by admin admin | Aug 20, 2026 | Artikel, Edukasi, Pembelajaran
Bagaimana jika teknologi tidak hanya digunakan untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi juga membantu manusia menjaga lingkungan dan memastikan makanan yang kita konsumsi tetap aman?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk pembelajaran kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Project Based Learning (PjBL) “EcoTech: Merancang Solusi, Menjaga Ekosistem Sekolah”, siswa belajar bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. dengan tema:
“Smart Farming & Food Defense: Bagaimana Teknologi Membantu Menjaga Ekosistem dan Keamanan Pangan?”
Kegiatan ini dirancang untuk membawa siswa melihat hubungan antara teknologi, lingkungan, pertanian, dan pangan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
BBA Smart Farming Dimulai dari Driving Question
Setiap proyek yang bermakna biasanya berangkat dari sebuah pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir.
Dalam PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak menjawab Driving Question:
“Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika dicermati lebih jauh, ada banyak hal yang dapat dieksplorasi.
- Bagaimana cara menggunakan air secara lebih bijak?
- Bagaimana mengetahui kondisi tanaman?
- Bisakah teknologi membantu mengurangi pemborosan?
- Bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih ramah bagi tumbuhan dan makhluk hidup lainnya?
- Dan bagaimana memastikan makanan yang dihasilkan atau dikonsumsi tetap aman?
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa mulai memahami bahwa teknologi bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk membantu manusia mengamati masalah, mencari solusi, dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Mengenal Smart Farming
Salah satu topik yang diperkenalkan dalam BBA adalah Smart Farming atau pertanian cerdas.
Secara sederhana, Smart Farming merupakan pendekatan dalam pertanian yang memanfaatkan teknologi dan data untuk membantu proses budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.
Teknologi dapat membantu manusia memantau berbagai kondisi yang berkaitan dengan tanaman dan lingkungan, misalnya kelembapan tanah, kebutuhan air, kondisi cuaca, hingga pertumbuhan tanaman.
Bagi siswa sekolah dasar, konsep ini tentu tidak harus langsung dipelajari secara rumit.
Yang terpenting adalah anak mulai memahami sebuah prinsip:
Teknologi dapat digunakan untuk mengenali kebutuhan lingkungan dan membantu manusia merawatnya dengan lebih tepat.
Misalnya, daripada menyiram tanaman secara berlebihan, bagaimana jika kita dapat mengetahui apakah tanah masih cukup lembap? Daripada hanya menebak kondisi tanaman, bagaimana jika kita dapat menggunakan data untuk membantu mengambil keputusan?
Pertanyaan seperti ini membuat siswa belajar melihat teknologi dari perspektif yang lebih luas.
- Teknologi bukan hanya tentang komputer atau gawai.
- Teknologi juga dapat menjadi alat untuk merawat bumi.
Lalu, Apa Itu Food Defense?
Selain Smart Farming, siswa juga diperkenalkan dengan konsep Food Defense atau pertahanan pangan.
Food Defense berkaitan dengan upaya melindungi makanan dari berbagai ancaman yang dapat membuat pangan menjadi tidak aman.
Bagi anak-anak, konsep ini dapat dikaitkan dengan hal-hal sederhana yang mereka temui setiap hari.
- Mengapa kita perlu mencuci tangan sebelum makan?
- Mengapa bahan makanan perlu disimpan dengan baik?
- Mengapa kebersihan tempat pengolahan makanan perlu diperhatikan?
- Mengapa makanan tidak boleh diletakkan sembarangan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa keamanan pangan tidak dimulai ketika makanan sudah berada di atas meja.
Keamanan pangan merupakan bagian dari sebuah proses panjang. Mulai dari bagaimana bahan pangan diproduksi, disimpan, diolah, hingga akhirnya dikonsumsi.
Di sinilah siswa dapat melihat hubungan antara lingkungan yang sehat, teknologi, proses produksi pangan, dan kesehatan manusia.
Ketika Teknologi Bertemu Ekosistem
Salah satu hal menarik dari PjBL EcoTech adalah siswa tidak hanya mempelajari teknologi sebagai sebuah konsep. Mereka diajak melihat bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan lingkungan.
Bayangkan lingkungan sekolah sebagai sebuah ekosistem. Di dalamnya terdapat manusia, tumbuhan, tanah, air, udara, serta berbagai makhluk hidup lainnya yang saling berinteraksi.
Jika salah satu bagian terganggu, bagian lainnya dapat ikut terdampak.
Misalnya, penggunaan air yang tidak bijak dapat menyebabkan pemborosan. Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mengganggu kebersihan lingkungan. Kondisi tanah yang tidak terjaga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.
Teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk membantu mengidentifikasi dan mengatasi persoalan tersebut. Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Siswa juga perlu memahami bahwa solusi lingkungan membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan perubahan kebiasaan manusia.
Teknologi membantu. Manusia yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Belajar Bersama Ahli, Memperluas Cara Pandang Anak
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.
Melalui kehadiran praktisi atau ahli, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Pada BBA kali ini, Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. membantu siswa melihat topik Smart Farming dan Food Defense dari perspektif teknologi.
Pengalaman seperti ini penting karena anak dapat memahami bahwa profesi dan ilmu pengetahuan saling terhubung.
- Ilmu komputer dapat bertemu dengan pertanian.
- Teknologi dapat bertemu dengan lingkungan.
- Data dapat membantu pengambilan keputusan.
- Dan pendidikan dapat menjadi awal untuk menciptakan solusi atas persoalan di sekitar kita.
Dengan demikian, anak tidak hanya belajar “apa”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa” dan “bagaimana”.
PjBL Membuat Anak Belajar dari Masalah Nyata
Kegiatan BBA ini merupakan bagian dari Project Based Learning (PjBL).
Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa tidak hanya menerima informasi kemudian mengerjakan soal. Mereka diajak menghadapi sebuah pertanyaan atau permasalahan, melakukan eksplorasi, berdiskusi, mencari informasi, kemudian merancang solusi.
PjBL EcoTech membawa siswa pada konteks yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri: lingkungan sekolah.
Dengan Driving Question “Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”, siswa memiliki arah untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi.
Proses tersebut juga melatih berbagai keterampilan penting, seperti:
- Critical thinking, untuk memahami masalah dan mencari penyebabnya.
