fbpx
Cerita QLC Bagian Dua: Materi Keputrian dari Bu Ni’mah untuk Kakak Shalihah

Cerita QLC Bagian Dua: Materi Keputrian dari Bu Ni’mah untuk Kakak Shalihah

Salah satu kegiatan dalam Quranic Leadership Camp (QLC) 2024 SD Islam Bintang Juara pada Jum’at, 29 November 2024 adalah materi keputrian. Materi ini disampaikan langsung oleh Bu Ni’mah selaku Kepala Sekolah. Diambil dari kitab Riyadhus Shalihin, Bu Ni’mah menyampaikan materi ini sebelum kakak shalih-shalihah memulai Salat Zuhur.

Sementara kakak shalih beranjak ke masjid untuk melaksanakan Salat Jumat, Bu Ni’mah mengajak kakak shalihah melingkar di Ruang Connecting Lantai 1. Dengan bahasa yang ringan dan santai, Bu Ni’mah menyampaikan ilmu fiqih terkait aurat, haid, tata cara mandi besar kepada kakak shalih-shalihah.
Walau bahasannya cukup berat, karena disampaikan dengan cara yang asyik, juga ekspresi dan gestur yang hidup, kakak shalihah insyaAllah mampu menerima materinya dengan lebih mudah. Penasaran pesan-pesan apa saja yang disampaikan bu Ni’mah dalam materi keputrian, Ayah Bunda?

Tiga Hal Penting dalam Materi Keputrian

Pada sesi sebelum Salat Zuhur ini, Bu Ni’mah menitikberatkan pentingnya muslimah untuk belajar fiqih. Karena sebagai seorang perempuan, dari ujung rambut hingga ujung kaki ada banyak hal yang harus dijaga.

Bersyukurnya agama Islam telah memberikan aturan yang jelas tentang bagaimana muslimah menjaga dirinya. Dalam waktu yang cukup singkat, namun banyak sekali hikmah yang bisa dicatat dalam materi keputrian yang disampaikan bu Ni’mah siang ini.

1. Menjadi Muslimah Cerdas

Pada bagian pertama materi keputrian, Bu Ni’mah menyampaikan pentingnya menjadi muslimah yang cerdas. Yaitu muslimah yang tidak FOMO (Fear of Missing Out) alias suka ikut-ikutan tren. Sementara dalam Islam sudah jelas ada aturannya.

Dalam beberapa hadis juga disampaikan larangan untuk menyerupai orang kafir, salah satunya dalam Hadis Riwayat Abu Dawud dan Hasan;
Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.

Dalam hal ini, bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah berhati-hati ketika menyukai lagu-lagu barat, Korea atau Jepang. Terutama ketika kakak shalihah tidak memahami makna lagunya, karena ada lagu-lagu yang liriknya berisi tentang kemaksiatan.

2. Belajar Memakai Jilbab Segi Empat

Selanjutnya, Bu Ni’mah juga mengajak kakak shalihah, terutama yang sudah Kelas 6 dan bersiap untuk masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi, belajar cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat. Pertama, kakak wajib mengenakan ciput. Selain agar rambut bagian depan tidak keluar, ciput juga membantu menahan rambut bagian belakang tergerai. Bu Ni’mah memberikan tips kepada kakak shalihah untuk mengikat rambutnya lalu dimasukkan ke dalam ciput. Bagi kakak shalihah yang memiliki rambut panjang, rambutnya bisa digelung dan dirapikan ke dalam ciput.

Hal ini agar rambut bagian belakang kakak shalihah tidak mengintip, atau malah keluar dari jilbab. Rambut adalah bagian dari aurat perempuan, sehingga harus dipastikan rambut tidak boleh terlihat.

Kedua, kencangkan jilbab di bagian bawah dagu dengan jarum pentul atau peniti. Pastikan bagian ujung depan jilbab tidak menutup wajah. Muslimah memang perlu memiliki rasa malu, tetapi ada tempat dan waktunya.

