fbpx
Cerita Ramadan Bermakna 2026: Berbagi Pengalaman Puasa dari Finlandia & Inggris

Cerita Ramadan Bermakna 2026: Berbagi Pengalaman Puasa dari Finlandia & Inggris

Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjalani Ramadan dengan suasana kampung halaman yang hangat, ada pula yang merasakannya di negeri yang jauh dari tanah air.

Hal inilah yang menjadi tema menarik dalam kegiatan CERANA (Cerita Ramadan Bermakna) 2026 yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui Instagram @sdislambintangjuara pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 WIB.

CERANA sendiri sudah rutin dilakukan sejak tahun 2020, tepatnya ketika pandemi. Alhamdulillah, kegiatan ini terus berlangsung hingga tahun ini.

Cerita Ramadan Bermakna dari Kak Aleen dan Kak Khansa

Mengangkat tema “Puasa Ramadan di Dua Belahan Dunia: Pengalaman Berbeda, Semangat yang Sama”, CERANA menghadirkan dua narasumber istimewa yang pernah merasakan pengalaman menjalani Ramadan di luar negeri.

Mereka adalah Kak Khansa, yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, serta Kak Aleen, yang pernah merasakan kehidupan di Inggris. Acara ini dipandu oleh Bu Nawang, Koordinator Litbang Yayasan Dewi Sartika, yang juga merupakan ibunda dari Kak Aleen.

Melalui obrolan santai namun penuh makna, para narasumber berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa jauh dari Indonesia.

Ramadan di Negeri dengan Waktu Puasa Lebih Panjang

Salah satu hal paling menarik dari diskusi ini adalah perbedaan durasi waktu puasa.

Kak Khansa yang tinggal di Finlandia bercerita bahwa di beberapa negara Eropa, terutama di wilayah yang berada cukup jauh di utara, durasi puasa bisa lebih panjang dibandingkan di Indonesia.

Di Indonesia, umat Muslim biasanya berpuasa sekitar 13–14 jam. Namun di negara seperti Finlandia atau Inggris, durasi puasa bisa lebih lama, tergantung musim dan panjangnya waktu siang.

Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang tinggal di sana. Mereka harus tetap menjaga stamina, mengatur waktu istirahat, dan memastikan tubuh tetap kuat menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun meskipun durasi puasanya lebih panjang, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap terasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan hanya soal waktu yang dijalani, tetapi tentang niat dan keteguhan hati dalam menjalankannya.

Menu Sahur dan Berbuka yang Berbeda

CERANA juga membahas hal yang tidak kalah menarik: menu sahur dan berbuka puasa di luar negeri. Kak Khansa dan Kak Aleen berbagi cerita tentang makanan yang biasanya mereka konsumsi saat sahur dan berbuka ketika tinggal di luar negeri.

Tidak selalu ada makanan khas Ramadan seperti di Indonesia. Kadang mereka harus menyesuaikan dengan bahan makanan yang tersedia di sana.

Menu sahur bisa berupa makanan sederhana seperti roti, telur, atau makanan hangat yang mudah disiapkan. Begitu juga saat berbuka, pilihan makanan sering kali berbeda dari yang biasa dinikmati di Indonesia.

Berbeda dengan suasana di tanah air yang penuh dengan aneka takjil seperti kolak, gorengan, atau es buah. Meski begitu, pengalaman ini justru mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur.

Suka Duka Ramadan di Luar Negeri

Selain berbagi tentang makanan dan durasi puasa, Kak Khansa dan Kak Aleen juga menceritakan berbagai suka dan duka menjalani Ramadan di luar negeri. Salah satu tantangan terbesar adalah rasa rindu terhadap suasana Ramadan di Indonesia.

Di Indonesia, Ramadan terasa sangat meriah. Ada suara adzan dari masjid, kegiatan tadarus bersama, pasar Ramadan, hingga momen berbuka puasa bersama teman dan keluarga.

