by admin admin | Oct 23, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Suasana Sentra Balok di PAUD Islam Bintang Juara pagi itu tampak ramai oleh tawa dan semangat anak-anak. Hari ini istimewa, karena Sentra Balok kedatangan kakak dari Kelas 1.
Deretan balok kayu berwarna-warni tersusun di meja, siap menjadi “alat belajar” untuk mengenal bangun ruang. Namun, yang menarik bukan sekadar hasil akhirnya—melainkan proses belajar yang penuh interaksi, tanya-jawab, dan eksplorasi. Guru hanya memberi panduan awal, lalu biarkan anak-anak menemukan sendiri bentuk-bentuk seperti kubus, balok, prisma, dan tabung dari media yang ada di sekitar mereka.
Manfaat Belajar Bangun Ruang di Sentra Balok
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran tematik yang dirancang agar anak belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya menghafal konsep. Dari bentuk sederhana seperti kotak susu, tempat pensil, hingga menara balok yang mereka susun sendiri, semua menjadi jembatan menuju pemahaman konsep bangun ruang secara alami.
1. Menguatkan Literasi dan Numerasi Anak
Melalui kegiatan bermain sambil belajar di Sentra Balok, anak-anak belajar mengaitkan bentuk konkret dengan konsep numerik. Mereka menghitung jumlah balok yang dibutuhkan, memperkirakan tinggi bangunan, hingga mengamati perbedaan bentuk dan ukuran.
Inilah bentuk nyata dari literasi numerasi — anak memahami angka, ukuran, dan logika ruang melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.
2. Mengasah Kemampuan Memecahkan Masalah
Setiap kali bangunannya roboh atau bentuknya tidak sesuai rencana, anak-anak belajar untuk mencari solusi sendiri. Ada yang memperbaiki pondasi, ada yang menukar balok, bahkan ada yang berdiskusi dengan temannya untuk mencari cara terbaik.
Proses ini menumbuhkan daya juang, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis — kemampuan penting yang menjadi dasar pembelajaran mendalam.
3. Melatih Kolaborasi dan Komunikasi
Belajar di Sentra Balok juga menjadi momen untuk belajar kerjasama dan komunikasi efektif. Anak-anak membagi tugas, saling memberi ide, dan menghargai pendapat teman.
Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan agar setiap anak mendapat kesempatan berkontribusi. Aktivitas seperti ini menjadi latihan sosial yang penting di usia dini, sekaligus membentuk karakter saling menghargai dalam kerja tim.
4. Membantu Guru Membaca Profil Tahap Perkembangan Siswa
Kegiatan ini juga memberikan kesempatan berharga bagi guru untuk membaca profil tahap perkembangan setiap anak. Melalui observasi aktivitas, guru bisa mengenali gaya belajar, kekuatan, dan tantangan yang dimiliki anak.
Apakah ia lebih analitis, komunikatif, atau kreatif? Semua bisa terlihat dari cara anak berinteraksi dan bereksperimen selama bermain di sentra.
5. Menguatkan Dimensi Profil Lulusan dalam Pembelajaran Mendalam
Belajar bangun ruang di Sentra Balok juga selaras dengan dimensi profil lulusan dalam pembelajaran mendalam, yaitu:
- Beriman dan berkarakter kuat, dengan belajar sabar dan teliti dalam membangun.
- Bernalar kritis dan kreatif, melalui eksplorasi bentuk dan strategi penyusunan balok.
Mampu berkolaborasi dan berkomunikasi, saat bekerja sama menyusun bangun ruang.
Dengan begitu, proses belajar ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga membentuk kepribadian dan kemampuan esensial anak di masa depan.
Belajar yang Bermakna dan Menyenangkan
Belajar bangun ruang di Sentra Balok bukan sekadar pelajaran matematika. Ia adalah pengalaman yang membentuk cara berpikir dan karakter anak secara utuh — belajar dengan gembira, berpikir kritis, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Inilah esensi pembelajaran mendalam di SD Islam Bintang Juara: membangun pemahaman yang hidup di hati dan pikiran anak, bukan sekadar hafalan di atas kertas.***(CM-MRT)
by admin admin | Oct 22, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Semarang, 21 Oktober 2025 – Langit siang itu tampak cerah dari Lantai 2 SD Islam Bintang Juara. Para kakak shalih dan shalihah berkumpul dengan semangat berbeda dari biasanya —hari ini mereka merayakan Peringatan Hari Santri Nasional 2025. Bukan sekadar upacara atau seremonial, peringatan kali ini begitu istimewa karena dihadiri oleh tamu kehormatan dari tanah penuh berkah: Syeikh Othman Abbas dari Yaffa, Palestina.
