Alhamdulillah, setelah sukses dengan episode perdana tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut, Bincang Ramadhan kembali menyapa Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah pada hari Sabtu, 1 April 2023. Episode kedua Bincang Ramadhan dengan tema “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal,” menghadirkan Drs. M. Fauroni sebagai narasumber dan dipandu oleh Mokhamad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., Ayah dari Kak Aquien Kelas 2.
Sebagai sekolah dasar yang menerapkan kurikulum merdeka, SD Islam Bintang Juara selalu berusaha untuk melibatkan orang tua dalam setiap lini kegiatan sekolah. Salah satunya adalah kegiatan Bincang Ramadhan.
Kegiatan ini berupa talkshow yang diinisiasi oleh FORSI (Forum Silaturahmi) Orang Tua Murid SD Islam Bintang Juara. Setiap episodenya akan ada narasumber dan host yang berbeda. Host atau pemandu acara diambil dari anggota FORSI secara bergantian, sementara narasumber selain dari orang tua siswa, juga bisa menghadirkan praktisi dan para ahli yang tinggal di sekitar SD Islam Bintang Juara.
Narasumber pada Bincang Ramadhan #2 adalah seorang Praktisi Kesehatan Thibbun Nabawi sekaligus ketua RW 04 Kelurahan Sukorejo. Dalam Bincang Ramadhan ini, ketua RW yang akrab dipanggil dengan nama Bapak Roni berbagi informasi mengenai bekam.
Sebagian ulama menganggap bekam sebagai salah satu sunnah Rasulullah SAW, yang apabila dilakukan secara rutin telah terbukti untuk menjaga kesehatan. Lalu seperti apakah bekam yang benar, apa saja manfaatnya dan bagaimana cara pengobatan ala Rasulullah SAW?
Simak ulasan Bincang Ramadhan #2 yang disajikan secara istimewa hanya untuk Ayah Bunda sekalian, khususnya yang belum sempat menyimak Live Streaming-nya beberapa waktu lalu.
Bekam ala Rasulullah Seperti Apa?
Bukan tanpa alasan menghadirkan Bapak Roni sebagai narasumber Bincang Ramadhan #2. Beliau telah menekuni bidang Thibunnabawi selama 20 tahun.
Bapak Roni menjelaskan bahwasanya bekam adalah bagian dari Thibbunnabawi. Thibbunnabawi adalah pengobatan yang bersumber dari nabi.
Berbeda dengan pengobatan medis modern yang berdasarkan uji coba dan rawan terjadinya kekeliruan, thibbunnabawi merupakan pengobatan yang berdasarkan wahyu. Bahkan salah satu hadits menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW mendapat informasi mengenai bekam langsung dari Malaikat Jibril.
Dalam sebuah riwayat hadits, dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya setiap kali Nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati sekumpulan Malaikat pada waktu mi’raj, pada malaikat itu selalu berpesan, “Hendaknya engkau membiasakan diri melakukan al-hijaamah.”
Beliau juga mengatakan, “Jibril memberitahu padaku bahwa hijaamah merupakan pengobatan paling bermanfaat bagi manusia”.
Hijamah sendiri merupakan bahasa Arab dari bekam, yang artinya penyedotan. Sementara istilah bekam justru berasal dari bahasa Melayu.
Metode bekam yaitu dengan memberikan minyak di bagian punggung atau titik-titik yang akan dibekam. Lalu dilakukan sayatan kemudian disedot darah kotornya.
Beberapa orang yang rutin melakukan bekam menyebutkan bahwasanya dampak yang terjadi setelah bekam, antara lain:
Badan terasa lebih enteng, tidak lagi terasa pegal
Kepala yang tadinya pusing jadi lebih ringan
Penglihatan jadi lebih terang
Disampaikan oleh Bapak Roni dampak-dampak positif tersebut dikarenakan bekam berguna untuk mengambil sampah-sampah yang ada di dalam tubuh kita. Sampah di sini maksudnya toksin yang masuk ke dalam tubuh melalui junk food, polusi, rokok, minuman yang mengandung soda, makanan berpengawet, dan zat-zat non organik lainnya.
Setiap hari darah akan mengalirkan zat-zat ke seluruh tubuh. Termasuk juga toksin yang masuk ke dalam tubuh. Toksin ini pada akhirnya justru menumpuk di dalam darah menyebabkan gumpalan-gumpalan.
Gumpalan-gumpalan darah tersebut kemudian menyumbat aliran darah dan membuat kerja jantung menjadi berat. Akibatnya, bisa mengakibatkan terjadinya stroke.
Nah, kalau Ayah Bunda rutin melakukan bekam, sampah-sampah tadi akan dikeluarkan sebelum menumpuk menjadi gumpalan. Tentu saja efeknya, badan jadi lebih segar dan sehat. Kinerja organ vital tubuh kita bisa menjadi lebih optimal.
Bapak Roni menyebutkan bahwasanya bekam tidak memiliki efek samping. Namun apabila ada orang yang dibekam setelahnya kok justru menjadi pusing dan ada keluhan, bisa jadi karena orang tersebut melanggar syarat berbekam.
Syarat Melakukan Bekam
Dalam kesempatan Bincang Ramadhan #2 dengan topik “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal,’ Bapak Roni menyampaikan kalau ada syarat-syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh terapis bekam atau jurkam (Juru Bekam), dan juga mereka yang akan dibekam.
Apabila syarat-syarat ini tidak dipenuhi, bisa jadi justru mengalami keluhan dan tidak mendapat manfaat bekam. Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Jurkam (Juru Bekam):
Berwudhu dan berdoa sebelum memulai proses bekam agar terhindar dari godaan setan.
Memastikan kebersihan alat bekam dan tempat yang akan digunakan.
Menggunakan sarung tangan.
Dilakukan sesuai syariat, yaitu terapis perempuan hanya menangani pasien perempuan dan terapis laki-laki hanya menangani pasien lelaki.
Bapak Roni pada sesi ini juga menyebutkan bahwa masih terbuka lebar kesempatan bagi para jurkam perempuan. Saat ini masih dibutuhkan banyak jurkam perempuan.
Bahkan Bapak Roni siap lo diundang oleh FORSI SD Islam Bintang Juara apabila ingin melakukan pelatihan bekam. Apakah Ayah Bunda berminat untuk belajar bekam?
Selain syarat-syarat yang harus dipenuhi terapis, ada juga lo syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh pasien, antara lain:
Sama halnya dengan terapis, sebaiknya pasien sebelum dibekam juga berwudhu dan melakukan sholat sunnah terlebih dahulu agar bekam lebih bisa dirasakan manfaatnya.
Bagi perempuan, hindari bekam saat sedang datang bulan. Secara sunnatullah, haid adalah proses detoksifikasi natural. Maka tidak perlu dilakukan detoksifikasi dengan bekam ketika haid sedang terjadi.
Selain saat sedang datang bulan, perempuan hamil juga disarankan untuk tidak bekam karena bisa mempengaruhi kondisi janin. Kalaupun badan terasa pegal-pegal dan ingin dibekam, hindari area perut.
Pastikan kondisi perut tidak terlalu kenyang dan tidak pula terlalu lapar.
Orang kesurupan dan mengalami gangguan jiwa dilarang melakukan bekam.
Nah, setelah mengetahui syarat-syarat ini, semoga Ayah Bunda yang belum pernah merasakan bekam, kini tidak lagi takut untuk mencobanya ya. Insya Allah tidak sakit. Kalau kata Pak Roni, “Hanya seperti digigit semut.”
Sedangkan waktu yang paling tepat untuk melakukan bekam, menurut Pak Roni, “Kalau dalam hadits disebutkan minimal setahun dua kali. Namun saat itu kondisi di zaman Rasulullah SAW belum banyak polusi dan bahan-bahan kimia. Beda dengan zaman sekarang yang paparan kimiawi semakin banyak, maka sarannya adalah sebulan dua kali.”
Bekam pada dasarnya adalah pencegahan. Jadi lebih baik dilakukan sebelum terjadinya penyakit. Sementara jika sudah ada keluhan-keluhan yang serius, bekam bisa dilakukan setiap satu kali dalam seminggu. Boleh juga lebih cepat dari itu, asalkan bekas titik-titik di tubuh karena proses bekam sebelumnya sudah hilang.
Materi di atas hanyalah sebagian kecil dari yang disampaikan oleh Pak Roni. Masih banyak sekali bahasan menarik pada Bincang Ramadhan #2 pada hari Sabtu, 1 April 2023 lalu, seperti batasan usia yang diperbolehkan bekam, perbedaan bekam kering dan bekam basah, sertifikasi untuk terapis bekam dan lainnya.
