HUT Republik Indonesia ke-78 pada tahun 2023 ini bertemakan “Terus Melaju Untuk Indonesia Maju”. Dalam rangka menumbuhkan jiwa nasionalisme Calon Pemimpin Muslim, ada yang menarik dari upacara peringatan hari kemerdekaan di SD Islam Bintang Juara. Seluruh siswa, guru dan tenaga kependidikan SD Islam Bintang Juara mengenakan pakaian adat yang berbeda-beda.
Hal unik lainnya, di akhir upacara bendera dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-78, ibu Nur Shofwatin Ni’mah memberikan tantangan kepada kakak shalih-shalihah untuk menceritakan filosofi di balik pakaian adat yang dikenakannya. Nah, apakah Ayah Bunda sudah membekali informasi penting ini sebelum memilihkan pakaian adat untuk dikenakan kakak shalih-shalihah?
Nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu maupun masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas dan pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Nasionalisme sangat diperlukan demi kelangsungan suatu negara, dengan harapan memunculkan rasa persatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Ada banyak cara untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, salah satunya melalui cara yang dilakukan oleh SD Islam Bintang Juara. Dengan meminta kakak shalih-shalihah mengenakan pakaian adat nusantara saat upacara kemerdekaan, diharapkan dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri kakak shalih-shalihah, serta untuk mengenalkan beragam budaya nusantara.
Manfaat Pakaian Adat dalam Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Calon Pemimpin Muslim
Pakaian adat Indonesia memiliki banyak manfaat dan peran penting dalam budaya dan masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari pakaian adat Indonesia:
1. Penciptaan Identitas dan Kepribadian
Pakaian adat Indonesia membantu menciptakan dan mengekspresikan identitas dan kepribadian bangsa. Setiap etnis dan daerah di Indonesia memiliki pakaian adatnya sendiri yang mencerminkan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang unik.
2. Pelestarian Budaya dan Warisan
Pakaian adat merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Memakai pakaian adat adalah cara untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
3. Representasi Budaya dalam Acara Resmi
Pakaian adat sering digunakan dalam acara-acara resmi, seperti upacara keagamaan, pernikahan, festival budaya, dan perayaan nasional. Ini membantu memperkuat identitas budaya Indonesia dalam konteks resmi.
4. Menghormati Tradisi dan Adat Istiadat
Memakai pakaian adat adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi dan adat istiadat suatu daerah atau etnis tertentu. Ini menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
5. Menyatukan Masyarakat
Pakaian adat dapat menjadi faktor penyatuan dalam masyarakat. Ketika kakak shalih-shalihah mengenakan pakaian adat dalam acara-acara tertentu, hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan yang kuat terhadap budaya mereka.
6. Pendidikan dan Pengetahuan
Pakaian adat juga merupakan sumber pengetahuan tentang sejarah, seni, dan budaya Indonesia. Melibatkan kakak shalih-shalihah sebagai generasi muda dalam memahami pakaian adat dapat membantu mempertahankan tradisi ini.
7. Melibatkan Kreativitas, Seni dan Penghormatan Terhadap Lingkungan
Pembuatan pakaian adat melibatkan keterampilan seni dan kerajinan tangan yang tinggi. Tak hanya itu beberapa pakaian adat Indonesia juga terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.
Hal ini tentu saja menunjukkan penghormatan terhadap lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan dalam budaya. Dalam upacara peringatan kemerdekaan RI ke-78 di SD Islam Bintang Juara, pakaian adat yang dikenakan Kak Shaqueel dari kelas 2 terpilih sebagai pakaian adat paling unik dan kreatif. Ayah Bunda Kak Shaqueel mempersiapkan sendiri lo pakaian adat tersebut, masya Allah.
Silakan Ayah Bunda bisa menyimak dulu video dokumentasi kegiatan upacara dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-78:
Ayah Bunda, hal terbaik agar jiwa nasionalisme tumbuh subur dalam diri kakak shalih-shalihah melalui perantara pakaian adat yaitu dengan membiarkan mereka berpartisipasi aktif dalam proses mengenakan pakaian adat. Caranya, libatkan kakak shalih-shalihah dalam memilih pakaian, mengenakannya, dan memahami makna di balik setiap bagian pakaian tersebut.
Selama proses mengenakan pakaian adat, adakan diskusi tentang arti nasionalisme dan mengapa penting untuk mencintai dan menghargai budaya dan sejarah bangsa sendiri. Bicarakan juga tentang bagaimana pakaian adat adalah bagian dari warisan budaya kita.
Melibatkan kakak shalih-shalihah untuk berpartisipasi dalam upacara yang melibatkan penggunaan pakaian adat adalah kesempatan bagus bagi mereka untuk merasakan jiwa kebersamaan dan kebanggaan terhadap budaya mereka.
Selain menekankan pentingnya cinta terhadap budaya sendiri, ajarkan juga pentingnya toleransi dan menghargai keragaman budaya. Salah satunya dengan mengenalkan bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya, dari jenis pakaian adat, kuliner khas, rumah adat dan juga kesenian yang beragam.
Itulah mengapa di akhir upacara Bu Ni’mah memberikan tantangan kepada kakak shalih-shalihah yang berani menceritakan filosofi di balik pakaian adat yang dikenakan. Ada banyak kakak shalih-shalihah yang mencoba menjawab, tetapi belum ada yang benar-benar tepat menjabarkan filosofinya.
Sepertinya kakak shalih-shalihah masih kebingungan. Nah, ini tentu saja menjadi PR bagi pihak sekolah dan orang tua. Bagaimanapun guru dan orang tua adalah role model paling kuat yang bisa dilihat kakak shalih-shalihah.
Penting bagi guru dan orang tua untuk menunjukkan kepada kakak shalih-shalihah bagaimana kita menghargai budaya dan sejarah lokal, serta bagaimana kita merayakan hari-hari nasional dengan bangga. Semoga dengan demikian, jiwa nasionalisme kakak shalih-shalihah akan tumbuh dengan subur.
Alhamdulillah kak Syamil kelas 6 akhirnya mampu menceritakan makna pakaian adat yang dikenakannya. Harapannya di lain waktu, kakak shalih-shalihah lainnya juga bisa menceritakan arti dari busana adat yang dipakainya.
Selain membicarakan filosofi pakaian adat, Bu Ni’mah dalam amanah upacara juga menceritakan tentang filosofi Bambu Runcing. Nah, Ayah Bunda juga bisa lo menceritakan filosofi terkait sejarah bangsa kepada kakak shalih-shalihah sebagai bahan diskusi yang asyik dan seru di rumah.
Upacara peringatan kemerdekaan RI yang melibatkan pakaian adat tentulah menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Hal ini akan membuat kakak shalih-shalihah lebih terbuka untuk memahami dan menerima nilai-nilai nasionalisme.
Dengan menggabungkan pendidikan, pengalaman, dan contoh-contoh nyata, Ayah Bunda dapat membantu kakak shalih-shalihah mengembangkan jiwa nasionalisme yang kuat dan sekaligus menghargai kekayaan budaya mereka.
Ingatlah bahwa penting untuk menciptakan lingkungan yang terbuka, inklusif, dan penuh kasih, di mana kakak shalih-shalihah dapat merasa aman untuk bertanya dan belajar lebih banyak tentang budaya dan identitas nasional mereka. Jadi, apakah Ayah Bunda sudah siap menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam diri kakak shalih-shalihah dengan mengajak mereka berdiskusi tentang filosofi di balik pakaian adat daerah asalnya? Bagikan cerita Ayah Bunda di kolom komentar, yuk!***
Alhamdulillahirrobil’alamin, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka telah belajar dengan lancar. Sekitar 30an peserta hadir memenuhi Aula SD Islam Bintang Juara pada hari Kamis, 15 Juni 2023. Para peserta kegiatan cukup antusias untuk mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat.
Suasana Kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Aula SD Islam Bintang Juara
Mengingat bahwa Kurikulum Merdeka akan diterapkan secara serentak mulai tahun pelajaran 2024-2025, banyak guru yang merasa perlu belajar dan mengenal lebih dekat tentang kurikulum baru ini. Sebagai Sekolah Penggerak Angkatan II satu-satunya di Kecamatan Gunungpati yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, SD Islam Bintang Juara berinisiatif untuk berbagi pengalaman kepada sekolah di sekitarnya.
Alhamdulillah gayung bersambut, Bapak Eddy Sutono, S.Pd. selaku Koordinator Satuan Pendidikan (Korsatpen) Kecamatan Gunung Pati mendukung berlangsungnya kegiatan ini. Agar paparan materi lebih menarik dan berdampak, dihadirkan pula Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan I yang juga membantu SD Islam Bintang Juara dalam proses Digitalisasi Kurikulum Merdeka, Bapak Mustafa M. Abdullah, S.T., M.M. atau yang akrab dipanggil dengan Cak Mustafa.
Tidak hanya berupa paparan yang teoritis, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka juga berisi diskusi yang bernas antara peserta dan narasumber. Para peserta dibagi beberapa kelompok untuk saling berdiskusi, belajar dan mempraktikkan bagaimana menerapkan Kurikulum Merdeka.Ibu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara membagikan pengalaman beliau dalam mendampingi para guru SD Islam Bintang Juara dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran bermakna sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Sebagai informasi, Bu Ni’mah baru-baru ini telah dinyatakan lolos sebagai Narasumber Berbagi Praktik Baik Implementasi Kurikulum Merdeka.
Usai acara ditutup, kelegaan dan kebahagiaan terpancar melalui wajah sumringah para peserta. Beberapa peserta sempat memberikan pesan bermakna terkait kegiatan ini:
Ibu Ike Wulandari dari SD Negeri Sadeng 1 menyampaikan bahwa kegiatannya sangat menyenangkan, narasumbernya memberikan paparan yang cukup jelas. Selain itu dari SD Islam Bintang Juara juga berbagi bagaimana mempraktikkan Kurikulum Merdeka di sekolahnya, sehingga bisa diamati, tiru dan modifikasi.
