by admin admin | Jan 26, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Di pagi Senin yang cerah, 26 Januari 2026, suara langkah kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara bergema di lapangan sekolah. Upacara bendera yang rutin digelar kini terasa istimewa — bukan hanya karena kehadiran guru, staf, dan seluruh siswa, tetapi karena hari itu menjadi momen bersejarah pertama kali sekolah membacakan “Ikrar Pelajar Indonesia” secara resmi. Sebuah langkah kecil di sekolah, namun bermakna besar dalam membentuk karakter generasi muda bangsa.
Gelombang semangat tampak dihiasi rasa haru dan bangga di wajah para siswa ketika Ikrar Pelajar Indonesia itu dibacakan bersama-sama setelah pembacaan Pancasila dan teks Pembukaan UUD 1945. Momen ini tak hanya menjadi rutinitas upacara, tetapi juga peneguhan nilai-nilai karakter dan nasionalisme yang hendak ditanamkan sejak usia dini.
Apa Itu Ikrar Pelajar Indonesia?
Ikrar Pelajar Indonesia adalah teks janji pelajar yang berisi komitmen moral dan perilaku yang diharapkan diamalkan oleh setiap peserta didik di tanah air. Ikrar ini dirancang sebagai pedoman sikap bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal belajar, menghormati orang tua dan guru, hidup rukun dengan teman-teman, serta mencintai tanah air Indonesia.
Bunyi ikrarnya sebagai berikut:

Kalimat ini sederhana namun sarat makna — menjadi pengingat bagi kakak shalih-shalihah bahwa mereka bukan sekadar murid yang belajar di sekolah, tetapi juga penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab sosial, moral, dan kebangsaan.
Kenapa Ikrar Ini Penting Dibacakan di Upacara Bendera?
Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di awal minggu, tepatnya saat upacara bendera setiap hari Senin, memiliki tujuan strategis dalam pendidikan karakter yang lebih luas:
1. Menanamkan Nilai Nasionalisme Sejak Dini
Ikrar Pelajar Indonesia menekankan cinta tanah air dan rasa persatuan. Saat dibacakan bersama-sama, kakak shalih-shalihah diajak merasakan bahwa mereka adalah bagian dari identitas besar sebagai pelajar dan sebagai warga negara Indonesia.
2. Menguatkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab
Isi ikrar mencakup penghormatan kepada orang tua dan guru — ini membantu menanamkan sikap hormat dalam konteks kehidupan keluarga dan sekolah, yang merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.
3. Mendorong Kehidupan Rukun dan Toleran
Penggalan “rukun sama teman” memberi pesan kuat tentang pentingnya hubungan yang harmonis di lingkungan sekolah. Nilai ini menjadi dasar interaksi anak di ruang belajar maupun di luar kelas.
Dengan begitu, Ikrar Pelajar Indonesia bukan sekadar bacaan seremonial, tetapi alat pendidikan karakter yang hidup dalam kebiasaan sekolah.
Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026: Instruksi Utama Upacara Bendera
Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di SD Islam Bintang Juara tidak lepas dari kebijakan baru yang dikeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Upacara Bendera di Sekolah. SE ini ditetapkan pada 23 Januari 2026 sebagai turunan arahan Presiden Republik Indonesia untuk menguatkan kegiatan upacara bendera sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Dalam SE tersebut, ada tiga instruksi utama yang mesti dilaksanakan oleh sekolah ketika menggelar upacara bendera nasional:
- Upacara Bendera Dilaksanakan Setiap Hari Senin
- Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia
- Menyanyikan Lagu “Rukun Sama Teman”
Ketiga instruksi ini bertujuan untuk menjadikan upacara bendera lebih bermakna, konsisten, dan kaya pesan karakter — bukan hanya sekadar ritual administratif. Informasi lebih lengkap mengenai tiga instruksi utama pada Upacara Bendera 2026 bisa dibaca di website official Sekolah Islam Bintang Juara.
Bagaimana SD Islam Bintang Juara Menyambut Kebijakan Ini?
Bagi SD Islam Bintang Juara, momen 26 Januari 2026 menjadi tonggak bersejarah. Sejak pagi hari, kakak shalih-shalihah tampak antusias mengenakan seragam putih–merah lengkap, berkumpul di lapangan dan menyusun barisan dengan tertib. Aura nasionalisme dan kebersamaan mengalir alami — bukan sekadar formalitas.
Ketika Ikrar Pelajar Indonesia dibacakan untuk pertama kalinya di sekolah ini, ada keheningan hening yang kemudian beralih menjadi tepuk tangan kecil penuh semangat. Bagi siswa yang sudah belajar tentang Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai kebangsaan, ini terasa seperti titik temu antara pembelajaran di kelas dan realitas hidup berbangsa.
Upacara itu juga menjadi kesempatan bagi guru, orang tua, dan seluruh sivitas akademika untuk menyadari kembali bahwa pendidikan karakter bukan terjadi hanya di buku pelajaran — tetapi ditanam melalui kebiasaan sehari-hari. Upacara bendera kini menjadi sarana edukatif yang hidup dan berkesan.
Manfaat Jangka Panjang untuk Kakak Shalih-shalihah
Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia dan pelaksanaan upacara bendera yang konsisten memberikan manfaat besar bagi perkembangan anak, di antaranya:
1. Menguatkan Identitas Nasional
Kakak shalih-shalihah dipandu untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia — dengan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara.
2. Menanamkan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Upacara adalah sarana untuk belajar tertib, tepat waktu, dan menghormati simbol-simbol negara.
3. Membiasakan Sikap Hormat dan Toleransi
Melalui teks ikrar dan lagu yang menyertai upacara, anak-anak belajar nilai-nilai sosial penting seperti saling menghormati, rukun, dan cinta tanah air.
Penutup: Langkah Kecil Berarti Besar
Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia pertama kali di SD Islam Bintang Juara pada 26 Januari 2026 bukan hanya menjadi catatan sejarah sekolah, tetapi juga simbol bangkitnya pendidikan karakter yang kontekstual dan bermakna. Ketika kakak shalih-shalihah membaca ikrar itu dengan suara lantang, mereka sedang membangun pondasi nasionalisme, toleransi, dan saling menghormati yang akan melekat dalam keseharian mereka.
