fbpx
TKA Bukan Sekadar Tes: BBOT Kelas 6 Belajar Daya Juang Bersama Ayah Mustafa

TKA Bukan Sekadar Tes: BBOT Kelas 6 Belajar Daya Juang Bersama Ayah Mustafa

Suasana ruang kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 27 Januari 2026 terasa berbeda dari biasanya. Meja dan kursi tertata rapi, wajah kakak shalih-shalihah tampak antusias, dan di depan kelas berdiri seorang sosok yang tak asing namun membawa perspektif baru: Ayah Mustafa, orang tua dari Kak Nadhif. Hari itu, kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) kembali digelar, mengangkat tema yang relevan dengan fase belajar kakak kelas 6:

“TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang.”

Tema ini bukan tanpa alasan. Kakak kelas 6 sedang berada pada fase penting dalam perjalanan akademiknya. Di hadapan mereka, ada tantangan baru bernama TKA (Tes Kemampuan Akademik) — sebuah asesmen yang sering kali dipersepsikan sebagai ujian menegangkan. Namun, melalui sesi BBOT ini, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah memandang TKA dari sudut yang lebih luas dan bermakna.

Mengenal TKA: Lebih dari Sekadar Angka di Kertas

Di awal sesi, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami terlebih dahulu: apa itu TKA? Dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak, beliau menjelaskan bahwa TKA bukanlah tes untuk mencari siapa yang paling pintar, melainkan sarana untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang

Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai memahami bahwa TKA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, TKA adalah bagian dari proses belajar yang membantu siswa mengenali kekuatan dan area yang masih perlu ditingkatkan.

Dua Pondasi Penting: Kompetensi dan Kompetisi

Setelah pemahaman dasar tentang TKA, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah menyelami dua pondasi penting untuk “menaklukkan” TKA, yaitu kompetensi dan kompetisi.

Kompetensi dimaknai sebagai kemampuan diri — hasil dari proses belajar, berlatih, dan memahami materi secara konsisten. Ayah Mustafa menekankan bahwa kompetensi tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: mau mencoba soal, mau bertanya saat belum paham, dan mau memperbaiki kesalahan.

Sementara itu, kompetisi bukan tentang mengalahkan teman, melainkan tentang bersaing secara sehat dengan diri sendiri. Apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Apakah sudah berani mencoba soal yang sebelumnya terasa sulit? Perspektif ini membuat kakak shalih-shalihah menyadari bahwa kompetisi sejati bukan soal ranking, tetapi tentang proses bertumbuh.

Belajar Daya Juang Lewat Latihan Soal Bersama

Sesi semakin seru ketika Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk langsung mempraktikkan latihan soal. Namun, yang membuat sesi ini berbeda adalah pendekatannya. Latihan soal tidak dilakukan secara individual dan sunyi, melainkan melalui diskusi dan kerja bersama.

Di sinilah nilai daya juang benar-benar ditanamkan. Kakak shalih-shalihah diajak untuk tidak menyerah ketika menemui soal sulit. Mereka didorong untuk mencoba, berdiskusi, dan mencari strategi bersama. Ketika ada yang belum paham, teman lain membantu. Ketika ada yang ragu, yang lain memberi semangat.

Ayah Mustafa mengingatkan dengan kalimat yang membekas di benak kakak shalih-shalihah:

“Nggak perlu nunggu jadi anak super pinter untuk berbagi. Meski tahunya cuma sedikit, berbagi saja.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa berbagi ilmu bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi tentang keberanian untuk membantu dan kepedulian terhadap sesama.

Saling Bantu, Saling Menguatkan

Nilai kebersamaan terasa kental sepanjang sesi. Kakak shalih-shalihah belajar bahwa dalam menghadapi TKA — dan tantangan hidup lainnya — mereka tidak harus berjalan sendiri. Budaya saling bantu menjadi kekuatan besar.

Ada kakak yang awalnya ragu menjawab soal, namun menjadi lebih percaya diri setelah berdiskusi. Ada pula yang awalnya cepat memahami, lalu belajar bersabar saat membantu temannya. Dari sini, karakter empati, kepemimpinan, dan kerja sama tumbuh secara alami.

BBOT hari itu membuktikan bahwa pembelajaran karakter tidak selalu harus melalui ceramah panjang. Justru melalui aktivitas sederhana yang nyata, nilai-nilai itu bisa tertanam lebih kuat.

Menutup dengan Contoh Soal TKA: Berani Mencoba Sampai Akhir

Sebagai penutup, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah mengerjakan contoh soal TKA. Kali ini, suasana kelas terasa lebih tenang dan percaya diri. Bukan karena semua soal terasa mudah, tetapi karena kakak shalih-shalihah sudah dibekali mindset yang tepat: mencoba dengan sungguh-sungguh, tidak takut salah, dan siap belajar dari proses.

Di akhir sesi, terlihat senyum lega di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka pulang dengan pemahaman baru bahwa TKA bukan sekadar tes akademik, melainkan media untuk melatih daya juang, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat.

BBOT: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua untuk Pendidikan Bermakna

Kegiatan BBOT kelas 6 bersama Ayah Mustafa menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu menghadirkan pembelajaran yang utuh. Tidak hanya fokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter anak.