Ibu Hani Al Amini dari SDIT Mutiara Hati mengaku setelah mengikuti kegiatan ini jadi lebih tahu dan paham apa yang dimaksud dengan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), serta bagaimana cara mengajar yang baik.
Senang sekali ya, Ayah Bunda, apabila kegiatan yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara bisa memberikan manfaat kepada para guru dan sekolah di sekitar. Semoga dengan adanya kegiatan ini, semakin banyak guru yang bisa menyambut kedatangan Kurikulum Merdeka dengan bahagia, sehingga semakin banyak siswa yang bisa mendapat pengajaran dan pembelajaran bermakna.
Ayah Bunda silakan bisa menikmati dokumentasi kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka melalui video berikut:
Mengenal Kurikulum Merdeka dan Istilah-istilahnya
Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk bersama menciptakan pembelajaran berkualitas, yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar murid. Dalam proses menerapkan kurikulum ini, para tenaga pendidik perlu tahu istilah-istilah baru yang ada pada Kurikulum Merdeka, yaitu:
1. Capaian Pembelajaran
Apabila di Kurikulum 13, Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru mengenal istilah KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar), istilah yang digunakan pada Kurikulum Merdeka yaitu CP (Capaian Pembelajaran). Capaian Pembelajaran adalah kumpulan kompetensi yang diberikan sesuai fase pertumbuhan siswa. Di sinilah letak perbedaan besar antara Kurikulum 13 dan Kurikulum Merdeka.
KD dinyatakan dalam bentuk poin-poin dan diurutkan untuk mencapai KI yang diorganisasikan selama per tahun sesuai kelasnya masing-masing. Sementara itu, CP pada Kurikulum Merdeka dinyatakan dalam paragraf yang merangkaikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mencapai, menguatkan dan meningkatkan kompetensi.
Tahapan fase ditentukan oleh pusat, berikut ini pembagiannya:
Fase pondasi/ pra sekolah: PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
Fase A: Kelas 1-2 SD
Fase B: Kelas 3-4 SD
Fase C: Kelas 5-6 SD
Fase D: Kelas 7 – 9 (SMP)
Fase E: Kelas 10 SMA
Fase F: Kelas 11 – 12 SMA
Karena kompetensinya tidak dibatasi oleh kelas, tetapi oleh fase, eksplorasi kompetensi pada Kurikulum Merdeka menjadi lebih lama dan luas. Capaian pembelajaran sudah dibuat oleh pusat, guru hanya perlu menerjemahkan dalam alur pembelajaran.
2. Alur Tujuan Pembelajaran
Apabila dalam K13 ada istilah silabus, Kurikulum Merdeka mengenal istilah ATP (Alur Tujuan Pembelajaran). ATP yaitu dokumen yang berisi rangkaian kompetensi/ tahapan pembelajaran yang disusun secara sistematis mulai tahap awal sampai akhir. Fungsinya sebagai pedoman bagi guru agar lebih mudah dalam melaksanakan permbelajaran.
3. Modul Ajar
Pernah mendengar istilah RPP dalam penerapan K13? Nah, pada Kurikulum Merdeka, istilah RPP digantikan dengan Modul Ajar.
Modul Ajar di sini bukan semacam buku pendamping, tapi berisi rencana pembelajaran. Sederhananya, Modul Ajar berisi sekumpulan rencana yang terdiri dari beberapa komponen; informasi umum (identitas penulis), komponen awal, P5, target, model pembelajaran yang digunakan, dsb, komponen inti (pertanyaan pemantik, materi inti, refleksi, dll), dan bagian akhir berupa lampiran serta bahan bacaan.
4. Profil Pelajar Pancasila
Dalam K13 ditemukan istilah PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), sementara dalam Kurikulum Merdeka ditemukan istilah P3 (Profil Pelajar Pancasila). Kedua istilah ini memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu terkait dengan pendidikan karakter.
Namun P3 menggunakan istilah Pancasila agar semakin menggambarkan karakter siswa sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Selain itu agar nama Pancasila bisa semakin membumi di kalangan generasi muda Indonesia.
Untuk menuju P3, dimunculkan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang kegiatan-kegiatannya melebur dalam setiap pembelajaran di semua mata pelajaran. Adapun target karakter yang ingin dicapai melalui P5 adalah beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong,
5. KOSP
Dalam dokumen K13, dikenal istilah KTSP, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka memiliki KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan). Adapun lima prinsip Kurikulum Merdeka yaitu:
Berpusat pada peserta didik dan P3 harus menjadi rujukan semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah.
Kontekstual (menunjukkan kekhasan dan karakter satuan pendidikan).
Esensial (Dokumen hanya berisi hal-hal utama dan penting).
Akuntabel (Dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual).
Melibatkan berbagai pemaagku kepentingan (komite satuan pendidikan, orang tua, berbagai sentra, dsb).
6. Teaching at Right Level
Maksudnya yaitu guru harus mampu mengajar sesuai dengan tingkatan/ kemampuan siswa. Kalau di K13, awal pijakan mengajar adalah dari KD. Misalnya, kelas KD kelas 3 adalah pembagian, maka guru akan mulai mengajar dari level pembagian.
Sementara di kurikulum merdeka, guru mengajar harus melihat kemampuan awal siswa. Apabila siswanya belum bisa berhitung, sementara CP-nya adalah bisa pembagian, ya guru tetap harus mulai mengajar dari berhitung, bukan langsung diajari pembagian.
Demikianlah secuil info terkait istilah-istilah dalam Kurikulum Merdeka. Semoga kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, juga informasi mengenai istilah dalam KuMer ini mampu membuat Ayah Bunda dan para guru bisa mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat. Semoga bermanfaat.***
Ayah Bunda, sebagai Calon Pemimpin Muslim yang tinggal di Jawa Tengah, kakak shalih-shalihah perlu dikenalkan dengan budaya Jawa. Oleh karenanya pada hari Senin, 29 Mei 2023, diselenggarakan kegiatan “Belajar Bersama Ahli” yang mengangkat tema “Mengenal Filosofi Wayang.”
Ahli yang didatangkan pada hari itu untuk menemani kakak shalih-shalihah kelas 2 – 5 belajar mengenai budaya Jawa adalah Bapak Agus Basuki, S.Pd. Beliau adalah sosok yang menyebut dirinya sebagai Pelaku Budaya. Bapak Agus memiliki pengetahuan yang luas tentang budaya Jawa.
Apa saja ya yang dipelajari kakak shalih-shalihah bersama Bapak Agus Basuki? Simak catatan Bintang Juara hingga akhir ya, Ayah Bunda.
Mengapa Calon Pemimpin Muslim Perlu Mengenal Budaya Jawa?
Sebelum kami mengajak Ayah Bunda untuk mengetahui hal-hal yang dipelajari kakak shalih-shalihah selama kegiatan “Belajar Bersama Ahli,” yuk terlebih dahulu mengenali mengapa Calon Pemimpin Muslim perlu mempelajari kebudayaan tempat mereka tinggal. Setidaknya ada tiga alasan yang menguatkan mengapa Calon Pemimpin Muslim sebaiknya belajar kebudayaan di tempat mereka tinggal:
1. Memahami Budaya Setempat Agar Berdakwah Lebih Mudah
Dalam Al Quran Surat Ibrahim ayat 4, Allah SWT berfirman;
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
Dari ayat tersebut, Ayah Bunda bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah SWT menurunkan para rasul yang berasal dari kaum tersebut. Tentu saja agar saat berdakwah, rasul tersebut bisa menyampaikan firman-firman Allah SWT dengan bahasa yang dipahami oleh kaumnya.
Sebagai Calon Pemimpin Muslim, kelak kakak shalih-shalihah akan terjun ke masyarakat dan memilih ladang dakwahnya masing-masing. Dalam menjalani perannya, tentu kakak shalih-shalihah akan lebih mudah masuk ke dalam masyarakat Jawa apabila mereka memahami budaya Jawa.
Sebagaimana para Walisanga yang berdakwah melalui budaya, seperti wayang, tembang dan gamelan. Maka diharapkan dengan kakak shalih-shalihah memahami budaya tempat mereka dilahirkan atau tempat mereka kini menetap, bisa membantu mereka kelak dalam menyelami masyarakat hingga bisa berdakwah secara tepat.
2. Memahami Budaya, Cara Calon Pemimpin Muslim untuk Saling Mengenal
Termaktub dalam Al Quran Surat Al-Hujurat: 13;
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kalian terdiri dari berbagai bangsa dan suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nan Mahateliti.”
Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal satu sama lain. Nah, cara terbaik dalam saling mengenal adalah mempelajari bahasa dan budaya bangsa orang-orang yang ada di sekitar kita dengan baik.
Jadi semisal kakak shalih-shalihah tidak lahir di Jawa, dan tinggal di kota Semarang karena mengikuti orang tua, Ayah Bunda bisa memberikan semangat kepada kakak shalih-shalihah dalam mempelajari budaya Jawa dalam rangka agar lebih mengenal teman-temannya.
Diharapkan dengan mengenal budaya tempat ia tinggal, kakak shalih-shalihah jadi tahu bahwa di dunia, Indonesia khususnya, memiliki keragaman budaya. Sebagai Calon Pemimpin Muslim tentunya kakak shalih-shalihah diharapkan bisa menerima perbedaan budaya yang ada, sehingga tumbuh sikap toleransi dan tepa selira di antara mereka.
