fbpx
Sedinten Basa Jawi: Menjaga Bahasa, Merawat Budaya, Menguatkan Identitas Anak

Sedinten Basa Jawi: Menjaga Bahasa, Merawat Budaya, Menguatkan Identitas Anak

Ada satu kegelisahan sederhana yang mungkin jarang kita sadari.

Anak-anak tumbuh di tanah Jawa. Mereka melihat tradisi Jawa, mendengar tembang Jawa, mengenal makanan khas Jawa, bahkan tinggal di lingkungan yang masih lekat dengan budaya Jawa. Namun, bagaimana dengan bahasanya?

Apakah mereka masih terbiasa mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari?

Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi salah satu alasan hadirnya Sedinten Basa Jawi di SD Islam Bintang Juara.

Program ini biasanya dilaksanakan satu hingga dua bulan sekali, sebagai ruang bagi anak-anak untuk kembali dekat dengan Bahasa Jawa melalui kebiasaan sederhana. Pada bulan Agustus 2026, Sedinten Basa Jawi dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Bukan sekadar program berbahasa Jawa selama satu hari. Ada pesan yang lebih besar di baliknya: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa Bukan Sekadar Alat Berbicara

Bahasa sering kali kita anggap hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Padahal, bahasa membawa sesuatu yang jauh lebih dalam.

Di dalam bahasa ada cerita. Ada cara pandang. Ada kebiasaan. Ada nilai kesopanan. Ada budaya. Bahkan ada identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Begitu pula dengan Bahasa Jawa.

Ketika seorang anak belajar menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya ia tidak hanya sedang mempelajari kosakata baru. Ia sedang berkenalan dengan salah satu bagian dari budaya yang tumbuh di sekitarnya.

Karena itu, menjaga Bahasa Jawa bukan berarti mengajak anak untuk meninggalkan bahasa lain. Justru sebaliknya, anak dapat tumbuh dengan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa sekaligus tetap mengenal akar budayanya.

Di tengah dunia yang semakin terbuka, mengenal identitas lokal menjadi bagian penting agar anak tidak kehilangan pijakan.

Sedinten Basa Jawi: Memberi Ruang untuk Berlatih

Lalu, bagaimana cara mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak agar tidak terasa seperti pelajaran yang berat?

Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan untuk menggunakannya secara langsung.

Itulah semangat yang dibawa melalui Sedinten Basa Jawi.

Pada hari tersebut, anak-anak mendapatkan ruang untuk kembali mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sederhana serta kebiasaan sehari-hari.

  • Tidak harus langsung sempurna.
  • Tidak harus langsung hafal banyak kosakata.
  • Tidak harus langsung lancar menggunakan seluruh tingkatan bahasa.

Yang terpenting adalah anak-anak memiliki kesempatan untuk mencoba.

Sebab, sebuah bahasa akan lebih mudah melekat ketika tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan.

Dari sapaan sederhana, percakapan dengan teman, interaksi dengan guru, hingga berbagai komunikasi kecil yang terjadi selama berada di lingkungan sekolah, Bahasa Jawa perlahan kembali hadir dalam keseharian anak.

Belajar dari Hal-Hal yang Sederhana

Bayangkan seorang anak yang biasanya berbicara dengan Bahasa Indonesia kepada temannya, kemudian mencoba menggunakan Bahasa Jawa.

  • Mungkin awalnya terasa canggung.
  • Mungkin ada kata yang lupa.
  • Mungkin pengucapannya belum tepat.

Namun, dari proses mencoba itulah pembelajaran terjadi.

Anak belajar bahwa tidak apa-apa melakukan kesalahan ketika sedang belajar.

Anak juga belajar mendengarkan bagaimana orang lain menggunakan Bahasa Jawa, kemudian mencoba mengikutinya.

  • Pelan-pelan, kosakata bertambah.
  • Pelan-pelan, rasa percaya diri tumbuh.

