by admin admin | Apr 28, 2026 | Agenda, Artikel, Berita, Berita Utama
Pagi itu, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang yang berlarian di lorong sekolah, tidak ada tawa yang pecah di sela-sela waktu istirahat. Yang ada justru langkah-langkah tenang, wajah-wajah serius, dan doa-doa yang lirih dipanjatkan dalam hati.
Senin hingga Selasa, 27 – 28 April 2026, menjadi awal dari sebuah perjalanan penting bagi kakak shalih-shalihah kelas 6. Selama dua ini mereka telah menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sebuah momen yang bukan sekadar ujian, tetapi pembuktian dari proses panjang yang telah mereka lalui.
Lebih dari Sekadar Ujian
Bagi sebagian orang, ujian mungkin hanya tentang angka. Tentang nilai yang akan tertera di akhir. Namun, bagi kakak kelas 6 SD Islam Bintang Juara, TKA adalah tentang perjalanan.
Perjalanan belajar yang dimulai sejak mereka pertama kali duduk di bangku sekolah dasar. Dari belajar membaca, menulis, berhitung, hingga memahami konsep-konsep yang lebih kompleks. Semua proses itu terangkai menjadi satu, dan hari itu menjadi salah satu titik penting untuk melihat sejauh mana mereka telah melangkah.
Ruang-ruang kelas disiapkan dengan rapi. Meja dan kursi ditata dengan jarak yang teratur. Lembar soal sudah tersusun, menunggu untuk dijawab dengan penuh kesungguhan. Para guru berdiri dengan penuh perhatian, memastikan setiap anak merasa siap dan nyaman.
Suasana khidmat begitu terasa.
Detik-Detik yang Penuh Makna
Ketika jam dinding menunjukkan pukul 09.00, waktu seolah berjalan lebih lambat. Kakak shalih-shalihah mulai menatap soal yang terpampang melalui layar laptop, membaca dengan saksama, lalu memberikan jawaban dengan penuh kehati-hatian.
Tidak ada lagi waktu untuk ragu. Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Yang ada hanyalah fokus, usaha, dan keyakinan.
Beberapa anak terlihat mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali materi yang pernah dipelajari. Ada yang tersenyum kecil saat menemukan soal yang terasa familiar. Ada pula yang menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sebelum melanjutkan.
Semua larut dalam perjuangan masing-masing.
Buah dari Proses Panjang
TKA bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari proses yang panjang dan konsisten.
Setiap tugas yang pernah dikerjakan, setiap diskusi di kelas, setiap bimbingan dari guru, hingga setiap doa dari orang tua—semuanya berperan dalam perjalanan ini.
Bahkan, bukan hanya aspek akademik yang diuji. Di balik lembar soal, ada nilai-nilai yang ikut diuji:
- Kejujuran dalam mengerjakan
- Ketekunan dalam berusaha
- Kemandirian dalam berpikir
- Kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
Karena sejatinya, pendidikan tidak hanya membentuk anak yang pintar, tetapi juga berkarakter.
Peran Guru dan Doa Orang Tua
Di balik keseriusan suasana ujian, ada peran besar yang sering kali tidak terlihat.
Para guru yang selama ini mendampingi, tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa. Mereka memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, dan setiap usaha layak untuk dihargai.
Di sisi lain, doa orang tua menjadi kekuatan yang tak ternilai. Meski tidak hadir secara langsung di ruang ujian, dukungan mereka terasa begitu dekat.
Setiap harapan yang dipanjatkan, setiap doa yang dilangitkan, menjadi energi yang menguatkan langkah anak-anak dalam menghadapi TKA.
Belajar Tentang Makna Usaha
Menariknya, momen seperti ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar materi pelajaran.
Anak-anak belajar bahwa:
- Proses lebih berharga dibandingkan hasil
- Usaha yang diiringi dengan doa sungguh-sungguh akan selalu membawa makna
- Tidak apa-apa merasa sulit, selama tidak menyerah
Dan yang terpenting, mereka belajar untuk menghargai diri sendiri atas setiap usaha yang telah dilakukan.
Hari Kedua: Tetap Fokus, Tetap Tenang
Memasuki hari kedua, suasana tetap terjaga. Meski mungkin ada rasa lelah, namun semangat tidak surut.