3. Belajar Budaya untuk Memahami Masyarakat
Dari Zaid bin Tsabit berkata: bahwa Rasulullah saw memerintahkanku untuk mempelajari bahasa orang-orang Yahudi, beliau bersabda: Demi Allah aku tidak percaya kepada orang-orang Yahudi atas suratku, Zaid berkata; setelah setengah bulan aku belajar bahasa tersebut aku dapat menguasainya, apabila beliau hendak mengirim surat kepada orang-orang Yahudi aku menulisnya untuk mereka, dan apabila mereka mengirim surat kepada beliau maka aku membacakan surat mereka untuk beliau. (HR. Imam Tirmidzi)
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi pada kitab sunan Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW meminta salah seorang sahabatnya, Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi. Hal itu dikarenakan agar Zaid bin Tsabit bisa memahami surat-surat yang dikirim oleh orang-orang Yahudi.
Belajar dari hadits tersebut, insya Allah semakin menguatkan kenapa mempelajari budaya di mana kakak shalih-shalihah tinggal penting dilakukan. Tentu saja agar kakak shalih-shalihah bisa memahami karakter masyarakat tersebut.
Saat kakak shalih-shalihah telah memahami karakter masyarakatnya, insya Allah kakak shalih-shalihah bisa lebih mudah masuk ke tengah-tengah masyarakat tersebut. Dampaknya, saat kakak shalih-shalihah ingin berdakwah ataupun ingin menyampaikan pendapat, akan lebih didengar dan dihargai.
Mengenal Filosofi Wayang bersama Bapak Agus Basuki, S.Pd.
Semoga setelah Ayah Bunda memahami mengapa Calon Pemimpin Muslim perlu belajar Budaya Jawa, Ayah Bunda bisa lebih semangat dalam mendampingi kakak shalih-shalihah belajar kebudaayan Jawa, khususnya Jawa Tengah, sebagai provinsi di mana SD Islam Bintang Juara berlokasi.
Dalam kegiatan “Belajar Bersama Ahli”, Bapak Agus Basuki, S.Pd. membagikan materinya dalam beberapa bagian:
1. Budaya Jawa
Pada bagian awal, Bapak Agus Basuki menjelaskan apa yang disebut dengan budaya Jawa. Dalam hal ini, beliau memperkenalkan kepada kakak shalih-shalihah tentang budaya subasita Jawa yang berkaitan dengan tri laku utama, meliputi tata basa, tata laksita dan tata busana.
2. Tata Busana
Salah satu keunggulan budaya Jawa adalah filosofi di setiap unsurnya, termasuk dalam pakaian adat Jawa. Oleh karenanya, pada hari “Belajar Bersama Ahli” berlangsung, Bapak Agus Basuki sengaja mengenakan busana adat Jawa agar bisa menjelaskan secara langsung mengenai simbol dan makna/ filosofi di dalam pakaian tersebut.
Sebagaimana yang disampaikan oleh dr. Amir Zuhdi dalam webinar ‘Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak’, bahwasanya otak anak SD agar berkembang kecerdasannya perlu pembelajaran yang nyata. Yaitu dengan cara diperlihatkan dan ditunjukkan secara langsung.
Dengan melihat langsung busana adat Jawa secara lengkap, dan mendapat pemaparan mengenai makna simbol-simbolnya, insya Allah kakak shalih-shalihah akan lebih mudah menerima dan merekam informasi tersebut dalam memorinya.
3. Wayang
Selain belajar tentang filosofi busana adat Jawa, kakak shalih-shalihah juga belajar mengenal filosofi wayang. Bapak Agus Basuki, S.Pd. pertama-tama menjelaskan tentang apa itu wayang, kemudian dilanjutkan memberikan informasi peran wayang sebagai media dakwah agama Islam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.
Bapak Agus Basuki juga menjelaskan mengenai hubungan wayang dengan ajaran-ajaran Islam. Misalnya, Pandawa yang berjumlah lima merupakan simbol dari keberadaan rukun Islam, Panakawan sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, dsb.
Narasumber yang menjelaskan dirinya sebagai Pelaku Budaya ini juga menginformasikan bahwa wayang adalah tontonan dan tuntunan. Dilambangkan dengan keberadaan Kurawa dan Pandawa, sebagai simbol hancurnya keburukan oleh kebaikan, sama seperti dalam perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Selain mendengarkan paparan dari Bapak Agus Basuki, kakak shalih-shalihah juga mendapat kesempatan untuk memainkan wayang. Bagian ini adalah hal yang paling dinanti. Kakak shalih-shalihah mendapat pengalaman baru yang insya Allah akan terekam hingga dewasa.
Selanjutnya Bapak Agus Basuki memainkan cerita wayang berjudul Dewa Ruci. Cerita Dewa Ruci menggambarkan perjuangan siswa dalam menggapai cita-cita. Bentuk bakti Bima kepada Resi Drona, gurunya, yaitu dengan menumbuhkan sikap pantang menyerah.
Cerita ini dipilih oleh Bapak Agus Basuki dalam rangka untuk memberikan wewarah atau tuntunan mengenai pentingnya berbakti kepada orang tua dan guru.
Ayah Bunda, berikut ini video dokumentasi saat kakak shalih-shalihah belajar mengenai Filosofi Wayang bersama Bapak Agus Basuki:
Demikianlah Ayah Bunda catatan Bintang Juara tentang kegiatan “Belajar Bersama Ahli” yang mengangkat tema Mengenal Filosofi Wayang. Doakan agar SD Islam Bintang Juara selalu bisa menghadirkan ahli-ahli terbaik untuk memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi kakak shalih-shalihah. Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.***
Ayah Bunda, alhamdulillahirrobil’alamin, webinar pendidikan bersama dr. Amir Zuhdi bertajuk Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak, pada Ahad, 28 Mei 2023 telah berlangsung dengan lancar. Ada banyak sekali insight yang didapat dari event tersebut.
Apakah Ayah Bunda juga mengikuti webinar tersebut? Jika pada hari itu Ayah Bunda berhalangan untuk menghadirinya, silakan bisa menyimak di sini:
Pentingnya Berkesadaran dalam Mengajar
Webinar Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak dibuka dengan sambutan penuh semangat oleh Kepala SD Islam Bintang Juara, Ibu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd. Tidak berpanjang kalam, usai mendokumentasikan momen narasumber bersama seluruh peserta, acara inti segera dimulai.
Miss Meli, Kepala PAUD Islam Bintang Juara, yang didapuk sebagai moderator acara inti, membacakan profil dr. Amir Zuhdi. Setelahnya, dr. Amir Zuhdi mulai memaparkan beberapa hal dasar yang wajib diketahui oleh guru dan orang tua terkait pembelajaran ramah otak anak.
Sebuah kalimat pembuka dr. Amir Zuhdi cukup menggelitik;
“Mengajar itu harus berkesadaran atau hipnotik?”
Ternyata kalimat tersebut adalah sebuah pertanyaan yang pernah disampaikan kepada seseorang kepada dr. Amir Zuhdi. Sebagai dokter dengan peminatan pada neurosains, menjawab pertanyaan tersebut tentu saja beliau menggunakan pijakan ilmu neurosains.
Sebagai informasi, yang disebut dengan neurosains yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang neuron (sel syaraf). Ilmu yang mempelajari bagaimana otak manusia bekerja. Kalau berdasarkan pijakan tersebut, disebutkan oleh dr. Amir Zuhdi, mengajar itu harus sadar, tidak boleh terhipnotis.
Aktivitas otak memang ada yang menyerupai keadaan terhipnotis, tapi sebenarnya kondisi otak saat itu sadar. Sebagaimana saat kita sedang menyimak webinar, kita mendengar apa yang disampaikan pembicara dan melakukan apa yang diminta pembicara. Kondisi tersebut bukan berarti kita sedang terhipnotis oleh pembicara, tetapi memang otak kita sedang fokus pada webinar tersebut.
Oleh karenanya dr. Amir Zuhdi menegaskan bahwasanya mengajar jika berbasis neurosains haruslah berkesadaran.
Setelah menyampaikan pembukaan yang apik, dr. Amir Zuhdi menceritakan sekelumit ‘sejarah hidupnya’. Ternyata dr. Amir Zuhdi dilahirkan dan dibesarkan di keluarga guru. Kakeknya guru, ibu bapaknya guru. “Hanya saya yang ‘tersesat’ di kedokteran,” ucap dr. Amir Zuhdi dengan senyum yang lebar.
Namun siapa sangka, kini takdir juga membawa dr. Amir Zuhdi ke dunia pendidikan. Lebih tepatnya menjadi gurunya para guru dan orang tua melalui program Neuroteaching dan Neuro Parenting School.
Dokter Amir juga menyampaikan pesan yang sangat menguatkan para guru agar tidak berkecil hati dengan profesi yang dijalaninya saat ini. Kata dr. Amir Zuhdi;
“Menyejahterakan keluarga dimulai dengan pendidikan.”
Oleh karenanya orientasi mengajar haruslah untuk membangun kecerdasan di bawah lindungan Allah SWT. Kecerdasan tersebut meliputi karakter, moral, literasi, numerasi dan lain-lain. Namun tidak lupa untuk menjadikan kakak shalih-shalihah sadar akan perannya sebagai Hamba Allah SWT.
Ditambahkan oleh dr. Amir Zuhdi, agar tujuan mengajar tercapai maka dibutuhkan guru yang ikhlas. Indikator guru ikhlas menurut wejangan dari sang ibu adalah guru yang senantiasa belajar.
Kemudian Dokter Amir menceritakan guru yang mendampingi beliau hingga berhasil saat ini. Suatu waktu, dr. Amir Zuhdi bertemu kembali dengan gurunya sewaktu SD. Si guru ini bercerita kalau dulu sempat bingung waktu mengajar dr. Amir.
Karena saat itu, kalau dr. Amir tidak sambil bermain, tidak ada pelajaran yang bisa dipahami. Sang guru kemudian berdoa agar Allah SWT bisa memberikan cara mengajar yang tepat untuk dr. Amir.