Dan yang tidak kalah penting, anak mulai menyadari bahwa Bahasa Jawa adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.

Inilah mengapa Sedinten Basa Jawi tidak perlu dipandang sebagai kegiatan yang harus menghasilkan kemampuan berbahasa secara instan.

Tujuannya adalah membuka pintu.

  • Memberikan pengalaman.
  • Membangun kebiasaan.
  • Menumbuhkan kedekatan.

Mengapa Bahasa Daerah Perlu Dikenalkan Sejak Anak-Anak?

Anak-anak adalah generasi yang akan membawa budaya ke masa depan. Jika sebuah bahasa tidak lagi digunakan oleh generasi penerusnya, lama-kelamaan bahasa tersebut dapat semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengenalan Bahasa Jawa sejak usia sekolah menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keberlanjutannya. Namun, upaya menjaga bahasa daerah tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Rumah memiliki peran yang sangat besar.

Sekolah dapat memberikan pengalaman dan ruang belajar, sementara keluarga dapat membantu menghadirkan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.

Misalnya, Ayah Bunda dapat sesekali menyapa anak menggunakan Bahasa Jawa, mengajak berbincang dengan kosakata sederhana, atau mengenalkan ungkapan-ungkapan Jawa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu menunggu anak fasih. Mulai saja dari satu atau dua percakapan sederhana. Karena pelestarian bahasa sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil: sebuah percakapan di rumah.

Dari Bahasa, Anak Belajar Mengenal Budaya

Menariknya, ketika anak semakin dekat dengan sebuah bahasa, mereka juga berkesempatan mengenal budaya yang menyertainya. Bahasa Jawa memiliki banyak bentuk ungkapan yang mengajarkan kesantunan dalam berkomunikasi.

Dengan demikian, penggunaan Bahasa Jawa juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai-nilai dalam interaksi sosial.

Anak belajar bahwa berbicara dengan orang lain perlu memperhatikan siapa lawan bicaranya, bagaimana cara menyampaikan sesuatu, dan bagaimana menjaga perasaan orang lain.

Tentu, Sedinten Basa Jawi bukan satu-satunya cara untuk membangun karakter tersebut.

Namun, melalui kebiasaan berbahasa, anak mendapatkan pengalaman nyata bahwa cara berbicara juga merupakan bagian dari cara menghargai orang lain.

Tidak Harus Sempurna, yang Penting Mau Mencoba

Salah satu hal yang ingin dijaga melalui Sedinten Basa Jawi adalah suasana belajar yang tidak membuat anak takut mencoba.

Sebab, ketika anak merasa bahwa setiap kesalahan akan langsung dianggap salah, mereka justru bisa kehilangan keberanian untuk menggunakan Bahasa Jawa.

Padahal, proses belajar membutuhkan ruang untuk mencoba. Hari ini mungkin baru berani mengucapkan satu kalimat. Besok mungkin sudah berani berbicara lebih panjang.

Di kesempatan berikutnya, mungkin sudah mulai terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ketika bertemu guru atau teman.

Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Yang penting, ada pengalaman yang terus berulang. Karena kebiasaan yang sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna.

Sedinten Basa Jawi, Sebuah Pengingat untuk Kita Semua

Program yang hadir di sekolah tentu memiliki alasan di baliknya. Begitu pula Sedinten Basa Jawi.

Program ini lahir dari kegelisahan sederhana: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri. Maka, satu hari diberikan sebagai ruang untuk kembali mendekat.

  • Mendengar.
  • Mencoba.
  • Berbicara.
  • Dan menikmati kembali Bahasa Jawa sebagai bagian dari keseharian.

Bukan untuk membuat anak merasa bahwa bahasa daerah lebih baik daripada bahasa lainnya. Bukan pula untuk membatasi mereka dari perkembangan zaman.

