Ada satu kegelisahan sederhana yang mungkin jarang kita sadari.
Anak-anak tumbuh di tanah Jawa. Mereka melihat tradisi Jawa, mendengar tembang Jawa, mengenal makanan khas Jawa, bahkan tinggal di lingkungan yang masih lekat dengan budaya Jawa. Namun, bagaimana dengan bahasanya?
Apakah mereka masih terbiasa mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari?
Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi salah satu alasan hadirnya Sedinten Basa Jawi di SD Islam Bintang Juara.
Program ini biasanya dilaksanakan satu hingga dua bulan sekali, sebagai ruang bagi anak-anak untuk kembali dekat dengan Bahasa Jawa melalui kebiasaan sederhana. Pada bulan Agustus 2026, Sedinten Basa Jawi dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Bukan sekadar program berbahasa Jawa selama satu hari. Ada pesan yang lebih besar di baliknya: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri.
Bahasa Bukan Sekadar Alat Berbicara
Bahasa sering kali kita anggap hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Padahal, bahasa membawa sesuatu yang jauh lebih dalam.
Di dalam bahasa ada cerita. Ada cara pandang. Ada kebiasaan. Ada nilai kesopanan. Ada budaya. Bahkan ada identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Begitu pula dengan Bahasa Jawa.
Ketika seorang anak belajar menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya ia tidak hanya sedang mempelajari kosakata baru. Ia sedang berkenalan dengan salah satu bagian dari budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Karena itu, menjaga Bahasa Jawa bukan berarti mengajak anak untuk meninggalkan bahasa lain. Justru sebaliknya, anak dapat tumbuh dengan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa sekaligus tetap mengenal akar budayanya.
Di tengah dunia yang semakin terbuka, mengenal identitas lokal menjadi bagian penting agar anak tidak kehilangan pijakan.
Sedinten Basa Jawi: Memberi Ruang untuk Berlatih
Lalu, bagaimana cara mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak agar tidak terasa seperti pelajaran yang berat?
Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan untuk menggunakannya secara langsung.
Itulah semangat yang dibawa melalui Sedinten Basa Jawi.
Pada hari tersebut, anak-anak mendapatkan ruang untuk kembali mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sederhana serta kebiasaan sehari-hari.
Tidak harus langsung sempurna.
Tidak harus langsung hafal banyak kosakata.
Tidak harus langsung lancar menggunakan seluruh tingkatan bahasa.
Yang terpenting adalah anak-anak memiliki kesempatan untuk mencoba.
Sebab, sebuah bahasa akan lebih mudah melekat ketika tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan.
Dari sapaan sederhana, percakapan dengan teman, interaksi dengan guru, hingga berbagai komunikasi kecil yang terjadi selama berada di lingkungan sekolah, Bahasa Jawa perlahan kembali hadir dalam keseharian anak.
Belajar dari Hal-Hal yang Sederhana
Bayangkan seorang anak yang biasanya berbicara dengan Bahasa Indonesia kepada temannya, kemudian mencoba menggunakan Bahasa Jawa.
Mungkin awalnya terasa canggung.
Mungkin ada kata yang lupa.
Mungkin pengucapannya belum tepat.
Namun, dari proses mencoba itulah pembelajaran terjadi.
Anak belajar bahwa tidak apa-apa melakukan kesalahan ketika sedang belajar.
Anak juga belajar mendengarkan bagaimana orang lain menggunakan Bahasa Jawa, kemudian mencoba mengikutinya.
Pelan-pelan, kosakata bertambah.
Pelan-pelan, rasa percaya diri tumbuh.
Dan yang tidak kalah penting, anak mulai menyadari bahwa Bahasa Jawa adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.
Inilah mengapa Sedinten Basa Jawi tidak perlu dipandang sebagai kegiatan yang harus menghasilkan kemampuan berbahasa secara instan.
Tujuannya adalah membuka pintu.
Memberikan pengalaman.
Membangun kebiasaan.
Menumbuhkan kedekatan.
Mengapa Bahasa Daerah Perlu Dikenalkan Sejak Anak-Anak?
