fbpx
Belajar Bersama Ahli: Kelas 6 Asyik Belajar Surat Menyurat Bareng Miss Rumi!

Belajar Bersama Ahli: Kelas 6 Asyik Belajar Surat Menyurat Bareng Miss Rumi!

Menulis surat mungkin terdengar sederhana, tapi di balik selembar kertas itu tersimpan seni komunikasi yang hangat, sopan, dan bermakna.
Hal itulah yang ingin dikenalkan oleh SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) untuk kelas 6, yang berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025, bertempat di Ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara.

Kegiatan kali ini menghadirkan Miss Rumi, seorang Admin Yayasan Dewi Sartika, yang sudah berpengalaman dalam dunia administrasi dan surat-menyurat.

Dengan gaya penyampaian yang interaktif dan hangat, Miss Rumi mengajak kakak shalih-shalihah kelas 6 untuk menyelami dunia surat menyurat—dari cara penulisan, etika komunikasi, hingga praktik langsung melipat dan memasukkan surat ke amplop.

Belajar dengan Ahli, Rasanya Nggak Bosan!

Sejak awal sesi, suasana di perpustakaan terasa berbeda. Kakak-kakak kelas 6 duduk antusias, memperhatikan Miss Rumi yang membuka kegiatan dengan sebuah pertanyaan sederhana: “Siapa di sini yang pernah menulis surat untuk teman atau guru?”

Seketika, beberapa tangan terangkat dengan semangat. Ada yang bercerita tentang surat untuk sahabat, ada juga yang pernah menulis surat untuk orang tua. Momen itu menjadi pintu pembuka yang manis untuk memahami bahwa surat bukan sekadar tulisan—melainkan cara menyampaikan pesan dengan perasaan.

Mengenal Jenis Surat dan Bagian-Bagiannya

Miss Rumi lalu memaparkan dua jenis surat utama: surat formal (resmi) dan surat informal (tidak resmi).
Melalui contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, anak-anak belajar membedakan antara surat pribadi kepada teman dan surat resmi kepada instansi atau guru.

Miss Rumi juga menjelaskan bagian-bagian penting dalam surat resmi, mulai dari:

  • Kepala surat
  • Tanggal dan tempat penulisan
  • Nomor surat dan perihal
  • Salam pembuka
  • Isi surat
  • Penutup dan tanda tangan

Menariknya, penjelasan ini disertai contoh surat asli dari lingkungan sekolah, sehingga anak-anak dapat melihat langsung bagaimana surat resmi bekerja dalam dunia nyata.

Belajar Melipat Surat dan Memasukkannya ke Amplop

Setelah teori, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik langsung!

Setiap anak diberi selembar kertas dan amplop. Dengan sabar, Miss Rumi menunjukkan cara melipat surat rapi dan memasukkannya ke dalam amplop dengan benar. Suasana berubah menjadi riuh dan penuh tawa—ada yang terlalu banyak melipat, ada juga yang lupa arah amplopnya, tapi semuanya belajar dengan gembira.

Kegiatan sederhana ini ternyata menumbuhkan keterampilan motorik halus, kerapian, dan ketelitian pada anak-anak. Tak hanya itu, mereka juga belajar etika dalam berkomunikasi tertulis, seperti penggunaan bahasa yang sopan dan struktur tulisan yang runtut.

Lebih dari Sekadar Surat: Melatih Tanggung Jawab dan Literasi

Belajar surat menyurat bukan hanya soal tata bahasa atau format tulisan. Lebih dalam dari itu, kegiatan ini mengajarkan tanggung jawab dalam berkomunikasi—bagaimana menyampaikan pesan dengan jelas, sopan, dan penuh empati.

Dalam era digital yang serba cepat, kegiatan seperti ini menjadi cara yang menyenangkan untuk mengasah literasi tulis anak-anak sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial.

Guru kelas pun mengapresiasi kegiatan BBA ini, karena kakak shalih-shalihah terlihat antusias dan benar-benar menikmati prosesnya. “Lewat kegiatan ini, anak-anak jadi tahu pentingnya menulis dengan rapi, berkomunikasi sopan, dan menghargai proses menulis surat secara manual,” ujar Bu Fia, wali kelas 6 dengan bangga.