Justru sebaliknya.

Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang mampu melangkah ke dunia yang luas tanpa kehilangan akar yang membuat mereka mengenal siapa dirinya.

  • Mereka boleh menguasai bahasa Indonesia.
  • Mereka boleh belajar bahasa asing.
  • Mereka boleh hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya global.

Namun, semoga mereka tetap tahu dari mana mereka berasal. Tetap mengenal budaya di sekitarnya.

Dan tetap mampu berkata dengan bangga:

“Iki basaku. Iki budayaku.”

Menjaga Bahasa, Menjaga Cerita

Pada akhirnya, Sedinten Basa Jawi bukan sekadar tentang satu hari menggunakan Bahasa Jawa di sekolah.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa ada warisan yang perlu terus dikenalkan kepada anak-anak.

  • Sebab bahasa membawa cerita.
  • Bahasa membawa budaya.
  • Bahasa membawa identitas.

Dan ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya kita sedang memberi mereka kesempatan untuk mengenal salah satu bagian dari dirinya sendiri.

Semoga dari percakapan-percakapan kecil di sekolah, tumbuh rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya.

Semoga dari satu hari Sedinten Basa Jawi, lahir kebiasaan-kebiasaan baik yang terus terbawa ke rumah.

Dan semoga anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, percaya diri, terbuka terhadap dunia, tetapi tetap mengenal dan mencintai akar budayanya.

Karena menjadi generasi hebat bukan berarti harus meninggalkan apa yang diwariskan. Justru generasi hebat adalah mereka yang mampu membawa warisan baik dari masa lalu untuk terus hidup di masa depan.*** (CM-MRT)

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim

Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.”

Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.

Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.

Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan

Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.

galeri hari pertama pekan taaruf 2026

Apel Pembukaan

Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.

Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.

Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah

Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.

Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.

Pesona Bintang Juara

Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.

Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.

Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.

Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.

Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.

Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif

Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.

galeri hari kedua pekan taaruf 2026

Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.

Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.

Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu

Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

galeri hari ketiga pekan taaruf 2026

Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.

Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.

Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi

Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.

Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.

galeri hari keempat pekan taaruf 2026

Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.

Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.

Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik

Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)

Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.

galeri hari kelima pekan taaruf 2026

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.

Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.

Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama

Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.

Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.

Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.

Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.

Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna

Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.

Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)

9 Tahun Menebar Cahaya: Milad SD Islam Bintang Juara Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan

9 Tahun Menebar Cahaya: Milad SD Islam Bintang Juara Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan

Ada perayaan yang identik dengan balon, hadiah, dan kemeriahan. Namun ada pula perayaan yang justru mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu menengadahkan tangan memohon keberkahan untuk langkah berikutnya.

Suasana itulah yang terasa pada Kamis, 16 Juli 2026, ketika keluarga besar SD Islam Bintang Juara memperingati Milad ke-9 dengan mengusung tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan.” Momen istimewa ini bertepatan dengan hari keempat rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027, sehingga menjadi pengalaman bermakna bagi seluruh kakak shalih-shalihah, guru, tenaga kependidikan, serta yayasan.

Bukan sekadar merayakan bertambahnya usia sekolah, tetapi juga mensyukuri setiap proses, mengenang perjuangan para pendiri, sekaligus menanamkan kepada generasi muda bahwa sebuah sekolah besar lahir dari doa, pengorbanan, dan cita-cita yang terus dijaga.

9 Tahun Menebar Cahaya: Memulai Hari dengan Istighosah dan Khataman Al-Qur’an

Rangkaian Milad diawali dengan istighosah dan khataman Al-Qur’an yang diikuti seluruh warga sekolah. Lantunan doa memenuhi ruangan, menghadirkan suasana khusyuk yang mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bukan hanya dibangun oleh strategi dan kerja keras, tetapi juga oleh pertolongan Allah SWT.