Melalui tema “TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang”, kakak shalih-shalihah belajar bahwa keberhasilan bukan hanya soal nilai, tetapi tentang proses, usaha, dan sikap pantang menyerah. Bekal inilah yang diharapkan akan mereka bawa, tidak hanya saat menghadapi TKA, tetapi juga dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Karena sejatinya, anak yang berdaya juang tinggi akan selalu siap menghadapi tantangan apa pun, dengan atau tanpa tes.***

BBOT Kelas 4A: Belajar Profesi Teknisi Elektromedis Bersama Orang Tua Murid

BBOT Kelas 4A: Belajar Profesi Teknisi Elektromedis Bersama Orang Tua Murid

Pagi itu, suasana ruang Kelas 4A terasa berbeda. Bukan hanya karena meja dan kursi tertata rapi, tetapi karena rasa penasaran yang terpancar dari wajah kakak shalih-shalihah. Senin, 27 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4A. Mereka tidak hanya belajar dari guru di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua murid melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).

Kegiatan BBOT kali ini menghadirkan Ayah Feni Tutut, orang tua dari Kak Kaysa Lani, yang berbagi pengalaman dan ilmu dengan tema “Teknisi Elektromedis: Menjaga Alat Medis Tetap Aman”. Sebuah tema yang terdengar kompleks, namun justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang seru, kontekstual, dan penuh makna bagi anak-anak.

Belajar Profesi dari Dunia Nyata

Kegiatan diawali dengan pengenalan profesi teknisi elektromedis. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ayah Feni mengajak kakak shalih-shalihah memahami bahwa di balik alat-alat medis yang sering mereka lihat di rumah sakit—seperti alat cek jantung, alat infus, hingga monitor pasien—ada profesi penting yang bertugas memastikan semua alat tersebut aman dan berfungsi dengan baik.

Kakak shalih-shalihah tampak antusias saat Ayah Feni menjelaskan apa saja tugas seorang teknisi elektromedis;

  • Mulai dari memasang alat medis,
  • melakukan pengecekan rutin,
  • memperbaiki jika ada kerusakan,
  • hingga memastikan alat tersebut aman digunakan oleh pasien dan tenaga kesehatan.

Dari sini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa sebuah profesi tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan dampak bagi keselamatan orang lain.

Tak hanya bercerita, Ayah Feni juga mengenalkan berbagai alat yang digunakan oleh teknisi elektromedis. Kakak shalih-shalihah diajak membayangkan bagaimana alat-alat tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pembelajaran pun terasa hidup, karena kakak tidak hanya mendengar, tetapi juga membangun imajinasi dan pemahaman tentang dunia kerja yang nyata.

Belajar Berpikir Kritis: Fakta atau Opini?

Setelah pengenalan profesi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik. Ayah Feni menyampaikan beberapa statement seputar dunia elektromedis, lalu kakak shalih-shalihah diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut termasuk fakta atau opini.

Di sinilah kemampuan berpikir kritis kakak mulai terasah. Mereka belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya begitu saja. Ada pernyataan yang berdasarkan data dan kenyataan (fakta), ada pula yang berupa pandangan atau pendapat pribadi (opini).

Diskusi kecil pun terjadi. Beberapa siswa mengangkat tangan, menyampaikan alasan mengapa mereka memilih fakta atau opini. Kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis, sekaligus belajar menghargai pandangan teman-temannya. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan penting dalam membangun literasi informasi dan nalar kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.

Debat Seru: Manusia vs Robot

Puncak keseruan kegiatan BBOT kelas 4A terjadi saat Ayah Feni membagi siswa menjadi dua kelompok besar: kelompok shalih dan kelompok shalihah. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan yang sama menariknya, yaitu berdebat dengan topik:

“Di masa depan, dunia akan lebih membutuhkan teknisi manusia atau teknisi dalam bentuk robot?”

Satu kelompok berperan sebagai tim pendukung teknisi manusia, sementara kelompok lainnya menjadi tim pendukung teknisi robot. Kakak shalih-shalihah diminta menyusun argumen, berdiskusi dengan kelompoknya, lalu memaparkan alasan di depan kelas.

Suasana kelas pun berubah menjadi arena diskusi yang hidup. Ada yang berpendapat bahwa teknisi manusia tetap dibutuhkan karena memiliki empati, bisa berpikir fleksibel, dan memahami situasi secara mendalam. Di sisi lain, tim pendukung robot menyampaikan argumen bahwa robot lebih presisi, tidak mudah lelah, dan bisa bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.

Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan soal siapa yang menang, melainkan prosesnya. Kakak shalih-shalihah belajar berani berbicara, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa dalam sebuah diskusi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru memperkaya pemikiran.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

Melalui kegiatan BBOT ini, siswa kelas 4A tidak hanya mengenal satu profesi baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh. Mereka belajar mengaitkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, memahami peran teknologi dalam dunia kerja, serta merenungkan masa depan yang akan mereka hadapi.

Kehadiran orang tua sebagai narasumber juga memberi kesan mendalam. Kakak shalih-shalihah melihat langsung bahwa orang tua mereka memiliki peran, keahlian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ini menjadi inspirasi tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga serta motivasi untuk terus belajar.

Belajar Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan

Kegiatan BBOT kelas 4A bersama Ayah Feni Tutut menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung aktif, menyenangkan, dan bermakna. Dari mengenal profesi teknisi elektromedis, membedakan fakta dan opini, hingga berdebat tentang masa depan teknologi, semua proses ini menanamkan keterampilan abad ke-21 dalam diri anak-anak.