Anak-anak adalah generasi yang akan membawa budaya ke masa depan. Jika sebuah bahasa tidak lagi digunakan oleh generasi penerusnya, lama-kelamaan bahasa tersebut dapat semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pengenalan Bahasa Jawa sejak usia sekolah menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keberlanjutannya. Namun, upaya menjaga bahasa daerah tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Rumah memiliki peran yang sangat besar.
Sekolah dapat memberikan pengalaman dan ruang belajar, sementara keluarga dapat membantu menghadirkan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.
Misalnya, Ayah Bunda dapat sesekali menyapa anak menggunakan Bahasa Jawa, mengajak berbincang dengan kosakata sederhana, atau mengenalkan ungkapan-ungkapan Jawa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak perlu menunggu anak fasih. Mulai saja dari satu atau dua percakapan sederhana. Karena pelestarian bahasa sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil: sebuah percakapan di rumah.
Dari Bahasa, Anak Belajar Mengenal Budaya
Menariknya, ketika anak semakin dekat dengan sebuah bahasa, mereka juga berkesempatan mengenal budaya yang menyertainya. Bahasa Jawa memiliki banyak bentuk ungkapan yang mengajarkan kesantunan dalam berkomunikasi.
Dengan demikian, penggunaan Bahasa Jawa juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai-nilai dalam interaksi sosial.
Anak belajar bahwa berbicara dengan orang lain perlu memperhatikan siapa lawan bicaranya, bagaimana cara menyampaikan sesuatu, dan bagaimana menjaga perasaan orang lain.
Tentu, Sedinten Basa Jawi bukan satu-satunya cara untuk membangun karakter tersebut.
Namun, melalui kebiasaan berbahasa, anak mendapatkan pengalaman nyata bahwa cara berbicara juga merupakan bagian dari cara menghargai orang lain.
Tidak Harus Sempurna, yang Penting Mau Mencoba
Salah satu hal yang ingin dijaga melalui Sedinten Basa Jawi adalah suasana belajar yang tidak membuat anak takut mencoba.
Sebab, ketika anak merasa bahwa setiap kesalahan akan langsung dianggap salah, mereka justru bisa kehilangan keberanian untuk menggunakan Bahasa Jawa.
Padahal, proses belajar membutuhkan ruang untuk mencoba. Hari ini mungkin baru berani mengucapkan satu kalimat. Besok mungkin sudah berani berbicara lebih panjang.
Di kesempatan berikutnya, mungkin sudah mulai terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ketika bertemu guru atau teman.
Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Yang penting, ada pengalaman yang terus berulang. Karena kebiasaan yang sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna.
Sedinten Basa Jawi, Sebuah Pengingat untuk Kita Semua
Program yang hadir di sekolah tentu memiliki alasan di baliknya. Begitu pula Sedinten Basa Jawi.
Program ini lahir dari kegelisahan sederhana: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri. Maka, satu hari diberikan sebagai ruang untuk kembali mendekat.
Mendengar.
Mencoba.
Berbicara.
Dan menikmati kembali Bahasa Jawa sebagai bagian dari keseharian.
Bukan untuk membuat anak merasa bahwa bahasa daerah lebih baik daripada bahasa lainnya. Bukan pula untuk membatasi mereka dari perkembangan zaman.
Justru sebaliknya.
Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang mampu melangkah ke dunia yang luas tanpa kehilangan akar yang membuat mereka mengenal siapa dirinya.
Mereka boleh menguasai bahasa Indonesia.
Mereka boleh belajar bahasa asing.
Mereka boleh hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya global.
Namun, semoga mereka tetap tahu dari mana mereka berasal. Tetap mengenal budaya di sekitarnya.
Dan tetap mampu berkata dengan bangga:
“Iki basaku. Iki budayaku.”
Menjaga Bahasa, Menjaga Cerita
Pada akhirnya, Sedinten Basa Jawi bukan sekadar tentang satu hari menggunakan Bahasa Jawa di sekolah.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa ada warisan yang perlu terus dikenalkan kepada anak-anak.
Sebab bahasa membawa cerita.
