Ada perayaan yang identik dengan balon, hadiah, dan kemeriahan. Namun ada pula perayaan yang justru mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu menengadahkan tangan memohon keberkahan untuk langkah berikutnya.
Suasana itulah yang terasa pada Kamis, 16 Juli 2026, ketika keluarga besar SD Islam Bintang Juara memperingati Milad ke-9 dengan mengusung tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan.” Momen istimewa ini bertepatan dengan hari keempat rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027, sehingga menjadi pengalaman bermakna bagi seluruh kakak shalih-shalihah, guru, tenaga kependidikan, serta yayasan.
Bukan sekadar merayakan bertambahnya usia sekolah, tetapi juga mensyukuri setiap proses, mengenang perjuangan para pendiri, sekaligus menanamkan kepada generasi muda bahwa sebuah sekolah besar lahir dari doa, pengorbanan, dan cita-cita yang terus dijaga.
9 Tahun Menebar Cahaya: Memulai Hari dengan Istighosah dan Khataman Al-Qur’an
Rangkaian Milad diawali dengan istighosah dan khataman Al-Qur’an yang diikuti seluruh warga sekolah. Lantunan doa memenuhi ruangan, menghadirkan suasana khusyuk yang mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bukan hanya dibangun oleh strategi dan kerja keras, tetapi juga oleh pertolongan Allah SWT.
Bagi siswa, kegiatan ini menjadi pembelajaran nyata bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan rasa syukur dan doa. Nilai-nilai spiritual yang ditanamkan sejak dini inilah yang menjadi salah satu ciri khas pendidikan di SD Islam Bintang Juara.
Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, sekolah ingin menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tetap harus berjalan berdampingan dengan kekuatan iman dan adab.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur atas Perjalanan Sembilan Tahun
Usai doa bersama, suasana berubah menjadi hangat ketika dilaksanakan prosesi potong tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan sembilan tahun SD Islam Bintang Juara.
Potongan tumpeng diserahkan secara simbolis oleh Bunda Vivi Psikolog, selaku Ketua Yayasan Dewi Sartika, kepada Bu Ni’mah, Kepala SD Islam Bintang Juara, kemudian dilanjutkan kepada seluruh tim manajemen sekolah.
Prosesi sederhana tersebut memiliki makna yang mendalam. Tumpeng bukan hanya simbol perayaan, melainkan ungkapan syukur atas amanah yang telah dijalankan, sekaligus doa agar sekolah terus diberi kekuatan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Selama sembilan tahun, SD Islam Bintang Juara telah menjadi rumah belajar bagi ratusan anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang beradab, berilmu, kreatif, dan siap menjadi calon pemimpin muslim.
Mengenang Jejak Para Perintis, Menghargai Sejarah
Salah satu bagian paling mengharukan dalam peringatan Milad adalah ketika Bunda Vivi Psikolog mengajak seluruh siswa untuk mengenang orang-orang yang memiliki sejarah dan kontribusi besar dalam berdirinya SD Islam Bintang Juara.
Beliau mengingatkan bahwa sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Di balik bangunan, ruang kelas, dan berbagai prestasi yang diraih hari ini, ada banyak tangan yang bekerja, banyak doa yang dipanjatkan, dan banyak pengorbanan yang mungkin tidak diketahui oleh generasi sekarang.
Secara khusus, Bunda Vivi mengenang jasa Eyang Esmi Warassih dan Almarhum Eyang Abdullah Shodiq, dua sosok yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan berdirinya SD Islam Bintang Juara.
Pesan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para siswa bahwa menghormati sejarah merupakan bagian dari adab. Anak-anak belajar bahwa keberhasilan hari ini tidak lepas dari perjuangan orang-orang yang datang lebih dahulu.
Nilai inilah yang ingin terus diwariskan kepada seluruh warga sekolah: menjadi pribadi hebat bukan berarti melupakan akar perjuangan, melainkan mampu menghargai setiap orang yang telah membuka jalan.
Belajar Sejarah dengan Cara yang Menyenangkan
Suasana semakin hidup ketika Bunda Vivi mengajak seluruh kakak shalih-shalihah berinteraksi melalui berbagai pertanyaan sederhana namun bermakna.
“Siapa yang hafal jargon SD Islam Bintang Juara?”
“Siapa saja nama pendiri SD Islam Bintang Juara?”