Hari itu, kelas 4A tidak hanya belajar tentang alat medis atau robot. Mereka belajar tentang berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Sebuah bekal penting untuk perjalanan belajar mereka ke depan—karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak hari ini, tetapi tentang bagaimana mereka memandang dan mempersiapkan masa depan.*** (CM-MRT)

SD Islam Bintang Juara Pertama Kali Bacakan Ikrar Pelajar Indonesia di Upacara Bendera 26 Januari 2026

SD Islam Bintang Juara Pertama Kali Bacakan Ikrar Pelajar Indonesia di Upacara Bendera 26 Januari 2026

Di pagi Senin yang cerah, 26 Januari 2026, suara langkah kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara bergema di lapangan sekolah. Upacara bendera yang rutin digelar kini terasa istimewa — bukan hanya karena kehadiran guru, staf, dan seluruh siswa, tetapi karena hari itu menjadi momen bersejarah pertama kali sekolah membacakan “Ikrar Pelajar Indonesia” secara resmi. Sebuah langkah kecil di sekolah, namun bermakna besar dalam membentuk karakter generasi muda bangsa.

Gelombang semangat tampak dihiasi rasa haru dan bangga di wajah para siswa ketika Ikrar Pelajar Indonesia itu dibacakan bersama-sama setelah pembacaan Pancasila dan teks Pembukaan UUD 1945. Momen ini tak hanya menjadi rutinitas upacara, tetapi juga peneguhan nilai-nilai karakter dan nasionalisme yang hendak ditanamkan sejak usia dini.

Apa Itu Ikrar Pelajar Indonesia?

Ikrar Pelajar Indonesia adalah teks janji pelajar yang berisi komitmen moral dan perilaku yang diharapkan diamalkan oleh setiap peserta didik di tanah air. Ikrar ini dirancang sebagai pedoman sikap bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal belajar, menghormati orang tua dan guru, hidup rukun dengan teman-teman, serta mencintai tanah air Indonesia.

Bunyi ikrarnya sebagai berikut:

teks Ikrar pelajar Indonesia

Kalimat ini sederhana namun sarat makna — menjadi pengingat bagi kakak shalih-shalihah bahwa mereka bukan sekadar murid yang belajar di sekolah, tetapi juga penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab sosial, moral, dan kebangsaan.

Kenapa Ikrar Ini Penting Dibacakan di Upacara Bendera?

Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di awal minggu, tepatnya saat upacara bendera setiap hari Senin, memiliki tujuan strategis dalam pendidikan karakter yang lebih luas:

1. Menanamkan Nilai Nasionalisme Sejak Dini

Ikrar Pelajar Indonesia menekankan cinta tanah air dan rasa persatuan. Saat dibacakan bersama-sama, kakak shalih-shalihah diajak merasakan bahwa mereka adalah bagian dari identitas besar sebagai pelajar dan sebagai warga negara Indonesia.

2. Menguatkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab

Isi ikrar mencakup penghormatan kepada orang tua dan guru — ini membantu menanamkan sikap hormat dalam konteks kehidupan keluarga dan sekolah, yang merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.

3. Mendorong Kehidupan Rukun dan Toleran

Penggalan “rukun sama teman” memberi pesan kuat tentang pentingnya hubungan yang harmonis di lingkungan sekolah. Nilai ini menjadi dasar interaksi anak di ruang belajar maupun di luar kelas.

Dengan begitu, Ikrar Pelajar Indonesia bukan sekadar bacaan seremonial, tetapi alat pendidikan karakter yang hidup dalam kebiasaan sekolah.

Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026: Instruksi Utama Upacara Bendera

Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia di SD Islam Bintang Juara tidak lepas dari kebijakan baru yang dikeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Upacara Bendera di Sekolah. SE ini ditetapkan pada 23 Januari 2026 sebagai turunan arahan Presiden Republik Indonesia untuk menguatkan kegiatan upacara bendera sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Dalam SE tersebut, ada tiga instruksi utama yang mesti dilaksanakan oleh sekolah ketika menggelar upacara bendera nasional:

  1. Upacara Bendera Dilaksanakan Setiap Hari Senin
  2. Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia
  3. Menyanyikan Lagu “Rukun Sama Teman”

Ketiga instruksi ini bertujuan untuk menjadikan upacara bendera lebih bermakna, konsisten, dan kaya pesan karakter — bukan hanya sekadar ritual administratif. Informasi lebih lengkap mengenai tiga instruksi utama pada Upacara Bendera 2026 bisa dibaca di website official Sekolah Islam Bintang Juara.

Bagaimana SD Islam Bintang Juara Menyambut Kebijakan Ini?

Bagi SD Islam Bintang Juara, momen 26 Januari 2026 menjadi tonggak bersejarah. Sejak pagi hari, kakak shalih-shalihah tampak antusias mengenakan seragam putih–merah lengkap, berkumpul di lapangan dan menyusun barisan dengan tertib. Aura nasionalisme dan kebersamaan mengalir alami — bukan sekadar formalitas.

Ketika Ikrar Pelajar Indonesia dibacakan untuk pertama kalinya di sekolah ini, ada keheningan hening yang kemudian beralih menjadi tepuk tangan kecil penuh semangat. Bagi siswa yang sudah belajar tentang Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai kebangsaan, ini terasa seperti titik temu antara pembelajaran di kelas dan realitas hidup berbangsa.

