by admin admin | Feb 13, 2026 | Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Ramadan memang belum tiba, tetapi getarannya sudah terasa kuat di lingkungan SD Islam Bintang Juara. Ada semangat yang tumbuh perlahan. Ada hati-hati kecil yang mulai dipersiapkan. Karena menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu tanggal di kalender—melainkan menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.
Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah di SD Islam Bintang Juara
Selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat, 11–13 Februari 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti Rangkaian Tarbiyah Ramadan SD Islam Bintang Juara. Setiap harinya menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesiapan ilmu, hati, dan amal dalam menyambut bulan suci.
Rabu, 11 Februari 2026: Tarbiyah Ramadan & Pembagian Buku Ramadan
Hari pertama dibuka dengan kegiatan Tarbiyah Ramadan dan Pembagian Buku Ramadan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok besar agar materi sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Kelas Tinggi (Kelas 4–6): Menguatkan Pemahaman dan Kesadaran
Kakak kelas 4–6 didampingi oleh Pak Zaki. Sesi dimulai bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan recalling—mengajak kakak mengingat kembali apa saja yang penting diketahui tentang Ramadan.
- “Ramadan itu bulan apa?”
- “Apa tujuan kita berpuasa?”
- “Selain puasa, ibadah apa saja yang dianjurkan?”
Tangan-tangan terangkat. Jawaban mengalir: puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah, menahan amarah. Diskusi terasa hidup. Kakak tidak hanya menyebutkan, tetapi mulai memahami makna di baliknya.
Pak Zaki kemudian menguatkan kembali esensi Ramadan sebagai bulan pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perbuatan. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri.
Kelas Rendah (Kelas 1–3): Memahami Ramadan dengan Ceria
Sementara itu, kakak kelas 1–3 didampingi oleh Pak Ali dan Pak Rizki. Pendekatannya tentu berbeda. Anak-anak diajak menonton video animasi Rico tentang berpuasa.
Melalui tayangan yang ringan dan menyenangkan, kakak belajar tentang apa itu puasa, kapan waktu berpuasa, serta hal-hal sederhana yang perlu dijaga selama Ramadan. Setelah menonton, Pak Ali dan Pak Rizki memberikan penjelasan dasar dengan bahasa yang mudah dipahami.
- Apa itu niat?
- Kenapa tidak boleh makan dan minum saat puasa?
- Bagaimana jika lupa?
Semua dijelaskan sesuai kebutuhan usia mereka. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangun pemahaman awal yang kuat.
Di akhir sesi, baik di kelas tinggi maupun rendah, kakak menerima Buku Ramadan yang akan menjadi panduan ibadah dan refleksi selama bulan suci. Buku ini bukan sekadar lembaran tugas, melainkan sahabat perjalanan spiritual mereka.
Hari pertama ditutup dengan senyum dan rasa penasaran. Ramadan terasa semakin dekat.
Kamis, 12 Februari 2026: BBM – Bersih-bersih Masjid dan Musala
Hari kedua diisi dengan kegiatan penuh makna: BBM (Bersih-bersih Masjid dan Musala).
Kakak kelas 3–5 berangkat ke masjid dan musala sekitar sekolah. Sapu di tangan, lap kain dibawa, dan hati yang siap beramal. Membersihkan karpet, merapikan sajadah, menyapu halaman—semua dilakukan bersama.
Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti. Dari hal sederhana ini, kakak shalih–shalihah belajar menjadi muslim yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat.
Membersihkan rumah Allah menjadi jalan untuk membersihkan hati. Setiap debu yang disapu seolah mengingatkan bahwa hati pun perlu dibersihkan dari iri, malas, dan amarah.
Ini adalah amalan spesial menyambut Ramadan.
Sementara itu, kakak kelas 1–2 dan kelas 6 mendapat tugas membersihkan area sekolah. Kelas 6 sebelumnya harus menuntaskan ujian praktik, sehingga mereka kemudian mendapat amanah mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2.
