Ahlan wa sahlan, kakak shalih-shalihah. Alhamdulillah setelah kurang lebih dua pekan menikmati indahnya berkumpul dengan keluarga di hari lebaran, kini saatnya kembali berkegiatan di SD Islam Bintang Juara.
Qodarullah hari pertama kakak shalih-shalihah memulai kegiatan di SD Islam Bintang Juara, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023. Oleh karenanya, kegiatan pagi ini diawali dengan upacara bendera.
Sejarah Hari Pendidikan Nasional dan Semaraknya Hardiknas 2023
“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” – Ki Hajar Dewantara
Ayah Bunda, sudahkah mengenalkan sosok Ki Hajar Dewantara kepada kakak shalih-shalihah? Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama R.M. Suwardi Suryadingrat. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta.
Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran luar biasa dalam bidang pendidikan. Bahkan hingga kini, pemikiran-pemikiran beliau masih sangat relevan untuk dijalankan.
Beberapa warisan pemikiran yang ditinggalkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu semboyan berikut ini;
Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya ketika berada di depan, orang tua atau guru harus memberi contoh atau suri teladan bagi kakak shalih-shalihah yang berada di tengah dan belakang.
Ing Madya Mangun Karsa, artinya ketika orang tua atau guru berada di tengah harus bisa memberikan semangat untuk kemajuan kakak shalih-shalihah.
Tut Wuri Handayani, artinya ketika orang tua berada di belakang harus mampu memberikan dorongan.
Selain ketiga semboyan yang sudah sangat terkenal di atas, Ki Hajar Dewantara juga memiliki tiga warisan lainnya.
1. Tetep, Antep dan Mantep
Tetep artinya mengasah berpikir kritis dan memiliki komitmen dengan prinsipnya. Antep yaitu menumbuhkan kepercayaan diri dan keuletan untuk maju. Sementara mantep memiliki arti mendorong untuk terus berkembang dan memiliki visi yang kuat.
2. Ngandel, Kendel dan Bandel
Ngandel yaitu membentuk seseorang yang teguh pendirian. Kendel artinya meningkatkan keberanian. Bandel dalam bahasa Jawa bukan hal yang bermakna negatif, melainkan bagaimana membangun ketangguhan dan semangat pantang menyerah.
3. Neng, Ning, Nang, Nung
Neng, maksudnya menciptakan perasaan senang dan tentram. Sementara Ning artinya dapat membedakan mana yang baik dan salah. Nang memiliki arti agar mampu mengendalikan diri dan menjadi pemenang. Nung maksudnya menumbuhkan pribadi yang kokoh dalam menggapai cita-cita.
Selain warisan pemikiran tersebut, Ki Hajar Dewantara semasa hidup telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan Indonesia. Demi bisa menyelenggarakan pendidikan yang adil untuk seluruh rakyat Indonesia, Ki Hajar Dewantara mendirikan Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa).
Atas dedikasi beliau yang luar biasa, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Sementara itu hari kelahirannya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Pada tahun ini, berdasarkan Surat Nomor 12811/MPK.A/TU.02.03/2023 tentang Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2023 oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, peringatan Hari Pendidikan Nasional mengangkat tema “Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar“. Tema tersebut selaras dengan salah satu kalimat inspiratif lainnya dari Ki Hajar Dewantara;
“Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat).”
Seiring dengan tema Hari Pendidikan Nasional 2023, bulan Mei 2023 juga dicanangkan sebagai bulan Merdeka Belajar. Oleh karenanya, di Oleh karenanya, di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, mari Ayah Bunda kita selaraskan jejak-jejak langkah untuk memberikan pengasuhan terbaik bagi kakak shalih-shalihah, demi terwujudnya merdeka belajar baik di rumah maupun di sekolah.
Hari Pendidikan Nasional 2023 juga memiliki logo khusus yang terbentuk dari tiga elemen; Bintang, Keceriaan dan Pena. Adapun makna dari logo tersebut yaitu;
Bintang, menggambarkan semangat Hardiknas yang selaras dengan visi dan misi pemerintah untuk melahirkan generasi Indonesia yang cerdas berkarakter. Dengan garis luwes menggambarkan semangat adaptif dan tangguh menghadapi perubahan zaman yang sangat dinamis.
Keceriaan, menggambarkan suasana pendidikan Indonesia yang menggembirakan, penuh dengan antusiasme, dan gotong royong serta partisipasi publik.
Pena, menggambarkan proses pendidikan sebagai sebuah proses penciptaan mahakarya yang memerlukan perpaduan holistik antara kemampuan intelektual, emosional, dan spritual dalam pelaksanaan.
Masya Allah di balik makna logo tersebut, filosofi pendidikan tersebut sudah dijalankan di SD Islam Bintang Juara sebagai satu-satunya Sekolah Penggerak Angkatan II di Kecamatan Gunung Pati Semarang yang juga telah menerapkan Kurikulum Merdeka.
Istimewanya Upacara Hari Pendidikan Nasional 2023 di SD Islam Bintang Juara
Upacara Hari Pendidikan Nasional 2023 di SD Islam Bintang Juara berjalan dengan istimewa karena berbarengan dengan hari pertama masuk sekolah. Pada momen ini, seluruh petugas upacara adalah bapak dan ibu guru.
Selaku pembina upacara, Pak Ali Munthohar menyampaikan pesan yang unik dirangkai dalam bentuk puisi. Apabila huruf depan di setiap baitnya disatukan akan membentuk tulisan yang berbunyi SD Islam Bintang Juara.
Masya Allah kreatif bukan para guru di SD Islam Bintang Juara? Insya Allah kakak shalih-shalihah pun akan tumbuh kreativitasnya apabila didampingi oleh para guru tangguh yang kreatif.
Proses pendidikan dan pengajaran di SD Islam Bintang Juara insya Allah telah sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan, Riset dan Teknologi pada pidato Hardiknas 2023;
Sebanyak 24 episode Merdeka Belajar yang sudah diluncurkan membawa kita semakin dekat dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan yang menuntun bakat, minat, dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai seorang manusia dan sebagai anggota masyarakat. Anak-anak kita sekarang bisa belajar dengan lebih tenang karena aktivitas pembelajaran mereka dinilai secara lebih holistik oleh gurunya sendiri.
SD Islam Bintang Juara tak hanya telah menerapkan kurikulum merdeka dengan cara holistik integratif, tetapi juga telah menerapkan digitalisasi Sistem Kurikulum Merdeka.
Selain membacakan puisi, Pak Ali juga menyampaikan tantangan yang harus dilaksanakan oleh kakak shalih-shalihah dalam rangka menyemarakkan Hardiknas 2023. Apakah tantangan tersebut?