- Problem solving, untuk merancang solusi yang dapat diterapkan.
- Collaboration, melalui kerja sama dengan teman.
- Communication, ketika menyampaikan ide dan hasil pemikiran.
- Creativity, dalam merancang gagasan baru.
- Literasi teknologi, untuk memahami pemanfaatan teknologi secara bijak.
Keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari proses pendidikan karena tantangan masa depan tidak selalu memiliki jawaban yang bisa ditemukan hanya dengan menghafal.
Anak perlu belajar berpikir dan menciptakan solusi.
Dari Sekolah untuk Masa Depan
Apa yang dipelajari kakak-kakak kelas 5 melalui kegiatan ini mungkin terlihat sederhana hari ini. Namun, kebiasaan berpikir yang dibangun dapat menjadi bekal untuk masa depan.
- Ketika melihat tanaman, mereka dapat bertanya bagaimana cara merawatnya dengan lebih baik.
- Ketika melihat air terbuang, mereka dapat berpikir bagaimana cara menghematnya.
- Ketika melihat sampah, mereka dapat mencari cara mengelolanya.
- Ketika menggunakan teknologi, mereka dapat mulai bertanya apakah teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.
Inilah salah satu tujuan penting dari pembelajaran: membantu anak menjadi manusia yang peka terhadap masalah di sekitarnya dan berani mencari solusi.
Teknologi yang Digunakan untuk Kebaikan
Perkembangan teknologi akan terus berlangsung. Anak-anak hari ini akan tumbuh di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi, data, dan kecerdasan buatan.
Karena itu, mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu belajar menjadi pengguna yang bijak sekaligus pencipta solusi.
Melalui PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak melihat bahwa teknologi dapat memiliki peran positif ketika digunakan untuk tujuan yang tepat.
- Menjaga lingkungan.
- Menghemat sumber daya.
- Mendukung pertanian.
- Menjaga keamanan pangan.
- Dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik.
Semua itu berawal dari satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana kita bisa menggunakan apa yang kita punya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik?”
Terus Bertanya, Terus Mencoba, Terus Menciptakan
Kegiatan Belajar Bersama Ahli bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya perjalanan belajar kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara.
Semoga setelah kegiatan ini, semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak mereka.
Karena anak yang bertanya sedang belajar. Anak yang mencoba sedang bertumbuh. Dan anak yang berani mencari solusi sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa depan.
Dari Smart Farming, anak belajar bahwa teknologi dapat membantu merawat kehidupan.
- Dari Food Defense, anak belajar bahwa keamanan pangan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab.
- Dari EcoTech, anak belajar bahwa lingkungan di sekitar mereka adalah bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.
Dan dari seluruh proses tersebut, mereka belajar satu hal yang sangat penting:
Menjadi bagian dari solusi dimulai dari keberanian untuk peduli, bertanya, dan mencoba.
by admin admin | Aug 15, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Kegiatan Orang Tua
Sabtu, 15 Agustus 2026, guru dan wali murid SD Islam Bintang Juara memenuhi auditorium Universitas Ivet dengan dresscode warna merah menyala. Selain merah putih yang mewarnai, auditorium Ivetsuara tawa, sorak dukungan, dan semangat kebersamaan. Pagi itu, suasana sekolah terasa berbeda. Bukan hanya peserta didik yang hadir, tetapi juga para orang tua melalui paguyuban serta seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.
Dalam rangkaian Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara, sekolah menghadirkan Perlombaan Persahabatan yang mempertemukan keluarga besar sekolah dalam suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.
Tidak ada sekat antara guru dan orang tua. Tidak ada suasana kelas yang kaku. Hari itu, semuanya menjadi satu tim besar yang sama-sama ingin bermain, tertawa, dan merayakan kemerdekaan Indonesia.
Sebab, di balik keseruannya, ada pesan yang jauh lebih penting: pendidikan terbaik lahir dari kolaborasi yang hangat antara sekolah dan keluarga.
Memulai Semangat dengan Senam Bersama
Pagi dimulai dengan senam bersama.
Para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan bergerak mengikuti irama. Gerakan demi gerakan dilakukan bersama, terkadang kompak, terkadang justru mengundang tawa ketika ada yang terlambat mengikuti gerakan.
Namun, bukankah justru di situlah keseruannya?
Tidak perlu menjadi yang paling lincah. Tidak perlu menjadi yang paling sempurna. Yang penting adalah bergerak bersama.
Senam bersama menjadi pembuka yang sederhana untuk membangun energi positif sebelum memasuki rangkaian perlombaan. Selain menjadi aktivitas fisik, momen ini juga memberikan kesempatan bagi warga sekolah untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih santai.
Karena hubungan antara sekolah dan keluarga tidak hanya dibangun melalui rapat atau komunikasi mengenai perkembangan anak. Terkadang, hubungan itu juga tumbuh dari tawa, permainan, dan pengalaman yang dilakukan bersama.
Ketika Paguyuban Orang Tua Turun ke Arena
Setelah senam, giliran para anggota paguyuban orang tua murid menunjukkan semangatnya dalam berbagai perlombaan. Ada Estafet Sarung, Gobak Sodor, hingga Memasukkan Pensil ke dalam Botol.
Setiap permainan menghadirkan tantangan yang berbeda. Dalam estafet sarung, koordinasi dan kekompakan menjadi kunci. Peserta harus bekerja sama agar sarung dapat berpindah dengan lancar dari satu anggota ke anggota lainnya.
Sementara dalam Gobak Sodor, strategi dan komunikasi menjadi bagian penting. Permainan tradisional yang sudah dikenal oleh banyak generasi ini kembali menghadirkan keseruan ketika dimainkan bersama.
Ada pula lomba Memasukkan Pensil ke dalam Botol yang menguji ketelitian, koordinasi, dan kesabaran.
Hal-hal sederhana seperti ini justru membuat perlombaan terasa dekat. Tidak membutuhkan perlengkapan yang rumit. Tidak membutuhkan arena yang megah.
Cukup permainan sederhana, teman satu tim, dan semangat untuk bersenang-senang bersama.
Di sela-sela perlombaan, terdengar sorakan dan dukungan dari peserta lain. Ada yang memberi semangat kepada rekan satu tim, ada yang tertawa ketika strategi tidak berjalan sesuai rencana, dan ada pula yang terus mencoba sampai berhasil.
