by admin admin | Oct 18, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Bagi siswa SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ bukan sekadar menghafal ayat suci Al-Qur’an, melainkan juga bentuk latihan keikhlasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab spiritual.
Secara sederhana, Tasmi’ berarti memperdengarkan hafalan Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru atau penguji. Kegiatan ini menjadi momen istimewa, karena para peserta tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga menguji ketenangan hati dan ketulusan niat mereka dalam mencintai Kalamullah.
Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ menjadi bagian penting dari program pembinaan keislaman. Selain untuk memastikan ketepatan hafalan, kegiatan ini juga melatih keberanian anak-anak tampil di depan umum — dengan landasan adab dan kesungguhan.
Sabtu yang Penuh Cahaya di SD Islam Bintang Juara
Pada Sabtu, 18 Oktober 2025, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Sejak pagi, lantunan ayat suci terdengar lembut dari ruang Kelas 4A, 4B, 5, dan 6. Hari itu, sekolah mengadakan Ujian Tasmi’ Semester 1 Tahun Pelajaran 2025–2026, yang diikuti oleh 16 kakak shalih-shalihah pilihan.
Mereka adalah:
Kak Rafif Al, Kak Danendra, Kak Aqasha, Kak Nadhif, Kak Kenzi, Kak Ciello, Kak Ghaza, Kak Fatih, Kak Hanum, Kak Hasna, Kak Ayla, Kak Yulia, Kak Najma, Kak Shafna, Kak Nura, dan Kak Adzkiya.
Ada kakak yang menampilkan hafalan Juz 29, ada pula yang menampilkan Juz 30. Dua juz yang berisi banyak surat pendek dan menjadi dasar bagi hafalan para penghafal cilik.

Ujian di Hadapan Orang Tua dan Tim Penguji
Yang membuat suasana semakin haru adalah, setiap peserta membacakan hafalan di hadapan kedua orang tua serta tim penguji dari SD Islam Bintang Juara. Ada yang tampak tenang, ada pula yang berusaha menahan degup jantungnya agar tidak kalah cepat dari lidah yang melafazkan ayat-ayat suci.
Para orang tua menyimak dengan penuh bangga — ada senyum haru, bahkan tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika mendengar anaknya melantunkan ayat dengan suara lembut dan penuh penghayatan. Ujian ini bukan hanya tentang berapa banyak ayat yang diingat, tapi tentang seberapa dalam makna Al-Qur’an hadir dalam hati anak-anak mereka.
Menapaki Jalan Hafalan dengan Kesungguhan
Setelah setiap peserta menyelesaikan tasmi’-nya, tim penguji memberikan penilaian terkait ketepatan bacaan, tajwid, dan kelancaran hafalan.
Dari hasil penilaian itu akan ditentukan apakah peserta dinyatakan lulus atau perlu mengulang sebagian bagian hafalannya di kesempatan berikutnya.
Namun, tidak ada kata gagal dalam perjalanan ini. Karena setiap langkah menghafal Al-Qur’an adalah amal yang bernilai.
Seperti yang sering disampaikan para guru:
“Yang penting bukan siapa yang paling cepat khatam, tapi siapa yang paling tulus menjaga hafalannya.”
Menuju Puncak Tasmi’: Perayaan para Penghafal Cilik
Bagi kakak-kakak yang dinyatakan lulus, mereka akan melangkah ke tahap berikutnya, yakni Puncak Tasmi’ yang akan dilaksanakan pada akhir Semester 2. Di momen itulah, para penghafal cilik akan tampil bersama teman-teman yang lulus di semester berikutnya, memperdengarkan hafalan dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Acara Puncak Tasmi’ ini menjadi bentuk apresiasi atas ketekunan dan komitmen kakak shalih-shalihah dalam menjaga Al-Qur’an. Bukan hanya sebagai penghafal, tetapi juga pengamal nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat Tasmi’ untuk Kakak Shalih-Shalihah
Selain menilai kemampuan hafalan, kegiatan Tasmi’ memberikan banyak manfaat yang mendukung pembentukan karakter dan spiritualitas anak-anak Bintang Juara:
1. Menguatkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an
Tasmi’ menumbuhkan rasa cinta mendalam terhadap Al-Qur’an. Anak belajar bahwa membaca dan menghafal bukan kewajiban semata, melainkan sumber ketenangan hati.
