fbpx
TKA Bukan Sekadar Tes: BBOT Kelas 6 Belajar Daya Juang Bersama Ayah Mustafa

TKA Bukan Sekadar Tes: BBOT Kelas 6 Belajar Daya Juang Bersama Ayah Mustafa

Suasana ruang kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 27 Januari 2026 terasa berbeda dari biasanya. Meja dan kursi tertata rapi, wajah kakak shalih-shalihah tampak antusias, dan di depan kelas berdiri seorang sosok yang tak asing namun membawa perspektif baru: Ayah Mustafa, orang tua dari Kak Nadhif. Hari itu, kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) kembali digelar, mengangkat tema yang relevan dengan fase belajar kakak kelas 6:

“TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang.”

Tema ini bukan tanpa alasan. Kakak kelas 6 sedang berada pada fase penting dalam perjalanan akademiknya. Di hadapan mereka, ada tantangan baru bernama TKA (Tes Kemampuan Akademik) — sebuah asesmen yang sering kali dipersepsikan sebagai ujian menegangkan. Namun, melalui sesi BBOT ini, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah memandang TKA dari sudut yang lebih luas dan bermakna.

Mengenal TKA: Lebih dari Sekadar Angka di Kertas

Di awal sesi, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami terlebih dahulu: apa itu TKA? Dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak, beliau menjelaskan bahwa TKA bukanlah tes untuk mencari siapa yang paling pintar, melainkan sarana untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang

Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai memahami bahwa TKA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, TKA adalah bagian dari proses belajar yang membantu siswa mengenali kekuatan dan area yang masih perlu ditingkatkan.

Dua Pondasi Penting: Kompetensi dan Kompetisi

Setelah pemahaman dasar tentang TKA, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah menyelami dua pondasi penting untuk “menaklukkan” TKA, yaitu kompetensi dan kompetisi.

Kompetensi dimaknai sebagai kemampuan diri — hasil dari proses belajar, berlatih, dan memahami materi secara konsisten. Ayah Mustafa menekankan bahwa kompetensi tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: mau mencoba soal, mau bertanya saat belum paham, dan mau memperbaiki kesalahan.

Sementara itu, kompetisi bukan tentang mengalahkan teman, melainkan tentang bersaing secara sehat dengan diri sendiri. Apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Apakah sudah berani mencoba soal yang sebelumnya terasa sulit? Perspektif ini membuat kakak shalih-shalihah menyadari bahwa kompetisi sejati bukan soal ranking, tetapi tentang proses bertumbuh.

Belajar Daya Juang Lewat Latihan Soal Bersama

Sesi semakin seru ketika Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk langsung mempraktikkan latihan soal. Namun, yang membuat sesi ini berbeda adalah pendekatannya. Latihan soal tidak dilakukan secara individual dan sunyi, melainkan melalui diskusi dan kerja bersama.

Di sinilah nilai daya juang benar-benar ditanamkan. Kakak shalih-shalihah diajak untuk tidak menyerah ketika menemui soal sulit. Mereka didorong untuk mencoba, berdiskusi, dan mencari strategi bersama. Ketika ada yang belum paham, teman lain membantu. Ketika ada yang ragu, yang lain memberi semangat.

Ayah Mustafa mengingatkan dengan kalimat yang membekas di benak kakak shalih-shalihah:

“Nggak perlu nunggu jadi anak super pinter untuk berbagi. Meski tahunya cuma sedikit, berbagi saja.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa berbagi ilmu bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi tentang keberanian untuk membantu dan kepedulian terhadap sesama.

Saling Bantu, Saling Menguatkan

Nilai kebersamaan terasa kental sepanjang sesi. Kakak shalih-shalihah belajar bahwa dalam menghadapi TKA — dan tantangan hidup lainnya — mereka tidak harus berjalan sendiri. Budaya saling bantu menjadi kekuatan besar.

