by admin admin | Apr 16, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.
Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.
Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna
Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.
Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.
Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.
Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu
Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:
- Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
- Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
- Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.
Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.
Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.
Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.
Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci
Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.
Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.
Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.
Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang
Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.
Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.
Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama
Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.
Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.
Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.
Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.
Belajar Budaya, Membentuk Karakter
Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:
- Menghargai warisan budaya lokal
- Melatih kepekaan rasa dan empati
- Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
- Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
- Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.
Menjaga Budaya, Menjaga Identitas
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.
Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 15, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu suasana terasa berbeda bagi kakak shalih-shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara. Kali ini seragam sekolah yang mereka kenakan tidak hanya digunakan belajar di dalam kelas, melainkan melahirkan semangat baru untuk belajar langsung dari dunia nyata. Selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 April 2026, mereka mengikuti kegiatan Magang Adab di Pands Muslim Store.
Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pengalaman belajar yang dirancang untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kemandirian, dan tentu saja adab dalam bekerja.
Magang Adab ini merupakan kali ketiga diselenggarakan di Pands Muslim Store. Pesertanya adalah seluruh kakak kelas 5, serta satu kakak kelas 6 yang tahun sebelumnya belum sempat mengikuti. Meski konsepnya serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, pengalaman yang dirasakan setiap anak tetap terasa baru, menantang, dan penuh makna.
Belajar dari Dunia Nyata, Bukan Sekadar Teori
Setibanya di lokasi, kakak shalih-shalihah langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai area tugas masing-masing: gudang, toko, dan studio. Setiap area menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama; belajar bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Di area gudang, kakak belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian tinggi. Mereka membantu mengemas kerudung dan pakaian, menyortir alat sensor sesuai ukuran, hingga mengantarkan barang ke toko. Aktivitas ini melatih fokus, ketelitian, dan kesabaran.
Tidak sedikit dari mereka yang awalnya menganggap pekerjaan ini mudah, namun kemudian menyadari bahwa kesalahan kecil saja bisa berdampak besar. Dari sinilah mereka mulai memahami arti bekerja dengan sungguh-sungguh.
Berpindah ke area toko, suasana terasa lebih dinamis. Kakak shalih-shalihah belajar menata baju di rak agar terlihat rapi dan menarik. Mereka juga berlatih melayani pembeli dengan sopan dan ramah.
Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi pengalaman berharga. Mereka belajar menyapa, menawarkan bantuan, hingga menjaga sikap saat berbicara. Di sinilah adab benar-benar diuji—bagaimana bersikap santun dalam situasi nyata.
Dari Kamera hingga Percaya Diri
Sementara itu, di area studio, pengalaman tak kalah seru menanti. Kakak shalih-shalihah diajak untuk berperan sebagai model sekaligus fotografer. Mereka belajar berpose di depan kamera, sekaligus mencoba memotret teman-temannya.
Bagi sebagian anak, berdiri di depan kamera bukanlah hal yang mudah. Ada rasa malu, canggung, bahkan tidak percaya diri. Namun perlahan, dengan dukungan teman dan pembimbing, mereka mulai berani mencoba.
Dari sini, muncul satu pembelajaran penting: keberanian tidak datang dari rasa siap, tapi dari kemauan untuk mencoba.
Di sisi lain, saat memegang kamera, mereka belajar bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan proses. Mengatur angle, pencahayaan, hingga fokus—semuanya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Magang Adab: Lebih dari Sekadar Bekerja
Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan hanya aktivitasnya, tetapi nilai yang dibangun di dalamnya. Kakak shalih-shalihah tidak hanya belajar “cara bekerja”, tetapi juga “bagaimana bersikap saat bekerja”.
Mereka belajar datang tepat waktu, mengikuti arahan, bekerja sama dalam tim, hingga menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa pekerjaan apapun, selama dilakukan dengan niat yang baik dan adab yang benar, akan menjadi bernilai ibadah.
Magang Adab ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan dunia kerja sejak dini, namun dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Tidak ada tekanan, yang ada justru pengalaman menyenangkan yang membangun karakter.
Pengalaman Pertama yang Tak Terlupakan
Bagi kakak shalih-shalihah kelas 5, ini adalah pengalaman pertama mereka terlibat langsung dalam aktivitas seperti ini. Wajar jika di awal mereka merasa bingung atau ragu.
Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa. Bahkan banyak di antara mereka yang justru merasa senang dan ingin mencoba lagi.
Tawa, cerita, dan pengalaman selama tiga hari ini menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Dari yang awalnya hanya “ikut kegiatan”, berubah menjadi “mengerti makna”.
Bekal untuk Masa Depan
Magang Adab di Pands Muslim Store bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah bagian dari proses panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter.
Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar ilmu. Dibutuhkan sikap, etika, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai inilah yang diharapkan akan terus mereka bawa, bukan hanya saat di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari hingga masa depan nanti.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita bersikap.
Dan dari langkah kecil di Pands Muslim Store ini, semoga menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah—dengan adab sebagai pondasinya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Mar 12, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam. Pada bulan inilah Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Pintu rahmat dan keberkahan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, jika kita melihat perjalanan sejarah Islam, justru pada bulan Ramadan banyak peristiwa besar yang terjadi.
Rasulullah SAW dan para sahabat tetap aktif berdakwah dan melakukan berbagai perjuangan besar pada bulan Ramadan. Semangat mereka menunjukkan bahwa Ramadan bukan waktu untuk melemah, tetapi justru menjadi momen terbaik untuk meningkatkan amal dan kebaikan.
Semangat inilah yang ingin ditanamkan kepada siswa-siswi SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim.
Kegiatan ini menjadi salah satu program yang dirancang untuk memberikan ruang bagi kakak shalih–shalihah dalam menyalurkan potensi, sekaligus menumbuhkan karakter positif selama bulan Ramadan.
Menghidupkan Bulan Suci dengan Kegiatan Positif melalui Festival Ramadan
Festival Ramadan bukan sekadar perlombaan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Melalui berbagai cabang festival Islami, kakak shalih-shalihah diajak untuk:
- menampilkan kemampuan terbaik mereka,
- belajar tampil percaya diri,
- melatih keberanian berbicara di depan umum,
- sekaligus memperdalam pemahaman agama.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tahap awal pemetaan potensi siswa untuk mempersiapkan delegasi sekolah dalam ajang Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni (MAPSI).
Dengan demikian, festival ini tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan bakat siswa secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan karakter pejuang, kreativitas, dan rasa percaya diri pada diri setiap anak.
Festival Ramadan dilaksanakan pada hari Rabu – Kamis, 11 – 12 Maret 2026. Hari Rabu adalah pelaksanaan festival untuk kelas 1-3, sementara hari Kamis adalah pelaksanaan festival untuk kelas 4-6. Kegiatan ini dilaksanakan bergantian dengan Jelajah Budaya Islam di Nusantara.
Ragam Cabang Festival untuk Kelas 1–3
Kakak kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti berbagai cabang lomba yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Salah satu cabang yang menarik adalah lomba Azan dan Iqomah. Dalam lomba ini, siswa belajar melantunkan panggilan salat dengan suara lantang dan penuh keberanian. Selain melatih vokal, kegiatan ini juga menanamkan kecintaan terhadap ibadah salat sejak dini.
Ada juga lomba kaligrafi dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar menulis huruf Arab dengan indah sekaligus melatih kesabaran dan ketelitian.
Pada cabang Da’i Cilik, siswa menyampaikan ceramah singkat dengan berbagai tema menarik, seperti:
- hikmah dan manfaat berpuasa,
- adab terhadap orang tua dan guru,
- pentingnya berteman tanpa bullying,
- peristiwa Nuzulul Qur’an,
- serta keutamaan malam Lailatul Qadar.
Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Selain itu, terdapat juga lomba tahfiz Al-Qur’an yang dibagi menjadi tiga level, disesuaikan dengan pencapaian hafalan masing-masing kakak. Adapun levelnya sebagai berikut:
- Level 1 (Surat Ad-Dhuha sampai An-Naas)
- Level 2 (Surah Al-Buruj sampai Al-Lail)
- Level 3 (Surah An-Naba’ sampai Al-Insyiqaq)
Penilaian dilakukan berdasarkan makharijul huruf, tajwid, kelancaran bacaan, serta adab saat membaca Al-Qur’an.