2. Melatih Fokus dan Disiplin
Untuk tampil di depan penguji, kakak harus berlatih dengan konsisten. Proses ini membentuk pola pikir teratur dan melatih fokus — keterampilan penting dalam belajar dan kehidupan.
3. Menumbuhkan Keberanian dan Percaya Diri
Melantunkan hafalan di depan orang tua dan guru membuat anak belajar mengelola rasa gugup, berbicara dengan lantang, serta menghargai usaha diri sendiri.
4. Menguatkan Nilai Spiritual dan Akhlak
Tasmi’ menjadi sarana pembentukan karakter. Anak belajar rendah hati, tidak cepat puas, dan selalu berusaha memperbaiki bacaan agar lebih baik lagi.
5. Mengasah Kolaborasi antara Sekolah dan Orang Tua
Kegiatan ini menguatkan sinergi antara pendidikan di sekolah dan pembiasaan di rumah. Orang tua turut mendampingi, memberi semangat, dan menyaksikan buah dari proses panjang anak dalam menghafal.
Penutup: Dari Lantunan Ayat, Lahir Generasi Qur’ani
Ujian Tasmi’ Semester 1 di SD Islam Bintang Juara bukan hanya ajang uji hafalan, tapi perjalanan spiritual yang menumbuhkan nilai keikhlasan, disiplin, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Dari lantunan ayat-ayat suci yang terdengar hari itu, terpancar cahaya harapan — semoga setiap anak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak, berilmu, dan beradab.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 17, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Siapa bilang belajar matematika itu harus serius dan membosankan? Di SD Islam Bintang Juara, belajar justru dibuat menyenangkan dan dekat dengan dunia anak-anak.
Seperti kegiatan BBOT (Bintang Belajar on Tuesday) kali ini yang diikuti oleh siswa-siswi kelas 2B, dengan tema “Yuk Belajar Bersama Mengenal Pecahan.”
Yang istimewa, sesi ini menghadirkan Ayah Hendrata Febri Aditya, ayah dari kak Adinata, yang dengan penuh semangat berbagi cara seru untuk memahami konsep pecahan.
Pecahan Lewat Gambar: Langkah Awal yang Mudah Dipahami
Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep pecahan lewat gambar. Ayah Hendra menampilkan berbagai ilustrasi yang sederhana dan menarik—mulai dari potongan buah, kue, hingga bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa bagian.
Dengan cara ini, anak-anak bisa melihat langsung hubungan antara “bagian” dan “keseluruhan” tanpa harus terpaku pada angka semata.
“Kalau donat ini dibagi dua, berarti masing-masing dapat setengah ya, Kak!” ujar Ayah Hendra sambil menggambar donat di papan tulis.
Anak-anak pun antusias menebak, menyebut “satu per dua!” sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi.
Demonstrasi Donat: Pecahan yang Bisa Dimakan
Bagian paling seru tentu saat demonstrasi membagi donat!
Setiap anak memperhatikan dengan seksama ketika donat dibagi menjadi dua bagian sama besar. Dari situ, mereka belajar tentang pecahan setengah (½) secara nyata.
Ada yang tertawa karena “setengah donat” ternyata masih bisa dimakan, ada juga yang penasaran kalau donatnya dibagi empat, apakah ukurannya makin kecil?
Melalui pengalaman konkret ini, anak-anak belajar bahwa pecahan bukan sekadar angka—melainkan cara untuk memahami pembagian dari sesuatu yang utuh.
Kertas Warna-Warni Jadi Media Belajar Kreatif
Tak berhenti di situ, kegiatan dilanjutkan dengan praktik melipat dan memotong kertas warna-warni. Kakak kelas 2B diminta melipat kertas menjadi dua bagian, empat bagian, hingga tiga dari empat bagian. Dari aktivitas sederhana ini, mereka belajar tentang 1, ½, ¼, dan ¾, sekaligus mengenal mana yang disebut pembilang dan mana yang disebut penyebut.