Bagi Ayah Bunda yang belum sempat menyimak, silakan bisa menonton videonya secara utuh:
Ayah Bunda, dalam sesi penutup Bincang Ramadhan #2, Ayah Kak Aquieen menyampaikan bahwa survei yang dilakukan oleh PBB menyatakan kalau hanya 15% penduduk dunia yang benar-benar sehat, 15% penduduk dunia menderita penyakit. Sementara 70% sisanya adalah orang-orang yang merasa sehat tetapi sebenarnya sakit, cuma belum diketahui.
Kondisi yang 70% tersebut seperti bom waktu. Apabila tidak segera memperbaiki gaya hidup, akan merugikan kesehatan tubuhnya.
Oleh karenanya Pak Roni mengingatkan akan pentingnya untuk meneladani cara hidup Rasulullah SAW. Sepanjang 63 tahun, Rasulullah SAW hanya pernah sakit selama dua kali.
Belajar Thibbunnabawi tidak bisa lepas dari belajar tentang Rasulullah SAW. Bukan hanya tentang bagaimana Beliau beribadah, tetapi juga bagaimana Rasulullah SAW menjaga pola tidur dan makan-minumnya.
Allah SWT adalah Pencipta manusia dan alam semesta ini. Diturunkannya Al Quran adalah sebagai manual book alias buku petunjuk bagaimana manusia seharusnya berkehidupan di alam ini, termasuk juga dalam memilih makanan dan minuman. Insya Allah apabila pola hidup Ayah Bunda sudah sesuai dengan Al Quran, tubuh akan senantiasa aman, terjaga, sehat dan selamat.
Demikian catatan istimewa Bintang Juara tentang “Bekam ala Rasulullah dan Pengobatan Herbal.” Semoga bermanfaat, dan sampai jumpa pada Bincang Ramadhan berikutnya.***
“Tabu bukan berarti tidak Dibicarakan. (Abah Ihsan Baihaqi)
Alhamdulillahirrobil’alamin, Webinar Islamic Parenting bersama Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari yang bertajuk Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja telah tuntas terlaksana. Eksklusif hanya untuk orang tua murid Sekolah Islam Bintang Juara dan peserta umum yang telah mendaftar.
Hari Ahad, 26 Maret 2023, Abah Ihsan menyampaikan banyak sekali materi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi Ayah Bunda yang pernah mengikuti parenting workshop Karunia Cinta Remaja pada 6 November tahun lalu, webinar kali ini menjadi sarana murojaah yang semakin menguatkan azzam untuk mendampingi kakak shalih-shalihah memasuki masa-masa remajanya.
Acara dibuka secara resmi pada pukul 08.25. Ibu Marita Ningtyas selaku MC membacakan susunan acara, tata tertib webinar dan membuka forum belajar tersebut dengan bacaan basmallah bersama-sama.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran Surat An Nur ayat 54 dan 59 oleh Kak Raffasya dari Kelas 5 dan saritilawah oleh Kak Frasca dari Kelas 5. Dua ayat yang dibacakan tersebut menjadi prolog betapa pentingnya untuk mengajarkan kakak shalih-shalihah menjadi umat yang taat dan menjaga kesantunan dalam perilaku sehari-hari.
Acara berikutnya yaitu sambutan oleh Pembina Yayasan Dewi Sartika, Ibu Prof. Dr. Esmi Warassih, SH. MS. Dibuka dengan salam sapa yang hangat, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tantangan dan bahaya pergaulan bebas dari lingkungan.
Eyang Esmi menyampaikan bahwa sebagai orangtua wajib mempersiapkan diri untuk menangani anak saat memasuki masa pubertas. Kewajiban kita sebagai manusia itu mencari ilmu di manapun tempatnya.
Sebelum memasuki acara inti, MC membacakan CV moderator dan mempersilakannya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog webinar. Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi, M.Psi, Psikolog sebagai moderator, sekaligus Ketua Yayasan Dewi Sartika, menyampaikan bahwa segala macam permasalahan remaja yang ada saat ini adalah cara Allah SWT agar para orang tua mau belajar dan menemukan solusi untuk menghadapinya.
Disampaikan pula oleh sosok ibu empat orang anak yang akrab dipanggil Bunda Vivi ini, hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa mengangkat “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sebagai tema Webinar Islamic Seminar.
Padatnya Materi Abah Ihsan dalam “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja”
Puber berbeda dengan masa aqil baligh. Istilah puber lebih tepat mengacu pada kata baligh, tanpa aqil. Puber lebih ke perubahan fisik, berdasarkan kata asalnya yaitu ‘pubic’, yang berarti tumbuhnya bulu kemaluan.
Adapun tanda-tanda baligh yang utama pada anak laki-laki yaitu mengalami mimpi basah dan kemampuan untuk memproduksi sperma. Sedangkan pada anak perempuan, tanda-tanda baligh yang utama yaitu munculnya menstruasi.
Perubahan fisik pada bagian-bagian tubuh, seperti payudara dan tumbuhnya bulu kemaluan, suara yang makin ngebas pada anak laki-laki adalah tanda-tanda baligh yang sekunder. Sebenarnya, untuk mempersiapkan masa pubertas tidak perlu menunggu kakak shalih-shalihah memunculkan tanda-tanda tersebut, Ayah Bunda.
Bahkan sebaiknya Ayah Bunda mulai mempersiapkan kakak shalihah ketika usianya memasuki 7 tahun. Sementara untuk kakak shalih bisa mulai diajak ngobrol mengenai tanda-tanda pubertas pada usia ke 10.
3 Alasan Penting Mengapa Membekali Anak Tarbiah Pubertas
Mungkin sebagian besar Ayah Bunda merasa aneh atau bingung untuk memulai pembicaraan mengenai tanda-tanda pubertas. Nah, agar menguatkan Ayah Bunda dalam menyampaikan Tarbiah Pubertas kepada kakak shalih-shalihah, Abah Ihsan Baihaqi dalam pemaparannya menyebutkan tiga alasan penting mengapa anak harus dibekali ilmu sebelum memasuki masa pubertas:
1. Kenal Diri
Kakak shalih-shalihah harus diberikan bekal tentang siapa dirinya, apa gendernya, ada apa saja dalam tubuhnya. Bekal ini bertujuan supaya kakak shalih-shalihah mengenal dirinya dengan baik.
Mereka harus paham apa reaksinya, apa yang akan terjadi dan untuk apa mengenal tubuhnya. Anak perlu tahu apa yang sudah, tengah dan akan terjadi pada tubuhnya.
Oleh karenanya pastikan untuk tidak menjadikan candaan dalam proses awal pembentukan diri seorang anak. Contoh, memakaikan kerudung kepada anak lelaki hanya untuk lucu-lucuan.
Atau mengatakan pada anak bahwasanya dulu Ayah Bunda menginginkan anak perempuan, tetapi yang terlahir justru anak lelaki. Candaan dan kalimat-kalimat yang memberi kesan penyesalan bisa memberikan dampak buruk dalam tahap perkembangan seorang anak.
Ketika kakak shalih-shalihah mampu mengenal dirinya dengan baik, mereka jadi bisa tahu tujuan dirinya diciptakan oleh Allah SWT. Hal ini adalah bagian dari aqidah.
2. Jaga Diri
Setelah anak bisa mengenal dirinya dan kebutuhannya, ajarkan pula mereka tentang bagaimana menjaga diri. Terkait batasan aurat, batasan berteman dengan siapa saja, mahram mereka siapa saja, adab meminta izin, dan adab pergaulan yang harus senantiasa dijaga.
Kakak shalih-shalihah wajib dibimbing untuk mengenali lingkungan dan paham bagaimana menjaga dirinya, bukan hanya sekadar menjaga tubuhnya.
3. Siap Diri
Ada banyak perubahan yang terjadi saat memasuki masa pubertas. Oleh karenanya kakak shalih-shalihah harus dibekali agar siap menerima perubahan-perubahan yang terjadi.
Anak yang tidak disiapkan lebih dulu akan merasa kaget dengan perubahan fisiknya. Bahkan yang berubah bukan hanya fisik, tetapi juga hormon di dalam dirinya yang mempengaruhi perkembangan emosi dan mental.
Apabila anak telah dipersiapkan oleh orang tuanya, kakak shalih-shalihah tidak perlu mencari referensi dan informasi dari luar. Penting bagi orang tua untuk bisa menjadi sahabat yang nyaman bagi kakak shalih-shalihah untuk bercerita apa saja.
4 Prinsip Dasar Tarbiah Pubertas
Untuk membangun remaja yang siap diri, diperlukan beberapa prinsip dasar, yaitu:
1. Harus Tahu Meski Tabu
“Dibahas meski tidak ditanyakan.”
Ayah Bunda tentu sepakat bahwa masalah seksualitas adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun bukan berarti hal tersebut tidak perlu diobrolkan dan anak dibiarkan mencari tahu sendiri.