Tantangan Menulis untuk Kakak Shalih-shalihah
Dikarenakan suasana lebaran masih sangat kental terasa, seluruh kakak shalih-shalihah diminta untuk menceritakan pengalaman mereka di hari raya. Bukan sekadar menceritakan pengalaman, tantangannya yaitu menuliskan pendidikan apa yang kakak shalih-shalihah dapatkan selama momen lebaran.
Pada saat amanat pembina upacara, Pak Ali sempat memantik ide kakak shalih-shalihah untuk menyebutkan beberapa pendidikan yang didapat selama momen lebaran, antara lain;
Belajar bahasa baru pada saat mudik ke provinsi tetangga
Belajar menghormati yang lebih tua
Praktik belajar matematika saat menghitung uang balal/ angpau/ THR dari kerabat
Belajar memaafkan dan mengikhlaskan
Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya sepanjang momen lebaran yang ternyata mampu menancap di hati kakak shalih-shalihah. Jadi nggak sabar nih membaca hasil karya kakak shalih-shalihah. Insya Allah hasil karya kakak shalih-shalihah akan dibukukan, mohon dukungannya ya Ayah Bunda.
Usai upacara, kakak shalih-shalihah berdoa bersama agar kakak kelas 6 bisa melaksanakan Ujian Sekolah dengan lancar. Dilanjutkan dengan bersalam-salaman saling memberikan maaf. Dimulai dari kakak shalih-shalihah kelas 6 bersalaman kepada bapak ibu guru, disusul dengan kakak kelas 5 hingga kelas 1.
Untuk menutup rangkaian acara pagi dalam peringatan Hardiknas 2023, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara memberikan sebuah wejangan;
Salah satu bentuk tulus dalam meminta maaf adalah mendengarkan orang yang sedang berbicara.
Wejangan tersebut menjadi pengingat agar kakak shalih-shalihah makin terjaga adabnya hingga kelak bisa menjadi Pemimpin Muslim yang tetep, atep dan mantep sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara. Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional 2023. Mari bersama-sama menjadi guru terbaik untuk kakak shalih-shalihah, Ayah Bunda.***
Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia
Tentunya lirik lagu ‘Ibu Kita Kartini’ gubahan WR. Supratman sudah tidak asing lagi di telinga Ayah Bunda, bukan? Lagu yang sedari kecil kerap disenandungkan, khususnya di bulan April seperti ini. Sudahkah Ayah Bunda mengajarkannya kepada kakak shalih-shalihah?
Ibu Kartini memang Pahlawan Wanita, tetapi bukan hanya kakak shalihah yang wajib tahu mengenai perannya di dunia pendidikan. Kakak shalih pun perlu tahu bahwa ada sosok perempuan yang memiliki keberanian dalam mendobrak ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan.
Ada banyak karakter positif yang dimiliki oleh Raden Ajeng Kartini. Kakak shalih-shalihah perlu tahu karakter-karakter tersebut, Ayah Bunda, agar bisa menginspirasi langkah-langkah kecil mereka ke depannya.
Namun sebelumnya, yuk ceritakan kisah Ibu Kartini kepada kakak shalih-shalihah.
Sejarah singkat Raden Ajeng Kartini
Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Beliau adalah putri dari salah seorang bangsawan bernama Raden Mas (R.M.) Sosroningrat yang menikah dengan wanita desa, Mas Ajeng Ngasirah. R.A. Kartini memiliki tujuh orang saudara.
Pada tahun 1885, Kartini bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) atau setara dengan Sekolah Dasar (SD). Saat itu hanya bangsawan yang bisa mengenyam pendidikan.
Sayangnya R.A. Kartini tidak bisa meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, karena sang ayah menentangnya. Ibu Kartini harus menjalani kehidupan putri bangsawan sejati dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku.
Mulai timbul kemauan dalam diri R.A. Kartini agar perempuan juga bisa merasakan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Ibu Kartini mulai mengumpulkan para perempuan di sekitarnya untuk diajari menulis dan ilmu pengetahuan.
R. A. Kartini juga sempat meminta beasiswa dari Pemerintah Belanda. Belum sempat beasiswa tersebut diambilnya, Ibu Kartini kemudian menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat dan pindah ke Rembang.
Sang suami mendukung keinginan Ibu Kartini untuk membuka sekolah wanita. Sayangnya belum lama cita-cita itu terwujud, R.A. Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah melahirkan putranya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat.
Namun cita-cita Ibu Kartini tidak terhenti. Dibentuklah Yayasan Kartini yang kemudian mendirikan Sekolah Kartini sejak 1912. Sekolah ini tersebar di beberapa kota; Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Madiun dan Cirebon.
Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Kepres tersebut untuk menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sejak saat itu pula, tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini.
5 Karakter Ibu Kartini Penuh Inspirasi
Dalam kesempatan ini, yuk sama-sama belajar lima karakter positif yang ada dalam diri seorang R.A. Kartini.
1. Senang Belajar
Perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan, pemandangannya telah diperluas, tak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.
Walaupun dalam quote di atas hanya disebutkan kata ‘Perempuan,’ bukan berarti kakak shalih tidak bisa meneladaninya ya. Baik laki-laki maupun perempuan wajib memiliki semangat belajar yang tinggi.
Sebagaimana disebutkan dalam quote Ibu Kartini tersebut, semangat belajar yang tinggi akan menghadirkan pikiran yang cerdas dan wawasan luas. Pikiran dan wawasan tersebutlah yang nantinya diperlukan oleh kakak shalih-shalihah untuk tumbuh menjadi para pemimpin muslim pada zamannya.
2. Suka Membagikan Idenya Melalui Tulisan
Siapa yang tak mengenal buku fenomenal yang merupakan kumpulan surat RA Kartini kepada Mr.J.H. Abendanon, sahabatnya di Belanda?
Ya, Habis Gelap Terbitlah Terang. Atau yang dalam bahasa Belanda disebut dengan “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT.”
Buku tersebutlah yang kemudian menjadi awal mula dibukanya kesempatan belajar bagi perempuan. Buku ini pula yang kemudian menjadi pembeda antara Ibu Kartini dengan pahlawan perempuan lainnya, hingga namanya jauh lebih harum dan dikenal.
Pahlawan wanita memang tidak hanya R.A. Kartini, tetapi hanya Ibu Kartini yang meninggalkan karya dalam bentuk tertulis. Oleh karenanya, perjuangannya menjadi lebih abadi.
Maka, Ayah Bunda, ajarkanlah kakak shalih-shalihah untuk mengikat ilmu dengan menulis. Karena ilmu yang tidak diikat dalam bentuk tulisan akan lebih mudah tercecer dan terlupakan.
Tentu saja agar piawai menulis, kakak shalih-shalihah juga harus dibiasakan untuk rajin membaca. Karena menulis tanpa membaca bagaikan pensil tumpul yang tak pernah diasah.
