fbpx
Khusyuknya ANBK 2025 di SD Islam Bintang Juara yang Bikin Anak Makin Siap Jadi Pemimpin Hebat

Khusyuknya ANBK 2025 di SD Islam Bintang Juara yang Bikin Anak Makin Siap Jadi Pemimpin Hebat

Senin pagi, 29 September 2025, ruang laboratorium komputer SD Islam Bintang Juara tampak lebih hidup dari biasanya. Kakak-kakak kelas 5, dengan wajah penuh semangat, memasuki ruangan dengan seragam rapi dan hati yang siap. Mereka akan mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Tahun Pelajaran 2025–2026, kegiatan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni Senin dan Selasa, 29–30 September 2025.

Suasana terasa campur aduk—ada rasa antusias, sedikit gugup, tapi juga bangga. Bu Icha, Pak Amir dan seorang guru pengawas dari luar sekolah berdiri menyambut mereka sambil memberi senyum penyemangat.

Tenang ya, ini bukan ujian untuk menilai kamu. Ini kesempatan untuk menunjukkan bagaimana kamu berpikir, memahami, dan menyelesaikan masalah,”
ujar salah satu guru pengawas dengan lembut.

Belajar Lebih dari Sekadar Ujian

Bagi SD Islam Bintang Juara, pelaksanaan ANBK bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi bagian dari perjalanan pendidikan yang bermakna. ANBK menjadi sarana evaluasi mutu pendidikan nasional yang tidak menilai individu, melainkan mengukur proses belajar di satuan pendidikan secara keseluruhan.

Kakak kelas 5 yang menjadi peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Dengan panduan guru pendamping, mereka mengerjakan soal berbasis literasi membaca dan numerasi menggunakan perangkat komputer di ruang laboratorium yang telah disiapkan dengan rapi dan nyaman.

Setiap anak duduk di depan layar, menatap soal demi soal yang dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, memahami teks, dan menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Tidak ada tekanan nilai—yang ada hanyalah pengalaman belajar baru yang melatih kemandirian, tanggung jawab, dan fokus.

Manfaat ANBK bagi Peserta Didik

Kegiatan ANBK memberi banyak manfaat, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar yang sedang membangun dasar berpikir dan karakter belajar.
Berikut beberapa di antaranya:

  • Melatih Berpikir Kritis dan Reflektif – Soal-soal ANBK tidak sekadar hafalan, tetapi menuntut kemampuan memahami konteks dan mengambil keputusan logis.
  • Menumbuhkan Literasi dan Numerasi Fungsional – Anak belajar memahami teks dan angka bukan sekadar teori, tetapi bagaimana keduanya hadir dalam kehidupan nyata.
  • Meningkatkan Adaptasi terhadap Teknologi – Karena berbasis komputer, peserta menjadi lebih terbiasa dengan teknologi digital—keterampilan penting untuk generasi masa depan.
  • Membentuk Karakter Tangguh dan Mandiri – Anak belajar mengelola waktu, menjaga konsentrasi, dan menghadapi situasi baru dengan percaya diri.

Persiapan yang Matang dan Dukungan Hangat

Sebelum hari pelaksanaan, guru-guru SD Islam Bintang Juara telah memberikan pembekalan dan simulasi agar peserta terbiasa menggunakan sistem ANBK. Dari cara login, membaca petunjuk soal, hingga teknik menjawab dengan efisien—semuanya dipandu dengan sabar dan telaten.

Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., selaku Kepala Sekolah, menyampaikan harapannya:

“ANBK bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi bagaimana sekolah terus belajar memperbaiki diri. Kami ingin setiap anak belajar dengan bahagia, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.”

Kegiatan pun berjalan lancar. Setiap sesi terasa menyenangkan dan bermakna. Di sela-sela kegiatan, terlihat guru dan peserta saling memberi semangat. Tidak ada wajah tegang—yang ada hanyalah raut bangga dan rasa ingin tahu yang terus tumbuh.