Semua menjadi bagian dari cerita kebersamaan hari itu.
Guru Juga Ikut Bertanding!
Kalau biasanya para pendidik menjadi orang yang mengatur kegiatan dan mendampingi peserta didik, kali ini mereka juga turun langsung ke arena.
Para guru mengikuti beberapa perlombaan, yaitu Peraturan Baris Berbaris (PBB), Estafet Sarung, dan Futsal.
Dalam lomba PBB, kekompakan menjadi tantangan utama. Setiap gerakan membutuhkan koordinasi dan keseragaman. Satu orang bergerak tidak sesuai aba-aba saja bisa membuat barisan terlihat berbeda.
Pesan sederhana pun kembali terlihat: sebuah tim dapat berjalan baik ketika setiap anggotanya mau mendengarkan dan bergerak bersama.
Semangat tersebut berlanjut dalam Estafet Sarung. Kemudian, suasana semakin meriah saat para guru bertanding dalam futsal.
Lapangan yang biasanya menjadi ruang aktivitas peserta didik kini menjadi arena pertandingan para guru. Ada strategi, kerja sama, kecepatan, dan tentu saja semangat sportivitas.
Menang atau kalah menjadi bagian dari permainan. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh peserta dapat menikmati proses, menghargai lawan, dan tetap menjaga suasana persahabatan.
Mengapa Orang Tua Perlu Terlibat dalam Kegiatan Sekolah?
Kegiatan seperti Perlombaan Persahabatan mungkin terlihat sebagai aktivitas rekreatif. Namun, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah memiliki makna yang lebih besar.
Anak melihat bahwa sekolah bukan tempat yang hanya menjadi tanggung jawab guru. Sekolah adalah lingkungan yang dapat menjadi ruang tumbuh bersama antara anak, guru, dan keluarga.
Ketika orang tua hadir dan terlibat, anak dapat melihat sebuah pesan sederhana: “Ayah dan Bunda peduli dengan sekolahku.”
Begitu pula ketika guru dan tenaga kependidikan membuka ruang kebersamaan dengan orang tua, terbangun hubungan yang lebih dekat. Kolaborasi seperti ini penting karena pendidikan anak tidak berlangsung hanya selama jam sekolah.
Di sekolah, anak mendapatkan pengalaman belajar bersama guru dan teman. Di rumah, anak mendapatkan pengasuhan dan keteladanan dari keluarga. Ketika keduanya saling mendukung, anak mendapatkan lingkungan yang lebih konsisten untuk tumbuh.
Pendidikan Terbaik Lahir dari Kolaborasi
Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat partnership antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak hanya mengajak orang tua untuk datang ketika ada agenda tertentu.
Lebih dari itu, sekolah ingin membangun hubungan yang memungkinkan orang tua menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak. Karena pada akhirnya, guru dan orang tua memiliki tujuan yang sama:
mendampingi anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berkarakter, dan bermanfaat.
Perlombaan Persahabatan menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat hubungan tersebut.
Ketika orang tua dan guru tertawa bersama, bermain bersama, dan saling memberikan dukungan, anak-anak pun belajar melihat arti kebersamaan secara langsung. Mereka belajar bahwa kerja sama bukan hanya materi yang dipelajari di kelas.
Kerja sama adalah sesuatu yang dapat dilakukan dalam kehidupan nyata.
Doorprize: Kejutan di Pengujung Acara
Setelah berbagai perlombaan selesai, Semarak Kemerdekaan belum berakhir. Ada satu momen yang tentu tidak kalah ditunggu-tunggu: pembagian doorprize.
Satu per satu hadiah dibagikan, menghadirkan rasa penasaran sekaligus kegembiraan bagi warga sekolah yang mengikuti kegiatan. Hingga akhirnya, kejutan terbesar datang.
Doorprize utama berupa sepeda lipat berhasil diraih oleh Kak Arsyad, siswa kelas 3C. Hadiah tersebut menjadi penutup manis dari rangkaian kegiatan Semarak Kemerdekaan.
Bukan hanya karena hadiahnya, tetapi karena momen tersebut menambah satu lagi cerita menyenangkan dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.
Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Bermakna
Kemerdekaan sering kali dirayakan melalui berbagai perlombaan. Namun di SD Islam Bintang Juara, semangat tersebut juga menjadi kesempatan untuk menguatkan hubungan antarmanusia di dalam komunitas sekolah.
- Dari senam bersama, kita belajar bergerak bersama.
- Dari estafet sarung, kita belajar bekerja sama.
- Dari Gobak Sodor, kita belajar menyusun strategi dan berkomunikasi.
- Dari permainan memasukkan pensil ke dalam botol, kita belajar sabar dan teliti.
- Dari PBB, kita belajar kekompakan.
- Dari futsal, kita belajar sportivitas.
Dan dari seluruh rangkaian kegiatan, kita belajar satu hal yang lebih besar:
pendidikan membutuhkan kebersamaan.
Anak-anak tidak tumbuh sendirian. Ada keluarga yang mendampingi. Ada guru yang membersamai. Ada lingkungan yang ikut membentuk.
Karena itu, ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang selaras, anak mendapatkan ruang yang lebih kuat untuk bertumbuh.
Bersama Menjadi Bagian dari Perjalanan Anak
Sabtu itu mungkin akan dikenang sebagai hari ketika orang tua dan guru saling beradu cepat dalam estafet sarung, berusaha menaklukkan Gobak Sodor, bertanding futsal, atau tertawa bersama saat mengikuti senam.
Namun lebih dari sekadar keseruan perlombaan, ada sebuah pesan yang ingin terus dibawa pulang:
Kita tidak sedang mendidik anak sendirian.
Sekolah membutuhkan keluarga. Keluarga membutuhkan sekolah. Dan di tengah keduanya, ada anak-anak yang sedang tumbuh dan membutuhkan orang dewasa yang mau berjalan bersama.
Inilah semangat Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara.
Merdeka bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan melalui generasi yang tumbuh dalam lingkungan penuh dukungan, kolaborasi, dan keteladanan.
Sebab mungkin, salah satu bentuk perjuangan kita hari ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan terbaik untuk tumbuh.