Karena ini adalah permasalahan yang sensitif, maka pastikan kakak shalih-shalihah hanya membicarakan hal ini dengan orang tertentu saja. Yang terpenting adalah orang tersebut memiliki kredibilitas yang bisa dipercaya, yaitu orang tua, guru, atau konselor.
Bahkan meski kakak shalih-shalihah tidak menanyakan hal ini, Ayah Bunda harus tetap membahasnya. Karena sangat membahayakan apabila anak mengetahui hal-hal sensitif ini dari referensi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
2. Jangan Dibiarkan, Tapi Disiapkan
Pastikan Ayah Bunda tidak membiarkan anak mencari jati dirinya sendiri, tapi harus bisa membantu menemukan jati dirinya. Caranya yaitu dengan membangun diskusi, bukan sekadar memberikan informasi secara searah.
Ajak anak untuk berpikir secara aktif, lalu beri kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Kemudian, akhiri dengan pemberian pijakan untuk penguatan adab dan akhlaq.
3. Bukan Penasaran tapi Tentang Pemahaman
Tarbiah pubertas seharusnya disampaikan bukan sekedar mengenalkan (taaruf), tapi juga tafahum (pemahaman). Kakak shalih-shalihah perlu tahu hal-hal dasar mengenai fungsi kemaluannya, mengapa manusia memiliki gairah, pengertian cinta, perbedaan cinta dengan nafsu, dan hal-hal penting lainnya.
4. Sehat Reproduksi, Sehat Mental
“Iman di hati sebelum reproduksi. Mengelola malu sebelum menyalurkan nafsu.”
Kesenangan hanya akan terjaga nilainya jika terbatas. Di sinilah pentingnya kakak-kakak shalihah mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan kesenangan. Kesenangan itu harus dibatasi, sementara kebutuhan harus dipenuhi.
Oleh karenanya anak perlu tahu bahwa cinta akan menjadi sehat apabila ditumbuhkan setelah pernikahan. Apabila cinta diumbar sebelum pernikahan, tidak akan ada nikmatnya. Hanya akan ada kesedihan dan penyesalan karena telah melanggar aturan yang ditetapkan Allah SWT.
Ayah Bunda, semua catatan ini barulah bagian pembuka dari Webinar Islamic Seminar bersama Abah Ihsan. Sudah demikian bermanfaat bukan?
Sementara terkait apa saja tahapan dalam edukasi masa baligh, ada enam cara yang disampaikan oleh Abah Ihsan pada pemaparan materi “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja.” Untuk mengetahui informasi selengkapnya, silakan membaca artikel “6 Cara Edukasi Masa Baligh agar Anak Mampu Mengekspresikan Cinta dengan Tepat.”
Webinar Islamic Parenting adalah kegiatan yang rutin diadakan oleh Sekolah Islam Bintang Juara. Terutama SD Islam Bintang Juara sebagai satu-satunya Sekolah Penggerak Angkatan 2 di Kecamatan Gunung Pati yang telah menerapkan filosofi kurikulum merdeka jauh sebelum kurikulum ini ditetapkan oleh pemerintah.
Program parenting merupakan salah satu penerapan dari kurikulum merdeka, yaitu sebagai bentuk keterlibatan orang tua secara aktif dalam kegiatan yang ada di sekolah. Oleh karenanya, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayah Bunda yang telah mendukung sehingga acara ini bisa berjalan dengan lancar.
Tak lupa kami juga berterima kasih kepada segenap pihak sponsor dan donatur yang telah dengan ikhlas memberikan support, baik secara materiil maupun immateriil. Semoga Allah SWT mudahkan dan lancarkan segala urusannya.
Ayah Bunda, semoga Allah SWT mudahkan untuk mengambil hikmah dari webinar “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sehingga bisa mempraktikkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Nantikan acara-acara parenting dari SD dan PAUD Islam Bintang Juara selanjutnya.***
Alhamdulillahirrobil’alamin telah terlaksana podcast perdana Bincang Ramadhan pada hari Sabtu, 25 Maret 2023. Podcast Bincang Ramadhan yang diinisiasi oleh FORSI (Forum Silaturahmi) Orang Tua Murid SD Islam Bintang Juara pada episode pertama ini mengangkat tema “Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di Bulan Ramadhan.
Disiarkan secara langsung di YouTube Channel SD Islam Bintang Juara, satu-satunya Sekolah Penggerak Angkatan II di Kecamatan Gunung Pati, pada pukul 16.00 – 17.00. Sebuah sajian menarik sebagai teman berbuka Ayah Bunda.
Podcast Bincang Ramadhan episode satu ini mendapuk drg. Emilliana Tri Sugihari, Bunda dari Kak Kindi Kelas 1A dan Kak Rara Kelas 4A sebagai narasumber. Sementara sebagai host, ada Sukma Mawadati, S.Pd, Bunda Kak Ibrahim Kelas 1A.
Ada banyak sekali tips menjaga kesehatan gigi dan mulut di bulan Ramadhan yang disampaikan oleh drg. Emi, Ayah Bunda penasaran apa sajakah itu?
Tips Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di Bulan Ramadhan
Bau mulut memang sangat mengganggu, terutama saat sedang berpuasa. Namun bukan berarti tidak bisa dicegah lo, Ayah Bunda. Berikut ini empat tips yang disampaikan oleh drg. Emi terkait mengatasi bau mulut ketika puasa:
1. Menjaga Kebutuhan Air Minum dan Hindari Makanan Manis
Dijelaskan oleh drg. Emi, salah satu hal yang menyebabkan mulut bau di bulan Ramadhan adalah tidak adanya perputaran air ludah. Sementara saat puasa, kita tidak makan dan minum.
Padahal air ludah dan minuman memiliki fungsi sebagai cleansing, tetapi karena seharian tidak makan dan minum, akhirnya fungsi cleansing tersebut tidak berjalan optimal. Selain berkurangnya produksi air ludah, adanya karang gigi dan gigi berlubang juga berpengaruh sekali pada bau mulut.
Nah, untuk mencegah bau mulut ketika berpuasa, sebaiknya Ayah Bunda mengurangi makanan yang aromanya menyengat, makanan manis dan lengket. Pastikan juga untuk menjaga asupan air putih selama bulan Ramadhan.
2. Tuntaskan Permasalahan Gigi Sebelum Memulai Bulan Ramadhan
Tips dari drg. Emi selanjutnya terkait menjaga kesehatan gigi dan bau mulut di bulan ramadhan adalah mengatasi permasalahan-permasalahan gigi dan mulut sebelum memasuki bulan puasa. Jadi kalau Ayah Bunda ada yang giginya berlubang dan punya karang gigi, sebaiknya bisa mengunjungi dokter gigi sebelum memulai bulan ramadhan.
Namun apabila belum sempat mengunjungi dokter gigi, drg. Emi menyampaikan tidak masalah kok mengatasi permasalahan gigi dan mulut pada saat puasa. Insya Allah tidak akan menyebabkan batal, selama tindakan yang dilakukan masih dalam batas wajar.
3. Menjaga Konsumsi Buah dan Sayur
Bau mulut selama bulan ramadhan juga bisa diatasi dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Kandungan serat di dalam buah dan sayur bisa menyegarkan dan menyehatkan kondisi mulut, Ayah Bunda.
4. Perhatikan Cara Menyikat Gigi yang Benar
Apabila Ayah Bunda merasa tidak percaya diri dengan aroma yang dihasilkan oleh mulut, drg. Emi menyampaikan bahwasanya boleh menyikat gigi saat sedang puasa. Insya Allah tidak akan menyebabkan puasa menjadi batal.
Sesuai juga dengan sunnah Nabi Muhammad SAW kalau sebelum sholat sebaiknya menyikat gigi terlebih dahulu. Ayah Bunda, menyikat gigi pun tidak boleh sembarangan. Ada cara yang tepat lo.
Drg. Emi menyebut caranya sebagai gerakan Merah Putih. Maksudnya gerakan menyikat yang tepat adalah atas ke bawah, yaitu dari gusi (bagian merah) ke gigi (bagian putih).
Bagian gigi dibagi menjadi tiga; bagian depan, bagian samping kiri dan samping kanan. Setiap bagian digosok selama delapan kali. Pastikan untuk menyikat juga bagian belakang gigi, karena pada bagian ini rawan terjadi karang.
Sementara untuk gigi bagian kunyah, boleh banget disikat dengan gerakan maju mundur. Nah, silakan dipraktekkan di rumah ya, Ayah Bunda. Karena menyikat gigi rajin saja tidak cukup, untuk menjaga kesehatan gigi diperlukan juga cara menyikat yang benar dan tepat.
