fbpx
Semarak Kemerdekaan SD Bintang Juara: Ketika Sekolah dan Keluarga Bergerak Bersama

Semarak Kemerdekaan SD Bintang Juara: Ketika Sekolah dan Keluarga Bergerak Bersama

Sabtu, 15 Agustus 2026, guru dan wali murid SD Islam Bintang Juara memenuhi auditorium Universitas Ivet dengan dresscode warna merah menyala. Selain merah putih yang mewarnai, auditorium Ivetsuara tawa, sorak dukungan, dan semangat kebersamaan. Pagi itu, suasana sekolah terasa berbeda. Bukan hanya peserta didik yang hadir, tetapi juga para orang tua melalui paguyuban serta seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.

Dalam rangkaian Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara, sekolah menghadirkan Perlombaan Persahabatan yang mempertemukan keluarga besar sekolah dalam suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.

Tidak ada sekat antara guru dan orang tua. Tidak ada suasana kelas yang kaku. Hari itu, semuanya menjadi satu tim besar yang sama-sama ingin bermain, tertawa, dan merayakan kemerdekaan Indonesia.

Sebab, di balik keseruannya, ada pesan yang jauh lebih penting: pendidikan terbaik lahir dari kolaborasi yang hangat antara sekolah dan keluarga.

Memulai Semangat dengan Senam Bersama

Pagi dimulai dengan senam bersama.

Para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan bergerak mengikuti irama. Gerakan demi gerakan dilakukan bersama, terkadang kompak, terkadang justru mengundang tawa ketika ada yang terlambat mengikuti gerakan.

Namun, bukankah justru di situlah keseruannya?

Tidak perlu menjadi yang paling lincah. Tidak perlu menjadi yang paling sempurna. Yang penting adalah bergerak bersama.

Senam bersama menjadi pembuka yang sederhana untuk membangun energi positif sebelum memasuki rangkaian perlombaan. Selain menjadi aktivitas fisik, momen ini juga memberikan kesempatan bagi warga sekolah untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih santai.

Karena hubungan antara sekolah dan keluarga tidak hanya dibangun melalui rapat atau komunikasi mengenai perkembangan anak. Terkadang, hubungan itu juga tumbuh dari tawa, permainan, dan pengalaman yang dilakukan bersama.

Ketika Paguyuban Orang Tua Turun ke Arena

Setelah senam, giliran para anggota paguyuban orang tua murid menunjukkan semangatnya dalam berbagai perlombaan. Ada Estafet Sarung, Gobak Sodor, hingga Memasukkan Pensil ke dalam Botol.

Setiap permainan menghadirkan tantangan yang berbeda. Dalam estafet sarung, koordinasi dan kekompakan menjadi kunci. Peserta harus bekerja sama agar sarung dapat berpindah dengan lancar dari satu anggota ke anggota lainnya.

Sementara dalam Gobak Sodor, strategi dan komunikasi menjadi bagian penting. Permainan tradisional yang sudah dikenal oleh banyak generasi ini kembali menghadirkan keseruan ketika dimainkan bersama.

Ada pula lomba Memasukkan Pensil ke dalam Botol yang menguji ketelitian, koordinasi, dan kesabaran.

Hal-hal sederhana seperti ini justru membuat perlombaan terasa dekat. Tidak membutuhkan perlengkapan yang rumit. Tidak membutuhkan arena yang megah.

Cukup permainan sederhana, teman satu tim, dan semangat untuk bersenang-senang bersama.

Di sela-sela perlombaan, terdengar sorakan dan dukungan dari peserta lain. Ada yang memberi semangat kepada rekan satu tim, ada yang tertawa ketika strategi tidak berjalan sesuai rencana, dan ada pula yang terus mencoba sampai berhasil.

Semua menjadi bagian dari cerita kebersamaan hari itu.

Guru Juga Ikut Bertanding!

Kalau biasanya para pendidik menjadi orang yang mengatur kegiatan dan mendampingi peserta didik, kali ini mereka juga turun langsung ke arena.

Para guru mengikuti beberapa perlombaan, yaitu Peraturan Baris Berbaris (PBB), Estafet Sarung, dan Futsal.

Dalam lomba PBB, kekompakan menjadi tantangan utama. Setiap gerakan membutuhkan koordinasi dan keseragaman. Satu orang bergerak tidak sesuai aba-aba saja bisa membuat barisan terlihat berbeda.

Pesan sederhana pun kembali terlihat: sebuah tim dapat berjalan baik ketika setiap anggotanya mau mendengarkan dan bergerak bersama.

