Alhamdulillahirrobil’alamin, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka telah belajar dengan lancar. Sekitar 30an peserta hadir memenuhi Aula SD Islam Bintang Juara pada hari Kamis, 15 Juni 2023. Para peserta kegiatan cukup antusias untuk mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat.
Peserta pada kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka ini merupakan para guru yang berasal dari sekolah-sekolah dasar sekecamatan Gunungpati. Respon para peserta terhadap kegiatan ini cukup baik.
Contents
Suasana Kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Aula SD Islam Bintang Juara
Mengingat bahwa Kurikulum Merdeka akan diterapkan secara serentak mulai tahun pelajaran 2024-2025, banyak guru yang merasa perlu belajar dan mengenal lebih dekat tentang kurikulum baru ini. Sebagai Sekolah Penggerak Angkatan II satu-satunya di Kecamatan Gunungpati yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, SD Islam Bintang Juara berinisiatif untuk berbagi pengalaman kepada sekolah di sekitarnya.
Alhamdulillah gayung bersambut, Bapak Eddy Sutono, S.Pd. selaku Koordinator Satuan Pendidikan (Korsatpen) Kecamatan Gunung Pati mendukung berlangsungnya kegiatan ini. Agar paparan materi lebih menarik dan berdampak, dihadirkan pula Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan I yang juga membantu SD Islam Bintang Juara dalam proses Digitalisasi Kurikulum Merdeka, Bapak Mustafa M. Abdullah, S.T., M.M. atau yang akrab dipanggil dengan Cak Mustafa.
Tidak hanya berupa paparan yang teoritis, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka juga berisi diskusi yang bernas antara peserta dan narasumber. Para peserta dibagi beberapa kelompok untuk saling berdiskusi, belajar dan mempraktikkan bagaimana menerapkan Kurikulum Merdeka.
Ibu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara membagikan pengalaman beliau dalam mendampingi para guru SD Islam Bintang Juara dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran bermakna sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Sebagai informasi, Bu Ni’mah baru-baru ini telah dinyatakan lolos sebagai Narasumber Berbagi Praktik Baik Implementasi Kurikulum Merdeka.
Usai acara ditutup, kelegaan dan kebahagiaan terpancar melalui wajah sumringah para peserta. Beberapa peserta sempat memberikan pesan bermakna terkait kegiatan ini:
Ibu Ike Wulandari dari SD Negeri Sadeng 1 menyampaikan bahwa kegiatannya sangat menyenangkan, narasumbernya memberikan paparan yang cukup jelas. Selain itu dari SD Islam Bintang Juara juga berbagi bagaimana mempraktikkan Kurikulum Merdeka di sekolahnya, sehingga bisa diamati, tiru dan modifikasi.
Ibu Hani Al Amini dari SDIT Mutiara Hati mengaku setelah mengikuti kegiatan ini jadi lebih tahu dan paham apa yang dimaksud dengan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), serta bagaimana cara mengajar yang baik.
Senang sekali ya, Ayah Bunda, apabila kegiatan yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara bisa memberikan manfaat kepada para guru dan sekolah di sekitar. Semoga dengan adanya kegiatan ini, semakin banyak guru yang bisa menyambut kedatangan Kurikulum Merdeka dengan bahagia, sehingga semakin banyak siswa yang bisa mendapat pengajaran dan pembelajaran bermakna.
Ayah Bunda silakan bisa menikmati dokumentasi kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka melalui video berikut:
Mengenal Kurikulum Merdeka dan Istilah-istilahnya
Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk bersama menciptakan pembelajaran berkualitas, yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar murid. Dalam proses menerapkan kurikulum ini, para tenaga pendidik perlu tahu istilah-istilah baru yang ada pada Kurikulum Merdeka, yaitu:
1. Capaian Pembelajaran
Apabila di Kurikulum 13, Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru mengenal istilah KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar), istilah yang digunakan pada Kurikulum Merdeka yaitu CP (Capaian Pembelajaran). Capaian Pembelajaran adalah kumpulan kompetensi yang diberikan sesuai fase pertumbuhan siswa. Di sinilah letak perbedaan besar antara Kurikulum 13 dan Kurikulum Merdeka.