Bahasa membawa budaya.
Bahasa membawa identitas.
Dan ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya kita sedang memberi mereka kesempatan untuk mengenal salah satu bagian dari dirinya sendiri.
Semoga dari percakapan-percakapan kecil di sekolah, tumbuh rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya.
Semoga dari satu hari Sedinten Basa Jawi, lahir kebiasaan-kebiasaan baik yang terus terbawa ke rumah.
Dan semoga anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, percaya diri, terbuka terhadap dunia, tetapi tetap mengenal dan mencintai akar budayanya.
Karena menjadi generasi hebat bukan berarti harus meninggalkan apa yang diwariskan. Justru generasi hebat adalah mereka yang mampu membawa warisan baik dari masa lalu untuk terus hidup di masa depan.*** (CM-MRT)
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberi permen, boleh diterima?”
Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh kedua narasumber pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Sontak membuat ratusan tangan mungil terangkat. Ada yang menjawab “boleh”, ada yang mulai ragu, dan sebagian lainnya dengan lantang mengatakan, “Tidak boleh!”
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan. Di baliknya tersimpan pelajaran penting yang mungkin dapat menyelamatkan masa depan seorang anak.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Kamis, 23 Juli 2026, SD Islam Bintang Juara menghadirkan peringatan yang berbeda. Mengusung tema “Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba)”, sekolah tidak hanya mengajak anak-anak bergembira, tetapi juga membekali mereka dengan bekal kehidupan yang sangat penting: menjaga kesehatan tubuh, berani mengatakan tidak pada narkoba, serta membangun karakter sebagai calon pemimpin muslim yang mampu menjaga diri di tengah tantangan zaman.
Menariknya, kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di dua lokasi berbeda agar materi dapat disampaikan sesuai usia dan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Hari Anak Nasional tahun ini benar-benar menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Hari Anak Nasional 2026, Saatnya Melindungi Masa Depan Anak Indonesia
Hari Anak Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan dunia anak. Lebih dari itu, HAN menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung cita-citanya.
Di era sekarang, tantangan anak tidak lagi hanya sebatas belajar membaca atau berhitung. Mereka juga harus dibekali kemampuan memilih makanan sehat, mengenali bahaya narkoba yang semakin beragam bentuknya, serta berani menolak ajakan yang membahayakan dirinya.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara memilih menghadirkan dua kegiatan edukatif yang saling melengkapi.
Anak-anak kelas rendah diperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui dongeng yang menyenangkan. Sementara kakak-kakak kelas atas memperoleh edukasi langsung mengenai bahaya narkoba bersama narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menjaga amanah Allah berupa tubuh dan masa depannya.
Belajar Lewat Dongeng: Kak Kempho Mengajak Anak Mencegah Stunting Sejak Dini
Di area kelas 2, suasana dipenuhi gelak tawa ketika Kak Kempho mulai mendongeng di hadapan siswa kelas 1-3.
Namun di balik cerita yang menghibur, tersimpan pesan yang sangat serius.
Anak-anak diajak memahami apa itu stunting, mengapa tubuh membutuhkan makanan bergizi, dan bagaimana kebiasaan makan hari ini akan menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.
Melalui bahasa yang sederhana, Kak Kempho menjelaskan bahwa menjadi anak hebat bukan berarti selalu makan makanan yang viral atau jajanan berwarna-warni.
Sebaliknya, tubuh membutuhkan makanan yang mengandung protein, sayur, buah, susu, dan berbagai nutrisi lain agar otak berkembang optimal, tubuh tumbuh kuat, dan semangat belajar tetap terjaga.
Kak Kempho juga mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan MSG berlebihan, gula tinggi, serta jajanan yang tidak jelas kandungan gizinya.
Anak-anak pun mulai menyadari bahwa memilih makanan sehat merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.
Permen Tidak Selalu Manis, Ada Bahaya yang Harus Diwaspadai
Di penghujung dongeng, suasana mendadak berubah serius. Kak Kempho menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana.
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan permen, bagaimana?”
Anak-anak mulai berpikir.