Pemandangan yang indah terlihat: kakak kelas 6 membimbing adik-adiknya. Mengajarkan cara menyapu, mengingatkan untuk berhati-hati, dan bekerja sama. Ramadan benar-benar menjadi momen pembinaan karakter.
Jumat, 13 Februari 2026: Pawai Ramadan – Syiar yang Berjalan
Hari ketiga menjadi puncak yang paling meriah: Pawai Ramadan.
Bersama PAUD Islam Bintang Juara, kakak shalih–shalihah berbaris rapi. Mereka membawa manggar yang telah dibuat di rumah masing-masing. Warna-warni hiasan menghiasi barisan, menciptakan suasana penuh semangat.
Langkah kecil mereka menyusuri area perkampungan dekat sekolah. Shalawat dilantunkan bersama. Suaranya mungkin sederhana, tetapi getarannya terasa kuat.
Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah syiar. Doa yang berjalan. Harapan yang dikibarkan bersama. Harapan untuk hati yang lebih bersih. Ibadah yang lebih kuat. Dan diri yang lebih baik dari kemarin.
Warga sekitar menyambut dengan senyum. Ada kebahagiaan yang menular. Anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.
Ramadan Dimulai dari Persiapan Hati
Rangkaian Tarbiyah Ramadan ini menunjukkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan menunggu hilal terlihat. Persiapan harus dimulai jauh-jauh hari—dengan ilmu, amal, dan kebersamaan.
- Melalui tarbiyah, kakak memahami makna Ramadan.
- Melalui bersih masjid, kakak belajar peduli dan beramal.
- Melalui pawai, kakak belajar bersyiar dan berbagi semangat.
Di SD Islam Bintang Juara, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi proses pembinaan karakter yang berkelanjutan.
Kini, Ramadan semakin dekat. Dan pertanyaannya bukan lagi, “Kapan Ramadan tiba?” Tetapi, “Sudah sejauh mana kita menyiapkan diri?”
Kalau ayah bunda, sudah menyiapkan kegiatan apa di rumah untuk menyambut Ramadan bersama kakak shalih–shalihah?***
by admin admin | Feb 5, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar untuk anak kelas 1 bukan sekadar mengenal angka dan huruf. Lebih dari itu, belajar adalah proses memahami dunia—melalui benda di sekitar, cerita, dan pengalaman yang bermakna. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kegiatan ini terasa istimewa karena menghadirkan Ayah Rais Kandar dan Bunda Karina Yudono, orang tua dari Kak Inayah, yang mengajak kakak shalih–shalihah belajar dengan cara sederhana, konkret, dan penuh makna.
Belajar Konsep Berat dan Ringan dengan Cara Nyata
Pembelajaran dimulai dari hal yang sangat dekat dengan dunia anak. Ayah Rais dan Bunda Karina memperkenalkan timbangan sederhana dari hanger. Dengan alat ini, kakak shalih–shalihah diajak membandingkan dua benda: mana yang lebih berat, dan mana yang lebih ringan.
Saat dua benda digantungkan di sisi kanan dan kiri hanger, anak-anak memperhatikan dengan saksama. Ketika salah satu sisi turun, spontan mereka berseru, “Itu lebih berat!” Dari sini, konsep berat dan ringan tidak lagi menjadi istilah abstrak, melainkan pengalaman visual dan nyata.
Kakak shalih–shalihah pun mencoba satu per satu. Mereka belajar bahwa ukuran benda tidak selalu menentukan beratnya. Ada benda kecil yang ternyata berat, dan ada benda besar yang justru ringan. Proses ini melatih rasa ingin tahu dan kemampuan observasi sejak dini.
Cerita yang Membuat Konsep Lebih Hidup
Setelah praktik menimbang, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Bunda Karina membacakan sebuah cerita sederhana yang mengaitkan konsep berat dengan fenomena alam, yaitu hujan.
Kakak shalih–shalihah diajak membayangkan awan di langit. Awan membawa air di dalam “tubuhnya”. Ketika air itu semakin banyak dan semakin berat, awan tidak mampu menahannya lagi. Maka, air pun jatuh ke bumi sebagai hujan.