Dan untuk mewujudkannya, kita perlu bergerak bersama. Sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua.
Hari ini bermain bersama. Besok, insyaallah, bersama-sama mengantarkan anak-anak menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi Indonesia.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 14, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Siswa
Kamis, 13 Agustus 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Hari itu, semangat merah putih tidak hanya hadir melalui dekorasi dan atribut kemerdekaan. Indonesia seolah hadir lebih dekat melalui gerak tari, lantunan lagu daerah, permainan tradisional, hingga beragam kekayaan budaya Nusantara.
Melalui Festival Kemerdekaan 2026 SD Islam Bintang Juara, peserta didik diajak merayakan kemerdekaan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Ada Festival Tari Daerah, Festival Paduan Suara Lagu Daerah, Skill Challenge & Puzzle, Liga Permainan Tradisional, hingga Festival Mencocokkan Baju Adat dan Rumah Adat.
Sekilas, semuanya terlihat seperti rangkaian permainan dan festival yang penuh keceriaan. Namun, di balik setiap aktivitas, anak-anak sebenarnya sedang belajar menjawab satu pertanyaan besar:
“Seberapa jauh aku mengenal Indonesia?”
Rangkaian Kegiatan Festival Kemerdekaan 2026 di SD Islam Bintang Juara
Ketika Indonesia Dikenal Melalui Gerak dan Tari
Festival Tari Daerah menjadi salah satu ruang bagi peserta didik untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia melalui gerakan.
Setiap daerah memiliki tarian dengan karakteristiknya masing-masing. Ada gerakan yang lembut, dinamis, tegas, hingga penuh semangat. Di baliknya terdapat cerita, nilai, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika anak mempelajari dan menampilkan tari daerah, mereka bukan hanya berusaha menghafalkan rangkaian gerakan. Mereka belajar koordinasi, konsentrasi, keberanian tampil, disiplin berlatih, hingga bekerja sama dengan teman.
Lebih jauh, anak mendapatkan pengalaman bahwa Indonesia yang mereka tinggali begitu kaya. Berbeda daerah, berbeda budaya. Namun semuanya tetap berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Lagu Daerah yang Menyatukan Suara Anak Negeri
Semangat mengenal Nusantara kemudian berlanjut melalui Festival Paduan Suara Lagu Daerah. Suara-suara peserta didik berpadu membawakan lagu daerah. Untuk menghasilkan harmoni, setiap anak perlu belajar mendengarkan.
Tidak boleh hanya ingin suaranya sendiri yang paling terdengar. Ada saatnya bernyanyi lebih kuat. Ada saatnya menyesuaikan suara dengan teman. Ada pula saatnya mengikuti tempo dan arahan bersama.
Bukankah kehidupan berbangsa juga demikian?
Indonesia terdiri atas beragam suku, bahasa, budaya, dan kebiasaan. Perbedaan tersebut tidak harus membuat kita berjalan sendiri-sendiri. Justru, ketika setiap orang mampu saling mendengarkan dan menghargai, perbedaan dapat membentuk sebuah harmoni.
Dari sebuah paduan suara, anak-anak mendapatkan pengalaman sederhana tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Skill Challenge & Puzzle: Tantangan Keterampilan yang Menguji Kekompakan
Kalau biasanya keterampilan sehari-hari dilakukan sendiri, kali ini peserta didik diajak mengubahnya menjadi sebuah tantangan seru yang dilakukan secara beregu. Dalam Skill Challenge & Puzzle, setiap regu harus menyelesaikan rangkaian tantangan secara berurutan.
Tantangan dimulai dengan hal yang dekat dengan keseharian anak: mencopot kancing, memakai baju, memasang kembali kancing, melepas baju, hingga melipatnya kembali dengan rapi.
Setelah menyelesaikan rangkaian tersebut, perjuangan belum berakhir. Regu kemudian harus menyusun puzzle bertema kemerdekaan. Potongan-potongan puzzle perlu disusun menjadi satu kesatuan yang tepat. Anak-anak dituntut untuk mengamati, berpikir, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan anggota regunya.
Setelah puzzle tersusun, tantangan terakhir menanti: menali sepatu. Semua dilakukan dalam suasana penuh semangat. Setiap anggota regu memiliki peran untuk membantu tim menyelesaikan tantangan.
Dan tentu saja, ada satu hal yang membuat kompetisi semakin seru:
regu yang paling cepat menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan menjadi pemenangnya.
Namun, kecepatan bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Anak-anak perlu belajar membagi tugas, berkomunikasi, saling membantu, dan tetap fokus ketika menghadapi tantangan.
Aktivitas memakai dan melepas baju, memasang kancing, serta menali sepatu juga dekat dengan kemampuan kemandirian dan keterampilan hidup sehari-hari. Sementara puzzle memberikan kesempatan bagi anak untuk mengasah kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Dari satu rangkaian permainan, anak mendapatkan pengalaman bahwa kemandirian dan kerja sama dapat berjalan bersama.
Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah regu berarti bukan hanya ingin menjadi yang tercepat, tetapi juga memastikan teman satu tim dapat menyelesaikan bagiannya.
Liga Permainan Tradisional: Serunya Bermain seperti Generasi Terdahulu
Di tengah perkembangan teknologi dan berbagai permainan digital, Liga Permainan Tradisional menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Salah satu keseruan dalam rangkaian ini adalah lomba bakiak. Anak-anak diajak menggunakan bakiak dan bergerak bersama anggota tim. Agar dapat melangkah dengan baik, setiap anggota perlu menyelaraskan gerakan dan mengikuti ritme kelompok.
Satu langkah yang terlalu cepat dapat membuat langkah berikutnya berantakan.
Karena itu, lomba bakiak bukan sekadar perlombaan untuk mencapai garis akhir secepat mungkin. Anak-anak belajar bahwa untuk bergerak bersama, mereka perlu berkomunikasi, mendengarkan, menjaga keseimbangan, dan saling menyesuaikan.
Di sinilah permainan tradisional menjadi media belajar yang menyenangkan. Anak perlu bergerak aktif, mengikuti aturan, menyusun strategi, berinteraksi langsung dengan teman, menerima kemenangan, sekaligus belajar menghadapi kekalahan.
- Ada sportivitas.
- Ada komunikasi.