3. Patuh pada Orang Tua
Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.
Ayah Bunda, R.A. Kartini adalah sosok perempuan muda dengan kemauan keras dan keingintahuan yang besar. Apakah kakak shalih-shalihah juga memiliki karakter tersebut di dalam dirinya?
Wah, berarti kakak shalih-shalihah perlu tahu kisah Ibu Kartini, Ayah Bunda. Sekuat apapun R.A. Kartini memegang teguh impian dan cita-citanya, beliau tidak pernah melawan kehendak orang tua. Karakter ini tentu saja sangat penting untuk diteladani oleh kakak shalih-shalihah.
4. Berjiwa Sosial
Karakter istimewa lainnya dari seorang R.A. Kartini yaitu jiwa sosialnya yang sangat tinggi. Walaupun beliau berdarah biru, Ibu Kartini tidak pernah melihat status seseorang.
R.A. Kartini juga merupakan sosok dengan empati yang tinggi. Hingga kemudian beliau berpikir untuk membuka sekolah khusus untuk perempuan yang tinggal di sekitarnya.
5. Memiliki Keberanian dan Daya Juang
Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau.’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.
Ayah Bunda, pernahkah mendengar kakak shalih-shalihah berkata “Aku tidak bisa” ketika diminta melakukan sesuatu? Gemes bukan saat mendengarnya?
Yuk, ceritakan semboyan Ibu Kartini yang satu ini kepada kakak shalih-shalihah tentang kekuatan kata “Aku Mau.” Kemauan adalah kunci dalam mempelajari sesuatu.
Apabila sudah ada kemauan, insya Allah akan selalu ada jalan. Oleh karenanya, pastikan untuk melatih jiwa keberanian dan daya juang kakak shalih-shalihah dalam segala situasi.
Salah satunya dengan mengikutkan kakak shalih-shalihah beragam aktivitas. Juga dengan memberikan mereka tanggung jawab untuk mengerjakan chores (pekerjaan rumah tangga) ataupun mini project di dalam keluarga.
Ayah Bunda, karakter Ibu Kartini memang sangat inspiratif. Pastikan kakak shalih-shalihah untuk meneladani karakter-karakter tersebut sebagai modal perjalanan hidup mereka di masa depan.
Selain lima karakter di atas, adakah karakter Ibu Kartini lainnya yang bisa Ayah Bunda sebutkan? Yuk, bagikan di kolom komentar.***
Deg! Deg! Begitulah kiranya suara debar di hati kakak-kakak shalih dan shalihah yang pada Selasa, 11 April 2023 berpartisipasi pada Kompetisi Hifdzil Qur’an, salah satu dari 4 cabang perlombaan dalam kegiatan Musabaqah Fii Ramadhan – Kompetisi Calon Pemimpin Muslim.
Hifdzil Qur’an merupakan kompetisi yang diselenggarakan dengan bekal hafalan kakak-kakak shalih dan shalihah selama belajar di SD Islam Bintang Juara. Hal ini juga menjadi salah satu perwujudan dari implementasi Kurikulum Merdeka pada Profil Pelajar Pancasila Dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia.
5 Manfaat Mengikuti Kompetisi Hifdzil Quran untuk Calon Pemimpin Muslim
Dengan mengikuti kompetisi Hifdzil Quran, kakak shalih-shalihah diharapkan mampu menerapkan lima elemen kunci dari dimensi Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, yakni:
1. Akhlak Beragama
Kakak-kakak shalih dan shalihah mampu menyadari bahwa mereka mendapatkan amanah dari Allah SWT sebagai pemimpin atau khalifah di bumi, sehingga dapat menjadi pelajar Pancasila yang mengenal sifat-sifat Tuhannya. Selain itu diharapkan mereka juga senantiasa menghayati, dan patuh akan perintahNya, serta terus bereksplorasi hingga dapat memberikan kontribusi untuk peradaban dunia.
2. Akhlak Pribadi
Memiliki rasa sayang dan perhatian terhadap dirinya pribadi, termasuk dalam menjaga kesehatan jasmani rohani, dan menjaga kehormatan dirinya melalui tutur perilakunya. Selain itu kakak shalih-shalihah juga senantiasa muhasabah diri untuk menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya.
3. Akhlak kepada Manusia
Semua manusia yang beragam di dunia ini memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah SWT, sehingga kakak-kakak shalih dan shalihah diharapkan mampu mengutamakan persamaan dan kemanusiaan. Tak hanya itu, kakak shalih-shalihah juga bisa bijak menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada, dan mengapresiasi tindakan-tindakan positif orang lain.
4. Akhlak kepada Alam
Kakak-kakak shalih dan shalihah sebagai pelajar Pancasila mampu memahami bahwa manusia hidup di bumi ini berdampingan dengan makhluk lainnya. Salah satunya alam. Memiliki rasa kasih dan peduli terhadap lingkungan alam dan melestarikannya.
5. Akhlak Bernegara
Sadar dan paham akan kewajiban dan haknya sebagai warga negara, sehingga mampu memberikan dorongan bagi dirinya untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan negara.
Masya Allah ya Ayah Bunda, ternyata di balik kompetisi Hifdzil Quran memiliki segudang manfaat yang luar biasa.
Nah, kegiatan yang terkait dengan salah satu dimensi profil pelajar Pancasila ini diawali dengan registrasi ulang terlebih dahulu oleh para peserta, kemudian akan mendapatkan nomor undi untuk urutan tampil. Terdapat dua kegiatan yang dilakukan oleh para peserta dalam kompetisi ini yaitu melafalkan surat yang telah dipilihkan oleh juri dan menyambung ayat.
Masyaallah Ayah dan Bunda, kakak-kakak berani tampil di depan untuk melafalkan hafalan suratnya pada perlombaan dengan total 47 peserta loh. Bu Tutik, Bu Mida dan Pak Syahid selaku dewan juri dalam perlombaan ini selalu bersiap untuk memberikan penilaian kepada para peserta dengan memperhatikan unsur-unsur, berupa fashohah/makhorijul huruf, tajwid, dan kelancaran.
Pada cabang perlombaan yang menjadi wujud dari profil pelajar Pancasila ini terbagi dalam tiga level;
Level 1 (Bagi para peserta dengan capaiaan hafalan surat ad-Dhuha s.d An-Nas).
Level 2 (Bagi para peserta dengan capaian hafalan surat Al-Buruj s.d Al-Lail).
Level 3 (Bagi para peserta dengan capaian hafalan surat AN-Naba s.d Al-Insyiqoq).
Ayah dan Bunda boleh sharing dong, kakak-kakak shalih dan shalihah saat tampil sudah sampai di level mana ya? Apakah kakak shalih-shalihah menceritakan pengalamannya saat mengikuti kompetisi Hifdzil Quran?