Cerita ini membuat anak-anak terkesima. Mereka mulai memahami bahwa konsep berat tidak hanya ada pada benda yang bisa dipegang, tetapi juga ada di alam sekitar. Belajar pun terasa seperti mendengarkan kisah petualangan, bukan pelajaran yang membosankan.
Mengaitkan Ilmu dengan Nilai Kehidupan
Yang membuat kegiatan BBOT ini semakin bermakna adalah saat Ayah Rais mengajak kakak shalih–shalihah berpikir lebih dalam. Ia bercerita bahwa timbangan tidak hanya ada di dunia, tetapi juga ada di akhirat.
Dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, Ayah Rais menjelaskan bahwa kelak amal baik dan dosa manusia akan ditimbang. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Pesan ini disampaikan dengan lembut, tanpa menakut-nakuti, namun penuh makna.
Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa konsep berat dan ringan juga bisa dimaknai secara nilai. Amal baik yang banyak akan menjadi “berat” di timbangan kebaikan. Sebaliknya, perbuatan buruk perlu dihindari agar tidak memberatkan timbangan dosa.
Pembelajaran Tematik yang Menyentuh Akal dan Hati
Kegiatan BBOT Kelas 1B menjadi contoh pembelajaran tematik yang utuh. Anak-anak tidak hanya belajar sains dan matematika sederhana, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Semua disampaikan melalui pengalaman langsung dan cerita yang dekat dengan dunia mereka.
Pendekatan seperti ini membantu kakak shalih–shalihah memahami pelajaran dengan lebih mudah. Mereka tidak hanya mengingat konsep berat dan ringan, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
Kehadiran Ayah Rais dan Bunda Karina menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga, di mana orang tua turut terlibat aktif sebagai pendamping dan inspirator.
Anak-anak melihat langsung bahwa belajar tidak hanya milik guru di sekolah, tetapi juga bisa dilakukan bersama orang tua. Hal ini menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan semangat belajar yang lebih besar.
Belajar yang Menyenangkan dan Berkesan
Sepanjang kegiatan, wajah kakak shalih–shalihah Kelas 1B dipenuhi rasa antusias. Mereka tertawa, bertanya, mencoba, dan mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Tanpa disadari, mereka telah belajar banyak hal dalam satu kegiatan sederhana.
Melalui BBOT “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang bermakna—menghubungkan ilmu, pengalaman, dan nilai kehidupan.
Karena sejak dini, anak perlu belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk dipahami, dirasakan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.***
by admin admin | Feb 3, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Suasana kelas 2B SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 3 Februari 2026 tampak lebih hidup dari biasanya. Meja dan kursi tertata rapi, beberapa alat belajar sudah siap, dan wajah kakak shalih–shalihah terlihat penuh rasa ingin tahu. Hari itu, kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) kembali hadir, membawa pengalaman belajar yang berbeda dan penuh keceriaan.
Kali ini, kelas 2B kedatangan Bunda Fariha, bunda dari Kak Atha, yang mengajak kakak shalih–shalihah menjelajah dunia bangun ruang melalui aktivitas yang seru, interaktif, dan menyenangkan. Tema kegiatan hari itu adalah “Jelajah Bangun Ruang”, sebuah topik matematika yang sering dianggap sulit, namun berhasil dihadirkan dengan cara yang ramah anak.
Mengawali dengan Recap: Mengingat Bangun Datar
Sebelum masuk ke materi bangun ruang, Bunda Fariha mengajak kakak shalih–shalihah melakukan recalling atau mengingat kembali materi yang sudah pernah dipelajari, yaitu bangun datar. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan dan penuh semangat, kakak diminta menyebutkan bentuk-bentuk seperti persegi, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran.
Kegiatan recalling ini menjadi jembatan penting agar kakak shalih–shalihah tidak merasa “loncat materi”. Mereka diajak menyadari bahwa bangun ruang sebenarnya sangat dekat dengan bangun datar. Dari sini, kakak mulai memahami bahwa belajar matematika adalah proses yang saling terhubung, bukan potongan-potongan terpisah.