Penutup: Dari Surat, Belajar Banyak Hal Tentang Hidup

Menutup kegiatan, Miss Rumi memberikan pesan yang menancap di hati:

“Menulis surat itu bukan sekadar menulis kata, tapi menyampaikan hati dengan cara yang santun.”

Kegiatan BBA Kelas 6 SD Islam Bintang Juara hari itu bukan hanya menambah wawasan tentang surat menyurat, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, ketelitian, dan empati. Anak-anak pun pulang dengan wajah sumringah, membawa surat buatan mereka sendiri sebagai kenang-kenangan. 💌

Belajar bisa datang dari mana saja, bahkan dari selembar surat. Dan di SD Islam Bintang Juara, setiap kegiatan seperti ini adalah bagian dari perjalanan menuju generasi yang cerdas, sopan, dan berkarakter unggul.***

Guru SD Islam Bintang Juara Asah Refleksi Pedagogis Bersama Bu Nawang Wulan: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Bermakna

Guru SD Islam Bintang Juara Asah Refleksi Pedagogis Bersama Bu Nawang Wulan: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Bermakna

Suasana ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 14 Oktober 2025 terasa berbeda. Siang itu, para guru berkumpul dengan penuh semangat dalam kegiatan In House Training (IHT) Komunitas Belajar Telaga Ilmu. Topik yang diangkat kali ini sungguh istimewa: “Refleksi Praktik Pedagogis dalam Pembelajaran Mendalam.”

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bu Nawang Wulan, S.Pd., M.Pd., Koordinator Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika, yang membagikan pemahaman mendalam tentang bagaimana praktik pedagogis bisa menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Menemukan Makna di Balik Praktik Mengajar

Bu Nawang membuka sesi dengan pertanyaan reflektif,

“Apakah pembelajaran yang kita lakukan selama ini sudah sungguh-sungguh memberi ruang bagi anak untuk memahami, bukan sekadar menghafal?”

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat para guru terdiam dan merenung. Ia kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar strategi mengajar baru, tetapi cara pandang yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun anak menemukan makna di setiap proses belajar.

Dalam sesi diskusi, para guru berbagi praktik baik mereka masing-masing. Salah satu guru bercerita tentang bagaimana ia menggunakan pendekatan konstruktivisme untuk membantu siswa menemukan konsep matematika melalui permainan. Guru lain berbagi praktik pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan siswa reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga tercipta suasana belajar yang inklusif dan penuh empati.

Pedagogis yang Menguatkan Profil Lulusan

Bu Nawang menegaskan bahwa praktik pedagogis dalam pembelajaran mendalam sejalan dengan 8 dimensi profil lulusan SD Islam Bintang Juara: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi.

Untuk mewujudkan kedelapan dimensi itu, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan kontekstual — di mana siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Dalam pembelajaran mendalam, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, seperti:

  • Project-Based Learning (PjBL)
  • Inquiry-Based Learning (IBL)
  • Problem-Based Learning (PBL)
  • Discovery Learning
  • Cooperative Learning

Model-model tersebut membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan berkreasi dalam konteks yang relevan dengan dunia mereka.

Salah satu ide inspiratif yang muncul dari sesi refleksi guru adalah tentang “janji persahabatan” — kegiatan yang bertujuan menumbuhkan inklusivitas di kelas agar semua siswa, termasuk ABK, merasa diterima dan dicintai. Ide-ide seperti ini menjadi bukti bahwa praktik pedagogis yang reflektif dapat melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar.

Refleksi, Kolaborasi, dan Transformasi Guru

Di sesi akhir, Bu Nawang mengajak guru melakukan refleksi pedagogis bersama. Melalui kegiatan ini, para guru SD Islam Bintang Juara diajak tidak hanya menilai apa yang sudah dilakukan, tetapi juga mengapa dan bagaimana mereka bisa memperbaikinya untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.

Dari hasil refleksi, muncul kesadaran baru bahwa guru perlu terus bertransformasi menjadi pembelajar sejati — seseorang yang tidak berhenti belajar, berefleksi, dan berinovasi. Karena hanya guru yang terus tumbuhlah yang mampu menumbuhkan potensi terbaik dalam diri anak-anak.

