.
Sensori Motorik dan Konsentrasi yang Terlatih
Selain memahami pecahan, kegiatan ini juga memberikan manfaat besar dalam pengembangan sensori motorik. Menguleni adonan, membaginya, dan membentuk bagian-bagian kecil melatih koordinasi tangan dan mata.
Aktivitas ini juga menuntut konsentrasi. Kakak shalih–shalihah belajar fokus pada instruksi, bekerja dengan teliti, dan menyelesaikan tugas dengan sabar. Tanpa disadari, keterampilan penting ini terasah melalui kegiatan yang menyenangkan.
Matematika yang Hidup dan Bermakna
Kegiatan BBOT kelas 3B membuktikan bahwa matematika bisa “hidup” ketika dikaitkan dengan pengalaman nyata. Pecahan bukan lagi sekadar angka di buku latihan, melainkan bagian dari aktivitas sehari-hari yang bisa ditemukan di dapur rumah.
Pendekatan ini membuat kakak shalih–shalihah lebih mudah memahami dan mengingat konsep. Mereka tidak hanya tahu arti setengah dan seperempat, tetapi juga merasakan perbedaannya secara langsung.
Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak
Kehadiran Bunda Dian sebagai orang tua sekaligus fasilitator belajar memberikan dampak positif bagi anak-anak. Mereka melihat contoh nyata bahwa belajar bisa dilakukan bersama orang tua, dengan cara yang hangat dan menyenangkan.
BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Orang tua tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pada kakak shalih–shalihah.
Petualangan yang Meninggalkan Kesan
Di akhir kegiatan, kakak shalih–shalihah kelas 3B pulang dengan senyum lebar dan cerita seru. Mereka telah menjelajah dapur, mengenal pecahan, melatih motorik, dan merasakan bahwa belajar itu bisa sangat menyenangkan.
Kegiatan “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan” menjadi bukti bahwa pembelajaran yang kreatif mampu menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam. Di SD Islam Bintang Juara, setiap pengalaman belajar dirancang untuk menguatkan ilmu sekaligus membangun karakter.
Karena ketika anak belajar dengan gembira, konsep akan lebih mudah dipahami—dan kecintaan terhadap belajar pun tumbuh sejak di
by admin admin | Jan 27, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Pagi itu, suasana ruang Kelas 4A terasa berbeda. Bukan hanya karena meja dan kursi tertata rapi, tetapi karena rasa penasaran yang terpancar dari wajah kakak shalih-shalihah. Senin, 27 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4A. Mereka tidak hanya belajar dari guru di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua murid melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).
Kegiatan BBOT kali ini menghadirkan Ayah Feni Tutut, orang tua dari Kak Kaysa Lani, yang berbagi pengalaman dan ilmu dengan tema “Teknisi Elektromedis: Menjaga Alat Medis Tetap Aman”. Sebuah tema yang terdengar kompleks, namun justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang seru, kontekstual, dan penuh makna bagi anak-anak.
Belajar Profesi dari Dunia Nyata
Kegiatan diawali dengan pengenalan profesi teknisi elektromedis. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ayah Feni mengajak kakak shalih-shalihah memahami bahwa di balik alat-alat medis yang sering mereka lihat di rumah sakit—seperti alat cek jantung, alat infus, hingga monitor pasien—ada profesi penting yang bertugas memastikan semua alat tersebut aman dan berfungsi dengan baik.
Kakak shalih-shalihah tampak antusias saat Ayah Feni menjelaskan apa saja tugas seorang teknisi elektromedis;
- Mulai dari memasang alat medis,
- melakukan pengecekan rutin,
- memperbaiki jika ada kerusakan,
- hingga memastikan alat tersebut aman digunakan oleh pasien dan tenaga kesehatan.
Dari sini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa sebuah profesi tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan dampak bagi keselamatan orang lain.
Tak hanya bercerita, Ayah Feni juga mengenalkan berbagai alat yang digunakan oleh teknisi elektromedis. Kakak shalih-shalihah diajak membayangkan bagaimana alat-alat tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pembelajaran pun terasa hidup, karena kakak tidak hanya mendengar, tetapi juga membangun imajinasi dan pemahaman tentang dunia kerja yang nyata.
Belajar Berpikir Kritis: Fakta atau Opini?
Setelah pengenalan profesi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik. Ayah Feni menyampaikan beberapa statement seputar dunia elektromedis, lalu kakak shalih-shalihah diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut termasuk fakta atau opini.
Di sinilah kemampuan berpikir kritis kakak mulai terasah. Mereka belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya begitu saja. Ada pernyataan yang berdasarkan data dan kenyataan (fakta), ada pula yang berupa pandangan atau pendapat pribadi (opini).