4 tips singkat di atas hanyalah sebagian isi dari podcast tersebut, Ayah Bunda. Drg. Emi juga membahas hal-hal seperti jumlah pasta gigi yang tepat, apakah susu formula berpengaruh dengan kesehatan gigi, pengaruh genetik pada kondisi gigi anak, pembersihan karang gigi, usia terbaik mengajak anak ke dokter gigi, waktu yang tepat untuk mengganti sikat gigi, dan masih banyak lainnya.
Apabila Ayah Bunda ingin melihat keseluruhan tips menjaga kesehatan gigi dan mulut dari drg. Emilliana, silakan langsung tonton saja videonya ya:
Walau mengaku baru pertama kali bertatap muka secara offline, chemistry antara drg. Emilliana dan bunda Sukma sudah sangat terbangun, Ayah Bunda. Tak heran jika podcast perdana Bincang Ramadhan ini berjalan begitu lancar, menyenangkan dan sangat cair.
Alhamdulillah respon dari para penikmat podcast juga sangat baik. Terlihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk pada saat live streaming.
Insya Allah akan ada episode-episode selanjutnya yang tak kalah menarik dari Bincang Ramadhan perdana ini. Nantikan episode berikutnya hanya di channel YouTube official SD Islam Bintang Juara. Pastikan untuk subscribe terlebih dahulu dan nyalakan notifikasinya untuk mendapat info video terbaru dari kami.
Demikian catatan istimewa Bintang Juara tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut di bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada catatan berikutnya, Ayah Bunda. ***
Ekspresikan cinta Ayah Bunda sebelum anak bermasalah.
Itulah pengingat manis dari Abah Ihsan sebelum memaparkan apa saja ekspresi cinta untuk remaja. Kalimat tersebut disampaikan oleh Abah Ihsan pada 6 November 2022 di sebuah parenting class bertajuk Karunia Cinta Remaja yang digelar oleh SD Islam Bintang Juara.
Selama ini sebagai orang tua, Ayah Bunda bisa saja lalai dalam mengekspresikan rasa cinta. Atau menganggap bahwa hal-hal yang sudah dilakukan sehari-hari adalah bentuk cinta, dan menganggap bahwa seharusnya kakak shalih-shalihah bisa menerima cinta tersebut.
Nyatanya, tidak selamanya begitu. Apa yang Ayah Bunda lakukan bisa jadi belum sampai menyentuh hati kakak shalih-shalihah. Bahkan bisa jadi kakak shalih-shalihah menerjemahkan semua fasilitas yang diberikan, semua larangan dan nasihat yang diberikan bukan sebagai bentuk cinta Ayah dan Bunda.
Ada kalanya orang tua baru menyadari kekeliruan dalam cara pengasuhannya saat para remaja mulai menunjukkan perilaku negatif. Saat itulah, orang tua mulai mengubah cara mengekspresikan cintanya.
Namun, apakah Ayah Bunda harus menunggu anak bermasalah terlebih dahulu baru memberikan perhatian dan cinta yang bisa menyentuh hati kakak shalih-shalihah?
Sebuah riset yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022, membeberkan fakta bahwa dalam 12 bulan terakhir, satu dari tiga remaja Indonesia dengan kisaran usia 10-17 tahun bermasalah dengan kesehatan mental. Jumlah tersebut setara dengan 15,5 juta remaja yang ada di Indonesia.
Fakta lainnya, 1 dari 20 remaja pada usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental. Jumlah ini setara dengan 2,45 juta remaja Indonesia.
Miris bukan, Ayah Bunda?
Kunci Menaklukkan Remaja dengan REM – AJA
Selain karena pengaruh lingkungan, pola pengasuhan yang terlalu permisif ataupun terlalu otoriter menjadi penyebab utama dari kesehatan mental para remaja. Oleh karenanya Abah Ihsan menyampaikan bahwasanya cara efektif agar remaja menerima cinta orang tuanya adalah dengan pola REM – AJA.
Apakah Ayah Bunda sudah membaca artikel mengenai penyebab kenakalan remaja yang diterbitkan beberapa waktu lalu? Dalam artikel tersebut, Bintang Juara sudah membeberkan hal-hal apa saja yang bisa menjerumuskan kakak shalih-shalihah berperilaku negatif.
Anak-anak yang memasuki usia pra balig dan balig memasuki masa-masa turbulensi. Dari perubahan hormon hingga tanggung jawab yang berbeda, pastikan Ayah Bunda memberikan pijakan yang kuat dan pandai-pandai ‘menggunakan rem’ di saat yang tepat.
Terlalu banyak larangan tanpa pijakan yang kuat sama bahayanya dengan terlalu permisif tanpa ada arahan. Oleh karenanya orang tua sebaiknya bisa menjadi sahabat bagi para remaja.
Dari data survery yang dilakukan I-NAMHS, salah satu hal yang membuat para remaja mudah stres adalah karena sejak pandemi mereka terbatas dalam beraktivitas. Termasuk menjadi terbatas bertemu dengan para sahabat atau teman-teman dekatnya.
Kenapa bertemu sahabat jauh lebih mengasyikkan daripada berlama-lama dengan orang tua? Bisa jadi karena Ayah Bunda terlalu sering menjadi ‘kanebo kering.’
Apa itu ‘kanebo kering?’
Tidak banyak komunikasi yang produktif, tidak asyik diajak berbincang apa saja. Lebih banyak berbicara sendiri (baca: menasihati) dibandingkan mengajak anak-anaknya berbincang dari hati ke hati. Sementara dengan para sahabatnya, kakak shalih-shalihah bisa bercerita banyak hal.
Agar bisa menjadi sahabat bagi remaja, pastikan Ayah Bunda banyak bertanya dan banyak ngobrol apa saja. Sering-seringlah berbincang tentang hal receh, agar lebih mudah dan luwes ketika mengajak remaja berbicara yang lebih serius.
Insya Allah dengan memosisikan diri sebagai sahabat, cinta di hati anak akan bertumbuh, hingga di dalam hatinya berkata, “I love my parents.” Saat orang tua telah berhasil dekat dan lekat dengan anak, kakak shalih-shalihah tidak akan tega menyakiti hati Ayah Bundanya.
4 Ekspresi Cinta untuk Remaja, Sudahkah Mempraktikkannya di Rumah, Ayah Bunda?
Lalu bagaimana caranya agar Ayah Bunda bisa menjadi sahabat bagi kakak shalih-shalihah? Berikut ini adalah warisan pertama yang seharusnya diberikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.
Warisan pertama ini disebut dengan 4 ekspresi cinta. Apa sajakah itu?
Apabila Ayah Bunda pernah mengikuti Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA), empat ekspresi cinta ini sudah pernah disampaikan oleh Abah Ihsan lo. Hanya saja penerapannya untuk remaja sedikit berbeda.
1. Karunia Waktu
Setiap orang tua ingin anak memenuhi haknya, tetapi sudahkah orang tua memenuhi hak anak? Salah satu hak anak adalah menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
Ayah Bunda, pernahkah menyadari betapa cepatnya waktu bergulir? Berapa lamakah orang tua akan hidup bersama anak-anaknya?
Tidak lama, bukan? Hidup sebenarnya sangat singkat. Begitu pula kebersamaan Ayah Bunda dengan kakak shalih-shalihah. Oleh karenanya, buatlah sisa waktu yang dimiliki menjadi lebih bermakna.
Ada dua cara untuk membuat waktu lebih bermakna. Pertama, fokus pada kualitas. Bukan sekadar banyak kegiatan bersama, tapi kualitasnya rendah. Namun bisa jadi kuantitasnya terbatas, namun memiliki kualitas yang tinggi.
Cara pertama ini cocok dipraktikkan bagi Ayah Bunda yang menjalani pernikahan jarak jauh. Misal, Ayah bekerja di luar kota dan hanya bertemu sepekan, sebulan atau beberapa bulan sekali.
Dengan keterbatasan tersebut, pastikan saat memiliki waktu bersama, Ayah Bunda memusatkan perhatian hanya untuk kakak shalih-shalihah. Singkirkan dulu gadget dan segala macam pekerjaan yang bisa menjadi pengganggu.
Cara yang kedua yaitu sama-sama mementingkan poin kualitas dan kuantitas. Tentu saja cara ini jauh lebih baik. Cocok dipraktikkan bagi Ayah Bunda yang sehari-hari bisa lebih sering bertemu dengan kakak shalih-shalihah.
Bisa jadi Ayah Bunda sehari-hari selalu bertemu dan berdekatan dengan kakak shalih-shalihah. Namun apakah benar-benar bersama?
Karena dekat tidak selalu bersama, Ayah Bunda. Dekat itu ukurannya terletak pada fisik. Namun bersama ada keterlibatan di dalamnya. Ayah Bunda melakukan aktivitas yang sama dengan kakak shalih-shalihah, tidak sekadar mengawasi dan mendokumentasikannya.