Kegiatan IHT Kombel Telaga Ilmu hari itu bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang tumbuh bersama. Di antara tumpukan buku dan diskusi yang hangat, para guru meneguhkan komitmennya:

✨ Untuk terus belajar agar bisa mendampingi kakak shalih-shalihah dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan.

Semangat reflektif ini menjadi napas bagi SD Islam Bintang Juara — sekolah yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menumbuhkan jiwa pembelajar sepanjang hayat, baik bagi siswa maupun para gurunya.***

Serunya BBOT Kelas 2C: Belajar Kebersihan Bareng Bunda Kesthi, Anak-Anak Jadi Hebat dan Mandiri!

Serunya BBOT Kelas 2C: Belajar Kebersihan Bareng Bunda Kesthi, Anak-Anak Jadi Hebat dan Mandiri!

Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan belajar tak hanya terjadi di dalam kelas. Salah satu bukti nyatanya terlihat dalam kegiatan BBOT (Bunda Berbagi Orang Tua) Kelas 2C yang digelar pada Senin, 13 Oktober 2025.

Kegiatan kali ini menghadirkan Bunda Kesthi Cinanthyo J, orang tua dari Kak Ataya, dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: “Kebersihan untuk Kesejahteraan Bersama.”

Belajar Tentang Kebersihan dengan Cara yang Menyenangkan

Sejak pagi, suasana kelas 2C sudah tampak berbeda—penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bunda Kesthi membuka sesi dengan berbagi pemaparan ringan namun bermakna tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Menurut beliau, lingkungan yang bersih membuat semua warga sekolah—baik siswa, guru, maupun tamu—merasakan kenyamanan dan semangat belajar yang lebih tinggi.

Kakak shalih-shalihah juga diajak berdiskusi: “Kalau sekolahnya bersih, bagaimana perasaan kalian?
Sontak terdengar jawaban riang, “Senang…!” dan “Jadi betah belajar!”
Bunda Kesthi pun menegaskan, kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan anak-anak bisa berperan aktif menjaganya.

Belajar dengan Tindakan Nyata: Life Chores di Sekolah

Tak berhenti di teori, kegiatan BBOT kali ini berlanjut dengan praktik langsung life chores (tugas kebersihan sehari-hari). Kakak shalih-shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok, masing-masing dengan tanggung jawab yang berbeda:

  • Membersihkan debu dengan kemoceng.
  • Melap permukaan meja dengan kain bersih.
  • Menyapu lantai kelas.
  • Mengepel area yang kotor.

Sebelum kakak shalih-shalihah mulai, Bunda Kesthi memberi contoh cara melakukannya dengan benar dan aman. Kemudian, satu per satu kelompok mulai bergerak. Ada yang sibuk mengibaskan kemoceng ke rak buku, ada yang menyapu dengan penuh semangat, dan ada juga yang tertawa kecil saat mengepel lantai bersama teman-temannya.

Di sela-sela aktivitas, Bunda Kesthi memberikan apresiasi bagi anak-anak yang aktif menjawab pertanyaan atau bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, yang paling indah dari sesi ini adalah—semua anak tetap mendapat apresiasi di akhir kegiatan! Karena bagi SD Islam Bintang Juara, setiap usaha anak patut dihargai. 💛

Mengajarkan Tanggung Jawab dan Kemandirian Sejak Dini

Kegiatan BBOT bukan hanya sekadar mengajarkan tentang kebersihan. Lebih dari itu, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kemandirian, dan empati. Melalui life chores seperti ini, anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan tugas orang lain, tapi juga bagian dari diri mereka.

Berdasarkan penelitian psikologi pendidikan, anak yang terbiasa mengerjakan tugas rumah atau kegiatan kebersihan memiliki kepekaan sosial lebih tinggi, rasa percaya diri yang kuat, dan kemampuan manajemen diri yang lebih baik. Keterampilan sederhana seperti menyapu atau melap meja justru menumbuhkan nilai karakter yang besar: disiplin, peduli, dan kerja sama.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua: Kunci Pendidikan Bermakna

Kegiatan BBOT adalah salah satu bentuk kolaborasi harmonis antara sekolah dan orang tua.
Dengan keterlibatan langsung seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru di sekolah, tapi juga mendapatkan inspirasi nyata dari orang tuanya sendiri.