Evaluasi untuk Masa Depan Lebih Baik

Hasil ANBK nantinya akan menjadi bahan refleksi bagi sekolah untuk terus memperkuat mutu pembelajaran, baik dari segi akademik maupun karakter. SD Islam Bintang Juara percaya bahwa pendidikan sejati adalah perjalanan bersama antara guru, murid, dan orang tua dalam menumbuhkan generasi beradab, kreatif, dan berdaya saing global.

Kami ingin setiap anak belajar dengan hati, bukan sekadar mengejar angka,” tambah Bu Ni’mah.

🔗 Baca Juga:

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan ANBK di tahun sebelumnya berlangsung dan apa saja pembelajarannya, yuk baca di artikel berikut 👉
Pelaksanaan ANBK Tahun Pelajaran 2024–2025 di SD Islam Bintang Juara.

Penutup

ANBK 2025 di SD Islam Bintang Juara bukan hanya kegiatan asesmen nasional, melainkan momentum belajar bersama — belajar untuk jujur, berpikir kritis, dan percaya pada kemampuan diri.

Dengan semangat kebersamaan, anak-anak belajar bahwa menjadi “bintang juara” bukan berarti harus selalu menjadi yang terbaik, tapi terus tumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Karena di SD Islam Bintang Juara, setiap langkah kecil selalu berarti — mindful, meaningful, dan joyful.***(CM-MRT)

Rapor Tengah Semester & Parenting Class: Sinergi Orang Tua–Sekolah di SD Islam Bintang Juara

Rapor Tengah Semester & Parenting Class: Sinergi Orang Tua–Sekolah di SD Islam Bintang Juara

Sabtu, 27 September 2025, aula SD Islam Bintang Juara dipenuhi suasana hangat penuh harapan. Hari itu bukan sekadar jadwal pembagian rapor tengah semester, melainkan juga momentum berharga bagi sekolah dan orang tua untuk memperkuat sinergi dalam mendidik generasi penerus.

Keistimewaan Rapor 4 Kali Setahun

Biasanya, orang tua menerima rapor hanya dua kali setahun. Namun, SD Islam Bintang Juara memiliki keistimewaan: laporan perkembangan anak dibagikan empat kali setahun.

Manfaat dari sistem ini begitu terasa. Orang tua bisa:

  • Memantau perkembangan anak lebih cepat. Tidak perlu menunggu hingga akhir semester untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
  • Mendukung anak tepat waktu. Jika ada kesulitan belajar atau tantangan emosi, orang tua bisa langsung membantu dengan strategi yang sesuai.
  • Menumbuhkan kolaborasi aktif. Guru dan orang tua berjalan bersama, bukan saling menunggu.

Inilah salah satu bukti nyata bahwa SD Islam Bintang Juara konsisten menghadirkan pendidikan yang mindful, meaningful, dan joyful.

Parenting Class: Belajar Jadi Orang Tua yang Lebih Sadar

Khusus bagi wali murid kelas 3, setelah menerima rapor, mereka mendapat kesempatan istimewa mengikuti Parenting Class dengan tema “Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Kemampuan Regulasi Emosi dan Keterampilan Sosial Anak.

Materi ini disampaikan langsung oleh Bunda Vivi Psikolog sekaligus Ketua Yayasan Dewi Sartika. Dalam penyampaiannya, Bunda Vivi mengingatkan:

“Belajar parenting membuat kita menyadari bahwa kita sebagai manusia punya banyak kekurangan dalam mendidik anak. Maka, niatkan untuk silaturahim dan menguatkan diri. Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan anak agar hidup selamat, bermanfaat, dan kelak berkumpul bersama di surga.”

Regulasi Emosi dan Keterampilan Sosial: Bekal Utama Anak

Bunda Vivi Psikolog menegaskan bahwa setiap anak lahir dengan fitrah: iman, kebaikan, dan potensi unggul. Namun, potensi itu hanya bisa berkembang bila anak dilatih mengelola emosi dan membangun keterampilan sosial.