Tips Agar Hafalan Kakak Shalih-Shalihah Terjaga
Pastikan untuk mengapresiasi keberanian kakak shalih-shalihah yang telah berani unjuk gigi dalam kompetisi ini, Ayah Bunda. Agar hafalan kakak shalih-shalihah makin mutqin, Ayah Bunda bisa membantu mereka untuk muroja’ah atau mengulang surat dan ayat-ayat yang telah dihafalnya setiap hari.
Selain menambah hafalan ayat baru, muroja’ah juga penting dilakukan Ayah Bunda. Hal ini agar hafalan pada ayat atau surat-surat sebelumnya tidak hilang dari ingatan.
Kemudian, agar hafalan terjaga, kakak shalih-shalihah juga bisa dibiasakan untuk menggunakan surat atau ayat yang sudah dihafalnya saat sedang shalat. Oh ya, Ayah Bunda juga bisa membuat kompetisi Hifdzil Quran di rumah masing-masing.
Kakak shalih-shalihah bisa diminta untuk membacakan surat yang telah dihafalnya di depan forum keluarga. Lalu juga Ayah Bunda bisa membacakan satu ayat, dan biarkan kakak shalih-shalihah melanjutkan ayat tersebut.
Selain tips sederhana yang kami bagikan di atas, apakah Ayah Bunda memiliki cara lain untuk menjaga hafalan kakak shalih-shalihah? Boleh ya berbagi tipsnya di kolom komentar agar bisa di-ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) oleh orang tua lainnya.
Selain Hifdzil Quran, cabang lain dalam Musabaqah Fii Ramadhan yang memiliki banyak peminat lainnya yaitu Kompetisi Kaligrafi. Ayah Bunda, yuk intip juga cerita seru jalannya kompetisi tersebut beserta informasi mengenai manfaat belajar kaligrafi.
Demikianlah catatan Bintang Juara tentang kompetisi Hifdzil Quran sebagai rangkaian dari Musabaqah Fii Ramadhan. Semoga bermanfaat dan terima kasih, Ayah Bunda.***
Ditulis oleh Iyana, Diedit dan Diterbitkan oleh Tim Humas & Media
Ayah dan Bunda, pada hari Selasa, 11 April 2023, SD Islam Bintang Juara melaksanakan Musabaqah Fii Ramadhan. Salah satu kompetisi yang ada pada event tersebut yaitu menulis kaligrafi.
Sebenarnya apa ya manfaat belajar kaligrafi, Ayah Bunda? Selain itu, ternyata ada banyak jenis kaligrafi lo. Apakah Ayah Bunda mengetahuinya?
Ayah Bunda, kompetisi kaligrafi yang merupakan bagian dari Musabaqah Fii Ramadhan diadakan sebagai salah satu cara SD Islam Bintang Juara untuk mendekatkan diri kakak shalih-shalihah kepada Allah SWT di bulan yang penuh berkah ini. Selain itu sebagai implementasi dari Kurikulum Merdeka pada pada Profil Pelajar Pancasila Dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia.
Arti Kata Kaligrafi
Pada kali ini kita akan membahas tentang manfaat belajar kaligrafi sebagai lanjutan informasi mengenai kompetisi yang baru saja dilaksanakan di SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 11 April 2023 lalu. Secara etimologis Kaligrafi berasal dari bahasa Inggris, “calligraphy.’
Kata tersebut berasal dari dua suku kata bahasa Yunani, yaitu kallos yang artinya beauty atau indah, dan graphein yang artinya to write atau menulis. Bila kedua kata tersebut digabungkan memiliki arti tulisan yang indah.
Dalam bahasa Arab, Kaligrafi biasa disebut khat yang memiliki arti garis atau coretan pena yang membentuk tulisan tangan. Selain itu, kaligrafi juga disebut fann al-khath yang memiliki arti seni memperbaiki coretan atau memperhalus tulisan.
Dari semua pengertian di atas, bisa disimpulkan secara sederhana, bahwasanya kaligrafi ialah suatu tulisan yang memiliki kandungan nilai keindahan dan seni. Sementara orang yang menulis kaligrafi disebut sebagai kaligrafer.
Masya Allah, Ayah Bunda, peminat kompetisi Kaligrafi cukup banyak lo. Terbukti ada 40an peserta yang terdaftar pada kompetisi ini. Seluruh peserta terdiri dari kakak shalih-shalihah dari kelas 1 – 5.
Sebelum kompetisi dimulai, Pak Ali sebagai ketua juri menyampaikan peraturan apa saja yang harus diikuti oleh para peserta. Setelah itu, Pak Ali memberikan contoh tulisan Arab berlafaz “Allah” yang merupakan materi untuk ditulis dan dikreasikan oleh kakak shalih shalihah kelas 1-3.
Sedangkan untuk kakak shalih-shalihah kelas 4-5, tulisan Arab yang harus dibuat dalam bentuk Kaligrafi adalah bacaan Basmallah (Bismillahirrohmanirrohim). Setelah penyampaian materi selesai, kakak shalih-shalihah diminta untuk langsung membuat kaligrafi sesuai dengan level kelasnya masing-masing.
Pada saat kakak shalih-shalihah sedang membuat bentuk Arab tersebut, ada salah seorang peserta yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menulis lafaz Allah dalam bahasa Arab. Kemudian kakak magang yang bertugas sebagai tim dokumentasi menyemangatinya hingga akhirnya ia berhasil untuk menyelesaikan tulisan Allah tersebut.
Selain itu, ada juga kakak shalih-shalihah yang tidak membawa pensil warna sehingga mereka mencari ide agar bisa mengkreasikan kaligrafi, yaitu dengan menggunakan pensil, pena dan spidol untuk mengarsir tulisan Arab yang dibuatnya.
Waktu yang diberikan untuk membuat kaligrafi adalah dua jam. Setelah proses pembuatan kaligrafi usai, kakak shalih-shalihah melakukan pengambilan gambar bersamaa dengan hasil karya mereka masing-masing. Kemudian, karya Kaligrafi tersebut dikumpulkan kepada Pak Ali.
Dari kompetisi tersebut, dewan juri yang terdiri dari Pak Ali, Bu Linda dan Bu Iin menemukan beberapa nama yang memiliki bakat dalam seni kaligrafi. Semoga dengan adanya kompetisi ini, bakat kakak shalih-shalihah bisa semakin terasah ya, Ayah Bunda. Doakan agar SD Islam Bintang Juara bisa senantiasa mendampingi kakak shalih-shalihah dalam mengembangkan bakat-bakat mereka.