Mengetahui bahwa Dokter Amir memiliki kecerdasan kinestetik, maka sang guru sengaja untuk selalu memberikan tugas kepadanya. Setiap kali melihat dr. Amir selesai mengerjakan satu tugas, sang guru akan memberikan tugas lain.
Cara tersebut ternyata terbukti membuat dr. Amir bisa duduk tenang di mejanya dan tidak mengganggu teman sekelas. Setelah dr. Amir menjadi dokter yang mempelajari neurosains, ternyata cara yang digunakan oleh gurunya tersebut sesuai dengan otak belajar.
Belajar Neuroteaching, Belajar yang Tersistem
Dokter Amir menganggap gurunya adalah salah satu contoh guru yang ikhlas. Beliau senantiasa mencari solusi untuk setiap tantangan yang dihadapi. Tak hanya itu beliau juga membawa nama murid-muridnya di dalam doa.
Semoga Ayah Bunda dan para bapak ibu guru bisa menduplikasi apa yang telah dilakukan oleh gurunya dr. Amir Zuhdi dalam kehidupan sehari-hari ya.
Selanjutnya, dr. Amir Zuhdi menyampaikan bahwa mempelajari otak bagi guru dan orang tua bukanlah untuk menjadi dokter. Namun untuk bisa memahami bagaimana kinerja otak yang sebenarnya.
Oleh karenanya dalam Neuro Parenting School, mempelajari keseluruhan ilmu neuroteaching membutuhkan waktu 32 jam. Sedangkan untuk neuroparenting dibutuhkan waktu kurang lebih 50 jam. Selain neuroteaching dan neuroparenting, dr. Amir Zuhdi juga memiliki program yang dinamai Neuro Leadership.
Hal-hal yang disampaikan oleh dr. Amir Zuhdi melalui webinar ini barulah pondasinya saja. Diharapkan dengan mengetahui dasar-dasarnya, para guru dan orang tua memiliki alasan yang semakin kuat untuk mempelajari neuroteaching dan neuroparenting.
Mengajar dan mengasuh anak tidak boleh asal-asalan. Otak kalau dirangsang asal-asalan, nantinya sel-sel syaraf yang baru tidak akan terbentuk dengan baik/ tidak sistematis.
Ketika guru dan orang tua telah mengetahui bagaimana otak bekerja, diharapkan mereka bisa merancang sistem pembelajaran yang komprehensif dan bisa diaplikasikan. Catatan penting yang perlu diperhatikan baik oleh guru maupun orang tua;
Pembelajaran itu selalu membutuhkan otak.
Dokter Amir kemudian membagikan lima hal yang perlu ada dalam sebuah sistem pembelajaran yang ramah otak:
1. Pengalaman Emosi
Pengalaman emosi memiliki dampak pada otak anak dan berperan penting dalam proses belajar mengajar. Semakin kaya pengalaman emosi yang dialami oleh anak, semakin pesat perkembangan otaknya.
2. Memberi Tantangan Hal-hal Baru
Membangun hubungan antar subjek, merespon dan beradaptasi, dapat memberi pengalaman belajar yang penuh makna bagi kakak shalih-shalihah.
3. Memberi Latihan Pengulangan
Semakin sering hal-hal baik diulang, maka semakin menambah kuat proses pengingatan. Tak hanya itu, hal-hal baik tersebut kemudian perlahan menjadi kebiasaan dan tumbuh menjadi karakter.
4. Gizi yang Cukup
Proses belajar selain memerlukan gerak, lingkungan variatif, emosi yang konstruktif, dan rangsangan, nutrisi/ gizi juga memegang peranan penting. Di dalam otak ada 900 neuron tidak aktif yang disebut dengan neuroglia.
Neuroglia bertugas menyiapkan makanan untuk aktivitas neuron. Neuron itu penting untuk otak bertumbuh. Nutrisi otak disimpan secara khusus di neuroglia. Selain berfungsi untuk mengelem nutrisi, neuroglia disebut sebagai posko makanan.
Saat seorang anak kurang gizi, nutrisi akan diambilkan dari cadangan lainnya. Kalau cadangannya habis, maka ambil dari neuron. Bahayanya, ketika semua nutrisi yang tersimpan di neuron habis, anak tersebut bisa mengalami perkembangan otak yang stagnan. Tidak bisa berpikir dengan baik, dan tentu saja berdampak pada kehidupan sehari-harinya.
Oleh karenanya, Ayah Bunda perlu memperhatikan nutrisi yang baik untuk otak kakak shalih-shalihah, antara lain; jus, madu, susu kambing, Ikan laut, ikan air tawar, tempe mentah dengan kurma, dan sebagainya.
5. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik yang dilakukan siswa menjelang belajar akan mengoptimalkan kinerja otak. Alhasil proses belajar mengajar akan berjalan dengan maksimal.
Neuroteaching melibatkan tiga komponen utama; otak guru, otak anak dan ramah otak. Semua guru harus sudah yakin dan percaya tentang hal tersebut.
Anak yang tangan kakinya tidak lengkap, asal otaknya distimulasi dengan baik, masih bisa cerdas. Namun anak yang tangan kaki lengkap, otak nggak terstimulasi, maka bisa saja otaknya tidak berkembang.
Guru dan orang tua juga perlu tahu bahwa usia PAUD – kelas 2 SD aktivitas belajar harus lebih banyak bermain. Saat anak duduk di kelas 3 SD, kegiatan-kegiatan yang diberikan boleh mulai masuk kognitif.
Cara belajarnya dengan dibuktikan, dilihatkan objeknya. Namun dengan catatan, cara belajar ini akan lebih optimal ketika kecerdasan emosinya sudah oke.
Guru PAUD juga harus bersinergi dengan orang tua di rumah. Jangan sampai di sekolah sudah melakukan pembelajaran ramah otak yang berbasis gerak, eh di rumah, kakak shalih-shalihah justru dirusak oleh orang tuanya sendiri dengan lebih banyak diberi gadget.
Fenomena ini dinamai Gadget Hijacking oleh dr. Amir Zuhdi. Dampak dari fenomena ini adalah semakin banyak anak yang kecanduan gagdet dan bahkan memerlukan terapi psikiatri untuk menanganinya.
Disampaikan pula oleh Dokter Amir, orang tua yang memberi gadget kepada anak, sejatinya mereka adalah orang tua yang memiliki emosi tumpul. Karena malas berhadapan dengan balada tantrum anak, mereka memilih untuk memberikan gadget sebagai jalan pintas.
Namun kami yakin, Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang membaca artikel ini tidak termasuk golongan orang tua tersebut bukan?
Saat ini semakin marak pembuat game karena game telah berkembang menjadi bisnis. Maka semakin banyak game dibuat, semakin banyak uang yang masuk di kantong para pembuat game. Namun sebagai orang tua dan guru, kita perlu mengetahui fakta bahwa game dapat merusak otak anak.
Hubungan Pembelajaran Ramah Otak Anak dengan Pengasuhan Orang Tua
Dokter Amir kemudian menceritakan sebuah kisah tentang seorang mahasiswa cerdas yang hippocampus-nya mengecil. Dari sejak usia dini hingga SMA, mahasiswa ini terkenal sebagai sosok yang nilai akademisnya selalu memuaskan.
Namun sayang orang tuanya tidak pernah merasa puas dengan prestasi sang anak. Alhasil pada saat kuliah, menyelesaikan soal yang harusnya bisa 10 menit, diselesaikan dalam 1 jam. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ukuran hippocampus si mahasiswa mengecil.
Sebagai informasi, hippocampus berkaitan dengan memori (khususnya memori belajar). Bagian kanan berhubungan dengan kecerdasan spasial, sementara bagian kiri berhubungan dengan kecerdasan analitik dan kritikal. Dengan mengecillnya hippocampus, si mahasiswa menjadi sulit berpikir secara analitik
Banyak sekali kasus-kasus setipe. Apabila dirunut, sebagian besar merupakan dampak dari buruknya pengasuhan pada 0-7 tahun. Karena diasuh secara temperamental, akhirnya anaknya juga akan tumbuh menjadi sosok yang terperamental. Pada saat anak-anak, efek ini bisa jadi belum terlihat. Namun saat anak sudah dewasa, efeknya akan terlihat dengan nyata.
Kegagalan pengasuhan sebagian besar disebabkan karena kurang piawainya orang tua dalam mengelola emosi.
Dari cerita tentang mahasiswa di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa memang sangat penting bagi orang tua dan guru untuk mengetahui cara otak bekerja.
Guru dan orang tua belajar otak bukan untuk menjadi dokter, tetapi untuk mengajar, mendidik dan mengasuh anak secara tepat. Belajar dan mengajar tanpa melibatkan ilmu tentang otak adalah hal mustahil. Apalagi ketika guru dan orang tua ingin materi ajarnya diterima oleh anak.
Nah, buat Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang ingin belajar tentang otak anak, otak orang tua dan otak belajar, silakan bisa mengikuti kelas Neuroparenting dan Neuroteaching yang digelar oleh Neuro Parenting School (NPS):
Mengenal Dasar-dasar Otak Anak
Dokter Amir Zuhdi menyampaikan bahwasanya otak memiliki dua belahan; kanan dan kiri. Neuroscience telah berkembang, tidak lagi saklek bahwasanya kanan untuk spasial, kiri untuk analitikal.
Tidak ada lagi istilah, mengajar matematika menggunakan otak kanan. Sambil berkelakar, dr. Amir Zuhdi bertanya, “Coba deh dipotong otak kirinya, apa bisa otaknya berjalan?”
Dua belahan ini memiliki fungsinya masing-masing, tapi berperan dengan saling melengkapi, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Dua-duanya saling digunakan dalam waktu bersamaan. Belahan kanan akan bekerja bagus bila dibackup belahan kiri dan sebaliknya.