Semangat tersebut berlanjut dalam Estafet Sarung. Kemudian, suasana semakin meriah saat para guru bertanding dalam futsal.

Lapangan yang biasanya menjadi ruang aktivitas peserta didik kini menjadi arena pertandingan para guru. Ada strategi, kerja sama, kecepatan, dan tentu saja semangat sportivitas.

Menang atau kalah menjadi bagian dari permainan. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh peserta dapat menikmati proses, menghargai lawan, dan tetap menjaga suasana persahabatan.

Mengapa Orang Tua Perlu Terlibat dalam Kegiatan Sekolah?

Kegiatan seperti Perlombaan Persahabatan mungkin terlihat sebagai aktivitas rekreatif. Namun, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah memiliki makna yang lebih besar.

Anak melihat bahwa sekolah bukan tempat yang hanya menjadi tanggung jawab guru. Sekolah adalah lingkungan yang dapat menjadi ruang tumbuh bersama antara anak, guru, dan keluarga.

Ketika orang tua hadir dan terlibat, anak dapat melihat sebuah pesan sederhana: “Ayah dan Bunda peduli dengan sekolahku.”

Begitu pula ketika guru dan tenaga kependidikan membuka ruang kebersamaan dengan orang tua, terbangun hubungan yang lebih dekat. Kolaborasi seperti ini penting karena pendidikan anak tidak berlangsung hanya selama jam sekolah.

Di sekolah, anak mendapatkan pengalaman belajar bersama guru dan teman. Di rumah, anak mendapatkan pengasuhan dan keteladanan dari keluarga. Ketika keduanya saling mendukung, anak mendapatkan lingkungan yang lebih konsisten untuk tumbuh.

Pendidikan Terbaik Lahir dari Kolaborasi

Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat partnership antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak hanya mengajak orang tua untuk datang ketika ada agenda tertentu.

Lebih dari itu, sekolah ingin membangun hubungan yang memungkinkan orang tua menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak. Karena pada akhirnya, guru dan orang tua memiliki tujuan yang sama:

mendampingi anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berkarakter, dan bermanfaat.

Perlombaan Persahabatan menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat hubungan tersebut.

Ketika orang tua dan guru tertawa bersama, bermain bersama, dan saling memberikan dukungan, anak-anak pun belajar melihat arti kebersamaan secara langsung. Mereka belajar bahwa kerja sama bukan hanya materi yang dipelajari di kelas.

Kerja sama adalah sesuatu yang dapat dilakukan dalam kehidupan nyata.

Doorprize: Kejutan di Pengujung Acara

Setelah berbagai perlombaan selesai, Semarak Kemerdekaan belum berakhir. Ada satu momen yang tentu tidak kalah ditunggu-tunggu: pembagian doorprize.

Satu per satu hadiah dibagikan, menghadirkan rasa penasaran sekaligus kegembiraan bagi warga sekolah yang mengikuti kegiatan. Hingga akhirnya, kejutan terbesar datang.

Doorprize utama berupa sepeda lipat berhasil diraih oleh Kak Arsyad, siswa kelas 3C. Hadiah tersebut menjadi penutup manis dari rangkaian kegiatan Semarak Kemerdekaan.

Bukan hanya karena hadiahnya, tetapi karena momen tersebut menambah satu lagi cerita menyenangkan dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.

Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Bermakna

Kemerdekaan sering kali dirayakan melalui berbagai perlombaan. Namun di SD Islam Bintang Juara, semangat tersebut juga menjadi kesempatan untuk menguatkan hubungan antarmanusia di dalam komunitas sekolah.

  • Dari senam bersama, kita belajar bergerak bersama.
  • Dari estafet sarung, kita belajar bekerja sama.
  • Dari Gobak Sodor, kita belajar menyusun strategi dan berkomunikasi.
  • Dari permainan memasukkan pensil ke dalam botol, kita belajar sabar dan teliti.
  • Dari PBB, kita belajar kekompakan.
  • Dari futsal, kita belajar sportivitas.

Dan dari seluruh rangkaian kegiatan, kita belajar satu hal yang lebih besar:

pendidikan membutuhkan kebersamaan.

Anak-anak tidak tumbuh sendirian. Ada keluarga yang mendampingi. Ada guru yang membersamai. Ada lingkungan yang ikut membentuk.

Karena itu, ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang selaras, anak mendapatkan ruang yang lebih kuat untuk bertumbuh.