Ketiga, kakak bisa menarik jilbab ke sisi bahu kanan atau kiri. Lalu kaitkan dengan peniti. Bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah tidak menggunakan jilbab dengan cara dililit di leher, pastikan panjang jilbab selalu menutup dada.

Bu Ni’mah juga membagikan tips lainnya terkait cara mengenakan jilbab segi empat. Di beberapa pondok tertentu, ada aturan yang melarang santrinya mengenakan jilbab yang ditarik ke bahu kanan/ kiri.

Agar aurat tetap terjaga, pastikan jangan ditali bagian bawah, tapi berikan peniti di bagian jilbab yang menjuntai. Sehingga saat kakak sedang beraktivitas, aurat tidak terlihat.

Pakai jilbab memang panas, kak… tapi lebih panas lagi api neraka,” ujar Bu Ni’mah saat menuntaskan bahasan tentang cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat.

galeri materi keputrian QLC

3. Aturan Memotong Rambut untuk Perempuan

Masih berkaitan dengan aurat, Bu Ni’mah juga membagikan pesan penting terkait rambut. “Lebih baik kakak shalihah memotong rambutnya di rumah, daripada di salon. Kecuali kakak bisa memastikan salon tersebut amanah dalam menjaga rambut kita yang telah terpotong tersebut,” kalimat Bu Ni’mah sebagai pengantar bahasan berikutnya dalam materi keputrian.

Rambut perempuan juga merupakan aurat, oleh karenanya penting untuk menjaganya, termasuk saat akan memotongnya. Bu Ni’mah berbagi pengalaman bagaimana beliau diajarkan oleh ayahnya cara menjaga rambut yang telah dipotong.

Setelah rambut dipotong, potongan rambut tersebut dikumpulkan lalu dikubur. Saat menguburnya, ada doa yang harus dibacakan. Bu Ni’mah juga mengajarkan kakak tentang doa ini. Seperti apa doanya? Coba Ayah Bunda bisa mengajak kakak shalihah untuk recalling ya, kira-kira kakak shalihah ingat tidak ya doa yang sudah diajarkan Bu Ni’mah ini.

4. Aturan Haid dan Tata Cara Mandi Besar

Di ujung materi keputrian, kak Adlina bertanya tentang hukum rambut yang rontok saat sedang haid. Dari pertanyaan tersebut, Bu Ni’mah lalu membahas sedikit tentang haid dan tata cara mandi besar.

Bu Ni’mah menyampaikan bahwa penting bagi kakak shalihah mencatat kapan haid dimulai. Bukan hanya tanggal, tetapi juga jam haid tersebut dimulai.
Apabila setelah hari kelima belas dari haid pertama, darah masih mengalir, maka darah tersebut dihukumi sebagai darah istiadhoh. Artinya, kakak shalihah tetap harus melaksanakan salat meski darah masih mengalir.

Bu Ni’mah juga menyampaikan penting bagi kakak shalihah untuk mengumpulkan rambut yang rontok, dan kuku yang dipotong saat sedang haid. Nanti ketika sudah dalam keadaan bersih, dan akan melaksanakan mandi junub, potongan rambut dan kuku tersebut bisa ikut disucikan.

Terkait mandi besar, bu Ni’mah juga berpesan bahwa air yang digunakan untuk membasahi rambut dan tubuh haruslah dalam kondisi mengalir. Oleh karenanya, berhati-hati apabila kakak shalihah mandi menggunakan bak atau ember. Apabila airnya tidak sejumlah dua kulah, maka air tersebut masuk kategori dalam air musta’mal. Air ini dihukumi sebagai air yang suci tapi tidak bisa mensucikan.

Bagi yang tidak memiliki shower di rumahnya, Bu Ni’mah menyarankan untuk mandi di bawah kran yang dinyalakan. Hal itu jauh lebih aman dalam mensucikan.

Tak lupa Bu Ni’mah juga mengajarkan doa yang harus dibaca saat melakukan mandi besar usai tuntas haid, yaitu;

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’aalaa.