Ada kakak yang awalnya ragu menjawab soal, namun menjadi lebih percaya diri setelah berdiskusi. Ada pula yang awalnya cepat memahami, lalu belajar bersabar saat membantu temannya. Dari sini, karakter empati, kepemimpinan, dan kerja sama tumbuh secara alami.

BBOT hari itu membuktikan bahwa pembelajaran karakter tidak selalu harus melalui ceramah panjang. Justru melalui aktivitas sederhana yang nyata, nilai-nilai itu bisa tertanam lebih kuat.

Menutup dengan Contoh Soal TKA: Berani Mencoba Sampai Akhir

Sebagai penutup, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah mengerjakan contoh soal TKA. Kali ini, suasana kelas terasa lebih tenang dan percaya diri. Bukan karena semua soal terasa mudah, tetapi karena kakak shalih-shalihah sudah dibekali mindset yang tepat: mencoba dengan sungguh-sungguh, tidak takut salah, dan siap belajar dari proses.

Di akhir sesi, terlihat senyum lega di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka pulang dengan pemahaman baru bahwa TKA bukan sekadar tes akademik, melainkan media untuk melatih daya juang, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat.

BBOT: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua untuk Pendidikan Bermakna

Kegiatan BBOT kelas 6 bersama Ayah Mustafa menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu menghadirkan pembelajaran yang utuh. Tidak hanya fokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter anak.

Melalui tema “TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang”, kakak shalih-shalihah belajar bahwa keberhasilan bukan hanya soal nilai, tetapi tentang proses, usaha, dan sikap pantang menyerah. Bekal inilah yang diharapkan akan mereka bawa, tidak hanya saat menghadapi TKA, tetapi juga dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Karena sejatinya, anak yang berdaya juang tinggi akan selalu siap menghadapi tantangan apa pun, dengan atau tanpa tes.***

BBOT Kelas 4A: Belajar Profesi Teknisi Elektromedis Bersama Orang Tua Murid

BBOT Kelas 4A: Belajar Profesi Teknisi Elektromedis Bersama Orang Tua Murid

Pagi itu, suasana ruang Kelas 4A terasa berbeda. Bukan hanya karena meja dan kursi tertata rapi, tetapi karena rasa penasaran yang terpancar dari wajah kakak shalih-shalihah. Senin, 27 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4A. Mereka tidak hanya belajar dari guru di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua murid melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).

Kegiatan BBOT kali ini menghadirkan Ayah Feni Tutut, orang tua dari Kak Kaysa Lani, yang berbagi pengalaman dan ilmu dengan tema “Teknisi Elektromedis: Menjaga Alat Medis Tetap Aman”. Sebuah tema yang terdengar kompleks, namun justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang seru, kontekstual, dan penuh makna bagi anak-anak.

Belajar Profesi dari Dunia Nyata

Kegiatan diawali dengan pengenalan profesi teknisi elektromedis. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ayah Feni mengajak kakak shalih-shalihah memahami bahwa di balik alat-alat medis yang sering mereka lihat di rumah sakit—seperti alat cek jantung, alat infus, hingga monitor pasien—ada profesi penting yang bertugas memastikan semua alat tersebut aman dan berfungsi dengan baik.

Kakak shalih-shalihah tampak antusias saat Ayah Feni menjelaskan apa saja tugas seorang teknisi elektromedis;

  • Mulai dari memasang alat medis,
  • melakukan pengecekan rutin,
  • memperbaiki jika ada kerusakan,
  • hingga memastikan alat tersebut aman digunakan oleh pasien dan tenaga kesehatan.

Dari sini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa sebuah profesi tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan dampak bagi keselamatan orang lain.

Tak hanya bercerita, Ayah Feni juga mengenalkan berbagai alat yang digunakan oleh teknisi elektromedis. Kakak shalih-shalihah diajak membayangkan bagaimana alat-alat tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pembelajaran pun terasa hidup, karena kakak tidak hanya mendengar, tetapi juga membangun imajinasi dan pemahaman tentang dunia kerja yang nyata.