Kakak shalih-shalihah kembali duduk di tempat masing-masing, melanjutkan perjuangan mereka. Dengan pengalaman di hari pertama, mereka tampak lebih siap, lebih tenang, dan lebih percaya diri.
Setiap soal dikerjakan dengan lebih terarah. Setiap jawaban dipilih dengan keyakinan. Dan di balik itu semua, tersimpan harapan besar: memberikan yang terbaik.
Penutup yang Penuh Harap
Dua hari yang penuh kesungguhan akhirnya terlewati. Soal demi soal telah dijawab. Usaha demi usaha telah dilakukan. Kini, saatnya menyerahkan hasil kepada Allah SWT.
Karena sejatinya, tugas manusia adalah berikhtiar, dan hasil adalah hak Allah.
Momen TKA ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan. Apa pun hasilnya nanti, setiap anak telah melalui proses yang luar biasa.
Untuk Ayah Bunda, mari kita terus iringi langkah mereka dengan doa terbaik.
- Semoga setiap usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil yang membahagiakan.
- Semoga setiap langkah mereka dimudahkan.
- Dan semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat, jujur, dan penuh semangat juang.
Aamiin.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 24, 2026 | Artikel, Berita, Kegiatan Siswa, Religi
Pagi ini, Jumat, 24 April 2026, suasana di lapangan upacara SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Langit masih teduh, angin berhembus lembut, dan langkah kaki kakak shalih-shalihah dari kelas 1 hingga kelas 6 berjalan lebih tenang dari biasanya. Hari itu bukan sekadar hari sekolah biasa. Hari itu adalah momen istimewa: Istighosah dan Doa Bersama dalam rangka persiapan menghadapi TKA untuk kakak kelas 6.
Semua berkumpul dalam satu lingkaran harapan. Guru, siswa, dan seluruh elemen sekolah menyatu dalam satu tujuan: memohon kemudahan, kelancaran, dan keberkahan dari Allah SWT.
Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA dengan Sejuta Harapan
Kegiatan dibuka dengan penuh kekhusyukan, dipimpin oleh Pak Ali. Suara dzikir mulai menggema, pelan namun dalam. Kalimat-kalimat istighfar dilantunkan bersama, mengalir seperti aliran air yang menenangkan hati. Dalam momen itu, setiap anak belajar bahwa ada kekuatan besar dalam doa—bahwa sebelum berusaha menaklukkan soal-soal ujian, ada satu hal yang harus dikuatkan terlebih dahulu: hubungan dengan Allah.
Istighosah bukan hanya tentang membaca doa bersama. Ia adalah proses menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bahwa sekuat apa pun usaha kita, tetap ada ruang untuk berserah diri. Dan di sinilah pendidikan karakter itu tumbuh—dari kesadaran, dari kerendahan hati, dan dari keyakinan.
Di barisan depan, kakak kelas 6 duduk dengan lebih hening. Wajah-wajah mereka menyimpan banyak rasa—antara semangat, harap, dan mungkin juga sedikit cemas. TKA bukan sekadar ujian akademik. Ia adalah gerbang menuju fase berikutnya. Maka wajar jika momen ini terasa begitu penting.
Namun, yang menarik, mereka tidak menghadapi ini sendirian.
Seluruh adik kelas turut hadir, ikut mendoakan. Sebuah pelajaran berharga tentang kebersamaan dan ukhuwah. Bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, kita tidak berjalan sendiri. Ada doa-doa yang mengiringi, ada dukungan yang menguatkan.
Setelah rangkaian istighosah, kegiatan dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pak Arif. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar seluruh siswa kelas 6 diberikan kemudahan dalam memahami soal, ketenangan dalam mengerjakan, dan hasil terbaik yang penuh keberkahan.
Suasana semakin haru ketika doa selesai.
Musofahah dan Doa Restu
Satu per satu, kakak kelas 6 berdiri dan berjalan mendekati para guru. Mereka melakukan musofahah, berjabat tangan, menundukkan kepala, dan meminta doa restu. Sebuah tradisi sederhana, namun sarat makna.
Di balik genggaman tangan itu, tersimpan rasa hormat, cinta, dan harapan. Di balik ucapan lirih “mohon doanya ya, Pak, Bu…”, tersimpan keyakinan bahwa doa guru adalah salah satu kunci keberkahan ilmu.
Momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang hubungan hati—antara murid dan guru, antara usaha dan doa, antara ikhtiar dan tawakal.