Artinya, “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah Ta’ala.”

Demikian sepenggal cerita Quranic Leadership Camp bagian dua tentang materi keputrian yang bisa kami bagikan. Semoga bermanfaat dan nantikan cerita keseruan QLC selanjutnya, Ayah Bunda!***(CM-MRT)

Karunia Konsistensi dalam Pengasuhan Anak: Kunci Membangun Kepercayaan dan Karakter Anak

Karunia Konsistensi dalam Pengasuhan Anak: Kunci Membangun Kepercayaan dan Karakter Anak

Pada hari kedua Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA), Ahad, 17 November 2024, di Hotel Candi Convention Semarang, peserta diberikan pemahaman mendalam tentang Karunia Konsistensi dalam pengasuhan. Materi ini menekankan bahwa konsistensi adalah elemen vital yang harus dimiliki orang tua untuk menerapkan batasan, menularkan pengaruh baik, dan membangun kepercayaan anak kepada orang tua.

Karunia Konsistensi: Pilar Utama Pengasuhan

Konsistensi dalam pengasuhan berarti keselarasan antara ucapan dan tindakan yang diterapkan secara berulang. Ketika orang tua konsisten dalam menerapkan batasan—misalnya menetapkan aturan waktu tidur atau penggunaan gadget—anak akan belajar memahami dan menghormati aturan tersebut. Lebih penting lagi, konsistensi memberikan rasa aman karena anak tahu apa yang diharapkan dari mereka.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi sebagian besar orang tua saat ini adalah perbedaan antara tegas dan keras. Banyak orang tua tanpa sadar menerapkan pola asuh yang keras tetapi lembek—keras dalam bicara, namun tidak menindaklanjuti dengan batasan dan konsekuensi yang jelas. Ini berpotensi membingungkan anak dan melemahkan otoritas orang tua.

Sebaliknya, tegas berarti bersikap lembut namun tetap konsisten dalam menegakkan aturan. Tegas bukanlah sinonim dari kasar, melainkan kemampuan untuk memberikan arahan yang jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan kepada anak.

Menjadi Orang Tua Tegas, Bukan Keras

Untuk melatih konsistensi, Ayah Bunda perlu menjadi sosok yang tegas namun lembut. PR (pekerjaan rumah) dari Abah dalam modul ini menekankan komitmen untuk menjadi orang tua yang:

  • Tegas, bukan kasar: Menyampaikan aturan dengan nada yang tenang dan bahasa yang jelas tanpa kekerasan verbal maupun fisik.
  • Lembut, bukan lembek: Memberikan kasih sayang, namun tetap berpegang teguh pada batasan yang sudah ditetapkan.
    Ayah Bunda juga diminta untuk membiasakan diri berbicara sedikit namun bertindak lebih banyak. Ketika anak melanggar aturan atau bersikap berlebihan, respon terbaik bukanlah dengan banyak bicara, melainkan dengan memberikan konsekuensi logis yang telah disepakati sebelumnya.

Misalnya, jika anak tidak membereskan mainan setelah bermain, orang tua tidak perlu mengomel panjang lebar. Cukup katakan, “Mainan ini akan disimpan selama sehari karena kamu tidak merapikannya,” lalu laksanakan konsekuensi tersebut dengan tenang. Pendekatan ini mengajarkan anak untuk memahami sebab-akibat dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

galeri PSPA hari kedua

Manfaat Jangka Panjang Konsistensi

Konsistensi memberikan banyak manfaat jangka panjang, baik bagi anak maupun orang tua. Anak akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri, disiplin, dan mampu membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak dini. Selain itu, hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih harmonis karena anak merasa dipercaya dan dihormati.

Sebaliknya, inkonsistensi dapat memicu ketidakpercayaan dan kebingungan pada anak. Mereka mungkin merasa aturan yang diterapkan tidak adil atau tidak relevan, sehingga memilih untuk memberontak atau mengabaikan arahan orang tua.