Sementara di beberapa negara non-Muslim, suasana Ramadan tidak selalu terlihat secara langsung di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pengalaman Ramadan terasa berbeda.

Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga tentang menjaga semangat ibadah meskipun berada di lingkungan yang berbeda.

Ramadan di Indonesia Lebih Seru

Dalam sesi CERANA tersebut, Kak Khansa dan Kak Aleen juga berbagi pendapat yang menarik. Menurut mereka, menjalani Ramadan di Indonesia terasa lebih seru.

Salah satu alasannya adalah karena banyak teman dan lingkungan yang sama-sama menjalankan ibadah puasa. Suasana kebersamaan ini membuat Ramadan terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Selain itu, di Indonesia mereka juga bisa menikmati berbagai makanan favorit saat berbuka puasa. Mulai dari aneka takjil hingga makanan khas yang sering menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.

Hal-hal sederhana seperti berbuka bersama keluarga atau bermain dengan teman-teman setelah tarawih menjadi kenangan yang sangat berharga.

Nah, buat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah yang Sabtu lalu tertinggal menonton live-nya, silakan bisa menonton siaran ulangnya di sini:

CERANA: Belajar dari Cerita, Menguatkan Makna Ramadan

Kegiatan CERANA bukan sekadar acara berbagi cerita. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami bahwa Ramadan dijalani oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Melalui cerita Kak Khansa dan Kak Aleen, para penonton belajar bahwa meskipun kondisi lingkungan, cuaca, dan budaya berbeda, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap sama.

Puasa mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan hati untuk menjalankan perintah Allah SWT di mana pun kita berada.

Menumbuhkan Perspektif Global Sejak Dini

Kegiatan seperti CERANA juga membantu siswa memiliki wawasan global sejak usia dini.

Mereka tidak hanya belajar tentang Ramadan dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami bagaimana umat Muslim di berbagai negara menjalankan ibadah yang sama.

Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari umat Muslim di dunia.

Ramadan yang Menghubungkan Umat Muslim di Seluruh Dunia

Pada akhirnya, CERANA 2026 mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.

Meskipun berada di negara yang berbeda, dengan cuaca yang berbeda, dan durasi puasa yang berbeda, tujuan ibadahnya tetap sama. Semua umat Muslim berusaha menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk meraih keberkahan.

Dari Finlandia hingga Inggris, dari Indonesia hingga berbagai penjuru dunia lainnya; semangat Ramadan selalu menghadirkan makna yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.*** (CM-MRT)

Ramadan Leadership Camp 2026: Dua Hari Membentuk Calon Pemimpin Muslim

Ramadan Leadership Camp 2026: Dua Hari Membentuk Calon Pemimpin Muslim

Suasana sore di halaman SD Islam Bintang Juara terasa berbeda pada Jumat, 6 Maret 2026. Para kakak shalih dan shalihah datang dengan ransel kecil di punggung, wajah penuh antusias, dan rasa penasaran tentang pengalaman yang akan mereka jalani.

Hari itu bukan sekadar kegiatan sekolah biasa. Mereka akan mengikuti Ramadan Leadership Camp (RLC) 2026, sebuah program yang selalu menjadi salah satu momen paling dinanti setiap Ramadan.

Selama dua hari, Jumat–Sabtu (6–7 Maret 2026), para siswa akan menjalani serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan nilai kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kedekatan dengan Allah SWT.

Bukan hanya belajar di kelas, tetapi belajar melalui pengalaman langsung.

Pembukaan Ramadan Leadership Camp yang Penuh Makna

Kegiatan Ramadan Leadership Camp diawali dengan pembukaan acara yang hangat dan penuh makna. Para peserta menyaksikan berbagai penampilan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan kebaikan.

Di sinilah suasana kebersamaan mulai terasa. Kakak shalih-shalihah duduk bersama, saling menyimak, dan menikmati setiap penampilan yang mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan.