Sejak awal acara dimulai, suasana terasa hangat sekaligus haru. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema, menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Guru, siswa, dan orang tua yang hadir seolah tersentuh oleh getaran spiritual yang kuat.
Syeikh Othman Abbas: Tamu dari Tanah Para Syuhada
Syeikh Othman Abbas bukan sekadar tamu biasa. Beliau datang membawa pesan, kisah, dan keteladanan dari tanah suci yang penuh perjuangan—Palestina. Dalam tausiyahnya, beliau menceritakan tentang semangat para penghafal Al-Qur’an di tengah kondisi sulit, bahkan di bawah ancaman perang dan keterbatasan.
Dengan lembut dan penuh kasih, beliau berkata bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk diingat, tapi juga untuk dijaga dan diamalkan.
Beliau mengingatkan anak-anak agar tidak hanya bangga menjadi penghafal, tapi juga menjadikan hafalan itu cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Para kakak mendengarkan dengan khidmat, beberapa bahkan tampak terharu. Melalui kisah yang disampaikan Syeikh, mereka memahami bahwa menjadi santri sejati berarti berjuang, bersabar, dan selalu mencintai Al-Qur’an, di mana pun berada.
Pesan tentang Doa dan Cinta untuk Palestina
Momen paling menggetarkan adalah ketika Syeikh Othman Abbas mengajak seluruh hadirin untuk berdoa bersama bagi keselamatan dan kebebasan rakyat Palestina. Tangan-tangan kecil para kakak terangkat, bibir mereka bergerak lirih mengucap doa. Di antara suara yang bergetar, ada ketulusan yang begitu dalam—doa dari hati anak-anak Indonesia untuk saudara seiman mereka di negeri jauh.
Guru-guru memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan nilai ukhuwah Islamiyah dan empati global: bahwa umat Islam adalah satu tubuh, dan doa adalah bentuk cinta yang paling indah. “Dari sekolah kita yang kecil ini,” ujar salah satu guru, “kita bisa menyalakan cahaya besar untuk dunia—melalui doa dan hafalan kita.”
Meneladani Semangat Santri: Menjaga Hafalan, Menjaga Hati
Selain mengenalkan kisah Palestina, kegiatan Hari Santri kali ini juga menjadi pengingat penting bagi para kakak untuk menjaga hafalan Al-Qur’an mereka dengan sungguh-sungguh.
Syeikh Othman Abbas berpesan bahwa hafalan bukan sekadar angka juz, tapi cermin dari keistiqamahan hati.
“Setiap ayat yang kalian hafal akan menjadi pelindung,” kata beliau lembut, “dan setiap kali kalian membaca, Allah sedang meneguhkan iman di hati kalian.”
Pesan ini menjadi pembelajaran berharga yang melampaui batas waktu. Kakak-kakak Bintang Juara belajar bahwa menjaga hafalan berarti menjaga hubungan dengan Allah, dan bahwa menjadi santri adalah pilihan hati yang penuh makna.
Nilai-Nilai yang Ditanamkan dalam Hari Santri 2025
Kegiatan penuh makna ini menanamkan berbagai nilai penting yang sejalan dengan dimensi profil lulusan dalam pembelajaran mendalam, antara lain:
- Kemandirian Spiritual: Anak-anak belajar menguatkan ibadah dan menjaga hafalan dengan kesadaran diri, bukan karena disuruh.
- Empati dan Kepedulian: Doa untuk Palestina menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama, meskipun berbeda jarak dan budaya.
- Literasi Keagamaan: Mereka mengenal sosok ulama dunia Islam dan memahami pentingnya dakwah dalam bentuk ilmu dan keteladanan.
- Rasa Syukur dan Tanggung Jawab: Melihat perjuangan rakyat Palestina, anak-anak belajar bersyukur atas kedamaian yang mereka rasakan di Indonesia.
Kesimpulan: Menjadi Santri di Zaman Kini
Peringatan Hari Santri 2025 di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan hati untuk memperkuat iman, menjaga hafalan, dan menyalakan doa untuk sesama.
