by admin admin | Aug 28, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi
Bagi orang tua dan siswa sekolah dasar di Kota Semarang, istilah ASSIK dan TKA mungkin mulai sering terdengar. Keduanya berkaitan dengan asesmen kemampuan siswa dan menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan data capaian belajar yang lebih objektif.
ASSIK merupakan singkatan dari Asesmen Standar Siswa Kota Semarang, yaitu instrumen asesmen yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam perkembangannya, pembahasan mengenai asesmen standar siswa juga berkaitan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan asesmen dengan standar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lantas, apa sebenarnya tujuan asesmen ini? Mengapa siswa perlu mengikutinya? Dan bagaimana sebaiknya orang tua serta sekolah mempersiapkan anak?
Apa Itu ASSIK?
Secara sederhana, ASSIK dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperoleh gambaran mengenai capaian kemampuan akademik siswa secara lebih terukur.
Asesmen seperti ini bukan semata-mata bertujuan mencari siapa siswa yang memperoleh nilai paling tinggi. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk memvalidasi capaian belajar, memetakan kemampuan siswa, serta menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam konteks Kota Semarang, asesmen standar juga memiliki kaitan dengan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Nilai atau hasil asesmen dapat menjadi salah satu informasi penting dalam proses seleksi, khususnya pada jalur yang mempertimbangkan capaian akademik.
Dinas Pendidikan Kota Semarang sendiri terus melakukan koordinasi dan penguatan persiapan teknis pelaksanaan TKA, termasuk melalui kegiatan pembekalan bagi sekolah, guru kelas, proktor, dan teknisi. Salah satunya terlihat dalam webinar persiapan teknis TKA SD yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Semarang pada Maret 2026.
Apa Kaitannya ASSIK dengan TKA?
Di sinilah orang tua perlu memahami bahwa ASSIK dan TKA tidak serta-merta merupakan dua istilah untuk ujian yang sama.
ASSIK merupakan istilah yang digunakan dalam konteks asesmen standar yang diinisiasi di tingkat Kota Semarang. Sementara itu, TKA atau Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen yang diselenggarakan berdasarkan kebijakan dan standar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Keduanya dapat beririsan dalam tujuan, terutama dalam memperoleh gambaran kemampuan akademik siswa secara objektif. Namun, teknis pelaksanaan, kebijakan, peserta, maupun pemanfaatan hasilnya dapat mengikuti ketentuan masing-masing.
Karena kebijakan pendidikan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, orang tua sebaiknya selalu mengacu pada informasi terbaru dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mengapa Asesmen Standar Dibutuhkan?
Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak orang tua:
“Bukankah kemampuan anak sudah terlihat dari nilai rapor?”
Nilai rapor memang menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan belajar anak. Namun, nilai tersebut berasal dari proses pembelajaran dan penilaian yang berlangsung di masing-masing sekolah.
Asesmen standar memberikan perspektif tambahan melalui instrumen yang lebih seragam. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan akademik siswa.
Hasil asesmen juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi. Jika ditemukan kemampuan tertentu yang masih perlu diperkuat, sekolah dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat.
Jadi, asesmen sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai “ujian penentu masa depan anak”, tetapi sebagai salah satu alat untuk mengetahui posisi belajar anak dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Tidak Hanya untuk Kelas 6
Salah satu perkembangan menarik dalam kebijakan asesmen di Kota Semarang adalah perhatian terhadap pemetaan kemampuan siswa sejak lebih dini.
Berdasarkan informasi yang beredar mengenai integrasi ASSIK dengan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS), pelaksanaan asesmen standar juga diarahkan untuk mencakup siswa pada jenjang kelas 4 dan 5 SD/MI, tidak hanya kelas 6.
Jika diterapkan secara berkelanjutan, pendekatan ini memiliki manfaat penting. Sekolah dapat mengetahui perkembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa sebelum mereka berada di tahun terakhir sekolah dasar.
Artinya, kelas 4 dan 5 bukan sekadar masa untuk mengejar nilai, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi akademik sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

ASSIK Semarang
Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?
Persiapan menghadapi asesmen tidak harus dimulai dengan belajar berjam-jam atau memberikan latihan soal tanpa henti.
Justru, persiapan yang baik sebaiknya dilakukan secara bertahap, konsisten, dan menyenangkan.
1. Perkuat Kemampuan Literasi
Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks dengan lancar. Anak juga perlu belajar memahami informasi, menemukan ide pokok, menarik kesimpulan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjawab persoalan.
Kebiasaan membaca buku, berdiskusi tentang isi bacaan, serta mengajak anak menceritakan kembali apa yang dibacanya dapat menjadi latihan sederhana di rumah.
2. Latih Kemampuan Numerasi
Numerasi tidak hanya berarti menghafal rumus matematika.
Anak perlu terbiasa menggunakan konsep matematika dalam situasi sehari-hari, seperti membaca tabel, memahami grafik, melakukan perhitungan, memperkirakan jumlah, atau memecahkan masalah sederhana.
Karena itu, orang tua dapat mengajak anak belajar melalui konteks kehidupan nyata.
Misalnya, ketika berbelanja, anak dapat diajak menghitung total harga atau memperkirakan uang kembalian. Ketika memasak, anak dapat belajar tentang ukuran dan perbandingan.
3. Biasakan Membaca Soal dengan Teliti
Kemampuan akademik tidak hanya diuji melalui pengetahuan, tetapi juga kemampuan memahami instruksi.
Ajarkan anak untuk tidak terburu-buru ketika membaca soal. Biasakan mereka mengidentifikasi informasi yang diketahui, memahami apa yang ditanyakan, kemudian menentukan cara menyelesaikannya.
4. Bangun Kemandirian Belajar
Persiapan asesmen merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar mandiri.
Anak dapat dilatih membuat target belajar sederhana, mengatur waktu, memeriksa kembali pekerjaan, dan mengenali materi yang masih belum dipahami.
Kebiasaan tersebut akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar nilai ujian.
5. Jaga Kondisi Fisik dan Emosional
Anak yang menghadapi ujian membutuhkan kondisi tubuh dan pikiran yang baik.
Tidur cukup, makan dengan baik, bergerak aktif, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang tua merupakan bagian dari persiapan yang tidak kalah penting.
Hindari memberikan tekanan berlebihan dengan kalimat seperti, “Kamu harus dapat nilai sempurna.”
Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan bahwa ujian adalah kesempatan bagi anak untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari dan berusaha sebaik mungkin.
“TKA: Jujur & Gembira”
Semangat pelaksanaan TKA juga membawa pesan yang menarik: “TKA: Jujur & Gembira.”
Dua kata tersebut mengingatkan bahwa asesmen akademik tidak harus selalu identik dengan ketegangan.
Jujur berarti mengerjakan asesmen berdasarkan kemampuan sendiri. Sementara gembira mengajak anak menjalani proses evaluasi tanpa ketakutan atau tekanan yang berlebihan.
Prinsip ini penting karena hasil asesmen akan lebih bermakna ketika benar-benar menggambarkan kemampuan anak.
Jika anak dibiasakan mengandalkan usaha sendiri, maka nilai yang diperoleh dapat menjadi cermin yang lebih jujur mengenai kemampuan dan bagian yang masih perlu dikembangkan.
Peran Sekolah dan Orang Tua Sama Pentingnya
Mempersiapkan anak menghadapi asesmen bukan hanya tugas guru.
Sekolah berperan memberikan pembelajaran yang bermakna, melakukan pendampingan, memberikan penguatan pada kompetensi yang dibutuhkan, serta menciptakan suasana belajar yang positif.
Di sisi lain, orang tua dapat memperkuatnya melalui kebiasaan sederhana di rumah.
Membaca bersama, mengobrol tentang buku, bermain permainan logika, mengajak anak berhitung dalam aktivitas sehari-hari, atau sekadar memberikan ruang bagi anak untuk bertanya merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.
Dengan begitu, persiapan asesmen tidak terasa seperti program belajar tambahan yang membebani anak.
Bagaimana dengan Jadwal ASSIK 2027?
Untuk orang tua yang mulai mempersiapkan anak menghadapi asesmen pada tahun 2027, penting untuk membedakan antara jadwal resmi dan perkiraan berdasarkan pola pelaksanaan sebelumnya.
Kalender Pendidikan Kota Semarang Tahun Ajaran 2026/2027 telah dipublikasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun, detail jadwal khusus asesmen berikut tahapan teknisnya tetap perlu menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang.
Karena itu, informasi seperti sosialisasi, pendaftaran peserta, simulasi, gladi, pelaksanaan ujian, hingga pengumuman hasil sebaiknya tidak dianggap sebagai jadwal pasti sebelum diterbitkan secara resmi.
Bagi sekolah dan orang tua, langkah terbaik saat ini adalah mempersiapkan kemampuan anak secara bertahap, bukan menunggu mendekati hari ujian.