Kehadiran Ayah Bunda adalah salah satu bukti cinta yang bisa diterima dan dirasakan oleh kakak shalih-shalihah. Dalam hal ini, Ayah Bunda bisa mengekpresikan cinta lewat dua bentuk:
1821 – Pada jam 18.00 – 21.00, singkirkan segala macam ‘benda kotak’ dan melingkar bersama keluarga. Lakukan 3B (Belajar, Bermain, Berbicara) dengan kakak shalih-shalihah. Tentunya untuk pilihan waktu bisa disesuaikan dengan budaya keluarga masing-masing. Hanya saran dari Abah Ihsan, setidaknya alokasikan waktu minimal tiga jam untuk beraktivitas bersama anak.
Private Time – Selain 1821, untuk anak remaja diperlukan waktu khusus untuk ngobrol berdua dengan Bundanya saja atau Ayahnya saja. Ajak kakak shalih-shalihah untuk pergi berdua saja, entah makan berdua atau nonton pertandingan bola. Lakukan secara bergantian apabila memiliki dua anak usia remaja. Misal akhir pekan pertama, Ayah private time dengan kakak, Bunda private time dengan adik. Lalu pekan berikutnya, bergantian Ayah dengan adik dan Bunda dengan kakak.
Pada saat anak berusia 0-7 tahun, Ayah Bunda bisa fokus menemani main. Sementara pada usia 7-12 tahun, sudah saatnya Ayah Bunda memeriksa bagaimana wudhu dan sholatnya.
Salah satu permasalahan besar yang dihadapi para remaja zaman now adalah tergerusnya keimanan. Tak sedikit yang mengaku sebagai agnostik dan atheis. Di sinilah peran orang tua sebagai sahabat diperlukan untuk mengantisipasi hal tersebut.
Ayah Bunda, baik saat 1821 ataupun Private Time, sering-seringlah mengajak kakak shalih-shalihah untuk berdialog iman, seperti, kenapa manusia beribadah kepada Allah? Arahkan kakak shalih-shalihah untuk menemukan fakta bahwasanya ibadah dilakukan bukan sekadar kewajiban, tetapi untuk menemukan ketenangan hati.
2. Karunia Sentuhan
Sentuhan adalah wujud dari ribuan kata ‘sayang’. Sentuhan adalah cara mengomunikasikan cinta yang paling universal.
Semua orang pada usia berapapun membutuhkan sentuhan. Namun tanpa disadari Ayah Bunda lebih sering menyentuh anak-anak usia dini dibandingkan anak remajanya, bukan?
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh oasisadvancedwellness.com menyebutkan bahwa sentuhan memiliki manfaat sebagai berikut:
Mengurangi kecemasan dan ketegangan
Membantu mengatasi migrain
Menyehatkan pencernaan
Bukankah hal ini sesuai dengan fakta dari I-NAMHS di atas? Bahwa pada 12 bulan terakhir banyak remaja mengalami masalah kesehatan dan gangguan mental. Salah satunya yaitu memiliki masalah dengan kecemasan.
Artinya, apabila banyak orang tua memberikan sentuhan yang tepat kepada para remaja, bisa jadi permasalahan terkait kesehatan dan gangguan mental tidak pernah terjadi.
Saat kakak shalih-shalihah masih berusia di bawah 10 tahun, orang tua bisa bebas menyentuh. Namun Abah Ihsan menyarankan dua waktu terbaik untuk memberikan sentuhan pada anak, yaitu saat anak hendak pergi tidur dan saat anak berangkat sekolah.
Sementara untuk kakak shalih-shalihah yang sudah memasuki usia remaja, berikut ini waktu-waktu terbaik untuk memberikan sentuhan:
Saat hendak berpisah (orang tua atau anak hendak melakukan safar/ bepergian yang agak lama).
Saat baru berjumpa setelah terpisah cukup lama.
Saat Ayah Bunda merasa bersyukur atas kehadiran kakak shalih-shalihah.
Saat kakak shalih-shalihah merasa kelelahan.
Saat kakak shalih-shalihah merasa bersedih.
Saat kakak shalih-shalihah merasa kecewa pada dirinya atau mengalami kegagalan.
Saat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah saling bermaaf-maafan.
Saat kakak shalih-shalihah mendekat (memberikan kode untuk dipeluk).
Saat kakak shalih-shalihah memintanya.
Pastikan pula Ayah Bunda tidak menyentuh kakak shalih-shalihah saat:
Mereka sedang marah.
Mereka berbicara sambil menjauh.
Mereka membanting pintu.
Mereka sedang di depan teman-temannya.
Hargai dan berikan privasi kepada anak untuk mengelola emosinya. Setelah kakak shalih-shalihah sudah tenang, barulah Ayah Bunda bisa mendekat dan bertanya tentang perasaan mereka.
Selain mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memberikan sentuhan, Ayah Bunda juga perlu memperhatikan cara menyentuh, khususnya antara orang tua yang berbeda gender dengan anaknya. Cara menyentuh sejatinya fleksibel, bisa berupa rangkulan, kecupan ataupun usapan.
Namun apabila Ayah ingin menyentuh kakak shalihah atau sebaliknya Bunda ingin menyentuh kakak shalih, pastikan dada tidak saling menempel. Hindari pula memegang area dada, pinggul dan pantat.
3. Karunia Hadiah
Hadiah adalah bentuk emosional untuk menunjukkan kasih sayang orang tua kepada anak. Sekaligus ekspresi “I Love You” dari orang tua ke anak.
Dalam bahasa Inggris, hadiah bisa diartikan baik sebagai gift ataupun reward. Namun Ayah Bunda harus bisa membedakan makna ‘gift’ dan ‘reward.’
Reward diberikan sebagai hadiah ketika anak mencapai sesuatu. Misal, kakak shalih-shalihah baru saja menyelesaikan hafalan juz 30, hadiah yang diberikan berarti sebagai reward atas prestasinya.
Sementara gift adalah bentuk hadiah yang diberikan tanpa ada syarat apapun. Ayah Bunda memberikannya tanpa tendensi, spontan untuk menunjukkan kasih sayang kepada kakak shalih-shalihah.
Gift adalah bentuk hadiah yang diberikan kepada anak tanpa waktu khusus, bukan karena balasan prestasi, tidak ada momen tertentu, sesuatu yang disenangi anak tapi tidak diminta olehnya, bukan sebagai barter atas perilaku baik mereka.
Bahkan bisa jadi gift adalah sesuatu yang tidak pantas diterima oleh anak. Misal diberikan pada saat anak baru saja melakukan kesalahan.
Pastikan sebelum memberi hadiah, Ayah Bunda mempertimbangkan hal-hal berikut:
Apakah hadiah tersebut bermanfaat untuk kakak shalih-shalihah?
Pastikan hadiah tersebut berkedok kepalsuan, misal untuk menyogok agar kakak shalih-shalihah berhenti ngambek.
Pastikan hadiah tidak diberikan ala kadarnya, bungkuslah dengan rapi dan istimewa.
Khusus untuk hadiah berupa uang, berikan pijakan yang lebih spesifik kepada kakak shalih-shalihah untuk menggunakannya dengan tepat dan bijak.
Hadiah yang diberikan spontan, dadakan dan tidak diduga oleh anak akan lebih meninggalkan kesan di hati kakak shalih-shalihah. Pesan cinta Ayah Bunda akan lebih diterima dibandingkan dengan pemberian reward.
Jadi Ayah Bunda sudah punya ide untuk memberikan hadiah apa nih untuk kakak shalih-shalihah?
4. Karunia Mendengar
Berbeda dengan balita dan anak, remaja membutuhkan orang tua yang sedikit bicara dan banyak mendengar.
Pada saat anak masih balita, orang tua harus lebih banyak bicara dan sedikit mendengar, karena di masa-masa ini anak membutuhkan banyak stimulasi dan belajar kosa kata. Sedangkan di masa anak-anak (5-10 tahun), orang tua harus lebih banyak bicara sekaligus banyak mendengar.
Sementara dalam menghadapi remaja, orang tua harus lebih banyak mendengar. Ingat Ayah Bunda, masa remaja adalah masa turbulensi. Masa di mana emosinya lebih sering bergejolak dan sering marah.
Sebagian besar penyebab kemarahan dalam diri anak remaja yang berhubungan dengan orang tua karena remaja berpikir Ayah Bundanya melakukan kesalahan, dan merasa diperlakukan tidak adil.
Saat remaja sedang marah, atasi dengan tiga hal ini;
A – Akui marahnya: Terima rasa marahnya, tetapi tetap berikan pijakan bahwa sesuatu yang berlebihan tidak baik. Luapkan kemarahan dengan batasan; tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain, tidak boleh melanggar norma, dan tidak boleh mengganggu.