7 Manfaat Belajar Kaligrafi, Ayah Bunda Wajib Tahu!
Ayah Bunda, selain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengembangkan bakat kakak sahlih-shalihah, masih ada enam manfaat belajar kaligrafi. Apa sajakah itu?
1. Menjaga Al-Qur’an dan Sunah
Kaligrafer memiliki peran dalam menjaga Al Quran dan Sunnah karena mereka menuliskan ayat-ayat Al Quran Apalagi jika hasil karya mereka tersebar secara luas, Masya Allah… ini menjadi hal penting dalam menjaga kitab suci agar tidak punah.
2. Untuk Menyalurkan Kemampuan Seni
Tidak semua bentuk seni diperbolehkan oleh Islam. Syarat seni yang halal adalah hal-hal yang tidak menjurus pada syirik dan maksiat. Kaligrafi adalah salah satu seni yang diperbolehkan dan disarankan untuk dipelajari.
3. Memudahkan Dalam Menghafal Al-Qur’an
Saat kakak shalih-shalihah sedang belajar menulis kaligrafi, mereka akan mengulang ayat-ayat tersebut beberapa kali. Dampaknya, ayat tersebut bisa terekam di otak. Bonusnya, ayat tersebut bisa dihafalkan oleh kakak shalih-shalihah.
4. Melatih Kesabaran
Belajar menulis kaligrafi membutuhkan kesabaran karena tak langsung sekali jadi. Melalui latihan demi latihan tersebut, otot tangan kakak shalih-shalihah juga jadi terstimulasi motoriknya. Selain kesabaran, latihan menulis kaligrafi juga melatih ketelitian.
5. Menambah Kecintaan Terhadap Ayat Al-Qur’an
Semua orang menyukai keindahan, sebagaimana Sang Maha Pencipta juga mencintai keindahan. Saat kakak shalih-shalihah menulis atau melihat kaligrafi, insya Allah rasa cinta terhadap ayat-ayat Al Quran menjadi bertambah.
6. Meningkatkan Kreativitas
Kaligrafi atau khat memiliki banyak jenis. Semakin banyak khat yang dipelajari, semakin meningkat kreativitas kakak shalih-shalihah. Hal ini tentu juga akan meningkatkan kinerja otak, Ayah Bunda.
7. Menjadi Sumber Penghasilan
Menulis kaligrafi juga bisa menjadi salah satu life skill yang kelak bisa menopang kehidupan kakak shalih-shalihah. Hasil karya kaligrafi yang dibuatnya bisa saja suatu hari menjadi sumber penghasilan.
Nah, setelah mengetahui manfaat belajar kaligrafi di atas, apakah Ayah Bunda jadi lebih semangat untuk mengembangkan bakat kakak shalih-shalihah di bidang menulis Arab dengan sentuhan seni ini?
Selain manfaat, Ayah Bunda juga perlu mengenal jenis-jenis kaligrafi atau khat. Yuk cari tahu!
Jenis-jenis Kaligrafi yang Sering Digunakan
Ada beragam jenis kaligrafi, tetapi setidaknya ada 6 jenis kaligrafi/ khat yang umum digunakan oleh para kaligrafer, yaitu:
1. Khat Kufi
Khat kufi pada awal Islam muncul berguna untuk menyalin kitab suci Al Quran. Khat ini merupakan gaya menulis Arab yang memiliki karakter kubisme. Khat ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis;
Kufi Musyajjar (Floriated Kufi)
Kufi Mudhofar (Plaited Kufi)
Kufi Animasi (Animated Kufi)
Kufi Murabba’ (Squared Kufi)
Kufi Muzakhraf
2. Khat Naskhi
Khat naskhi atau nasakha merupakan gaya menulis kaligrafi yang bentuk hurufnya melengkung dan miring. Gayanya ini membuat jadi lebih mudah dibedakan dengan tulisan kufi yang kaku.
3. Khat Tsuluts
Tsuluts memiliki arti sepertiga. Angka itu mengacu pada kalam tunar yang ukurannya klasik berjumlah 24 helai kuda. Memiliki dua varian;
Tsuluts Adi
Tsuluts Falil
4. Khat Dewani
Khat ini memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu tulisannya sangat miring ke kiri, saling tumpang tindih antara huruf satu dengan yang lainnya. Selain itu sebagian besar hurufnya ditulis di atas garis, kecuali huruf jim, ha’, kho’, mim dan lam akhir. Gaya tulisannya bulat melengkung, jarang menggunakan harokat dan elastis/ tidak terlihat kaku.
5. Khat Riq’ah
Keunikan jenis kaligrafi ini terletak pada huruf-hurufnya yang pendek. Hal ini membuatnya bisa ditulis lebih cepat daripada khat Naskhi. Khat ini cocok untuk belajar karena sederhana dan strukturnya tidak rumit.
6. Khat Farisi
Berbeda dengan jenis khat lainnya, khat Farisi memiliki ciri huruf miring ke kanan. Untuk bisa menulis dengan menggunakan khat ini, kaligrafer harus pandai mengubah-ubah posisi pena karena setiap huruf memiliki ukuran lebar yang berbeda-beda.
Demikianlah informasi mengenai manfaat belajar kaligrafi beserta ragam jenisnya. Apabila Ayah Bunda merasa informasi ini bermanfaat, silakan bagikan artikel ini kepada kerabat atau sahabat ya. Sampai jumpa pada catatan istimewa Bintang Juara berikutnya. Semangat mendampingi kakak shalih-shalihah mengembangkan bakatnya, Ayah Bunda.***
Ditulis oleh Fasya, dikembangkan dan diedit oleh Tim Humas & Media
Alhamdulillah, setelah sukses dengan episode perdana tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut, Bincang Ramadhan kembali menyapa Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah pada hari Sabtu, 1 April 2023. Episode kedua Bincang Ramadhan dengan tema “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal,” menghadirkan Drs. M. Fauroni sebagai narasumber dan dipandu oleh Mokhamad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., Ayah dari Kak Aquien Kelas 2.
Sebagai sekolah dasar yang menerapkan kurikulum merdeka, SD Islam Bintang Juara selalu berusaha untuk melibatkan orang tua dalam setiap lini kegiatan sekolah. Salah satunya adalah kegiatan Bincang Ramadhan.
Kegiatan ini berupa talkshow yang diinisiasi oleh FORSI (Forum Silaturahmi) Orang Tua Murid SD Islam Bintang Juara. Setiap episodenya akan ada narasumber dan host yang berbeda. Host atau pemandu acara diambil dari anggota FORSI secara bergantian, sementara narasumber selain dari orang tua siswa, juga bisa menghadirkan praktisi dan para ahli yang tinggal di sekitar SD Islam Bintang Juara.