Belajar Berpikir Kritis: Fakta atau Opini?

Setelah pengenalan profesi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik. Ayah Feni menyampaikan beberapa statement seputar dunia elektromedis, lalu kakak shalih-shalihah diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut termasuk fakta atau opini.

Di sinilah kemampuan berpikir kritis kakak mulai terasah. Mereka belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya begitu saja. Ada pernyataan yang berdasarkan data dan kenyataan (fakta), ada pula yang berupa pandangan atau pendapat pribadi (opini).

Diskusi kecil pun terjadi. Beberapa siswa mengangkat tangan, menyampaikan alasan mengapa mereka memilih fakta atau opini. Kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis, sekaligus belajar menghargai pandangan teman-temannya. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan penting dalam membangun literasi informasi dan nalar kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.

Debat Seru: Manusia vs Robot

Puncak keseruan kegiatan BBOT kelas 4A terjadi saat Ayah Feni membagi siswa menjadi dua kelompok besar: kelompok shalih dan kelompok shalihah. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan yang sama menariknya, yaitu berdebat dengan topik:

“Di masa depan, dunia akan lebih membutuhkan teknisi manusia atau teknisi dalam bentuk robot?”

Satu kelompok berperan sebagai tim pendukung teknisi manusia, sementara kelompok lainnya menjadi tim pendukung teknisi robot. Kakak shalih-shalihah diminta menyusun argumen, berdiskusi dengan kelompoknya, lalu memaparkan alasan di depan kelas.

Suasana kelas pun berubah menjadi arena diskusi yang hidup. Ada yang berpendapat bahwa teknisi manusia tetap dibutuhkan karena memiliki empati, bisa berpikir fleksibel, dan memahami situasi secara mendalam. Di sisi lain, tim pendukung robot menyampaikan argumen bahwa robot lebih presisi, tidak mudah lelah, dan bisa bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.

Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan soal siapa yang menang, melainkan prosesnya. Kakak shalih-shalihah belajar berani berbicara, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa dalam sebuah diskusi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru memperkaya pemikiran.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

Melalui kegiatan BBOT ini, siswa kelas 4A tidak hanya mengenal satu profesi baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh. Mereka belajar mengaitkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, memahami peran teknologi dalam dunia kerja, serta merenungkan masa depan yang akan mereka hadapi.

Kehadiran orang tua sebagai narasumber juga memberi kesan mendalam. Kakak shalih-shalihah melihat langsung bahwa orang tua mereka memiliki peran, keahlian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ini menjadi inspirasi tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga serta motivasi untuk terus belajar.

Belajar Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan

Kegiatan BBOT kelas 4A bersama Ayah Feni Tutut menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung aktif, menyenangkan, dan bermakna. Dari mengenal profesi teknisi elektromedis, membedakan fakta dan opini, hingga berdebat tentang masa depan teknologi, semua proses ini menanamkan keterampilan abad ke-21 dalam diri anak-anak.

Hari itu, kelas 4A tidak hanya belajar tentang alat medis atau robot. Mereka belajar tentang berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Sebuah bekal penting untuk perjalanan belajar mereka ke depan—karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak hari ini, tetapi tentang bagaimana mereka memandang dan mempersiapkan masa depan.*** (CM-MRT)

TKA untuk Anak SD: Menjadi Peta Perjalanan Belajar yang Bermakna

TKA untuk Anak SD: Menjadi Peta Perjalanan Belajar yang Bermakna

Pagi itu di ruang kelas SD Islam Bintang Juara, suasana belajar terasa berbeda. Beberapa kakak shalih-shalihah duduk lebih fokus, sesekali tersenyum saat berdiskusi kelompok, sementara yang lain menuliskan catatan kecil. Guru tersenyum melihat antusiasme mereka—bukan karena mereka sedang menghadapi ujian, tetapi karena mereka sedang membangun pemahaman baru tentang belajar itu proses yang penuh makna.