Dengan demikian, kegiatan upacara bendera tak lagi sekadar rutinitas mingguan — tapi sebuah ruang pendidikan hidup yang menyentuh hati dan membentuk perilaku. *** (CM-MRT)
by admin admin | Jan 22, 2026 | Berita, Edukasi
Pagi itu di ruang kelas SD Islam Bintang Juara, suasana belajar terasa berbeda. Beberapa kakak shalih-shalihah duduk lebih fokus, sesekali tersenyum saat berdiskusi kelompok, sementara yang lain menuliskan catatan kecil. Guru tersenyum melihat antusiasme mereka—bukan karena mereka sedang menghadapi ujian, tetapi karena mereka sedang membangun pemahaman baru tentang belajar itu proses yang penuh makna.
Salah satu topik yang mulai muncul di percakapan mereka adalah TKA—yang kini menjadi bagian dari percakapan besar di dunia pendidikan Indonesia. Banyak Ayah Bunda yang mungkin masih bertanya: apa sebenarnya TKA itu? Kenapa harus ada? Dan apa yang perlu disiapkan anak dan orang tua? Artikel ini akan menjawab semua itu secara komprehensif, dengan bahasa yang mudah dipahami dan cerita yang relevan dengan kehidupan anak SD.
Apa Itu TKA?
TKA, atau Tes Kemampuan Akademik, adalah bentuk asesmen standar nasional yang dirancang untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. TKA bertujuan memberikan gambaran yang objektif, adil, dan terstandar tentang kemampuan siswa di berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD.
Berbeda dari penilaian biasa yang dilakukan sekolah, TKA memiliki standar nasional yang sama bagi seluruh peserta di seluruh Indonesia. Hasilnya nantinya dapat memberikan gambaran capaian siswa yang tidak hanya berdasarkan rapor sekolah, tetapi melalui pengukuran terstandar yang dapat digunakan sebagai peta kemampuan akademik individual.
Penting dicatat bahwa TKA bersifat tidak wajib dan hasilnya tidak menentukan kelulusan dari sekolah. Murid yang tidak mengikuti TKA tetap bisa lulus dari satuan pendidikannya.
Mengapa TKA Diperkenalkan di Jenjang SD?
Di era pendidikan modern, semakin penting bagi sistem pendidikan untuk tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga memahami bagaimana kemampuan itu dibangun secara terukur dan objektif.
Selama ini, penilaian di sekolah cenderung bersifat internal dan berbeda-beda antar lembaga. Hal ini kadang menyulitkan jika hasil penilaian tersebut harus dibandingkan antar sekolah atau digunakan dalam seleksi akademik di jenjang lanjutan. TKA hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan laporan capaian akademik yang terstandar.
Untuk jenjang SD, pelaksanaan TKA direncanakan akan dimulai pada tahun pelajaran 2025–2026, sehingga Ayah Bunda dan sekolah kini mulai mempersiapkan diri menyambut pelaksanaannya.
Tujuan TKA: Lebih dari Sekadar Angka
Jika dipahami secara mendalam, TKA tidak hadir semata untuk memberikan nilai. Berikut ini beberapa tujuan utama TKA yang menjadi landasan pelaksanaannya:
1. Mengukur Capaian Akademik Siswa Secara Terstandar
TKA memberikan gambaran tentang kemampuan siswa dalam mata pelajaran utama, seperti Bahasa Indonesia dan Matematika di jenjang SD. Dengan format yang terstandar, hasilnya bisa dibandingkan secara nasional tanpa bias antar satuan pendidikan.
2. Menjadi Bahan Pertimbangan Seleksi Akademik
Walaupun tidak wajib, hasil TKA dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam seleksi akademik, seperti seleksi jenjang pendidikan berikutnya atau jalur prestasi.
3. Membantu Penyusunan Pembelajaran yang Lebih Tepat
Dengan mengetahui pola capaian siswa secara objektif, guru bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai kebutuhan – misalnya memperkuat materi yang masih lemah atau memberikan tantangan baru bagi yang sudah kuat dalam area tertentu.
4. Menyetarakan Hasil Belajar Formal dan Nonformal
TKA juga membantu menyetarakan hasil belajar antara siswa dari jalur formal, nonformal, maupun informal, karena ia dibuat dengan standar nasional yang sama.
Manfaat TKA Bagi Anak SD
Bagi siswa di sekolah dasar, TKA bukan sekadar tes yang membuat mereka “diukur”. Lebih dari itu, TKA memiliki manfaat yang mendukung proses belajar mereka secara lebih mendalam, di antaranya:
1. Memahami Diri sebagai Pelajar
Melalui TKA, siswa bisa mendapatkan gambaran tentang area kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan. Itu berarti anak belajar mengenali diri sebagai pelajar—apa yang sudah mereka kuasai, dan apa yang masih perlu dipelajari. Ini penting untuk membangun kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.
2. Meningkatkan Kebiasaan Belajar yang Sehat
Ketika anak tahu bahwa asesmen seperti TKA bukan sekadar ujian yang menakutkan, tetapi alat untuk melihat proses belajarnya, mereka bisa belajar dengan mindset yang lebih sehat: fokus pada pemahaman, bukan hanya angka. TKA membantu menggeser fokus dari sekadar “lulus” menjadi belajar untuk paham.
3. Membantu Orang Tua Mendampingi Secara Tepat
Hasil TKA dapat menjadi bahan dialog antara anak dengan orang tua tentang bagaimana cara belajar yang paling cocok untuk mereka. Orang tua jadi memiliki pijakan yang lebih kuat untuk mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah.
Persiapan Menghadapi TKA: Langkah Praktis bagi Anak SD
Berbeda dengan ujian konvensional yang sering menekankan hafalan, TKA lebih mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berpikir. Karena itu, persiapan menghadapi TKA tidak harus berupa latihan soal berlebihan.