Beberapa kemampuan dasar yang perlu diperhatikan sejak dini antara lain:

  • Mengelola emosi: anak belajar menenangkan diri saat marah atau kecewa.
  • Kemandirian: berani mengambil keputusan sederhana.
  • Berbahasa: mampu menyampaikan perasaan dengan sopan.
  • Pemaknaan belajar: melihat belajar sebagai hal positif, bukan beban.

Tentu, perjalanan ini tak selalu mudah. Salah satu tantangan besar orang tua masa kini adalah adikasi gadget.

Gadget: Antara Manfaat dan Bahaya

Bunda Vivi Psikolog menguraikan dua sisi gadget. Di satu sisi, gadget bisa bermanfaat sebagai sumber informasi, hiburan, dan melatih keterampilan teknologi. Namun di sisi lain, jika tidak didampingi, gadget bisa menimbulkan dampak negatif: gangguan kesehatan mata, kurang fokus, hingga kesulitan berinteraksi sosial.

Anak lebih tertarik pada gadget mungkin karena orang tua belum mampu menjadi sumber informasi dan hiburan utama bagi mereka,” pesan Bunda Vivi Psikolog yang membuat banyak orang tua merenung.

Peran Ayah dan Bunda yang Saling Melengkapi

Parenting bukan hanya tugas seorang ibu. Ayah pun memiliki peran besar. Ayah memberi tantangan, ketegasan, dan teladan, sementara bunda memberi kelembutan, perhatian, serta dukungan emosional.

Pedoman utama parenting tetaplah Al-Qur’an dan Hadist, dengan prinsip 3K: Kelekatan Emosi, Komunikasi Empati, dan Konsistensi.

  • Kelekatan emosi: hadir penuh untuk anak, tanpa distraksi gadget.
  • Komunikasi empati: mendengar aktif, memahami perasaan anak, dan merespons dengan bahasa penuh hikmah.
  • Konsistensi: membesarkan anak dengan aturan yang jelas dan teladan nyata, tanpa kekerasan.

Penutup: Sinergi yang Menguatkan

Kegiatan rapor tengah semester dan parenting class hari itu bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah perjalanan bersama antara sekolah dan orang tua.

Dengan rapor 4 kali setahun, orang tua lebih terlibat. Dengan parenting class, orang tua lebih terarah. Dan dengan sinergi ini, anak-anak SD Islam Bintang Juara tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara emosional, beradab, dan siap menjadi generasi yang bermanfaat.***(CM-MRT)

Leadership Journey Day 5: Anak SD Islam Bintang Juara Belajar Life Skill dengan Seru!

Leadership Journey Day 5: Anak SD Islam Bintang Juara Belajar Life Skill dengan Seru!

Hari Jumat, 26 September 2025 menjadi momen yang tak terlupakan bagi keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Pada Leadership Journey Day 5, suasana sekolah tampak berbeda. Kali ini, kakak shalih dan shalihah tidak diajak menjelajah hutan, melukis dengan bahan alami, atau bermain game petualangan. Mereka diajak melakukan hal yang sederhana, namun penuh makna: bersih-bersih lingkungan sekolah.

Ya, di SD Islam Bintang Juara, belajar tidak hanya soal adab dan ilmu, tapi juga keterampilan hidup atau life skill. Karena seorang calon pemimpin sejati bukan hanya pintar berbicara dan berprestasi di akademik, tetapi juga tahu cara menjaga kebersihan, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Pembukaan yang Inspiratif

Pagi itu, anak-anak dibagi dalam kelompok kecil. Ada yang bertugas menyapu, ada yang mengepel, ada yang melap meja dan kursi, bahkan ada yang merapikan peralatan kelas.

Menariknya, kegiatan ini dipandu langsung oleh Bunda Vivi Psikolog sekaligus Ketua Yayasan Dewi Sartika. Beliau turun langsung, memberikan pijakan sederhana namun penting kepada kakak kelas 4–6. Dengan sabar, Bunda Vivi Psikolog menunjukkan cara memegang sapu dengan benar, menyapu dari sudut ruangan ke arah tengah, mengepel agar lantai cepat kering, hingga melap meja agar bersih dan bebas debu.