Salah satu topik yang mulai muncul di percakapan mereka adalah TKA—yang kini menjadi bagian dari percakapan besar di dunia pendidikan Indonesia. Banyak Ayah Bunda yang mungkin masih bertanya: apa sebenarnya TKA itu? Kenapa harus ada? Dan apa yang perlu disiapkan anak dan orang tua? Artikel ini akan menjawab semua itu secara komprehensif, dengan bahasa yang mudah dipahami dan cerita yang relevan dengan kehidupan anak SD.

Apa Itu TKA?

TKA, atau Tes Kemampuan Akademik, adalah bentuk asesmen standar nasional yang dirancang untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. TKA bertujuan memberikan gambaran yang objektif, adil, dan terstandar tentang kemampuan siswa di berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD.

Berbeda dari penilaian biasa yang dilakukan sekolah, TKA memiliki standar nasional yang sama bagi seluruh peserta di seluruh Indonesia. Hasilnya nantinya dapat memberikan gambaran capaian siswa yang tidak hanya berdasarkan rapor sekolah, tetapi melalui pengukuran terstandar yang dapat digunakan sebagai peta kemampuan akademik individual.

Penting dicatat bahwa TKA bersifat tidak wajib dan hasilnya tidak menentukan kelulusan dari sekolah. Murid yang tidak mengikuti TKA tetap bisa lulus dari satuan pendidikannya.

Mengapa TKA Diperkenalkan di Jenjang SD?

Di era pendidikan modern, semakin penting bagi sistem pendidikan untuk tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga memahami bagaimana kemampuan itu dibangun secara terukur dan objektif.

Selama ini, penilaian di sekolah cenderung bersifat internal dan berbeda-beda antar lembaga. Hal ini kadang menyulitkan jika hasil penilaian tersebut harus dibandingkan antar sekolah atau digunakan dalam seleksi akademik di jenjang lanjutan. TKA hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan laporan capaian akademik yang terstandar.

Untuk jenjang SD, pelaksanaan TKA direncanakan akan dimulai pada tahun pelajaran 2025–2026, sehingga Ayah Bunda dan sekolah kini mulai mempersiapkan diri menyambut pelaksanaannya.

Tujuan TKA: Lebih dari Sekadar Angka

Jika dipahami secara mendalam, TKA tidak hadir semata untuk memberikan nilai. Berikut ini beberapa tujuan utama TKA yang menjadi landasan pelaksanaannya:

1. Mengukur Capaian Akademik Siswa Secara Terstandar

TKA memberikan gambaran tentang kemampuan siswa dalam mata pelajaran utama, seperti Bahasa Indonesia dan Matematika di jenjang SD. Dengan format yang terstandar, hasilnya bisa dibandingkan secara nasional tanpa bias antar satuan pendidikan.

2. Menjadi Bahan Pertimbangan Seleksi Akademik

Walaupun tidak wajib, hasil TKA dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam seleksi akademik, seperti seleksi jenjang pendidikan berikutnya atau jalur prestasi.

3. Membantu Penyusunan Pembelajaran yang Lebih Tepat

Dengan mengetahui pola capaian siswa secara objektif, guru bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai kebutuhan – misalnya memperkuat materi yang masih lemah atau memberikan tantangan baru bagi yang sudah kuat dalam area tertentu.

4. Menyetarakan Hasil Belajar Formal dan Nonformal

TKA juga membantu menyetarakan hasil belajar antara siswa dari jalur formal, nonformal, maupun informal, karena ia dibuat dengan standar nasional yang sama.

Manfaat TKA Bagi Anak SD

Bagi siswa di sekolah dasar, TKA bukan sekadar tes yang membuat mereka “diukur”. Lebih dari itu, TKA memiliki manfaat yang mendukung proses belajar mereka secara lebih mendalam, di antaranya:

1. Memahami Diri sebagai Pelajar

Melalui TKA, siswa bisa mendapatkan gambaran tentang area kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan. Itu berarti anak belajar mengenali diri sebagai pelajar—apa yang sudah mereka kuasai, dan apa yang masih perlu dipelajari. Ini penting untuk membangun kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.