Komitmen Mulai Hari Ini

Melalui modul ketiga ini pada PSPA hari kedua, Ayah Bunda diajak untuk mulai melatih diri menjadi teladan yang konsisten. Komitmen “Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh melatih diri untuk menjadi orang tua yang TEGAS bukan KASAR, dan LEMBUT bukan LEMBEK” adalah langkah awal menuju pengasuhan yang lebih efektif. Dengan menciptakan batasan yang jelas dan menegakkan konsekuensi yang adil, orang tua tidak hanya membantu anak berkembang, tetapi juga memperkuat hubungan yang penuh kepercayaan dan kasih sayang.

Konsistensi adalah karunia yang, jika dilatih dengan kesungguhan, akan membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Mari bersama melangkah menjadi orang tua yang lebih baik, demi masa depan anak-anak yang cemerlang. Selamat mempraktikkan Program 1821 dan juga batasan yang jelas pada anak, Ayah Bunda.***(CM-MRT)

Program 1821: Membangun Kualitas Hubungan Orang Tua dan Anak

Program 1821: Membangun Kualitas Hubungan Orang Tua dan Anak

Pada Sabtu, 16 November 2024, bertempat di Hotel Candi Indah Convention Semarang, Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) resmi dimulai dengan sesi pertama bertajuk Karunia Fitrah. Dalam sesi ini, Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari menyampaikan konsep penting yang menjadi landasan pengasuhan anak, yaitu Program 1821. Program ini menekankan pentingnya orang tua menyediakan waktu berkualitas bagi anak untuk menjaga dan merawat fitrah yang telah Allah anugerahkan.

galeri PSPA hari pertama

Apa Itu Program 1821?

Program 1821 merupakan panduan praktis bagi orang tua untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak. Inti dari program ini adalah komitmen orang tua untuk sepenuhnya hadir bersama anak dari pukul 18.00 hingga 21.00.

Selama periode ini, orang tua diwajibkan menyingkirkan segala bentuk gangguan yang berasal dari perangkat berbentuk kotak, seperti televisi, ponsel, laptop, hingga kompor. Dengan begitu, fokus utama orang tua benar-benar tertuju pada kegiatan bersama anak.

Meski disebut dengan Program 1821, tetapi Ayah Bunda bisa mengganti pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keluarga masing-masing. Namun waktu paling ideal adalah jam tersebut, dikarenakan biasanya di jam-jam itu Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah sudah berada di rumah.

Program ini tidak hanya mengajarkan kedekatan fisik, tetapi juga kedekatan emosional melalui tiga kegiatan utama yang disebut 3B:

1. Bermain (Serius, Bukan Main-main)

Bermain di sini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi melibatkan keterlibatan penuh dari orang tua. Bermain secara serius menunjukkan bahwa orang tua memberikan perhatian penuh, mendukung perkembangan imajinasi dan kreativitas anak.

2. Bicara (Ngobrol yang Nggak Penting Itu Penting)

Berkomunikasi dengan anak dalam suasana santai, tanpa topik berat atau terlalu serius, membantu membangun kepercayaan. Percakapan sederhana ini menjadi momen di mana anak merasa dihargai dan diterima.

3. Belajar (Baca Buku atau Aktivitas Edukatif Lain)

Membaca bersama atau mendiskusikan sesuatu yang bermanfaat membantu menanamkan kecintaan anak terhadap ilmu. Aktivitas ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai positif secara langsung.

program 1821 Abah Ihsan

Menjaga Fitrah Anak melalui Kehadiran Berkualitas

Dalam modul Karunia Fitrah, Abah Ihsan menjelaskan bahwa setiap anak lahir dengan potensi baik yang disebut fitrah. Namun, menjaga fitrah ini memerlukan upaya dari orang tua untuk terus mendampingi anak, terutama dalam periode emas perkembangan mereka. Program 1821 hadir sebagai langkah nyata bagi orang tua untuk merawat fitrah anak-anak melalui kedekatan yang hangat dan konsisten.