Lalu Kak Kempho menjelaskan bahwa saat ini ada oknum yang menyalahgunakan narkoba dengan cara menyamarkannya menjadi bentuk yang sangat akrab dengan anak-anak, seperti permen, minuman, jajanan, bahkan makanan ringan.
Pesan yang disampaikan sangat jelas:
Jangan menerima makanan ataupun minuman dari orang yang tidak dikenal.
Anak-anak belajar bahwa kewaspadaan bukan berarti curiga kepada semua orang, tetapi menjadi bentuk ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.
Bersama BNN Jawa Tengah, Mengenal Bahaya Narkoba Sejak Dini
Sementara itu, di ruang kelas 4 dan kelas 6, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti sesi edukasi bersama Pak Dela Sulistiyawan Yunior, S.I.Kom., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Materi diawali dengan cara yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Pak Dela mengajak siswa menyaksikan sebuah video, kemudian berdiskusi tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga programmer.
Dari sinilah Pak Dela menghubungkan satu pesan penting:
Semua cita-cita membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Karena itu, narkoba harus dijauhi.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan pengertian narkoba, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang dapat merusak tubuh maupun otak manusia.
Narkoba Kini Hadir dalam Bentuk yang Tidak Disangka
Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika Pak Dela menunjukkan bahwa narkoba tidak selalu berbentuk seperti yang sering terlihat di televisi.
Justru saat ini narkoba dapat disamarkan dalam bentuk yang sangat akrab dengan kehidupan anak, seperti:
Permen
Minuman
Jajanan
Roti atau makanan ringan
Materi tersebut membuat kakak shalih-shalihah semakin memahami mengapa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang asing.
Pesan sederhana ini sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.
Mengapa Orang Bisa Terjerumus Narkoba?
Melalui sesi tanya jawab interaktif, Pak Dela menjelaskan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba karena berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh lingkungan pertemanan, keluarga, maupun kondisi psikologis seseorang.
Anak-anak diajak memahami bahwa memilih teman yang baik juga merupakan bagian dari menjaga diri. Mereka pun belajar bahwa keputusan kecil hari ini akan sangat menentukan masa depan.
Rokok dan Minuman Keras Juga Berbahaya
Pak Dela menegaskan bahwa ancaman bagi generasi muda bukan hanya narkoba. Rokok dan minuman keras juga sama-sama berbahaya.
Rokok dapat merusak paru-paru, memicu penyakit kronis, bahkan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Sementara minuman keras dapat merusak kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan seseorang.
Pesan ini menjadi penguatan bahwa hidup sehat bukan sekadar menghindari narkoba, tetapi juga menjauhi seluruh kebiasaan yang merusak tubuh.
Berani Menolak Adalah Bentuk Keberanian Sejati
Bagian paling seru terjadi ketika seluruh siswa diajak mempraktikkan bagaimana cara menolak jika diberi makanan atau minuman oleh orang yang tidak dikenal.
Pak Dela memberikan tiga langkah sederhana yang mudah diingat anak-anak:
Tolak dengan sopan.
Tolak disertai alasan.
Segera pergi atau menghindar dari situasi tersebut.
Praktik ini membuat anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan nyata apabila suatu saat menghadapi situasi serupa.
Inilah bentuk pendidikan yang aplikatif—belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk bertindak dengan benar.
Menjadi Generasi BERSINAR Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Dalam materinya, Pak Dela juga mengajak siswa melakukan berbagai kebiasaan positif agar terhindar dari narkoba.
Di antaranya:
Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
Rajin berolahraga.
Tidak jajan sembarangan.
Belajar dengan sungguh-sungguh.
Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Tidak mengonsumsi obat tanpa arahan orang tua atau tenaga kesehatan.
Bergaul di lingkungan yang baik.
Berani menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.
Semua kebiasaan tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk menghindari narkoba, tetapi juga membentuk gaya hidup sehat yang akan membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.