Berikut beberapa strategi yang efektif dan ringan:
1. Membiasakan Belajar yang Bermakna
Membaca buku bersama, berdiskusi tentang bacaan tersebut, atau memecahkan masalah kecil sehari-hari dengan berpikir logis membantu anak membangun pola pikir yang kuat—modal penting menjawab soal TKA.
2. Latihan Simulasi Secara Sukarela
Pemerintah menyediakan simulasi TKA secara gratis yang dapat diakses oleh siswa dan orang tua sebagai bahan latihan (akses melalui portal simulasi resmi Kemendikdasmen). Simulasi ini memberi gambaran format soal dan kompetensi yang diukur, tanpa tekanan.
3. Membantu Anak Mengenali Kelemahan dan Kekuatan
Bukan hanya memberi jawaban, tetapi ajak anak merefleksikan mengapa mereka kesulitan di bagian tertentu. Ini membantu membangun strategi belajar yang lebih personal dan efektif.
4. Kesiapan Emosional adalah Kunci
Pastikan anak memahami bahwa mengikuti TKA bukan wajib dan tidak akan berdampak pada kelulusannya. Fokuskan pada proses belajar dan pemahaman, bukan angka atau perbandingan dengan teman.
Peran Orang Tua dalam Mendampingi TKA
Orang tua memiliki peran penting dalam menyikapi TKA bersama anak. Dukungan orang tua tidak hanya berupa motivasi, tetapi juga tentang cara mendampingi belajar secara sehat.
1. Menjadi Sumber Dukungan Emosional
Anak cenderung merasa aman jika orang tua tenang dan mendukung. Jangan menjadikan TKA sebagai tekanan atau ajang kompetisi antar teman. Sebaliknya, orang tua bisa berbicara dengan bahasa yang memotivasi:
“Ini kesempatan untuk melihat apa yang sudah kamu pelajari, dan kita bisa terus belajar bersama.”
2. Membantu Merencanakan Belajar
Tanpa harus memaksa latihan soal, orang tua bisa membantu anak membuat jadwal belajar ringan yang konsisten. Ini bisa berupa waktu membaca bersama, latihan matematika sederhana, atau bermain logika yang mendukung kemampuan berpikir.
3. Menjadi Mitra Guru dalam Mengikuti Perkembangan Anak
Orang tua dapat berdiskusi dengan guru tentang hasil TKA. Guru bisa menjelaskan area yang perlu diperhatikan, sementara orang tua memberi informasi tentang pola belajar anak di rumah. Kerja sama ini akan memperkuat pembelajaran anak secara keseluruhan.
TKA Bukan Penentu Kelulusan—Itu Kelebihannya
Satu hal penting yang perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa TKA bukanlah alat untuk menentukan kelulusan siswa dari sekolah. Nilai TKA tidak tercantum di ijazah dan tidak menjadi syarat wajib untuk lulus.
Ini membuat TKA berbeda dengan ujian nasional lama yang menentukan status kelulusan. TKA hadir sebagai asesmen tambahan yang membantu siswa, sekolah, dan orang tua memahami capaian akademik secara standar, tanpa tekanan kelulusan. Ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar tanpa rasa takut—sebuah pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.
Kesimpulan: TKA Sebagai Bagian dari Perjalanan Belajar Anak
TKA untuk anak SD merupakan inovasi dalam sistem pendidikan yang memberi dampak positif jika disikapi dengan benar. Ia bukan sekadar tes, tetapi alat refleksi yang membantu siswa mengenali kemampuan akademiknya, membantu guru merencanakan pembelajaran yang lebih sesuai, serta membantu orang tua mendampingi dengan lebih efektif.
Dengan memahami tujuan, manfaat, persiapan yang tepat, serta peran orang tua secara bijak, TKA bisa menjadi peta perjalanan belajar anak yang bermakna, bukan sekadar angka di atas kertas.*** (CM-MRT)
Sumber:
- https://pusmendik.kemdikbud.go.id/tka/
- https://tka.kemendikdasmen.go.id/
- https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13390
- https://pusatinformasi.ult.kemendikdasmen.go.id/hc/id/articles/51898826959769-Kenali-Tes-Kemampuan-Akademik-TKA
by admin admin | Jan 21, 2026 | Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu, Selasa, 20 Januari 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Ada ketenangan yang menyelimuti, namun juga semangat yang hidup di wajah kakak shalih-shalihah. Hari itu bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan hari perenungan dan penguatan iman melalui Peringatan Hari Besar Islam Isra’ Mi’raj.
Dengan mengusung tema “Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini”, SD Islam Bintang Juara mengajak seluruh siswa untuk kembali menelusuri peristiwa agung yang menjadi tonggak utama kewajiban shalat. Sebuah peristiwa luar biasa yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dihidupkan maknanya dalam keseharian anak-anak.
Karena sejak awal, sekolah meyakini satu hal penting:
shalat bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa—dan cinta pada shalat perlu ditanamkan sedini mungkin, dengan cara yang tepat dan menggembirakan.
Isra’ Mi’raj: Peristiwa Langit yang Mengubah Kehidupan Umat
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari peristiwa inilah Allah ﷻ menghadiahkan shalat lima waktu sebagai ibadah utama umat Islam.
Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu di bumi, shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Rasul-Nya di langit. Ini menjadi isyarat kuat bahwa shalat memiliki kedudukan istimewa—sebagai penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Makna inilah yang ingin ditanamkan kepada kakak shalih-shalihah: bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, apalagi beban, tetapi hadiah penuh cinta dari Allah.
Belajar Shalat Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Dalam peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, SD Islam Bintang Juara merancang rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar setiap jenjang kelas. Anak-anak tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak terlibat aktif—mendengar, mempraktikkan, berdiskusi, dan merefleksi.
Setiap jenjang memiliki pendekatan yang berbeda, namun tujuannya sama:
membangun pemahaman yang benar dan cinta yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan.