ASSIK dan TKA Bukan Sekadar Tentang Nilai
Pada akhirnya, asesmen standar seperti ASSIK dan TKA sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan belajar anak.
Nilai memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah kemampuan yang berada di balik nilai tersebut: kemampuan membaca dan memahami informasi, berpikir logis, memecahkan masalah, bernalar, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persiapan terbaik bukanlah membuat anak takut terhadap ujian.
Persiapan terbaik adalah membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri, mandiri, jujur, dan siap menghadapi tantangan.
Di Sekolah Islam Bintang Juara, proses tersebut dapat terus dibangun melalui pembelajaran yang bermakna, pembiasaan positif, serta pendampingan yang memperhatikan perkembangan anak secara utuh.
Sebab, menjadi juara bukan hanya tentang mendapatkan nilai terbaik.
Menjadi juara adalah tentang terus bertumbuh, berusaha dengan jujur, dan berani memberikan kemampuan terbaik dalam setiap proses belajar.
by admin admin | Aug 25, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Guru, Profil Guru
Setiap sekolah memiliki cerita tentang bagaimana ia bertumbuh, dan di baliknya selalu ada orang-orang yang terus belajar, bertanya, dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, SD Islam Bintang Juara mengajak Ayah Bunda mengenal lebih dekat Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., Kepala SD Islam Bintang Juara, tentang perjalanan beliau dalam membersamai sekolah, memaknai kepemimpinan, melihat potensi setiap anak, hingga membangun budaya belajar yang terus bertumbuh.
Bagi Bu Ni’mah, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang melayani, mendampingi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat setiap anak memiliki ruang untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya.
Mengenal Sosok Bu Nur Shofwatin Ni’mah
Tak sedikit ayah bunda yang baru berkenalan dengan SD Islam Bintang Juara bertanya-tanya siapakah guru-guru di balik Sekolah Calon Pemimpin Muslim Ini. Untuk mengawali proses ta’aruf ini, MinBin akan mengajak Ayah Bunda berkenalan lebih dekat dengan sosok perempuan muda yang diamanahi menjadi Kepala Sekolah.
1. Bisa diceritakan tentang diri Ibu, perjalanan sebagai pendidik, dan bagaimana akhirnya mendapat amanah sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara?
Saat saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang anak berkebutuhan khusus dan program pendidikan orangtua. Saya menulis karya ilmiah tentang program pendidikan orangtua yang lolos dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi kala itu. Waktu PPL, saya juga melakukan stimulasi pada anak yang terindikasi berkebutuhan khusus.
Di desa, saya juga mendirikan taman baca untuk murid ngaji orangtua saya. Lalu dari semua proses itu, akhirnya Allah SWT mempertemukan saya dengan Sekolah Islam Bintang Juara. Amanah pertama saya adalah sebagai guru pembimbing khusus, yang mana saya kala itu buta informasi dan ilmu, sempat merasa berat dan hampir menyerah. Lalu saya berusaha bertanya “apa maksud Allah memberi saya amanah ini.
Melalui shalat istikharah, Allah seolah mengingatkan “bukankah kamu ingin S2 dalam bidang psikologi perkembangan anak, ini diberi praktiknya langsung, kenapa mau menyerah?” Dari hasil istikharah ini, membulatkan tekad saya, bahwa amanah apapun adalah proses yang Allah berikan untuk menempa diri kita. InsyaAllah selalu ada hal baik.
Saya lalu membuat rancangan program dan timeline sebagai GPK untuk anak yang saya ampu, dari dia kelas 3 hingga lulus. Namun ternyata Allah berkehendak lain, saya hanya diberi amanah mendampingi dia selama 6 bulan. Bulan ke-7 saya diberi amanah menyusun kurikulum SD sekaligus membantu proses perizinan pendirian sekolah. Saya juga pernah memperoleh amanah sebagai guru kelas, guru mata pelajaran bahasa Jawa sembari menjadi humas yang mengelola media sosial sekolah, serta guru ngaji sekaligus pula kepala sekolah.
Alhamdulillah semua proses tersebut saya syukuri, karena dari proses itu saya banyak belajar, mendengar, mengamati, dan mencari solusi. Setiap amanah menempa saya untuk menjadi pribadi yang berkesadaran. Sadar bahwa saya makhluk Allah, sadar akan ketentuan Allah, saya bahwa saya juga makhluk sosial, sadar bahwa hidup di dunia ini berbatas waktu maka harus mengupayakan menjadi sebaik-baik manusia, meski selalu ada saja PR nya untuk diri saya sendiri.
2. Apa yang membuat Ibu memilih dan bertahan di dunia pendidikan?
Dengan berada di dunia pendidikan, saya dapat mengingatkan diri saya untuk Iqro’ sebagaimana firman Allah yang pertama. Dunia pendidikan menjadi alarm untuk diri saya, bahwa manusia itu tidak boleh berhenti belajar, dan juga harus bermanfaat. Dunia pendidikan adalah jantung dari ditumbuhkannya iman, taqwa, adab, ilmu, serta proses kebermanfaatan. Dan saya ingin selalu diingatkan dan didekatkan dengan itu. Melihat anak didik dan teman-teman guru, sebagai proses belajar untuk diri saya.
3. Apa arti menjadi Kepala Sekolah bagi Ibu—apakah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi?
Menjadi kepala sekolah adalah bagian dari proses menempa diri, sebuah amanah untuk memperluas peran, dari mendidik diri, mendidik anak biologis, mendidik anak ideologis serta sarana untuk hablun minannaas. Menjadi kepala sekolah itu tidak hanya tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, ketiganya tentunya menjadi poin penting yang harus saya perankan dalam menjalankan amanah ini. Namun menjadi kepala sekolah tidak akan terlepas dari poin memberikan teladan, dengan teladan maka saya dapat memimpin dengan arah, melayani dan mendampingi dengan hati yang diniatkan karena Allah.
Selama proses saya menjadi guru, saya belajar bahwa mendidik membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketegasan, sekaligus kehadiran. Nilai-nilai itulah yang saya bawa ketika menjalankan amanah sebagai Kepala Sekolah. Saya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan menguatkan. Jadi, jika ditanya apakah menjadi Kepala Sekolah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, bagi saya jawabannya adalah ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Saya memimpin untuk memberi arah, melayani untuk menumbuhkan kepercayaan, dan mendampingi untuk menumbuhkan potensi. Menjadi Kepala Sekolah adalah sebuah amanah untuk menghadirkan perubahan yang bermakna, bukan hanya membuat sekolah menjadi lebih baik, tetapi membuat orang-orang di dalamnya merasa dihargai, didukung, bertumbuh, dan memiliki harapan. Saya ingin menjalankan amanah itu dengan memaknai bahwa setiap anak yang hadir di sekolah adalah titipan yang harus kita jaga, setiap guru adalah mitra yang harus kita kuatkan, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari proses pendidikan.
Bagaimana Bu Nur Shofwatin Ni’mah Memandang Anak
4. Ketika melihat seorang anak, hal pertama apa yang ingin Ibu lihat selain kemampuan akademiknya?
Hal pertama yang ingin saya lihat adalah siapa dia dan bagaimana dia. Siapa dia artinya saya butuh mengenal identitas diri (nama, tempat tinggal, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, saudara, dan teman).
Saya juga butuh mengenali kondisi emosi yang muncul pada dirinya, serta kemampuannya dalam mengidentifikasi kebutuhan diri. Sedangkan bagaimana dia, adalah saya butuh memahami bagaimana cara dia memberi respon kepada lingkungan termasuk benda-benda di sekitar serta orang yang ditemui. Sejauh mana kemampuan dia dalam beradaptasi, meregulasi diri, sehingga tumbuh kemauan untuk mau belajar dan akhirnya mampu menyesuaikan.
5. Menurut Ibu, seperti apa anak yang disebut “juara” di SD Islam Bintang Juara?
Anak juara adalah anak yang tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, berkembang dari pondasi awal tahap perkembangan mereka. Anak yang berhasil beradaptasi pada proses transisi TK ke SD, anak yang berhasil bangun lebih awal untuk shalat subuh, anak yang berhasil memutuskan berbagi makanan untuk teman yang sedang lapar atau tidak membawa bekal, anak yang siap mengantri, anak yang siap berkata sesuai fakta, anak yang meminta maaf saat salah, meminta tolong saat mengalami kesulitan, anak yang mengucapkan terimakasih saat dibantu, anak yang berhasil mengatasi rasa takut, rasa malas, anak yang mengingat Allah dimanapun mereka berada, anak yang berhasil mengambil hikmah dari proses belajar mereka. Itu adalah beberapa deskripsi anak juara.