Fitrah anak dapat terdistorsi jika orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan atau distraksi lainnya. Dengan menyediakan waktu khusus seperti dalam Program 1821, orang tua dapat memastikan bahwa hubungan mereka dengan anak tetap harmonis dan mendukung pertumbuhan karakter yang kuat.

Tantangan dan Komitmen

Menerapkan Program 1821 mungkin tidak mudah bagi sebagian orang tua yang terbiasa multitasking atau terikat dengan pekerjaan hingga malam hari. Namun, Abah Ihsan menekankan bahwa perubahan kecil dalam jadwal harian dapat membawa dampak besar. Dengan niat yang tulus dan disiplin, orang tua dapat menciptakan kebiasaan baru yang bermanfaat bagi keluarga.

Mengingat menerapkan kegiatan ini butuh komitmen dan pembiasaan yang rutin, Abah Ihsan menjadikan Program 1821 sebagai salah satu ‘PR” yang harus dilakukan para peserta PSPA hari pertama. Tentunya bagi Ayah Bunda yang belum berkesempatan ikut belajar bersama Abah Ihsan pada PSPA kali ini, boleh juga lo berjamaah bersama menerapkan program ini di rumah.

Menyongsong Generasi yang Lebih Baik

Program 1821 bukan sekadar metode pengasuhan, tetapi juga investasi untuk masa depan anak-anak. Dengan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan anak selama minimal tiga jam setiap hari, orang tua tidak hanya mendidik tetapi juga menjadi teladan bagi mereka. Hubungan yang erat ini akan menjadi fondasi kuat bagi anak-anak untuk tumbuh sebagai individu yang percaya diri, berkarakter baik, dan memiliki hubungan yang sehat dengan orang tua mereka.

Melalui Program 1821, Abah Ihsan mengajak setiap orang tua untuk merenungkan peran mereka, mengutamakan kedekatan dengan anak, dan memastikan bahwa setiap momen berharga yang dilewati bersama menjadi bagian dari perjalanan yang bermakna. Karena di balik setiap anak yang hebat, selalu ada orang tua yang hadir sepenuh hati.

Jika di hari pertama, Ayah Bunda peserta PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) mendapat PR untuk melaksanakan Program 1821, kira-kira di hari kedua nanti akan mendapat tantangan bermakna apa lagi ya?*** (CM-MRT)

Bioskop Literasi: Kegiatan Literasi Inspiratif Menyemarakkan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara

Bioskop Literasi: Kegiatan Literasi Inspiratif Menyemarakkan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara

Pada Jumat, 13 September 2024, SD Islam Bintang Juara menggelar kegiatan literasi yang unik dan inspiratif dalam rangka menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan bertajuk Bioskop Literasi ini melibatkan kakak shalih-shalihah dari kelas Oryza Sativa (Kelas 6) sebagai event organizer utama.

Kegiatan ini merupakan praktik nyata usai pelaksanaan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bertema Goal Setting and Daily Planner. Setelah mendapatkan materi bagaimana menetapkan tujuan dan membuat rancangan harian, kakak shalih-shalihah Kelas 6 langsung praktik dengan menjadi Event Organizer (EO) Bioskop Literasi.

Sebelum mulai menjalankan perannya sebagai EO, kakak shalih-shalihah menyusun terlebih dahulu kepanitiannya. Adapun kepanitiaan dalam kegiatan ini:

  • Koordinator: Kak Fillah
  • Wakil Koordinator: Kak Attaar
  • Perlengkapan: Kak Raffie, Kak Sulthan, Kak Kael, Kak Arkan, Kak Alta
  • Bendahara: Kak Sachi, Kak Ade, Kak Kayla
  • Sekretaris: Kak Aisya, Kak Adlina, Kak Khalisa
  • Dekorasi: Kak Haya, Kak Ninda, Kak Jingga, Kak Rara
  • Keamanan: Kak Adrian, Kak Arsyad, Kak Mirza, Kak Calief
  • Acara: Kak Dea, Kak Jibril, Kak Firman, Kak Naina