- Ada kerja sama.
- Ada kelincahan.
- Ada pula kegembiraan yang lahir dari interaksi langsung bersama teman-teman.
Melalui Liga Permainan Tradisional, anak-anak tidak hanya bermain. Mereka ikut merawat salah satu bagian dari kekayaan budaya Indonesia agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Mencocokkan Baju Adat dan Rumah Adat: Seberapa Kenal Kita dengan Indonesia?
Keseruan mengenal Nusantara semakin lengkap melalui Festival Mencocokkan Baju Adat dan Rumah Adat. Anak-anak ditantang mengenali dan menghubungkan kekayaan budaya dengan daerah asalnya.
- Rumah adat yang bentuknya berbeda-beda.
- Pakaian adat dengan warna dan karakteristik yang khas.
- Setiap daerah memiliki identitasnya sendiri.
Aktivitas mencocokkan seperti ini membuat pembelajaran budaya terasa lebih dekat dan menyenangkan. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut mengamati, mengingat, membandingkan, dan menentukan jawaban.
Dari sini, peserta didik belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang perlu diseragamkan. Justru, keberagaman itulah yang membuat Indonesia begitu kaya.
Festival Kemerdekaan 2026 Bukan Hanya tentang Menjadi Juara
Dalam sebuah festival tentu ada semangat untuk memberikan penampilan terbaik. Ada yang berhasil menyelesaikan tantangan lebih cepat. Ada kelompok yang tampil lebih kompak. Ada pula peserta didik yang mendapatkan apresiasi.
Namun pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan: “Siapa yang menang?” Yang jauh lebih penting adalah: “Apa yang dipelajari anak dari proses tersebut?”
- Ketika berlatih tari, mereka belajar disiplin.
- Ketika bernyanyi bersama, mereka belajar harmoni.
- Ketika menghadapi puzzle, mereka belajar memecahkan masalah.
- Ketika memainkan bakiak, mereka belajar berkoordinasi dan sportivitas.
- Ketika mengenal pakaian dan rumah adat, mereka belajar menghargai keberagaman.
- Ketika menyelesaikan tantangan memakai baju dan menali sepatu, mereka belajar mandiri.
Dengan demikian, Festival Kemerdekaan menjadi ruang belajar yang lebih luas daripada sebuah perlombaan.
Semangat Berlanjut di Hari Pramuka
Cerita Festival Kemerdekaan belum selesai. Keesokan harinya, Jumat, 14 Agustus 2026, semangat kemerdekaan berlanjut bertepatan dengan Hari Pramuka.
Peserta didik SD Islam Bintang Juara mengikuti Upacara Hari Pramuka, dilanjutkan dengan Pembagian Apresiasi Festival Kemerdekaan dan satu kegiatan yang membawa anak-anak menuju suasana yang lebih reflektif: Renungan Anak Negeri.
Setelah sehari sebelumnya dipenuhi sorak, gerak, permainan, lagu, dan tantangan, kini anak-anak diajak sejenak mengendapkan semua pengalaman tersebut.
Sebab mencintai Indonesia bukan hanya tentang mengetahui budayanya. Cinta juga membutuhkan harapan dan kepedulian.
Renungan Anak Negeri: Jika Bisa Menulis untuk Indonesia, Apa yang Akan Kamu Katakan?
Pada sesi Renungan Anak Negeri, peserta didik kelas 4-6 diajak melakukan sesuatu yang sederhana: menulis surat untuk Indonesia.
Bayangkan selembar kertas berada di hadapan mereka. Kali ini bukan soal pelajaran yang harus dijawab. Bukan pula puzzle yang harus diselesaikan. Anak-anak bebas menuangkan apa yang ingin mereka sampaikan kepada negerinya. Mungkin ada yang menuliskan rasa syukur karena dapat hidup di Indonesia.
- Ada yang berharap Indonesia semakin maju.
- Ada yang ingin lingkungan negeri ini tetap hijau dan bersih.
- Ada yang mendoakan masyarakatnya hidup damai.
- Ada anak yang menuliskan mimpi sederhana tentang apa yang kelak ingin ia lakukan untuk bangsanya.
Setiap surat dapat memiliki cerita yang berbeda. Namun melalui proses menulis tersebut, anak-anak belajar bahwa Indonesia bukan sekadar nama negara yang tertulis pada buku pelajaran.
Indonesia adalah rumah mereka. Tempat mereka tumbuh. Tempat keluarga mereka tinggal. Dan kelak, tempat mereka mengambil peran.
Mengapa Anak Perlu Belajar Mengungkapkan Harapan untuk Negerinya?
Mengajak anak menulis surat untuk Indonesia menjadi salah satu cara sederhana untuk menumbuhkan kemampuan refleksi.
Anak tidak hanya diminta mengetahui fakta tentang negaranya, tetapi diajak memikirkan:
- Apa yang aku sukai dari Indonesia?
- Indonesia seperti apa yang aku harapkan di masa depan?
- Apa yang bisa aku lakukan untuk menjadi bagian dari masa depan tersebut?
Dari pertanyaan sederhana itu, rasa cinta tanah air perlahan bergerak dari sekadar pengetahuan menuju kesadaran.
Bagi SD Islam Bintang Juara yang membawa semangat Sekolah Calon Pemimpin Muslim, pengalaman seperti ini menjadi penting.
Sebab calon pemimpin tidak cukup hanya cerdas. Ia perlu mengenal lingkungan dan bangsanya, menghargai keberagaman, mampu bekerja sama, berani menghadapi tantangan, menjunjung sportivitas, serta memiliki kepedulian terhadap masa depan.
Merdeka Hari Ini, Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Festival Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara pada 13–14 Agustus 2026 akhirnya bukan hanya meninggalkan cerita tentang tari daerah, lagu, puzzle, permainan tradisional, atau pembagian apresiasi.
Ada sesuatu yang lebih besar yang ingin ditanamkan. Rasa memiliki terhadap Indonesia.
- Hari ini, anak-anak mungkin baru mengenal Indonesia melalui tari dan lagu daerah.
- Hari ini, mereka mungkin baru belajar sportivitas melalui permainan.
- Hari ini, mereka mungkin baru menuliskan beberapa kalimat sederhana dalam surat untuk Indonesia.