6. Bagaimana sekolah memastikan setiap anak memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya masing-masing?
Pada tahap awal kami berupaya mengenal setiap siswa melalui kegiatan profiling perkembangan baik aspek spiritual, sensori motorik, bahasa dan komunikasi, tahap kegiatan main, dan kognitif. Hasil pemetaan itu menjadi pijakan bagi guru dalam mendampingi dan merancang pengalaman belajar yang lebih tepat bagi mereka. Ruang tumbuh itu juga kami hadirkan tidak hanya melalui akademik.
Anak diberi kesempatan menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya melalui berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sementara pembelajaran akademik menggunakan beragam pendekatan seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning. Jadi anak memiliki banyak pintu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu dan berharga.

Memimpin Berlangsungnya Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara
7. Apa yang ingin Ibu pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran di SD Islam Bintang Juara?
Yang ingin saya pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran adalah ruhiyyah guru yang menyemai makna, memberi kasih sayang dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap anak memperoleh ruang untuk mencintai proses belajar, mencintai dan mengenal diri dan perannya, mengenal Allah sebagai tuhannya dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
8. Bagaimana sekolah menjaga agar pembelajaran tidak hanya mengejar nilai, tetapi tetap joyful, mindful, dan meaningful?
Pada proses perancangan pembelajaran adaptif, kami menjadwalkan program diskusi guru berbasis tahap perkembangan anak. Ini adalah moment quality control dari tim manajemen sekolah untuk implementasi pembelajaran agar tetap joyful, mindful, meanningful. Kami memfasilitasi anak untuk tidak selalu belajar dengan duduk, mendengar, dan mengerjakan soal. Mereka dapat belajar melalui eksperimen, permainan, seni, proyek, eksplorasi lingkungan, diskusi, bahkan kegiatan di luar kelas misalnya magang adab. Dengan begitu, mereka mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan serta memaknai pengetahuan yang mereka peroleh.
9. Bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits diterjemahkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, bukan hanya dalam pelajaran agama?
Kami berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian dari anak kami terima hingga dijemput orangtua. Anak belajar adab kepada Allah melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Mereka belajar adab kepada guru dengan menghormati dan mendengarkan. Mereka belajar adab kepada teman dengan berbagi, bekerja sama, menjaga perasaan, meminta maaf, dan menolong.
Adab, doa, hadits, surah-surah dalam Al Qur’an bukan hanya untuk dihafal, namun diterapkan selama anak berada di sekolah. Kami juga berusaha agar anak tidak berhenti pada pertanyaan ‘apa hukumnya?’, tetapi sampai pada ‘mengapa Allah mengajarkan ini kepada kita, dan bagaimana saya mengamalkannya?
Misalnya ketika belajar tentang qurban, anak tidak hanya mengetahui sejarah dan tata caranya, tetapi diajak memahami nilai ikhlas, pengendalian diri, berbagi, dan ketaatan kepada Allah. Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan mereka—saat bermain, membantu orang tua, menghormati guru, maupun berbagi dengan sesama.
Cara Bu Ni’mah Memimpin Guru dan Budaya Sekolah
10. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal untuk mendampingi anak-anak di zaman sekarang?
Guru yang ideal untuk anak zaman sekarang adalah guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap ilmu, terbuka terhadap setiap tahap perkembangan anak, kuat secara tauhid. Guru yang hangat tetapi tegas, dekat dengan siswa tetapi memiliki batas, mampu mengajar dan juga mampu mendengarkan. Guru yang tidak terburu-buru memberi label ketika anak sulit memahami informasi atau melakukan kesalahan. Guru yang melihat potensi sebelum melihat kekurangan siswa. Guru yang berhasil menyadari bahwa dirinya dan siswanya sedang sama-sama berproses untuk belajar.
11. Bagaimana Ibu membangun budaya agar guru juga terus belajar dan berkembang?
Kami memfasilitasi guru dengan diadakannya komunitas diskusi yang rutin dilakukan, minimal satu kali dalam satu pekan, yang didampingi langsung oleh Psikolog Sekolah atau Kepala Sekolah atau Koordinator Litbang Yayasan. Selain itu pada komunitas diskusi tersebut, guru dapat saling berbagi, baik tantangan maupun praktik baik yang telah dilakukan. Kepala sekolah, litbang atau psikolog sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran dan teladan dalam proses belajar tersebut.
Kami saling sharing program pelatihan bermakna untuk dapat diikuti, ketika ada guru yang tuntas mengikuti pelatihan atau seminar juga ada sesi desiminasi kepada guru lain. Dimana kami berada, disitu adalah area diskusi kami. Literatur yang mendukung baik berupa buku atau literatur digital lain juga kami sharingkan.
12. Apa yang paling Ibu jaga dalam budaya kerja dan budaya belajar di sekolah?
Yang saya upayakan jaga dalam budaya kerja dan belajar adalah saling menghormati, saling berkomunikasi yang sifatnya membangun dan semangat untuk bertumbuh, menguatkan, serta saling mengambil hikmah atau pembelajaran hidup. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana guru merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, bahkan mengakui ketika ada sesuatu yang belum berhasil.
Begitu juga anak-anak. Mereka harus merasa aman untuk bertanya, mencoba lagi, dan menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, sekolah yang sehat adalah sekolah di mana orang dewasa di dalamnya juga merasa bertumbuh, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
13. Mengapa kolaborasi antara sekolah dan Ayah Bunda menjadi penting dalam pendidikan anak?
Karena anak tumbuh tidak hanya dalam lingkungan sekolah, namun lingkungan rumah juga menjadi lingkungan utama dalam proses pendidikan mereka. Orang tua adalah orang yang paling mengenal anak dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru memiliki perspektif dari pengalaman anak di lingkungan belajar. Ketika dua perspektif ini dipertemukan, kita bisa memahami anak secara lebih utuh. konsistensi antara rumah dan sekolah sangat penting dalam pembentukan karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, adab, kemandirian, kepedulian, dan disiplin tidak cukup diajarkan melalui satu mata pelajaran. Anak perlu melihat nilai itu dipraktikkan secara konsisten dalam kesehariannya. Maka jika kolaborasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah adalah laboratorium utama yang mematangkan proses pendidikan mereka.
14. Apa yang paling Ibu harapkan dari Ayah Bunda dalam membersamai pendidikan putra-putrinya?
Hal yang saya harapkan adalah kehadiran ayah bunda. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan perhatian, pengertian dan doa serta hadir menanamkan tauhid. Saya berharap kita sebagai orangtua tidak terburu-buru menasehati sebelum memberikan teladan, tidak terburu-buru menuntut sebelum mengajak banyak mendengarkan dan menggali kebutuhan anak-anak, tidak terburu-buru membandingkan dengan anak lain. Tetapi kita menjadi orangtua yang melihat, menemani dan menghargai setiap proses tumbuh kembang anak kita.
Saya juga berharap kita bisa menjadi teladan dalam menanamkan tauhid dalam ruhiyyah kita serta anak kita. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam dirinya, menumbuhkannya dengan ilmu dan akhlak, lalu mempersiapkan mereka agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Mari kita membersamai anak, bukan sekadar mengarahkan mereka.
Mari berjalan di samping mereka, bukan selalu berjalan di depan mereka. Karena anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan jalan, tetapi juga orang dewasa yang bersedia menemani perjalanan.

Tantangan dan Refleksi Sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara
15. Apa tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang?
Tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman adalah bagaimana kami bisa terus bergerak maju tanpa mematikan akar filosofi. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat cepat berubah. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diakses, cara anak berkomunikasi berubah, kebutuhan belajarnya pun semakin beragam. Sekolah tidak bisa mendidik anak hari ini dengan cara yang sepenuhnya sama seperti mendidik anak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, ada hal-hal yang tidak boleh ikut berubah: iman, adab, akhlak, kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kecintaan kepada Allah.
Tantangan saya sebagai kepala sekolah adalah bagaimana nilai-nilai yang fundamental itu tetap kuat, sementara cara kita menghadirkannya kepada anak terus kita inovasikan. Tantangan berikutnya adalah memahami anak sebagai pribadi yang terus berkembang. Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Setiap anak memiliki potensi, karakter, kebutuhan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Maka guru juga harus terus belajar agar tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membaca kebutuhan anak.
Di sinilah saya melihat bahwa memimpin sekolah sebenarnya adalah juga memimpin proses belajar orang-orang dewasa di dalamnya. Saya harus memastikan guru memiliki ruang untuk bertumbuh, mencoba pendekatan baru, dan saling belajar. Karena kita tidak mungkin meminta anak menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar.
Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi dan proses tumbuh kembang anak. Kita tentu ingin anak-anak berprestasi. Tetapi saya tidak ingin angka dan pencapaian membuat kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, beristirahat, membangun pertemanan, dan mengenal dirinya sendiri. Anak bukan proyek yang harus segera selesai. Mereka adalah amanah yang proses tumbuhnya perlu kita hormati.