Dengan penuh semangat, tangan-tangan kecil terangkat. Anak-anak berlomba menjawab, diselingi tawa dan tepuk tangan yang membuat suasana semakin hangat.
Cara ini menunjukkan bahwa mengenalkan sejarah sekolah tidak harus melalui ceramah panjang. Melalui dialog interaktif, anak-anak justru lebih mudah memahami identitas sekolah yang mereka cintai.
Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari SD Islam Bintang Juara berarti ikut menjaga nilai-nilai yang telah dibangun sejak awal berdirinya.
Menatap Masa Depan dengan Harapan Baru
Sebagai penutup, seluruh warga sekolah menyaksikan video ucapan Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara yang berisi doa, harapan, dan apresiasi dari berbagai pihak.
Video tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan sembilan tahun hanyalah awal dari langkah yang lebih panjang. Masih banyak generasi yang akan tumbuh, banyak mimpi yang akan diwujudkan, dan banyak karya yang akan lahir dari sekolah ini.
Tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan” benar-benar terasa sepanjang rangkaian kegiatan. Cahaya itu hadir melalui ilmu yang terus diajarkan. Doa dipersatukan melalui istighosah dan khataman. Harapan ditanamkan kepada setiap anak agar kelak mampu menjadi pemimpin muslim yang memberi solusi bagi masyarakat.
Usai prosesi peringatan milad tuntas, kakak shalih-shalihah kembali ke kelas untuk membuat Tree of Hope alias Pohon Harapan. Masing-masing kakak menuliskan harapannya untuk SD Islam Bintang Juara. Ada yang mendoakan agar Bintang Juara memiliki SMP, ada yang mendoakan agar para gurunya diberkahi kebaikan, dan masih banyak lagi doa serta harapan yang mengharu biru.
Pendidikan Dimulai dari Nilai, Bertumbuh Menjadi Peradaban
Peringatan Milad bukan sekadar mengenang tanggal berdirinya sekolah. Lebih dari itu, Milad menjadi momentum untuk memperkuat jati diri bahwa pendidikan adalah proses membangun peradaban.
Di SD Islam Bintang Juara, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter, rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, kepedulian kepada sesama, serta keberanian bermimpi besar demi kemaslahatan umat.
Sembilan tahun perjalanan telah dilalui. InsyaAllah, perjalanan berikutnya akan menghadirkan lebih banyak cahaya, lebih banyak manfaat, dan lebih banyak generasi yang siap menjadi calon pemimpin muslim yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan berprestasi.
Kami juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi Ayah Bunda dalam Program Berbagi yang telah terlaksana. InsyaAllah, pekan depan infaq yang Ayah Bunda berikan akan kami sampaikan kepada 9 POS PAUD dan panti asuhan yang membutuhkan.
Doa Terbaik untuk SD Islam Bintang Juara
Kalau Ayah dan Bunda memiliki doa untuk SD Islam Bintang Juara di usia ke-9 ini, apa harapan yang ingin disampaikan?
Semoga setiap doa menjadi energi kebaikan yang mengiringi langkah SD Islam Bintang Juara untuk terus menghadirkan pendidikan yang memuliakan adab, menguatkan ilmu, dan melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia. Aamiin.*** (CM-MRT)
“Anak hebat bukan yang paling banyak followers atau paling viral di media sosial, tetapi yang paling baik adabnya.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup sekaligus pesan paling membekas dalam Kelas Penguatan Adab “Jadi Calon Pemimpin Muslim yang Cerdas Digital Yuk!” yang diikuti siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan Marita Ningtyas, S.S., Leader Team Cipta Media Digital Bintang Juara, sebagai narasumber.
Di era ketika anak-anak tumbuh bersama gawai dan media sosial, sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajarkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter digital. Sebab, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi jalan menuju kebaikan atau sebaliknya adalah adab penggunanya.
Melalui kelas yang dikemas interaktif, penuh permainan, diskusi, dan refleksi, siswa diajak memahami bahwa menjadi generasi digital berarti juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
Internet adalah Amanah, Bukan Sekadar Hiburan
Kegiatan diawali dengan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu.
“Mengapa Allah mengizinkan internet ada di muka bumi?”