Upacara itu juga menjadi kesempatan bagi guru, orang tua, dan seluruh sivitas akademika untuk menyadari kembali bahwa pendidikan karakter bukan terjadi hanya di buku pelajaran — tetapi ditanam melalui kebiasaan sehari-hari. Upacara bendera kini menjadi sarana edukatif yang hidup dan berkesan.

Manfaat Jangka Panjang untuk Kakak Shalih-shalihah

Pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia dan pelaksanaan upacara bendera yang konsisten memberikan manfaat besar bagi perkembangan anak, di antaranya:

1. Menguatkan Identitas Nasional

Kakak shalih-shalihah dipandu untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia — dengan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara.

2. Menanamkan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab

Upacara adalah sarana untuk belajar tertib, tepat waktu, dan menghormati simbol-simbol negara.

3. Membiasakan Sikap Hormat dan Toleransi

Melalui teks ikrar dan lagu yang menyertai upacara, anak-anak belajar nilai-nilai sosial penting seperti saling menghormati, rukun, dan cinta tanah air.

Penutup: Langkah Kecil Berarti Besar

Momen pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia pertama kali di SD Islam Bintang Juara pada 26 Januari 2026 bukan hanya menjadi catatan sejarah sekolah, tetapi juga simbol bangkitnya pendidikan karakter yang kontekstual dan bermakna. Ketika kakak shalih-shalihah membaca ikrar itu dengan suara lantang, mereka sedang membangun pondasi nasionalisme, toleransi, dan saling menghormati yang akan melekat dalam keseharian mereka.

Dengan demikian, kegiatan upacara bendera tak lagi sekadar rutinitas mingguan — tapi sebuah ruang pendidikan hidup yang menyentuh hati dan membentuk perilaku. *** (CM-MRT)

TKA untuk Anak SD: Menjadi Peta Perjalanan Belajar yang Bermakna

TKA untuk Anak SD: Menjadi Peta Perjalanan Belajar yang Bermakna

Pagi itu di ruang kelas SD Islam Bintang Juara, suasana belajar terasa berbeda. Beberapa kakak shalih-shalihah duduk lebih fokus, sesekali tersenyum saat berdiskusi kelompok, sementara yang lain menuliskan catatan kecil. Guru tersenyum melihat antusiasme mereka—bukan karena mereka sedang menghadapi ujian, tetapi karena mereka sedang membangun pemahaman baru tentang belajar itu proses yang penuh makna.

Salah satu topik yang mulai muncul di percakapan mereka adalah TKA—yang kini menjadi bagian dari percakapan besar di dunia pendidikan Indonesia. Banyak Ayah Bunda yang mungkin masih bertanya: apa sebenarnya TKA itu? Kenapa harus ada? Dan apa yang perlu disiapkan anak dan orang tua? Artikel ini akan menjawab semua itu secara komprehensif, dengan bahasa yang mudah dipahami dan cerita yang relevan dengan kehidupan anak SD.

Apa Itu TKA?

TKA, atau Tes Kemampuan Akademik, adalah bentuk asesmen standar nasional yang dirancang untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. TKA bertujuan memberikan gambaran yang objektif, adil, dan terstandar tentang kemampuan siswa di berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD.

Berbeda dari penilaian biasa yang dilakukan sekolah, TKA memiliki standar nasional yang sama bagi seluruh peserta di seluruh Indonesia. Hasilnya nantinya dapat memberikan gambaran capaian siswa yang tidak hanya berdasarkan rapor sekolah, tetapi melalui pengukuran terstandar yang dapat digunakan sebagai peta kemampuan akademik individual.

Penting dicatat bahwa TKA bersifat tidak wajib dan hasilnya tidak menentukan kelulusan dari sekolah. Murid yang tidak mengikuti TKA tetap bisa lulus dari satuan pendidikannya.

Mengapa TKA Diperkenalkan di Jenjang SD?

Di era pendidikan modern, semakin penting bagi sistem pendidikan untuk tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga memahami bagaimana kemampuan itu dibangun secara terukur dan objektif.

Selama ini, penilaian di sekolah cenderung bersifat internal dan berbeda-beda antar lembaga. Hal ini kadang menyulitkan jika hasil penilaian tersebut harus dibandingkan antar sekolah atau digunakan dalam seleksi akademik di jenjang lanjutan. TKA hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan laporan capaian akademik yang terstandar.

Untuk jenjang SD, pelaksanaan TKA direncanakan akan dimulai pada tahun pelajaran 2025–2026, sehingga Ayah Bunda dan sekolah kini mulai mempersiapkan diri menyambut pelaksanaannya.

Tujuan TKA: Lebih dari Sekadar Angka

Jika dipahami secara mendalam, TKA tidak hadir semata untuk memberikan nilai. Berikut ini beberapa tujuan utama TKA yang menjadi landasan pelaksanaannya:

1. Mengukur Capaian Akademik Siswa Secara Terstandar

TKA memberikan gambaran tentang kemampuan siswa dalam mata pelajaran utama, seperti Bahasa Indonesia dan Matematika di jenjang SD. Dengan format yang terstandar, hasilnya bisa dibandingkan secara nasional tanpa bias antar satuan pendidikan.

2. Menjadi Bahan Pertimbangan Seleksi Akademik

Walaupun tidak wajib, hasil TKA dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam seleksi akademik, seperti seleksi jenjang pendidikan berikutnya atau jalur prestasi.