Suasana kelas pun terasa hangat. Beberapa kakak dengan percaya diri mengangkat tangan, sementara yang lain mengikuti dengan antusias. Bunda Fariha dengan sabar mengapresiasi setiap jawaban, membuat kakak merasa aman untuk mencoba dan tidak takut salah.
Mengenal Bangun Ruang dengan Cara yang Mudah Dipahami
Setelah recalling, barulah Bunda Fariha mengajak kakak shalih–shalihah masuk ke materi inti: jenis-jenis bangun ruang. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kakak dikenalkan pada bentuk-bentuk seperti kubus, balok, tabung, dan bola.
Alih-alih langsung memberi definisi panjang, Bunda Fariha mengajak kakak untuk mengamati, membandingkan, dan menyebutkan ciri-ciri bangun ruang tersebut. Kakak diajak berpikir: bangun mana yang punya sisi datar, mana yang bisa menggelinding, dan mana yang menyerupai benda-benda di sekitar mereka.
Pendekatan ini membuat kakak shalih–shalihah lebih mudah memahami konsep bangun ruang tanpa merasa sedang “belajar berat”. Matematika pun terasa lebih dekat dan relevan dengan dunia mereka.
Paling Seru: Game Mencari Bangun Ruang di Dalam Kelas
Bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba. Bunda Fariha mengajak kakak shalih–shalihah bermain game menyebutkan bangun ruang yang ada di dalam kelas. Kelas 2B pun dibagi menjadi beberapa tim kecil. Tantangannya sederhana, namun seru: setiap tim harus menemukan sebanyak mungkin contoh bangun ruang di sekitar mereka.
Seketika, suasana kelas menjadi ramai namun tetap tertib. Ada yang menunjuk lemari sebagai balok, tempat sampah sebagai tabung, hingga bola sebagai contoh bangun ruang berbentuk bola. Kakak shalih–shalihah berlomba-lomba berdiskusi dengan timnya, saling mengingatkan, dan bekerja sama.
Tim yang berhasil menemukan bangun ruang paling banyak pun dinobatkan sebagai pemenang tantangan. Namun lebih dari sekadar menang, kakak shalih–shalihah belajar bahwa belajar bisa dilakukan sambil bergerak, mengamati, dan bekerja sama dengan teman.
Menyusun Funny Blocks: Belajar Sambil Berkarya
Keseruan belum berakhir. Bunda Fariha kembali mengajak kakak shalih–shalihah untuk berkreasi dengan funny blocks. Dengan balok-balok warna-warni, kakak diminta menyusun dan membentuk bangun ruang sesuai imajinasi mereka.
Ada yang menyusun kubus dengan rapi, ada pula yang mencoba membuat bentuk-bentuk unik dari gabungan beberapa bangun ruang. Aktivitas ini tidak hanya melatih pemahaman konsep matematika, tetapi juga mengembangkan motorik halus, kreativitas, dan kemampuan problem solving.
Di sini, kakak belajar bahwa satu bangun ruang bisa disusun dari beberapa bagian. Mereka juga belajar bersabar, mencoba ulang ketika susunan belum sesuai, dan merasa bangga saat hasil karyanya berhasil terbentuk.
Belajar Bangun Ruang Jadi Lebih Menyenangkan
Melalui rangkaian aktivitas BBOT Kelas 2B ini, kakak shalih–shalihah merasakan langsung bahwa belajar bangun ruang tidak harus membosankan. Dengan pendekatan yang tepat, materi matematika bisa menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan berkesan.
Kegiatan ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dalam proses pembelajaran di sekolah. Kehadiran Bunda Fariha bukan hanya sebagai narasumber, tetapi juga sebagai pendamping belajar yang menghadirkan suasana akrab dan penuh semangat.
BBOT: Ruang Kolaborasi untuk Tumbuh Bersama
BBOT Kelas 2B menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. Anak-anak tidak hanya belajar tentang bangun ruang, tetapi juga belajar bekerja sama, berani mencoba, dan menikmati proses belajar.
Hari itu, kelas 2B pulang dengan senyum dan cerita seru. Mereka membawa pulang pemahaman baru bahwa matematika bisa dipelajari melalui permainan, eksplorasi, dan kreativitas.