Dengan pendekatan visual dan kinestetik seperti ini, anak-anak tidak hanya menghafal, tapi benar-benar memahami makna setiap pecahan melalui pengalaman langsung.
Manfaat Belajar Pecahan dengan Cara Kontekstual
Kegiatan BBOT kali ini bukan sekadar belajar matematika, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mendalam yang menumbuhkan berbagai dimensi kemampuan anak, seperti:
1. Menguatkan Literasi Numerasi
Anak belajar menggunakan angka dalam konteks nyata, memahami hubungan bagian dan keseluruhan, serta berpikir logis saat membagi benda menjadi beberapa bagian.
2. Melatih Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
Dengan mencoba berbagai cara membagi donat atau melipat kertas, anak dilatih untuk menemukan solusi dan memahami konsep melalui eksperimen sederhana.
3. Menumbuhkan Kolaborasi dan Rasa Percaya Diri
Kegiatan dilakukan dalam suasana kolaboratif — anak berdiskusi, menebak, dan belajar bersama. Masing-masing diberi kesempatan untuk berbagi hasil lipatannya atau menjelaskan pecahan yang ia temukan.
4. Membantu Guru Melihat Tahap Perkembangan Siswa
Melalui aktivitas ini, guru dapat mengamati sejauh mana pemahaman numerasi setiap anak berkembang, serta menyesuaikan strategi pembelajaran berikutnya agar lebih bermakna.
Kesimpulan: Belajar yang Bermakna, Menyenangkan, dan Dekat dengan Dunia Anak
Dari donat hingga kertas warna-warni, anak-anak kelas 2B telah belajar banyak tentang pecahan tanpa merasa sedang “belajar matematika.”
Pendekatan kontekstual seperti ini membantu anak memahami konsep secara alami, berani bereksperimen, dan belajar berpikir logis sejak dini.
Kegiatan BBOT bersama Ayah Hendra bukan hanya memberikan ilmu baru, tapi juga menghadirkan inspirasi bahwa setiap orang tua bisa menjadi bagian dari proses belajar anak di sekolah.
Dengan cara yang menyenangkan, SD Islam Bintang Juara terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran mendalam yang membentuk pemahaman, karakter, dan rasa ingin tahu anak.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 16, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Menulis surat mungkin terdengar sederhana, tapi di balik selembar kertas itu tersimpan seni komunikasi yang hangat, sopan, dan bermakna.
Hal itulah yang ingin dikenalkan oleh SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) untuk kelas 6, yang berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025, bertempat di Ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara.
Kegiatan kali ini menghadirkan Miss Rumi, seorang Admin Yayasan Dewi Sartika, yang sudah berpengalaman dalam dunia administrasi dan surat-menyurat.
Dengan gaya penyampaian yang interaktif dan hangat, Miss Rumi mengajak kakak shalih-shalihah kelas 6 untuk menyelami dunia surat menyurat—dari cara penulisan, etika komunikasi, hingga praktik langsung melipat dan memasukkan surat ke amplop.
Belajar dengan Ahli, Rasanya Nggak Bosan!
Sejak awal sesi, suasana di perpustakaan terasa berbeda. Kakak-kakak kelas 6 duduk antusias, memperhatikan Miss Rumi yang membuka kegiatan dengan sebuah pertanyaan sederhana: “Siapa di sini yang pernah menulis surat untuk teman atau guru?”
Seketika, beberapa tangan terangkat dengan semangat. Ada yang bercerita tentang surat untuk sahabat, ada juga yang pernah menulis surat untuk orang tua. Momen itu menjadi pintu pembuka yang manis untuk memahami bahwa surat bukan sekadar tulisan—melainkan cara menyampaikan pesan dengan perasaan.
Mengenal Jenis Surat dan Bagian-Bagiannya
Miss Rumi lalu memaparkan dua jenis surat utama: surat formal (resmi) dan surat informal (tidak resmi).