Bagi siswa, kegiatan ini menjadi pembelajaran nyata bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan rasa syukur dan doa. Nilai-nilai spiritual yang ditanamkan sejak dini inilah yang menjadi salah satu ciri khas pendidikan di SD Islam Bintang Juara.

Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, sekolah ingin menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tetap harus berjalan berdampingan dengan kekuatan iman dan adab.

Potong Tumpeng, Simbol Syukur atas Perjalanan Sembilan Tahun

Usai doa bersama, suasana berubah menjadi hangat ketika dilaksanakan prosesi potong tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan sembilan tahun SD Islam Bintang Juara.

Potongan tumpeng diserahkan secara simbolis oleh Bunda Vivi Psikolog, selaku Ketua Yayasan Dewi Sartika, kepada Bu Ni’mah, Kepala SD Islam Bintang Juara, kemudian dilanjutkan kepada seluruh tim manajemen sekolah.

Prosesi sederhana tersebut memiliki makna yang mendalam. Tumpeng bukan hanya simbol perayaan, melainkan ungkapan syukur atas amanah yang telah dijalankan, sekaligus doa agar sekolah terus diberi kekuatan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Selama sembilan tahun, SD Islam Bintang Juara telah menjadi rumah belajar bagi ratusan anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang beradab, berilmu, kreatif, dan siap menjadi calon pemimpin muslim.

Mengenang Jejak Para Perintis, Menghargai Sejarah

Salah satu bagian paling mengharukan dalam peringatan Milad adalah ketika Bunda Vivi Psikolog mengajak seluruh siswa untuk mengenang orang-orang yang memiliki sejarah dan kontribusi besar dalam berdirinya SD Islam Bintang Juara.

Beliau mengingatkan bahwa sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Di balik bangunan, ruang kelas, dan berbagai prestasi yang diraih hari ini, ada banyak tangan yang bekerja, banyak doa yang dipanjatkan, dan banyak pengorbanan yang mungkin tidak diketahui oleh generasi sekarang.

Secara khusus, Bunda Vivi mengenang jasa Eyang Esmi Warassih dan Almarhum Eyang Abdullah Shodiq, dua sosok yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan berdirinya SD Islam Bintang Juara.

Pesan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para siswa bahwa menghormati sejarah merupakan bagian dari adab. Anak-anak belajar bahwa keberhasilan hari ini tidak lepas dari perjuangan orang-orang yang datang lebih dahulu.

Nilai inilah yang ingin terus diwariskan kepada seluruh warga sekolah: menjadi pribadi hebat bukan berarti melupakan akar perjuangan, melainkan mampu menghargai setiap orang yang telah membuka jalan.

Belajar Sejarah dengan Cara yang Menyenangkan

Suasana semakin hidup ketika Bunda Vivi mengajak seluruh kakak shalih-shalihah berinteraksi melalui berbagai pertanyaan sederhana namun bermakna.

  • “Siapa yang hafal jargon SD Islam Bintang Juara?”
  • “Siapa saja nama pendiri SD Islam Bintang Juara?”

Dengan penuh semangat, tangan-tangan kecil terangkat. Anak-anak berlomba menjawab, diselingi tawa dan tepuk tangan yang membuat suasana semakin hangat.

Cara ini menunjukkan bahwa mengenalkan sejarah sekolah tidak harus melalui ceramah panjang. Melalui dialog interaktif, anak-anak justru lebih mudah memahami identitas sekolah yang mereka cintai.

Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari SD Islam Bintang Juara berarti ikut menjaga nilai-nilai yang telah dibangun sejak awal berdirinya.

Menatap Masa Depan dengan Harapan Baru

Sebagai penutup, seluruh warga sekolah menyaksikan video ucapan Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara yang berisi doa, harapan, dan apresiasi dari berbagai pihak.