Anak-anak hebat bukan hanya yang rajin belajar, tapi juga yang peduli menjaga kebersihan. Kalau lingkunganmu bersih, pikiranmu juga jadi jernih,” begitu pesan Bunda Vivi Psikolog yang membuat anak-anak makin bersemangat.

Kolaborasi Kakak Shalih dan Shalihah

Pemandangan luar biasa tampak di setiap sudut sekolah. Kakak shalih dengan penuh tanggung jawab mengambil peran memegang sapu, sementara kakak shalihah sibuk mengepel dengan telaten. Ada juga kelompok kecil yang saling bahu-membahu mengangkat kursi agar mudah dibersihkan.

Gelak tawa sesekali pecah saat air pel tercecer atau debu tak sengaja beterbangan. Tapi justru momen inilah yang mengajarkan arti kerja sama: ketika ada yang kesulitan, yang lain segera membantu.

Belajar Tanggung Jawab Sejak Dini

Bersih-bersih bukan sekadar aktivitas fisik. Di balik itu, ada nilai karakter yang ditanamkan: tanggung jawab, kepedulian, dan disiplin. Anak-anak belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, melainkan kewajiban semua warga sekolah.

Mereka pun mulai menyadari bahwa lingkungan yang rapi membuat suasana belajar jadi lebih menyenangkan. Dengan meja yang kinclong dan lantai yang wangi, hati pun terasa lebih ringan untuk menimba ilmu.

Lebih dari Sekadar Sapu dan Pel

Leadership Journey Day 5 membuktikan bahwa life skill sederhana bisa memberikan pengalaman yang membekas. Anak-anak bukan hanya belajar teknik bersih-bersih, tetapi juga melatih motorik, kemandirian, serta rasa memiliki terhadap sekolah mereka.

Bunda Vivi menutup kegiatan dengan refleksi singkat. Beliau menegaskan bahwa calon pemimpin masa depan harus rendah hati dan siap melakukan pekerjaan apapun, sekecil apapun itu. Bahkan, seorang pemimpin sejati tidak akan segan mengambil sapu untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua.

Penutup yang Menginspirasi

Leadership Journey hari kelima ini mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dari kegiatan seperti inilah, SD Islam Bintang Juara menegaskan jati dirinya sebagai sekolah yang mindful, meaningful, dan joyful.

Karena di sinilah anak-anak ditempa: bukan hanya menjadi pintar di atas kertas, tetapi juga cerdas dalam karakter, terampil dalam life skill, dan siap memimpin dengan hati.***(CM-MRT)

Serunya Leadership Journey Day 4: Dari Rempah Nusantara hingga Antotipia, Anak SD Belajar Literasi & Cinta Lingkungan!

Serunya Leadership Journey Day 4: Dari Rempah Nusantara hingga Antotipia, Anak SD Belajar Literasi & Cinta Lingkungan!

Pagi yang cerah di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda pada hari keempat Leadership Journey, Kamis (25 September 2025) yang penuh semangat. Kali ini, sekolah menggandeng Komunitas Semarang Baca dan Sekolah Bumi Lestari untuk menghadirkan kegiatan yang memadukan literasi membaca dengan cinta lingkungan.

Tema hari itu sederhana tapi bermakna: “Membaca, Merasakan, dan Berkarya Bersama Alam.”

Awal Kegiatan: Literasi Bertema Lingkungan bersama Semarang Baca

Kakak shalih-shalihah berkumpul di kelas yang telah ditentukan dengan antusias mendengarkan cerita yang dibawakan tim Komunitas Semarang Baca. Buku-buku yang dibacakan bukan sekadar kisah fiksi, melainkan cerita penuh pesan tentang bagaimana menjaga bumi, mengenal sumber daya alam, dan menghargai ciptaan Allah SWT.

Alhamdulillah, kakak shalih-shalihah cukup antusias mendengarkan kakak-kakak dari Komunitas Semarang Baca. Tak sedikit pula yang mengajukan pertanyaan berhubungan dengan buku yang dibacakan.