2. Meningkatkan Kebiasaan Belajar yang Sehat

Ketika anak tahu bahwa asesmen seperti TKA bukan sekadar ujian yang menakutkan, tetapi alat untuk melihat proses belajarnya, mereka bisa belajar dengan mindset yang lebih sehat: fokus pada pemahaman, bukan hanya angka. TKA membantu menggeser fokus dari sekadar “lulus” menjadi belajar untuk paham.

3. Membantu Orang Tua Mendampingi Secara Tepat

Hasil TKA dapat menjadi bahan dialog antara anak dengan orang tua tentang bagaimana cara belajar yang paling cocok untuk mereka. Orang tua jadi memiliki pijakan yang lebih kuat untuk mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah.

Persiapan Menghadapi TKA: Langkah Praktis bagi Anak SD

Berbeda dengan ujian konvensional yang sering menekankan hafalan, TKA lebih mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berpikir. Karena itu, persiapan menghadapi TKA tidak harus berupa latihan soal berlebihan.

Berikut beberapa strategi yang efektif dan ringan:

1. Membiasakan Belajar yang Bermakna

Membaca buku bersama, berdiskusi tentang bacaan tersebut, atau memecahkan masalah kecil sehari-hari dengan berpikir logis membantu anak membangun pola pikir yang kuat—modal penting menjawab soal TKA.

2. Latihan Simulasi Secara Sukarela

Pemerintah menyediakan simulasi TKA secara gratis yang dapat diakses oleh siswa dan orang tua sebagai bahan latihan (akses melalui portal simulasi resmi Kemendikdasmen). Simulasi ini memberi gambaran format soal dan kompetensi yang diukur, tanpa tekanan.

3. Membantu Anak Mengenali Kelemahan dan Kekuatan

Bukan hanya memberi jawaban, tetapi ajak anak merefleksikan mengapa mereka kesulitan di bagian tertentu. Ini membantu membangun strategi belajar yang lebih personal dan efektif.

4. Kesiapan Emosional adalah Kunci

Pastikan anak memahami bahwa mengikuti TKA bukan wajib dan tidak akan berdampak pada kelulusannya. Fokuskan pada proses belajar dan pemahaman, bukan angka atau perbandingan dengan teman.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi TKA

Orang tua memiliki peran penting dalam menyikapi TKA bersama anak. Dukungan orang tua tidak hanya berupa motivasi, tetapi juga tentang cara mendampingi belajar secara sehat.

1. Menjadi Sumber Dukungan Emosional

Anak cenderung merasa aman jika orang tua tenang dan mendukung. Jangan menjadikan TKA sebagai tekanan atau ajang kompetisi antar teman. Sebaliknya, orang tua bisa berbicara dengan bahasa yang memotivasi:

“Ini kesempatan untuk melihat apa yang sudah kamu pelajari, dan kita bisa terus belajar bersama.”

2. Membantu Merencanakan Belajar

Tanpa harus memaksa latihan soal, orang tua bisa membantu anak membuat jadwal belajar ringan yang konsisten. Ini bisa berupa waktu membaca bersama, latihan matematika sederhana, atau bermain logika yang mendukung kemampuan berpikir.

3. Menjadi Mitra Guru dalam Mengikuti Perkembangan Anak

Orang tua dapat berdiskusi dengan guru tentang hasil TKA. Guru bisa menjelaskan area yang perlu diperhatikan, sementara orang tua memberi informasi tentang pola belajar anak di rumah. Kerja sama ini akan memperkuat pembelajaran anak secara keseluruhan.

TKA Bukan Penentu Kelulusan—Itu Kelebihannya

Satu hal penting yang perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa TKA bukanlah alat untuk menentukan kelulusan siswa dari sekolah. Nilai TKA tidak tercantum di ijazah dan tidak menjadi syarat wajib untuk lulus.