B – Berikan klarifikasi: Setelah anak berhasil menenangkan diri, berikan kesempatan baginya untuk menceritakan penyebab dari rasa marahnya tersebut.
G – Gali Solusi: Ketika anak sudah puas menceritakan penyebab kemarahannya, ajak anak untuk menemukan solusi untuk permasalahannya.
Beberapa remaja menunjukkan kemarahan kepada orang tuanya dengan teknik bisu. Tujuan dari perilaku tersebut untuk mengontrol orang tuanya.
Saat Ayah Bunda menemui kasus seperti ini, ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, berikan space kepada anak terlebih dahulu. Apabila anak terus menghindar untuk berbincang dari hati ke hati, saatnya untuk melakukan hal kedua.
Hal kedua yang harus dilakukan adalah membalikkan keadaan. Saatnya orang tua mendiamkan anak selama beberapa waktu. Hal ini untuk menunjukkan bahwasanya sosok yang memiliki power di rumah adalah orang tua.
Biasanya anak akan merasa tidak tenang saat orang tuanya menggunakan teknik diam. Hal tersebut karena anak masih merasa butuh uang saku dan butuh diajak bicara oleh orang tuanya.
Namun hal tersebut hanya bisa dilakukan saat orang tua sudah bersikap sebagai sahabat. Nah, saat ini apakah Ayah Bunda sudah menjadi sahabat untuk kakak shalih-shalihah?
Agar bisa menjadi sahabat, Ayah Bunda harus memberikan kesempatan remaja untuk lebih banyak bicara. Apabila orang tua sudah terlanjur seperti ‘kanebo kering,’ tentunya butuh waktu bagi anak untuk memulai dialog dengan Ayah Bunda.
Oleh karenanya, Ayah Bunda harus memulainya terlebih dahulu. Mulailah dengan;
Bebas bercerita hal-hal apapun. Misal, tentang buku yang sedang dibacanya, klub bola favoritnya, dan lain-lain. Apabila anak sudah biasa berani bercerita hal-hal sepele kepada orang tuanya, ia juga akan berani bercerita tentang hal-hal yang lebih serius.
Ajak anak berbincang tentang masalah sebelum bermasalah. Saat ini ada banyak permasalahan yang muncul dalam pergaulan remaja, buka topik tentang permasalahan tersebut lalu ajak mereka untuk memberikan pendapat, pandangan dan solusinya tentang masalah-masalah itu. Dengan sering melakukan perbincangan semacam ini, para remaja akan berpikir ulang untuk bermasalah karena sudah diberikan pijakan sebelumnya.
Banyak bertanya tapi bukan menginterogasi. Buka diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik agar berkembang menjadi diskusi yang hangat antara orang tua dan anak. Bisa jadi orang tua telah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan, tetapi tidak masalah, karena tujuannya untuk memancing obrolan bukan untuk mendapat jawaban.
Tanyakan pendapat anak sebelum menasihati. Saat Ayah Bunda ingin menasehati kakak shalih-shalihah atas sebuah perilaku yang kurang tepat, tanyakan dulu pendapat mereka tentang perilaku tersebut. Misal, “Kak, kalau ada temannya kakak ke rumah, lalu Bunda berwajah masam, menurut kakak bagaimana?”
Membangun hubungan dengan remaja memang membutuhkan banyak ilmu. Oleh karenanya apa yang disampaikan melalui artikel ini tentu saja masih belum cukup.
Yuk, Ayah Bunda, saatnya menambah ilmu untuk mendampingi remaja dengan menghadiri Webinar Islamic Parenting “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” bersama Abah Ihsan Baihaqi pada hari Ahad, 26 Maret 2023. Untuk pendaftaran, silakan klik link berikut: Mau Dong Mendaftar Webinar Abah Ihsan.
Semoga artikel tentang ekspresi cinta untuk remaja ini bermanfaat. Sampai jumpa pada catatan Bintang Juara berikutnya. Mohon bagikan juga informasi ini kepada kerabat dan sahabat ya, Ayah Bunda. Terima kasih.***
Referensi:
Materi Karunia Cinta Remaja oleh Abah Ihsan, disampaikan pada Hotel Grand Candi Indah Semarang, 6 November 2022
Ayah Bunda, berapakah jumlah sampah cangkang telur yang dihasilkan keluarga dalam waktu satu pekan? Pastikan jangan buru-buru dibuang, yuk belajar cara membuat pupuk kompos dari cangkang telur bersama kakak shalih-shalihah.
Telur adalah salah satu sumber protein, lengkap dengan asam amino esensial di dalamnya. Dalam satu butir telur tersimpan 6 gram protein. Angka tersebut bisa mencukupi asupan harian sekitar 11-14% pada orang dewasa dan anak-anak. Apabila telurnya berukuran besar, 43% proteinnya bisa ditemukan pada kuning telur.
Dengan kandungan gizi dan harganya yang cukup terjangkau dibanding sumber protein hewani lainnya, telur menjadi salah satu stok bahan makanan yang selalu ada di dalam kulkas. Telur juga bisa diolah menjadi beragam jenis makanan yang disukai oleh kakak shalih-shalihah.
Maka tak heran apabila di rumah Ayah Bunda banyak menghasilkan sampah cangkang telur kan? Alih-alih dibuang, ini cara mengolah cangkang telur menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Cara Membuat Pupuk Kompos dari Cangkang Telur
Ada banyak cara mendaur ulang cangkang telur. Beberapa orang mengubahnya menjadi hasil karya yang menakjubkan bahkan bernilai ekonomi tinggi.
Namun kali ini Bintang Juara akan mengajak Ayah Bunda untuk mengolah cangkang telur menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Caranya cukup mudah dan prosesnya cepat lo, Ayah Bunda.
1. Siapkan Bahan-bahan yang Dibutuhkan
Agar proses pembuatan pupuk kompos dari cangkang telur berjalan dengan rapi, hal terpenting adalah menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu. Berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan:
Cangkang telur. Minimal 5 cangkang telur untuk satu tanaman. Tentu saja semakin banyak cangkang yang diproses, semakin banyak hasil yang didapatkan.
Alat untuk menumbuk. Ayah Bunda bisa menyediakan alat tumbuk manual, seperti muntu kayu atau muntu yang terbuat dari batu. Apabila menginginkan proses yang lebih cepat, Ayah Bunda bisa menggunakan blender atau chopper. Botol kaca juga bisa digunakan sebagai alat tumbuk atau penggilas lo, Ayah Bunda.
Plastik atau kantong kresek sebagai alas saat menumbuk.
Wadah sebagai tempat hasil tumbukan. Bebas ya Ayah Bunda. Apakah mau disimpan di dalam baskom, ember ataupun botol plastik bekas. Pastikan wadah yang digunakan dalam keadaan bersih, kering dan sesuai dengan jumlah pupuk yang dihasilkan.
2. Cuci Bersih Cangkang Telur dan Keringkan
Sebelum ditumbuk, pastikan cangkang telur sudah dalam kondisi bersih ya, Ayah Bunda. Cara membersihkannya yaitu sebagai berikut:
Cek kondisi cangkang telur. Hanya gunakan cangkang telur yang kondisinya bagus dan tidak bernoda, entah noda minyak atau lainnya.
Siapkan baskom atau ember yang sudah diisi air bersih. Lalu masukkan cangkang telur ke dalamnya. Jumlah air bisa disesuaikan dengan jumlah cangkang telur yang akan direndam ya, Ayah Bunda.
Biarkan cangkang telur terendam semalaman.
Paginya, bersihkan kotoran yang masih menempel pada cangkang telur menggunakan sikat. Lalu bilas dengan air yang bersih.
Keringkan cangkang telur dengan menjemurnya di bawah sinar matahari selama satu hari. Apabila musim hujan tiba, setidaknya butuh dua hari untuk benar-benar membuat cangkang telur menjadi kering.
Setelah cangkang telur benar-benar kering, saatnya proses penumbukan bisa dilakukan.
3. Saatnya Menumbuk
Proses penumbukan bisa dilakukan dalam tiga cara, yaitu:
Masukkan ke dalam wadah yang kuat, atau letakkan cangkang telur di atas alas plastik. Lalu tumbuk secara manual menggunakan muntu hingga halus seperti tepung.
Apabila Ayah Bunda tidak memiliki wadah dan penumbuk yang memadai, masukkan cangkang telur ke dalam plastik kresek. Lalu gilas atau pukul-pukul dengan botol kaca hingga cangkang telur menjadi halus.
Cara paling cepat yaitu gunakan penumbuk elektrik, seperti blender atau chopper. Haluskan cangkang telur hingga berupa serbuk.