Otak saat satu belahannya diambil akan terlihat dua bagian; otak dalam dan luar. Otak dalam berhubungan dengan emosi dan gerak. Sementara otak luar berhubungan dengan kemampuan berpikir dan bahasa.
Otak diproses dari dalam dulu baru luar. Otak dalam dulu, baru otak luar. Guru dan orang tua perlu mengetahui ini agar proses mengajar dan mengasuh bisa optimal dalam membangun kecerdasan.
Dalam Neurosains, ada lima kecerdasan, yang nantinya akan melahirkan kecerdasan-kecerdasan lainnya:
Gerak,
Emosi,
Rasio/ inteligen,
Sosial,
Spiritual.
Lima kecerdasan tersebut berasal dari tiga kecerdasan; gerak, emosi, dan rasio. Perlu Ayah Bunda dan bapak ibu guru ketahui bahwa ada dua kecerdasan yang posisinya sebagai fondasi, yaitu: gerak dan emosi.
Sebagaimana bangunan yang tinggi, semegah apapun kalau pondasinya rapuh akan berbahaya bukan? Begitu juga dengan kecerdasan anak.
Agar anak usia PAUD cerdas, fokuslah pada gerak dan emosi. Emosi akan terus berkembang di tahun-tahun berikutnya. Namun gerak benar-benar harus dikawal dalam 7 tahun, atau maksimal 9 tahun pertama.
Cara utama mengajari anak agar tumbuh cerdas; ajarilah anak bergerak. Oleh karenanya pengasuhan orang tua jangan sampai minim gerak. Biarkan anak banyak bergerak.
Cari permainan yang cara bermainnya bergerak. Semakin banyak gerakan tubuh, semakin baik. Mulai usia SD, barulah mulai ditata kognisinya. Saat usia SMP, mulai ditata emosinya.
Tak sedikit yang kemudian bertanya kepada dr. Amir Zuhdi, “Kebutuhan anak kan cerdas, bukankah calistung termasuk di dalamnya?”
Tentu saja belajar berhitung dan menulis bagi anak usia PAUD diperbolehkan. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa cara mengajari/ cara belajarnya yang harus lewat gerak.
Mungkin Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang baru pertama kali menerima materi tentang neurosains akan sedikit merasa bingung dan tak yakin. Oleh karenanya, dokter Amir kemudian memberikan pijakan bahwa antara otak besar dan otak cerebelum {otak kecil) terhubungkan dengan ‘kabel’ atau syaraf-syaraf. Otak besar adalah pusat berpikir.
Nah, untuk membuat anak-anak berpikir dengan bagus, maka anak-anak harus banyak BERGERAK. Artinya diberikan stimulasi sensorik motorik yang sesuai kebutuhan.
Adapun kriteria berpikir bagus yang dimaksud oleh dr. Amir Zuhdi yaitu;
Fleksibel, bisa melihat sesuatu dari sudut yang berbeda dan tidak kaku/ mudah beradaptasi.
Pikirannya selaras dan tenang. Tidak mudah ngamukan alias tantrum.
Contoh anak-anak yang tidak fleksibel:
Pernah menemukan anak yang saat meminta A ya harus A, diganti B keukeuh tidak mau apapun alasannya.
Sering tantrum karena pikirannya tidak selaras.
Tidak bisa menunda, saat minta sesuatu harus sak dhet sak nyet kalau kata orang Jawa. Alias harus ada saat itu juga.
Cara memperbaiki anak-anak dengan kondisi seperti itu, yaitu dengan membenahi gerakannya. Bicara tentang kecerdasan gerak, maka tak bisa lepas dari sistem sensorik. Ada 8 piranti sistem sensorik yang perlu diketahui orang tua dan guru, termasuk tentang reflek-reflek primitif. Sistem sensorik harus terintegrasi.
Contoh beberapa latihan untuk melatih gerak yaitu meniti jalan titian. Aktivitas tersebut bukan sekadar untuk melatih keseimbangan, tetapi juga untuk mengoptimalkan kecerdasan.
Memberikan pendidikan dan pengasuhan harus sesuai dengan pertumbuhan otak. Otak tidak langsung sempurna, paling cepat berkembang dalam jangka waktu 18 tahun. Perkembangan otak paling lama 25 tahun, sedangkan angka rata-rata adalah 21 tahun. Setiap fasenya, ada milestone yang harus dipahami oleh Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru.
Pembelajaran Ramah Otak Anak untuk SD atau PAUD Ya?
Hal tersebut paling banyak ditanyakan melalui formulir pendaftaran. Dokter Amir lalu memberikan jawaban yang bijak;
Guru SD harus tahu otak PAUD bekerja. Guru PAUD juga harus tahu bagaimana otak SD bekerja. Sehingga pada saat mengajar bisa saling berkesinambungan, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam program Transisi PAUD-SD.
Oleh karenanya, pengajaran antara guru PAUD – SD harus saling terkait, khususnya antara guru PAUD dan guru-guru kelas 1-3. Pada saat anak usia 7-8 tahun terjadi pergeseran, dari yang full gerak, bergeser ke aktivitas berpikir.
Walau berpikirnya masih yang sederhana. Namun pada usia tersebut, sebuah pertanda muncul, yaitu adanya angulus yang berkembang. Artinya, anak sudah bisa berpikir dengan lebih kompleks.
Masuk SMP, anak-anak bisa belajar emosi yang lebih rumit. Masuk usia remaja, tentut perkembangan otaknya berbeda lagi. Ada cara mengajar dan mengasuh yang berbeda pada setiap kelompok umur. Mengajar anak di bawah 7 tahun dengan anak di atas 12 tahun pasti beda caranya.
Dokter Amir memberikan pesan agar tidak pernah mengganti guru kelas 1 SD dengan guru kelas 6 SD, karena biasanya proses belajar mengajar akan berjalan berantakan. Kecuali guru kelas 6 SD yang kemudian diamanahi mengajar kelas 1 SD punya kemampuan adaptasi yang baik. Justru kalau guru kelas 1-3 SD diganti guru PAUD masih bisa berjalan baik.
Otak dan Gender, Bedanya Pengasuhan antara Laki-laki dan Perempuan
Selain pertanyaan tentang pembelajaran ramah otak anak lebih cocok untuk SD atau PAUD, pertanyaan terkait bedanya pengasuhan antara anak laki-laki dan perempuan juga banyak diajukan melalui formulir pendaftaran. Menanggapi hal ini, dr. Amir Zuhdi memberikan jawaban;
“Tidak perlu tersegmenkan secara khusus, tapi yang pasti laki dan perempuan berbeda. Jenis kelaminya saja berbeda. Secara dasar, otak awalnya perempuan, lalu ada hormon-hormon seksual yang berkembang sehingga ada laki- dan perempuan.”
Apabila dilihat dari perkembangan secara fisik, otak laki dan perempuan memang berbeda. Otak dalam perempuan lebih tebal struktur pembuluh darahnya daripada otak dalam laki-laki.
Otak dalam berhubungan dengan emosi dan gerak, nutrisi dan oksigen banyak ditemukan di sini. Alhasil aktivitas perempuan biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kalau dianalagikan, laki-laki itu layaknya kompor minyak tanah, sementara perempuan seperti kompor gas.
“Jadi kalau perempuan suka ngegas, ya memang begitu, sudah fitrahnya,” ujar dr. Amir Zuhdi.
Terkait mengapa perempuan lebih suka mengomel dibandingkan lelaki, hal itu dikarenakan otak bahasa perempuan jauh lebih luas daripada laki-laki. Maka, perempuan cerewet itu normal.
Kalau perempuan nggak banyak ngomong, artinya ia belum ketemu teman yang cocok. Kalau sudah bertemu teman, kok perempuan masih pendiam, bisa jadi perempuan itu mengalami stres.
Perempuan disebut sebagai madrasatul ula karena memiliki sub cortical/ otak dalam yang lebih tebal. Kondisi ini membuat perempuan, normalnya, memiliki 1000 bahasa yang menyejukkan.
Sementara apabila dilihat dari fitrah perkembangan, anak laki-laki usia 7-9 tahun seharusnya didekatkan dengan ayah atau figur yang menggantikan sosok ayah. Begitu juga anak perempuan di usia 7-9 tahun, sebaiknya dekat dengan ibu.
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan hormon seksual yang sedang tinggi-tingginya. Apabila anak dekat dengan orang tua yang memiliki gender sejenis, anak-anak jadi lebih mudah untuk bercerita dan mengekspresikan curahan hatinya.
Setelah masuk usia 12 tahun, anak-anak perlu mendapat nilai-nilai lainnya. Anak harus dekat dengan orang tua yang beda gender. Perempuan membutuhkan tampilan tentang laki-laki yang baik seperti apa, oleh karenanya dekatkan dengan ayah/ yang berperan sebagai figur ayah. Begitu juga sebaliknya.
Masya Allah webinar pendidikan Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak memang banyak sekali hikmah yang bisa diambil, Ayah Bunda. Apabila Ayah Bunda ingin mengetahui materi dari Bunda Vivi Psikolog yang dibagikan pada acara inti bagian kedua, silakan mengunjungi artikel “Kegiatan Bermain dan Belajar yang Bermakna sesuai Kebutuhan Perkembangan Anak.”
Dokter Amir Zuhdi menutup paparannya pagi itu dengan kalimat-kalimat bermakna;
Belajar mengajar adalah satu aktivitas yang mulia. Ketika mengajar bukan sekadar untuk mencari nafkah, tapi juga untuk mengasah otak kita. Bukan sekadar untuk menjadi guru berotak normal, tapi guru berotak sehat.
Belajar mengajar membutuhkan kapasitas otak, maka sudah sewajarnya guru belajar tentang otak. Bukan untuk sebagai dokter, tetapi untuk menjadi guru yang bijak dan menyenangkan. Pada akhirnya Anda akan mendapat murid yang cemerlang, ceria dan cerdas.