Melalui kisah dan nasihat dari Syeikh Othman Abbas, anak-anak memahami bahwa santri bukan hanya yang tinggal di pesantren—tapi siapa pun yang berjuang menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupannya.
Hari itu, cahaya iman menyinari halaman sekolah. Dari tangan-tangan kecil yang berdoa, mengalir harapan besar: semoga cahaya Islam terus bersinar, dari Bintang Juara untuk dunia.***(CM-MRT)
by admin admin | Oct 21, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pernah mendengar istilah “tandur”? Kata sederhana ini menjadi awal petualangan tak terlupakan bagi kakak-kakak kelas 1 SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan Outing Class ke Desa Wisata Kandri pada hari Selasa, 21 Oktober 2025.
Sejak pagi, wajah antusias tampak di setiap langkah mereka. Seragam olahraga yang biasanya rapi, kali ini siap kotor oleh lumpur dan tawa. Kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan—ini adalah pengalaman belajar langsung dari alam, tentang kerja keras, kehidupan, dan rasa syukur.
Mengenal “Tandur”: Belajar dari Tangan Para Petani
Di Desa Wisata Kandri, anak-anak diajak mengenal proses tandur, yaitu menanam padi di sawah berlumpur.
Awalnya ada yang ragu melangkah, takut kotor atau licin. Tapi begitu kaki mereka menyentuh lumpur dingin, rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Dengan bimbingan petani setempat, mereka menancapkan benih padi satu per satu. Dari kegiatan ini, kakak-kakak belajar bahwa nasi yang mereka makan setiap hari lahir dari kerja keras banyak tangan. Prosesnya tidak instan, butuh waktu, kesabaran, dan ketelatenan—nilai yang menjadi bagian penting dari pembelajaran karakter di SD Islam Bintang Juara.
Menangkap Lele: Seru, Kotor, tapi Penuh Makna
Setelah menanam padi, kegiatan berlanjut ke lomba menangkap ikan lele di kubangan lumpur.
Suasana riuh penuh tawa pecah di mana-mana. Ada yang tergelincir, ada yang hampir menyerah, tapi semuanya tertawa bahagia. Dari kegiatan sederhana ini, mereka belajar berani mencoba, pantang menyerah, dan menikmati proses.
Guru-guru mendampingi dengan penuh semangat, membantu anak-anak memahami bahwa belajar tak selalu di dalam kelas. Alam adalah guru yang luar biasa, dan lumpur pun bisa jadi sumber ilmu.
Mengenal Ekosistem dan Lingkungan Buatan
Selain sawah, anak-anak juga diajak berkeliling lingkungan buatan di Desa Wisata Kandri.
Mereka belajar tentang bagaimana manusia menciptakan tempat wisata edukatif yang tetap menjaga keseimbangan alam. Dari sana, anak-anak memahami bahwa setiap ciptaan Allah, baik dari alam maupun hasil karya manusia, punya makna dan manfaat tersendiri.
Nilai Pembelajaran yang Ditanam dari Outing Class
Outing Class kali ini bukan hanya tentang bermain, tetapi juga menanamkan berbagai nilai penting yang menjadi bagian dari dimensi profil lulusan dalam pembelajaran mendalam, antara lain:
1. Kemandirian dan Tanggung Jawab
Anak-anak belajar melakukan aktivitas sendiri, menjaga peralatan, dan berani mengambil keputusan kecil di lapangan.
2. Kolaborasi dan Gotong Royong
Saat menanam dan menangkap lele, mereka saling membantu, tertawa bersama, dan belajar bahwa kerja tim menghasilkan kebahagiaan yang lebih besar.
3. Berpikir Kritis dan Reflektif
Mereka diajak bertanya: “Kenapa padi harus ditanam di lumpur?” atau “Bagaimana lele bisa hidup di air keruh?” — pertanyaan sederhana yang menumbuhkan rasa ingin tahu ilmiah.
4. Rasa Syukur dan Kepedulian
Melalui kegiatan ini, anak-anak memahami betapa besar perjuangan petani, dan belajar bersyukur atas setiap butir nasi yang mereka makan.