Manfaat Istighosah dan Doa Bersama
Kegiatan Istighosah dan Doa Bersama ini juga mengajarkan kepada seluruh kakak shalih-shalihah bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak belajar, tetapi juga seberapa dalam kita bersandar kepada Allah.
Bagi kakak kelas 1 hingga 5, ini adalah pembelajaran yang sangat berharga. Mereka melihat langsung bagaimana kakak kelas 6 mempersiapkan diri, bukan hanya dengan belajar, tetapi juga dengan memperkuat spiritualitas. Sebuah bekal yang kelak akan mereka lakukan juga saat berada di posisi yang sama.
Sementara bagi kakak kelas 6, kegiatan ini menjadi penguat mental dan emosional. Rasa cemas yang mungkin muncul perlahan tergantikan dengan ketenangan. Karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada doa dari guru, dari teman, bahkan dari seluruh lingkungan sekolah.
Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai bahwa setiap langkah besar dalam hidup harus diawali dengan doa. Bahwa ikhtiar terbaik adalah yang diiringi dengan tawakal.
Istighosah juga melatih anak untuk mengenali emosi mereka—merasa cemas itu wajar, merasa takut itu manusiawi. Namun, mereka diajarkan cara mengelola perasaan tersebut dengan mendekat kepada Allah, bukan dengan menghindar atau menyerah.
Di sinilah letak keindahan pendidikan berbasis nilai. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.
Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali hangat. Senyum mulai merekah, obrolan ringan terdengar di antara kakak-kakak. Ada semangat baru yang tumbuh. Ada keyakinan yang semakin kuat.
Karena mereka telah belajar satu hal penting hari itu bahwa usaha terbaik adalah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan disempurnakan dengan doa yang tulus.
Istighosah dan Doa Bersama ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah momen pembentukan karakter. Momen di mana anak belajar tentang harapan, kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.
Dan mungkin, di antara semua pelajaran yang didapat hari itu, ada satu hal yang akan terus mereka ingat:
Bahwa setiap langkah menuju masa depan, selalu dimulai dengan menundukkan diri… dan mengetuk langit lewat doa.***
by admin admin | Apr 21, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Guru
Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.
Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai
Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.
Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.
Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.
Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.
Belajar Melihat dari Perspektif Siswa
Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.
- Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
- Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?
Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:
- Memberi ruang bagi proses berpikir
- Menghargai usaha, bukan hanya hasil
- Membantu siswa memahami dirinya sendiri
Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.
Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”
Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:
- Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
- Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
- Terlibat aktif dalam proses belajar
- Mampu merefleksikan apa yang dipelajari
Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.
Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:
- Proyek
- Presentasi
- Diskusi
- Refleksi diri
- Observasi proses
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.
Dari Teori ke Praktik
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.
Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:
- Bagaimana cara menilai
- Mengapa hal tersebut penting
- Apa dampaknya bagi siswa
Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.
Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.
Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:
- Lebih peka terhadap proses belajar siswa
- Memberikan umpan balik yang konstruktif\
- Mendorong refleksi diri siswa
- Menjadi teladan dalam berpikir kritis
Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.
Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai
Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.
Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:
- Apa yang dipelajari hari ini?
- Apa yang ingin diperbaiki ke depan?
Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.
- Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
- Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
- Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.
Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:
- Siswa merasa lebih dihargai
- Proses belajar menjadi lebih hidup
- Guru lebih memahami kebutuhan siswa
- Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata
Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.
Menutup dengan Harapan
Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 20, 2026 | Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.
Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”
Dari Limbah Menjadi Peluang
Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”
Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?
Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.
Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.
Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.
Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata
Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.
Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.
Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.
Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.
Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.
Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.
Lebih dari Sekadar Praktik
Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.
Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.
Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.
Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif
Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.
Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”
Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.
Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata
Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.
Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.
Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 18, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.
Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.
Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.
Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.
Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?
Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak
Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.
Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.
Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.
Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.
Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol
Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.
Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.
Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.
Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.
Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini
Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.
Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.
Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.
Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.
Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut
Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:
Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.
Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.
Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.
Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman
Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.
Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.
Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.
Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.
Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:
Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.
Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 16, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.
Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.
Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna
Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.
Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.
Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.
Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu
Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:
- Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
- Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
- Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.
Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.
Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.
Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.
Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci
Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.
Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.
Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.
Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang
Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.
Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.
Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama
Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.
Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.
Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.
Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.
Belajar Budaya, Membentuk Karakter
Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:
- Menghargai warisan budaya lokal
- Melatih kepekaan rasa dan empati
- Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
- Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
- Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.
Menjaga Budaya, Menjaga Identitas
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.
Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)