Tidak hanya sekadar menonton film, acara ini dikemas dengan penuh kreativitas yang melibatkan berbagai unsur literasi dan penguatan karakter Islami.

galeri bioskop literasi SD Islam Bintang Juara

Bioskop Literasi: Menggabungkan Visual dan Literasi

Bioskop Literasi merupakan kegiatan yang dirancang untuk memperkenalkan nilai-nilai kehidupan Nabi Muhammad SAW melalui media film. Menggabungkan unsur visual dengan literasi, kegiatan ini bertujuan untuk memupuk rasa ingin tahu, berpikir kritis, serta mendiskusikan nilai-nilai luhur yang dapat diambil dari kehidupan Rasulullah.

SD Islam Bintang Juara menghadirkan acara ini sebagai cara kreatif untuk memperkenalkan ajaran-ajaran Islam kepada kakak shalih-shalihah dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan. Dengan menonton tayangan edukatif bertema Islami, diharapkan kakak shalih-shalihah tidak hanya terhibur, tetapi juga terinspirasi untuk menerapkan nilai-nilai positif yang disampaikan dalam video yang ditayangkan.

Kakak Shalih-Shalihah Kelas Oryza Sativa Sebagai Event Organizer

Hal yang membuat Bioskop Literasi di SD Islam Bintang Juara lebih istimewa adalah keterlibatan kakak shalih-shalihah kelas Oryza Sativa sebagai penyelenggara acara. Kakak shalih-shalihah kelas 6 bertanggung jawab penuh atas seluruh proses pelaksanaan acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan hari H.

Beberapa tugas penting yang mereka lakukan antara lain:

1. Menyiapkan Media Promosi

Sebelum acara berlangsung, kakak shalih-shalihah kelas Oryza Sativa mendesain poster, selebaran, dan membuat pengumuman di sekolah untuk mengundang adik-adik kelas menghadiri acara ini. Kreativitas mereka terlihat dari poster yang penuh warna dan menarik perhatian siswa-siswa lainnya.

2. Mengatur Perlengkapan Menonton

Untuk memastikan kelancaran acara, kakak shalih-shalihah juga mengatur perlengkapan teknis seperti layar proyektor, laptop, dan sound system. Mereka bekerja sama memastikan bahwa semua alat berfungsi dengan baik sebelum acara dimulai.

3. Pengelolaan Ticketing

Tiket untuk menonton film ini dibuat oleh kakak-kakak kelas Oryza Sativa. Mereka mencetak dan membagikan tiket kepada adik-adik kelas yang ingin menonton. Meskipun acara ini gratis, adanya sistem tiket membuat acara terkesan lebih profesional dan tertib.

4. Menyambut Tamu dan Memberikan Tata Tertib

Sebelum acara dimulai, para kakak Oryza Sativa menyambut adik-adik kelas dengan ramah di pintu masuk. Mereka juga memberikan penjelasan tentang tata tertib selama acara berlangsung, seperti menjaga ketenangan, tidak meninggalkan sampah, dan fokus menyimak film yang diputar.

5. Mengoperasikan Laptop dan Menayangkan Video

Dalam peran teknis, kakak-kakak kelas 6 juga bertugas mengoperasikan laptop dan memastikan film berjalan dengan lancar. Dengan koordinasi yang baik, mereka sukses menjalankan acara tanpa kendala teknis yang berarti.

Video yang Diputar dan Nilai-Nilai yang Disampaikan

Video yang diputar dalam acara ini adalah video Bincang Literasi antara Salma dan Pak Arif Wibowo, S.Hi., S.H., yang bercerita tentang kisah hidup Nabi Muhammad SAW, utamanya bagaimana Rasulullah SAW dalam menjaga lingkungan.