Karena itu, bagi saya, menjadi kepala sekolah di zaman sekarang membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian untuk berubah dan kebijaksanaan untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh berubah. Jadi, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat sekolah terlihat paling modern. Tantangannya adalah bagaimana membuat sekolah tetap relevan dengan zamannya, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Dan saya berharap SD Islam Bintang Juara menjadi sekolah yang seperti itu: akarnya kuat pada iman dan nilai-nilai Islam, tetapi cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.
Karena dunia yang akan dimasuki anak-anak kita mungkin belum bisa kita prediksi. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan bekal yang tidak lekang oleh zaman: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kemampuan belajar, keberanian menghadapi perubahan, dan hati yang selalu ingin memberikan manfaat.
16. Ketika sebuah program atau kebijakan sekolah tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana Ibu menyikapinya?
Ketika sebuah program atau kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, maka hal yang saya lakukan adalah bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang dapat kami pelajari dari situasi ini?”
Saya ingin membangun budaya di mana evaluasi bukan ruang untuk menghakimi, tetapi ruang untuk belajar. Guru dan tim perlu merasa aman untuk mengatakan, ‘Bagian ini belum berjalan’, tanpa takut langsung disalahkan. Dari sana kami bisa melihat data, mendengarkan pengalaman guru, melihat respons anak, dan bila diperlukan meminta masukan dari Ayah Bunda. Setelah itu, kami mencoba membedakan: apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disederhanakan, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang justru perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.
Saya juga berusaha menjaga agar evaluasi tetap kembali pada pertanyaan utama: “Apakah ini benar-benar memberikan dampak baik bagi anak?” Karena program sekolah bukan dibuat untuk membuat sekolah terlihat sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Setiap kebijakan seharusnya bermuara pada tumbuh kembang anak.
Sebagai kepala sekolah, saya pun harus siap menerima bahwa tidak semua keputusan saya selalu benar. Memimpin bukan berarti harus selalu memiliki jawaban. Kadang-kadang justru kita perlu mengatakan, “Mari kita lihat lagi. Mungkin ada cara yang lebih baik. Bagaimana menurut analisa bapak ibu guru?” Saya ingin guru-guru juga belajar bahwa refleksi adalah bagian dari profesionalitas. Kita mencoba, mengamati, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Begitu pula dalam mendampingi anak. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau belajar dari setiap kegagalan dan terbuka untuk memperbaiki diri.
17. Apa hal yang paling membuat Ibu merasa “inilah alasan saya menjadi pendidik”?
Ketika menjadi pendidik, saya senantiasa menyiapkan cermin di depan diri saya, bahwa saya harus terus mendidik diri. Dengan menjadi pendidik berarti saya diberi kesempatan untuk hadir pada fase kehidupan seseorang yang sangat penting. saya ikut menyaksikan ketika seorang anak sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa yang ia mampu, bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia belajar menjadi manusia.
Saya melihat setiap anak di sekolah bukan hanya sebagai siswa. Saya membayangkan, mereka adalah anak yang juga sangat dicintai oleh Ayah Bundanya. Ada keluarga yang menitipkan harapan kepada kami. Ada orang tua yang percaya bahwa sekolah akan membantu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Maka ketika melihat seorang anak berkembang meskipun mungkin hanya dalam hal kecil, saya merasa bahwa amanah ini begitu berharga. Ada anak yang hari ini akhirnya berani tampil di depan kelas. Ada yang mulai mampu meminta maaf. Ada yang belajar berbagi. Ada yang sebelumnya selalu mengatakan ‘aku tidak bisa’, kemudian mau mencoba sekali lagi. Ada yang menemukan bahwa ternyata ia memiliki bakat yang selama ini belum ia sadari.
Hal-hal kecil itulah yang sering kali menjadi kemenangan terbesar seorang pendidik. Ketika ia semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati orang lain, semakin mandiri, dan mulai bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?’ Di situlah saya merasa bahwa pendidikan sedang benar-benar terjadi. Semoga dengan menjadi pendidik, saya ikut menyalakan cahaya kecil dalam diri setiap anak, membantu mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan Allah menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Ni’mah untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
18. Jika suatu hari anak-anak yang sekarang belajar di sini sudah dewasa, seperti apa sosok yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Saya berharap dimanapun mereka berada kelak, mereka membawa jejak dari nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di sekolah, berupa iman, akhlak, kemauan untuk belajar, peduli dan yakin bahwa dirinya mampu memberikan manfaat. Semoga mereka menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, anak yang ketika memiliki ilmu, tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi, justru semakin rendah hati dan semakin ingin bermanfaat. Menjadi orang yang percaya diri tetapi tidak sombong, mampu memimpin tetapi juga mau melayani, memiliki prinsip tetapi tetap terbuka untuk belajar, teguh dan tangguh saat menghadapi tantangan.
19. Apa yang ingin Ibu wariskan kepada SD Islam Bintang Juara selama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah?
Kalau suatu hari nanti amanah saya sebagai Kepala Sekolah di Bintang Juara selesai, saya berharap tidak hanya meninggalkan program atau capaian. Saya ingin meninggalkan budaya. Budaya yang membuat setiap orang di sekolah memaknai bahwa setiap anak adalah amanah, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak bertumbuh dengan cara terbaiknya.
Saya juga ingin meninggalkan budaya belajar dan bertumbuh bersama. Saya berharap guru-guru di Bintang Juara tidak pernah merasa bahwa mereka sudah selesai belajar. Mereka terus belajar, mencoba, memperbaiki, dan saling menguatkan. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, tetapi sekolah yang selalu merasa masih punya ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya ingin budaya kerja yang saya tinggalkan adalah budaya yang memiliki standar yang tinggi, tetapi tidak kehilangan empati. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan mengorbankan proses tumbuh anak. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.
Saya juga berharap dapat meninggalkan budaya kolaborasi yang kuat dengan Ayah Bunda. Bahwa sekolah dan keluarga bukan dua pihak yang saling menuntut, tetapi dua pihak yang bergandengan tangan karena memiliki tujuan yang sama: memberikan yang terbaik untuk anak.
Dan yang paling saya harapkan, saya ingin meninggalkan semangat untuk terus menjaga ruh Bintang Juara. Bahwa di tengah perubahan zaman, teknologi, tuntutan prestasi, dan berbagai perkembangan pendidikan, kita tidak kehilangan akar yakni iman, Al-Qur’an dan Hadits, adab, cinta kepada anak, dan keyakinan bahwa setiap anak adalah bintang.
Semoga ketika suatu hari saya sudah tidak lagi berada pada amanah ini, nilai-nilai baik yang pernah kita perjuangkan tetap hidup bahkan tumbuh lebih besar daripada ketika saya masih menjabat. Saya ingin terus melihat guru-gurunya masih saling menguatkan, anak-anaknya masih belajar dengan bahagia dan bermakna, Ayah Bunda masih merasa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dan setiap orang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan manusia.
Mungkin itulah warisan yang paling ingin saya tinggalkan. Karena pada akhirnya, jabatan kepala sekolah akan selesai, tetapi budaya yang kita bangun semoga terus berjalan. Program bisa berganti, pemimpin bisa berganti, generasi bisa berganti tetapi semangat untuk menjadikan Bintang Juara sebagai rumah tumbuh bagi anak-anak dan setiap orang yang ada dalam naungannya semoga tidak pernah berhenti. Jika kelak Bintang Juara menjadi sekolah yang terus bertumbuh, tetapi tetap hangat, berakar pada iman, menghargai setiap anak, dan melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat bagi kehidupan, saya akan merasa bahwa amanah ini telah meninggalkan jejak yang berarti.
20. Jika harus menyampaikan satu pesan kepada setiap anak dan Ayah Bunda di SD Islam Bintang Juara, apa yang ingin Ibu katakan?
Untuk anak-anak tersayang, jangan pernah lalai tempat kembali kita melalui sujud terdalam kita kepada Allah. Nak, setiap dari kalian jika hari ini belum bisa, bukan berarti tidak mampu. Kalian butuh waktu untuk mengenali diri kalian, kembangkan dan pantang menyerahlah, suatu saat akan ada hasil dari apa yang kalian upayakan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh, dan Allah telah menyiapkan jalannya melalui ikhtiar yang kalian lakukan. Jadilah anak yang tidak hanya menjadi pintar sesuai potensi kalian, tetapi juga menjadi bermanfaat dengan ilmu yang membuat kalian semakin dekat dengan Allah. Nak, setiap kalian adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri.