Apabila catatan Bintang Juara tentang Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak ini bermanfaat, mohon kesediaan Ayah Bunda untuk membagikan informasi ini kepada masyarakat luas. Terima kasih dan sampai jumpa pada catatan-catatan berikutnya.***
Setelah melaksanakan asesmen sumatif pada 3 – 15 Mei 2023, kakak shalih-shalihah kelas 6 melanjutkan aktivitasnya dengan ujian praktik. Setelah sebelumnya melakukan ujian praktik Bahasa Jawa dan Pendidikan Agama islam (PAI), pada hari Senin, 22 Mei 2023 diselenggarakan ujian praktik olahraga.
Apa saja ya yang diujikan dalam ujian praktik olahraga? Berdasarkan informasi dari Bapak Syahrial selaku guru Pendidikan Jasmani, ada dua jenis olahraga yang diujikan, yaitu bola voli dan lompat kangkang. Yuk, cari tahu seperti apa ujian praktik olahraga tersebut berlangsung, Ayah Bunda.
Ujian Praktik Olahraga Voli
Sebelum memulai ujian praktiknya, kakak shalih-shalihah kelas enam melakukan pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan penting dilakukan sebelum memulai olahraga inti. Pertama, untuk menyiapkan otot-otot agar tidak kaku. Kedua, mengurangi terjadinya cedera.
Penilaian pertama pada ujian praktik olahraga yaitu penilaian kemampuan dan kecakapan kakak shalih-shalihah dalam olahraga voli. Adakah Ayah Bunda yang suka bermain voli?
Bola voli merupakan olahraga beregu. Dalam satu tim terdapat enam orang pemain. Masing-masing tim dipisahkan oleh jaring. Tim akan mendapat poin ketika berhasil mendaratkan bola di lapangan tim lawan.
Ayah Bunda, olahraga ini sudah diciptakan sejak 1895 lo. Penciptanya bernama William G. Morgan yang merupakan Direktur Pendidikan Jasmani di YMCA di Holyoke, Massachusetts. Pak Morgan menginisiasi lahirnya bola voli setelah bertemu dengan Dr. James Naismith, penemu bola basket.
Melihat bagaimana bola basket dimainkan, Pak Morgan ingin membuat permainan yang hampir mirip tetapi bisa dimainkan oleh orang dengan usia yang lebih tua. Akhirnya ia membuat bola voli yang awalnya bernama “Mintonette”.
Bola voli memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, antara lain:
Meningkatkan kesehatan kardiovaskular
Meningkatkan sistem otot
Menurunkan berat badan
Mengembangkan keseimbangan, kecepatan, fleksibilitas, dan stamina
Dengan banyaknya manfaat yang dimiliki, tak heran jika banyak orang suka bermain voli. Bahkan dalam perkembangannya, voli kemudian memiliki beberapa jenis, contohnya: voli pantai.
Walaupun berkembang menjadi beragam jenis, bola voli memiliki teknik dasar yang serupa, yaitu:
Servis – Merupakan pukulan awal yang berasal dari luar lapangan untuk memulai rally di dalam pertandingan. Teknik servis dibagi menjadi empat jenis, yaitu servis lompat, bawah, atas dan samping.
Passing – Merupakan teknik memberi umpan pada rekan satu tim, atau mengarahkan bola secara langsung ke daerah lapangan lawan. Teknik ini terdiri dari passing atas dan bawah.
Smash – Merupakan teknik untuk menyerang lawan. Caranya yaitu dengan memukul bola sekeras mungkin agar bola itu jatuh ke daerah lapangan regu lawan. Jenis-jenis teknik smash antara lain; Quick Smash, Semi Smash, Push Smash, Ace Smash, dan Pull Smash.
Blocking – Merupakan teknik bertahan untuk menghalau serangan smash dari lawan. Tujuannya agar bola tidak melewati net.
Di antara sekian banyak teknik dasar dalam bola voli, pada ujian praktik olahraga kelas 6 SD Islam Bintang Juara, hanya empat teknik yang dinilai oleh Pak Syahrial, yaitu:
Servis bawah
Servis atas
Passing bawah
Passing atas
Ujian Praktik Olahraga Lompat Kangkang
Lompat kangkang adalah jenis olahraga kedua yang diujikan dalam ujian praktik kelas 6 SD Islam Bintang Juara. Cara melakukannya yaitu pesenam harus melompati benda dengan cara mengangkang.
Adapun benda yang dilompati biasanya berupa boks senam, akan tetapi jika alat ini tidak dimiliki, Ayah Bunda bisa menggunakan meja kecil seperti yang dilakukan Pak Syahrial dalam ujian praktik olahraga kali ini. Bila ketinggiannya dirasa kurang, Ayah Bunda bisa menambahkan tumpukan buku atau puzzle spon seperti yang dipraktikkan Pak Syahrial.
Meski terlihat mudah, ternyata lompat kangkang ini memiliki tantangan tersendiri lo, Ayah Bunda. Untuk bisa berhasil melakukan lompat kangkang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kakak shalih-shalihah:
Pertama-tama, kakak shalih-shalihah harus berlari cepat ke arah boks senam atau alat yang akan dilompat. Bagian ini dinamakan awalan.
Saat mendekati boks senam, kakak shalih-shalihah harus melakukan tolakan dengan kedua kaki sehingga badan bisa melenting ke depan. Sementara kedua tangan harus bertumpu di atas peti. Kemudian, kakak shalih-shalihah harus merentangkan kedua kaki hingga lurus menyamping.
Bagian terakhir, kakak shalih-shalihah bisa melakukan pendaratan dengan kaki dan lutut yang rileks. Pendaratan yang sempurna terjadi ketika posisi kaki rapat.
Apabila lompat kangkang dilakukan secara rutin ternyata ada banyak manfaat yang bisa didapatkan lo, Ayah Bunda. Berikut ini manfaatnya:
Mengencangkan otot
Meningkatkan kelenturan tubuh
Menjaga keseimbangan tubuh
Meningkatkan kebugaran
Meningkatkan kekuatan otot
Membakar kalori
Meningkatkan konsentrasi
Memperindah bentuk tubuh
Alhamdulillah Ayah Bunda, ujian praktik olahraga kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara berjalan dengan lancar. Nantikan catatan seru Bintang Juara berikutnya, Ayah Bunda. Salam olahraga!***
Referensi:
Pengamatan di lokasi ujian praktik – Lapangan Voli SD Islam Bintang Juara
Pukul 08.00 pagi pada hari Rabu, 17 Mei 2023 bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional, SD Islam Bintang Juara menyambut kedatangan tamu istimewa dari Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS). Sejumlah tiga puluh mahasiswa terjadwal untuk hadir ke Sekolah Penggerak Angkatan II Kecamatan Gunung Pati ini untuk melakukan observasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Kegiatan yang berlangsung kurang lebih dua setengah jam tersebut, diharapkan menjadi Visitasi Bermakna Mahasiswa PAI UNWAHAS. Seperti apakah rangkaian kegiatan dan pembelajaran penuh makna apa saja yang didapat melalui visitasi ini? Yuk, Ayah Bunda ikuti catatan Bintang Juara hari ini.
Momen Observasi Mahasiswa PAI UNWAHAS ke Kelas-kelas
Para mahasiswa PAI (Pendidikan Agama Islam) UNWAHAS disambut langsung oleh Ibu Nur Shofwatin Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara di Basement Gedung B. Bu Ni’mah memberikan paparan pembuka secara singkat sebelum ketigapuluh mahasiswa tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi di kelas-kelas.
30 mahasiswa dibagi menjadi tujuh kelompok sebagai berikut;
5 mahasiswa observasi di kelas 1A
5 mahasiswa observasi di kelas 1B
5 mahasiswa observasi di kelas 2
4 mahasiswa observasi di kelas 3
5 mahasiswa observasi di kelas 4B
5 mahasiswa observasi di kelas 5
2 mahasiswa observasi di kelas 6
Dalam melakukan proses observasi, mahasiswa yang mendapat tugas di kelas 1A dan 1B didampingi oleh Bu Fia. Sementara itu, mahasiswa yang bertugas di kelas 2 dan 4B didampingi oleh Bu Ni’mah. Untuk mahasiswa yang observasi di kelas 3 dan 5 didampingi oleh Bu Siti.
Sebelum dipersilakan menuju ke kelas masing-masing, Bu Ni’mah memberikan tantangan untuk menemukan manakah murid yang memiliki special needs. Hal ini berhubungan dengan tujuan observasi yang dilakukan para mahasiswa PAI UNWAHAS untuk mengamati pendampingan SD Islam Bintang Juara kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Para mahasiswa PAI UNWAHAS diberikan waktu observasi selama 20 menit. Sepanjang proses tersebut, mahasiswa ada yang asyik mengamati kegiatan di dalam kelas, ada pula yang mencatat beberapa hal menarik di bukunya. Tak sedikit pula yang aktif bertanya-tanya terkait proses KBM kepada wali kelas.
Serunya Diskusi pada Visitasi Bermakna Mahasiswa PAI UNWAHAS
20 menit berlalu dengan cepat, para mahasiswa PAI UNWAHAS kembali ke Basement Gedung B. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Bu Ni’mah.
Selain memberikan informasi-informasi tambahan yang bisa melengkapi wawasan mahasiswa PAI UNWAHAS terkait pendampingan ABK di SD islam Bintang Juara, bu Ni’mah juga membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan. Alhamdulillah, diskusi mengalir dengan asyik dan hangat.
Berikut ini beberapa catatan menarik dari proses diskusi pada rangkaian acara visitasi bermakna PAI UNWAHAS ke SD Islam Bintang Juara:
1. Mengapa SD Islam Bintang Juara Menerima ABK?
Tidak semua sekolah berani menerima ABK. Hal tersebut yang justru menguatkan Bunda Vivi Psikolog, founder SD Islam Bintang Juara, dalam membangun sekolah ini.