Karena di SD Islam Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang memahami angka dan bentuk, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa senang, percaya diri, dan cinta belajar sejak dini.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jan 30, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu, Jumat, 30 Januari 2026, suasana kelas 2C SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Wajah-wajah ceria kakak shalih–shalihah menyambut kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) yang kembali hadir membawa pengalaman belajar bermakna. Kali ini, kelas 2C mengikuti kegiatan bertema “Jelajah Bangun Ruang di Sekitarku” bersama Bunda Rusita Hartanti, orang tua dari Kak Nabila.
Dengan penuh semangat, Bunda Rusita mengajak kakak shalih–shalihah menyelami dunia bangun ruang—bukan hanya lewat penjelasan, tetapi juga melalui aktivitas praktik dan kerja kelompok yang seru. Matematika yang sering dianggap sulit pun berubah menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Belajar Bangun Ruang Dimulai dari Hal yang Dekat
Kegiatan diawali dengan pemaparan ringan dari Bunda Rusita tentang jenis-jenis bangun ruang. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kakak shalih–shalihah diajak mengenal bentuk seperti kubus, balok, tabung, dan bola.
Bunda Rusita tidak sekadar menjelaskan, tetapi juga mengajak kakak untuk membayangkan dan menyebutkan benda-benda di sekitar mereka yang memiliki bentuk bangun ruang tersebut. Cara ini membantu kakak memahami bahwa bangun ruang bukan hanya gambar di buku, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Suasana kelas terasa hidup. Kakak shalih–shalihah aktif menyimak, menjawab pertanyaan, dan saling berbagi pendapat. Proses belajar pun berlangsung dua arah, membuat kakak lebih terlibat dan percaya diri.
Belajar Berkelompok: Membangun Pemahaman Bersama
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan belajar berkelompok. Kakak shalih–shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapatkan instruksi untuk membuat bangun ruang menggunakan funny blocks sesuai arahan yang diberikan oleh Bunda Rusita.
Di sinilah keseruan semakin terasa. Kakak berdiskusi dengan teman sekelompoknya, membagi tugas, dan saling membantu agar bangun ruang yang diminta dapat tersusun dengan baik. Ada yang bertugas menyusun, ada yang mengamati bentuk, dan ada pula yang memastikan hasilnya sesuai dengan instruksi.
Melalui aktivitas ini, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar mengenali bangun ruang, tetapi juga belajar kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab dalam kelompok.
Funny Blocks: Media Belajar yang Membuat Anak Aktif
Penggunaan funny blocks menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan BBOT Kelas 2C. Dengan balok-balok berwarna yang bisa disusun menjadi berbagai bentuk, kakak shalih–shalihah belajar sambil bermain dan bereksplorasi.
Mereka mencoba menyusun kubus dengan sisi yang sama, membuat balok dengan ukuran berbeda, hingga memahami perbedaan bangun ruang melalui pengalaman langsung. Ketika susunan belum sesuai, kakak belajar untuk mencoba kembali, memperbaiki, dan tidak mudah menyerah.
Aktivitas ini secara tidak langsung melatih logika berpikir, motorik halus, serta kemampuan memecahkan masalah. Belajar matematika pun terasa lebih hidup karena melibatkan tangan, mata, dan pikiran secara bersamaan.
Bangun Ruang di Sekitarku: Belajar dari Lingkungan
Tema “Bangun Ruang di Sekitarku” mengajak kakak shalih–shalihah menyadari bahwa konsep matematika sangat dekat dengan lingkungan mereka. Dari bangun ruang yang disusun menggunakan funny blocks, kakak mulai mengaitkan dengan benda nyata di sekitar kelas dan rumah.
Pemahaman ini penting agar anak tidak hanya hafal nama bangun ruang, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih bermakna dan mudah diingat.
Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak
Kegiatan BBOT Kelas 2C kembali menegaskan pentingnya peran orang tua dalam dunia pendidikan. Kehadiran Bunda Rusita sebagai orang tua sekaligus fasilitator belajar memberikan warna tersendiri dalam pembelajaran.