Bersama Menjadi Bagian dari Perjalanan Anak

Sabtu itu mungkin akan dikenang sebagai hari ketika orang tua dan guru saling beradu cepat dalam estafet sarung, berusaha menaklukkan Gobak Sodor, bertanding futsal, atau tertawa bersama saat mengikuti senam.

Namun lebih dari sekadar keseruan perlombaan, ada sebuah pesan yang ingin terus dibawa pulang:

Kita tidak sedang mendidik anak sendirian.

Sekolah membutuhkan keluarga. Keluarga membutuhkan sekolah. Dan di tengah keduanya, ada anak-anak yang sedang tumbuh dan membutuhkan orang dewasa yang mau berjalan bersama.

Inilah semangat Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara.

Merdeka bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan melalui generasi yang tumbuh dalam lingkungan penuh dukungan, kolaborasi, dan keteladanan.

Sebab mungkin, salah satu bentuk perjuangan kita hari ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan terbaik untuk tumbuh.

Dan untuk mewujudkannya, kita perlu bergerak bersama. Sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua.

Hari ini bermain bersama. Besok, insyaallah, bersama-sama mengantarkan anak-anak menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi Indonesia.*** (CM-MRT)

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Suasana Kelas 5 SD Islam Bintang Juara pagi itu terasa berbeda. Anak-anak tampak antusias sejak awal kegiatan dimulai. Di depan kelas, laptop sudah disiapkan, beberapa alat tulis tertata rapi, dan wajah-wajah penuh rasa penasaran mulai memenuhi ruangan.

Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 5 mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Aji Purwinarko, ayah dari Kak Satria.

Bukan narasumber biasa. Ayah Aji merupakan dosen Program Studi Teknik Informatika FMIPA UNNES, peneliti sekaligus praktisi di bidang pengembangan teknologi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan saat ini sedang melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada.

Dengan tema “Aku Anak Cerdas Digital”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, sopan, dan bijaksana.

Karena di zaman sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar tambahan. Tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Namun yang lebih penting, anak-anak perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang pasif.

Anak Cerdas Digital Itu Seperti Apa?

Di awal kegiatan, Ayah Aji mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang kehidupan digital mereka sehari-hari.

  • Siapa yang suka menonton YouTube?
  • Siapa yang pernah menggunakan AI?
  • Siapa yang pernah mencari informasi lewat internet?

Hampir semua tangan terangkat.

Anak-anak memang hidup di era yang sangat dekat dengan teknologi. Namun Ayah Aji mengingatkan bahwa menjadi anak cerdas digital bukan berarti sekadar pintar mengetik, cepat menggunakan gadget, atau tahu banyak aplikasi.

Anak cerdas digital adalah anak yang mampu menggunakan teknologi dengan aman, sopan, bertanggung jawab, dan bijaksana.

  • Mereka tahu mana informasi yang baik.
  • Tahu bagaimana berkomunikasi dengan benar.
  • Dan tahu kapan teknologi digunakan untuk belajar, bukan sekadar hiburan.

Belajar Jadi Robot dan Programmer

Kegiatan semakin seru ketika anak-anak diajak praktik menjadi robot dan programmer. Dalam permainan ini, beberapa anak berperan sebagai “robot”, sementara yang lain menjadi “programmer”.

Tugas programmer adalah memberikan instruksi yang jelas dan berurutan agar robot dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Awalnya suasana langsung ramai dengan tawa.

Ada robot yang salah jalan. Ada yang berhenti karena instruksinya tidak jelas. Ada pula yang justru melakukan hal lucu karena perintah yang diberikan terlalu ambigu.

Dari permainan sederhana itu, anak-anak belajar tentang algoritma. Ayah Aji menjelaskan bahwa komputer bekerja berdasarkan instruksi yang runtut dan jelas. Jika perintahnya salah atau tidak lengkap, maka hasilnya juga tidak sesuai.

Di sinilah anak-anak mulai memahami bahwa kecerdasan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir runtut, logis, dan teliti.

“Anak cerdas digital bukan sekadar bisa ngetik,” jelas Ayah Aji. “Tapi mampu memberikan perintah yang urut, tepat, dan benar.”

Belajar Cerdas Digital dengan Aplikasi Buatan Ayah Aji

Kegiatan selanjutnya makin menarik. Ayah Aji telah mempersiapkan aplikasi istimewa untuk mengenalkan kakak-kakak tentang cerdas digital dengan cara yang interaktif. Ada empat misi di dalamnya:

Misi 1: Mengurutkan Algoritma

Setelah memahami konsep dasar algoritma melalui permainan, anak-anak melanjutkan ke Misi 1: Mengurutkan Algoritma. Dalam tantangan ini, setiap kelompok diminta menyusun langkah-langkah suatu aktivitas secara berurutan.