Kelas 1 dan 2: Berkisah, Meniru, dan Menumbuhkan Kebiasaan
Untuk kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2, kegiatan diawali dengan berkisah bersama Pak Solekan Al Hafidz. Dengan gaya tutur yang hangat dan bahasa yang dekat dengan dunia anak, Pak Solekan membawa anak-anak masuk ke dalam kisah Isra’ Mi’raj.
Bukan kisah yang rumit, melainkan cerita yang penuh imajinasi dan makna. Anak-anak diajak membayangkan perjalanan Rasulullah ﷺ, langit yang luas, dan betapa istimewanya shalat yang Allah perintahkan langsung.
Dari kisah tersebut, anak-anak mulai memahami bahwa:
- shalat adalah perintah Allah,
- shalat adalah bentuk cinta kepada Allah,
- dan shalat perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar.
Setelah sesi berkisah, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan adab berwudhu dan tata cara shalat. Anak-anak diajak meniru gerakan, memperhatikan urutan, serta mengenal sikap-sikap sederhana dalam shalat, seperti berdiri rapi, tertib, dan tenang.
Di usia ini, belajar shalat bukan tentang sempurna, melainkan tentang membiasakan. Anak belajar melalui meniru, mengulang, dan merasakan bahwa shalat adalah aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.
Kelas 3 dan 4: Aku Bisa Shalat dengan Benar
Berbeda dengan kelas bawah, kakak shalih-shalihah kelas 3 dan 4 mulai memasuki fase berpikir lebih sistematis. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun lebih reflektif dan partisipatif.
Dipandu oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz, kegiatan diawali dengan pemaparan materi bertema “Aku Bisa Shalat dengan Benar”. Anak-anak diajak memahami kembali:
- rukun shalat,
- urutan gerakan,
- serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar shalat sah sesuai syariat.
Yang menarik, setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi shalat dan penilaian teman sebaya. Anak-anak saling bergantian menjadi pelaku dan pengamat. Dengan panduan yang jelas, mereka belajar mengamati apakah shalat temannya sudah sesuai atau belum.
Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga:
- belajar mengamati,
- belajar memberi masukan dengan santun,
- dan belajar menerima koreksi dengan lapang dada.
Inilah proses penting dalam pembelajaran: belajar bersama, bukan saling menghakimi.
Kelas 5 dan 6: Mengapa Kita Harus Shalat?
Memasuki kelas 5 dan 6, anak-anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Mereka tidak lagi cukup hanya tahu “bagaimana”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa”.
Untuk itu, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sesi Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Mengapa Kita Harus Shalat?”, dipandu oleh Pak Ali As’ad Al Hafidz.
Dalam sesi ini, anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok diminta mengambil kertas berisi studi kasus yang berkaitan dengan shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh kasus yang dibahas:
“Jika sedang shalat, ada cicak yang buang kotoran di bahu kita, apakah batal shalat kita?”
Melalui diskusi ini, anak-anak diajak berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang mereka miliki. Setelah itu, Pak Ali memberikan penjelasan yang meluruskan pemahaman, sekaligus mencontohkan gerakan shalat yang tuma’ninah—tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh kesadaran.
Di sinilah anak-anak belajar bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi ibadah yang menuntut kehadiran hati.
Refleksi Bersama: Menilai dan Memperbaiki Kualitas Shalat
Setelah seluruh rangkaian kegiatan per jenjang selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penilaian praktik shalat secara individu untuk semua kelas. Penilaian ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana refleksi.
Anak-anak diajak:
- mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
- memperbaiki gerakan yang masih keliru,
- dan menyadari bahwa kualitas shalat bisa terus ditingkatkan.
Refleksi ini menjadi penutup yang kuat, karena anak-anak tidak hanya pulang membawa cerita tentang Isra’ Mi’raj, tetapi juga kesadaran untuk memperbaiki shalat dalam keseharian.
Menanamkan Makna: Shalat adalah Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban
Dari seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan utama terus dikuatkan:
shalat bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan.
Shalat adalah:
- tempat mengadu,
- ruang menenangkan diri,
- dan sarana mendekatkan hati kepada Allah.
Sebagaimana nasihat yang sering kita dengar dan kembali digaungkan dalam kegiatan ini:
“Perbaiki shalatmu, maka Allah SWT akan memperbaiki hidupmu.”
Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh orang dewasa yang membersamai mereka.
Penutup: Menumbuhkan Cinta Shalat sebagai Bekal Kehidupan
Peringatan Isra’ Mi’raj di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah proses pendidikan yang dirancang untuk menyentuh akal, hati, dan kebiasaan anak.
Melalui kisah, praktik, diskusi, dan refleksi, kakak shalih-shalihah belajar bahwa shalat adalah bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Bukan karena takut dimarahi, tetapi karena cinta yang tumbuh dari pemahaman.
Semoga dari kegiatan ini, tumbuh generasi yang:
- mengenal shalat sejak dini,
- mencintai shalat dengan sadar,
- dan menjadikan shalat sebagai penopang hidupnya di masa depan.
Karena ketika shalat sudah tertanam di hati anak, insyaAllah ia akan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka ke mana pun mereka pergi.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jan 20, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Langit pada Senin pagi (19 Januari 2026) itu terasa istimewa. Bukan hanya karena cuacanya yang cerah, tetapi karena ada rasa penasaran yang berbinar di mata kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara. Hari itu, kelas 1 dan kelas 6 bersiap melakukan sebuah perjalanan belajar yang berbeda dari biasanya—bukan sekadar duduk di kelas, melainkan menjelajah alam semesta.
Melalui kegiatan Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, anak-anak diajak mendekat pada ciptaan Allah yang begitu luas dan menakjubkan: langit dan seluruh isinya. Sebuah pengalaman belajar yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.
Belajar Sains dengan Cara yang Menghidupkan Rasa Ingin Tahu
Bagi SD Islam Bintang Juara, belajar sains bukan sekadar menghafal nama planet atau urutan tata surya. Sains adalah tentang mengamati, merasakan, bertanya, dan menemukan makna. Itulah mengapa kegiatan Outing Class ini dirancang sebagai pengalaman belajar langsung yang memberi kesan mendalam.
Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani dipilih karena menjadi ruang yang tepat untuk mengenalkan dunia astronomi secara nyata. Di tempat inilah, anak-anak dapat melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana ilmu pengetahuan berpadu dengan keagungan ciptaan Allah.
Sejak langkah pertama memasuki area planetarium, kakak shalih-shalihah sudah disambut dengan suasana yang memicu rasa ingin tahu. Bangunan, alat-alat observasi, dan penjelasan awal dari pemandu membuat anak-anak semakin antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
1. Meneropong Langit: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Teleskop
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah kesempatan meneropong benda langit menggunakan teleskop. Bagi banyak anak, ini adalah pengalaman pertama mereka melihat langit melalui alat observasi sungguhan.
Dengan bimbingan pemandu, kakak shalih-shalihah diajak memahami cara kerja teleskop, fungsi lensa, dan bagaimana alat ini membantu manusia mengamati benda-benda langit yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Anak-anak bergantian mengintip melalui teleskop, wajah mereka penuh rasa takjub.
“Aku lihat cahaya terang!”
“Itu matahari ya?”
“MasyaAllah, ternyata langit luas sekali…”
Ucapan-ucapan polos itu menjadi bukti bahwa belajar langsung dari sumbernya mampu membangkitkan rasa kagum dan keingintahuan alami anak. Di momen ini, sains tidak lagi terasa abstrak—ia hadir nyata di hadapan mata.
2. Menonton Video Sistem Tata Surya: Belajar Visual yang Menguatkan Pemahaman
Setelah sesi observasi, kegiatan dilanjutkan dengan menonton video edukatif tentang sistem tata surya di ruang planetarium. Melalui visual yang menarik dan penjelasan yang mudah dipahami, anak-anak diajak menjelajah lebih jauh tentang matahari, planet-planet, serta fenomena alam yang terjadi di luar angkasa.
Video ini membantu anak memahami:
- posisi matahari sebagai pusat tata surya,
- perbedaan karakter setiap planet,
- serta keteraturan sistem yang Allah ciptakan dengan sangat sempurna.
Bagi kakak kelas 6, materi ini memperkuat konsep sains yang sudah mereka pelajari di sekolah. Sementara bagi kakak kelas 1, tayangan visual ini menjadi pengalaman awal yang menyenangkan untuk mengenal dunia luar yang begitu luas.
Outing Class Kelas 1: Pengenalan Project Based Learning
Kunjungan ke planetarium ini memiliki makna khusus bagi kakak shalih-shalihah kelas 1. Kegiatan ini menjadi Tahap Pengenalan Project Based Learning (PBL) dengan tema “Peristiwa Pagi, Siang, Sore, dan Malam”.
Di usia awal sekolah dasar, anak-anak masih belajar memahami konsep waktu dan perubahan yang terjadi dalam satu hari. Melalui Outing Class ini, mereka tidak hanya diberi penjelasan secara verbal, tetapi diajak melihat keterkaitan langsung antara matahari, cahaya, dan pergantian waktu.
Anak-anak mulai dikenalkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:
- Mengapa pagi terasa terang?
- Kenapa sore langit berubah warna?
- Mengapa malam gelap dan muncul bulan serta bintang?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi proses Project Based Learning, di mana anak akan diajak mengamati, berdiskusi, dan menyimpulkan berdasarkan pengalaman nyata.
Belajar Mengamati Alam Sejak Dini
Bagi kelas 1, pengalaman ini menjadi langkah awal untuk melatih keterampilan observasi. Anak-anak belajar bahwa peristiwa pagi, siang, sore, dan malam bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan bagian dari sistem alam yang teratur.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak berhenti di planetarium. Sepulang dari kegiatan, anak-anak akan diajak:
- mengamati langit di rumah,
- memperhatikan perubahan cahaya,
- dan menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan rasakan.
Inilah esensi Project Based Learning: belajar yang berkelanjutan dan bermakna.
Kelas 6: Menguatkan Konsep dan Rasa Tanggung Jawab Belajar
Sementara itu, bagi kakak shalih-shalihah kelas 6, Outing Class ini menjadi sarana untuk menguatkan pemahaman sains sekaligus melatih sikap belajar yang lebih dewasa. Mereka tidak hanya menikmati kegiatan, tetapi juga diajak berpikir kritis dan reflektif.
Kelas 6 mulai memahami bahwa:
- ilmu pengetahuan berkembang melalui observasi dan penelitian,
- manusia diberi akal untuk mengkaji alam semesta,
- dan setiap penemuan seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Melalui pengalaman ini, kakak kelas 6 belajar bahwa sains dan iman bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.
Menumbuhkan Rasa Kagum dan Syukur kepada Allah
Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa kagum terhadap kebesaran Allah. Ketika anak-anak melihat luasnya langit, jauhnya benda-benda angkasa, dan keteraturan sistem tata surya, mereka diajak menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.
Rasa kagum ini menjadi awal dari sikap:
- rendah hati,
- bersyukur,
- dan semangat untuk terus belajar.
Belajar sains bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang merasakan kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.
Outing Class sebagai Pengalaman Belajar Holistik
Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan bukan sekadar kunjungan edukatif. Ia menjadi pengalaman belajar holistik yang mencakup:
- aspek kognitif melalui pemahaman sains,
- aspek afektif melalui rasa kagum dan syukur,
- serta aspek sosial melalui kebersamaan dan kedisiplinan selama kegiatan.
Anak-anak belajar mengikuti aturan, bergantian, mendengarkan penjelasan, dan menghargai lingkungan belajar di luar sekolah.
Belajar Tidak Selalu Harus di Dalam Kelas
Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Alam, lingkungan, dan tempat-tempat edukatif seperti planetarium adalah sumber belajar yang sangat kaya.
Dengan membawa anak keluar dari rutinitas kelas, sekolah memberi ruang bagi anak untuk:
- merasakan pengalaman baru,
- memperluas wawasan,
- dan menemukan bahwa belajar itu menyenangkan.