Lomba berikutnya yaitu cerita Islami, siswa diminta menceritakan kisah para nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, yaitu:
- Nabi Nuh AS
- Nabi Ibrahim AS
- Nabi Musa AS
- Nabi Isa AS
- Nabi Muhammad SAW
Melalui kisah-kisah ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang keteguhan iman, kesabaran, dan perjuangan dalam menyampaikan kebenaran.
Tidak hanya itu, kakak kelas 1–3 juga mengikuti lomba cerita Islami serta duet lagu Islami. Lagu-lagu yang bisa dipilih antara lain:
- Ramadan Tiba – Opick
- Rukun Iman – Nussa Official
- Nabi Putra Abdullah
- Aku Cinta Allah dan Rasul
Melalui kegiatan bernyanyi, kakak shalih-shalihah dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulullah dengan cara yang menyenangkan.
Cabang lainnya adalah pengetahuan PAI dan BTQ, yang menguji pemahaman siswa tentang huruf hijaiyah, rukun iman, rukun Islam, kisah para nabi, serta fiqih dasar seperti tata cara salat dan puasa.
Cabang Festival untuk Kelas 4–6
Kakak kelas 4 hingga 6 mengikuti cabang festival yang tidak jauh berbeda. Namun ada satu cabang yang lebih menantang dan mendalam, yaitu tartil Al-Qur’an. Di mana peserta membaca ayat Al-Qur’an dengan tajwid yang benar serta irama yang indah. Surah yang dibacakan dipilih secara acak saat peserta akan tampil, sehingga kakak shalih-shalihah harus benar-benar mempersiapkan diri.
Selain tartil Al-Qur’an, cabang festival lainnya sama dengan kelas 1-3, hanya berbeda level tantangannya saja.
Untunk cabang kaligrafi, kakak kelas 4-6 harus membuat tulisan lafal tahlil “La ilaha illallah”. Sementara itu, pilihan lagu untuk lomba duet lagu Islami juga berbeda, yaitu:
- Rindu Muhammadku – Haddad Alwi & Vita
- Marhaban Ya Ramadan – Haddad Alwi
- Sholawat Ala Muhammad – Opick
- Assalamualaikum – Opick
Pada cabang Pengetahuan PAI dan BTQ, kakak shalih-shalihah diuji pemahamannya tentang tajwid, makna surat Al-Fatihah, Al-Kafirun, dan Ad-Duha, serta berbagai materi keislaman seperti rukun iman, kisah nabi, zakat, hingga sifat wajib dan mustahil bagi Allah.
Manfaat Festival Ramadan bagi Siswa
Kegiatan Festival Ramadan memberikan banyak manfaat bagi perkembangan siswa.
- Menumbuhkan rasa percaya diri. Kakak shalih-shalihah belajar tampil di depan banyak orang dan menyampaikan kemampuan terbaik mereka.
- Melatih keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Kakak belajar berusaha dengan maksimal dan menerima hasil dengan sikap sportif.
- Mengembangkan kreativitas dan bakat. Setiap cabang festival memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi yang mereka miliki.
- Memperdalam pemahaman agama. Melalui kegiatan seperti tahfidz, tartil, ceramah, dan pengetahuan PAI, kakak semakin mengenal ajaran Islam secara lebih mendalam.
Yang paling penting, kegiatan ini membantu menanamkan nilai bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Membangun Generasi Pemimpin Muslim
Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi yang berkarakter kuat, percaya diri, dan memiliki kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.
Dari panggung kecil tempat kakak shalih-shalihah melantunkan azan, membaca Al-Qur’an, atau menyampaikan ceramah singkat, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan semangat untuk terus melakukan kebaikan.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah kesempatan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dan melalui kegiatan seperti inilah, semangat itu mulai ditanamkan sejak dini kepada setiap kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.
Apakah Ayah Bunda penasaran siapakah yang terpilih menjadi penampil terbaik untuk masing-masing kategori festival? Tunggu informasinya di hari Jumat, 13 Maret 2026 ya!***
by admin admin | Mar 11, 2026 | Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.
Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.
Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.
Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.
Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna
Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.
Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.
Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.
Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.