Kesimpulan: Belajar Tak Selalu di Dalam Kelas
Kegiatan Outing Class Kelas 1 SD Islam Bintang Juara di Desa Wisata Kandri menjadi pengalaman belajar yang tak hanya meninggalkan kesan, tapi juga makna. Dari sawah yang berlumpur hingga tawa di kolam lele, semuanya mengajarkan bahwa belajar bisa terjadi di mana saja, dan bahwa rasa syukur tumbuh dari pengalaman nyata, bukan hanya dari kata-kata.
Di akhir kegiatan, para guru tersenyum bangga. Hari itu, anak-anak bukan hanya belajar tentang tandur—mereka belajar tentang kehidupan.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 20, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Belajar tidak selalu harus di ruang kelas. Pada Jumat, 17 Oktober 2025, kakak-kakak kelas 3A dan 3B SD Islam Bintang Juara berkesempatan mengikuti Outing Class Project Based Learning (PjBL) dengan tema Pelestarian Makhluk Hidup Melalui Upaya Budidaya Tanaman dan Hewan di Ecofarm Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Udara segar, hamparan hijau, dan suara alam yang menenangkan menyambut kedatangan rombongan pagi itu. Kegiatan dimulai dengan pengenalan singkat tentang Ecofarm, tempat belajar berbasis ekologi yang menjadi laboratorium hidup bagi para pengunjung untuk belajar tentang keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.
Berkenalan dengan Ekosistem di Ecofarm
Setelah perkenalan, kakak-kakak diajak berkeliling mengenal ekosistem di Ecofarm. Fasilitator menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup—baik tanaman, hewan, maupun mikroorganisme—memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Kakak belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga tentang memahami hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.
Masuk ke Rumah Maggot: Belajar dari Lalat yang Bermanfaat
Bagian paling menarik dimulai saat kakak-kakak masuk ke Rumah Maggot. Di sini, mereka diperkenalkan dengan larva lalat BSF (Black Soldier Fly). Meski terdengar menyeramkan, ternyata maggot justru memiliki banyak manfaat — salah satunya sebagai pengurai alami sampah organik dan sumber pakan ikan.
Kakak melihat langsung proses budidaya maggot, mulai dari telur BSF hingga menjadi pupa. “Wow! Jadi ini asalnya maggot?” tanya salah satu kakak dengan takjub. Fasilitator pun menjelaskan dengan sabar bagaimana maggot membantu menjaga lingkungan dari tumpukan sampah organik.
Belajar Budidaya Ikan dan Sayuran Sekaligus
Petualangan berlanjut ke area kolam ikan. Di sana, kakak-kakak dikenalkan dengan budidaya lele dan ikan nila yang ditumpangkan dengan tanaman kangkung di atasnya. Sistem ini disebut akuaponik, yaitu sistem yang memanfaatkan kotoran ikan sebagai pupuk alami bagi tanaman.
Melihat ikan berenang di bawah sambil kangkung tumbuh segar di atasnya membuat anak-anak memahami bahwa alam punya cara cerdas untuk saling membantu. Semua makhluk hidup saling mendukung agar bisa bertahan — konsep yang sangat relevan dengan tema pelestarian makhluk hidup.
Praktik Hidroponik: Menanam Bayam dan Panen Pokchoy
Selanjutnya, kakak diajak menanam bibit bayam dengan metode hidroponik. Dengan antusias, mereka belajar bagaimana air dan nutrisi menjadi media tumbuh pengganti tanah. Setelah itu, kakak juga memanen pokchoy dari kebun hidroponik, hasil dari perawatan para pengelola Ecofarm.
Salah satu fasilitator menjelaskan, “Kalau tanaman butuh nutrisi, tujuannya agar sehat dan tumbuh maksimal. Di hidroponik, kadar nutrisinya bisa diukur dengan tepat.” Dijelaskan pula bahwa tantangan utama hidroponik adalah menjaga pH air agar stabil — karena saat cuaca panas, pH bisa meningkat dan memengaruhi penyerapan nutrisi.
Menanam Bibit Tomat dan Tanya Jawab Seru
Setelah belajar hidroponik, kakak menanam bibit tomat di polybag menggunakan media tanam campuran tanah dan kompos. Dari penjelasan fasilitator, mereka tahu bahwa tomat bisa dipanen setelah dua bulan!