SD Islam Bintang Juara percaya bahwa pendidikan terbaik lahir dari sinergi antara sekolah dan rumah.
Melalui kegiatan seperti BBOT, pesan moral dan nilai kehidupan tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan dalam pengalaman nyata anak-anak.

Penutup: Bersih Sekolahnya, Bahagia Hatinya!

Kegiatan BBOT Kelas 2C hari itu berakhir dengan senyum lebar di wajah kakak shalih-shalihah. Kelas yang tadinya penuh aktivitas kini tampak makin bersih dan wangi. Namun yang paling penting, hati kakak shalih-shalihah pun jadi lebih bersih—penuh rasa tanggung jawab dan kebersamaan.

💬 Di SD Islam Bintang Juara, setiap kegiatan kecil bermakna besar. Karena kami percaya, anak yang terbiasa peduli pada lingkungan akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli pada sesama. Dan dari ruang kelas kecil yang bersih inilah, karakter hebat itu tumbuh setiap hari.***

Asesmen Awal Calon Siswa SD Islam Bintang Juara Batch 1 – Bukan Sekadar Siap Baca-Tulis-Hitung, Tapi Siap Jadi Pembelajar Sejati

Asesmen Awal Calon Siswa SD Islam Bintang Juara Batch 1 – Bukan Sekadar Siap Baca-Tulis-Hitung, Tapi Siap Jadi Pembelajar Sejati

Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, udara di lingkungan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Sejak pukul 08.00, enam calon siswa datang bersama orang tua mereka dengan wajah ceria dan sedikit rasa penasaran.

Hari itu, sekolah kembali menggelar kegiatan Asesmen Awal Calon Siswa Batch 1 — salah satu langkah penting dalam proses penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2026–2027.

Tapi di SD Islam Bintang Juara, asesmen masuk SD bukan sekadar tes kemampuan baca, tulis, dan hitung. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk melihat kesiapan anak secara menyeluruh — fisik, emosional, sosial, dan kognitif — agar proses transisi dari TK ke SD bisa berjalan dengan bahagia dan bermakna.

Serunya Belajar Lewat Main: Observasi Tumbuh Kembang yang Menyenangkan

Pagi itu, ruang kelas berubah menjadi area bermain eksploratif. Para calon siswa mengikuti observasi tumbuh kembang bersama guru-guru SD Islam Bintang Juara. Ada yang melompat di area motorik kasar, meniti garis lurus, dan berlari kecil penuh tawa. Ada pula yang tekun di motorik halus, menggunting bentuk sederhana, menyusun balok, dan menggambar dengan penuh konsentrasi.

Setiap aktivitas dirancang agar guru bisa melihat potensi, koordinasi tubuh, daya fokus, serta kemandirian anak. Tapi yang terpenting: anak-anak melakukannya dengan senyum dan rasa percaya diri.

Kami ingin anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan sejak awal,” ujar salah satu guru pendamping. “Karena kesiapan masuk SD bukan cuma tentang kemampuan akademik, tapi juga kesiapan hati dan semangat belajar.”

Asesmen Psikologis Bersama Qualifa: Menemani Setiap Langkah Tumbuh Anak

Setelah sesi observasi motorik, anak-anak mengikuti asesmen psikologis bersama tim psikolog dari Qualifa. Melalui permainan sederhana, gambar, dan interaksi ringan, psikolog membantu melihat aspek kematangan emosi, kemampuan adaptasi, dan kesiapan sosial calon siswa.

Tujuannya bukan untuk “menilai” siapa yang pintar atau tidak, tetapi untuk memahami bagaimana setiap anak siap memulai perjalanan barunya di SD.

Setiap anak unik. Ada yang cepat di satu aspek, ada yang butuh waktu di aspek lain — dan semua itu normal,” jelas psikolog Qualifa dengan hangat.
Yang terpenting, kita tahu bagian mana yang bisa diperkuat bersama.”