Membuat Kreasi Bertema Lingkungan bersama Sekolah Bumi Lestari

Setelah sesi membaca, kakak shalih-shalihah diajak tidak hanya memahami lewat kata, tetapi juga mengalami langsung dengan kegiatan berbasis kelas.

Kelas 1: Kenal Rempah Nusantara

Adik-adik kelas 1 berkenalan dengan rempah-rempah Nusantara. Mereka mencium, meraba, dan mengenal ciri khas rempah seperti kayu manis, cengkeh, jahe, hingga kunyit. Melalui aktivitas ini, anak-anak belajar bahwa kekayaan alam Indonesia sangatlah berharga dan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.

Kelas 2: Gantungan Kunci dari Kertas Bunga Kering

Kelas 2 mendapat pengalaman seru membuat gantungan kunci dari kertas yang dihias bunga dan dedaunan kering. Kreativitas berpadu dengan kecintaan pada lingkungan, karena bahan yang digunakan semuanya ramah lingkungan. Anak-anak belajar bahwa barang sederhana bisa punya nilai estetika tinggi bila diolah dengan cinta.

Kelas 3: Melukis Bebas dengan Pewarna Alami

Kelas 3 diajak melukis bebas menggunakan pewarna alami dari kulit buah dan sayur. Ada yang mencampur warna dari kulit bawang, ada pula yang menggunakan sisa kulit manggis. Dari tangan mungil mereka, tercipta karya seni yang tidak hanya indah, tapi juga ramah lingkungan.

Kelas 4: Melukis dengan Teknik Antotipia

Kelas 4 berkenalan dengan teknik seni yang unik: Antotipia. Teknik ini menggunakan pigmen alami dari tumbuhan untuk menghasilkan gambar. Caranya, daun atau bunga ditumbuk untuk mengeluarkan pigmen, kemudian cairannya dioleskan pada kertas. Setelah itu, kertas diletakkan di bawah sinar matahari dengan benda tertentu di atasnya (misalnya daun atau pola gambar). Hasilnya, cahaya akan “membakar” sebagian area, menyisakan siluet yang cantik dan alami.

Anak-anak kelas 4 begitu takjub melihat bagaimana matahari dan tumbuhan bisa berkolaborasi menghasilkan seni tanpa cat pabrikan. Inilah bukti bahwa alam sesungguhnya adalah “guru besar” yang penuh inspirasi.

Kelas 5 & 6: Mencelup Kain dengan Pewarna Alami

Sementara itu, kelas 5 dan 6 mencoba mencelup kain dengan pewarna alami dari kulit buah dan sayur. Aktivitas ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membuka wawasan bahwa pewarna alami bisa menggantikan bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan. Anak-anak berkreasi membuat pola tie-dye sederhana dengan penuh semangat, dan hasilnya kain warna-warni yang unik dan ramah lingkungan.

Pesan yang Dibawa Pulang

Dari membaca hingga berkarya, anak-anak belajar satu hal penting: alam adalah sahabat, bukan sekadar sumber daya yang bisa dipakai seenaknya. Dengan kegiatan ini, mereka tidak hanya berlatih literasi baca, tetapi juga literasi lingkungan—sebuah keterampilan hidup yang sangat relevan dengan masa depan.

Hari keempat Leadership Journey mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak hanya lahir dari keberanian memimpin, tetapi juga dari kepedulian menjaga bumi. Anak-anak SD Islam Bintang Juara pulang dengan senyum lebar, tangan penuh karya, dan hati penuh cinta pada lingkungan. Karena di SD Islam Bintang Juara, belajar selalu mindful, meaningful, dan joyful.***(CM-MRT)

Numerasi Adventure: Cara SD Islam Bintang Juara Tanamkan Literasi Finansial & Bioteknologi Sejak Dini

Numerasi Adventure: Cara SD Islam Bintang Juara Tanamkan Literasi Finansial & Bioteknologi Sejak Dini

Bayangkan anak-anak SD berbaris rapi dengan penuh semangat, siap memulai sebuah petualangan baru. Itulah suasana di SD Islam Bintang Juara pada hari ketiga Leadership Journey (Rabu, 24 September 2025) yang kali ini mengangkat tema Numerasi Adventure. Tidak sekadar belajar berhitung di kelas, para kakak shalih-shalihah justru diajak menapaki jalur pembelajaran kontekstual—mulai dari Bank Juara ➝ Mini Market ➝ Kasir ➝ hingga Dapur Kreatif.

