Belajar tidak selalu harus di ruang kelas. Pada Jumat, 17 Oktober 2025, kakak-kakak kelas 3A dan 3B SD Islam Bintang Juara berkesempatan mengikuti Outing Class Project Based Learning (PjBL) dengan tema Pelestarian Makhluk Hidup Melalui Upaya Budidaya Tanaman dan Hewan di Ecofarm Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Udara segar, hamparan hijau, dan suara alam yang menenangkan menyambut kedatangan rombongan pagi itu. Kegiatan dimulai dengan pengenalan singkat tentang Ecofarm, tempat belajar berbasis ekologi yang menjadi laboratorium hidup bagi para pengunjung untuk belajar tentang keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.
Contents
- 1 Berkenalan dengan Ekosistem di Ecofarm
- 2 Masuk ke Rumah Maggot: Belajar dari Lalat yang Bermanfaat
- 3 Belajar Budidaya Ikan dan Sayuran Sekaligus
- 4 Praktik Hidroponik: Menanam Bayam dan Panen Pokchoy
- 5 Menanam Bibit Tomat dan Tanya Jawab Seru
- 6 Buah Tangan dan Ilmu yang Tak Tergantikan
- 7 Manfaat Outing Class di Ecofarm untuk Kakak Kelas 3
- 8 Penutup: Dari Ecofarm, Tumbuh Cinta Alam dan Ilmu
Berkenalan dengan Ekosistem di Ecofarm
Setelah perkenalan, kakak-kakak diajak berkeliling mengenal ekosistem di Ecofarm. Fasilitator menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup—baik tanaman, hewan, maupun mikroorganisme—memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Kakak belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga tentang memahami hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.
Masuk ke Rumah Maggot: Belajar dari Lalat yang Bermanfaat
Bagian paling menarik dimulai saat kakak-kakak masuk ke Rumah Maggot. Di sini, mereka diperkenalkan dengan larva lalat BSF (Black Soldier Fly). Meski terdengar menyeramkan, ternyata maggot justru memiliki banyak manfaat — salah satunya sebagai pengurai alami sampah organik dan sumber pakan ikan.
Kakak melihat langsung proses budidaya maggot, mulai dari telur BSF hingga menjadi pupa. “Wow! Jadi ini asalnya maggot?” tanya salah satu kakak dengan takjub. Fasilitator pun menjelaskan dengan sabar bagaimana maggot membantu menjaga lingkungan dari tumpukan sampah organik.
Belajar Budidaya Ikan dan Sayuran Sekaligus
Petualangan berlanjut ke area kolam ikan. Di sana, kakak-kakak dikenalkan dengan budidaya lele dan ikan nila yang ditumpangkan dengan tanaman kangkung di atasnya. Sistem ini disebut akuaponik, yaitu sistem yang memanfaatkan kotoran ikan sebagai pupuk alami bagi tanaman.
Melihat ikan berenang di bawah sambil kangkung tumbuh segar di atasnya membuat anak-anak memahami bahwa alam punya cara cerdas untuk saling membantu. Semua makhluk hidup saling mendukung agar bisa bertahan — konsep yang sangat relevan dengan tema pelestarian makhluk hidup.
Praktik Hidroponik: Menanam Bayam dan Panen Pokchoy
Selanjutnya, kakak diajak menanam bibit bayam dengan metode hidroponik. Dengan antusias, mereka belajar bagaimana air dan nutrisi menjadi media tumbuh pengganti tanah. Setelah itu, kakak juga memanen pokchoy dari kebun hidroponik, hasil dari perawatan para pengelola Ecofarm.
Salah satu fasilitator menjelaskan, “Kalau tanaman butuh nutrisi, tujuannya agar sehat dan tumbuh maksimal. Di hidroponik, kadar nutrisinya bisa diukur dengan tepat.” Dijelaskan pula bahwa tantangan utama hidroponik adalah menjaga pH air agar stabil — karena saat cuaca panas, pH bisa meningkat dan memengaruhi penyerapan nutrisi.
Menanam Bibit Tomat dan Tanya Jawab Seru
Setelah belajar hidroponik, kakak menanam bibit tomat di polybag menggunakan media tanam campuran tanah dan kompos. Dari penjelasan fasilitator, mereka tahu bahwa tomat bisa dipanen setelah dua bulan!
Kakak shalih-shalihah pun semangat bertanya. Salah satunya, Kak Saka, bertanya, “Kenapa tanaman butuh nutrisi?” Fasilitator menjawab, “Supaya tanaman tumbuh sehat dan kuat, seperti manusia yang butuh makan.”
Tak hanya itu, kakak juga belajar bahwa gulma bisa menghambat pertumbuhan tanaman lain karena menyerap nutrisi yang seharusnya dibutuhkan tanaman utama.
Buah Tangan dan Ilmu yang Tak Tergantikan
Sebagai penutup, kakak-kakak membawa pulang bibit tomat dan pokchoy hasil panen sendiri. Kebahagiaan tampak jelas di wajah mereka — bukan hanya karena bisa membawa hasil tangan mereka sendiri, tetapi juga karena mendapatkan pengalaman belajar yang tak terlupakan.
Manfaat Outing Class di Ecofarm untuk Kakak Kelas 3
Kegiatan ini memberikan banyak manfaat yang mendukung penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learning) di SD Islam Bintang Juara, antara lain:
1. Belajar dari Pengalaman Nyata
Kakak belajar langsung dari alam, bukan hanya lewat buku. Ini membantu membangun pemahaman konseptual dan pengalaman autentik tentang pelestarian makhluk hidup.
2. Mengembangkan Penalaran Kritis dan Rasa Ingin Tahu
Lewat tanya jawab dengan fasilitator, kakak belajar berpikir kritis dan memahami sebab-akibat dalam proses budidaya tanaman dan hewan.
3. Menumbuhkan Kolaborasi dan Kemandirian
Kegiatan dilakukan secara kelompok, mendorong anak untuk saling membantu, berdiskusi, dan bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing.
4. Membangun Fondasi untuk Proyek PjBL
Pengalaman ini menjadi dasar penting untuk melanjutkan proyek pelestarian makhluk hidup di kelas, baik berupa observasi, menanam tanaman, atau membuat laporan hasil pengamatan.
Penutup: Dari Ecofarm, Tumbuh Cinta Alam dan Ilmu
Outing Class ke Ecofarm UNNES bukan sekadar kegiatan rekreasi. Ia menjadi pembelajaran bermakna yang menanamkan nilai berkesadaran, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan bekal pengalaman ini, kakak-kakak kelas 3 siap melanjutkan PjBL mereka dengan semangat baru — menjaga bumi, mulai dari hal-hal kecil yang mereka pahami dan lakukan sendiri.*** (CM-MRT)