3. Membantu Penyusunan Pembelajaran yang Lebih Tepat

Dengan mengetahui pola capaian siswa secara objektif, guru bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai kebutuhan – misalnya memperkuat materi yang masih lemah atau memberikan tantangan baru bagi yang sudah kuat dalam area tertentu.

4. Menyetarakan Hasil Belajar Formal dan Nonformal

TKA juga membantu menyetarakan hasil belajar antara siswa dari jalur formal, nonformal, maupun informal, karena ia dibuat dengan standar nasional yang sama.

Manfaat TKA Bagi Anak SD

Bagi siswa di sekolah dasar, TKA bukan sekadar tes yang membuat mereka “diukur”. Lebih dari itu, TKA memiliki manfaat yang mendukung proses belajar mereka secara lebih mendalam, di antaranya:

1. Memahami Diri sebagai Pelajar

Melalui TKA, siswa bisa mendapatkan gambaran tentang area kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan. Itu berarti anak belajar mengenali diri sebagai pelajar—apa yang sudah mereka kuasai, dan apa yang masih perlu dipelajari. Ini penting untuk membangun kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.

2. Meningkatkan Kebiasaan Belajar yang Sehat

Ketika anak tahu bahwa asesmen seperti TKA bukan sekadar ujian yang menakutkan, tetapi alat untuk melihat proses belajarnya, mereka bisa belajar dengan mindset yang lebih sehat: fokus pada pemahaman, bukan hanya angka. TKA membantu menggeser fokus dari sekadar “lulus” menjadi belajar untuk paham.

3. Membantu Orang Tua Mendampingi Secara Tepat

Hasil TKA dapat menjadi bahan dialog antara anak dengan orang tua tentang bagaimana cara belajar yang paling cocok untuk mereka. Orang tua jadi memiliki pijakan yang lebih kuat untuk mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah.

Persiapan Menghadapi TKA: Langkah Praktis bagi Anak SD

Berbeda dengan ujian konvensional yang sering menekankan hafalan, TKA lebih mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berpikir. Karena itu, persiapan menghadapi TKA tidak harus berupa latihan soal berlebihan.

Berikut beberapa strategi yang efektif dan ringan:

1. Membiasakan Belajar yang Bermakna

Membaca buku bersama, berdiskusi tentang bacaan tersebut, atau memecahkan masalah kecil sehari-hari dengan berpikir logis membantu anak membangun pola pikir yang kuat—modal penting menjawab soal TKA.

2. Latihan Simulasi Secara Sukarela

Pemerintah menyediakan simulasi TKA secara gratis yang dapat diakses oleh siswa dan orang tua sebagai bahan latihan (akses melalui portal simulasi resmi Kemendikdasmen). Simulasi ini memberi gambaran format soal dan kompetensi yang diukur, tanpa tekanan.

3. Membantu Anak Mengenali Kelemahan dan Kekuatan

Bukan hanya memberi jawaban, tetapi ajak anak merefleksikan mengapa mereka kesulitan di bagian tertentu. Ini membantu membangun strategi belajar yang lebih personal dan efektif.

4. Kesiapan Emosional adalah Kunci

Pastikan anak memahami bahwa mengikuti TKA bukan wajib dan tidak akan berdampak pada kelulusannya. Fokuskan pada proses belajar dan pemahaman, bukan angka atau perbandingan dengan teman.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi TKA

Orang tua memiliki peran penting dalam menyikapi TKA bersama anak. Dukungan orang tua tidak hanya berupa motivasi, tetapi juga tentang cara mendampingi belajar secara sehat.

1. Menjadi Sumber Dukungan Emosional

Anak cenderung merasa aman jika orang tua tenang dan mendukung. Jangan menjadikan TKA sebagai tekanan atau ajang kompetisi antar teman. Sebaliknya, orang tua bisa berbicara dengan bahasa yang memotivasi:

“Ini kesempatan untuk melihat apa yang sudah kamu pelajari, dan kita bisa terus belajar bersama.”

2. Membantu Merencanakan Belajar

Tanpa harus memaksa latihan soal, orang tua bisa membantu anak membuat jadwal belajar ringan yang konsisten. Ini bisa berupa waktu membaca bersama, latihan matematika sederhana, atau bermain logika yang mendukung kemampuan berpikir.

3. Menjadi Mitra Guru dalam Mengikuti Perkembangan Anak

Orang tua dapat berdiskusi dengan guru tentang hasil TKA. Guru bisa menjelaskan area yang perlu diperhatikan, sementara orang tua memberi informasi tentang pola belajar anak di rumah. Kerja sama ini akan memperkuat pembelajaran anak secara keseluruhan.

TKA Bukan Penentu Kelulusan—Itu Kelebihannya

Satu hal penting yang perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa TKA bukanlah alat untuk menentukan kelulusan siswa dari sekolah. Nilai TKA tidak tercantum di ijazah dan tidak menjadi syarat wajib untuk lulus.

Ini membuat TKA berbeda dengan ujian nasional lama yang menentukan status kelulusan. TKA hadir sebagai asesmen tambahan yang membantu siswa, sekolah, dan orang tua memahami capaian akademik secara standar, tanpa tekanan kelulusan. Ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar tanpa rasa takut—sebuah pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.

Kesimpulan: TKA Sebagai Bagian dari Perjalanan Belajar Anak

TKA untuk anak SD merupakan inovasi dalam sistem pendidikan yang memberi dampak positif jika disikapi dengan benar. Ia bukan sekadar tes, tetapi alat refleksi yang membantu siswa mengenali kemampuan akademiknya, membantu guru merencanakan pembelajaran yang lebih sesuai, serta membantu orang tua mendampingi dengan lebih efektif.