Ini membuat TKA berbeda dengan ujian nasional lama yang menentukan status kelulusan. TKA hadir sebagai asesmen tambahan yang membantu siswa, sekolah, dan orang tua memahami capaian akademik secara standar, tanpa tekanan kelulusan. Ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar tanpa rasa takut—sebuah pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.

Kesimpulan: TKA Sebagai Bagian dari Perjalanan Belajar Anak

TKA untuk anak SD merupakan inovasi dalam sistem pendidikan yang memberi dampak positif jika disikapi dengan benar. Ia bukan sekadar tes, tetapi alat refleksi yang membantu siswa mengenali kemampuan akademiknya, membantu guru merencanakan pembelajaran yang lebih sesuai, serta membantu orang tua mendampingi dengan lebih efektif.

Dengan memahami tujuan, manfaat, persiapan yang tepat, serta peran orang tua secara bijak, TKA bisa menjadi peta perjalanan belajar anak yang bermakna, bukan sekadar angka di atas kertas.*** (CM-MRT)

Sumber:

  • https://pusmendik.kemdikbud.go.id/tka/
  • https://tka.kemendikdasmen.go.id/
  • https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13390
  • https://pusatinformasi.ult.kemendikdasmen.go.id/hc/id/articles/51898826959769-Kenali-Tes-Kemampuan-Akademik-TKA
Quranic Leadership: Membentuk Pemimpin Muslim Tangguh dan Berakhlak Mulia

Quranic Leadership: Membentuk Pemimpin Muslim Tangguh dan Berakhlak Mulia

Pada Jumat pagi yang cerah, lingkungan SD Islam Bintang Juara dipenuhi semangat anak-anak yang siap mengikuti Quranic Leadership Journey. Kegiatan ini, diperuntukkan bagi kakak kelas 1–2, merupakan bagian dari upaya sekolah menanamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan disiplin sejak dini.

Anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk menjelajahi berbagai pos yang disiapkan. Setiap pos menghadirkan tantangan seru yang mengajarkan mereka untuk bekerja sama, mengambil keputusan, dan memimpin teman sebaya. Lewat kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa menjadi pemimpin tidak sekadar memerintah, tetapi juga mendampingi, bertanggung jawab, dan menolong sesama.

Quranic Leadership Camp: Perjusa Kelas 3–6

Sementara itu, kakak kelas 3–6 mengikuti Quranic Leadership Camp atau Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu) yang berlangsung di D’Pongs Wisata Keluarga pada 21–22 November 2025.

Hari pertama dimulai dengan mendirikan tenda bersama guru pendamping dan teman sekelompok. Anak-anak kemudian mengikuti apel pembukaan dan memulai kegiatan dengan sholat Jumat bagi kakak shalih. Kakak shalihah melaksanakan shalat dhuhur dan mengikuti kajian Muslimah bersama Bu Ulfa yang menjelaskan ciri-ciri baligh dan tata cara mandi besar setelah haid.

Setelah itu, mereka menikmati makan siang, dilanjutkan dengan permainan besar seperti ular naga dan kucing tikus. Kegiatan memasak untuk makan malam juga menjadi momen penting, di mana mereka belajar tanggung jawab, bekerja sama, dan disiplin. Meski hujan turun deras, acara tetap berlangsung: makan bersama, shalat maghrib dan isya, leadership moment, dan penampilan tiga besar pentas seni menutup hari pertama dengan hangat.

Hari Kedua: Leadership yang Menginspirasi

Kegiatan hari kedua diawali dengan shalat tahajud dan shalat subuh, diikuti pesta api unggun yang semula dijadwalkan malam hari, namun dilakukan pagi karena hujan. Anak-anak kemudian melakukan olahraga pagi dan outbound, dibagi ke beberapa pos mulai dari pos kauny hingga pos kepramukaan.