SD Islam Bintang Juara memilih tema “Membangun Generasi Bintang Juara Bersinar (Bersih Narkoba)” ternyata selaras dengan salah satu sub tema Hari Anak Nasional tahun ini. Ternyata, BNN juga sedang menggalakan program BERSINAR, yang baru saja launching secara serentak hari ini. Alhamdulillah, sekolah ini senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan.
Menjadi Calon Pemimpin Muslim yang Menjaga Amanah Allah
Hari Anak Nasional di SD Islam Bintang Juara tahun ini tidak berhenti pada slogan BERSINAR (Bersih Narkoba).
Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan cara pandang bahwa tubuh, akal, dan kesehatan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Seorang calon pemimpin muslim bukan hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, memilih lingkungan yang baik, berani berkata tidak terhadap ajakan yang salah, serta hidup sehat agar dapat terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Inilah makna pendidikan karakter yang terus dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.
Karena kami percaya, membangun generasi hebat tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan. Anak-anak juga perlu dibekali keberanian untuk memilih yang benar, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan adab dalam setiap langkah kehidupan.
Semoga semangat Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara bahwa setiap anak adalah cahaya masa depan. Ketika mereka tumbuh sehat, beradab, bebas dari narkoba, dan memiliki cita-cita yang kuat, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena di SD Islam Bintang Juara, kami tidak hanya mendidik anak menjadi pintar. Kami menyiapkan mereka menjadi pemimpin muslim yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan siap menjadi solusi bagi tantangan zamannya.*** (CM-MRT)
Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?
Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim
Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.”
Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.
Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.
Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.
Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan
Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.
Apel Pembukaan
Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.
Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.
Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah
Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.
Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.
Pesona Bintang Juara
Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.
Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.
Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.
Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.
Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.
Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif
Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.
Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.
Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.
Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu
Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.
Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.
Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.
Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi
Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.
Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.
Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.
Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.
Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik
Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)
Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.
Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.
Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama
Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.
Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.
Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.
Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.
Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna
Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.
Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)
“Anak hebat bukan yang paling banyak followers atau paling viral di media sosial, tetapi yang paling baik adabnya.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup sekaligus pesan paling membekas dalam Kelas Penguatan Adab “Jadi Calon Pemimpin Muslim yang Cerdas Digital Yuk!” yang diikuti siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan Marita Ningtyas, S.S., Leader Team Cipta Media Digital Bintang Juara, sebagai narasumber.
Di era ketika anak-anak tumbuh bersama gawai dan media sosial, sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajarkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter digital. Sebab, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi jalan menuju kebaikan atau sebaliknya adalah adab penggunanya.
Melalui kelas yang dikemas interaktif, penuh permainan, diskusi, dan refleksi, siswa diajak memahami bahwa menjadi generasi digital berarti juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
Internet adalah Amanah, Bukan Sekadar Hiburan
Kegiatan diawali dengan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu.
“Mengapa Allah mengizinkan internet ada di muka bumi?”
Pertanyaan tersebut membawa siswa memahami bahwa internet merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Teknologi dapat menjadi ladang pahala ketika digunakan untuk belajar, berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, internet juga dapat menjadi ujian apabila dipenuhi konten negatif, perundungan, hoaks, ataupun aktivitas yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak diajak untuk takut terhadap teknologi, melainkan belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Menjadi Pengguna Media Sosial yang Punya Tujuan
Media sosial sering kali dipandang sebagai tempat hiburan semata. Dalam sesi ini, siswa diajak mengubah cara pandang tersebut. Bu Marita menjelaskan bahwa media sosial seharusnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu:
belajar dan menambah wawasan,
mempererat silaturahmi dengan keluarga maupun teman,
menyebarkan konten positif yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pesan ini menjadi bekal penting agar anak-anak tidak sekadar menjadi penonton dunia digital, tetapi mampu menjadi pembawa manfaat melalui setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.
Belajar Bersyukur, Bukan Sibuk Membandingkan Diri
Salah satu aktivitas yang paling menarik adalah permainan “Harta Karun Temanku.” Dalam permainan tersebut, siswa diminta menemukan satu kelebihan teman di sampingnya. Satu per satu mereka menyampaikan apresiasi dengan tulus.
Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki makna yang sangat dalam.