Dengan memahami tujuan, manfaat, persiapan yang tepat, serta peran orang tua secara bijak, TKA bisa menjadi peta perjalanan belajar anak yang bermakna, bukan sekadar angka di atas kertas.*** (CM-MRT)

Sumber:

  • https://pusmendik.kemdikbud.go.id/tka/
  • https://tka.kemendikdasmen.go.id/
  • https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13390
  • https://pusatinformasi.ult.kemendikdasmen.go.id/hc/id/articles/51898826959769-Kenali-Tes-Kemampuan-Akademik-TKA
Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini

Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini

Pagi itu, Selasa, 20 Januari 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Ada ketenangan yang menyelimuti, namun juga semangat yang hidup di wajah kakak shalih-shalihah. Hari itu bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan hari perenungan dan penguatan iman melalui Peringatan Hari Besar Islam Isra’ Mi’raj.

Dengan mengusung tema “Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini”, SD Islam Bintang Juara mengajak seluruh siswa untuk kembali menelusuri peristiwa agung yang menjadi tonggak utama kewajiban shalat. Sebuah peristiwa luar biasa yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dihidupkan maknanya dalam keseharian anak-anak.

Karena sejak awal, sekolah meyakini satu hal penting:

shalat bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa—dan cinta pada shalat perlu ditanamkan sedini mungkin, dengan cara yang tepat dan menggembirakan.

Isra’ Mi’raj: Peristiwa Langit yang Mengubah Kehidupan Umat

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari peristiwa inilah Allah ﷻ menghadiahkan shalat lima waktu sebagai ibadah utama umat Islam.

Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu di bumi, shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Rasul-Nya di langit. Ini menjadi isyarat kuat bahwa shalat memiliki kedudukan istimewa—sebagai penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.

Makna inilah yang ingin ditanamkan kepada kakak shalih-shalihah: bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, apalagi beban, tetapi hadiah penuh cinta dari Allah.

Belajar Shalat Sesuai Tahap Perkembangan Anak

Dalam peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, SD Islam Bintang Juara merancang rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar setiap jenjang kelas. Anak-anak tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak terlibat aktif—mendengar, mempraktikkan, berdiskusi, dan merefleksi.

Setiap jenjang memiliki pendekatan yang berbeda, namun tujuannya sama:

membangun pemahaman yang benar dan cinta yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan.

Kelas 1 dan 2: Berkisah, Meniru, dan Menumbuhkan Kebiasaan

Untuk kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2, kegiatan diawali dengan berkisah bersama Pak Solekan Al Hafidz. Dengan gaya tutur yang hangat dan bahasa yang dekat dengan dunia anak, Pak Solekan membawa anak-anak masuk ke dalam kisah Isra’ Mi’raj.

Bukan kisah yang rumit, melainkan cerita yang penuh imajinasi dan makna. Anak-anak diajak membayangkan perjalanan Rasulullah ﷺ, langit yang luas, dan betapa istimewanya shalat yang Allah perintahkan langsung.

Dari kisah tersebut, anak-anak mulai memahami bahwa:

  • shalat adalah perintah Allah,
  • shalat adalah bentuk cinta kepada Allah,
  • dan shalat perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Setelah sesi berkisah, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan adab berwudhu dan tata cara shalat. Anak-anak diajak meniru gerakan, memperhatikan urutan, serta mengenal sikap-sikap sederhana dalam shalat, seperti berdiri rapi, tertib, dan tenang.

Di usia ini, belajar shalat bukan tentang sempurna, melainkan tentang membiasakan. Anak belajar melalui meniru, mengulang, dan merasakan bahwa shalat adalah aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.

Kelas 3 dan 4: Aku Bisa Shalat dengan Benar

Berbeda dengan kelas bawah, kakak shalih-shalihah kelas 3 dan 4 mulai memasuki fase berpikir lebih sistematis. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun lebih reflektif dan partisipatif.

Dipandu oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz, kegiatan diawali dengan pemaparan materi bertema “Aku Bisa Shalat dengan Benar”. Anak-anak diajak memahami kembali:

  • rukun shalat,
  • urutan gerakan,
  • serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar shalat sah sesuai syariat.

Yang menarik, setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi shalat dan penilaian teman sebaya. Anak-anak saling bergantian menjadi pelaku dan pengamat. Dengan panduan yang jelas, mereka belajar mengamati apakah shalat temannya sudah sesuai atau belum.

Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga:

  • belajar mengamati,
  • belajar memberi masukan dengan santun,
  • dan belajar menerima koreksi dengan lapang dada.

Inilah proses penting dalam pembelajaran: belajar bersama, bukan saling menghakimi.

Kelas 5 dan 6: Mengapa Kita Harus Shalat?

Memasuki kelas 5 dan 6, anak-anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Mereka tidak lagi cukup hanya tahu “bagaimana”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa”.

Untuk itu, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sesi Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Mengapa Kita Harus Shalat?”, dipandu oleh Pak Ali As’ad Al Hafidz.

Dalam sesi ini, anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok diminta mengambil kertas berisi studi kasus yang berkaitan dengan shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh kasus yang dibahas:

“Jika sedang shalat, ada cicak yang buang kotoran di bahu kita, apakah batal shalat kita?”