Namun kelak, anak-anak inilah yang akan tumbuh menjadi bagian dari generasi penerus bangsa. Karena itu, pendidikan tentang cinta tanah air tidak cukup berhenti pada hafalan. Anak perlu mengalami, mengenal, merasakan, lalu merefleksikan.
Dari sanalah rasa cinta dapat bertumbuh lebih bermakna. Dan melalui Festival Kemerdekaan tahun ini, kakak-kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara kembali belajar bahwa menjadi anak Indonesia berarti bangga dengan budayanya, menghargai perbedaannya, memberikan yang terbaik dalam setiap proses, dan memiliki mimpi untuk negerinya.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Teruslah bertumbuh, Anak Negeri. Hari ini kalian menulis harapan untuk Indonesia. Kelak, insyaallah, kalianlah yang ikut mewujudkannya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 7, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Ada satu kegelisahan sederhana yang mungkin jarang kita sadari.
Anak-anak tumbuh di tanah Jawa. Mereka melihat tradisi Jawa, mendengar tembang Jawa, mengenal makanan khas Jawa, bahkan tinggal di lingkungan yang masih lekat dengan budaya Jawa. Namun, bagaimana dengan bahasanya?
Apakah mereka masih terbiasa mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari?
Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi salah satu alasan hadirnya Sedinten Basa Jawi di SD Islam Bintang Juara.
Program ini biasanya dilaksanakan satu hingga dua bulan sekali, sebagai ruang bagi anak-anak untuk kembali dekat dengan Bahasa Jawa melalui kebiasaan sederhana. Pada bulan Agustus 2026, Sedinten Basa Jawi dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Bukan sekadar program berbahasa Jawa selama satu hari. Ada pesan yang lebih besar di baliknya: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri.
Bahasa Bukan Sekadar Alat Berbicara
Bahasa sering kali kita anggap hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Padahal, bahasa membawa sesuatu yang jauh lebih dalam.
Di dalam bahasa ada cerita. Ada cara pandang. Ada kebiasaan. Ada nilai kesopanan. Ada budaya. Bahkan ada identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Begitu pula dengan Bahasa Jawa.
Ketika seorang anak belajar menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya ia tidak hanya sedang mempelajari kosakata baru. Ia sedang berkenalan dengan salah satu bagian dari budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Karena itu, menjaga Bahasa Jawa bukan berarti mengajak anak untuk meninggalkan bahasa lain. Justru sebaliknya, anak dapat tumbuh dengan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa sekaligus tetap mengenal akar budayanya.
Di tengah dunia yang semakin terbuka, mengenal identitas lokal menjadi bagian penting agar anak tidak kehilangan pijakan.
Sedinten Basa Jawi: Memberi Ruang untuk Berlatih
Lalu, bagaimana cara mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak agar tidak terasa seperti pelajaran yang berat?
Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan untuk menggunakannya secara langsung.
Itulah semangat yang dibawa melalui Sedinten Basa Jawi.
Pada hari tersebut, anak-anak mendapatkan ruang untuk kembali mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sederhana serta kebiasaan sehari-hari.
- Tidak harus langsung sempurna.
- Tidak harus langsung hafal banyak kosakata.
- Tidak harus langsung lancar menggunakan seluruh tingkatan bahasa.
Yang terpenting adalah anak-anak memiliki kesempatan untuk mencoba.
Sebab, sebuah bahasa akan lebih mudah melekat ketika tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan.
Dari sapaan sederhana, percakapan dengan teman, interaksi dengan guru, hingga berbagai komunikasi kecil yang terjadi selama berada di lingkungan sekolah, Bahasa Jawa perlahan kembali hadir dalam keseharian anak.
Belajar dari Hal-Hal yang Sederhana
Bayangkan seorang anak yang biasanya berbicara dengan Bahasa Indonesia kepada temannya, kemudian mencoba menggunakan Bahasa Jawa.
- Mungkin awalnya terasa canggung.
- Mungkin ada kata yang lupa.
- Mungkin pengucapannya belum tepat.
Namun, dari proses mencoba itulah pembelajaran terjadi.
Anak belajar bahwa tidak apa-apa melakukan kesalahan ketika sedang belajar.
Anak juga belajar mendengarkan bagaimana orang lain menggunakan Bahasa Jawa, kemudian mencoba mengikutinya.
- Pelan-pelan, kosakata bertambah.
- Pelan-pelan, rasa percaya diri tumbuh.
Dan yang tidak kalah penting, anak mulai menyadari bahwa Bahasa Jawa adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.
Inilah mengapa Sedinten Basa Jawi tidak perlu dipandang sebagai kegiatan yang harus menghasilkan kemampuan berbahasa secara instan.
Tujuannya adalah membuka pintu.
- Memberikan pengalaman.
- Membangun kebiasaan.
- Menumbuhkan kedekatan.
Mengapa Bahasa Daerah Perlu Dikenalkan Sejak Anak-Anak?
Anak-anak adalah generasi yang akan membawa budaya ke masa depan. Jika sebuah bahasa tidak lagi digunakan oleh generasi penerusnya, lama-kelamaan bahasa tersebut dapat semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pengenalan Bahasa Jawa sejak usia sekolah menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keberlanjutannya. Namun, upaya menjaga bahasa daerah tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Rumah memiliki peran yang sangat besar.
Sekolah dapat memberikan pengalaman dan ruang belajar, sementara keluarga dapat membantu menghadirkan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.
Misalnya, Ayah Bunda dapat sesekali menyapa anak menggunakan Bahasa Jawa, mengajak berbincang dengan kosakata sederhana, atau mengenalkan ungkapan-ungkapan Jawa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak perlu menunggu anak fasih. Mulai saja dari satu atau dua percakapan sederhana. Karena pelestarian bahasa sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil: sebuah percakapan di rumah.
Dari Bahasa, Anak Belajar Mengenal Budaya
Menariknya, ketika anak semakin dekat dengan sebuah bahasa, mereka juga berkesempatan mengenal budaya yang menyertainya. Bahasa Jawa memiliki banyak bentuk ungkapan yang mengajarkan kesantunan dalam berkomunikasi.
Dengan demikian, penggunaan Bahasa Jawa juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai-nilai dalam interaksi sosial.