Anak-anak merasa lebih dekat, nyaman, dan termotivasi. Mereka melihat bahwa orang tua juga terlibat aktif dalam proses belajar, bukan hanya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Kolaborasi seperti inilah yang menjadi kekuatan pembelajaran di SD Islam Bintang Juara.
Belajar Matematika dengan Cara yang Menyenangkan
Melalui rangkaian kegiatan BBOT ini, kakak shalih–shalihah Kelas 2C membuktikan bahwa belajar bangun ruang bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa takut salah—yang ada adalah eksplorasi, diskusi, dan kebahagiaan dalam belajar.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan matematika anak, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar. Anak-anak pulang dengan pengalaman baru dan cerita seru yang akan mereka ingat.
BBOT: Menumbuhkan Cinta Belajar Sejak Dini
BBOT Kelas 2C menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pembelajaran yang kolaboratif mampu menciptakan pengalaman belajar yang positif. Dengan melibatkan orang tua, anak-anak belajar dalam suasana yang hangat, interaktif, dan bermakna.
Di SD Islam Bintang Juara, setiap kegiatan dirancang bukan hanya untuk menyampaikan materi, tetapi juga untuk menumbuhkan cinta belajar, kerja sama, dan karakter positif sejak dini.
Karena kami percaya, ketika belajar terasa menyenangkan, maka ilmu akan lebih mudah melekat dan membentuk generasi pembelajar yang percaya diri dan berakhlak mulia.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jan 28, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Suasana ruang kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 27 Januari 2026 terasa berbeda dari biasanya. Meja dan kursi tertata rapi, wajah kakak shalih-shalihah tampak antusias, dan di depan kelas berdiri seorang sosok yang tak asing namun membawa perspektif baru: Ayah Mustafa, orang tua dari Kak Nadhif. Hari itu, kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) kembali digelar, mengangkat tema yang relevan dengan fase belajar kakak kelas 6:
“TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang.”
Tema ini bukan tanpa alasan. Kakak kelas 6 sedang berada pada fase penting dalam perjalanan akademiknya. Di hadapan mereka, ada tantangan baru bernama TKA (Tes Kemampuan Akademik) — sebuah asesmen yang sering kali dipersepsikan sebagai ujian menegangkan. Namun, melalui sesi BBOT ini, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah memandang TKA dari sudut yang lebih luas dan bermakna.
Mengenal TKA: Lebih dari Sekadar Angka di Kertas
Di awal sesi, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami terlebih dahulu: apa itu TKA? Dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak, beliau menjelaskan bahwa TKA bukanlah tes untuk mencari siapa yang paling pintar, melainkan sarana untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang
Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai memahami bahwa TKA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, TKA adalah bagian dari proses belajar yang membantu siswa mengenali kekuatan dan area yang masih perlu ditingkatkan.
Dua Pondasi Penting: Kompetensi dan Kompetisi
Setelah pemahaman dasar tentang TKA, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah menyelami dua pondasi penting untuk “menaklukkan” TKA, yaitu kompetensi dan kompetisi.
Kompetensi dimaknai sebagai kemampuan diri — hasil dari proses belajar, berlatih, dan memahami materi secara konsisten. Ayah Mustafa menekankan bahwa kompetensi tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: mau mencoba soal, mau bertanya saat belum paham, dan mau memperbaiki kesalahan.
Sementara itu, kompetisi bukan tentang mengalahkan teman, melainkan tentang bersaing secara sehat dengan diri sendiri. Apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Apakah sudah berani mencoba soal yang sebelumnya terasa sulit? Perspektif ini membuat kakak shalih-shalihah menyadari bahwa kompetisi sejati bukan soal ranking, tetapi tentang proses bertumbuh.
Belajar Daya Juang Lewat Latihan Soal Bersama
Sesi semakin seru ketika Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk langsung mempraktikkan latihan soal. Namun, yang membuat sesi ini berbeda adalah pendekatannya. Latihan soal tidak dilakukan secara individual dan sunyi, melainkan melalui diskusi dan kerja bersama.