Melalui contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, anak-anak belajar membedakan antara surat pribadi kepada teman dan surat resmi kepada instansi atau guru.
Miss Rumi juga menjelaskan bagian-bagian penting dalam surat resmi, mulai dari:
- Kepala surat
- Tanggal dan tempat penulisan
- Nomor surat dan perihal
- Salam pembuka
- Isi surat
- Penutup dan tanda tangan
Menariknya, penjelasan ini disertai contoh surat asli dari lingkungan sekolah, sehingga anak-anak dapat melihat langsung bagaimana surat resmi bekerja dalam dunia nyata.
Belajar Melipat Surat dan Memasukkannya ke Amplop
Setelah teori, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik langsung!
Setiap anak diberi selembar kertas dan amplop. Dengan sabar, Miss Rumi menunjukkan cara melipat surat rapi dan memasukkannya ke dalam amplop dengan benar. Suasana berubah menjadi riuh dan penuh tawa—ada yang terlalu banyak melipat, ada juga yang lupa arah amplopnya, tapi semuanya belajar dengan gembira.
Kegiatan sederhana ini ternyata menumbuhkan keterampilan motorik halus, kerapian, dan ketelitian pada anak-anak. Tak hanya itu, mereka juga belajar etika dalam berkomunikasi tertulis, seperti penggunaan bahasa yang sopan dan struktur tulisan yang runtut.
Lebih dari Sekadar Surat: Melatih Tanggung Jawab dan Literasi
Belajar surat menyurat bukan hanya soal tata bahasa atau format tulisan. Lebih dalam dari itu, kegiatan ini mengajarkan tanggung jawab dalam berkomunikasi—bagaimana menyampaikan pesan dengan jelas, sopan, dan penuh empati.
Dalam era digital yang serba cepat, kegiatan seperti ini menjadi cara yang menyenangkan untuk mengasah literasi tulis anak-anak sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial.
Guru kelas pun mengapresiasi kegiatan BBA ini, karena kakak shalih-shalihah terlihat antusias dan benar-benar menikmati prosesnya. “Lewat kegiatan ini, anak-anak jadi tahu pentingnya menulis dengan rapi, berkomunikasi sopan, dan menghargai proses menulis surat secara manual,” ujar Bu Fia, wali kelas 6 dengan bangga.
Penutup: Dari Surat, Belajar Banyak Hal Tentang Hidup
Menutup kegiatan, Miss Rumi memberikan pesan yang menancap di hati:
“Menulis surat itu bukan sekadar menulis kata, tapi menyampaikan hati dengan cara yang santun.”
Kegiatan BBA Kelas 6 SD Islam Bintang Juara hari itu bukan hanya menambah wawasan tentang surat menyurat, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, ketelitian, dan empati. Anak-anak pun pulang dengan wajah sumringah, membawa surat buatan mereka sendiri sebagai kenang-kenangan. 💌
Belajar bisa datang dari mana saja, bahkan dari selembar surat. Dan di SD Islam Bintang Juara, setiap kegiatan seperti ini adalah bagian dari perjalanan menuju generasi yang cerdas, sopan, dan berkarakter unggul.***
by admin admin | Oct 14, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Guru
Suasana ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 14 Oktober 2025 terasa berbeda. Siang itu, para guru berkumpul dengan penuh semangat dalam kegiatan In House Training (IHT) Komunitas Belajar Telaga Ilmu. Topik yang diangkat kali ini sungguh istimewa: “Refleksi Praktik Pedagogis dalam Pembelajaran Mendalam.”
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bu Nawang Wulan, S.Pd., M.Pd., Koordinator Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika, yang membagikan pemahaman mendalam tentang bagaimana praktik pedagogis bisa menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Menemukan Makna di Balik Praktik Mengajar
Bu Nawang membuka sesi dengan pertanyaan reflektif,
“Apakah pembelajaran yang kita lakukan selama ini sudah sungguh-sungguh memberi ruang bagi anak untuk memahami, bukan sekadar menghafal?”
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat para guru terdiam dan merenung. Ia kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar strategi mengajar baru, tetapi cara pandang yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun anak menemukan makna di setiap proses belajar.