Menyalakan Mimpi dan Cita-Cita Sejak Dini
Siapa tahu, dari kunjungan sederhana ini, kelak akan tumbuh:
- ilmuwan,
- peneliti,
- atau generasi yang mencintai ilmu pengetahuan dan alam semesta.
Petualangan menjelajah sistem tata surya ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang menyalakan mimpi dan rasa ingin tahu yang akan terus hidup dalam diri kakak shalih-shalihah.
Penutup: Belajar dari Langit, Bertumbuh untuk Masa Depan
Melalui Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan UIN Walisongo, kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan.
Dari meneropong benda langit, menonton video sistem tata surya, hingga mengenal konsep waktu dan peristiwa alam, anak-anak belajar bahwa alam semesta adalah ruang belajar yang tak terbatas.
Semoga petualangan ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi pembelajar yang:
- kritis dalam berpikir,
- kuat dalam iman,
- dan luas dalam wawasan.
Karena ketika anak-anak diajak mengenal langit, sejatinya mereka sedang diajak mengenal kebesaran Allah dan potensi diri mereka sendiri.***(CM-MRT)
by admin admin | Jan 7, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Belakangan ini, kasus bullying atau perundungan semakin sering terdengar di masyarakat. Mulai dari ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga perundungan yang melibatkan media digital. Fenomena ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk karakter, adab, dan kesehatan emosional anak-anak.
Kesadaran inilah yang menggugah SD Islam Bintang Juara untuk mengambil langkah preventif dan edukatif. Bukan menunggu masalah terjadi, melainkan mencegah sejak dini melalui pembelajaran yang tepat, kontekstual, dan menyentuh dunia anak. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi, Psikolog, dengan fokus utama pada pencegahan bullying melalui penguatan adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital.
Kelas Inspirasi ini dirancang untuk menjangkau seluruh jenjang, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi:
- Sesi 1: Selasa, 6 Januari 2026 untuk kelas 1–3
- Sesi 2: Rabu, 7 Januari 2026 untuk kelas 4–6
Dua hari yang penuh makna ini menjadi ruang belajar, refleksi, sekaligus penguatan nilai-nilai persahabatan yang sehat bagi kakak shalih-shalihah.
Bullying Berawal dari Konflik yang Tidak Terselesaikan
Dalam dunia anak-anak, konflik adalah hal yang wajar. Berebut mainan, berbeda pendapat, merasa tidak adil, atau tersinggung oleh perkataan teman merupakan bagian dari proses tumbuh kembang sosial. Namun, konflik yang tidak disikapi dengan tepat dan dilakukan berulang—baik oleh anak maupun oleh orang dewasa di sekitarnya—dapat berkembang menjadi perundungan.
Bullying sering kali tidak dimulai dari niat jahat, tetapi dari:
- emosi yang tidak terkelola,
- kurangnya keterampilan berkomunikasi,
- serta minimnya pemahaman tentang adab berteman.
Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali bukan hanya dengan larangan “jangan mengejek” atau “jangan memukul”, melainkan dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bersikap sebagai teman yang baik, bagaimana menyampaikan emosi, serta bagaimana merespons konflik secara sehat.
Sesi Kelas 1–3: Aku Sayang dan Peduli pada Teman
Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Kakak shalih-shalihah kelas 1 hingga 3 berkumpul dengan penuh antusias. Sesi pertama Kelas Inspirasi ini mengangkat tema “Aku Sayang dan Peduli pada Teman”, tema yang sederhana namun sangat fundamental bagi anak usia awal SD.
Bunda Vivi Psikolog menyadari bahwa anak-anak kelas 1–3 masih berada pada fase belajar mengenali diri dan orang lain. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun tidak bersifat ceramah, melainkan melalui gerak, lagu, dan interaksi yang menyenangkan.
Melalui lagu dan aktivitas sederhana, kakak shalih-shalihah diajak mengenal adab-adab berteman, seperti:
- menyapa dengan ramah,
- bergantian saat bermain,
- meminta maaf ketika melakukan kesalahan,
- serta membantu teman yang sedang kesulitan.
Dengan bahasa yang mudah dipahami anak, Bunda Vivi menekankan bahwa menyayangi teman bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan sehari-hari. Anak-anak diajak merasakan bahwa memiliki teman itu menyenangkan ketika kita saling peduli dan menghargai.
Gelak tawa, gerakan tangan, dan nyanyian ceria mengisi sesi ini. Namun di balik keseruannya, tersimpan pesan penting: setiap anak berharga dan layak diperlakukan dengan baik.

Menanamkan Adab Berteman Sejak Dini
Pada usia kelas 1–3, anak-anak sedang belajar membentuk konsep tentang benar dan salah dalam hubungan sosial. Di fase ini, keteladanan dan pembiasaan menjadi kunci utama.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami bahwa:
- mengejek bisa melukai perasaan,
- mendorong teman bukanlah solusi,
- dan diam saat melihat teman disakiti bukanlah sikap yang benar.
Anak-anak dilatih untuk peka terhadap perasaan teman, meskipun masih dalam bentuk sederhana. Dengan pendekatan yang hangat, mereka belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan bicara, bukan dengan menyakiti.
Langkah kecil ini menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan bullying sejak usia dini.
Sesi Kelas 4–6: Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan
Berbeda dengan sesi pertama, Kelas Inspirasi untuk kelas 4–6 pada Rabu, 7 Januari 2026 hadir dengan nuansa yang lebih reflektif. Tema yang diangkat adalah “Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan”, menyesuaikan dengan tantangan sosial anak usia akhir SD.
Pada fase ini, anak-anak mulai:
- lebih sadar terhadap penilaian teman,
- lebih intens dalam pergaulan,
- serta mulai bersentuhan dengan dunia digital secara lebih luas.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah mengenali ragam emosi yang sering muncul dalam pertemanan: marah, sedih, kecewa, cemburu, hingga rasa tidak dihargai. Anak-anak diajak untuk bercermin pada diri sendiri.
Apakah ketika marah, emosinya meledak-ledak?
Apakah ketika sedih dan kecewa, perasaannya lama sekali hilang?