Dalam proses penumbukan tidak perlu ditambahi air karena hanya akan membuat cangkang telur menjadi lengket. Setelah cangkang telur menjadi halus seperti serbuk atau tepung, simpan di dalam botol plastik bekas yang sudah bersih dan kering.
Tidak perlu terlalu penuh mengisinya ya, Ayah Bunda. Pastikan masih ada sedikit ruang di bagian atas. Setelahnya, tutup rapat botolnya dan tambahkan plastik agar tidak ada udara yang keluar.
4. Pupuk Kompos dari Cangkang Telur Siap Digunakan
Setelah cangkang telur ditumbuk hingga halus, artinya sudah siap digunakan sebagai pupuk kompos, Ayah Bunda. Bagaimana cara menggunakannya?
Pertama, cara paling gampang yaitu cukup taburkan cangkang telur yang sudah berbentuk tepung ke atas media tanam. Atau bisa juga dengan mencampurkannya dengan tanah saat Ayah Bunda akan menanam tanaman.
Kedua, dengan mengubahnya menjadi pupuk organik cair. Siapkan air yang telah dididihkan, lalu masukkan tepung cangkang telur ke dalamnya. Aduk hingga larut merata, kurang lebih 3-5 menit.
Setelah campuran air dan serbuk cangkang telur dalam kondisi dingin, simpan di dalam botol. Letakkan dalam area yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Untuk menggunakannya, tinggal campur cairan tersebut pada media tanam atau tanah tempat Ayah Bunda akan menanam.
Mudah bukan Ayah Bunda cara membuat pupuk kompos dari cangkang telur? Sudah siap mempraktikkannya dengan kakak shalih-shalihah di rumah?
Manfaat Pupuk Kompos dari Cangkang Telur
Mengapa pembuatan pupuk kompos dari cangkang telur sekarang semakin marak digalakkan? Tidak lain karena manfaatnya yang luar biasa, Ayah Bunda.
Cangkang telur memiliki banyak kandungan gizi, seperti kalium, selenium, strontium, kalsium karbonat, fosfor, fluorida, protein natrium dan magnesium. Nutrisi yang ada di dalam cangkang telur tesebut memiliki banyak manfaat untuk tanaman, antara lain:
1. Mencegah Tanaman Cepat Busuk
Kandungan kalsium di dalam cangkang telur mudah diserap tanaman. Kandungan inilah yang membuat tanaman tidak mudah busuk.
2. Menangkal Hama
Ada banyak hama yang enggan mendekat pada tanaman yang di sekitarnya ditaburi cangkang telur. Alhasil, tanaman jadi lebih aman dari hama dan kerusakan. Beberapa hama yang akan menjauh dari tanaman yang diberi pupuk cangkang telur yaitu cacing dan siput.
3. Menyuburkan Tanah
Nutrisi cangkang telur yang tinggi kalsium bisa mengatasi tanah yang memiliki tingkat keasaman tinggi. Taburkan bubuk pupuk kompos dari cangkang telur ke atas tanah yang bersifat asam tersebut, nantinya perlahan kadar keasaman akan menurun dan tanah menjadi lebih subur. Apabila sudah subur, tanah sudah siap ditanami.
Selain tiga manfaat utama di atas, cangkang telur yang belum dihaluskan menjadi pupuk kompos juga punya fungsi produktif lainnya, Ayah Bunda.
Pertama, cangkang telur bisa dimanfaatkan menjadi wadah benih. Misalnya nih, Ayah Bunda punya benih tanaman, tetapi belum punya waktu yang cukup untuk melakukan proses penanaman.
Siapkan saja cangkang telur yang sudah dibersihkan. Lalu isi dengan tanah sebagian saja. Masukkan benih tanaman ke dalam cangkang yang telah diisi tanah. Siram dengan sedikit air agar benih tidak layu.
Letakkan cangkang telur berisi benih tersebut di lokasi yang aman. Ketika Ayah Bunda telah siap menanam benih tersebut, pindahkan benih dari cangkang telur ke lokasi penanaman yang dituju.
Kedua, cangkang telur yang belum dihaluskan juga bisa digunakan sebagai penutup kerusakan pada pot. Caranya pecah cangkang telur menjadi kepingan-kepingan besar, lalu gunakan pecahan tersebut untuk menutup lubang atau kerusakan pada pot.
Secara tidak langsung, kehadiran cangkang sebagai penutup kerusakan atau lubang pada pot juga bisa memberikan nutrisi pada tanah di dalam potnya, Ayah Bunda. Tentu saja hal tersebut berdampak baik untuk meningkatkan kesehatan tanaman.
Calon Pemimpin Muslim Membuat Pupuk Kompos dari Cangkang Telur
Setelah mengetahui manfaat dari pupuk kompos cangkang telur, kami berharap Ayah Bunda menjadi semakin tergerak untuk memproduksinya sendiri di rumah. Apabila Ayah Bunda masih merasa bingung, boleh lo bertanya pada kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara yang telah mempraktikkan cara membuat pupuk kompos dari cangkang telur pada hari Senin, 13 Maret 2023 lalu.
Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari aktivitas Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sekaligus kegiatan pembuka event Leadership Journey yang berlangsung pada pekan ketiga bulan Maret 2023 (13-17 Maret 2023).
Setelah belajar mengelola sampah dari ahlinya di Rumah Inovasi UNNES, lalu memproduksi eco enzyme bersama Komunitas Eco Enzyme Nusantara, kakak shalih-shalihah diajak untuk mengolah cangkang telur menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Selain sesuai dengan tema ‘Pembangunan yang Berkelanjutan’, sesuai pula dengan visi misi SD Islam Bintang Juara untuk mencetak calon pemimpin muslim yang berilmu, berakhlakul karimah dan bermanfaat.
Dari kegiatan sederhana ini, kakak shalih-shalihah mendapat banyak pembelajaran bermakna. Selain tentang menjaga lingkungan, secara tidak langsung kakak shalih-shalihah juga belajar tentang kesabaran, mengelola emosi dan mengatur kekuatan saat proses menumbuk.
Proses menumbuk manual menggunakan muntu atau alat sejenis juga merupakan kegiatan untuk melatih motorik lo, Ayah Bunda. Jadi memang alangkah baiknya apabila Ayah Bunda ingin mempraktikkan kegiatan ini di rumah, bisa menggunakan alat tumbuk manual saja.
Selain memiliki lebih banyak manfaat, Ayah Bunda juga bisa menabung kenangan bersama kakak shalih-shalihah. Jadi, apakah Ayah Bunda merasa tercerahkan dengan informasi cara membuat pupuk kompos dari cangkang telur ini?
Apabila sudah praktik di rumah bersama ananda, pastikan untuk bagikan di media sosial dan mention/ tagging akun official kami @sdislambintang juara ya. Semoga dengan saling berbagi praktik baik, akan lebih banyak orang di luar sana yang teredukasi dan terinspirasi untuk menjaga lingkungan dengan cara-cara sederhana.
Selamat mempraktikkan cara membuat pupuk kompos dari cangkang telur bersama kakak shalih-shalihah, Ayah Bunda. Sampai jumpa pada catatan istimewa Bintang Juara selanjutnya!
Semua orang tua cinta anaknya. Apakah anak menerima cinta orang tuanya?
Ayah Bunda, kalimat di atas adalah salah satu insight yang didapat pada saat pelatihan Karunia Cinta Remaja (KCR) yang diampu oleh Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Setelah vakum selama pandemi, alhamdulillah SD Islam Bintang Juara bisa kembali menghadirkan Abah Ihsan ke Semarang.
Usai menggelar PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) pada bulan Agustus 2022, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Abah Ihsan dalam Program Disiplin Anak (PDA) dan Karunia Cinta Remaja (KCR). Dua pelatihan lanjutan PSPA tersebut diadakan secara dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 5-6 November 2022.
Adakah Ayah Bunda yang hadir dalam program tersebut? Alhamdulillah.
Saat membawakan materi KCR, Abah Ihsan menyampaikan banyak hal penting. Rasa-rasanya satu artikel tidak akan mampu menuliskan semua hal penting tersebut.
Maka izinkanlah kali ini kami membagikan secuil penyebab kenakalan remaja. Mengapa usia-usia remaja rawan terjadi penyimpangan dan perilaku negatif?
Bagaimana untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja? Yuk dibaca lebih lanjut artikelnya, Ayah Bunda.
Siapa yang Disebut dengan Remaja?
Banyak sumber menyebutkan bahwa tidak ada istilah remaja di dalam Islam. Sebenarnya bukan hanya di Islam, istilah remaja memang baru dikenal pada era industrialisasi. Istilah ini baru muncul pada 100 tahun terakhir.
Ada banyak referensi berbeda menyangkut siapa yang disebut remaja. Menurut WHO, remaja (teenagers) merupakan anak-anak dengan range usia 10 – 20 tahun.