Sinergi Sekolah dan Orang Tua: Wawancara Bersama Tim SD Islam Bintang Juara

Sementara anak-anak asyik bermain dan mengikuti asesmen, para orang tua mengikuti sesi wawancara bersama tim sekolah:

  • Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr. – Kepala SD Islam Bintang Juara
  • Bu Yayuk Fitriani, S.Pd. – Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
  • Bu Nawang Wulan, S.Pd. – Divisi Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika

Dalam suasana yang akrab, tim sekolah menggali bagaimana pola asuh di rumah, kebiasaan anak, serta nilai-nilai yang dijalankan keluarga.
Tujuannya untuk memastikan bahwa sekolah dan orang tua bisa bersinergi dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Kami percaya pendidikan terbaik lahir dari kerja sama antara rumah dan sekolah,” tutur Bu Ni’mah.
Karena sejatinya, kami ingin berjalan bersama para orang tua dalam membentuk calon pemimpin masa depan yang shalih dan berkarakter.

Hasil Asesmen: Panduan untuk Orang Tua Menguatkan Potensi Anak

Usai kegiatan, hasil observasi dan asesmen tidak berhenti di meja guru. SD Islam Bintang Juara akan menyampaikan hasilnya kepada orang tua, agar mereka tahu aspek perkembangan mana yang sudah matang dan mana yang perlu dikuatkan lagi.

Dengan begitu, orang tua dapat membantu anak berproses dengan penuh pemahaman dan tanpa tekanan. Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa kesiapan masuk SD bukan soal nilai, tapi tentang kesiapan tumbuh — agar anak siap menghadapi dunia belajar dengan bahagia, percaya diri, dan semangat.

Menyiapkan Generasi Juara Sejak Awal

Melalui asesmen awal seperti ini, SD Islam Bintang Juara terus menunjukkan komitmennya sebagai sekolah yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pendidikan holistik dan berkesadaran.

Setiap anak dilihat sebagai pribadi unik dengan potensi luar biasa. Dan setiap proses belajar, sekecil apa pun, selalu dirancang agar menjadi berkesadaran, bermakna dan menggembirakan — sesuai filosofi pendidikan di Sekolah Islam Bintang Juara.

Ingin tahu lebih dalam tentang bagaimana SD Islam Bintang Juara mendampingi anak melalui masa transisi TK ke SD dengan cara menyenangkan?
Yuk baca juga artikel kami sebelumnya tentang Manfaat School Touring dan temukan mengapa kolaborasi orang tua dan sekolah begitu penting dalam perjalanan belajar anak.*** (CM-MRT)

Serunya Berlatih Keaktoran Bersama Teater Lingkar! Kakak SD Islam Bintang Juara Belajar Akting Langsung dari Ahlinya

Serunya Berlatih Keaktoran Bersama Teater Lingkar! Kakak SD Islam Bintang Juara Belajar Akting Langsung dari Ahlinya

Selasa – Rabu pagi, 7 – 8 Oktober 2025, suasana di Gedung Aisiyah SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Ruangan yang biasanya lengang karena sedang dalam proses renovasi, kini dipenuhi suara tawa anak-anak karena menjadi arena latihan yang penuh konsentrasi.

Para kakak shalih dan shalihah — para pemain utama dan pendukung proyek film Hari Guru — bersiap mengikuti sesi Berlatih Keaktoran bersama Teater Lingkar, sebuah kesempatan langka yang membawa mereka lebih dekat pada dunia seni peran profesional.

Dipandu langsung oleh Om Ardinar, yang akrab disapa Om Pay, dari Teater Lingkar Semarang, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 7–8 Oktober 2025. Dari cara berjalan, berbicara, hingga mengatur napas, semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang penuh makna.

Belajar Mengatur Napas, Mengatur Emosi

Latihan dimulai dengan hal yang tampak sederhana: mengelola napas perut.
Namun Om Pay menjelaskan, “Aktor yang baik harus mampu mengendalikan dirinya. Nafas adalah pusat kendali.