Pesan penting yang disampaikan adalah:
marah boleh, sedih boleh, kecewa juga boleh—asal tahu cara mengelolanya dengan tepat.

Mengelola Emosi agar Tidak Menyakiti
Dalam sesi ini, Bunda Vivi menekankan bahwa emosi bukanlah musuh. Emosi justru menjadi sinyal yang membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Masalah muncul ketika emosi:
- tidak dikenali,
- dipendam terlalu lama,
- atau diekspresikan secara tidak tepat.
Kakak kelas 4–6 diajak mempelajari cara-cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti:
- menarik napas perlahan,
- mengambil jeda sebelum bereaksi,
- serta menyampaikan perasaan dengan kata-kata yang baik.
Dengan cara ini, anak-anak belajar bahwa emosi yang terkelola dengan baik akan melahirkan pertemanan yang sehat, sementara emosi yang meledak-ledak berisiko melukai diri sendiri dan orang lain.
Literasi Digital sebagai Bagian dari Pencegahan Bullying
Salah satu pembahasan penting dalam sesi kedua adalah literasi digital. Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah menyadari bahwa pertemanan hari ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.
Komentar, pesan singkat, emoji, dan unggahan di media sosial bisa menjadi sumber kebahagiaan—namun juga bisa menjadi sarana perundungan jika tidak digunakan dengan bijak.
Anak-anak diajak memahami bahwa:
- kata-kata di dunia digital tetap memiliki dampak emosional,
- menyebarkan pesan tanpa berpikir bisa melukai orang lain,
- dan tidak semua hal perlu dibagikan atau ditanggapi.
Literasi digital ini menjadi bekal penting agar kakak shalih-shalihah mampu bersikap bijak, empatik, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara online.
Sekolah sebagai Ruang Aman untuk Bertumbuh
Melalui Kelas Inspirasi ini, SD Islam Bintang Juara menegaskan komitmennya untuk menjadikan sekolah sebagai ruang aman, tempat anak-anak dapat belajar, berekspresi, dan bertumbuh tanpa rasa takut.
Pencegahan bullying bukanlah tugas satu pihak saja. Ia membutuhkan:
- keterlibatan sekolah,
- dukungan orang tua,
- serta kesadaran anak-anak itu sendiri.
Dengan membekali kakak shalih-shalihah pemahaman tentang adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital, sekolah berharap anak-anak tidak hanya mampu menghindari perundungan, tetapi juga menjadi agen kebaikan di lingkungannya.
Menjadi Teman yang Baik adalah Keterampilan Hidup
Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog bukan sekadar kegiatan tematik. Ia adalah bagian dari proses panjang membentuk karakter anak agar:
- mampu memahami dirinya,
- menghargai orang lain,
- dan menyelesaikan konflik dengan cara yang bermartabat.
Menjadi teman yang baik adalah keterampilan hidup yang perlu dilatih sejak dini. Ketika anak-anak belajar mengelola emosi dan bersikap empatik, mereka tidak hanya terhindar dari perilaku bullying, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional, sehat secara sosial, dan berakhlak mulia.
Melalui ikhtiar ini, SD Islam Bintang Juara berharap setiap kakak shalih-shalihah dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, saling peduli, dan saling menjaga—karena sekolah yang aman adalah pondasi bagi masa depan yang lebih baik.***
by admin admin | Dec 6, 2025 | Artikel, Edukasi
Sabtu pagi, 8 November 2025, ruang kelas 2A, 2B, dan 2C SD Islam Bintang Juara tidak dipenuhi suara anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi kali ini dipenuhi oleh Ayah Bunda yang hadir dengan satu kesadaran yang sama: belajar kembali memahami dunia emosi anak, sekaligus emosi diri sendiri sebagai orang dewasa.
Kegiatan Parenting Kelas 2 ini dipandu oleh Bu Muhayati, wali kelas 2A, dengan tema utama mengembangkan regulasi emosi dan keterampilan sosial anak. Tema ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses observasi panjang guru terhadap dinamika kakak shalih-shalihah kelas 2 dalam keseharian belajar, bermain, dan berinteraksi.
Sejak awal, Ayah Bunda diajak memahami bahwa pembahasan tentang emosi anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang dewasa di sekitarnya. Sebelum berbicara tentang bagaimana anak mengelola marah, sedih, kecewa, atau takut, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita mengenali dan mengelola emosi kita dengan baik?
Regulasi Emosi Anak Dimulai dari Orang Dewasa
Dalam pemaparannya, Bu Muha menegaskan bahwa pendidikan emosi tidak hanya terjadi melalui nasihat, aturan, atau konsekuensi. Anak-anak belajar regulasi emosi terutama melalui contoh nyata: bagaimana orang tua bereaksi ketika lelah, bagaimana guru merespons kesalahan, dan bagaimana orang dewasa menghadapi konflik sehari-hari.
Ayah Bunda, guru di sekolah, serta orang dewasa lain yang terlibat dalam pengasuhan kakak shalih-shalihah sesungguhnya sedang “mengajar” setiap hari—bahkan tanpa kata-kata. Karena itulah, upaya membangun regulasi emosi anak perlu dilakukan secara kolaboratif antara rumah dan sekolah.
Dalam konteks inilah Bu Muha kembali mengingatkan pentingnya playdate kelas. Bukan sekadar ajang bermain, playdate menjadi ruang bertemunya nilai, pola asuh, dan komunikasi antarorang tua agar pendampingan anak lebih selaras.
Membaca Karakteristik Perkembangan Anak Kelas 2
Paparan kemudian dilanjutkan oleh Bu Ni’mah, yang mengajak Ayah Bunda melihat lebih dekat karakteristik perkembangan kakak shalih-shalihah kelas 2 TP. 2025–2026. Pada fase ini, anak-anak berada dalam masa transisi penting menuju fase perkembangan berikutnya, sehingga banyak dinamika yang muncul secara bersamaan.