Kakak shalih-shalihah pun semangat bertanya. Salah satunya, Kak Saka, bertanya, “Kenapa tanaman butuh nutrisi?” Fasilitator menjawab, “Supaya tanaman tumbuh sehat dan kuat, seperti manusia yang butuh makan.”
Tak hanya itu, kakak juga belajar bahwa gulma bisa menghambat pertumbuhan tanaman lain karena menyerap nutrisi yang seharusnya dibutuhkan tanaman utama.
Buah Tangan dan Ilmu yang Tak Tergantikan
Sebagai penutup, kakak-kakak membawa pulang bibit tomat dan pokchoy hasil panen sendiri. Kebahagiaan tampak jelas di wajah mereka — bukan hanya karena bisa membawa hasil tangan mereka sendiri, tetapi juga karena mendapatkan pengalaman belajar yang tak terlupakan.
Manfaat Outing Class di Ecofarm untuk Kakak Kelas 3
Kegiatan ini memberikan banyak manfaat yang mendukung penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learning) di SD Islam Bintang Juara, antara lain:
1. Belajar dari Pengalaman Nyata
Kakak belajar langsung dari alam, bukan hanya lewat buku. Ini membantu membangun pemahaman konseptual dan pengalaman autentik tentang pelestarian makhluk hidup.
2. Mengembangkan Penalaran Kritis dan Rasa Ingin Tahu
Lewat tanya jawab dengan fasilitator, kakak belajar berpikir kritis dan memahami sebab-akibat dalam proses budidaya tanaman dan hewan.
3. Menumbuhkan Kolaborasi dan Kemandirian
Kegiatan dilakukan secara kelompok, mendorong anak untuk saling membantu, berdiskusi, dan bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing.
4. Membangun Fondasi untuk Proyek PjBL
Pengalaman ini menjadi dasar penting untuk melanjutkan proyek pelestarian makhluk hidup di kelas, baik berupa observasi, menanam tanaman, atau membuat laporan hasil pengamatan.
Penutup: Dari Ecofarm, Tumbuh Cinta Alam dan Ilmu
Outing Class ke Ecofarm UNNES bukan sekadar kegiatan rekreasi. Ia menjadi pembelajaran bermakna yang menanamkan nilai berkesadaran, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan bekal pengalaman ini, kakak-kakak kelas 3 siap melanjutkan PjBL mereka dengan semangat baru — menjaga bumi, mulai dari hal-hal kecil yang mereka pahami dan lakukan sendiri.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 18, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Bagi siswa SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ bukan sekadar menghafal ayat suci Al-Qur’an, melainkan juga bentuk latihan keikhlasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab spiritual.
Secara sederhana, Tasmi’ berarti memperdengarkan hafalan Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru atau penguji. Kegiatan ini menjadi momen istimewa, karena para peserta tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga menguji ketenangan hati dan ketulusan niat mereka dalam mencintai Kalamullah.
Di SD Islam Bintang Juara, kegiatan Tasmi’ menjadi bagian penting dari program pembinaan keislaman. Selain untuk memastikan ketepatan hafalan, kegiatan ini juga melatih keberanian anak-anak tampil di depan umum — dengan landasan adab dan kesungguhan.
Sabtu yang Penuh Cahaya di SD Islam Bintang Juara
Pada Sabtu, 18 Oktober 2025, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Sejak pagi, lantunan ayat suci terdengar lembut dari ruang Kelas 4A, 4B, 5, dan 6. Hari itu, sekolah mengadakan Ujian Tasmi’ Semester 1 Tahun Pelajaran 2025–2026, yang diikuti oleh 16 kakak shalih-shalihah pilihan.
Mereka adalah:
Kak Rafif Al, Kak Danendra, Kak Aqasha, Kak Nadhif, Kak Kenzi, Kak Ciello, Kak Ghaza, Kak Fatih, Kak Hanum, Kak Hasna, Kak Ayla, Kak Yulia, Kak Najma, Kak Shafna, Kak Nura, dan Kak Adzkiya.
Ada kakak yang menampilkan hafalan Juz 29, ada pula yang menampilkan Juz 30. Dua juz yang berisi banyak surat pendek dan menjadi dasar bagi hafalan para penghafal cilik.

Ujian di Hadapan Orang Tua dan Tim Penguji
Yang membuat suasana semakin haru adalah, setiap peserta membacakan hafalan di hadapan kedua orang tua serta tim penguji dari SD Islam Bintang Juara. Ada yang tampak tenang, ada pula yang berusaha menahan degup jantungnya agar tidak kalah cepat dari lidah yang melafazkan ayat-ayat suci.