Pertanyaan tersebut membawa siswa memahami bahwa internet merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Teknologi dapat menjadi ladang pahala ketika digunakan untuk belajar, berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, internet juga dapat menjadi ujian apabila dipenuhi konten negatif, perundungan, hoaks, ataupun aktivitas yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak diajak untuk takut terhadap teknologi, melainkan belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Menjadi Pengguna Media Sosial yang Punya Tujuan
Media sosial sering kali dipandang sebagai tempat hiburan semata. Dalam sesi ini, siswa diajak mengubah cara pandang tersebut. Bu Marita menjelaskan bahwa media sosial seharusnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu:
belajar dan menambah wawasan,
mempererat silaturahmi dengan keluarga maupun teman,
menyebarkan konten positif yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pesan ini menjadi bekal penting agar anak-anak tidak sekadar menjadi penonton dunia digital, tetapi mampu menjadi pembawa manfaat melalui setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.
Belajar Bersyukur, Bukan Sibuk Membandingkan Diri
Salah satu aktivitas yang paling menarik adalah permainan “Harta Karun Temanku.” Dalam permainan tersebut, siswa diminta menemukan satu kelebihan teman di sampingnya. Satu per satu mereka menyampaikan apresiasi dengan tulus.
Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki makna yang sangat dalam.
Anak-anak diajak memahami bahwa hati akan dipenuhi rasa syukur ketika terbiasa melihat kelebihan orang lain. Sebaliknya, media sosial sering kali membuat seseorang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain sehingga memunculkan rasa iri, minder, hingga tidak percaya diri.
Melalui refleksi ini, siswa belajar bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah jumlah “like” ataupun pengikut, melainkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.
Dunia Maya Memiliki Jejak yang Sulit Dihapus
Kelas semakin hidup ketika siswa mengikuti permainan Game Bisik Berantai.
Permainan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain. Dari sini siswa memahami bahwa berita yang belum tentu benar dapat menyebar begitu cepat apabila tidak dilakukan pengecekan terlebih dahulu.
Selanjutnya, siswa diajak mengenali karakteristik dunia maya.
Internet bersifat cepat, global, mudah dimanipulasi, viral, bahkan jejak digitalnya sulit dihapus. Karena itulah setiap komentar, unggahan, maupun pesan harus dipikirkan dengan matang sebelum dibagikan kepada orang lain.
Bermain Sambil Belajar Menjadi Netizen yang Beradab
Belajar adab digital tidak dilakukan melalui ceramah panjang.
Marita mengajak siswa mengikuti berbagai permainan seperti Jempol Pintar dan Detektif Konten, yaitu aktivitas memilih apakah suatu unggahan termasuk perilaku yang baik atau tidak baik di media sosial. Melalui diskusi kelompok, siswa belajar memberikan alasan dan berpikir kritis terhadap berbagai situasi yang sering mereka temui di dunia digital.
Pendekatan ini membuat materi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Adab Bermedia Sosial Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Siswa kemudian diajak menyusun kembali kebiasaan baik saat menggunakan media sosial.
Di antaranya adalah:
tidak mengejek atau menghina orang lain,
tidak membuka aib teman,
tidak menggunakan kata-kata kasar,
tidak menyebarkan hoaks,
tidak pamer secara berlebihan,
meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain,
mengucapkan terima kasih,
menghargai perbedaan pendapat.
Selain itu, siswa juga belajar memilih konten yang layak dikonsumsi dengan metode THINK, BAIK dan lima prinsip cerdas berinternet.
Mereka diajak memeriksa sumber informasi, memilih konten edukatif, serta menghindari tayangan yang mengandung kekerasan, kebencian, maupun hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menjadi Generasi Digital yang Beradab
Sebagai penutup, seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Calon Pemimpin Muslim Cerdas Digital.
Mereka berkomitmen menggunakan gawai secara bijak, menjaga lisan meskipun melalui tulisan, memilih konten yang bermanfaat, tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, serta berharap Allah SWT menjadikan mereka anak yang beradab, berilmu, dan membawa manfaat bagi sesama.
Komitmen tersebut selaras dengan visi SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim. Sekolah percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter, adab, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak membutuhkan bekal yang lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan gawai. Mereka membutuhkan kompas moral agar mampu memilih yang benar, berkata santun, menghargai orang lain, dan menghadirkan manfaat melalui teknologi.
Karena pada akhirnya, dunia digital bukan sekadar tempat untuk menunjukkan siapa diri kita, tetapi ruang untuk membuktikan nilai-nilai yang kita pegang.