Secara umum, ditemukan bahwa sebagian besar anak shalihah kelas 2 masih mengalami tantangan dalam menampilkan ekspresi yang sesuai, terutama pada kegiatan terstruktur seperti membaca nyaring, menyampaikan ide, atau tampil di depan kelas. Menariknya, beberapa anak sebenarnya memiliki gagasan, namun lebih nyaman menyampaikannya kepada teman dibandingkan kepada guru.
Di sisi lain, kegesitan dan kemandirian anak juga masih menjadi pekerjaan rumah. Hal ini tampak dalam aktivitas sederhana seperti menyelesaikan makan siang atau menuntaskan tugas harian. Dari sisi sosial-emosi, fluktuasi emosi masih sering muncul dan membutuhkan pendampingan yang konsisten.
Sementara itu, karakteristik kakak shalih kelas 2 justru menunjukkan energi sosial yang sangat besar. Mereka dikenal solid, aktif berbicara, dan senang berinteraksi—bahkan pada situasi yang seharusnya tenang. Dari sudut pandang positif, ini menunjukkan kebutuhan sosial yang kuat. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, anak masih kesulitan memahami batasan konteks: kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya fokus.
Bu Ni’mah menegaskan bahwa energi besar bukanlah masalah, selama diarahkan dengan tepat. Tantangan muncul ketika anak belum memahami aturan, konteks ruang, dan kontrol diri yang sesuai dengan situasi.
Menggali Akar, Bukan Sekadar Mengatasi Permukaan
Salah satu refleksi penting dalam parenting ini adalah pemahaman bahwa perilaku anak jarang muncul secara tiba-tiba. Banyak pola yang sesungguhnya berulang sejak usia dini, hanya saja tampilannya berubah seiring bertambahnya usia.
Bu Ni’mah menjelaskan bahwa pola perilaku tertentu bisa muncul di usia 3 tahun, muncul kembali di usia 6 tahun, lalu kembali terlihat di usia 12 atau 13 tahun. Karena itu, dalam menangani konflik atau perilaku berulang, guru tidak hanya fokus pada kejadian saat ini, tetapi juga berupaya menarik akar permasalahan.
Pendekatan ini membantu sekolah dan orang tua untuk tidak terjebak pada reaksi sesaat, melainkan membangun strategi pendampingan jangka panjang—terutama sebelum anak memasuki masa pra pubertas dan pubertas.
Perspektif Psikolog: Regulasi Emosi sebagai Pondasi Kehidupan
Materi inti kemudian disampaikan oleh Bunda Vivi Psikolog, yang menegaskan bahwa isu regulasi emosi dan keterampilan sosial bukanlah hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus yang ditangani semakin kompleks dan sering kali baru ditangani ketika anak sudah remaja atau dewasa.
Karena itulah, pendampingan sejak usia SD menjadi sangat penting. Bunda Vivi mengingatkan bahwa masa pra pubertas sering kali terlewatkan, padahal pada fase inilah gejolak emosi mulai muncul. Anak perempuan, misalnya, umumnya memasuki pra pubertas lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Artinya, anak usia kelas 2–3 sebenarnya sudah perlu dipersiapkan secara emosional.
Salah satu perhatian khusus adalah kondisi emosi yang datar sejak dini. Anak belajar ekspresi pertama kali dari orang tuanya—dari cara orang tua bermain, berbicara, dan menunjukkan emosi. Jika orang tua minim ekspresi, anak pun berisiko meniru pola yang sama.
Mengenali, Mengelola, dan Mengekspresikan Emosi secara Sehat
Dalam regulasi emosi, Bunda Vivi Psikolog menekankan bahwa prosesnya tidak berhenti pada mengenali dan mengelola emosi saja. Anak juga perlu belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat dan bermanfaat.
Sedih boleh, marah boleh, bahkan melawan boleh—selama dilakukan sesuai konteks dan tidak berlebihan. Anak juga perlu dilatih menyampaikan cerita berdasarkan fakta, bukan sekadar label emosi. Kemampuan ini sangat berpengaruh terhadap cara anak menyelesaikan konflik dan berinteraksi secara sosial.
Terkait gadget, Ayah Bunda diingatkan untuk menerapkan prinsip 4D:
- dibutuhkan,
- dipinjami,
- didampingi,
- dan dibatasi.
Paparan berlebihan terhadap gadget terbukti berdampak pada emosi, kualitas tidur, dan daya juang anak.
Sentuhan, Kegiatan, dan Kelekatan Emosi
Sebagai penutup, Bunda Vivi mengingatkan dua hal sederhana namun fundamental: sentuhan dan kegiatan. Pelukan, pijatan, kehadiran fisik, serta keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak menjadi fondasi penting dalam membangun kelekatan emosi.
Anak yang merasa didengar, ditemani, dan dipahami akan lebih mudah belajar mengelola emosinya. Dari kelekatan inilah tumbuh kepercayaan, resiliensi, dan kemampuan sosial yang sehat.
Bunda Vivi Psikolog menyampaikan bahwa 3 K-si masih menjadi tiga kunci utama dalam membangun hubungan dengan anak; kelekatan emosi, komunikasi efektif dan konsistensi.
Menjaga Fitrah, Menguatkan Ikhtiar Bersama
Parenting Kelas 2 SD Islam Bintang Juara menjadi ruang refleksi bahwa mendampingi anak bukan soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang bersedia terus belajar dan berproses. Anak-anak kelas 2 masih berada dalam fase fitrah yang kuat. Tugas kita bersama adalah menjaga fitrah itu tetap tumbuh sesuai tahapannya.
Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empati, dan konsistensi, insyaAllah kakak shalih-shalihah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan siap menghadapi fase berikutnya—dengan hati yang sehat dan emosi yang terkelola.
Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empatik, dan konsistensi antara rumah dan sekolah, insyaAllah kakak shalih-shalihah siap melangkah ke fase berikutnya dengan hati yang lebih matang dan emosi yang lebih terkelola.
Karena pada akhirnya, mendidik regulasi emosi anak adalah perjalanan bersama—antara anak, orang tua, dan guru—yang saling menguatkan dalam ikhtiar dan doa.*** (CM-MRT)