Untuk Ayah Bunda, terimakasih telah menjadi partner tumbuh bersama menjadi orangtua. Ayah Bunda, saya tahu menjadi orangtua tidaklah mudah, tapi mari kita upayakan untuk menjadi orangtua yang mau belajar. Belajar hadir, belajar mendengarkan, belajar memaknai proses anak-anak kita. Setiap perkembangan kecil hari ini ada upaya besar dari mereka, dan juga sebuah kemenangan besar yang berarti bagi anak kita. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bukan perlombaan. Semoga Allah selalu memampukan kita senantiasa bersyukur menjadi orangtua dan menguatkan diri kita agar amanah mengemban tanggungjawab sebagai orangtua.
MasyaAllah… jawaban-jawaban Bu Ni’mah memberikan secercah cahaya bagi Ayah Bunda yang masih bertanya-tanya bagaimana sih kurikulum SD Islam Bintang Juara dibuat, seperti apa sih orang-orang di baliknya. Dan seperti inilah sosok yang diamanahi menjadi pemimpin di sekolah ini. InsyaAllah melalui tanya jawab ini bisa memberikan gambaran bagaimana ruang tumbuh di Sekolah Islam Bintang Juara dibangun. Bukan hanya untuk muridnya, tetapi juga untuk guru dan orang tuanya.
Pada akhirnya, sekolah bukanlah tempat yang pernah benar-benar selesai belajar. Ada anak yang terus bertumbuh, guru yang terus belajar, orang tua yang terus membersamai, dan sistem pendidikan yang perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui perjalanan dan pemikiran Bu Ni’mah, kita kembali diingatkan bahwa menjadi Sekolah Calon Pemimpin Muslim bukan sekadar tentang capaian hari ini, tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem sekolah terus bertumbuh dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Sebab bagi SD Islam Bintang Juara, setiap proses belajar, setiap refleksi, dan setiap upaya memperbaiki diri pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membersamai setiap anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 24, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Senin, 24 Agustus 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Pagi itu, peserta didik berkumpul dalam satu suasana yang penuh ketenangan sekaligus semangat. Bukan sekadar untuk mengikuti agenda rutin sekolah, tetapi untuk memperingati salah satu momentum penting bagi umat Islam: Maulid Nabi Muhammad saw.
Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara tahun ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., menghadirkan rasa cinta kepada beliau, sekaligus mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw.
Kegiatan diawali dengan berselawat bersama.
Suara anak-anak dan seluruh warga sekolah berpadu dalam lantunan selawat. Suasana semakin semarak dengan kehadiran Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz.
Alunan rebana mengiringi lantunan selawat, menciptakan suasana yang hangat dan penuh penghormatan.
Namun, selawat pada pagi itu bukan sekadar lantunan yang dinyanyikan bersama. Ada sebuah rasa yang ingin dihadirkan. Rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad saw.
Berselawat, Menghadirkan Cinta kepada Rasulullah saw.
Bagi anak-anak, mengenal Rasulullah saw. tidak cukup hanya dengan mengetahui nama, tempat kelahiran, atau kisah perjalanan hidup beliau.
Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. Salah satunya melalui selawat.
Ketika anak-anak berselawat bersama, mereka belajar bahwa Rasulullah saw. adalah sosok yang begitu mulia dan dicintai oleh umat Islam. Lantunan selawat menjadi pengingat untuk terus mengenal pribadi beliau, mempelajari akhlaknya, serta berusaha meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena cinta tidak berhenti pada ucapan. Cinta kepada Rasulullah saw. juga perlu perlahan diwujudkan melalui perilaku.
- Belajar berkata jujur.
- Belajar menyayangi sesama.
- Belajar menjaga amanah.
- Belajar menghormati orang lain.
- Belajar menjadi pribadi yang membawa kebaikan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus ditumbuhkan dalam keseharian peserta didik.
Dari Selawat Menuju Tadabbur
Setelah berselawat bersama, kegiatan dilanjutkan dengan tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad.
Jika selawat mengajak anak-anak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw., tadabbur kali ini mengajak mereka melihat kembali sebuah peristiwa besar yang memiliki kaitan dengan kelahiran beliau.
Tahun ini, kegiatan Maulid Nabi mengangkat tema:
“Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”
Tema tersebut membawa peserta didik untuk mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan peristiwa yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.
Bagi anak-anak, kisah ini tentu bukan sekadar cerita sejarah. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari peristiwa tersebut.
Mengenal Kisah Pasukan Abrahah melalui Surah Al-Fil
Surah Al-Fil mengabadikan peristiwa ketika Pasukan Abrahah datang menuju Makkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Dalam kisah tersebut, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Pasukan yang datang dengan kekuatan besar tidak mampu mewujudkan tujuannya.
Bagi kakak shalih-shalihah, kisah ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, tetap ada kekuasaan Allah SWT.
Tadabbur tidak berhenti pada mengetahui apa yang terjadi. Anak-anak diajak untuk melihat makna di balik sebuah kisah.
Apa yang dapat kita pelajari? Bagaimana seharusnya seorang Muslim memandang kekuasaan Allah? Dan bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi menjelang kelahiran Rasulullah saw. dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sangat penting?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat pembelajaran Al-Qur’an menjadi lebih dari sekadar membaca dan menghafal ayat. Anak diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran.
Ketika Sejarah Bertemu dengan Kelahiran Pemimpin Umat
Tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat” juga membawa peserta didik pada konteks yang lebih luas. Peristiwa Pasukan Abrahah dikenal sebagai salah satu peristiwa yang berkaitan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw.
Di tengah peristiwa besar tersebut, lahirlah sosok yang kelak menjadi pemimpin umat dan Rasul terakhir. Di sinilah kakak shalih-shalihah dapat diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memiliki kekuasaan atau berada di posisi paling depan.
Kepemimpinan juga tentang akhlak, amanah, keberanian, kasih sayang, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Nilai tersebut sangat dekat dengan semangat pendidikan di SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim.
Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan luas, tetapi juga memiliki karakter dan nilai yang menjadi bekal dalam kehidupannya.
Maulid Nabi sebagai Ruang Pendidikan Karakter
Peringatan Maulid Nabi di sekolah dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pembelajaran Islam dengan cara yang dekat dengan dunia anak.
- Ada selawat yang dapat mereka lantunkan.
- Ada kisah yang dapat mereka dengarkan.
- Ada ayat Al-Qur’an yang dapat mereka tadabburi.
- Dan ada nilai yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Maulid Nabi bukan hanya kegiatan seremonial yang berlangsung satu hari. Momentum ini dapat menjadi pengingat bagi anak-anak untuk terus mengenal Rasulullah saw. dan menjadikan beliau sebagai teladan.
Sebab semakin seseorang mengenal sosok yang dicintainya, semakin banyak pula nilai yang dapat ia pelajari dan teladani.
Dari Kisah Rasulullah, Belajar Menjadi Pemimpin
Ada satu benang merah yang menarik dari tema Maulid Nabi tahun ini: kepemimpinan.
Rasulullah saw. adalah teladan dalam kepemimpinan. Namun, bagaimana mengenalkan kepemimpinan kepada anak usia SD?
Tentu tidak harus melalui konsep yang berat. Kepemimpinan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
- Berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
- Mau membantu teman.
- Mampu menjaga amanah.
- Berani mengatakan yang benar.
- Mau mendengarkan orang lain.
- Tidak menggunakan kekuatan untuk menyakiti.
- Dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Nilai-nilai tersebut dapat mulai dilatih sejak anak berada di lingkungan sekolah dan keluarga. Karena seorang pemimpin tidak tiba-tiba menjadi pemimpin ketika dewasa. Karakter kepemimpinan dibangun sedikit demi sedikit sejak masa kanak-kanak.
Menghidupkan Maulid dalam Kehidupan Sehari-hari
Setelah kegiatan Maulid Nabi selesai, harapannya bukan berarti pembelajaran pun ikut berakhir. Justru, selawat yang dilantunkan dan kisah yang dipelajari dapat menjadi awal untuk menghadirkan kecintaan kepada Rasulullah saw. dalam keseharian.
- Ketika anak belajar bersikap santun kepada guru, ia sedang belajar akhlak.
- Ketika ia mau berbagi dengan teman, ia sedang belajar kasih sayang.
- Ketika ia mengakui kesalahan, ia sedang belajar kejujuran.
- Ketika ia menjaga titipan, ia sedang belajar amanah.
- Ketika ia membantu tanpa diminta, ia sedang belajar memberikan manfaat.
Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bentuk nyata dari proses meneladani Rasulullah saw.
Sebab tujuan mengenal Nabi bukan hanya agar anak mengetahui kisah beliau, tetapi agar kisah tersebut hidup dalam perilaku mereka.
Dari Maulid untuk Generasi Calon Pemimpin Muslim
Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara pada Senin, 24 Agustus 2026 akhirnya menjadi perjalanan belajar yang memadukan selawat, Al-Qur’an, sejarah, dan pendidikan karakter.
Dari lantunan selawat bersama Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin Pak Zakki Akmal Al Hafidz, anak-anak diajak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw.