Dari Bank Juara, Belajar Mengelola Uang

Petualangan dimulai di Bank Juara. Di sini, kakak shalih-shalihah merasakan bagaimana rasanya menjadi nasabah. Mereka “menabung” sekaligus belajar cara bijak mengatur keuangan. Konsep ini menanamkan literasi finansial sejak dini, sebuah keterampilan hidup yang sangat penting untuk masa depan.

Alih-alih hanya sekadar angka di kertas, kakak shalih-shalihah diajak memahami bahwa setiap lembar uang memiliki makna. Mereka pun belajar memilih: apakah uang itu akan dipakai untuk belanja, disimpan, atau bahkan digunakan untuk kegiatan produktif.

Belanja Cerdas di Mini Market

Perjalanan kemudian berlanjut ke Mini Market. Kakak shalih-shalihah memegang uang hasil dari Bank Juara untuk berbelanja. Seru sekali melihat bagaimana mereka harus membuat keputusan: membeli barang yang diinginkan atau yang benar-benar dibutuhkan?

Di sini, bukan hanya numerasi yang diasah, tapi juga keterampilan berpikir kritis, logika, hingga kemampuan menahan diri. Mereka belajar bahwa hidup tidak selalu tentang keinginan, tapi juga tentang prioritas.

Kasir: Melatih Ketelitian dan Tanggung Jawab

Setelah berbelanja, tibalah mereka di meja Kasir. Beberapa kakak mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan kasir yang diperankan oleh guru; menghitung kembalian, dan memastikan uang yang diberikan sesuai dengan belanjaan yang dibeli. Aktivitas ini melatih fokus, ketelitian, dan tanggung jawab.

Tak jarang terjadi momen lucu—ada yang salah menghitung, lalu buru-buru diperbaiki oleh teman lainnya. Justru di situlah nilai kolaborasi terasa: mereka belajar untuk tidak takut salah, karena setiap kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Dapur Kreatif: Dari Uang ke Karya

Puncak petualangan numerasi kali ini adalah di Dapur Kreatif, tempat kakak shalih-shalihah membuat tempe dan tape. Dari aktivitas ini, mereka belajar bahwa uang yang dikelola dengan baik bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.

Membuat tempe dan tape tidak hanya melatih keterampilan motorik, tetapi juga mengajarkan arti kerja sama, kesabaran, dan keberanian untuk berkarya. Kakak pulang bukan hanya membawa hasil olahan, tapi juga pengalaman berharga tentang bagaimana proses kreatif itu berjalan.

Belajar dengan Tiga Pilar: Mindful, Meaningful, Joyful

Seluruh rangkaian Numerasi Adventure dirancang agar pembelajaran menjadi:

  • Mindful → anak-anak hadir penuh kesadaran dalam setiap aktivitas.
  • Meaningful → setiap pengalaman punya makna yang bisa mereka bawa dalam kehidupan nyata.
  • Joyful → belajar terasa menyenangkan, bukan beban.

Di SD Islam Bintang Juara, belajar numerasi bukan soal angka semata, tetapi tentang membentuk karakter, kemandirian, dan kepemimpinan masa depan.

Penutup

Hari ketiga Leadership Journey ini membuktikan bahwa numerasi bisa dikemas dengan cara yang kreatif, inspiratif, dan penuh makna. Dari Bank Juara hingga Dapur Kreatif, setiap langkah adalah latihan menjadi pemimpin kecil yang tangguh, kreatif, dan komunikatif.

Karena di SD Islam Bintang Juara, belajar itu selalu mindful, meaningful, dan joyful.***(CM-MRT)

Leadership Journey Day 2: Serunya Senam, Refleksi, dan Ekspedisi Secepit Menuju Pemimpin Tangguh!