Aktivitas ini mengajarkan kakak shalih-shalihah untuk berpikir cepat, berkolaborasi, dan menghadapi tantangan secara kreatif. Kegiatan di alam terbuka ini juga menjadi pengalaman menyenangkan yang menanamkan nilai disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab.

Perkemahan ditutup dengan membersihkan tenda, makan siang, dan dijemput orang tua, diakhiri dengan doa dan harapan agar anak-anak terus tumbuh menjadi pemimpin Muslim yang tangguh, disiplin, dan berakhlak mulia.

Manfaat Quranic Leadership

Program unggulan tahunan ini dilaksanakan bukanlah tanpa tujuan, berikut ini manfaat yang bisa diperoleh:

  • Menumbuhkan jiwa kepemimpinan sejak usia dini.
  • Mengasah disiplin dan tanggung jawab melalui aktivitas nyata.
  • Melatih kerja sama dan empati dalam kelompok.
  • Menguatkan nilai spiritual melalui ibadah dan kajian Islam.
  • Memberikan pengalaman belajar outdoor yang menyenangkan dan bermakna.

Quranic Leadership di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi dihidupkan melalui pengalaman nyata. Anak-anak belajar memimpin, bekerja sama, dan bertanggung jawab sambil tetap menguatkan keimanan mereka.

Dengan kegiatan seperti ini, SD Islam Bintang Juara terus menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi muda Muslim yang tangguh, kreatif, dan berakhlak mulia, siap menghadapi tantangan dunia dengan bekal iman dan karakter yang kuat.*** (CM-MRT)

BBOT Kelas 1C: Serunya Belajar Berat Buah Bersama Ayah Kak Nisa

BBOT Kelas 1C: Serunya Belajar Berat Buah Bersama Ayah Kak Nisa

Belajar itu tak selalu harus di kelas dengan buku dan pensil. Rabu, 12 November 2025, Kelas 1C SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa sains bisa hadir lewat hal sederhana—buah-buahan!

Kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) kali ini menghadirkan Ayah Dwi Prasetyo Nugroho, ayah Kak Nisa, yang ikut mendampingi kakak shalih-shalihah untuk memahami konsep berat dengan cara menyenangkan. Dengan timbangan sederhana dari cup dan hanger, anak-anak diajak membandingkan berat buah yang mereka bawa dari rumah.

Rasa Penasaran yang Membara

Sejak awal, tawa dan rasa penasaran langsung muncul. “Buahku lebih berat, lebih ringan, atau sama ya?” seru salah seorang kakak. Anak-anak saling membandingkan apel, pisang, jeruk, hingga pir. Ada yang terkejut saat buah yang tampak kecil ternyata lebih berat dari yang besar.

Tak hanya mengukur berat, kegiatan ini juga menumbuhkan keterampilan observasi, perbandingan, dan penalaran logis. Setiap percobaan menjadi momen belajar yang fun dan penuh kejutan, membuat anak-anak merasa seperti ilmuwan cilik.

Kolaborasi Orang Tua dan Anak

Kehadiran Ayah Kak Nisa menjadi moment inspiratif bagi anak-anak. Ayah tak hanya memandu penggunaan alat, tapi juga memberi tantangan dan pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu: “Bagaimana kalau kita menimbang dua buah sekaligus? Apa yang terjadi?”

Momen ini menegaskan filosofi BBOT: belajar bersama orang tua membuat anak lebih terlibat secara aktif, sekaligus memperkuat bonding keluarga. Anak-anak belajar bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari dan bisa dinikmati dengan cara sederhana.

Manfaat Kegiatan BBOT

Kegiatan BBOT merupakan salah satu bentuk kolaborasi dalam komponen Pembelajaran Mendalam. Selain untuk membangun bonding dengan orang tua, berikut ini manfaat dari kegiatan BBOT:

  • Mengasah rasa ingin tahu dan penalaran anak melalui praktik langsung.
  • Mengenalkan konsep berat dan perbandingan dengan alat sederhana.
  • Menguatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak.
  • Menumbuhkan keceriaan dan semangat belajar melalui eksperimen menyenangkan.
  • Membangun kepercayaan diri anak karena mereka bisa mencoba sendiri dan menemukan jawaban.

