fbpx

Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”

Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.

Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka

Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”

Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:

  • Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
  • Residu: sisa dari bahan yang digunakan.

Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring

Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.

Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.

Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.

Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.

Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.

Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.

Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan

Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.

Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.

Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.

Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.

Anak-anak belajar:

  • Menghitung perbandingan secara nyata
  • Memahami konsep dilusi
  • Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
  • Bertanggung jawab terhadap lingkungan

Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.

Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.

Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***