Warisan Dakwah Sunan Kalijaga
Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.
Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.
Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:
- Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
- Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)
Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.
Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.
Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita
Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.
Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.
Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.
Tantangan Membuat Ketupat dari Pita
Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.
Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.
Namun justru di sinilah letak keseruannya.
Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.
Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan
Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.
Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.
Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.
Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.
Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak
Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.
- Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
- Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
- Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
- Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
- Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.
Belajar Budaya, Memahami Makna
Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.
Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.
Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.
Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.
Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)
by admin admin | Mar 10, 2026 | Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjalani Ramadan dengan suasana kampung halaman yang hangat, ada pula yang merasakannya di negeri yang jauh dari tanah air.
Hal inilah yang menjadi tema menarik dalam kegiatan CERANA (Cerita Ramadan Bermakna) 2026 yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui Instagram @sdislambintangjuara pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 WIB.
CERANA sendiri sudah rutin dilakukan sejak tahun 2020, tepatnya ketika pandemi. Alhamdulillah, kegiatan ini terus berlangsung hingga tahun ini.
Cerita Ramadan Bermakna dari Kak Aleen dan Kak Khansa
Mengangkat tema “Puasa Ramadan di Dua Belahan Dunia: Pengalaman Berbeda, Semangat yang Sama”, CERANA menghadirkan dua narasumber istimewa yang pernah merasakan pengalaman menjalani Ramadan di luar negeri.
Mereka adalah Kak Khansa, yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, serta Kak Aleen, yang pernah merasakan kehidupan di Inggris. Acara ini dipandu oleh Bu Nawang, Koordinator Litbang Yayasan Dewi Sartika, yang juga merupakan ibunda dari Kak Aleen.
Melalui obrolan santai namun penuh makna, para narasumber berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa jauh dari Indonesia.
Ramadan di Negeri dengan Waktu Puasa Lebih Panjang
Salah satu hal paling menarik dari diskusi ini adalah perbedaan durasi waktu puasa.
Kak Khansa yang tinggal di Finlandia bercerita bahwa di beberapa negara Eropa, terutama di wilayah yang berada cukup jauh di utara, durasi puasa bisa lebih panjang dibandingkan di Indonesia.
Di Indonesia, umat Muslim biasanya berpuasa sekitar 13–14 jam. Namun di negara seperti Finlandia atau Inggris, durasi puasa bisa lebih lama, tergantung musim dan panjangnya waktu siang.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang tinggal di sana. Mereka harus tetap menjaga stamina, mengatur waktu istirahat, dan memastikan tubuh tetap kuat menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun meskipun durasi puasanya lebih panjang, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap terasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan hanya soal waktu yang dijalani, tetapi tentang niat dan keteguhan hati dalam menjalankannya.
Menu Sahur dan Berbuka yang Berbeda
CERANA juga membahas hal yang tidak kalah menarik: menu sahur dan berbuka puasa di luar negeri. Kak Khansa dan Kak Aleen berbagi cerita tentang makanan yang biasanya mereka konsumsi saat sahur dan berbuka ketika tinggal di luar negeri.
Tidak selalu ada makanan khas Ramadan seperti di Indonesia. Kadang mereka harus menyesuaikan dengan bahan makanan yang tersedia di sana.
Menu sahur bisa berupa makanan sederhana seperti roti, telur, atau makanan hangat yang mudah disiapkan. Begitu juga saat berbuka, pilihan makanan sering kali berbeda dari yang biasa dinikmati di Indonesia.
Berbeda dengan suasana di tanah air yang penuh dengan aneka takjil seperti kolak, gorengan, atau es buah. Meski begitu, pengalaman ini justru mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur.
Suka Duka Ramadan di Luar Negeri
Selain berbagi tentang makanan dan durasi puasa, Kak Khansa dan Kak Aleen juga menceritakan berbagai suka dan duka menjalani Ramadan di luar negeri. Salah satu tantangan terbesar adalah rasa rindu terhadap suasana Ramadan di Indonesia.
Di Indonesia, Ramadan terasa sangat meriah. Ada suara adzan dari masjid, kegiatan tadarus bersama, pasar Ramadan, hingga momen berbuka puasa bersama teman dan keluarga.