Dari tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad, mereka diajak mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan merenungkan kekuasaan Allah SWT.
Dan dari tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”, anak-anak mendapatkan pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang memiliki nilai, akhlak, dan keberanian untuk memberikan manfaat.
- Semoga dari setiap selawat yang dilantunkan, tumbuh cinta.
- Dari setiap ayat yang ditadabburi, tumbuh pemahaman.
- Dari setiap kisah Nabi yang dipelajari, tumbuh keteladanan.
- Dan dari setiap pembiasaan kecil yang dilakukan hari ini, tumbuh calon pemimpin Muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat bagi sesama.
Karena mengenal Rasulullah saw. bukan hanya tentang mengetahui kisahnya. Tetapi tentang belajar mencintai, meneladani, dan meneruskan kebaikan yang beliau ajarkan. ﷺ
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Semoga cinta kepada Rasulullah saw. senantiasa tumbuh di hati setiap anak dan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka dalam menjalani kehidupan. Aamiin.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 21, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Prestasi
Alhamdulillahirabbil‘alamin. Baarakallah, Kak Kia!
Kabar membanggakan kembali hadir dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Salah satu kakak shalihah, Kak Kia, berhasil membawa nama Kota Semarang hingga ke panggung Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat nasional.
Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan singkat.
Setelah melewati rangkaian kompetisi dari tingkat kecamatan hingga kota, Kak Kia akhirnya berhasil melaju ke tingkat nasional dan berkesempatan bertanding bersama siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tingkat nasional, Kak Kia berhasil menorehkan prestasi dengan meraih peringkat 4 dan peringkat 6.
Sebuah pencapaian yang tentu sangat membanggakan.
Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat cerita yang jauh lebih panjang: tentang proses belajar, latihan, keberanian mencoba, dan konsistensi yang telah dibangun sejak usia dini.
Belajar Renang Sejak TK
Perjalanan Kak Kia dalam dunia renang ternyata telah dimulai sejak jenjang Taman Kanak-Kanak (TK).
Sejak usia dini, Kak Kia sudah mulai belajar dan mengenal olahraga renang. Apa yang pada awalnya mungkin hanya menjadi sebuah aktivitas untuk belajar berenang, perlahan berkembang menjadi kemampuan yang terus diasah.
Tahun demi tahun, pengalaman Kak Kia di dunia renang semakin bertambah. Dari belajar mengenal air, memahami teknik dasar, berlatih secara rutin, hingga akhirnya berani mengikuti kompetisi.
Proses panjang tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa sebuah prestasi sering kali tidak lahir secara instan.
Apa yang terlihat hari ini sebagai seorang siswa yang mampu bertanding di tingkat nasional, sebenarnya merupakan hasil dari proses yang telah dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Sedikit demi sedikit. Latihan demi latihan. Pengalaman demi pengalaman. Hingga akhirnya, kesempatan besar itu datang.
Dari Kecamatan, Kota, hingga Nasional
Untuk mencapai O2SN tingkat nasional, Kak Kia harus melewati serangkaian tahapan kompetisi.
Perjalanan dimulai dari tingkat kecamatan. Setelah berhasil melewati tahap tersebut, perjuangan berlanjut ke tingkat Kota Semarang. Di setiap jenjang, tantangan semakin besar.
Peserta yang dihadapi semakin beragam. Persaingan semakin ketat. Tekanan pertandingan pun bisa semakin terasa. Namun, Kak Kia terus melangkah.
Hingga akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan untuk mewakili Kota Semarang di O2SN tingkat nasional. Sampai pada tahap ini saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.
Sebab, perjalanan menuju tingkat nasional bukan hanya tentang kemampuan teknis dalam olahraga. Ada proses seleksi, latihan, persiapan mental, kedisiplinan, dan keberanian untuk tampil di tengah persaingan yang semakin tinggi.
Bertanding di Panggung Nasional
Tingkat nasional menjadi pengalaman baru bagi Kak Kia. Bertemu dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memberikan kesempatan untuk melihat kemampuan yang lebih beragam sekaligus belajar dari pengalaman orang lain.
Di tengah kompetisi tersebut, Kak Kia berhasil menempati peringkat 4 dan peringkat 6.
Hasil ini menjadi pencapaian yang sangat membanggakan bagi Kak Kia, keluarga, dan seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara.
Namun, pencapaian tersebut bukan hanya tentang angka di papan peringkat.
- Ada keberanian yang telah dibangun.
- Ada pengalaman yang telah didapat.
- Ada proses latihan yang telah dilalui.
Dan ada pelajaran yang akan terus dibawa bahkan setelah kompetisi selesai.
O2SN Bukan Hanya Tentang Menang dan Kalah
Ajang O2SN memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi olahraga sekaligus belajar berbagai nilai kehidupan. Dalam olahraga, anak belajar bahwa kemampuan perlu dilatih.
- Mereka belajar bahwa hasil tidak selalu datang sesuai harapan.
- Mereka belajar menerima kemenangan tanpa menjadi tinggi hati dan menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat.
- Mereka juga belajar bahwa setiap pertandingan memiliki cerita.
- Ada hari ketika latihan terasa mudah.
- Ada hari ketika tubuh terasa lelah.
- Ada momen ketika hasil latihan mulai terlihat.
- Ada pula saat ketika hasil pertandingan belum sesuai dengan target.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses tumbuh.
Karena itulah, olahraga di usia sekolah tidak hanya berbicara mengenai prestasi. Olahraga juga dapat menjadi ruang untuk membangun disiplin, ketekunan, sportivitas, keberanian, tanggung jawab, dan daya juang.
Prestasi Hari Ini, Proses yang Dimulai Sejak Dini
Perjalanan Kak Kia juga memberikan satu pelajaran penting bagi kita sebagai orang tua dan pendidik.
Potensi anak perlu diberi ruang untuk tumbuh.
Ketika anak menunjukkan ketertarikan terhadap suatu bidang, kesempatan untuk mencoba dan berlatih dapat menjadi awal dari perjalanan yang panjang.
Tidak semua anak yang belajar olahraga sejak dini akan menjadi atlet. Tidak semua anak yang mengikuti kompetisi akan langsung meraih juara.
Dan itu tidak masalah. Yang terpenting adalah anak mendapatkan kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri.
- Apa yang ia sukai?
- Apa yang ingin ia pelajari?
- Apa yang ingin ia kembangkan?
Dari proses tersebut, anak dapat belajar mengenali potensi sekaligus membangun kepercayaan diri.
Kisah Kak Kia menjadi contoh bahwa sesuatu yang dimulai sederhana sejak TK dapat berkembang menjadi pengalaman luar biasa ketika terus dirawat melalui proses dan latihan.
Juara Bukan Hanya Tentang Seberapa Tinggi Podium
Peringkat 4 dan 6 di tingkat nasional tentu patut dirayakan. Namun, ada pesan yang lebih besar dari sekadar peringkat tersebut.
- Juara bukan tentang seberapa tinggi podium.
- Juara adalah ketika seorang anak berani mencoba.
- Juara adalah ketika ia mau terus berlatih meskipun tidak selalu mudah.
- Juara adalah ketika ia mampu bangkit setelah menghadapi tantangan.
- Dan juara adalah ketika ia terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Karena setiap anak memiliki garis start yang berbeda.
Ada yang lebih dulu menemukan bakatnya. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang langsung percaya diri. Ada pula yang membutuhkan dukungan lebih banyak untuk berani tampil.
Tugas kita bukan membandingkan perjalanan mereka. Tugas kita adalah mendampingi mereka agar terus bertumbuh.
Terima Kasih untuk Setiap Dukungan
Prestasi Kak Kia tentu tidak lahir dari perjuangannya seorang diri.
- Ada orang tua yang mendampingi dan memberikan dukungan.
- Ada pelatih yang membantu mengembangkan kemampuan.
- Ada guru yang memberikan semangat.
- Ada keluarga dan teman-teman yang terus memberikan doa dan dukungan.
Setiap dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hingga Kak Kia mampu berdiri di panggung O2SN tingkat nasional.
Untuk seluruh pihak yang telah mendampingi perjalanan Kak Kia, terima kasih atas setiap waktu, tenaga, doa, dan kepercayaan yang diberikan. Semoga setiap kebaikan tersebut menjadi keberkahan.
Baarakallah, Kak Kia! Terima kasih telah membawa nama Kota Semarang hingga ke tingkat nasional. Terima kasih telah memberikan ikhtiar terbaik. Terima kasih telah menunjukkan bahwa perjalanan panjang yang dimulai sejak dini dapat membawa kita menuju pengalaman-pengalaman luar biasa.
Peringkat 4 dan 6 adalah sebuah pencapaian yang membanggakan. Namun, pengalaman dan pelajaran yang Kak Kia dapatkan sepanjang perjalanan tentu jauh lebih berharga.