Melalui diskusi ini, anak-anak diajak berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang mereka miliki. Setelah itu, Pak Ali memberikan penjelasan yang meluruskan pemahaman, sekaligus mencontohkan gerakan shalat yang tuma’ninah—tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh kesadaran.

Di sinilah anak-anak belajar bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi ibadah yang menuntut kehadiran hati.

Refleksi Bersama: Menilai dan Memperbaiki Kualitas Shalat

Setelah seluruh rangkaian kegiatan per jenjang selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penilaian praktik shalat secara individu untuk semua kelas. Penilaian ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana refleksi.

Anak-anak diajak:

  • mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
  • memperbaiki gerakan yang masih keliru,
  • dan menyadari bahwa kualitas shalat bisa terus ditingkatkan.

Refleksi ini menjadi penutup yang kuat, karena anak-anak tidak hanya pulang membawa cerita tentang Isra’ Mi’raj, tetapi juga kesadaran untuk memperbaiki shalat dalam keseharian.

Menanamkan Makna: Shalat adalah Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban

Dari seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan utama terus dikuatkan:
shalat bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan.

Shalat adalah:

  • tempat mengadu,
  • ruang menenangkan diri,
  • dan sarana mendekatkan hati kepada Allah.

Sebagaimana nasihat yang sering kita dengar dan kembali digaungkan dalam kegiatan ini:

“Perbaiki shalatmu, maka Allah SWT akan memperbaiki hidupmu.”

Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh orang dewasa yang membersamai mereka.

Penutup: Menumbuhkan Cinta Shalat sebagai Bekal Kehidupan

Peringatan Isra’ Mi’raj di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah proses pendidikan yang dirancang untuk menyentuh akal, hati, dan kebiasaan anak.

Melalui kisah, praktik, diskusi, dan refleksi, kakak shalih-shalihah belajar bahwa shalat adalah bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Bukan karena takut dimarahi, tetapi karena cinta yang tumbuh dari pemahaman.

Semoga dari kegiatan ini, tumbuh generasi yang:

  • mengenal shalat sejak dini,
  • mencintai shalat dengan sadar,
  • dan menjadikan shalat sebagai penopang hidupnya di masa depan.

Karena ketika shalat sudah tertanam di hati anak, insyaAllah ia akan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka ke mana pun mereka pergi.*** (CM-MRT)

Outing Class ke Planetarium UIN Walisongo: Petualangan Menjelajah Sistem Tata Surya

Outing Class ke Planetarium UIN Walisongo: Petualangan Menjelajah Sistem Tata Surya

Langit  pada Senin pagi (19 Januari 2026) itu terasa istimewa. Bukan hanya karena cuacanya yang cerah, tetapi karena ada rasa penasaran yang berbinar di mata kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara. Hari itu, kelas 1 dan kelas 6 bersiap melakukan sebuah perjalanan belajar yang berbeda dari biasanya—bukan sekadar duduk di kelas, melainkan menjelajah alam semesta.

Melalui kegiatan Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, anak-anak diajak mendekat pada ciptaan Allah yang begitu luas dan menakjubkan: langit dan seluruh isinya. Sebuah pengalaman belajar yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.

Belajar Sains dengan Cara yang Menghidupkan Rasa Ingin Tahu

Bagi SD Islam Bintang Juara, belajar sains bukan sekadar menghafal nama planet atau urutan tata surya. Sains adalah tentang mengamati, merasakan, bertanya, dan menemukan makna. Itulah mengapa kegiatan Outing Class ini dirancang sebagai pengalaman belajar langsung yang memberi kesan mendalam.

Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani dipilih karena menjadi ruang yang tepat untuk mengenalkan dunia astronomi secara nyata. Di tempat inilah, anak-anak dapat melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana ilmu pengetahuan berpadu dengan keagungan ciptaan Allah.

Sejak langkah pertama memasuki area planetarium, kakak shalih-shalihah sudah disambut dengan suasana yang memicu rasa ingin tahu. Bangunan, alat-alat observasi, dan penjelasan awal dari pemandu membuat anak-anak semakin antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

1. Meneropong Langit: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Teleskop

Salah satu momen yang paling ditunggu adalah kesempatan meneropong benda langit menggunakan teleskop. Bagi banyak anak, ini adalah pengalaman pertama mereka melihat langit melalui alat observasi sungguhan.

Dengan bimbingan pemandu, kakak shalih-shalihah diajak memahami cara kerja teleskop, fungsi lensa, dan bagaimana alat ini membantu manusia mengamati benda-benda langit yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Anak-anak bergantian mengintip melalui teleskop, wajah mereka penuh rasa takjub.

“Aku lihat cahaya terang!”
“Itu matahari ya?”
“MasyaAllah, ternyata langit luas sekali…”

Ucapan-ucapan polos itu menjadi bukti bahwa belajar langsung dari sumbernya mampu membangkitkan rasa kagum dan keingintahuan alami anak. Di momen ini, sains tidak lagi terasa abstrak—ia hadir nyata di hadapan mata.

2. Menonton Video Sistem Tata Surya: Belajar Visual yang Menguatkan Pemahaman

Setelah sesi observasi, kegiatan dilanjutkan dengan menonton video edukatif tentang sistem tata surya di ruang planetarium. Melalui visual yang menarik dan penjelasan yang mudah dipahami, anak-anak diajak menjelajah lebih jauh tentang matahari, planet-planet, serta fenomena alam yang terjadi di luar angkasa.