Dengan kegiatan seperti ini, SD Islam Bintang Juara menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teori, tapi pengalaman nyata yang membuat anak antusias belajar, penasaran, dan berani mencoba. Buah-buahan sederhana bisa menjadi media yang menyenangkan sekaligus edukatif, menanamkan rasa ingin tahu dan keterampilan awal sains sejak dini.

Kegiatan BBOT ini membuktikan bahwa belajar sains bisa seru, kreatif, dan dekat dengan kehidupan anak, sekaligus mengajak orang tua berperan aktif dalam mendampingi proses belajar.*** (CM-MRT)

BBOT Kelas 1B: Serunya Belajar Kesehatan Gigi Bersama Bunda Anggun

BBOT Kelas 1B: Serunya Belajar Kesehatan Gigi Bersama Bunda Anggun

Belajar tentang kesehatan gigi tak pernah semenyenangkan ini! Jumat, 7 November 2025, Kelas 1B SD Islam Bintang Juara kedatangan Bunda Anggun H.J. Tamara, bunda Kak Adeeva, yang hadir sebagai narasumber BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).

Kegiatan ini membuat anak-anak tidak hanya mendengar teori, tapi langsung mendapatkan ilmu dari ahlinya. Bunda Anggun, dengan latar belakang profesi yang linier dengan materi, membagikan pengetahuan seputar cara merawat gigi, kebiasaan baik sehari-hari, dan praktik sederhana yang bisa anak lakukan sendiri.

Antusiasme Anak-Anak

Sejak awal, tawa dan rasa penasaran menghiasi kelas. Anak-anak diajak menyikat gigi dengan benar, memahami pentingnya sikat dan pasta gigi, serta mengetahui makanan yang sehat untuk gigi.

Menggosok gigi itu tidak boleh asal-asalan, harus dua menit dan ke semua sisi,” jelas Bunda Anggun sambil mempraktikkan teknik yang benar. Anak-anak pun antusias mencoba sendiri sambil saling membantu teman-temannya.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

BBOT bukan sekadar kehadiran tamu; ini adalah wujud nyata kolaborasi sekolah dan orang tua. Dengan orang tua sebagai narasumber, anak-anak merasa lebih dekat, nyaman, dan belajar dengan antusias tinggi. Mereka melihat bahwa belajar bisa menyenangkan, interaktif, dan penuh praktik nyata.

Melalui pengalaman ini, anak-anak belajar tidak hanya sekadar teori, tapi juga menginternalisasi kebiasaan baik untuk diri sendiri. Perawatan gigi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.

Manfaat Kegiatan BBOT

Sebagai salah satu komponen pembelajaran mendalam, BBOT memberikan banyak manfaat bagi peserta didik, di antaranya:

  • Belajar langsung dari ahlinya, membuat konsep lebih mudah dipahami.
  • Meningkatkan antusiasme belajar anak melalui praktik nyata.
  • Menumbuhkan kebiasaan hidup sehat, khususnya kesehatan gigi.
  • Menguatkan bonding antara anak, orang tua, dan guru.
  • Mendorong anak berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan seperti BBOT membuktikan bahwa pembelajaran interaktif dengan kolaborasi orang tua menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Anak-anak tidak hanya mengetahui, tapi juga mempraktikkan, merasakan, dan mengingat ilmu yang didapat.

Belajar kesehatan gigi dengan Bunda Anggun H.J. Tamara membuktikan bahwa ilmu bisa datang dari orang-orang terdekat sekaligus ahli di bidangnya, membuat anak-anak lebih percaya diri, ceria, dan siap mempraktikkan kebiasaan sehat sehari-hari.*** (CM-MRT)