Dan sebagaimana pesan yang terus diingat oleh seluruh peserta hari itu, calon pemimpin muslim yang hebat bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling baik adabnya.*** (CM-MRT)
Kalimat sederhana yang menyebutkan nama-nama ilmuwan muslim kini terdengar saat tahun ajaran baru dimulai. “Bu, aku kelas Ibnu Sina.”
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah nama kelas. Tidak berbeda dengan kelas Melati, Anggrek, Aster, atau bahkan nama warna dan tokoh kartun yang lazim digunakan di banyak sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, setiap nama kelas dipilih dengan penuh pertimbangan.
Karena kami percaya, apa yang sering disebut, didengar, dan dikenal anak setiap hari akan perlahan membentuk cara mereka berpikir tentang siapa yang layak dijadikan teladan.
Di tengah derasnya arus digital, anak-anak masa kini begitu akrab dengan tokoh superhero, karakter animasi, hingga tokoh-tokoh dalam gim daring. Sebagian memang menghibur, tetapi tidak semuanya membawa nilai yang membangun karakter.
Di sisi lain, sejarah Islam justru dipenuhi oleh tokoh-tokoh luar biasa yang nyata. Mereka adalah ilmuwan, pemimpin, dokter, matematikawan, astronom, hingga penemu yang karya-karyanya masih digunakan dunia hingga hari ini.
Inilah yang menjadi latar belakang lahirnya filosofi nama ilmuwan muslim menjadi nama-nama kelas pada Tahun Pelajaran 2026/2027 SD Islam Bintang Juara.
Menghidupkan Kembali Keteladanan yang Nyaris Terlupakan
Ada satu keresahan yang sering muncul di kalangan para guru. Banyak anak mampu menyebut puluhan nama karakter fiksi, tetapi belum mengenal siapa Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, atau Al-Biruni.
Padahal, tokoh-tokoh tersebut merupakan bagian penting dari peradaban dunia. Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah sosok yang berhasil menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan ibadah dan manfaat bagi umat manusia.
Karena itulah, SD Islam Bintang Juara memilih nama-nama ilmuwan muslim dan khalifah sebagai identitas setiap kelas. Harapannya sederhana, tetapi penuh makna. Semoga setiap kali anak menyebut nama kelasnya, mereka sekaligus mengenal sosok besar yang menjadi inspirasi di balik nama tersebut.
Nama Ilmuwan Muslim yang Menjadi Doa
Di SD Islam Bintang Juara, nama bukan sekadar identitas. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah pengingat tentang nilai yang ingin ditanamkan.
Kami berharap kakak shalih-shalihah tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, cinta ilmu, berani berkarya, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Sebagaimana para ilmuwan muslim dahulu menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat bagi dunia, kami berharap kelak para siswa juga menjadi generasi yang karya dan kontribusinya membawa keberkahan.
Karena sekolah bukan hanya tempat memperoleh nilai tinggi, melainkan tempat menumbuhkan mimpi besar.
Mengenal Sosok Inspiratif di Balik Nama Setiap Kelas
Setiap jenjang memiliki tokoh yang dipilih berdasarkan kontribusi besar mereka terhadap peradaban Islam dan dunia.
Kelas 1: Memulai Perjalanan dengan Semangat Mencintai Ilmu
Kelas 1A – Ibnu Sina : Dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb, kitab kedokteran yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Harapannya, anak-anak belajar bahwa ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi manfaat bagi banyak orang di masa depan.
Kelas 1B – Al-Khawarizmi : Tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Aljabar sekaligus pelopor konsep algoritma dan angka nol. Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nama Al-Khawarizmi menjadi semakin relevan karena istilah algorithm berasal dari namanya.
Kelas 1C – Ibnu Al-Haytham ; Ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Beliau merumuskan teori penglihatan dan hukum pembiasan cahaya yang menjadi dasar perkembangan ilmu optik hingga saat ini.
Kelas 2: Berani Berkarya dan Bereksperimen
Kelas 2A – Abu Qasim Al-Zahrawi : Pelopor ilmu bedah modern yang merancang berbagai alat bedah yang menjadi inspirasi dunia medis.
Kelas 2B – Jabir bin Hayyan : Dikenal sebagai Bapak Kimia Modern melalui penemuan proses distilasi, kristalisasi, serta pengembangan berbagai metode eksperimen ilmiah.