Semoga prestasi ini menjadi pijakan untuk terus melangkah, bukan alasan untuk berhenti.
- Teruslah berlatih dengan tekun.
- Teruslah belajar dengan rendah hati.
- Teruslah berani mencoba.
- Dan tetaplah menikmati setiap prosesnya.
Untuk Kak Kia dan seluruh kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara:
Tidak harus selalu menjadi yang pertama untuk menjadi juara. Karena juara adalah mereka yang berani mencoba, memberikan ikhtiar terbaik, dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik dirinya.
Semoga semakin banyak Langkah Juara yang lahir dari SD Islam Bintang Juara. Bintang Juara — tumbuh dengan iman, unggul dengan ilmu, santun dalam akhlak, dan berdampak bagi sesama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 20, 2026 | Artikel, Edukasi, Pembelajaran
Bagaimana jika teknologi tidak hanya digunakan untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi juga membantu manusia menjaga lingkungan dan memastikan makanan yang kita konsumsi tetap aman?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk pembelajaran kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Project Based Learning (PjBL) “EcoTech: Merancang Solusi, Menjaga Ekosistem Sekolah”, siswa belajar bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. dengan tema:
“Smart Farming & Food Defense: Bagaimana Teknologi Membantu Menjaga Ekosistem dan Keamanan Pangan?”
Kegiatan ini dirancang untuk membawa siswa melihat hubungan antara teknologi, lingkungan, pertanian, dan pangan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
BBA Smart Farming Dimulai dari Driving Question
Setiap proyek yang bermakna biasanya berangkat dari sebuah pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir.
Dalam PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak menjawab Driving Question:
“Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika dicermati lebih jauh, ada banyak hal yang dapat dieksplorasi.
- Bagaimana cara menggunakan air secara lebih bijak?
- Bagaimana mengetahui kondisi tanaman?
- Bisakah teknologi membantu mengurangi pemborosan?
- Bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih ramah bagi tumbuhan dan makhluk hidup lainnya?
- Dan bagaimana memastikan makanan yang dihasilkan atau dikonsumsi tetap aman?
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa mulai memahami bahwa teknologi bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk membantu manusia mengamati masalah, mencari solusi, dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Mengenal Smart Farming
Salah satu topik yang diperkenalkan dalam BBA adalah Smart Farming atau pertanian cerdas.
Secara sederhana, Smart Farming merupakan pendekatan dalam pertanian yang memanfaatkan teknologi dan data untuk membantu proses budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.
Teknologi dapat membantu manusia memantau berbagai kondisi yang berkaitan dengan tanaman dan lingkungan, misalnya kelembapan tanah, kebutuhan air, kondisi cuaca, hingga pertumbuhan tanaman.
Bagi siswa sekolah dasar, konsep ini tentu tidak harus langsung dipelajari secara rumit.
Yang terpenting adalah anak mulai memahami sebuah prinsip:
Teknologi dapat digunakan untuk mengenali kebutuhan lingkungan dan membantu manusia merawatnya dengan lebih tepat.
Misalnya, daripada menyiram tanaman secara berlebihan, bagaimana jika kita dapat mengetahui apakah tanah masih cukup lembap? Daripada hanya menebak kondisi tanaman, bagaimana jika kita dapat menggunakan data untuk membantu mengambil keputusan?
Pertanyaan seperti ini membuat siswa belajar melihat teknologi dari perspektif yang lebih luas.
- Teknologi bukan hanya tentang komputer atau gawai.
- Teknologi juga dapat menjadi alat untuk merawat bumi.
Lalu, Apa Itu Food Defense?
Selain Smart Farming, siswa juga diperkenalkan dengan konsep Food Defense atau pertahanan pangan.
Food Defense berkaitan dengan upaya melindungi makanan dari berbagai ancaman yang dapat membuat pangan menjadi tidak aman.
Bagi anak-anak, konsep ini dapat dikaitkan dengan hal-hal sederhana yang mereka temui setiap hari.
- Mengapa kita perlu mencuci tangan sebelum makan?
- Mengapa bahan makanan perlu disimpan dengan baik?
- Mengapa kebersihan tempat pengolahan makanan perlu diperhatikan?
- Mengapa makanan tidak boleh diletakkan sembarangan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa keamanan pangan tidak dimulai ketika makanan sudah berada di atas meja.
Keamanan pangan merupakan bagian dari sebuah proses panjang. Mulai dari bagaimana bahan pangan diproduksi, disimpan, diolah, hingga akhirnya dikonsumsi.
Di sinilah siswa dapat melihat hubungan antara lingkungan yang sehat, teknologi, proses produksi pangan, dan kesehatan manusia.
Ketika Teknologi Bertemu Ekosistem
Salah satu hal menarik dari PjBL EcoTech adalah siswa tidak hanya mempelajari teknologi sebagai sebuah konsep. Mereka diajak melihat bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan lingkungan.
Bayangkan lingkungan sekolah sebagai sebuah ekosistem. Di dalamnya terdapat manusia, tumbuhan, tanah, air, udara, serta berbagai makhluk hidup lainnya yang saling berinteraksi.
Jika salah satu bagian terganggu, bagian lainnya dapat ikut terdampak.
Misalnya, penggunaan air yang tidak bijak dapat menyebabkan pemborosan. Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mengganggu kebersihan lingkungan. Kondisi tanah yang tidak terjaga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.
Teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk membantu mengidentifikasi dan mengatasi persoalan tersebut. Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Siswa juga perlu memahami bahwa solusi lingkungan membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan perubahan kebiasaan manusia.
Teknologi membantu. Manusia yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Belajar Bersama Ahli, Memperluas Cara Pandang Anak
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.
Melalui kehadiran praktisi atau ahli, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Pada BBA kali ini, Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. membantu siswa melihat topik Smart Farming dan Food Defense dari perspektif teknologi.
Pengalaman seperti ini penting karena anak dapat memahami bahwa profesi dan ilmu pengetahuan saling terhubung.
- Ilmu komputer dapat bertemu dengan pertanian.
- Teknologi dapat bertemu dengan lingkungan.
- Data dapat membantu pengambilan keputusan.
- Dan pendidikan dapat menjadi awal untuk menciptakan solusi atas persoalan di sekitar kita.
Dengan demikian, anak tidak hanya belajar “apa”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa” dan “bagaimana”.
PjBL Membuat Anak Belajar dari Masalah Nyata
Kegiatan BBA ini merupakan bagian dari Project Based Learning (PjBL).
Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa tidak hanya menerima informasi kemudian mengerjakan soal. Mereka diajak menghadapi sebuah pertanyaan atau permasalahan, melakukan eksplorasi, berdiskusi, mencari informasi, kemudian merancang solusi.
PjBL EcoTech membawa siswa pada konteks yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri: lingkungan sekolah.
Dengan Driving Question “Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”, siswa memiliki arah untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi.
Proses tersebut juga melatih berbagai keterampilan penting, seperti:
- Critical thinking, untuk memahami masalah dan mencari penyebabnya.
- Problem solving, untuk merancang solusi yang dapat diterapkan.
- Collaboration, melalui kerja sama dengan teman.
- Communication, ketika menyampaikan ide dan hasil pemikiran.
- Creativity, dalam merancang gagasan baru.
- Literasi teknologi, untuk memahami pemanfaatan teknologi secara bijak.
Keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari proses pendidikan karena tantangan masa depan tidak selalu memiliki jawaban yang bisa ditemukan hanya dengan menghafal.
Anak perlu belajar berpikir dan menciptakan solusi.
Dari Sekolah untuk Masa Depan
Apa yang dipelajari kakak-kakak kelas 5 melalui kegiatan ini mungkin terlihat sederhana hari ini. Namun, kebiasaan berpikir yang dibangun dapat menjadi bekal untuk masa depan.
- Ketika melihat tanaman, mereka dapat bertanya bagaimana cara merawatnya dengan lebih baik.
- Ketika melihat air terbuang, mereka dapat berpikir bagaimana cara menghematnya.
- Ketika melihat sampah, mereka dapat mencari cara mengelolanya.
- Ketika menggunakan teknologi, mereka dapat mulai bertanya apakah teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.
Inilah salah satu tujuan penting dari pembelajaran: membantu anak menjadi manusia yang peka terhadap masalah di sekitarnya dan berani mencari solusi.
Teknologi yang Digunakan untuk Kebaikan
Perkembangan teknologi akan terus berlangsung. Anak-anak hari ini akan tumbuh di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi, data, dan kecerdasan buatan.
Karena itu, mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu belajar menjadi pengguna yang bijak sekaligus pencipta solusi.
Melalui PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak melihat bahwa teknologi dapat memiliki peran positif ketika digunakan untuk tujuan yang tepat.
- Menjaga lingkungan.