Dalam sesi diskusi, para guru berbagi praktik baik mereka masing-masing. Salah satu guru bercerita tentang bagaimana ia menggunakan pendekatan konstruktivisme untuk membantu siswa menemukan konsep matematika melalui permainan. Guru lain berbagi praktik pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan siswa reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga tercipta suasana belajar yang inklusif dan penuh empati.
Pedagogis yang Menguatkan Profil Lulusan
Bu Nawang menegaskan bahwa praktik pedagogis dalam pembelajaran mendalam sejalan dengan 8 dimensi profil lulusan SD Islam Bintang Juara: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi.
Untuk mewujudkan kedelapan dimensi itu, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan kontekstual — di mana siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
Dalam pembelajaran mendalam, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, seperti:
- Project-Based Learning (PjBL)
- Inquiry-Based Learning (IBL)
- Problem-Based Learning (PBL)
- Discovery Learning
- Cooperative Learning
Model-model tersebut membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan berkreasi dalam konteks yang relevan dengan dunia mereka.
Salah satu ide inspiratif yang muncul dari sesi refleksi guru adalah tentang “janji persahabatan” — kegiatan yang bertujuan menumbuhkan inklusivitas di kelas agar semua siswa, termasuk ABK, merasa diterima dan dicintai. Ide-ide seperti ini menjadi bukti bahwa praktik pedagogis yang reflektif dapat melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar.
Refleksi, Kolaborasi, dan Transformasi Guru
Di sesi akhir, Bu Nawang mengajak guru melakukan refleksi pedagogis bersama. Melalui kegiatan ini, para guru SD Islam Bintang Juara diajak tidak hanya menilai apa yang sudah dilakukan, tetapi juga mengapa dan bagaimana mereka bisa memperbaikinya untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.
Dari hasil refleksi, muncul kesadaran baru bahwa guru perlu terus bertransformasi menjadi pembelajar sejati — seseorang yang tidak berhenti belajar, berefleksi, dan berinovasi. Karena hanya guru yang terus tumbuhlah yang mampu menumbuhkan potensi terbaik dalam diri anak-anak.
Kegiatan IHT Kombel Telaga Ilmu hari itu bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang tumbuh bersama. Di antara tumpukan buku dan diskusi yang hangat, para guru meneguhkan komitmennya:
✨ Untuk terus belajar agar bisa mendampingi kakak shalih-shalihah dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan.
Semangat reflektif ini menjadi napas bagi SD Islam Bintang Juara — sekolah yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menumbuhkan jiwa pembelajar sepanjang hayat, baik bagi siswa maupun para gurunya.***
by admin admin | Oct 13, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan belajar tak hanya terjadi di dalam kelas. Salah satu bukti nyatanya terlihat dalam kegiatan BBOT (Bunda Berbagi Orang Tua) Kelas 2C yang digelar pada Senin, 13 Oktober 2025.
Kegiatan kali ini menghadirkan Bunda Kesthi Cinanthyo J, orang tua dari Kak Ataya, dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: “Kebersihan untuk Kesejahteraan Bersama.”
Belajar Tentang Kebersihan dengan Cara yang Menyenangkan
Sejak pagi, suasana kelas 2C sudah tampak berbeda—penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bunda Kesthi membuka sesi dengan berbagi pemaparan ringan namun bermakna tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Menurut beliau, lingkungan yang bersih membuat semua warga sekolah—baik siswa, guru, maupun tamu—merasakan kenyamanan dan semangat belajar yang lebih tinggi.
Kakak shalih-shalihah juga diajak berdiskusi: “Kalau sekolahnya bersih, bagaimana perasaan kalian?”
Sontak terdengar jawaban riang, “Senang…!” dan “Jadi betah belajar!”
Bunda Kesthi pun menegaskan, kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan anak-anak bisa berperan aktif menjaganya.
Belajar dengan Tindakan Nyata: Life Chores di Sekolah
Tak berhenti di teori, kegiatan BBOT kali ini berlanjut dengan praktik langsung life chores (tugas kebersihan sehari-hari). Kakak shalih-shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok, masing-masing dengan tanggung jawab yang berbeda:
- Membersihkan debu dengan kemoceng.