KD dinyatakan dalam bentuk poin-poin dan diurutkan untuk mencapai KI yang diorganisasikan selama per tahun sesuai kelasnya masing-masing. Sementara itu, CP pada Kurikulum Merdeka dinyatakan dalam paragraf yang merangkaikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mencapai, menguatkan dan meningkatkan kompetensi.
Tahapan fase ditentukan oleh pusat, berikut ini pembagiannya:
- Fase pondasi/ pra sekolah: PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
- Fase A: Kelas 1-2 SD
- Fase B: Kelas 3-4 SD
- Fase C: Kelas 5-6 SD
- Fase D: Kelas 7 – 9 (SMP)
- Fase E: Kelas 10 SMA
- Fase F: Kelas 11 – 12 SMA
Karena kompetensinya tidak dibatasi oleh kelas, tetapi oleh fase, eksplorasi kompetensi pada Kurikulum Merdeka menjadi lebih lama dan luas. Capaian pembelajaran sudah dibuat oleh pusat, guru hanya perlu menerjemahkan dalam alur pembelajaran.
2. Alur Tujuan Pembelajaran
Apabila dalam K13 ada istilah silabus, Kurikulum Merdeka mengenal istilah ATP (Alur Tujuan Pembelajaran). ATP yaitu dokumen yang berisi rangkaian kompetensi/ tahapan pembelajaran yang disusun secara sistematis mulai tahap awal sampai akhir. Fungsinya sebagai pedoman bagi guru agar lebih mudah dalam melaksanakan permbelajaran.
3. Modul Ajar
Pernah mendengar istilah RPP dalam penerapan K13? Nah, pada Kurikulum Merdeka, istilah RPP digantikan dengan Modul Ajar.
Modul Ajar di sini bukan semacam buku pendamping, tapi berisi rencana pembelajaran. Sederhananya, Modul Ajar berisi sekumpulan rencana yang terdiri dari beberapa komponen; informasi umum (identitas penulis), komponen awal, P5, target, model pembelajaran yang digunakan, dsb, komponen inti (pertanyaan pemantik, materi inti, refleksi, dll), dan bagian akhir berupa lampiran serta bahan bacaan.
4. Profil Pelajar Pancasila
Dalam K13 ditemukan istilah PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), sementara dalam Kurikulum Merdeka ditemukan istilah P3 (Profil Pelajar Pancasila). Kedua istilah ini memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu terkait dengan pendidikan karakter.
Namun P3 menggunakan istilah Pancasila agar semakin menggambarkan karakter siswa sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Selain itu agar nama Pancasila bisa semakin membumi di kalangan generasi muda Indonesia.
Untuk menuju P3, dimunculkan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang kegiatan-kegiatannya melebur dalam setiap pembelajaran di semua mata pelajaran. Adapun target karakter yang ingin dicapai melalui P5 adalah beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong,
5. KOSP
Dalam dokumen K13, dikenal istilah KTSP, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka memiliki KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan). Adapun lima prinsip Kurikulum Merdeka yaitu:
- Berpusat pada peserta didik dan P3 harus menjadi rujukan semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah.
- Kontekstual (menunjukkan kekhasan dan karakter satuan pendidikan).
- Esensial (Dokumen hanya berisi hal-hal utama dan penting).
- Akuntabel (Dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual).
- Melibatkan berbagai pemaagku kepentingan (komite satuan pendidikan, orang tua, berbagai sentra, dsb).
6. Teaching at Right Level
Maksudnya yaitu guru harus mampu mengajar sesuai dengan tingkatan/ kemampuan siswa. Kalau di K13, awal pijakan mengajar adalah dari KD. Misalnya, kelas KD kelas 3 adalah pembagian, maka guru akan mulai mengajar dari level pembagian.
Sementara di kurikulum merdeka, guru mengajar harus melihat kemampuan awal siswa. Apabila siswanya belum bisa berhitung, sementara CP-nya adalah bisa pembagian, ya guru tetap harus mulai mengajar dari berhitung, bukan langsung diajari pembagian.
Demikianlah secuil info terkait istilah-istilah dalam Kurikulum Merdeka. Semoga kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, juga informasi mengenai istilah dalam KuMer ini mampu membuat Ayah Bunda dan para guru bisa mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat. Semoga bermanfaat.***
Sumber:
- https://kurikulum.kemdikbud.go.id/perbandingan-kurikulum#tb-perbandingan-left
- https://www.youtube.com/watch?v=GzZ_Mb56jWs