Kelas 2C – Abbas bin Firnas : Sosok visioner yang dikenal sebagai pelopor penerbangan melalui percobaan glider atau pesawat layang jauh sebelum teknologi penerbangan berkembang.
Kelas 3: Mengajarkan Rasa Ingin Tahu terhadap Alam Semesta
Kelas 3A – Al-Battani : Astronom dan matematikawan muslim yang berhasil menghitung panjang satu tahun matahari dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.
Kelas 3B – Ibnu Al-Nafis : Dokter muslim pertama yang menjelaskan secara ilmiah tentang sirkulasi darah melalui paru-paru, jauh sebelum ditemukan kembali oleh ilmuwan Barat.
Kelas 3C – Al-Biruni : Ahli geologi sekaligus astronom yang berhasil mengukur keliling bumi dengan metode ilmiah yang sangat mendekati hasil pengukuran modern.
Kelas 4–6: Belajar Kepemimpinan dari Para Khalifah
Tidak hanya ilmuwan, kakak shalih-shalihah juga dikenalkan kepada para pemimpin Islam yang meninggalkan warisan luar biasa.
Kelas 4A – Umar bin Abdul Aziz : Pemimpin yang dikenal dengan reformasi administrasi pemerintahan, penguatan kodifikasi hadis, serta komitmennya dalam memberantas korupsi dan menegakkan keadilan.
Kelas 4B – Ali bin Abi Thalib : Khalifah yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdasan, serta pembenahan sistem administrasi dan tata kelola negara.
Kelas 5A – Utsman bin Affan : Sosok yang berjasa dalam kodifikasi mushaf Al-Qur’an sehingga umat Islam hingga kini memiliki bacaan Al-Qur’an yang terjaga keseragamannya.
Kelas 5B – Umar bin Khattab : Pemimpin visioner yang menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam.
Kelas 6 – Abu Bakar Ash-Shiddiq : Khalifah pertama yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, serta keberaniannya menegakkan kewajiban zakat demi menjaga persatuan umat.
Agar kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat dan bisa meneladani karakter tokoh-tokoh di atas, pada Pekan Taaruf hari ketiga dan keempat, kakak diajak untuk membedah profil masing-masing kelas. Bukan hanya sekadar mendengarkan informasi satu arah dari guru di kelas, tetapi juga melalui beragam tantangan dan permainan yang seru, bermakna, juga menyenangkan.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Mungkin bagi sebagian orang, pergantian nama kelas terlihat sederhana. Namun dalam dunia pendidikan, simbol memiliki kekuatan.
Ketika setiap hari anak memasuki kelas “Ibnu Sina”, “Al-Khawarizmi”, atau “Al-Biruni”, rasa ingin tahu akan perlahan tumbuh.
Siapa beliau?
Apa jasanya?
Mengapa namanya digunakan sebagai nama kelas?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang menjadi pintu masuk pembelajaran karakter, sejarah, dan kecintaan terhadap peradaban Islam. Kakak shalih-shalihah akan belajar bahwa menjadi muslim berarti juga menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Menyiapkan Generasi yang Menjadi Solusi
Di SD Islam Bintang Juara, kami memiliki keyakinan bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak generasi yang sekadar mengikuti tren. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan solusi.
Generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
Generasi yang berani bermimpi besar namun tetap rendah hati.
Generasi yang menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.
Karena itu, filosofi nama kelas ini bukan hanya tentang mengenalkan tokoh sejarah. Ini adalah doa yang dipanjatkan setiap hari.
Semoga setiap anak yang belajar di bawah nama para ilmuwan dan pemimpin besar Islam tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah rapuh oleh zaman, serta kelak mampu melahirkan karya-karya yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
Sebab setiap anak adalah bintang. Dan setiap bintang berhak menjadi juara.*** (CM-MRT)
Bagaimana cara menutup satu tahun pelajaran dengan berkesan?
Sebagian orang mungkin membayangkan hari-hari santai tanpa kegiatan belajar. Namun di SD Islam Bintang Juara, akhir semester justru menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan refleksi diri melalui rangkaian kegiatan bertajuk Leadership Journey Akhir Semester 2 Tahun Pelajaran 2025/2026.
Selama empat hari, mulai 15 hingga 19 Juni 2026, kakak shalih dan shalihah mengikuti beragam kegiatan yang dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk memperkuat karakter sebagai calon pemimpin muslim. Ada aktivitas fisik yang menyehatkan, permainan kolaboratif yang menantang, karya kreatif penuh kenangan, hingga refleksi perjalanan belajar selama satu tahun terakhir.