Anak-anak diajak memahami bahwa hati akan dipenuhi rasa syukur ketika terbiasa melihat kelebihan orang lain. Sebaliknya, media sosial sering kali membuat seseorang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain sehingga memunculkan rasa iri, minder, hingga tidak percaya diri.
Melalui refleksi ini, siswa belajar bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah jumlah “like” ataupun pengikut, melainkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.
Dunia Maya Memiliki Jejak yang Sulit Dihapus
Kelas semakin hidup ketika siswa mengikuti permainan Game Bisik Berantai.
Permainan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain. Dari sini siswa memahami bahwa berita yang belum tentu benar dapat menyebar begitu cepat apabila tidak dilakukan pengecekan terlebih dahulu.
Selanjutnya, siswa diajak mengenali karakteristik dunia maya.
Internet bersifat cepat, global, mudah dimanipulasi, viral, bahkan jejak digitalnya sulit dihapus. Karena itulah setiap komentar, unggahan, maupun pesan harus dipikirkan dengan matang sebelum dibagikan kepada orang lain.
Bermain Sambil Belajar Menjadi Netizen yang Beradab
Belajar adab digital tidak dilakukan melalui ceramah panjang.
Marita mengajak siswa mengikuti berbagai permainan seperti Jempol Pintar dan Detektif Konten, yaitu aktivitas memilih apakah suatu unggahan termasuk perilaku yang baik atau tidak baik di media sosial. Melalui diskusi kelompok, siswa belajar memberikan alasan dan berpikir kritis terhadap berbagai situasi yang sering mereka temui di dunia digital.
Pendekatan ini membuat materi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Adab Bermedia Sosial Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Siswa kemudian diajak menyusun kembali kebiasaan baik saat menggunakan media sosial.
Di antaranya adalah:
tidak mengejek atau menghina orang lain,
tidak membuka aib teman,
tidak menggunakan kata-kata kasar,
tidak menyebarkan hoaks,
tidak pamer secara berlebihan,
meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain,
mengucapkan terima kasih,
menghargai perbedaan pendapat.
Selain itu, siswa juga belajar memilih konten yang layak dikonsumsi dengan metode THINK, BAIK dan lima prinsip cerdas berinternet.
Mereka diajak memeriksa sumber informasi, memilih konten edukatif, serta menghindari tayangan yang mengandung kekerasan, kebencian, maupun hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menjadi Generasi Digital yang Beradab
Sebagai penutup, seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Calon Pemimpin Muslim Cerdas Digital.
Mereka berkomitmen menggunakan gawai secara bijak, menjaga lisan meskipun melalui tulisan, memilih konten yang bermanfaat, tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, serta berharap Allah SWT menjadikan mereka anak yang beradab, berilmu, dan membawa manfaat bagi sesama.
Komitmen tersebut selaras dengan visi SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim. Sekolah percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter, adab, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak membutuhkan bekal yang lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan gawai. Mereka membutuhkan kompas moral agar mampu memilih yang benar, berkata santun, menghargai orang lain, dan menghadirkan manfaat melalui teknologi.
Karena pada akhirnya, dunia digital bukan sekadar tempat untuk menunjukkan siapa diri kita, tetapi ruang untuk membuktikan nilai-nilai yang kita pegang.
Dan sebagaimana pesan yang terus diingat oleh seluruh peserta hari itu, calon pemimpin muslim yang hebat bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling baik adabnya.*** (CM-MRT)
Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.
Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.
Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.
Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?
Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.
Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.
Disambut Rebana, Dihantar Doa
Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.
Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.
Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.
Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.
Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri
Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.
Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.
Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.
Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.
Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.
Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.
Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.
Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.
Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.
Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal
Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.
Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.
Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.
Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga
Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.
Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.
Selamat kepada 37 Khatimin
SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:
Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***
Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.
Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.
Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.
Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.
Enam Tahun yang Penuh Cerita
Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.
Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan
Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.
Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.
Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.
Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru
Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.
Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?
Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.
Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.
Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan
Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.
Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.
Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.
Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.
Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.
Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim
Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.
Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.
Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih
Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.
Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.
Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta
Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.
Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.
Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran
Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.
Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.
Penyematan Samir yang Sarat Makna
Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.
Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.
Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.
Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.
Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru
Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.
Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.
Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.
Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.
Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***