Video ini membantu anak memahami:

  • posisi matahari sebagai pusat tata surya,
  • perbedaan karakter setiap planet,
  • serta keteraturan sistem yang Allah ciptakan dengan sangat sempurna.

Bagi kakak kelas 6, materi ini memperkuat konsep sains yang sudah mereka pelajari di sekolah. Sementara bagi kakak kelas 1, tayangan visual ini menjadi pengalaman awal yang menyenangkan untuk mengenal dunia luar yang begitu luas.

Outing Class Kelas 1: Pengenalan Project Based Learning

Kunjungan ke planetarium ini memiliki makna khusus bagi kakak shalih-shalihah kelas 1. Kegiatan ini menjadi Tahap Pengenalan Project Based Learning (PBL) dengan tema “Peristiwa Pagi, Siang, Sore, dan Malam”.

Di usia awal sekolah dasar, anak-anak masih belajar memahami konsep waktu dan perubahan yang terjadi dalam satu hari. Melalui Outing Class ini, mereka tidak hanya diberi penjelasan secara verbal, tetapi diajak melihat keterkaitan langsung antara matahari, cahaya, dan pergantian waktu.

Anak-anak mulai dikenalkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:

  • Mengapa pagi terasa terang?
  • Kenapa sore langit berubah warna?
  • Mengapa malam gelap dan muncul bulan serta bintang?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi proses Project Based Learning, di mana anak akan diajak mengamati, berdiskusi, dan menyimpulkan berdasarkan pengalaman nyata.

Belajar Mengamati Alam Sejak Dini

Bagi kelas 1, pengalaman ini menjadi langkah awal untuk melatih keterampilan observasi. Anak-anak belajar bahwa peristiwa pagi, siang, sore, dan malam bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan bagian dari sistem alam yang teratur.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak berhenti di planetarium. Sepulang dari kegiatan, anak-anak akan diajak:

  • mengamati langit di rumah,
  • memperhatikan perubahan cahaya,
  • dan menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan rasakan.

Inilah esensi Project Based Learning: belajar yang berkelanjutan dan bermakna.

Kelas 6: Menguatkan Konsep dan Rasa Tanggung Jawab Belajar

Sementara itu, bagi kakak shalih-shalihah kelas 6, Outing Class ini menjadi sarana untuk menguatkan pemahaman sains sekaligus melatih sikap belajar yang lebih dewasa. Mereka tidak hanya menikmati kegiatan, tetapi juga diajak berpikir kritis dan reflektif.

Kelas 6 mulai memahami bahwa:

  • ilmu pengetahuan berkembang melalui observasi dan penelitian,
  • manusia diberi akal untuk mengkaji alam semesta,
  • dan setiap penemuan seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.

Melalui pengalaman ini, kakak kelas 6 belajar bahwa sains dan iman bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.

Menumbuhkan Rasa Kagum dan Syukur kepada Allah

Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa kagum terhadap kebesaran Allah. Ketika anak-anak melihat luasnya langit, jauhnya benda-benda angkasa, dan keteraturan sistem tata surya, mereka diajak menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.

Rasa kagum ini menjadi awal dari sikap:

  • rendah hati,
  • bersyukur,
  • dan semangat untuk terus belajar.

Belajar sains bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang merasakan kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

Outing Class sebagai Pengalaman Belajar Holistik

Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan bukan sekadar kunjungan edukatif. Ia menjadi pengalaman belajar holistik yang mencakup:

  • aspek kognitif melalui pemahaman sains,
  • aspek afektif melalui rasa kagum dan syukur,
  • serta aspek sosial melalui kebersamaan dan kedisiplinan selama kegiatan.

Anak-anak belajar mengikuti aturan, bergantian, mendengarkan penjelasan, dan menghargai lingkungan belajar di luar sekolah.

Belajar Tidak Selalu Harus di Dalam Kelas

Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Alam, lingkungan, dan tempat-tempat edukatif seperti planetarium adalah sumber belajar yang sangat kaya.

Dengan membawa anak keluar dari rutinitas kelas, sekolah memberi ruang bagi anak untuk:

  • merasakan pengalaman baru,
  • memperluas wawasan,
  • dan menemukan bahwa belajar itu menyenangkan.

Menyalakan Mimpi dan Cita-Cita Sejak Dini

Siapa tahu, dari kunjungan sederhana ini, kelak akan tumbuh:

  • ilmuwan,
  • peneliti,
  • atau generasi yang mencintai ilmu pengetahuan dan alam semesta.

Petualangan menjelajah sistem tata surya ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang menyalakan mimpi dan rasa ingin tahu yang akan terus hidup dalam diri kakak shalih-shalihah.

Penutup: Belajar dari Langit, Bertumbuh untuk Masa Depan

Melalui Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan UIN Walisongo, kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan.

Dari meneropong benda langit, menonton video sistem tata surya, hingga mengenal konsep waktu dan peristiwa alam, anak-anak belajar bahwa alam semesta adalah ruang belajar yang tak terbatas.

Semoga petualangan ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi pembelajar yang:

  • kritis dalam berpikir,
  • kuat dalam iman,
  • dan luas dalam wawasan.

Karena ketika anak-anak diajak mengenal langit, sejatinya mereka sedang diajak mengenal kebesaran Allah dan potensi diri mereka sendiri.***(CM-MRT)