Video tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan sembilan tahun hanyalah awal dari langkah yang lebih panjang. Masih banyak generasi yang akan tumbuh, banyak mimpi yang akan diwujudkan, dan banyak karya yang akan lahir dari sekolah ini.

Tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan” benar-benar terasa sepanjang rangkaian kegiatan. Cahaya itu hadir melalui ilmu yang terus diajarkan. Doa dipersatukan melalui istighosah dan khataman. Harapan ditanamkan kepada setiap anak agar kelak mampu menjadi pemimpin muslim yang memberi solusi bagi masyarakat.

Usai prosesi peringatan milad tuntas, kakak shalih-shalihah kembali ke kelas untuk membuat Tree of Hope alias Pohon Harapan. Masing-masing kakak menuliskan harapannya untuk SD Islam Bintang Juara. Ada yang mendoakan agar Bintang Juara memiliki SMP, ada yang mendoakan agar para gurunya diberkahi kebaikan, dan masih banyak lagi doa serta harapan yang mengharu biru.

Pendidikan Dimulai dari Nilai, Bertumbuh Menjadi Peradaban

Peringatan Milad bukan sekadar mengenang tanggal berdirinya sekolah. Lebih dari itu, Milad menjadi momentum untuk memperkuat jati diri bahwa pendidikan adalah proses membangun peradaban.

Di SD Islam Bintang Juara, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter, rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, kepedulian kepada sesama, serta keberanian bermimpi besar demi kemaslahatan umat.

Sembilan tahun perjalanan telah dilalui. InsyaAllah, perjalanan berikutnya akan menghadirkan lebih banyak cahaya, lebih banyak manfaat, dan lebih banyak generasi yang siap menjadi calon pemimpin muslim yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan berprestasi.

Kami juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi Ayah Bunda dalam Program Berbagi yang telah terlaksana. InsyaAllah, pekan depan infaq yang Ayah Bunda berikan akan kami sampaikan kepada 9 POS PAUD dan panti asuhan yang membutuhkan.

Milad ke-9 SDIBJ

Doa Terbaik untuk SD Islam Bintang Juara

Kalau Ayah dan Bunda memiliki doa untuk SD Islam Bintang Juara di usia ke-9 ini, apa harapan yang ingin disampaikan?

Semoga setiap doa menjadi energi kebaikan yang mengiringi langkah SD Islam Bintang Juara untuk terus menghadirkan pendidikan yang memuliakan adab, menguatkan ilmu, dan melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia. Aamiin.*** (CM-MRT)

Leadership Journey 2026: Empat Hari Penuh Makna di Akhir Semester

Leadership Journey 2026: Empat Hari Penuh Makna di Akhir Semester

Bagaimana cara menutup satu tahun pelajaran dengan berkesan?

Sebagian orang mungkin membayangkan hari-hari santai tanpa kegiatan belajar. Namun di SD Islam Bintang Juara, akhir semester justru menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan refleksi diri melalui rangkaian kegiatan bertajuk Leadership Journey Akhir Semester 2 Tahun Pelajaran 2025/2026.

Selama empat hari, mulai 15 hingga 19 Juni 2026, kakak shalih dan shalihah mengikuti beragam kegiatan yang dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk memperkuat karakter sebagai calon pemimpin muslim. Ada aktivitas fisik yang menyehatkan, permainan kolaboratif yang menantang, karya kreatif penuh kenangan, hingga refleksi perjalanan belajar selama satu tahun terakhir.

Empat hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan banyak pelajaran berharga di dalamnya.

Mengawali Pekan dengan Tubuh yang Sehat dan Hati yang Terinspirasi

Senin pagi, 15 Juni 2026, suasana sekolah terasa lebih semarak dari biasanya. Seluruh siswa berkumpul untuk mengikuti Senam Sehat bersama.

Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh semangat. Tawa dan senyum menghiasi wajah kakak shalih-shalihah yang menikmati kebersamaan bersama teman-teman dan guru.