- Melap permukaan meja dengan kain bersih.
- Menyapu lantai kelas.
- Mengepel area yang kotor.
Sebelum kakak shalih-shalihah mulai, Bunda Kesthi memberi contoh cara melakukannya dengan benar dan aman. Kemudian, satu per satu kelompok mulai bergerak. Ada yang sibuk mengibaskan kemoceng ke rak buku, ada yang menyapu dengan penuh semangat, dan ada juga yang tertawa kecil saat mengepel lantai bersama teman-temannya.
Di sela-sela aktivitas, Bunda Kesthi memberikan apresiasi bagi anak-anak yang aktif menjawab pertanyaan atau bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, yang paling indah dari sesi ini adalah—semua anak tetap mendapat apresiasi di akhir kegiatan! Karena bagi SD Islam Bintang Juara, setiap usaha anak patut dihargai. 💛
Mengajarkan Tanggung Jawab dan Kemandirian Sejak Dini
Kegiatan BBOT bukan hanya sekadar mengajarkan tentang kebersihan. Lebih dari itu, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kemandirian, dan empati. Melalui life chores seperti ini, anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan tugas orang lain, tapi juga bagian dari diri mereka.
Berdasarkan penelitian psikologi pendidikan, anak yang terbiasa mengerjakan tugas rumah atau kegiatan kebersihan memiliki kepekaan sosial lebih tinggi, rasa percaya diri yang kuat, dan kemampuan manajemen diri yang lebih baik. Keterampilan sederhana seperti menyapu atau melap meja justru menumbuhkan nilai karakter yang besar: disiplin, peduli, dan kerja sama.
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua: Kunci Pendidikan Bermakna
Kegiatan BBOT adalah salah satu bentuk kolaborasi harmonis antara sekolah dan orang tua.
Dengan keterlibatan langsung seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru di sekolah, tapi juga mendapatkan inspirasi nyata dari orang tuanya sendiri.
SD Islam Bintang Juara percaya bahwa pendidikan terbaik lahir dari sinergi antara sekolah dan rumah.
Melalui kegiatan seperti BBOT, pesan moral dan nilai kehidupan tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan dalam pengalaman nyata anak-anak.
Penutup: Bersih Sekolahnya, Bahagia Hatinya!
Kegiatan BBOT Kelas 2C hari itu berakhir dengan senyum lebar di wajah kakak shalih-shalihah. Kelas yang tadinya penuh aktivitas kini tampak makin bersih dan wangi. Namun yang paling penting, hati kakak shalih-shalihah pun jadi lebih bersih—penuh rasa tanggung jawab dan kebersamaan.
💬 Di SD Islam Bintang Juara, setiap kegiatan kecil bermakna besar. Karena kami percaya, anak yang terbiasa peduli pada lingkungan akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli pada sesama. Dan dari ruang kelas kecil yang bersih inilah, karakter hebat itu tumbuh setiap hari.***
by admin admin | Oct 11, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, PPDB
Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, udara di lingkungan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Sejak pukul 08.00, enam calon siswa datang bersama orang tua mereka dengan wajah ceria dan sedikit rasa penasaran.
Hari itu, sekolah kembali menggelar kegiatan Asesmen Awal Calon Siswa Batch 1 — salah satu langkah penting dalam proses penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2026–2027.
Tapi di SD Islam Bintang Juara, asesmen masuk SD bukan sekadar tes kemampuan baca, tulis, dan hitung. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk melihat kesiapan anak secara menyeluruh — fisik, emosional, sosial, dan kognitif — agar proses transisi dari TK ke SD bisa berjalan dengan bahagia dan bermakna.
Serunya Belajar Lewat Main: Observasi Tumbuh Kembang yang Menyenangkan
Pagi itu, ruang kelas berubah menjadi area bermain eksploratif. Para calon siswa mengikuti observasi tumbuh kembang bersama guru-guru SD Islam Bintang Juara. Ada yang melompat di area motorik kasar, meniti garis lurus, dan berlari kecil penuh tawa. Ada pula yang tekun di motorik halus, menggunting bentuk sederhana, menyusun balok, dan menggambar dengan penuh konsentrasi.