Video ini menyoroti berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Nabi terkait menjaga lingkungan, seperti tidak boros air ketika berwudhu dan ajakan untuk menanam pohon. Dengan visual yang menarik, video produksi Cipta Media Digital ini berhasil menarik perhatian adik-adik kelas yang hadir.

Setelah menonton video, acara dilanjutkan dengan mengisi LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang telah disiapkan oleh Bu Nawang selaku Tim Litbang Sekolah Islam Bintang Juara.

Apakah Ayah Bunda penasaran dengan video yang ditonton kakak shalih-shalihah pada kegiatan Bioskop Literasi? Silakan Ayah Bunda bisa ikut menyimak videonya:

Respon Positif dari Peserta

Adik-adik kelas 1-5 yang hadir dalam acara Bioskop Literasi ini tampak antusias sejak awal hingga akhir acara. Mereka merasa senang bisa menonton video yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga.

“Realistik, kaya bioskop beneran,” ujar kak Syabil kelas 5 yang ikut menonton.

Kesimpulan: Bioskop Literasi Lebih dari Sekadar Menonton

Bioskop Literasi di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menonton film, tetapi juga tentang bagaimana kegiatan ini mampu memupuk minat baca, memperkuat nilai-nilai moral Islami, dan membangun karakter siswa. Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah tidak hanya diajak untuk menyimak video, tetapi juga memahami isi video agar bisa menuntaskan tantangan yang diberikan.

Sementara itu, bagi kakak-kakak kelas Oryza Sativa, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga dalam bekerja sama, berorganisasi, dan bertanggung jawab. Mereka tidak hanya belajar mengelola acara, tetapi juga merasakan kepuasan tersendiri saat melihat acara berjalan lancar dan adik-adik kelas menikmati kegiatan yang mereka persiapkan dengan sepenuh hati.

Ayah Bunda ingin tahu bagaimana kegiatan Bioskop Literasi berlangsung? Silakan menyimak video berikut:

Bioskop Literasi yang diadakan di SD Islam Bintang Juara merupakan contoh kegiatan literasi inspiratif yang mampu menggabungkan pendidikan, hiburan, dan penguatan karakter Islami. Dengan melibatkan kakak shalih-shalihah dalam penyelenggaraan acara, kegiatan ini tidak hanya sukses menyemarakkan perayaan Maulid Nabi, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi para peserta dalam menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan saling peduli.***

BBOT Nan Inspiratif: Goal Setting and Daily Planner

BBOT Nan Inspiratif: Goal Setting and Daily Planner

Goal Setting and Daily Planner merupakan tema dari BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pembuka yang dilaksanakan di Kelas 6. Bersama Bunda Lis Setiyowati, bunda dari Kak Jibril, kakak kelas 6 diajak untuk menetapkan tujuan dan membuat rencana harian.

Belajar Goal Setting and Daily Planner bersama Bunda Kak Jibril

Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, kakak shalih-shalihah menghadapi berbagai tantangan yang lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, informasi yang terus-menerus mengalir, serta tekanan akademik dan sosial yang meningkat, membuat kakak shalih-shalihah perlu memiliki keterampilan yang memungkinkan mereka untuk tetap fokus, terorganisir, dan produktif.

Salah satu cara yang efektif untuk membantu kakak shalih-shalihah menghadapi tantangan ini adalah dengan mengajarkan mereka untuk menyusun “goal setting” (penetapan tujuan) dan “daily planner” (perencana harian). Secara keseluruhan, “goal setting” dan “daily planner” adalah alat penting yang membantu kakak shalih-shalihah mengembangkan keterampilan manajemen diri, memperkuat karakter, dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik.

Inilah mengapa sangat penting untuk mengajarkan konsep-konsep ini kepada kakak shalih-shalihah sejak dini, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang sukses, terorganisir, dan memiliki arah yang jelas dalam hidup. Dengan program BBOT kali ini, siswa akan dibekali dengan informasi mengenai penyusunan “goal setting” dan “daily planner” yang nantinya dapat langsung diterapkan dalam berbagai kegiatan.