Sementara menurut PBB, usia 15 – 24 tahun dikategorikan sebagai pemuda (Youth). Nah, kalau Ayah Bunda lebih condong pada referensi yang mana nih?
Bahkan dalam hukum positif, istilah remaja sama sekali tidak disebut lo, Ayah Bunda. Pada Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 330, disebutkan usia dewasa mulai dari 21 tahun. Atau mereka yang sudah menikah sebelum 21 tahun.
Dalam UU Perkawinan No 16/ 2019, disebut anak-anak apabila usianya 0 – 18 tahun. Usia 19 tahun sudah dikategorikan dewasa.
Pada UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan No 22/ 2019 pasal 81 ayat 21, batas usia anak adalah 16 tahun. Usia 17 sudah masuk kategori dewasa.
Kalau ditilik dari segi medis, seseorang disebut remaja ketika masuk fase pubic. Fase tersebut mulai dari haid sampai 2 tahun setelahnya, ketika organ reproduksi telah siap.
Tiga Penyebab Kenakalan Remaja, Bisakah Dicegah?
Setelah mengetahui bahwa sebenarnya remaja adalah sebuah istilah baru, Ayah Bunda juga perlu tahu mengapa di usia-usia 13 – 19 tahun banyak muncul kenakalan remaja. Abah Ihsan dalam paparan materinya membagi dua jenis perilaku negatif remaja.
Pertama ada yang disebut dengan Deviation (penyimpangan perilaku). Perilaku yang masuk pada kategori ini adalah hal-hal yang melanggar norma agama dan masyarakat.
Kedua ada yang disebut sebagai Delinquent (kejahatan), yaitu perilaku yang melanggar norma hukum.
Kedua jenis perilaku negatif remaja tersebut bisa terjadi karena beberapa sebab. Alasan-alasan di balik kenakalan remaja dipaparkan oleh Abah Ihsan melalui tiga teori. Berikut ini tiga teori tersebut, Ayah Bunda:
1. Rational Theory
Individu sebagai penyebab utama atas perilaku negatif tersebut. Dilandasi oleh pilihan, interest/ minat atau keinginan, dan motivasi dari diri sendiri. Hal ini bisa terjadi karena kurang iman, ilmu dan pendidikan.
Ayah Bunda sering mendengar ada orang tua yang mengumpat anak remajanya dengan kata ‘Kurang Ajar’? Sesungguhnya di balik umpatan tersebut, orang tua sedang mencela dirinya sendiri.
Di balik anak yang kurang ajar, bukankah sebenarnya ada orang tua yang kurang mengajar?
2. Differential Theory
Kenakalan disebabkan oleh salah pergaulan. Banyak kasus terjadi anak yang dulunya baik karena bergaul dengan anak-anak nakal berubah perilakunya menjadi buruk.
Oleh karenanya pastikan Ayah Bunda mengajarkan anak memilih teman. Buatlah zonasi pergaulan berdasarkan karakter agama keluarganya:
Zona merah: Anak dilarang untuk bergaul dengan anak-anak yang masuk zona ini. Zona ini berisi anak-anak yang akhlaknya tidak baik (sering berkata kasar, memukul, dll), sering mengajak keburukan dan lalai mengerjakan ibadah. Anak-anak diperbolehkan bermain dengan anak-anak di zona ini dengan catatan diajak ke rumah sendiri, sehingga Ayah Bunda bisa mengawasi perilaku dan kegiatan bermain anak.
Zona kuning: Anak-anak yang masuk ke zona ini, perilakunya masih cukup aman, tetapi karakter agama keluarganya kurang baik (sosialisasi dengan tetangga kurang, jarang hadir pada acara-acara pengajian, dsb). Anak diperbolehkan bermain dengan teman-temannya di zona kuning, tetapi harus berhati-hati.
Zona hijau: Teman yang dikategorikan zona hijau adalah anak berperilaku sopan, rajin sholat, sering mengajak kebaikan, orang tuanya juga sekufu (sama-sama mau belajar agama dan parenting). Anak-anak dalam zona hijau adalah teman bergaul yang aman.
3. Social Disorganization Theory
Menurut teori yang ketiga ini, kenakalan remaja disebabkan oleh hilangnya pranata masyarakat yang menjaga harmoni. Orang tua yang sibuk bekerja, guru yang kelebihan beban, sekolah yang tidak adaptif dengan perubahan, keluarga tidak lagi menjadi madrasah tetapi hanya menjadi peternakan.
Harmoni yang hilang ini kemudian melahirkan perilaku individualis, hanya memikirkan dirinya sendiri dan kurang empati. Dari lingkungan yang seperti inilah kemudian lahir para remaja BLAST (Boring, Lonely, Angry, Stress dan Tired).
Apakah Ayah Bunda pernah mendengar istilah BLAST? Kalau Ayah Bunda sudah pernah mengikuti seminar atau webinar dari Ibu Elly Risman, pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut.
Kesimpulannya, remaja adalah fase turbulens alias masa-masa penuh badai. Karena pada masa ini terjadi peralihan dari entrofi (ketidakaturan) ke regentropi (keberaturan).
Sistem reproduksi juga sudah mulai aktif, tetapi mereka masih memiliki keterbatasan dalam mengelolanya. Oleh karenanya banyak remaja yang cenderung uring-uringan dan bad mood. Terlebih ketika mereka belum diberikan pijakan tentang mengelola emosi.
Kalau anak-anak sebaiknya beraktivitas dengan banyak main, sedikit bekerja. Orang dewasa beraktivitas dengan banyak bekerja dan sedikit main.
Remaja ada di tengah-tengahnya. Main dan bekerja sama-sama tidak boleh banyak. Kondisi ini yang semakin mengacaukan kondisi fisik dan psikis remaja.
Oleh karenanya agar remaja bisa melewati masa-masa badai ini, Ayah Bunda perlu MENYIAPKANNYA. Dibuat ‘pedih’, dibuat lelah tetapi tetap berada di bawah asuhan orang tua.
Banyak mitos beredar kalau remaja tidak butuh banyak tidur. Faktanya remaja butuh tidur dengan jumlah yang sama atau malah lebih banyak dibandingkan saat mereka anak-anak. Hal ini berdasarkan penelitian dari John Hopkins Institute.
Anak remaja sebaiknya jangan diberikan banyak kesenangan. Karena kesenangan yang tidak terbatas, lama-lama tidak akan terasa senangnya.
Kesenangan sifatnya melalaikan. Oleh karenanya perlu dibatasi agar tidak melalaikan. Untuk membatasi kesenangan, anak-anak perlu dilatih melakukan chores/ kewajiban rumah tangga.
Sementara pada anak remaja, sebaiknya sudah diajak untuk mengerjakan proyek. Misal, melibatkan remaja untuk membuat proyek liburan keluarga. Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengelola proyek ini dengan memilih lokasi, itinerary, membuat anggaran, dsb.
Menjadi orang tua dari anak remaja sebaiknya hindari menjadi orang tua reaktif. Orang tua reaktif hanya mampu memadamkan api. Namun api baru bisa saja muncul kembali di lain waktu.
Hal terbaik adalah menjadi orang tua yang proaktif, yaitu orang tua yang mampu ‘menumbuhkan pepohonan’ di tengah ladang kering dan tandus. Di sinilah pentingnya orang tua memiliki dua warisan untuk mencegah terjadinya penyebab kenakalan remaja;
Ekspresi Cinta – Ekspresi yang seharusnya muncul tanpa menunggu anak bermasalah terlebih dahulu.
Ekspresi Kemandirian – Bentuk sayang dan cinta orang tua yang sesungguhnya. Bukan sekadar mengasihi (memberi), tetapi melatih dan mempersiapkan anak menjadi mandiri.
Dua ekspresi di atas jika diterapkan dengan tepat akan bisa membuat anak menerima cinta orang tuanya. Apakah Ayah Bunda penasaran dengan penjelasan lebih lanjut terkait dua ekspresi ini? Tunggu catatan Bintang Juara berikutnya ya.
Namun jika Ayah Bunda ingin langsung mendapatkan materi bernas dan ‘ndaging’ dari Abah Ihsan, pastikan untuk bergabung dengan Webinar Islamic Parenting bertajuk Tarbiah Pubertas & Literasi Cinta Remaja.
Webinar tersebut insya Allah akan digelar melalui platform Zoom, pada hari Ahad, 26 Maret 2023. Ayah Bunda, yuk luangkan waktu dari pukul 08.00 – 12.15 untuk belajar langsung dari Abah Ihsan Baihaqi.
Untuk mendaftar, silakan klik: Webinar Islamic Parenting Abah Ihsan. Bagikan juga informasi ini kepada kerabat dan sahabat ya, Ayah Bunda. Terima kasih.***