Anak belajar bahwa berbicara dengan orang lain perlu memperhatikan siapa lawan bicaranya, bagaimana cara menyampaikan sesuatu, dan bagaimana menjaga perasaan orang lain.
Tentu, Sedinten Basa Jawi bukan satu-satunya cara untuk membangun karakter tersebut.
Namun, melalui kebiasaan berbahasa, anak mendapatkan pengalaman nyata bahwa cara berbicara juga merupakan bagian dari cara menghargai orang lain.
Tidak Harus Sempurna, yang Penting Mau Mencoba
Salah satu hal yang ingin dijaga melalui Sedinten Basa Jawi adalah suasana belajar yang tidak membuat anak takut mencoba.
Sebab, ketika anak merasa bahwa setiap kesalahan akan langsung dianggap salah, mereka justru bisa kehilangan keberanian untuk menggunakan Bahasa Jawa.
Padahal, proses belajar membutuhkan ruang untuk mencoba. Hari ini mungkin baru berani mengucapkan satu kalimat. Besok mungkin sudah berani berbicara lebih panjang.
Di kesempatan berikutnya, mungkin sudah mulai terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ketika bertemu guru atau teman.
Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Yang penting, ada pengalaman yang terus berulang. Karena kebiasaan yang sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna.
Sedinten Basa Jawi, Sebuah Pengingat untuk Kita Semua
Program yang hadir di sekolah tentu memiliki alasan di baliknya. Begitu pula Sedinten Basa Jawi.
Program ini lahir dari kegelisahan sederhana: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri. Maka, satu hari diberikan sebagai ruang untuk kembali mendekat.
- Mendengar.
- Mencoba.
- Berbicara.
- Dan menikmati kembali Bahasa Jawa sebagai bagian dari keseharian.
Bukan untuk membuat anak merasa bahwa bahasa daerah lebih baik daripada bahasa lainnya. Bukan pula untuk membatasi mereka dari perkembangan zaman.
Justru sebaliknya.
Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang mampu melangkah ke dunia yang luas tanpa kehilangan akar yang membuat mereka mengenal siapa dirinya.
- Mereka boleh menguasai bahasa Indonesia.
- Mereka boleh belajar bahasa asing.
- Mereka boleh hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya global.
Namun, semoga mereka tetap tahu dari mana mereka berasal. Tetap mengenal budaya di sekitarnya.
Dan tetap mampu berkata dengan bangga:
“Iki basaku. Iki budayaku.”
Menjaga Bahasa, Menjaga Cerita
Pada akhirnya, Sedinten Basa Jawi bukan sekadar tentang satu hari menggunakan Bahasa Jawa di sekolah.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa ada warisan yang perlu terus dikenalkan kepada anak-anak.
- Sebab bahasa membawa cerita.
- Bahasa membawa budaya.
- Bahasa membawa identitas.
Dan ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya kita sedang memberi mereka kesempatan untuk mengenal salah satu bagian dari dirinya sendiri.
Semoga dari percakapan-percakapan kecil di sekolah, tumbuh rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya.
Semoga dari satu hari Sedinten Basa Jawi, lahir kebiasaan-kebiasaan baik yang terus terbawa ke rumah.
Dan semoga anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, percaya diri, terbuka terhadap dunia, tetapi tetap mengenal dan mencintai akar budayanya.
Karena menjadi generasi hebat bukan berarti harus meninggalkan apa yang diwariskan. Justru generasi hebat adalah mereka yang mampu membawa warisan baik dari masa lalu untuk terus hidup di masa depan.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 23, 2026 | Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberi permen, boleh diterima?”
Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh kedua narasumber pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Sontak membuat ratusan tangan mungil terangkat. Ada yang menjawab “boleh”, ada yang mulai ragu, dan sebagian lainnya dengan lantang mengatakan, “Tidak boleh!”
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan. Di baliknya tersimpan pelajaran penting yang mungkin dapat menyelamatkan masa depan seorang anak.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Kamis, 23 Juli 2026, SD Islam Bintang Juara menghadirkan peringatan yang berbeda. Mengusung tema “Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba)”, sekolah tidak hanya mengajak anak-anak bergembira, tetapi juga membekali mereka dengan bekal kehidupan yang sangat penting: menjaga kesehatan tubuh, berani mengatakan tidak pada narkoba, serta membangun karakter sebagai calon pemimpin muslim yang mampu menjaga diri di tengah tantangan zaman.
Menariknya, kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di dua lokasi berbeda agar materi dapat disampaikan sesuai usia dan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Hari Anak Nasional tahun ini benar-benar menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Hari Anak Nasional 2026, Saatnya Melindungi Masa Depan Anak Indonesia
Hari Anak Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan dunia anak. Lebih dari itu, HAN menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung cita-citanya.
Di era sekarang, tantangan anak tidak lagi hanya sebatas belajar membaca atau berhitung. Mereka juga harus dibekali kemampuan memilih makanan sehat, mengenali bahaya narkoba yang semakin beragam bentuknya, serta berani menolak ajakan yang membahayakan dirinya.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara memilih menghadirkan dua kegiatan edukatif yang saling melengkapi.
Anak-anak kelas rendah diperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui dongeng yang menyenangkan. Sementara kakak-kakak kelas atas memperoleh edukasi langsung mengenai bahaya narkoba bersama narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menjaga amanah Allah berupa tubuh dan masa depannya.
Belajar Lewat Dongeng: Kak Kempho Mengajak Anak Mencegah Stunting Sejak Dini
Di area kelas 2, suasana dipenuhi gelak tawa ketika Kak Kempho mulai mendongeng di hadapan siswa kelas 1-3.
Namun di balik cerita yang menghibur, tersimpan pesan yang sangat serius.
Anak-anak diajak memahami apa itu stunting, mengapa tubuh membutuhkan makanan bergizi, dan bagaimana kebiasaan makan hari ini akan menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.
Melalui bahasa yang sederhana, Kak Kempho menjelaskan bahwa menjadi anak hebat bukan berarti selalu makan makanan yang viral atau jajanan berwarna-warni.
Sebaliknya, tubuh membutuhkan makanan yang mengandung protein, sayur, buah, susu, dan berbagai nutrisi lain agar otak berkembang optimal, tubuh tumbuh kuat, dan semangat belajar tetap terjaga.