Narasumber pada Bincang Ramadhan #2 adalah seorang Praktisi Kesehatan Thibbun Nabawi sekaligus ketua RW 04 Kelurahan Sukorejo. Dalam Bincang Ramadhan ini, ketua RW yang akrab dipanggil dengan nama Bapak Roni berbagi informasi mengenai bekam.
Sebagian ulama menganggap bekam sebagai salah satu sunnah Rasulullah SAW, yang apabila dilakukan secara rutin telah terbukti untuk menjaga kesehatan. Lalu seperti apakah bekam yang benar, apa saja manfaatnya dan bagaimana cara pengobatan ala Rasulullah SAW?
Simak ulasan Bincang Ramadhan #2 yang disajikan secara istimewa hanya untuk Ayah Bunda sekalian, khususnya yang belum sempat menyimak Live Streaming-nya beberapa waktu lalu.
Bekam ala Rasulullah Seperti Apa?
Bukan tanpa alasan menghadirkan Bapak Roni sebagai narasumber Bincang Ramadhan #2. Beliau telah menekuni bidang Thibunnabawi selama 20 tahun.
Bapak Roni menjelaskan bahwasanya bekam adalah bagian dari Thibbunnabawi. Thibbunnabawi adalah pengobatan yang bersumber dari nabi.
Berbeda dengan pengobatan medis modern yang berdasarkan uji coba dan rawan terjadinya kekeliruan, thibbunnabawi merupakan pengobatan yang berdasarkan wahyu. Bahkan salah satu hadits menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW mendapat informasi mengenai bekam langsung dari Malaikat Jibril.
Dalam sebuah riwayat hadits, dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya setiap kali Nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati sekumpulan Malaikat pada waktu mi’raj, pada malaikat itu selalu berpesan, “Hendaknya engkau membiasakan diri melakukan al-hijaamah.”
Beliau juga mengatakan, “Jibril memberitahu padaku bahwa hijaamah merupakan pengobatan paling bermanfaat bagi manusia”.
Hijamah sendiri merupakan bahasa Arab dari bekam, yang artinya penyedotan. Sementara istilah bekam justru berasal dari bahasa Melayu.
Metode bekam yaitu dengan memberikan minyak di bagian punggung atau titik-titik yang akan dibekam. Lalu dilakukan sayatan kemudian disedot darah kotornya.
Beberapa orang yang rutin melakukan bekam menyebutkan bahwasanya dampak yang terjadi setelah bekam, antara lain:
Badan terasa lebih enteng, tidak lagi terasa pegal
Kepala yang tadinya pusing jadi lebih ringan
Penglihatan jadi lebih terang
Disampaikan oleh Bapak Roni dampak-dampak positif tersebut dikarenakan bekam berguna untuk mengambil sampah-sampah yang ada di dalam tubuh kita. Sampah di sini maksudnya toksin yang masuk ke dalam tubuh melalui junk food, polusi, rokok, minuman yang mengandung soda, makanan berpengawet, dan zat-zat non organik lainnya.
Setiap hari darah akan mengalirkan zat-zat ke seluruh tubuh. Termasuk juga toksin yang masuk ke dalam tubuh. Toksin ini pada akhirnya justru menumpuk di dalam darah menyebabkan gumpalan-gumpalan.
Gumpalan-gumpalan darah tersebut kemudian menyumbat aliran darah dan membuat kerja jantung menjadi berat. Akibatnya, bisa mengakibatkan terjadinya stroke.
Nah, kalau Ayah Bunda rutin melakukan bekam, sampah-sampah tadi akan dikeluarkan sebelum menumpuk menjadi gumpalan. Tentu saja efeknya, badan jadi lebih segar dan sehat. Kinerja organ vital tubuh kita bisa menjadi lebih optimal.
Bapak Roni menyebutkan bahwasanya bekam tidak memiliki efek samping. Namun apabila ada orang yang dibekam setelahnya kok justru menjadi pusing dan ada keluhan, bisa jadi karena orang tersebut melanggar syarat berbekam.
Syarat Melakukan Bekam
Dalam kesempatan Bincang Ramadhan #2 dengan topik “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal,’ Bapak Roni menyampaikan kalau ada syarat-syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh terapis bekam atau jurkam (Juru Bekam), dan juga mereka yang akan dibekam.
Apabila syarat-syarat ini tidak dipenuhi, bisa jadi justru mengalami keluhan dan tidak mendapat manfaat bekam. Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Jurkam (Juru Bekam):
Berwudhu dan berdoa sebelum memulai proses bekam agar terhindar dari godaan setan.
Memastikan kebersihan alat bekam dan tempat yang akan digunakan.
Menggunakan sarung tangan.
Dilakukan sesuai syariat, yaitu terapis perempuan hanya menangani pasien perempuan dan terapis laki-laki hanya menangani pasien lelaki.
Bapak Roni pada sesi ini juga menyebutkan bahwa masih terbuka lebar kesempatan bagi para jurkam perempuan. Saat ini masih dibutuhkan banyak jurkam perempuan.
Bahkan Bapak Roni siap lo diundang oleh FORSI SD Islam Bintang Juara apabila ingin melakukan pelatihan bekam. Apakah Ayah Bunda berminat untuk belajar bekam?
Selain syarat-syarat yang harus dipenuhi terapis, ada juga lo syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh pasien, antara lain:
Sama halnya dengan terapis, sebaiknya pasien sebelum dibekam juga berwudhu dan melakukan sholat sunnah terlebih dahulu agar bekam lebih bisa dirasakan manfaatnya.
Bagi perempuan, hindari bekam saat sedang datang bulan. Secara sunnatullah, haid adalah proses detoksifikasi natural. Maka tidak perlu dilakukan detoksifikasi dengan bekam ketika haid sedang terjadi.
Selain saat sedang datang bulan, perempuan hamil juga disarankan untuk tidak bekam karena bisa mempengaruhi kondisi janin. Kalaupun badan terasa pegal-pegal dan ingin dibekam, hindari area perut.
Pastikan kondisi perut tidak terlalu kenyang dan tidak pula terlalu lapar.
Orang kesurupan dan mengalami gangguan jiwa dilarang melakukan bekam.
Nah, setelah mengetahui syarat-syarat ini, semoga Ayah Bunda yang belum pernah merasakan bekam, kini tidak lagi takut untuk mencobanya ya. Insya Allah tidak sakit. Kalau kata Pak Roni, “Hanya seperti digigit semut.”
Sedangkan waktu yang paling tepat untuk melakukan bekam, menurut Pak Roni, “Kalau dalam hadits disebutkan minimal setahun dua kali. Namun saat itu kondisi di zaman Rasulullah SAW belum banyak polusi dan bahan-bahan kimia. Beda dengan zaman sekarang yang paparan kimiawi semakin banyak, maka sarannya adalah sebulan dua kali.”