Namun Leadership Journey tidak berhenti pada aktivitas fisik saja.

Setelah tubuh bergerak dan energi terisi kembali, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan Read Aloud Sirah Nabi dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan khidmat.

Para guru membacakan kisah-kisah inspiratif dari perjalanan hidup Rasulullah SAW. Kakak shalih-shalihah mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan perjuangan, keteladanan, dan kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kakak juga membaca buku sirah yang telah dibawa dari rumah masing-masing.

Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kesabaran, keberanian, dan kepedulian kepada sesama.

Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan sejak dini kepada para calon pemimpin muslim masa depan.

Belajar Menjadi Tim yang Solid Melalui Fun Match

Kemeriahan berlanjut pada Rabu, 17 Juni 2026.

Hari itu menjadi salah satu hari yang paling ditunggu karena seluruh siswa mengikuti kegiatan Fun Match dengan tema besar kebersamaan dan kerja sama tim.

Setiap permainan dirancang untuk mengajarkan satu nilai penting dalam kepemimpinan.

Satu Tim, Satu Tujuan

Melalui pertandingan futsal dan voli, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata. Pemain terbaik sekalipun tidak akan mampu memenangkan pertandingan tanpa dukungan tim.

Mereka belajar berkomunikasi, saling mendukung, memahami peran masing-masing, serta menghargai kontribusi teman.

Satu Tim, Satu Kekuatan

Nilai berikutnya hadir melalui permainan tarik tambang. Teriakan semangat terdengar dari berbagai sudut lapangan. Semua siswa mengerahkan tenaga terbaiknya untuk membantu kelompok masing-masing.

Dari permainan sederhana ini, mereka belajar bahwa kekuatan terbesar sering kali lahir dari kebersamaan. Ketika semua anggota tim bergerak dalam arah yang sama, tantangan yang berat pun menjadi lebih mudah dihadapi.

Satu Tim, Satu Komando

Permainan paling menarik sekaligus menantang adalah Tancap Bendera. Dalam permainan ini, satu siswa berperan sebagai robot yang matanya ditutup, sementara siswa lainnya bertugas menjadi “remote control” yang memberikan instruksi.

Agar berhasil mencapai lokasi dan menancapkan bendera, instruksi harus diberikan secara jelas, terarah, dan penuh kepercayaan. Permainan ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif.

Seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan yang jelas, sementara anggota tim perlu belajar mendengar dan mempercayai satu sama lain. Ternyata menjadi pemimpin maupun anggota tim yang baik sama-sama membutuhkan latihan.

Mengabadikan Persahabatan dalam Sebuah Bingkai Kenangan

Kamis, 18 Juni 2026, suasana sekolah berubah menjadi lebih hangat dan penuh kreativitas. Hari itu siswa mengikuti kegiatan Bingkai Kenangan Bersama Teman Seperjuangan.

Setiap siswa membuat karya berupa bingkai foto sebagai kenang-kenangan perjalanan mereka selama satu tahun pelajaran. Tangan-tangan kecil sibuk menghias, mewarnai, dan merangkai berbagai bahan menjadi karya yang unik.

Di sela-sela proses berkarya, banyak obrolan sederhana yang muncul. Ada yang mengenang momen lucu saat belajar bersama. Ada yang tertawa mengingat permainan saat istirahat. Ada pula yang mulai menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan naik ke jenjang kelas berikutnya.

Bingkai yang mereka buat mungkin sederhana. Namun nilai yang tersimpan di dalamnya jauh lebih berharga. Karena setiap bingkai menjadi simbol persahabatan, perjuangan, dan perjalanan belajar yang telah mereka lalui bersama.

Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghargai proses dan mengenang perjalanan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Menutup Tahun Pelajaran dengan Jumat Berseri

Rangkaian Leadership Journey mencapai puncaknya pada Jumat, 19 Juni 2026 melalui kegiatan Jumat Berseri. Hari itu diawali dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Dengan penuh semangat, siswa bekerja sama membersihkan kelas, halaman, dan berbagai sudut sekolah.