Kak Kempho juga mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan MSG berlebihan, gula tinggi, serta jajanan yang tidak jelas kandungan gizinya.
Anak-anak pun mulai menyadari bahwa memilih makanan sehat merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.

Permen Tidak Selalu Manis, Ada Bahaya yang Harus Diwaspadai
Di penghujung dongeng, suasana mendadak berubah serius. Kak Kempho menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana.
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan permen, bagaimana?”
Anak-anak mulai berpikir.
Lalu Kak Kempho menjelaskan bahwa saat ini ada oknum yang menyalahgunakan narkoba dengan cara menyamarkannya menjadi bentuk yang sangat akrab dengan anak-anak, seperti permen, minuman, jajanan, bahkan makanan ringan.
Pesan yang disampaikan sangat jelas:
Jangan menerima makanan ataupun minuman dari orang yang tidak dikenal.
Anak-anak belajar bahwa kewaspadaan bukan berarti curiga kepada semua orang, tetapi menjadi bentuk ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.
Bersama BNN Jawa Tengah, Mengenal Bahaya Narkoba Sejak Dini
Sementara itu, di ruang kelas 4 dan kelas 6, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti sesi edukasi bersama Pak Dela Sulistiyawan Yunior, S.I.Kom., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Materi diawali dengan cara yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Pak Dela mengajak siswa menyaksikan sebuah video, kemudian berdiskusi tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga programmer.
Dari sinilah Pak Dela menghubungkan satu pesan penting:
Semua cita-cita membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Karena itu, narkoba harus dijauhi.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan pengertian narkoba, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang dapat merusak tubuh maupun otak manusia.
Narkoba Kini Hadir dalam Bentuk yang Tidak Disangka
Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika Pak Dela menunjukkan bahwa narkoba tidak selalu berbentuk seperti yang sering terlihat di televisi.
Justru saat ini narkoba dapat disamarkan dalam bentuk yang sangat akrab dengan kehidupan anak, seperti:
- Permen
- Minuman
- Jajanan
- Roti atau makanan ringan
Materi tersebut membuat kakak shalih-shalihah semakin memahami mengapa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang asing.
Pesan sederhana ini sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.
Mengapa Orang Bisa Terjerumus Narkoba?
Melalui sesi tanya jawab interaktif, Pak Dela menjelaskan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba karena berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh lingkungan pertemanan, keluarga, maupun kondisi psikologis seseorang.
Anak-anak diajak memahami bahwa memilih teman yang baik juga merupakan bagian dari menjaga diri. Mereka pun belajar bahwa keputusan kecil hari ini akan sangat menentukan masa depan.

Rokok dan Minuman Keras Juga Berbahaya
Pak Dela menegaskan bahwa ancaman bagi generasi muda bukan hanya narkoba. Rokok dan minuman keras juga sama-sama berbahaya.
Rokok dapat merusak paru-paru, memicu penyakit kronis, bahkan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Sementara minuman keras dapat merusak kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan seseorang.
Pesan ini menjadi penguatan bahwa hidup sehat bukan sekadar menghindari narkoba, tetapi juga menjauhi seluruh kebiasaan yang merusak tubuh.
Berani Menolak Adalah Bentuk Keberanian Sejati
Bagian paling seru terjadi ketika seluruh siswa diajak mempraktikkan bagaimana cara menolak jika diberi makanan atau minuman oleh orang yang tidak dikenal.
Pak Dela memberikan tiga langkah sederhana yang mudah diingat anak-anak:
- Tolak dengan sopan.
- Tolak disertai alasan.
- Segera pergi atau menghindar dari situasi tersebut.
Praktik ini membuat anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan nyata apabila suatu saat menghadapi situasi serupa.
Inilah bentuk pendidikan yang aplikatif—belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk bertindak dengan benar.
Menjadi Generasi BERSINAR Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Dalam materinya, Pak Dela juga mengajak siswa melakukan berbagai kebiasaan positif agar terhindar dari narkoba.
Di antaranya:
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
- Rajin berolahraga.
- Tidak jajan sembarangan.
- Belajar dengan sungguh-sungguh.
- Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
- Tidak mengonsumsi obat tanpa arahan orang tua atau tenaga kesehatan.
- Bergaul di lingkungan yang baik.
- Berani menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.
Semua kebiasaan tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk menghindari narkoba, tetapi juga membentuk gaya hidup sehat yang akan membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.
SD Islam Bintang Juara memilih tema “Membangun Generasi Bintang Juara Bersinar (Bersih Narkoba)” ternyata selaras dengan salah satu sub tema Hari Anak Nasional tahun ini. Ternyata, BNN juga sedang menggalakan program BERSINAR, yang baru saja launching secara serentak hari ini. Alhamdulillah, sekolah ini senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan.

Menjadi Calon Pemimpin Muslim yang Menjaga Amanah Allah
Hari Anak Nasional di SD Islam Bintang Juara tahun ini tidak berhenti pada slogan BERSINAR (Bersih Narkoba).
Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan cara pandang bahwa tubuh, akal, dan kesehatan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Seorang calon pemimpin muslim bukan hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, memilih lingkungan yang baik, berani berkata tidak terhadap ajakan yang salah, serta hidup sehat agar dapat terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Inilah makna pendidikan karakter yang terus dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.
Karena kami percaya, membangun generasi hebat tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan. Anak-anak juga perlu dibekali keberanian untuk memilih yang benar, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan adab dalam setiap langkah kehidupan.
Semoga semangat Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara bahwa setiap anak adalah cahaya masa depan. Ketika mereka tumbuh sehat, beradab, bebas dari narkoba, dan memiliki cita-cita yang kuat, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena di SD Islam Bintang Juara, kami tidak hanya mendidik anak menjadi pintar. Kami menyiapkan mereka menjadi pemimpin muslim yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan siap menjadi solusi bagi tantangan zamannya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 17, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?
Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim
Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.”
Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.
Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.
Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.
Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan
Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.

Apel Pembukaan
Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.
Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.
Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah
Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.
Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.
Pesona Bintang Juara
Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.
Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.
Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.
Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.
Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.
Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif
Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.

Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.
Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.
Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu
Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.
Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.
Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi
Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.
Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.

Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.
Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.
Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik
Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)
Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.
Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.
Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama
Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.
Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.
Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.
Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.
Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna
Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.
Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)