Sementara di beberapa negara non-Muslim, suasana Ramadan tidak selalu terlihat secara langsung di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pengalaman Ramadan terasa berbeda.
Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga tentang menjaga semangat ibadah meskipun berada di lingkungan yang berbeda.
Ramadan di Indonesia Lebih Seru
Dalam sesi CERANA tersebut, Kak Khansa dan Kak Aleen juga berbagi pendapat yang menarik. Menurut mereka, menjalani Ramadan di Indonesia terasa lebih seru.
Salah satu alasannya adalah karena banyak teman dan lingkungan yang sama-sama menjalankan ibadah puasa. Suasana kebersamaan ini membuat Ramadan terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Selain itu, di Indonesia mereka juga bisa menikmati berbagai makanan favorit saat berbuka puasa. Mulai dari aneka takjil hingga makanan khas yang sering menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.
Hal-hal sederhana seperti berbuka bersama keluarga atau bermain dengan teman-teman setelah tarawih menjadi kenangan yang sangat berharga.
Nah, buat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah yang Sabtu lalu tertinggal menonton live-nya, silakan bisa menonton siaran ulangnya di sini:
CERANA: Belajar dari Cerita, Menguatkan Makna Ramadan
Kegiatan CERANA bukan sekadar acara berbagi cerita. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami bahwa Ramadan dijalani oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Melalui cerita Kak Khansa dan Kak Aleen, para penonton belajar bahwa meskipun kondisi lingkungan, cuaca, dan budaya berbeda, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap sama.
Puasa mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan hati untuk menjalankan perintah Allah SWT di mana pun kita berada.
Menumbuhkan Perspektif Global Sejak Dini
Kegiatan seperti CERANA juga membantu siswa memiliki wawasan global sejak usia dini.
Mereka tidak hanya belajar tentang Ramadan dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami bagaimana umat Muslim di berbagai negara menjalankan ibadah yang sama.
Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari umat Muslim di dunia.
Ramadan yang Menghubungkan Umat Muslim di Seluruh Dunia
Pada akhirnya, CERANA 2026 mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.
Meskipun berada di negara yang berbeda, dengan cuaca yang berbeda, dan durasi puasa yang berbeda, tujuan ibadahnya tetap sama. Semua umat Muslim berusaha menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk meraih keberkahan.
Dari Finlandia hingga Inggris, dari Indonesia hingga berbagai penjuru dunia lainnya; semangat Ramadan selalu menghadirkan makna yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.*** (CM-MRT)
by admin admin | Mar 9, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Pekan terakhir sebelum pembagian rapor tengah semester dua selalu menjadi waktu yang dinanti oleh kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara. Biasanya, pekan ini diisi dengan program Leadership Journey, sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kedewasaan pada anak.
Namun kali ini terasa berbeda. Kalender menunjukkan bahwa pekan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan—bulan yang penuh keberkahan. Maka kegiatan Leadership Journey pun disesuaikan dengan nuansa Ramadan.
Hari pertama, Senin, 9 Maret 2026, dibuka dengan kegiatan istimewa bernama SBQ (Sehari Bersama Al-Qur’an). Tujuannya sederhana tetapi sangat mendalam:
mengajak kakak shalih–shalihah lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merasakan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam itu.
Sehari Bersama al-Qur’an dalam Tiga Bentuk Berbeda
Agar kegiatan lebih fokus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, SBQ dibagi menjadi tiga titik kegiatan berdasarkan jenjang kelas.
Kelas 1 & 2: Mengenal Makna Surah Al-Qadr
Di ruang kelas 2A dan 2B, kakak kelas 1 dan 2 berkumpul bersama Pak Ali. Suasana terasa hangat dan penuh semangat.
Pak Ali memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak mengenal salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kakak shalih–shalihah diajak memahami makna turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.
Pak Ali menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut.
Setelah memahami maknanya, kegiatan dilanjutkan dengan penyimakan bacaan salat. Kakak dipanggil satu per satu untuk menemui guru mengaji. Di sana, bacaan salat mereka disimak dengan teliti.
Kegiatan ini sangat penting. Karena membaca Al-Qur’an dan bacaan salat dengan benar merupakan fondasi ibadah seorang Muslim sejak kecil. Anak-anak belajar memperbaiki tajwid, pelafalan huruf, dan kelancaran membaca.