Mereka belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau guru, tetapi tanggung jawab bersama. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan nyata untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Setelah bekerja bersama, kakak shalih-shalihah menikmati buah segar yang telah disiapkan. Momen makan bersama menghadirkan suasana santai sekaligus menyenangkan setelah beraktivitas.

Namun bagian yang paling bermakna justru hadir di penghujung kegiatan. Yaitu sesi refleksi satu tahun pelajaran. Para siswa diajak mengenang perjalanan mereka selama setahun terakhir.

  • Apa pencapaian yang membuat mereka bangga?
  • Tantangan apa yang pernah mereka hadapi?
  • Pelajaran apa yang paling berkesan?

Dan target apa yang ingin mereka raih di tahun berikutnya?

Melalui refleksi ini, siswa belajar mengenali diri sendiri, mensyukuri proses yang telah dilalui, serta menyusun langkah yang lebih baik untuk masa depan. Kemampuan merefleksi diri merupakan salah satu keterampilan penting dalam kepemimpinan yang sering kali terlupakan. Padahal pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu belajar dari pengalaman dan terus memperbaiki diri.

Sembari melakukan refleksi, kakak shalih-shalihah juga diajak untuk makan real food rebusan bersama guru wali kelas dan pendamping. Makanan yang disajikan dalam tampah ini merupakan apresiasi bagi seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam Leadership Journey. Selain itu juga untuk memberikan penguatan pada kakak shalih-shalihah tentang manfaat mengonsumsi real food.

Menutup Semester, Membuka Perjalanan Baru

Leadership Journey Akhir Semester 2 SD Islam Bintang Juara bukan sekadar rangkaian kegiatan penutup tahun ajaran. Di balik senam sehat, permainan tim, karya kenangan, hingga refleksi diri, terdapat nilai-nilai besar yang sedang ditanamkan kepada para siswa.

Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri.

  • Mampu bekerja sama.
  • Mampu berkomunikasi.
  • Mampu menghargai proses.
  • Mampu menjaga amanah.
  • Dan mampu terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga pengalaman selama Leadership Journey ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah dalam melangkah ke jenjang berikutnya.

Karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang mereka menjadi generasi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.***

Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.

Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.

Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.

Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?

Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.

Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.

Disambut Rebana, Dihantar Doa

Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.

Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.

Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.

Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.

Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri

Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.

Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.

Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.

Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.

Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.

Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.

Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.

Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.

Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.

Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal

Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.

Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.

Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga

Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.

Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.

Selamat kepada 37 Khatimin

SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:

Kak Dinka, Kak Farabi, Kak Djuna, Kak Aqasha, Kak Yossy, Kak Damar, Kak Davin, Kak Azka, Kak Satria, Kak Daffa, Kak Fatih, Kak Dzakwan, Kak Rafif, Kak Ibra, Kak Gilby, Kak Mahrez, Kak Azzam, Kak Fakhri, Kak Ibrahim, Kak Amiira, Kak Yulia, Kak Sophia, Kak Shafna, Kak Aira, Kak Najma, Kak Jehan, Kak Keyna, Kak Faiha, Kak Naura, Kak Pandan, Kak Talita, Kak Masha, Kak Nura, Kak Neyva, Kak Hafsa, Kak Helga, dan Kak Hanum.

Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh  yang Mengharu Biru

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh yang Mengharu Biru

Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.

Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.

Enam Tahun yang Penuh Cerita

Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.

Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan

Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.

Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.

Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.

Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru

Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.

Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.

Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.

Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan

Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.

Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.

Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.

Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.

Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim

Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.

Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.

Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih

Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.

Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.

Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta

Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.

Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.

Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran

Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.

Penyematan Samir yang Sarat Makna

Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.

Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.

Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru

Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.

Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.

Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.

Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***