Kakak-kakak pun diajak untuk fokus pada irama napas mereka—tarik, tahan, hembus. Tujuannya bukan hanya agar suara lebih kuat, tapi juga agar mereka bisa lebih fokus dan menyatu dengan peran yang dimainkan.

Sesi ini menjadi pengalaman baru bagi banyak siswa.
Awalnya deg-degan, tapi ternyata seru banget! Rasanya kayak beneran jadi aktor,” ungkap salah satu kakak kelas 5 dengan senyum semangat.

Dari Reading Script hingga Menjiwai Peran

Setelah latihan pernapasan, kegiatan berlanjut dengan reading script.

Om Pay mengajak para kakak membaca naskah dengan pelafalan yang jelas dan ekspresi yang hidup. Ia sesekali menghentikan latihan untuk memberikan catatan kecil — bagaimana menatap lawan main, kapan harus menurunkan suara, atau bagaimana menunjukkan emosi melalui gesture tubuh.

Bukan hanya membaca, para kakak juga menyanyikan lagu-lagu yang akan ditampilkan dalam film Hari Guru. Ruang latihan seketika berubah jadi tempat penuh harmoni — perpaduan antara akting, musik, dan semangat juang.

Om Pay kemudian memberikan arahan koreografi, membimbing setiap gerak agar lebih mantap dan selaras dengan emosi lagu. “Akting bukan sekadar menghafal, tapi memahami rasa,” pesannya, yang disambut tepuk tangan semangat dari peserta.

Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning di SD Islam Bintang Juara

Di SD Islam Bintang Juara, belajar memang tidak selalu di ruang kelas. Kegiatan seperti latihan keaktoran ini menjadi wujud nyata dari filosofi sekolah: mindful, meaningful, dan joyful learning.

Anak-anak belajar percaya diri, ekspresif, bekerja sama, dan berani tampil — nilai-nilai penting dalam membentuk karakter calon pemimpin masa depan.

Salah satu guru pendamping menyampaikan,

“Kami ingin anak-anak belajar bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga siap menghadapi dunia nyata. Teater adalah media luar biasa untuk itu.”

Dari Panggung Latihan ke Layar Film

Menjelang akhir sesi, seluruh peserta menampilkan hasil latihan mereka: kombinasi akting, nyanyian, dan koreografi. Om Pay memberikan tepuk tangan dan berkata,

“Hebat! Kalian bukan hanya belajar akting, tapi belajar menjadi diri sendiri dengan percaya diri.”

Latihan dua hari ini menjadi bekal berharga untuk proyek film Hari Guru yang akan segera digarap. Bukan hanya tentang tampil di depan kamera, tapi tentang memahami arti kerja keras, kebersamaan, dan ekspresi diri.

Penutup

Melalui kegiatan Berlatih Keaktoran bersama Teater Lingkar, SD Islam Bintang Juara kembali membuktikan bahwa pendidikan sejati tidak hanya tentang angka dan teori. Ia juga tentang seni, karakter, dan keberanian mengekspresikan diri.

Bismillah, semoga dari setiap langkah kecil ini lahir generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tapi juga hangat jiwanya — calon pemimpin yang mindful, meaningful, dan joyful 🌟***(CM-MRT)

Guru SD Islam Bintang Juara Bahas Disleksia & Growth Mindset di Kombel Telaga Ilmu

Guru SD Islam Bintang Juara Bahas Disleksia & Growth Mindset di Kombel Telaga Ilmu

Di SD Islam Bintang Juara, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar sejati. Semangat inilah yang kembali terasa hangat pada Selasa, 7 Oktober 2025, saat Komunitas Belajar (Kombel) Telaga Ilmu kembali digelar di Ruang Perpustakaan & Laboratorium Komputer SD Islam Bintang Juara.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif:

  • Miss Nurul Azizah, S.Pd., wali kelas TK B dan guru Sentra Persiapan PAUD Islam Bintang Juara, serta
  • Bu Yayuk Fitriani, S.Pd., wali kelas 1A sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum SD Islam Bintang Juara.

Keduanya membahas dua topik berbeda, namun saling berkaitan erat—tentang Disleksia dan Growth Mindset.