Bekam pada dasarnya adalah pencegahan. Jadi lebih baik dilakukan sebelum terjadinya penyakit. Sementara jika sudah ada keluhan-keluhan yang serius, bekam bisa dilakukan setiap satu kali dalam seminggu. Boleh juga lebih cepat dari itu, asalkan bekas titik-titik di tubuh karena proses bekam sebelumnya sudah hilang.
Materi di atas hanyalah sebagian kecil dari yang disampaikan oleh Pak Roni. Masih banyak sekali bahasan menarik pada Bincang Ramadhan #2 pada hari Sabtu, 1 April 2023 lalu, seperti batasan usia yang diperbolehkan bekam, perbedaan bekam kering dan bekam basah, sertifikasi untuk terapis bekam dan lainnya.
Bagi Ayah Bunda yang belum sempat menyimak, silakan bisa menonton videonya secara utuh:
Ayah Bunda, dalam sesi penutup Bincang Ramadhan #2, Ayah Kak Aquieen menyampaikan bahwa survei yang dilakukan oleh PBB menyatakan kalau hanya 15% penduduk dunia yang benar-benar sehat, 15% penduduk dunia menderita penyakit. Sementara 70% sisanya adalah orang-orang yang merasa sehat tetapi sebenarnya sakit, cuma belum diketahui.
Kondisi yang 70% tersebut seperti bom waktu. Apabila tidak segera memperbaiki gaya hidup, akan merugikan kesehatan tubuhnya.
Oleh karenanya Pak Roni mengingatkan akan pentingnya untuk meneladani cara hidup Rasulullah SAW. Sepanjang 63 tahun, Rasulullah SAW hanya pernah sakit selama dua kali.
Belajar Thibbunnabawi tidak bisa lepas dari belajar tentang Rasulullah SAW. Bukan hanya tentang bagaimana Beliau beribadah, tetapi juga bagaimana Rasulullah SAW menjaga pola tidur dan makan-minumnya.
Allah SWT adalah Pencipta manusia dan alam semesta ini. Diturunkannya Al Quran adalah sebagai manual book alias buku petunjuk bagaimana manusia seharusnya berkehidupan di alam ini, termasuk juga dalam memilih makanan dan minuman. Insya Allah apabila pola hidup Ayah Bunda sudah sesuai dengan Al Quran, tubuh akan senantiasa aman, terjaga, sehat dan selamat.
Demikian catatan istimewa Bintang Juara tentang “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal.” Semoga bermanfaat, dan sampai jumpa pada Bincang Ramadhan berikutnya.***
“Tabu bukan berarti tidak Dibicarakan. (Abah Ihsan Baihaqi)
Alhamdulillahirrobil’alamin, Webinar Islamic Parenting bersama Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari yang bertajuk Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja telah tuntas terlaksana. Eksklusif hanya untuk orang tua murid Sekolah Islam Bintang Juara dan peserta umum yang telah mendaftar.
Hari Ahad, 26 Maret 2023, Abah Ihsan menyampaikan banyak sekali materi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi Ayah Bunda yang pernah mengikuti parenting workshop Karunia Cinta Remaja pada 6 November tahun lalu, webinar kali ini menjadi sarana murojaah yang semakin menguatkan azzam untuk mendampingi kakak shalih-shalihah memasuki masa-masa remajanya.
Acara dibuka secara resmi pada pukul 08.25. Ibu Marita Ningtyas selaku MC membacakan susunan acara, tata tertib webinar dan membuka forum belajar tersebut dengan bacaan basmallah bersama-sama.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran Surat An Nur ayat 54 dan 59 oleh Kak Raffasya dari Kelas 5 dan saritilawah oleh Kak Frasca dari Kelas 5. Dua ayat yang dibacakan tersebut menjadi prolog betapa pentingnya untuk mengajarkan kakak shalih-shalihah menjadi umat yang taat dan menjaga kesantunan dalam perilaku sehari-hari.
Acara berikutnya yaitu sambutan oleh Pembina Yayasan Dewi Sartika, Ibu Prof. Dr. Esmi Warassih, SH. MS. Dibuka dengan salam sapa yang hangat, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tantangan dan bahaya pergaulan bebas dari lingkungan.
Eyang Esmi menyampaikan bahwa sebagai orangtua wajib mempersiapkan diri untuk menangani anak saat memasuki masa pubertas. Kewajiban kita sebagai manusia itu mencari ilmu di manapun tempatnya.
Sebelum memasuki acara inti, MC membacakan CV moderator dan mempersilakannya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog webinar. Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi, M.Psi, Psikolog sebagai moderator, sekaligus Ketua Yayasan Dewi Sartika, menyampaikan bahwa segala macam permasalahan remaja yang ada saat ini adalah cara Allah SWT agar para orang tua mau belajar dan menemukan solusi untuk menghadapinya.
Disampaikan pula oleh sosok ibu empat orang anak yang akrab dipanggil Bunda Vivi ini, hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa mengangkat “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sebagai tema Webinar Islamic Seminar.
Padatnya Materi Abah Ihsan dalam “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja”
Puber berbeda dengan masa aqil baligh. Istilah puber lebih tepat mengacu pada kata baligh, tanpa aqil. Puber lebih ke perubahan fisik, berdasarkan kata asalnya yaitu ‘pubic’, yang berarti tumbuhnya bulu kemaluan.
Adapun tanda-tanda baligh yang utama pada anak laki-laki yaitu mengalami mimpi basah dan kemampuan untuk memproduksi sperma. Sedangkan pada anak perempuan, tanda-tanda baligh yang utama yaitu munculnya menstruasi.
Perubahan fisik pada bagian-bagian tubuh, seperti payudara dan tumbuhnya bulu kemaluan, suara yang makin ngebas pada anak laki-laki adalah tanda-tanda baligh yang sekunder. Sebenarnya, untuk mempersiapkan masa pubertas tidak perlu menunggu kakak shalih-shalihah memunculkan tanda-tanda tersebut, Ayah Bunda.
Bahkan sebaiknya Ayah Bunda mulai mempersiapkan kakak shalihah ketika usianya memasuki 7 tahun. Sementara untuk kakak shalih bisa mulai diajak ngobrol mengenai tanda-tanda pubertas pada usia ke 10.
3 Alasan Penting Mengapa Membekali Anak Tarbiah Pubertas
Mungkin sebagian besar Ayah Bunda merasa aneh atau bingung untuk memulai pembicaraan mengenai tanda-tanda pubertas. Nah, agar menguatkan Ayah Bunda dalam menyampaikan Tarbiah Pubertas kepada kakak shalih-shalihah, Abah Ihsan Baihaqi dalam pemaparannya menyebutkan tiga alasan penting mengapa anak harus dibekali ilmu sebelum memasuki masa pubertas:
1. Kenal Diri
Kakak shalih-shalihah harus diberikan bekal tentang siapa dirinya, apa gendernya, ada apa saja dalam tubuhnya. Bekal ini bertujuan supaya kakak shalih-shalihah mengenal dirinya dengan baik.