Para orang tua menyimak dengan penuh bangga — ada senyum haru, bahkan tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika mendengar anaknya melantunkan ayat dengan suara lembut dan penuh penghayatan. Ujian ini bukan hanya tentang berapa banyak ayat yang diingat, tapi tentang seberapa dalam makna Al-Qur’an hadir dalam hati anak-anak mereka.
Menapaki Jalan Hafalan dengan Kesungguhan
Setelah setiap peserta menyelesaikan tasmi’-nya, tim penguji memberikan penilaian terkait ketepatan bacaan, tajwid, dan kelancaran hafalan.
Dari hasil penilaian itu akan ditentukan apakah peserta dinyatakan lulus atau perlu mengulang sebagian bagian hafalannya di kesempatan berikutnya.
Namun, tidak ada kata gagal dalam perjalanan ini. Karena setiap langkah menghafal Al-Qur’an adalah amal yang bernilai.
Seperti yang sering disampaikan para guru:
“Yang penting bukan siapa yang paling cepat khatam, tapi siapa yang paling tulus menjaga hafalannya.”
Menuju Puncak Tasmi’: Perayaan para Penghafal Cilik
Bagi kakak-kakak yang dinyatakan lulus, mereka akan melangkah ke tahap berikutnya, yakni Puncak Tasmi’ yang akan dilaksanakan pada akhir Semester 2. Di momen itulah, para penghafal cilik akan tampil bersama teman-teman yang lulus di semester berikutnya, memperdengarkan hafalan dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Acara Puncak Tasmi’ ini menjadi bentuk apresiasi atas ketekunan dan komitmen kakak shalih-shalihah dalam menjaga Al-Qur’an. Bukan hanya sebagai penghafal, tetapi juga pengamal nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat Tasmi’ untuk Kakak Shalih-Shalihah
Selain menilai kemampuan hafalan, kegiatan Tasmi’ memberikan banyak manfaat yang mendukung pembentukan karakter dan spiritualitas anak-anak Bintang Juara:
1. Menguatkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an
Tasmi’ menumbuhkan rasa cinta mendalam terhadap Al-Qur’an. Anak belajar bahwa membaca dan menghafal bukan kewajiban semata, melainkan sumber ketenangan hati.
2. Melatih Fokus dan Disiplin
Untuk tampil di depan penguji, kakak harus berlatih dengan konsisten. Proses ini membentuk pola pikir teratur dan melatih fokus — keterampilan penting dalam belajar dan kehidupan.
3. Menumbuhkan Keberanian dan Percaya Diri
Melantunkan hafalan di depan orang tua dan guru membuat anak belajar mengelola rasa gugup, berbicara dengan lantang, serta menghargai usaha diri sendiri.
4. Menguatkan Nilai Spiritual dan Akhlak
Tasmi’ menjadi sarana pembentukan karakter. Anak belajar rendah hati, tidak cepat puas, dan selalu berusaha memperbaiki bacaan agar lebih baik lagi.
5. Mengasah Kolaborasi antara Sekolah dan Orang Tua
Kegiatan ini menguatkan sinergi antara pendidikan di sekolah dan pembiasaan di rumah. Orang tua turut mendampingi, memberi semangat, dan menyaksikan buah dari proses panjang anak dalam menghafal.
Penutup: Dari Lantunan Ayat, Lahir Generasi Qur’ani
Ujian Tasmi’ Semester 1 di SD Islam Bintang Juara bukan hanya ajang uji hafalan, tapi perjalanan spiritual yang menumbuhkan nilai keikhlasan, disiplin, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Dari lantunan ayat-ayat suci yang terdengar hari itu, terpancar cahaya harapan — semoga setiap anak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak, berilmu, dan beradab.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 17, 2025 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Siapa bilang belajar matematika itu harus serius dan membosankan? Di SD Islam Bintang Juara, belajar justru dibuat menyenangkan dan dekat dengan dunia anak-anak.
Seperti kegiatan BBOT (Bintang Belajar on Tuesday) kali ini yang diikuti oleh siswa-siswi kelas 2B, dengan tema “Yuk Belajar Bersama Mengenal Pecahan.”