Diskusi kecil pun terjadi. Beberapa siswa mengangkat tangan, menyampaikan alasan mengapa mereka memilih fakta atau opini. Kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis, sekaligus belajar menghargai pandangan teman-temannya. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan penting dalam membangun literasi informasi dan nalar kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.
Debat Seru: Manusia vs Robot
Puncak keseruan kegiatan BBOT kelas 4A terjadi saat Ayah Feni membagi siswa menjadi dua kelompok besar: kelompok shalih dan kelompok shalihah. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan yang sama menariknya, yaitu berdebat dengan topik:
“Di masa depan, dunia akan lebih membutuhkan teknisi manusia atau teknisi dalam bentuk robot?”
Satu kelompok berperan sebagai tim pendukung teknisi manusia, sementara kelompok lainnya menjadi tim pendukung teknisi robot. Kakak shalih-shalihah diminta menyusun argumen, berdiskusi dengan kelompoknya, lalu memaparkan alasan di depan kelas.
Suasana kelas pun berubah menjadi arena diskusi yang hidup. Ada yang berpendapat bahwa teknisi manusia tetap dibutuhkan karena memiliki empati, bisa berpikir fleksibel, dan memahami situasi secara mendalam. Di sisi lain, tim pendukung robot menyampaikan argumen bahwa robot lebih presisi, tidak mudah lelah, dan bisa bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.
Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan soal siapa yang menang, melainkan prosesnya. Kakak shalih-shalihah belajar berani berbicara, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa dalam sebuah diskusi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru memperkaya pemikiran.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
Melalui kegiatan BBOT ini, siswa kelas 4A tidak hanya mengenal satu profesi baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh. Mereka belajar mengaitkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, memahami peran teknologi dalam dunia kerja, serta merenungkan masa depan yang akan mereka hadapi.
Kehadiran orang tua sebagai narasumber juga memberi kesan mendalam. Kakak shalih-shalihah melihat langsung bahwa orang tua mereka memiliki peran, keahlian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ini menjadi inspirasi tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga serta motivasi untuk terus belajar.
Belajar Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan
Kegiatan BBOT kelas 4A bersama Ayah Feni Tutut menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung aktif, menyenangkan, dan bermakna. Dari mengenal profesi teknisi elektromedis, membedakan fakta dan opini, hingga berdebat tentang masa depan teknologi, semua proses ini menanamkan keterampilan abad ke-21 dalam diri anak-anak.
Hari itu, kelas 4A tidak hanya belajar tentang alat medis atau robot. Mereka belajar tentang berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Sebuah bekal penting untuk perjalanan belajar mereka ke depan—karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak hari ini, tetapi tentang bagaimana mereka memandang dan mempersiapkan masa depan.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jan 26, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Di pagi Senin yang cerah, 26 Januari 2026, suara langkah kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara bergema di lapangan sekolah. Upacara bendera yang rutin digelar kini terasa istimewa — bukan hanya karena kehadiran guru, staf, dan seluruh siswa, tetapi karena hari itu menjadi momen bersejarah pertama kali sekolah membacakan “Ikrar Pelajar Indonesia” secara resmi. Sebuah langkah kecil di sekolah, namun bermakna besar dalam membentuk karakter generasi muda bangsa.
Gelombang semangat tampak dihiasi rasa haru dan bangga di wajah para siswa ketika Ikrar Pelajar Indonesia itu dibacakan bersama-sama setelah pembacaan Pancasila dan teks Pembukaan UUD 1945. Momen ini tak hanya menjadi rutinitas upacara, tetapi juga peneguhan nilai-nilai karakter dan nasionalisme yang hendak ditanamkan sejak usia dini.
Apa Itu Ikrar Pelajar Indonesia?
Ikrar Pelajar Indonesia adalah teks janji pelajar yang berisi komitmen moral dan perilaku yang diharapkan diamalkan oleh setiap peserta didik di tanah air. Ikrar ini dirancang sebagai pedoman sikap bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal belajar, menghormati orang tua dan guru, hidup rukun dengan teman-teman, serta mencintai tanah air Indonesia.
Bunyi ikrarnya sebagai berikut:

Kalimat ini sederhana namun sarat makna — menjadi pengingat bagi kakak shalih-shalihah bahwa mereka bukan sekadar murid yang belajar di sekolah, tetapi juga penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab sosial, moral, dan kebangsaan.
Kenapa Ikrar Ini Penting Dibacakan di Upacara Bendera?
Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di awal minggu, tepatnya saat upacara bendera setiap hari Senin, memiliki tujuan strategis dalam pendidikan karakter yang lebih luas:
1. Menanamkan Nilai Nasionalisme Sejak Dini
Ikrar Pelajar Indonesia menekankan cinta tanah air dan rasa persatuan. Saat dibacakan bersama-sama, kakak shalih-shalihah diajak merasakan bahwa mereka adalah bagian dari identitas besar sebagai pelajar dan sebagai warga negara Indonesia.
2. Menguatkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab
Isi ikrar mencakup penghormatan kepada orang tua dan guru — ini membantu menanamkan sikap hormat dalam konteks kehidupan keluarga dan sekolah, yang merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.
3. Mendorong Kehidupan Rukun dan Toleran
Penggalan “rukun sama teman” memberi pesan kuat tentang pentingnya hubungan yang harmonis di lingkungan sekolah. Nilai ini menjadi dasar interaksi anak di ruang belajar maupun di luar kelas.
Dengan begitu, Ikrar Pelajar Indonesia bukan sekadar bacaan seremonial, tetapi alat pendidikan karakter yang hidup dalam kebiasaan sekolah.
Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026: Instruksi Utama Upacara Bendera
Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di SD Islam Bintang Juara tidak lepas dari kebijakan baru yang dikeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Upacara Bendera di Sekolah. SE ini ditetapkan pada 23 Januari 2026 sebagai turunan arahan Presiden Republik Indonesia untuk menguatkan kegiatan upacara bendera sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Dalam SE tersebut, ada tiga instruksi utama yang mesti dilaksanakan oleh sekolah ketika menggelar upacara bendera nasional:
- Upacara Bendera Dilaksanakan Setiap Hari Senin
- Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia
- Menyanyikan Lagu “Rukun Sama Teman”
Ketiga instruksi ini bertujuan untuk menjadikan upacara bendera lebih bermakna, konsisten, dan kaya pesan karakter — bukan hanya sekadar ritual administratif. Informasi lebih lengkap mengenai tiga instruksi utama pada Upacara Bendera 2026 bisa dibaca di website official Sekolah Islam Bintang Juara.
Bagaimana SD Islam Bintang Juara Menyambut Kebijakan Ini?
Bagi SD Islam Bintang Juara, momen 26 Januari 2026 menjadi tonggak bersejarah. Sejak pagi hari, kakak shalih-shalihah tampak antusias mengenakan seragam putih–merah lengkap, berkumpul di lapangan dan menyusun barisan dengan tertib. Aura nasionalisme dan kebersamaan mengalir alami — bukan sekadar formalitas.
Ketika Ikrar Pelajar Indonesia dibacakan untuk pertama kalinya di sekolah ini, ada keheningan hening yang kemudian beralih menjadi tepuk tangan kecil penuh semangat. Bagi siswa yang sudah belajar tentang Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai kebangsaan, ini terasa seperti titik temu antara pembelajaran di kelas dan realitas hidup berbangsa.
Upacara itu juga menjadi kesempatan bagi guru, orang tua, dan seluruh sivitas akademika untuk menyadari kembali bahwa pendidikan karakter bukan terjadi hanya di buku pelajaran — tetapi ditanam melalui kebiasaan sehari-hari. Upacara bendera kini menjadi sarana edukatif yang hidup dan berkesan.
Manfaat Jangka Panjang untuk Kakak Shalih-shalihah
Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia dan pelaksanaan upacara bendera yang konsisten memberikan manfaat besar bagi perkembangan anak, di antaranya:
1. Menguatkan Identitas Nasional
Kakak shalih-shalihah dipandu untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia — dengan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara.
2. Menanamkan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Upacara adalah sarana untuk belajar tertib, tepat waktu, dan menghormati simbol-simbol negara.
3. Membiasakan Sikap Hormat dan Toleransi
Melalui teks ikrar dan lagu yang menyertai upacara, anak-anak belajar nilai-nilai sosial penting seperti saling menghormati, rukun, dan cinta tanah air.
Penutup: Langkah Kecil Berarti Besar
Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia pertama kali di SD Islam Bintang Juara pada 26 Januari 2026 bukan hanya menjadi catatan sejarah sekolah, tetapi juga simbol bangkitnya pendidikan karakter yang kontekstual dan bermakna. Ketika kakak shalih-shalihah membaca ikrar itu dengan suara lantang, mereka sedang membangun pondasi nasionalisme, toleransi, dan saling menghormati yang akan melekat dalam keseharian mereka.
Dengan demikian, kegiatan upacara bendera tak lagi sekadar rutinitas mingguan — tapi sebuah ruang pendidikan hidup yang menyentuh hati dan membentuk perilaku. *** (CM-MRT)