Kegiatan ini melatih anak-anak untuk berpikir sistematis dan memahami bahwa teknologi bekerja berdasarkan pola yang terstruktur. Tanpa disadari, kemampuan seperti ini juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena berpikir runtut membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Misi 2: Menjadi Detektif Pesan Digital

Suasana semakin menantang saat masuk ke Misi 2: Detektif Pesan Digital. Pada sesi ini, anak-anak diminta memilih mana pesan digital yang aman, mencurigakan, atau berbahaya.

Beberapa contoh pesan yang diberikan ternyata cukup mirip dengan situasi nyata yang sering ditemui anak-anak di internet. Kakak belajar untuk mewaspadai bila ada pesan dari orang tidak dikenal, adanya tautan mencurigakan, serta pesan yang tampak ramah tetapi sebenarnya berpotensi membahayakan.

Anak-anak terlihat serius berdiskusi bersama kelompoknya. Mereka mulai memahami bahwa dunia digital tidak selalu aman.

Karena itu, penting bagi anak-anak untuk berhati-hati sebelum membalas pesan, membagikan informasi pribadi, atau membuka tautan tertentu. Kegiatan ini menjadi latihan penting agar anak-anak memiliki kesadaran digital sejak dini.

Misi 3: AI Teman Belajar atau Jalan Pintas?

Salah satu sesi yang paling menarik adalah Misi 3 tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Di era sekarang, banyak anak mulai mengenal AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, hingga membantu mengerjakan tugas. Namun Ayah Aji mengajak anak-anak memahami bahwa AI harus digunakan dengan bijak.

Anak-anak diminta memilih aktivitas mana yang boleh dilakukan menggunakan AI, mana yang tidak boleh, dan mana yang harus didampingi orang tua atau guru.

Diskusi pun berlangsung seru. Ada yang berpendapat apakah AI boleh membantu mencari ide cerita. Di lain sisi, ada yang memberikan pendapat tentang penggunaan AI untuk tugas sekolah. Ada pula yang mulai memahami bahwa AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Ayah Aji menjelaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia malas berpikir. Karena itu, anak-anak perlu tetap belajar memahami proses, bukan hanya mengejar hasil instan.

Misi 4: Membuat Poster Janji Digital

Sebagai penutup, anak-anak mendapatkan Misi 4: Membuat Poster Janji Digital.

Sebelum membuat poster di atas kertas, setiap kelompok terlebih dahulu menuliskan ide dan rancangan menggunakan laptop. Setelah itu, rancangan tersebut diwujudkan menjadi poster kreatif yang penuh warna dan pesan positif.

Isi poster pun beragam. Ada yang menulis janji untuk menggunakan gadget seperlunya. Ada yang mengingatkan pentingnya sopan santun saat bermain internet. Ada pula yang menuliskan ajakan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga membantu mereka merefleksikan bagaimana seharusnya bersikap di dunia digital.

Kelompok tercepat dan paling kompak mendapatkan apresiasi khusus dari Ayah Aji. Namun lebih dari sekadar hadiah, seluruh anak sebenarnya sudah mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga.

Teknologi Harus Diiringi Karakter

BBOT kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter mereka saat menggunakan teknologi tersebut.

  • Anak-anak perlu belajar tentang tanggung jawab.
  • Tentang keamanan digital.
  • Tentang etika berkomunikasi.
  • Dan tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di era serba digital.

Karena teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi pondasi utama yang harus dimiliki anak-anak.

Belajar Teknologi dengan Cara Menyenangkan

Melalui kegiatan BBOT ini, anak-anak belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Dan belajar tentang dunia digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari.

Tawa yang terdengar selama permainan, diskusi kelompok yang seru, hingga poster-poster penuh warna menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus membosankan. Semoga melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah Kelas 5 semakin tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Karena di masa depan nanti, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai menggunakan teknologi. Tetapi juga anak-anak yang bijak saat memegangnya.*** (CM-MRT)

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.

Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.

Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.

Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.

Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?

Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak

Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.

Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.

Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.

Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.

Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol

Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.

Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.

Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.

Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.

Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini

Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.

Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.

Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.

Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.

Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut

Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:

Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.

Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.

Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.

Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman

Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.

Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.

Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.

Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar

Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.

Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.

Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:

Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)