Yang istimewa, sesi ini menghadirkan Ayah Hendrata Febri Aditya, ayah dari kak Adinata, yang dengan penuh semangat berbagi cara seru untuk memahami konsep pecahan.
Pecahan Lewat Gambar: Langkah Awal yang Mudah Dipahami
Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep pecahan lewat gambar. Ayah Hendra menampilkan berbagai ilustrasi yang sederhana dan menarik—mulai dari potongan buah, kue, hingga bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa bagian.
Dengan cara ini, anak-anak bisa melihat langsung hubungan antara “bagian” dan “keseluruhan” tanpa harus terpaku pada angka semata.
“Kalau donat ini dibagi dua, berarti masing-masing dapat setengah ya, Kak!” ujar Ayah Hendra sambil menggambar donat di papan tulis.
Anak-anak pun antusias menebak, menyebut “satu per dua!” sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi.
Demonstrasi Donat: Pecahan yang Bisa Dimakan
Bagian paling seru tentu saat demonstrasi membagi donat!
Setiap anak memperhatikan dengan seksama ketika donat dibagi menjadi dua bagian sama besar. Dari situ, mereka belajar tentang pecahan setengah (½) secara nyata.
Ada yang tertawa karena “setengah donat” ternyata masih bisa dimakan, ada juga yang penasaran kalau donatnya dibagi empat, apakah ukurannya makin kecil?
Melalui pengalaman konkret ini, anak-anak belajar bahwa pecahan bukan sekadar angka—melainkan cara untuk memahami pembagian dari sesuatu yang utuh.
Kertas Warna-Warni Jadi Media Belajar Kreatif
Tak berhenti di situ, kegiatan dilanjutkan dengan praktik melipat dan memotong kertas warna-warni. Kakak kelas 2B diminta melipat kertas menjadi dua bagian, empat bagian, hingga tiga dari empat bagian. Dari aktivitas sederhana ini, mereka belajar tentang 1, ½, ¼, dan ¾, sekaligus mengenal mana yang disebut pembilang dan mana yang disebut penyebut.
Dengan pendekatan visual dan kinestetik seperti ini, anak-anak tidak hanya menghafal, tapi benar-benar memahami makna setiap pecahan melalui pengalaman langsung.
Manfaat Belajar Pecahan dengan Cara Kontekstual
Kegiatan BBOT kali ini bukan sekadar belajar matematika, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mendalam yang menumbuhkan berbagai dimensi kemampuan anak, seperti:
1. Menguatkan Literasi Numerasi
Anak belajar menggunakan angka dalam konteks nyata, memahami hubungan bagian dan keseluruhan, serta berpikir logis saat membagi benda menjadi beberapa bagian.
2. Melatih Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
Dengan mencoba berbagai cara membagi donat atau melipat kertas, anak dilatih untuk menemukan solusi dan memahami konsep melalui eksperimen sederhana.
3. Menumbuhkan Kolaborasi dan Rasa Percaya Diri
Kegiatan dilakukan dalam suasana kolaboratif — anak berdiskusi, menebak, dan belajar bersama. Masing-masing diberi kesempatan untuk berbagi hasil lipatannya atau menjelaskan pecahan yang ia temukan.
4. Membantu Guru Melihat Tahap Perkembangan Siswa
Melalui aktivitas ini, guru dapat mengamati sejauh mana pemahaman numerasi setiap anak berkembang, serta menyesuaikan strategi pembelajaran berikutnya agar lebih bermakna.
Kesimpulan: Belajar yang Bermakna, Menyenangkan, dan Dekat dengan Dunia Anak
Dari donat hingga kertas warna-warni, anak-anak kelas 2B telah belajar banyak tentang pecahan tanpa merasa sedang “belajar matematika.”
Pendekatan kontekstual seperti ini membantu anak memahami konsep secara alami, berani bereksperimen, dan belajar berpikir logis sejak dini.
Kegiatan BBOT bersama Ayah Hendra bukan hanya memberikan ilmu baru, tapi juga menghadirkan inspirasi bahwa setiap orang tua bisa menjadi bagian dari proses belajar anak di sekolah.
Dengan cara yang menyenangkan, SD Islam Bintang Juara terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran mendalam yang membentuk pemahaman, karakter, dan rasa ingin tahu anak.*** (CM-MRT)