Setiap aktivitas dirancang agar guru bisa melihat potensi, koordinasi tubuh, daya fokus, serta kemandirian anak. Tapi yang terpenting: anak-anak melakukannya dengan senyum dan rasa percaya diri.
“Kami ingin anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan sejak awal,” ujar salah satu guru pendamping. “Karena kesiapan masuk SD bukan cuma tentang kemampuan akademik, tapi juga kesiapan hati dan semangat belajar.”
Asesmen Psikologis Bersama Qualifa: Menemani Setiap Langkah Tumbuh Anak
Setelah sesi observasi motorik, anak-anak mengikuti asesmen psikologis bersama tim psikolog dari Qualifa. Melalui permainan sederhana, gambar, dan interaksi ringan, psikolog membantu melihat aspek kematangan emosi, kemampuan adaptasi, dan kesiapan sosial calon siswa.
Tujuannya bukan untuk “menilai” siapa yang pintar atau tidak, tetapi untuk memahami bagaimana setiap anak siap memulai perjalanan barunya di SD.
“Setiap anak unik. Ada yang cepat di satu aspek, ada yang butuh waktu di aspek lain — dan semua itu normal,” jelas psikolog Qualifa dengan hangat.
“Yang terpenting, kita tahu bagian mana yang bisa diperkuat bersama.”
Sinergi Sekolah dan Orang Tua: Wawancara Bersama Tim SD Islam Bintang Juara
Sementara anak-anak asyik bermain dan mengikuti asesmen, para orang tua mengikuti sesi wawancara bersama tim sekolah:
- Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr. – Kepala SD Islam Bintang Juara
- Bu Yayuk Fitriani, S.Pd. – Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
- Bu Nawang Wulan, S.Pd. – Divisi Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika
Dalam suasana yang akrab, tim sekolah menggali bagaimana pola asuh di rumah, kebiasaan anak, serta nilai-nilai yang dijalankan keluarga.
Tujuannya untuk memastikan bahwa sekolah dan orang tua bisa bersinergi dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
“Kami percaya pendidikan terbaik lahir dari kerja sama antara rumah dan sekolah,” tutur Bu Ni’mah.
“Karena sejatinya, kami ingin berjalan bersama para orang tua dalam membentuk calon pemimpin masa depan yang shalih dan berkarakter.”
Hasil Asesmen: Panduan untuk Orang Tua Menguatkan Potensi Anak
Usai kegiatan, hasil observasi dan asesmen tidak berhenti di meja guru. SD Islam Bintang Juara akan menyampaikan hasilnya kepada orang tua, agar mereka tahu aspek perkembangan mana yang sudah matang dan mana yang perlu dikuatkan lagi.
Dengan begitu, orang tua dapat membantu anak berproses dengan penuh pemahaman dan tanpa tekanan. Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa kesiapan masuk SD bukan soal nilai, tapi tentang kesiapan tumbuh — agar anak siap menghadapi dunia belajar dengan bahagia, percaya diri, dan semangat.
Menyiapkan Generasi Juara Sejak Awal
Melalui asesmen awal seperti ini, SD Islam Bintang Juara terus menunjukkan komitmennya sebagai sekolah yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pendidikan holistik dan berkesadaran.
Setiap anak dilihat sebagai pribadi unik dengan potensi luar biasa. Dan setiap proses belajar, sekecil apa pun, selalu dirancang agar menjadi berkesadaran, bermakna dan menggembirakan — sesuai filosofi pendidikan di Sekolah Islam Bintang Juara.
Ingin tahu lebih dalam tentang bagaimana SD Islam Bintang Juara mendampingi anak melalui masa transisi TK ke SD dengan cara menyenangkan?
Yuk baca juga artikel kami sebelumnya tentang Manfaat School Touring dan temukan mengapa kolaborasi orang tua dan sekolah begitu penting dalam perjalanan belajar anak.*** (CM-MRT)