- Menghemat sumber daya.
- Mendukung pertanian.
- Menjaga keamanan pangan.
- Dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik.
Semua itu berawal dari satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana kita bisa menggunakan apa yang kita punya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik?”
Terus Bertanya, Terus Mencoba, Terus Menciptakan
Kegiatan Belajar Bersama Ahli bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya perjalanan belajar kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara.
Semoga setelah kegiatan ini, semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak mereka.
Karena anak yang bertanya sedang belajar. Anak yang mencoba sedang bertumbuh. Dan anak yang berani mencari solusi sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa depan.
Dari Smart Farming, anak belajar bahwa teknologi dapat membantu merawat kehidupan.
- Dari Food Defense, anak belajar bahwa keamanan pangan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab.
- Dari EcoTech, anak belajar bahwa lingkungan di sekitar mereka adalah bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.
Dan dari seluruh proses tersebut, mereka belajar satu hal yang sangat penting:
Menjadi bagian dari solusi dimulai dari keberanian untuk peduli, bertanya, dan mencoba.
by admin admin | Aug 19, 2026 | Artikel, Berita Utama, Prestasi
Alhamdulillahirabbil‘alamin! Kabar membanggakan kembali datang dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Kakak-kakak shalih dan shalihah yang menjadi delegasi dalam ajang MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami) berhasil membawa pulang 9 piala dari berbagai cabang lomba.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bersinar ketika diberikan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk berkembang. Bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, perjalanan kakak-kakak delegasi MAPSI juga menjadi proses belajar untuk berani tampil, berlatih dengan tekun, menjaga semangat, dan memberikan ikhtiar terbaik.
Yang lebih membanggakan, capaian tersebut membawa delegasi SD Islam Bintang Juara melaju ke tingkat MAPSI Kota Semarang.
9 Piala dari Berbagai Cabang Lomba MAPSI Kecamatan Gunungpati
Sembilan prestasi berhasil diraih kakak-kakak shalih dan shalihah dalam berbagai cabang MAPSI Kecamatan Gunungpati. Berikut daftar lengkapnya:
- PAI-BTQ Putra Juara I – Kak Akhtar Kelas 6
- PAI-BTQ Putri Juara II – Kak Hya Kelas 6
- Shalat Putra Juara II – Kak Rafif Al Kelas 4
- TIKI Putra Juara III – Kak Arkan Kelas 6
- Rebana Juara I – An Najma
- Hifdzil Putra Juara II – Kak Ahmar Azzam Kelas 5
- Hifdzil Putri Juara I – Kak Nura Kelas 3
- Khitobah Putra Juara II – Kak Ihsan Kelas 4
- Khitobah Putri Juara I – Kak Aleena Kelas 5
Dari sembilan capaian tersebut, terdapat beberapa Juara I yang berhasil diraih dalam cabang PAI-BTQ Putra, Rebana, Hifdzil Putri, dan Khitobah Putri.
Setiap piala tentu memiliki cerita. Ada waktu yang digunakan untuk berlatih, mengulang materi, memperbaiki teknik, belajar mengendalikan rasa gugup, hingga mempersiapkan diri agar dapat tampil sebaik mungkin di hadapan para juri.
Karena itu, setiap piala yang dibawa pulang bukan sekadar benda penghargaan. Di baliknya terdapat proses panjang yang layak diapresiasi.
MAPSI, Ruang Mengembangkan Potensi Islami Anak
MAPSI atau Mata Pelajaran dan Seni Islami menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk mengembangkan berbagai potensi yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam dan seni Islami.
Beragam cabang yang diikuti kakak-kakak SD Islam Bintang Juara menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam pendidikan Islam dapat berkembang melalui berbagai bentuk.
Ada yang mengasah kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an melalui PAI-BTQ. Ada yang memperkuat hafalan melalui Hifdzil Qur’an. Ada pula yang belajar menyampaikan pesan kebaikan melalui Khitobah.
Sementara itu, cabang seperti shalat, TIKI, dan rebana memberikan pengalaman yang berbeda. Anak belajar mempraktikkan pengetahuan, menunjukkan keterampilan, bekerja bersama, serta tampil percaya diri.
Dengan demikian, kompetisi seperti MAPSI dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih luas. Anak tidak hanya belajar mengenai teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan yang telah dipelajari.
Dari Latihan Menjadi Pengalaman Berharga
Setiap prestasi yang terlihat di atas panggung sebenarnya dimulai dari proses yang sederhana: latihan.
Anak perlu mengulang materi, mencoba kembali ketika melakukan kesalahan, menerima masukan dari guru, dan berlatih hingga semakin percaya diri.
Dalam proses tersebut, anak belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan usaha. Mereka juga belajar bahwa kemampuan tidak selalu langsung muncul dalam satu kali latihan. Ada kalanya anak merasa kesulitan. Ada kalanya rasa percaya diri naik turun. Bahkan, ada kemungkinan hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.
Namun, justru dari proses itulah karakter dapat tumbuh. Anak belajar disiplin, tanggung jawab, ketekunan, keberanian, dan kemampuan menerima hasil dengan lapang dada.
Nilai-nilai tersebut jauh lebih panjang manfaatnya dibandingkan sekadar sebuah piala.
Bukan Hanya Tentang Siapa yang Menjadi Juara
Dalam sebuah perlombaan, tentu ada yang mendapatkan Juara I, II, III, dan seterusnya. Namun, pendidikan mengajarkan kita bahwa keberhasilan anak tidak selalu dapat diukur dari posisi yang tertera di papan pengumuman.
Bagi kakak-kakak yang berhasil meraih juara, prestasi ini adalah buah dari ikhtiar yang patut disyukuri sekaligus menjadi motivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.
Sementara bagi kakak-kakak yang belum berhasil membawa pulang piala, jangan berkecil hati. Kalian tetaplah Bintang dan Juara.
Mengapa?
Karena keberanian untuk mengikuti perlombaan, kesediaan untuk berlatih, keberanian tampil di depan orang lain, serta usaha memberikan kemampuan terbaik merupakan sebuah kemenangan tersendiri.
Tidak semua usaha langsung menghasilkan piala. Terkadang, hasil dari sebuah perjuangan hadir dalam bentuk pengalaman, keberanian yang bertambah, kemampuan yang semakin terasah, atau pelajaran berharga yang akan berguna di kemudian hari.
Melesat ke MAPSI Tingkat Kota Semarang
Sembilan prestasi yang berhasil diraih menjadi langkah berikutnya bagi delegasi SD Islam Bintang Juara untuk melanjutkan perjuangan ke MAPSI tingkat Kota Semarang.
Tantangan tentu akan semakin beragam. Peserta yang dihadapi juga akan datang dari berbagai sekolah dengan kemampuan terbaik masing-masing. Namun, semangat yang perlu dibawa bukan hanya semangat untuk menjadi juara.
Lebih dari itu, kakak-kakak delegasi diharapkan dapat membawa semangat untuk belajar, berani mencoba, menjaga adab, dan memberikan ikhtiar terbaik.
Menang adalah sebuah kebahagiaan. Tetapi proses menuju kemenangan juga merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan.
Di tingkat kota nanti, semoga pengalaman dari tahap sebelumnya menjadi bekal untuk tampil lebih percaya diri. Kesalahan yang pernah terjadi dapat menjadi bahan evaluasi, sementara keberhasilan yang sudah diraih menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Terima Kasih, Para Pejuang MAPSI!
Prestasi sembilan piala ini tentu tidak lahir dari perjuangan siswa seorang diri.
Ada guru yang mendampingi, melatih, memberikan arahan, dan menyemangati. Ada orang tua yang memberikan dukungan dari rumah. Ada teman-teman yang ikut memberikan semangat. Ada pula seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara yang turut mendoakan.
Untuk itu, terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kakak delegasi, guru pendamping, orang tua, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan MAPSI ini.
Semoga setiap langkah yang telah dilalui menjadi pengalaman yang bermakna dan membawa keberkahan.
Untuk kakak-kakak yang akan melanjutkan perjuangan ke MAPSI tingkat Kota Semarang, terus semangat! Berlatih dengan sungguh-sungguh, tampil dengan percaya diri, tetap rendah hati, dan jangan lupa menikmati prosesnya.
Dan untuk seluruh kakak shalih-shalihah yang telah berjuang:
Tidak apa-apa jika hari ini belum membawa pulang piala. Kalian tetaplah Bintang. Kalian tetaplah Juara. Karena di SD Islam Bintang Juara, kami percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya dan potensi untuk bersinar dengan caranya masing-masing.
Selamat atas 9 piala yang diraih! Terus bertumbuh, terus berproses, dan terus memberikan ikhtiar terbaik. Bintang Juara, berprestasi dengan ilmu, tumbuh dalam iman, dan berakhlak mulia.*** (CM-MRT)