Mereka harus paham apa reaksinya, apa yang akan terjadi dan untuk apa mengenal tubuhnya. Anak perlu tahu apa yang sudah, tengah dan akan terjadi pada tubuhnya.
Oleh karenanya pastikan untuk tidak menjadikan candaan dalam proses awal pembentukan diri seorang anak. Contoh, memakaikan kerudung kepada anak lelaki hanya untuk lucu-lucuan.
Atau mengatakan pada anak bahwasanya dulu Ayah Bunda menginginkan anak perempuan, tetapi yang terlahir justru anak lelaki. Candaan dan kalimat-kalimat yang memberi kesan penyesalan bisa memberikan dampak buruk dalam tahap perkembangan seorang anak.
Ketika kakak shalih-shalihah mampu mengenal dirinya dengan baik, mereka jadi bisa tahu tujuan dirinya diciptakan oleh Allah SWT. Hal ini adalah bagian dari aqidah.
2. Jaga Diri
Setelah anak bisa mengenal dirinya dan kebutuhannya, ajarkan pula mereka tentang bagaimana menjaga diri. Terkait batasan aurat, batasan berteman dengan siapa saja, mahram mereka siapa saja, adab meminta izin, dan adab pergaulan yang harus senantiasa dijaga.
Kakak shalih-shalihah wajib dibimbing untuk mengenali lingkungan dan paham bagaimana menjaga dirinya, bukan hanya sekadar menjaga tubuhnya.
3. Siap Diri
Ada banyak perubahan yang terjadi saat memasuki masa pubertas. Oleh karenanya kakak shalih-shalihah harus dibekali agar siap menerima perubahan-perubahan yang terjadi.
Anak yang tidak disiapkan lebih dulu akan merasa kaget dengan perubahan fisiknya. Bahkan yang berubah bukan hanya fisik, tetapi juga hormon di dalam dirinya yang mempengaruhi perkembangan emosi dan mental.
Apabila anak telah dipersiapkan oleh orang tuanya, kakak shalih-shalihah tidak perlu mencari referensi dan informasi dari luar. Penting bagi orang tua untuk bisa menjadi sahabat yang nyaman bagi kakak shalih-shalihah untuk bercerita apa saja.
4 Prinsip Dasar Tarbiah Pubertas
Untuk membangun remaja yang siap diri, diperlukan beberapa prinsip dasar, yaitu:
1. Harus Tahu Meski Tabu
“Dibahas meski tidak ditanyakan.”
Ayah Bunda tentu sepakat bahwa masalah seksualitas adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun bukan berarti hal tersebut tidak perlu diobrolkan dan anak dibiarkan mencari tahu sendiri.
Karena ini adalah permasalahan yang sensitif, maka pastikan kakak shalih-shalihah hanya membicarakan hal ini dengan orang tertentu saja. Yang terpenting adalah orang tersebut memiliki kredibilitas yang bisa dipercaya, yaitu orang tua, guru, atau konselor.
Bahkan meski kakak shalih-shalihah tidak menanyakan hal ini, Ayah Bunda harus tetap membahasnya. Karena sangat membahayakan apabila anak mengetahui hal-hal sensitif ini dari referensi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
2. Jangan Dibiarkan, Tapi Disiapkan
Pastikan Ayah Bunda tidak membiarkan anak mencari jati dirinya sendiri, tapi harus bisa membantu menemukan jati dirinya. Caranya yaitu dengan membangun diskusi, bukan sekadar memberikan informasi secara searah.
Ajak anak untuk berpikir secara aktif, lalu beri kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Kemudian, akhiri dengan pemberian pijakan untuk penguatan adab dan akhlaq.
3. Bukan Penasaran tapi Tentang Pemahaman
Tarbiah pubertas seharusnya disampaikan bukan sekedar mengenalkan (taaruf), tapi juga tafahum (pemahaman). Kakak shalih-shalihah perlu tahu hal-hal dasar mengenai fungsi kemaluannya, mengapa manusia memiliki gairah, pengertian cinta, perbedaan cinta dengan nafsu, dan hal-hal penting lainnya.
4. Sehat Reproduksi, Sehat Mental
“Iman di hati sebelum reproduksi. Mengelola malu sebelum menyalurkan nafsu.”
Kesenangan hanya akan terjaga nilainya jika terbatas. Di sinilah pentingnya kakak-kakak shalihah mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan kesenangan. Kesenangan itu harus dibatasi, sementara kebutuhan harus dipenuhi.
Oleh karenanya anak perlu tahu bahwa cinta akan menjadi sehat apabila ditumbuhkan setelah pernikahan. Apabila cinta diumbar sebelum pernikahan, tidak akan ada nikmatnya. Hanya akan ada kesedihan dan penyesalan karena telah melanggar aturan yang ditetapkan Allah SWT.
Ayah Bunda, semua catatan ini barulah bagian pembuka dari Webinar Islamic Seminar bersama Abah Ihsan. Sudah demikian bermanfaat bukan?
Sementara terkait apa saja tahapan dalam edukasi masa baligh, ada enam cara yang disampaikan oleh Abah Ihsan pada pemaparan materi “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja.” Untuk mengetahui informasi selengkapnya, silakan membaca artikel “6 Cara Edukasi Masa Baligh agar Anak Mampu Mengekspresikan Cinta dengan Tepat.”
Webinar Islamic Parenting adalah kegiatan yang rutin diadakan oleh Sekolah Islam Bintang Juara. Terutama SD Islam Bintang Juara sebagai satu-satunya Sekolah Penggerak Angkatan 2 di Kecamatan Gunung Pati yang telah menerapkan filosofi kurikulum merdeka jauh sebelum kurikulum ini ditetapkan oleh pemerintah.
Program parenting merupakan salah satu penerapan dari kurikulum merdeka, yaitu sebagai bentuk keterlibatan orang tua secara aktif dalam kegiatan yang ada di sekolah. Oleh karenanya, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayah Bunda yang telah mendukung sehingga acara ini bisa berjalan dengan lancar.
Tak lupa kami juga berterima kasih kepada segenap pihak sponsor dan donatur yang telah dengan ikhlas memberikan support, baik secara materiil maupun immateriil. Semoga Allah SWT mudahkan dan lancarkan segala urusannya.
Ayah Bunda, semoga Allah SWT mudahkan untuk mengambil hikmah dari webinar “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sehingga bisa mempraktikkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Nantikan acara-acara parenting dari SD dan PAUD Islam Bintang Juara selanjutnya.***