Di sinilah nilai daya juang benar-benar ditanamkan. Kakak shalih-shalihah diajak untuk tidak menyerah ketika menemui soal sulit. Mereka didorong untuk mencoba, berdiskusi, dan mencari strategi bersama. Ketika ada yang belum paham, teman lain membantu. Ketika ada yang ragu, yang lain memberi semangat.
Ayah Mustafa mengingatkan dengan kalimat yang membekas di benak kakak shalih-shalihah:
“Nggak perlu nunggu jadi anak super pinter untuk berbagi. Meski tahunya cuma sedikit, berbagi saja.”
Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa berbagi ilmu bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi tentang keberanian untuk membantu dan kepedulian terhadap sesama.
Saling Bantu, Saling Menguatkan
Nilai kebersamaan terasa kental sepanjang sesi. Kakak shalih-shalihah belajar bahwa dalam menghadapi TKA — dan tantangan hidup lainnya — mereka tidak harus berjalan sendiri. Budaya saling bantu menjadi kekuatan besar.
Ada kakak yang awalnya ragu menjawab soal, namun menjadi lebih percaya diri setelah berdiskusi. Ada pula yang awalnya cepat memahami, lalu belajar bersabar saat membantu temannya. Dari sini, karakter empati, kepemimpinan, dan kerja sama tumbuh secara alami.
BBOT hari itu membuktikan bahwa pembelajaran karakter tidak selalu harus melalui ceramah panjang. Justru melalui aktivitas sederhana yang nyata, nilai-nilai itu bisa tertanam lebih kuat.
Menutup dengan Contoh Soal TKA: Berani Mencoba Sampai Akhir
Sebagai penutup, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah mengerjakan contoh soal TKA. Kali ini, suasana kelas terasa lebih tenang dan percaya diri. Bukan karena semua soal terasa mudah, tetapi karena kakak shalih-shalihah sudah dibekali mindset yang tepat: mencoba dengan sungguh-sungguh, tidak takut salah, dan siap belajar dari proses.
Di akhir sesi, terlihat senyum lega di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka pulang dengan pemahaman baru bahwa TKA bukan sekadar tes akademik, melainkan media untuk melatih daya juang, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat.
BBOT: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua untuk Pendidikan Bermakna
Kegiatan BBOT kelas 6 bersama Ayah Mustafa menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu menghadirkan pembelajaran yang utuh. Tidak hanya fokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter anak.
Melalui tema “TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang”, kakak shalih-shalihah belajar bahwa keberhasilan bukan hanya soal nilai, tetapi tentang proses, usaha, dan sikap pantang menyerah. Bekal inilah yang diharapkan akan mereka bawa, tidak hanya saat menghadapi TKA, tetapi juga dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Karena sejatinya, anak yang berdaya juang tinggi akan selalu siap menghadapi tantangan apa pun, dengan atau tanpa tes.***
by admin admin | Jan 27, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Pagi itu, suasana ruang Kelas 4A terasa berbeda. Bukan hanya karena meja dan kursi tertata rapi, tetapi karena rasa penasaran yang terpancar dari wajah kakak shalih-shalihah. Senin, 27 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4A. Mereka tidak hanya belajar dari guru di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua murid melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).
Kegiatan BBOT kali ini menghadirkan Ayah Feni Tutut, orang tua dari Kak Kaysa Lani, yang berbagi pengalaman dan ilmu dengan tema “Teknisi Elektromedis: Menjaga Alat Medis Tetap Aman”. Sebuah tema yang terdengar kompleks, namun justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang seru, kontekstual, dan penuh makna bagi anak-anak.
Belajar Profesi dari Dunia Nyata
Kegiatan diawali dengan pengenalan profesi teknisi elektromedis. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ayah Feni mengajak kakak shalih-shalihah memahami bahwa di balik alat-alat medis yang sering mereka lihat di rumah sakit—seperti alat cek jantung, alat infus, hingga monitor pasien—ada profesi penting yang bertugas memastikan semua alat tersebut aman dan berfungsi dengan baik.