Empat hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan banyak pelajaran berharga di dalamnya.
Mengawali Pekan dengan Tubuh yang Sehat dan Hati yang Terinspirasi
Senin pagi, 15 Juni 2026, suasana sekolah terasa lebih semarak dari biasanya. Seluruh siswa berkumpul untuk mengikuti Senam Sehat bersama.
Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh semangat. Tawa dan senyum menghiasi wajah kakak shalih-shalihah yang menikmati kebersamaan bersama teman-teman dan guru.
Namun Leadership Journey tidak berhenti pada aktivitas fisik saja.
Setelah tubuh bergerak dan energi terisi kembali, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan Read Aloud Sirah Nabi dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan khidmat.
Para guru membacakan kisah-kisah inspiratif dari perjalanan hidup Rasulullah SAW. Kakak shalih-shalihah mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan perjuangan, keteladanan, dan kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kakak juga membaca buku sirah yang telah dibawa dari rumah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kesabaran, keberanian, dan kepedulian kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan sejak dini kepada para calon pemimpin muslim masa depan.
Belajar Menjadi Tim yang Solid Melalui Fun Match
Kemeriahan berlanjut pada Rabu, 17 Juni 2026.
Hari itu menjadi salah satu hari yang paling ditunggu karena seluruh siswa mengikuti kegiatan Fun Match dengan tema besar kebersamaan dan kerja sama tim.
Setiap permainan dirancang untuk mengajarkan satu nilai penting dalam kepemimpinan.
Satu Tim, Satu Tujuan
Melalui pertandingan futsal dan voli, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata. Pemain terbaik sekalipun tidak akan mampu memenangkan pertandingan tanpa dukungan tim.
Mereka belajar berkomunikasi, saling mendukung, memahami peran masing-masing, serta menghargai kontribusi teman.
Satu Tim, Satu Kekuatan
Nilai berikutnya hadir melalui permainan tarik tambang. Teriakan semangat terdengar dari berbagai sudut lapangan. Semua siswa mengerahkan tenaga terbaiknya untuk membantu kelompok masing-masing.
Dari permainan sederhana ini, mereka belajar bahwa kekuatan terbesar sering kali lahir dari kebersamaan. Ketika semua anggota tim bergerak dalam arah yang sama, tantangan yang berat pun menjadi lebih mudah dihadapi.
Satu Tim, Satu Komando
Permainan paling menarik sekaligus menantang adalah Tancap Bendera. Dalam permainan ini, satu siswa berperan sebagai robot yang matanya ditutup, sementara siswa lainnya bertugas menjadi “remote control” yang memberikan instruksi.
Agar berhasil mencapai lokasi dan menancapkan bendera, instruksi harus diberikan secara jelas, terarah, dan penuh kepercayaan. Permainan ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif.
Seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan yang jelas, sementara anggota tim perlu belajar mendengar dan mempercayai satu sama lain. Ternyata menjadi pemimpin maupun anggota tim yang baik sama-sama membutuhkan latihan.
Mengabadikan Persahabatan dalam Sebuah Bingkai Kenangan
Kamis, 18 Juni 2026, suasana sekolah berubah menjadi lebih hangat dan penuh kreativitas. Hari itu siswa mengikuti kegiatan Bingkai Kenangan Bersama Teman Seperjuangan.
Setiap siswa membuat karya berupa bingkai foto sebagai kenang-kenangan perjalanan mereka selama satu tahun pelajaran. Tangan-tangan kecil sibuk menghias, mewarnai, dan merangkai berbagai bahan menjadi karya yang unik.
Di sela-sela proses berkarya, banyak obrolan sederhana yang muncul. Ada yang mengenang momen lucu saat belajar bersama. Ada yang tertawa mengingat permainan saat istirahat. Ada pula yang mulai menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan naik ke jenjang kelas berikutnya.
Bingkai yang mereka buat mungkin sederhana. Namun nilai yang tersimpan di dalamnya jauh lebih berharga. Karena setiap bingkai menjadi simbol persahabatan, perjuangan, dan perjalanan belajar yang telah mereka lalui bersama.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghargai proses dan mengenang perjalanan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Menutup Tahun Pelajaran dengan Jumat Berseri
Rangkaian Leadership Journey mencapai puncaknya pada Jumat, 19 Juni 2026 melalui kegiatan Jumat Berseri. Hari itu diawali dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Dengan penuh semangat, siswa bekerja sama membersihkan kelas, halaman, dan berbagai sudut sekolah.