Dikisahkan oleh Bu Ni’mah, pada awal sekolah ini berdiri, jumlah murid yang diterima adalah 11 orang. Siswa terakhir yang diterima pada kala itu adalah ABK yang sebelumnya telah ditolak 13 sekolah.
Dari pengalaman tersebut, Bunda Vivi Psikolog yang saat ini juga menjadi dosen praktisi di UNNES dan UICI menguatkan niat agar SD Islam Bintang Juara bisa mendampingi semua anak, baik reguler maupun special needs.
Bu Ni’mah kemudian mengajukan pertanyaan kepada para mahasiswa UNWAHAS, terkait tujuan sekolah inklusi. Beberapa mahasiswa bersuara memberikan jawaban yang berbeda-beda. Dari jawaban tersebut, Bu Ni’mah menyimpulkan bahwasanya sekolah inklusi harus ada demi memenuhi semua hak anak untuk mendapat pendidikan secara setara, baik reguler ataupun special needs.
Sekolah inklusi juga memiliki manfaat yang dahsyat, Ayah Bunda. Kakak-kakak shalihah yang reguler menjadi paham bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan kondisi beragam. Akhirnya, akan timbul simpati dan empati terhadap sesama di dalam diri kakak shalih-shalihah.
Sementara untuk siswa ABK, mereka akan merasa diterima kehadirannya, sehingga muncul trust. Ketika trust tersebut tumbuh, kepercayaan diri ABK terhadap lingkungan akan meningkat. ABK akan mengamati dan mencontoh perilaku anak-anak reguler. Hal ini secara tidak langsung menjadi proses terapi bagi ABK.
Sebuah pertanyaan menarik disampaikan oleh Alwi, salah satu mahasiswa UNWAHAS yang hadir pagi itu. Dia tertarik dengan kurikulum yang digunakan di SD Islam Bintang Juara, apakah mengikuti kurikulum nasional yang berlaku, atau menggunakan kurikulum sendiri. Alwi merasa penasaran karena meyakini pasti bukan hal mudah mendidik siswa dengan konsep inklusi.
Mengacu pada peraturan tentang sekolah inklusi, dalam menyiapkan kurikulum untuk ABK, satuan pendidikan bisa menggunakan sistem yang adaptif:
Eskalasi – Cara ini ditujukan khusus untuk anak-anak gifted/ superior. Biasanya pada ABK yang memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan teman-teman sekelasnya, misal anak-anak yang terdiagnosa Dyslexia, guru bisa menaikkan materi belajar dibanding teman-temannya.
Modifikasi – Dalam hal ini, siswa berkebutuhan khusus menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Misal, ada ABK dengan kemampuan akademis baik, tetapi perilakunya kurang baik, maka diberikan stimulasi pada perilakunya.
Substitusi – Mengganti sesuatu yang ada dalam kurikulum umum dengan sesuatu yang lain. Penggantian dilakukan karena hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh siswa berkebutuhan pendidikan khusus, tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang memiliki bobot sama.
Omisi – Ada beberapa hal yang terdapat dalam kurikulum umum tetapi tidak disampaikan kepada siswa berkebutuhan pendidikan khusus. Hal ini karena sifatnya terlalu sulit dilakukan oleh ABK.
Dijelaskan pula oleh bu Ni’mah, selain menerapkan kurikulum yang bersistem adaptif untuk ABK, sebagai Sekolah Penggerak, SD Islam Bintang Juara telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Salah satu kelebihan kurikulum ini adalah sekolah bisa menyiapkan pembelajaran sesuai dengan profil siswa.
2. Mengapa SD Islam Bintang Juara Menerapkan Konsep Full Day School?
Alasan utama mengapa SD Islam Bintang Juara menerapkan konsep full day school karena agar bisa membiasakan 2 shalat wajib (Dhuhur – Ashar) dan 1 shalat sunnah (Dhuha). Sementara sisanya adalah tugas orang tua sebagai madrasah utama kakak shalih-shalihah.
Perihal shalat menjadi perhatian utama bagi SD Islam Bintang Juara, dikarenakan pembiasaan adab akhlak yang pertama berkaitan dari kedisiplinan pelaksanaan shalat fardhu. Apabila shalatnya saja masih keteteran, apalagi hal-hal lainnya bukan?
Pembiasaan adab akhlak di SD Islam Bintang Juara tidak menunggu PAI, kakak shalih-shalihah belajar adab akhlak dalam setiap aktivitas harian. Contohnya, dalam kegiatan Toilet Training, kakak shalih-shalihah belajar adab keluar masuk kamar mandi dan belajar istinja sesuai syari’at.
Selain pembiasaan adab dan akhlak, SD Islam Bintang Juara juga memiliki kegiatan khas berupa Jurnal Pagi. Kegiatan ini rupanya juga menarik hati mahasiswa PAI UNWAHAS. Diwakilli oleh Alwi, mereka menanyakan apa itu jurnal pagi dan fungsinya.
Bu Ni’mah kemudian menjelaskan bahwa jurnal pagi bukanlah salah satu mata pelajaran (mapel). Jurnal pagi adalah kegiatan transisi yang berfungsi untuk menyiapkan psikis siswa didik dan merilis emosi sebelum masuk kegiatan berikutnya. Jurnal pagi dilakukan pada pukul 07.30 – 08.00. Pada kegiatan ini, kakak shalih-shalihah boleh menggambar, menulis dan berbicara.
Tugas guru pada saat kakak shalih-shalihah mengerjakan jurnal paginya adalah menguatkan konsep-konsep. Misal, saat kakak shalih-shalihah memilih menjurnal melalui gambar, guru mengecek sudah sampai tahap berapa hasil gambarnya. Sebagai informasi, dari sisi psikologis, menggambar memiliki 12 tahapan.Tahap gambar kakak shalih-shalihah bisa menampilkan informasi tumbuh kembang mereka, selain tentunya hasil gambarnya bisa merefleksikan suasana hati mereka pagi itu.
Begitu juga ketika kakak shalih-shalihah memilih berbicara saat jurnal paginya, guru tidak hanya menerima emosi yang disampaikan, tetapi juga mengecek apakah susunan kalimatnya sudah mengandung S-P-O-K, dan volume suaranya sudah terdengar jelas. Kakak shalih-shalihah belajar untuk berani menyampaikan ide dan perasaannya.
3. Mengenal 6 Aspek yang Dikuatkan di SD Islam Bintang Juara
Pada momen diskusi, Bu Ni’mah memutar sebuah video. Video tersebut memperlihatkan proses pembelajaran individual dari seorang ABK. Bu Ni’mah kemudian mengajak para mahasiswa UNWAHAS untuk membagikan ide mereka terkait video yang dilihatnya.
Bu Ni’mah mengapresiasi respon yang disampaikan oleh para mahasiswa, dilanjutkan dengan memberikan penjelasan mengenai isi video tersebut. Dalam video itu, guru pendamping sedang memberikan stimulasi sensori motorik kepada murid berkebutuhan khusus, berupa kegiatan main peran kecil menggunakan APE (Alat Permainan Edukasi) potong-memotong.
Selain sensori motorik, dalam kegiatan tersebut juga terdapat penguatan aspek kognitif, khususnya matematika. Guru bisa memberikan pijakan seperti, apa nama buahnya, kalau buah ini mau dibagikan kepada guru berarti harus dipotong jadi berapa, dsb.
Bu Ni’mah juga kemudian memberikan penjelasan bahwa terdapat enam aspek yang harus dikuatkan melalui aktivitas-aktivitas harian yang ada di SD Islam Bintang Juara:
1. Spiritual
Dikuatkan melalui pembiasaan adab akhlak seperti doa pagi, pembacaan Asmaul Husna, murojaah, berwudhu, toilet training, sholat dhuha, sholat dhuhur dan ashar berjamaah, adab makan dan minum, dan hal-hal lain dalam keseharian. Tak hanya itu, sekolah juga melibatkan peran orang tua dalam menjaga shalat kakak shalih-shalihah agar akhlaknya terjaga.
Bahkan dari pengalaman Bu Ni’mah, ABK yang rutin diajak shalat subuh berjamaah di masjid, terlihat progress yang signifikan dalam tumbuh kembangnya. “Wudhu dan shalat adalah terapi utama yang datangnya langsung dari Allah SWT,” sambung Bu Ni’mah.
Sebelum diajak shalat, berikan informasi kepada kakak shalih-shalihah apa fungsi shalat. Hal ini tentu saja tidak berjalan secara instan, guru dan Ayah Bunda harus memberikan pijakan berulang secara konsisten hingga menghasilkan kebiasaan. Anak yang rutin diajak sholat jama’ah, energinya menjadi lebih tenang, sehingga anak bisa lebih fokus dan tidak mudah tantrum.
2. Bahasa
Penguatan aspek bahasa khususnya untuk ABK adalah tantangan tersendiri. Beberapa ABK mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Ada ABK yang ditanya malah menirukan pertanyaan gurunya, saat seperti ini, guru harus meminta anak untuk fokus dan melihat mata pendamping.
Selain itu, guru juga harus bisa memberikan informasi dalam kalimat pendek alias KISS (Keep Information Short and Simple). Tidak menggunakan banyak kata, tapi langsung dipahami maksudnya oleh kakak shalih-shalihah.
3. Sensori Motorik Kasar
Sensori motorik terbagi menjadi dua bagian, pada motorik kasar, yang distimulasi adalah otot-otot besar. Cara stimulasinya bisa dengan melakukan lari zig zag, lompat tali, loncat, lari, naik turun tangga, dan berjalan di atas titian.
4. Sensori Motorik Halus
Sedangkan untuk motorik halus, yang distimulasi adalah otot-otot kecilnya. Cara menstimulasinya yaitu dengan meronce, menggunting, mengelem, melipat, meremas kertas atau spons dan masih banyak lagi.