Bersama Bunda Kak Jibril, pada hari Rabu, 4 September 2024, kakak shalih-shalihah kelas 6 belajar secara langsung bagaimana cara menetapkan tujuan dan merancang rencana harian. Bunda Kak Jibril memberikan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari tentang bagaimana menetapkan tujuan yang spesifik dan relevan bagi kakak shalih-shalihah kelas 6.

Metode SMART dalam Menetapkan Tujuan

Dalam menetapkan tujuan, Bunda Kak Jibril menyampaikan sebuah metode yang biasa digunakan oleh para profesional, yaitu Metode SMART, meliputi:

  • Spesific – Membuat tujuan yang hendak dicapai sejelas dan sedetail mungkin. Misalnya: “Aku ingin bisa berbahasa Inggris”. Tujuan ini masih kurang spesifik. Bunda Jibril memberikan contoh agar mengubahnya lebih detail lagi seperti ini, “Aku ingin lancar speaking English dalam waktu 1 bulan dengan latihan speaking minimal 30 menit sehari.”
  • Measurable – Memiliki cara untuk mengukur kemajuan dalam mencapai goal tersebut. Misalnya: untuk mencapai tujuan lancar berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, dapat diukur dengan berani berbincang dengan native speaker dan memahami apa yang disampaikan oleh native speaker. Sementara jika tujuannya adalah memiliki kemampuan tata bahasa (grammar) yang baik, dapat diukur dengan beragam tes bahasa inggris, salah satunya dengan tes TOEFL.
  • Achievable: Tujuan harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Contohnya: jika ingin lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris, maka kakak shalih-shalihah harus meningkatkan kekayaan kosa kata dan belajar tata bahasa terlebih dahulu.
  • Relevant: Pastikan tujuan yang hendak dicapai selaras dengan goal jangka panjang. Contohnya: ingin menguasai Bahasa Inggris karena mempunyai mimpi untuk kuliah di New York.
  • Time Bound: Tetapkan batas waktu dalam mencapai goal tersebut. Dalam contoh di awal sudah dikatakan Time Bound untuk mencapai goal tersebut, yaitu lancar speaking English selama 1 bulan.

galeri BBOT Goal Setting and Daily Planner

Merancang Daily Plan dan Melakukan Refleksi

Selain belajar menetapkan tujuan, kakak shalih-shalihah juga diajak praktik secara langsung menyusun daily planner. Sebelum praktik, Bunda Kak Jibril menyampaikan bahwa fungsi daily planner dapat membantu kakak shalih-shalihah dalam mengelola waktu dan menyelesaikan tugas-tugas harian mereka.

Setelah itu, Bunda Kak Jibril memaparkan bagaimana cara merencanakan langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan. Yaitu dengan memandu kakak shalih-shalihah dalam memecah tujuan besar mereka menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dilakukan setiap hari atau minggu.

Sebagai penutup, Bunda Kak Jibril menjelaskan pentingnya evaluasi dan refleksi dalam mencapai tujuan, serta bagaimana kakak shalih-shalihah dapat mengukur kemajuan mereka. Bunda Kak Jibril memandu kakak shalih-shalihah dalam membuat catatan evaluasi sederhana untuk melihat apakah mereka mencapai target harian atau mingguan mereka.

Namun, istimewanya BBOT kali ini tidak hanya berhenti sampai materi selesai disampaikan, Ayah Bunda. Agar kakak shalih-shalihah lebih bersemangat dalam untuk mempraktikkan Goal Setting and Daily Planner, kakak shalih-shalihah kelas 6 mendapat tugas sebagai event organizer dalam kegiatan “Bioskop Literasi”.

Seperti apakah kegiatan Bioskop Literasi berlangsung? Simak cerita Bintang Juara berikutnya ya. Ngomong-ngomong, Ayah Bunda sudah menjalankan Goal Setting and Daily Planner jugakah di rumah?***