Leadership Journey Day 2: Serunya Senam, Refleksi, dan Ekspedisi Secepit Menuju Pemimpin Tangguh!

Selasa, 23 September 2025 menjadi hari yang penuh energi dan cerita baru bagi kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara. Agenda Leadership Journey Day 2 kali ini benar-benar menghadirkan pengalaman yang berbeda. Dengan semangat yang sama namun lokasi kegiatan yang berbeda, seluruh siswa dari kelas 1–6 belajar tentang arti kepemimpinan sejati: “Membangun Calon Pemimpin Muslim yang Tangguh, Kreatif, dan Komunikatif.”

Senam dan Refleksi: Energi Pagi untuk Kelas 1–3

Pagi itu, halaman sekolah dipenuhi tawa riang anak-anak kelas 1–3. Mereka memulai hari dengan senam bersama, gerakan sederhana tapi penuh makna. Senam bukan sekadar olahraga, melainkan simbol kekompakan—bahwa kebersamaan akan membuat tubuh sehat dan jiwa gembira.

Setelah tubuh kembali segar, kakak shalih-shalihah diajak masuk ke sesi refleksi KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Setengah semester sudah berjalan, dan kini saatnya mereka merenung sejenak: apa yang sudah mereka pelajari? apa pengalaman yang paling berkesan?

Beberapa anak mengangkat tangan dengan antusias. Ada yang bilang, “Aku suka belajar IPAS, karena bisa eksperimen!” Ada juga yang mengaku, “Aku belajar sabar waktu main kelompok.” Dari refleksi ini, terlihat jelas bahwa pembelajaran bukan hanya soal buku, tetapi juga tentang karakter dan kebersamaan.

Ekspedisi Secepit: Petualangan Kelas 4–6

Sementara itu, di lokasi berbeda, kelas 4–6 bersiap menuju Curug Secepit. Dengan tas ransel di punggung dan yel-yel semangat, langkah mereka tegap, wajah penuh antusias. Perjalanan menuju Secepit bukan sekadar jalan kaki, tetapi sebuah ekspedisi penuh pembelajaran.

Di setiap pos yang tersedia, kakak shalih-shalihah menghadapi tantangan kepramukaan. Ada yang harus memecahkan kode sandi, ada yang diuji kerja sama tim dalam permainan, ada pula yang diminta menunjukkan keterampilan dasar pramuka. Meski lelah, semangat mereka tak pernah padam. Justru dari setiap rintangan, lahirlah senyum bangga karena berhasil menaklukkan tantangan.

Ketika akhirnya sampai di Curug Secepit, suara gemericik air terjun menjadi hadiah paling indah. Di sana mereka belajar arti perjalanan: bahwa hasil manis hanya bisa dicapai dengan perjuangan dan kesabaran.

Satu Tujuan, Beda Lokasi

Walaupun kelas 1–3 beraktivitas di sekolah dan kelas 4–6 menjelajah alam, keduanya memiliki tujuan yang sama: melatih kepemimpinan, membangun kemandirian, dan memperkuat karakter.

Bu Ni’mah, Kepala Sekolah SD Islam Bintang Juara, menyampaikan, “Leadership Journey bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi wadah nyata agar anak-anak belajar menjadi pemimpin yang tangguh, kreatif, dan komunikatif. Pemimpin masa depan lahir dari pengalaman, bukan hanya teori.”

Belajar Menjadi Pemimpin Sejak Dini

Leadership Journey Day 2 membuktikan bahwa pendidikan karakter bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak belajar tentang pentingnya menjaga tubuh sehat, mengingat pengalaman belajar, bekerja sama, berani menghadapi tantangan, hingga bersyukur atas nikmat Allah.

Dari senam ceria di sekolah hingga ekspedisi menantang di Secepit, satu benang merah yang bisa ditarik adalah: pemimpin hebat lahir dari proses, pengalaman, dan pembiasaan sejak dini.

Leadership Journey Day 2 di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang kegiatan sehari, tetapi tentang menanam benih kepemimpinan yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kebaikan.***(CM-MRT)