Stimulasi motorik halus berfungsi untuk melatih fokus, koordinasi kanan dan kiri, serta koordinasi mata dan tangan.
5. Kognitif
Kognitif di sini bukan sekadar dilihat dari sisi akademis, bisa baca, tulis dan hitung. Akademis hanya bagian kecil dari aspek kognitif.
Kognitif sendiri sangat luas cakupannya. Kemampuan adaptasi, menentukan pilihan dan menyelesaikan masalah masuk dalam lingkup kognitif.
6. Tahap Perkembangan Main
ABK biasanya bermasalah dengan sensori motorik. Apabila belum tuntas sesuai milestone, biasanya para ABK akan memiliki tantangan dalam hal fokus, yang kemudian berpengaruh pada kognitifnya. Oleh karena itu, guru harus mampu melihat sampai mana tahap perkembangan main kakak shalih-shalihah. Dengan mengetahui tahapan tersebut, guru bisa memberikan stimulasi yang tepat.
Alhamdulillah, selama mendampingi beberapa ABK di SD Islam Bintang Juara telah terlihat kemajuan yang pesat. Dalam kisaran waktu 1.5 – 3 bulan, kakak shalih-shalihah yang memiliki kebutuhan khusus sudah bisa melalukan aktivitas sesuai aturan.
4. Cara Guru SD Islam Bintang Juara Memberikan Pijakan
Hal berbeda yang bisa ditemukan di SD Islam Bintang Juara dan tidak ditemukan di sekolah lain adalah cara para gurunya memberikan pijakan. Sepertinya hal ini ditangkap pula oleh para mahasiswa PAI UNWAHAS selama proses obeservasi.
Tak heran jika kemudian banjir pertanyaan terkait cara guru SD Islam Bintang Juara memberikan pijakan. Berikut ini beberapa pertanyaan menarik yang diajukan oleh para mahasiswa.
Pertanyaan pertama dari Siti Khoiriyah terkait apakah orang tua ABK mendampingi putra-putrinya di awal masuk sekolah. Pertanyaan ini muncul karena Siti Khoiriyah merasa kalau menenangkan ABK jelas tidak mudah. Sementara di sekolah inklusi, tidak hanya ABK yang harus diberikan perhatian, ada juga siswa reguler di dalamnya.
Bu Ni’mah kemudian menyampaikan bahwa sejak awal kakak shalih-shalihah yang berkebutuhan khusus masuk sekolah tidak diperkenankan didampingi orang tua. Orang tua belajar untuk mempercayakan kakak shalih-shalihah kepada sekolah, kakak shalih-shalihah juga belajar untuk mandiri.
Khusus untuk ABK, tujuan pendidikan di SD Islam Bintang Juara adalah agar siswa bisa survive tanpa orang tua. Bukan hanya pada hal akademis, tapi juga bisa menguasai life skill.
Hanya saja di awal proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), calon siswa akan diobservasi terlebih dahulu. Di situ akan terlihat apakah siswa tersebut membutuhkan pendamping khusus atau tidak.
Selanjutnya, pertanyaan dari mahasiswa yang memiliki nama sama dengan Bu Ni’mah. Mahasiswi bernama Nikmah tersebut bertanya terkait pijakan-pijakan yang diberikan di SD Islam Bintang Juara.
Bu Ni’mah menerangkan bahwa hal pertama yang dilakukan selaku kepala sekolah adalah menguatkan tim bahwa setiap kakak shalih-shalihah yang berkebutuhan khusus bisa ditata. Setiap guru juga harus memberikan pijakan yang sama, termasuk dalam tampilan ekspresi yang muncul. Harus pas dan tidak berlebihan.
Beberapa contoh pijakan yang juga bisa diterapkan Ayah Bunda di rumah;
Apabila kakak shalih-shalihah mengucapkan kalimat tidak sopan, Ayah Bunda bisa meresponnya dengan, “Maaf kak, Ayah/ Bunda tidak nyaman.” Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, cukup dengan memberikan pijakan yang konsisten secara berulang, insya Allah kakak shalih-shalihah akan memahami seiring berjalannya waktu.
Ada kakak shalih-shalihah berkebutuhan khusus yang memiliki cara menyapa dengan memukul. Pijakan yang diberikan; “Mohon maaf kak, ada caranya untuk menyapa. Tidak dengan tangan. Tangan ada fungsinya. Jika ingin menyapa, kakak bisa bertanya,”Bapak/ ibu namanya siapa?”
Tidak melabel ABK dan anak-anak sebelum baligh. Misal, ada kakak shalih-shalihah yang mengambil penghapus milik temannya. Pastikan untuk tidak buru-buru berujar, “Kamu mencuri ya?” Ganti kalimat tersebut dengan, “Maaf, penghapus ini milik siapa? Apakah kakak sudah izin?” Begitu juga saat melihat kakak shalih-shalihah ada yang melirik jawaban temannya, alih-alih berkata “Jangan mencontek,” ucapkan saja “Kakak, silakan tuntaskan tantangan dengan idenya sendiri.”
Ada siswa yang suka mengacungkan jari tengah. Daripada berkata, “Itu tidak baik” atau “Itu saru/ tidak sopan.” Berikan pijakan: “Ini lebih baik, kak,” sambil berujar demikian guru menunjukkan jempolnya. Dalam satu setengah bulan, siswa tersebut tidak lagi mengacungkan jari tengahnya.
Selain memberikan beberapa contoh pijakan yang biasa diberikan oleh para guru SD Islam Bintang Juara kepada kakak shalih-shalihah, Bu Ni’mah juga memberikan informasi bahwasanya untuk menghadapi siswa, khususnya ABK, diperlukan hati yang tenang. Saat hati seorang guru atau orang tua bergejolak, kakak shalih-shalihah juga semakin bergejolak dan susah ditenangkan.
“Setiap memulai sesuatu, koneksikan semuanya dengan Allah SWT.”
Itu adalah pesan penting bu Ni’mah kepada para mahasiswa PAI UNWAHAS. Rutinitas yang dilakukan Bu Ni’mah dan para guru SD Islam Bintang Juara setiap hendak mendampingi ABK yaitu mengambil wudhu, mendirikan sholat dhuha, mengaji dan mengirim al fatihah khusus untuk anak-anak special needs tersebut.
5. Mempersiapkan Pengasuhan Anak dari Pra Hamil
Tak hanya memberikan informasi terkait teknis mendidik ABK di SD Islam Bintang Juara, bu NI’mah juga membagikan informasi bahwasanya ABK diawali sejak pra hamil. Oleh karenanya sebagai calon ibu dan calon ayah, bu Ni’mah titip pesan kepada para PAI UNWAHAS untuk senantiasa menjaga rahim dengan sebaik mungkin.
Maksudnya adalah dengan menjaga makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, karena nutrisi sebelum hamil juga berpengaruh pada tumbuh kembang bayi. Selain itu, penting untuk menjaga hubungan dengan orang tua, khususnya bagi para calon ibu. Bagaimana menjalin komunikasi dan sosialisasi dengan sang ibu dan perempuan lain berpengaruh pada proses kehamilan dan kelahiran.
Riwayat kesehatan mental saat hamil juga mempengaruhi janin. Apabila sang ibu rentan stress, otot rahim akan mengencang dan janin akan ikut merasakan ketegangan tersebut. Oleh karenanya, saat hamil, harus memperbanyak ibadah, diusahakan untuk khatam Al Quran sepanjang kehamilan dan memohon pada Allah SWT untuk diberikan kelancaran dalam proses kehamilan dan kelahiran.
Sejak janin di dalam perut, rutin diajak berkomunikasi. Misal, saat trimester awal, biasanya ibu hamil akan mengalami morning sicknes. Ajak janin bicara, “Alhamdulillah bunda muntah, nak. Ini tandanya tubuh bunda sedang beradaptasi. Mari nak kita berjuang bersama hingga nanti bertemu di dunia.”
Pasca bayi lahir, sesuai anjuran para ahli, pastikan untuk tidak memberikan gadget pada anak usia 0 – 5 tahun. Sekarang ini semakin banyak kasus ABK bermunculan. Sebagian besar disebabkan pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat, karena memberikan gadget terlalu dini. Akibatnya, anak kurang stimulasi.
Anak-anak yang speech delay, biasanya karena kurang diajak ngomong dua arah oleh orang tuanya. Atau kalau sudah diajak ngomong, bisa jadi orang tuanya tidak fokus saat mengajak bayinya ngomong. Misal, disambi dengan scrolling gadget atau melakukan aktivitas lainnya.
Penutup yang Bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara
Pukul 10.15, visitasi dari mahasiswa PAI UNWAHAS pun diakhiri. Bu Ni’mah memberikan pesan penutup yang sangat bermakna;
Dunia pendidikan adalah dunia yang indah dan nikmat. Menggeluti dunia pendidikan bukan sekadar untuk mengejar penghasilan, tetapi mencari keberkahan. Saat suatu aktivitas itu berkah, maka sedikitnya akan mencukupkan, dan banyaknya tidak melenakan
Bu Ni’mah juga menyampaikan bahwa memberikan stimulasi terbaik adalah ikhtiar yang bisa dilakukan manusia, tapi hak Allah SWT yang menentukan hasil akhirnya. Tak hanya itu, Bu Ni’mah juga berpesan, sebagai mahasiswa PAI UNWAHAS, ruhiyah Islam harus senantiasa dibawa. Apabila setiap aktivitas dikoneksikan kepada Allah SWT, semua yang tidak mungkin, insya Allah bisa menjadi mungkin.
Semoga catatan Bintang Juara terkait visitasi bermakna dari mahasiswa PAI UNWAHAS bisa memberikan manfaat bagi Ayah Bunda. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan kepada para guru dan Ayah Bunda dalam mendidik dan mengasuh kakak shalih-shalihah calon pemimpin muslim.***