Sesi Pertama: Mengenal Disleksia Lebih Dekat

Kelas dimulai dengan paparan dari Miss Nurul, yang saat ini tengah menempuh pelatihan Indonesia Dyslexia Specialist (IDS) Teacher. Dengan penuh semangat, beliau mengajak rekan-rekan guru untuk memahami bahwa tidak semua anak yang lambat membaca atau menulis berarti tidak cerdas.

Disleksia bukan soal kecerdasan, tapi soal cara otak memproses bahasa,” tutur Miss Nurul.

Dalam penjelasannya, Miss Nurul membedakan dua jenis kesulitan belajar:

  • Kesulitan belajar umum – biasanya terkait kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan memengaruhi banyak area otak.
  • Kesulitan belajar spesifik – di mana potensi kecerdasan anak normal, namun ada gangguan pada area otak yang memproses bahasa.

Nah, disleksia termasuk dalam kategori kesulitan belajar spesifik ini.

Anak dengan disleksia mengalami hambatan dalam membaca, menulis, dan mengeja karena adanya defisit pada komponen fonologis. Kadang huruf tertukar, kata terbalik, atau tulisan hilang sebagian—bukan karena malas, melainkan karena proses otak yang berbeda.

Disleksia itu neurologis dan sering kali bersifat genetik. Tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikelola dengan pendekatan yang tepat,” jelas Miss Nurul.

Beliau juga memaparkan karakteristik umum disleksia, di antaranya:

  • Mudah lupa dan kehilangan barang (short term memory rendah),
  • Sulit mengingat urutan hari, huruf, atau angka,
  • Koordinasi gerak kurang baik (mudah menabrak benda),
  • Kesulitan memahami rima atau kata yang mirip bunyi.

Tak jarang, anak disleksia juga memiliki komorbid, seperti disgrafia (kesulitan menulis), diskalkulia (kesulitan berhitung), atau anxiety disorder (kecemasan).

Miss Nurul menutup materinya dengan pesan menyentuh:

“Jika kita bertemu anak dengan tanda-tanda disleksia, jangan langsung menilai mereka ‘lamban’. Bisa jadi, mereka hanya butuh cara belajar yang berbeda—dan guru yang lebih sabar memahami.”

Sesi Kedua: Bertumbuh Bersama Growth Mindset

Setelah menyelami dunia disleksia, giliran Bu Yayuk Fitriani berbagi inspirasi tentang pentingnya memiliki Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset).

Ia mengajak rekan-rekan guru untuk merefleksikan:

Apakah kita sudah percaya bahwa kemampuan bisa berkembang, atau masih terjebak pada mindset ‘sudah dari sananya’?”

Menurutnya, guru dengan growth mindset akan terus mencari cara agar siswanya bisa berhasil, meski dengan tantangan yang berbeda-beda.
Guru seperti ini melihat kesalahan bukan sebagai kegagalan, melainkan kesempatan untuk belajar.

Dengan growth mindset, kita belajar untuk tidak membandingkan anak, tapi memfasilitasi agar tiap anak menemukan cara belajarnya sendiri,” tambahnya.

Materi ini menjadi pelengkap sempurna setelah sesi disleksia, karena keduanya mengajak guru untuk berempati, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan setiap anak.

Kombel Telaga Ilmu: Ruang Bertumbuh untuk Para Pendidik

Kegiatan hari itu bukan sekadar berbagi teori. Ada tawa, diskusi, bahkan momen haru saat guru-guru menyadari bahwa memahami anak berarti juga menumbuhkan diri sendiri.

Bunda Vivi Psikolog dan Bu Ni’mah yang hadir pada kesempatan tersebut juga menambahkan wejangan dan informasi terkait materi yang disampaikan oleh kedua narasumber. Hal tersebut semakin mengobarkan nyala semangat di hati kecil para guru.

Dari ruang perpustakaan dan laboratorium komputer sore itu, lahir semangat besar:

menjadi pendidik yang berempati, terus belajar, dan tak berhenti bertumbuh.

SD Islam Bintang Juara membuktikan, bahwa pendidikan sejati dimulai dari guru yang tak pernah berhenti belajar.***(CM-MRT)