Mereka belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau guru, tetapi tanggung jawab bersama. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan nyata untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Setelah bekerja bersama, kakak shalih-shalihah menikmati buah segar yang telah disiapkan. Momen makan bersama menghadirkan suasana santai sekaligus menyenangkan setelah beraktivitas.
Namun bagian yang paling bermakna justru hadir di penghujung kegiatan. Yaitu sesi refleksi satu tahun pelajaran. Para siswa diajak mengenang perjalanan mereka selama setahun terakhir.
Apa pencapaian yang membuat mereka bangga?
Tantangan apa yang pernah mereka hadapi?
Pelajaran apa yang paling berkesan?
Dan target apa yang ingin mereka raih di tahun berikutnya?
Melalui refleksi ini, siswa belajar mengenali diri sendiri, mensyukuri proses yang telah dilalui, serta menyusun langkah yang lebih baik untuk masa depan. Kemampuan merefleksi diri merupakan salah satu keterampilan penting dalam kepemimpinan yang sering kali terlupakan. Padahal pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu belajar dari pengalaman dan terus memperbaiki diri.
Sembari melakukan refleksi, kakak shalih-shalihah juga diajak untuk makan real food rebusan bersama guru wali kelas dan pendamping. Makanan yang disajikan dalam tampah ini merupakan apresiasi bagi seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam Leadership Journey. Selain itu juga untuk memberikan penguatan pada kakak shalih-shalihah tentang manfaat mengonsumsi real food.
Menutup Semester, Membuka Perjalanan Baru
Leadership Journey Akhir Semester 2 SD Islam Bintang Juara bukan sekadar rangkaian kegiatan penutup tahun ajaran. Di balik senam sehat, permainan tim, karya kenangan, hingga refleksi diri, terdapat nilai-nilai besar yang sedang ditanamkan kepada para siswa.
Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri.
Mampu bekerja sama.
Mampu berkomunikasi.
Mampu menghargai proses.
Mampu menjaga amanah.
Dan mampu terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga pengalaman selama Leadership Journey ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah dalam melangkah ke jenjang berikutnya.
Karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang mereka menjadi generasi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.***
Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.
Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.
Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.
Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?
Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.
Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.
Disambut Rebana, Dihantar Doa
Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.
Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.
Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.
Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.
Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri
Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.
Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.
Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.
Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.
Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.
Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.
Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.
Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.
Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.
Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal
Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.
Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.
Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.
Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga
Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.
Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.
Selamat kepada 37 Khatimin
SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:
Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***
Kalimat seperti itu mungkin pernah terdengar ketika membicarakan pendidikan agama untuk anak-anak. Padahal justru pada usia sekolah dasar inilah nilai-nilai kehidupan mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari hari ini akan menjadi bekal yang mereka bawa hingga dewasa.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara menggelar kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) Iduladha pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini tidak hanya mengajak siswa mengetahui tentang Iduladha sebagai sebuah perayaan keagamaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di baliknya.
Sebab di SD Islam Bintang Juara, anak-anak tidak hanya diajak mengenal “apa” yang dilakukan dalam agama, tetapi juga memahami “mengapa” dan “untuk apa” ibadah itu dilakukan.
PHBI Iduladha 2026: Belajar Nilai Kehidupan dari Kisah Nabi Ibrahim
Suasana pembelajaran hari itu terasa berbeda. Kakak shalih dan shalihah diajak menyelami kembali kisah yang menjadi dasar peringatan Iduladha, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui kisah tersebut, anak-anak belajar bahwa Iduladha bukan sekadar tentang hewan qurban.
Lebih dari itu, Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, ketaatan kepada Allah, kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter seorang calon pemimpin muslim. Namun tentu saja cara penyampaiannya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan masing-masing siswa.
Kelas 1–2: Mengenal Iduladha dan Makna Ikhlas
Bagi siswa kelas 1 dan 2, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar tentang Iduladha melalui cerita yang dekat dengan dunia anak-anak. Mereka diajak mendengarkan cerita Pak Ali tentang Jono dan Beki, dilanjut dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT. Dari cerita tersebut, anak-anak mulai memahami arti ikhlas dalam bentuk yang sederhana.