Kakak shalih-shalihah tampak antusias saat Ayah Feni menjelaskan apa saja tugas seorang teknisi elektromedis;
- Mulai dari memasang alat medis,
- melakukan pengecekan rutin,
- memperbaiki jika ada kerusakan,
- hingga memastikan alat tersebut aman digunakan oleh pasien dan tenaga kesehatan.
Dari sini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa sebuah profesi tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan dampak bagi keselamatan orang lain.
Tak hanya bercerita, Ayah Feni juga mengenalkan berbagai alat yang digunakan oleh teknisi elektromedis. Kakak shalih-shalihah diajak membayangkan bagaimana alat-alat tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pembelajaran pun terasa hidup, karena kakak tidak hanya mendengar, tetapi juga membangun imajinasi dan pemahaman tentang dunia kerja yang nyata.
Belajar Berpikir Kritis: Fakta atau Opini?
Setelah pengenalan profesi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik. Ayah Feni menyampaikan beberapa statement seputar dunia elektromedis, lalu kakak shalih-shalihah diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut termasuk fakta atau opini.
Di sinilah kemampuan berpikir kritis kakak mulai terasah. Mereka belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya begitu saja. Ada pernyataan yang berdasarkan data dan kenyataan (fakta), ada pula yang berupa pandangan atau pendapat pribadi (opini).
Diskusi kecil pun terjadi. Beberapa siswa mengangkat tangan, menyampaikan alasan mengapa mereka memilih fakta atau opini. Kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis, sekaligus belajar menghargai pandangan teman-temannya. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan penting dalam membangun literasi informasi dan nalar kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.
Debat Seru: Manusia vs Robot
Puncak keseruan kegiatan BBOT kelas 4A terjadi saat Ayah Feni membagi siswa menjadi dua kelompok besar: kelompok shalih dan kelompok shalihah. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan yang sama menariknya, yaitu berdebat dengan topik:
“Di masa depan, dunia akan lebih membutuhkan teknisi manusia atau teknisi dalam bentuk robot?”
Satu kelompok berperan sebagai tim pendukung teknisi manusia, sementara kelompok lainnya menjadi tim pendukung teknisi robot. Kakak shalih-shalihah diminta menyusun argumen, berdiskusi dengan kelompoknya, lalu memaparkan alasan di depan kelas.
Suasana kelas pun berubah menjadi arena diskusi yang hidup. Ada yang berpendapat bahwa teknisi manusia tetap dibutuhkan karena memiliki empati, bisa berpikir fleksibel, dan memahami situasi secara mendalam. Di sisi lain, tim pendukung robot menyampaikan argumen bahwa robot lebih presisi, tidak mudah lelah, dan bisa bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.
Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan soal siapa yang menang, melainkan prosesnya. Kakak shalih-shalihah belajar berani berbicara, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa dalam sebuah diskusi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru memperkaya pemikiran.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
Melalui kegiatan BBOT ini, siswa kelas 4A tidak hanya mengenal satu profesi baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh. Mereka belajar mengaitkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, memahami peran teknologi dalam dunia kerja, serta merenungkan masa depan yang akan mereka hadapi.
Kehadiran orang tua sebagai narasumber juga memberi kesan mendalam. Kakak shalih-shalihah melihat langsung bahwa orang tua mereka memiliki peran, keahlian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ini menjadi inspirasi tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga serta motivasi untuk terus belajar.
Belajar Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan
Kegiatan BBOT kelas 4A bersama Ayah Feni Tutut menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung aktif, menyenangkan, dan bermakna. Dari mengenal profesi teknisi elektromedis, membedakan fakta dan opini, hingga berdebat tentang masa depan teknologi, semua proses ini menanamkan keterampilan abad ke-21 dalam diri anak-anak.
Hari itu, kelas 4A tidak hanya belajar tentang alat medis atau robot. Mereka belajar tentang berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Sebuah bekal penting untuk perjalanan belajar mereka ke depan—karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak hari ini, tetapi tentang bagaimana mereka memandang dan mempersiapkan masa depan.*** (CM-MRT)