Dari ruang kelas sederhana itu, proses kecil sedang terjadi: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini.
Kelas 3 & 4: Mengenal Keutamaan Tilawah Al-Qur’an
Sementara itu di ruang kelas 3A dan 3B, kakak kelas 3 dan 4 mengikuti sesi bersama Pak Solekan. Kegiatan dimulai dengan membahas 10 keutamaan membaca Al-Qur’an (tilawah).
Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat, Pak Solekan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah biasa. Ia memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya:
- Mendapat ketenangan hati
- Mendapat 10 kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca
- Menghilangkan sifat iri dan dengki
- Mendapat syafaat di hari akhir
- Dimasukkan ke surga oleh Allah SWT
- Menjadi sebaik-baik manusia
- Akan ditemani malaikat
- Mendapat dua pahala bagi orang yang belajar membaca Al-Qur’an; pahala membaca al-Qur’an dan pahala tekad belajar
- Diangkat derajatnya oleh Allah
- Dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka
Kakak shalih–shalihah tampak kagum mendengar betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an.
Namun pembelajaran tidak berhenti di sana. Pak Solekan kemudian mengenalkan seni membaca Al-Qur’an atau An-Naghom fil Quran—teknik memperindah suara saat tilawah. Anak-anak diajak memahami bahwa membaca Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan irama yang indah tanpa mengubah makna.
Beliau menjelaskan sejarah munculnya seni membaca Al-Qur’an, yang dipengaruhi oleh budaya syair dalam tradisi Arab serta berbagai perkembangan sejarah Islam.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan beberapa jenis ragam lagu dalam tilawah, di antaranya:
- Lagu Bayyati
- Lagu Shoba
- Lagu Hijjazi
Melalui video contoh, kakak shalih–shalihah mendengarkan bagaimana setiap lagu memiliki nuansa yang berbeda. Setelah itu, mereka diajak mencoba menirukan irama tersebut.
Ruang kelas pun berubah menjadi tempat belajar yang penuh semangat. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai berani mencoba. Semua belajar memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.
Kelas 5 & 6: Muhasabah dan Refleksi Diri
Di titik ketiga, kakak kelas 5 dan 6 mengikuti sesi bersama Pak Zaki. Kegiatan dimulai dengan sebuah pengingat yang sangat mendalam: bersyukur atas nikmat usia. Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah merenungkan waktu yang telah Allah berikan.
- Apakah waktu itu sudah digunakan dengan baik?
- Apakah fasilitas yang Allah berikan sudah dimanfaatkan untuk kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak anak-anak melakukan muhasabah diri.
Pak Zaki juga mengingatkan bahwa saat belajar agama atau menuntut ilmu (tholabul ilmi), yang paling utama adalah memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Dalam sesi ini, kakak juga dikenalkan dengan empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga, yaitu:
- Ahli Al-Qur’an (orang yang rajin membaca Al-Qur’an)
- Orang yang menjaga lisannya
- Orang yang memberi makan kepada orang lapar
- Orang yang berpuasa di bulan Ramadan
Pak Zaki menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkan pertolongan dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan disebutkan bahwa orang yang khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan akan didoakan oleh 60.000 malaikat.
Sebagai penutup, Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah untuk menjadi orang yang bertakwa—yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika sendirian maupun di tengah keramaian.
Kegiatan kemudian ditutup dengan membaca Surah Yasin bersama-sama, menghadirkan suasana yang khusyuk dan penuh ketenangan.
Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini
Kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an bukan sekadar agenda Ramadan. Kegiatan ini adalah upaya membangun fondasi spiritual anak-anak sejak usia dini. Melalui SBQ, kakak shalih–shalihah belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat pelajaran agama.
Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Mereka belajar membaca dengan benar. Belajar memahami makna. Belajar merasakan kedekatan dengan firman Allah.
Dari ruang-ruang kelas sederhana itu, benih-benih generasi Qurani sedang ditanam. Generasi yang hatinya dekat dengan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.
Karena ketika anak-anak tumbuh bersama Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi umat.***