Guru mengajak siswa berdiskusi tentang berbagai situasi yang mereka temui sehari-hari. Misalnya ketika harus berbagi makanan dengan teman, membantu orang tua di rumah, atau menerima keputusan yang mungkin tidak sesuai keinginannya.
Dari situ anak-anak belajar bahwa ikhlas bukan hanya ada dalam cerita para nabi, tetapi juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa sederhana membuat nilai-nilai besar menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
Kelas 3–4: Memahami Haji dan Salat Id
Memasuki kelas 3 dan 4, pemahaman siswa mulai berkembang lebih luas. Pada jenjang ini, kakak shalih dan shalihah diajak mengenal berbagai ibadah yang berkaitan dengan momen Iduladha, seperti ibadah haji dan salat Id.
Mereka belajar bahwa jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa rangkaian ibadah haji serta makna persatuan umat Islam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, mereka juga mempelajari pelaksanaan salat Iduladha, mulai dari tata cara hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran ini membantu siswa memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang satu ibadah tertentu, tetapi merupakan bagian dari rangkaian syariat Islam yang saling berkaitan. Dengan pemahaman tersebut, anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa salat Id dan haji dilakukan saat Iduladha, tetapi juga memahami alasan dan makna di balik pelaksanaannya.
Kelas 5–6: Simulasi Proses Penyembelihan Hewan Qurban
Sementara itu, siswa kelas 5 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk melakukan simulasi proses penyembelihan hewan qurban serta mempelajari tata cara pelaksanaannya sesuai syariat Islam.
Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena anak-anak dapat menyaksikan secara nyata proses yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita atau lihat melalui video.
Guru menjelaskan berbagai aspek penting dalam ibadah qurban, mulai dari syarat hewan qurban, adab penyembelihan, hingga tujuan utama dari ibadah tersebut. Melalui pengamatan langsung, siswa belajar bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Qurban adalah simbol ketundukan kepada Allah SWT, wujud rasa syukur atas nikmat-Nya, serta bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembelajaran kontekstual seperti ini membantu anak memahami agama secara lebih utuh dan bermakna.
Menanamkan Nilai Sebelum Menjadi Kebiasaan
Salah satu tantangan pendidikan karakter saat ini adalah bagaimana membantu anak memahami nilai, bukan sekadar menghafal informasi. Anak mungkin dapat menjawab pertanyaan tentang Iduladha dengan benar. Namun yang lebih penting adalah apakah mereka memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Karena itulah kegiatan PHBI Iduladha di SD Islam Bintang Juara dirancang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.
Ketika anak belajar tentang ikhlas, mereka sedang belajar mengendalikan ego.
Ketika belajar tentang qurban, mereka sedang belajar berbagi.
Ketika memahami kisah Nabi Ibrahim, mereka sedang belajar tentang ketaatan kepada Allah.
Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh dalam satu hari. Ia perlu ditanamkan berulang kali melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak.
Pendidikan Agama yang Dekat dengan Kehidupan Anak
Di SD Islam Bintang Juara, pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan atau teori di dalam kelas. Anak-anak diajak menghubungkan pelajaran agama dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Mereka belajar bahwa nilai Islam dapat diterapkan saat bermain bersama teman, membantu orang tua, menghormati guru, hingga berbagi dengan orang lain. Dengan cara inilah agama menjadi sesuatu yang hidup dan dekat dengan keseharian mereka.
Karena tujuan pendidikan Islam bukan hanya membuat anak mengetahui ajaran agama, tetapi membantu mereka menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari karakter dirinya.
Menyiapkan Generasi yang Memahami Makna
PHBI Iduladha tahun ini menjadi salah satu ikhtiar SD Islam Bintang Juara dalam menyiapkan generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat dan bermakna.
Melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan usia, anak-anak diajak bertumbuh secara bertahap dalam memahami ajaran Islam. Mulai dari belajar tentang ikhlas, mengenal ibadah haji dan salat Id, hingga memahami makna qurban secara langsung. Karena karakter tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dari cerita yang didengar, pengalaman yang dijalani, dan keteladanan yang dilihat setiap hari.
Semoga bekal yang ditanamkan sebelum Iduladha ini menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh dalam hati kakak shalih dan shalihah, serta mengantarkan mereka menjadi generasi yang mencintai Allah, memahami agamanya, dan siap menebarkan manfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)