Kegiatan pembukaan ini menjadi pengantar untuk perjalanan dua hari yang sarat nilai.

Kebersamaan dalam Iftar Jama’i

Menjelang magrib, suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta bersiap untuk iftar jama’i atau berbuka puasa bersama.

Di momen ini, para siswa belajar tentang kebersamaan dan kesederhanaan. Mereka duduk bersama teman-teman, menunggu waktu berbuka sambil saling berbagi cerita.

Ketika adzan magrib berkumandang, wajah-wajah ceria langsung tampak. Mereka berbuka dengan penuh rasa syukur, menyadari bahwa nikmat sederhana seperti segelas air dan makanan berbuka adalah karunia dari Allah SWT.

Setelah berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, yang menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ibadah.

Menghidupkan Malam dengan Ibadah

Malam hari di Ramadan Leadership Camp diisi dengan berbagai kegiatan spiritual yang menenangkan hati.

Para peserta melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai sudut ruangan, menciptakan suasana yang khusyuk dan damai.

Bagi sebagian anak, ini mungkin menjadi pengalaman pertama merasakan kebersamaan dalam ibadah malam seperti ini.

Namun justru di situlah nilai pembelajaran muncul; mereka belajar bahwa ibadah tidak selalu dilakukan sendirian, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang menguatkan ketika dilakukan bersama.

Qiyamul Lail di Sepertiga Malam

Ketika malam semakin larut dan sebagian orang masih terlelap, kegiatan Ramadan Leadership Camp justru memasuki salah satu momen paling istimewa.

Sekitar pukul 02.30 dini hari, kakak shalih-shalihah dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail.

Meskipun rasa kantuk masih terasa, para peserta tetap berusaha bangkit. Mereka berwudhu, kemudian berdiri bersama dalam shalat malam.

Di waktu yang sunyi itu, mereka belajar satu hal penting: kedekatan dengan Allah sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh kesungguhan.

Setelah qiyamul lail, kegiatan dilanjutkan dengan sahur bersama. Suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak saling bercanda ringan sambil menikmati hidangan sahur.

Pagi pun ditutup dengan shalat subuh berjamaah, menandai awal hari baru yang penuh semangat.

Pagi yang Enerjik dan Menguatkan

Ketika matahari mulai terbit, para peserta menyambut hari dengan senam bersama. Gerakan-gerakan ringan membuat tubuh kembali segar setelah malam yang penuh aktivitas ibadah.

Kegiatan fisik ini menjadi cara menyenangkan untuk mengawali pagi sekaligus menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan kajian yang menguatkan iman dan karakter.

Kajian dibagi ke dalam beberapa forum sesuai jenjang kelas.

1. Da’i Cilik dari Palestina (Kelas 1–2)

Untuk kakak kelas 1 dan 2, mereka mengikuti sesi inspiratif bersama Da’i Cilik dari Palestina. Dalam sesi ini, anak-anak diajak memahami nilai keberanian, keteguhan iman, dan semangat untuk mencintai Al-Qur’an sejak usia dini.

Cerita-cerita yang disampaikan menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk tetap semangat belajar dan beribadah.

2. Forum Ar Rijal (Kelas 3–6)

Sementara itu, kakak shalih kelas 3 hingga 6 mengikuti Forum Ar Rijal, sebuah sesi diskusi yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, serta peran laki-laki sebagai pemimpin yang amanah.

Dalam forum ini, para peserta diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri.

3. Forum An Nisa (Kelas 3–6)

Untuk kakak shalihah kelas 3 hingga 6, kegiatan berlangsung dalam Forum An Nisa.

Forum ini memberikan ruang bagi para siswi untuk belajar tentang peran perempuan muslimah yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia.

Diskusi-diskusi yang berlangsung membantu mereka memahami bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Testimoni Orang Tua: Pengalaman yang Membentuk Karakter

Kegiatan Ramadan Leadership Camp tidak hanya memberikan kesan bagi para peserta, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh para orang tua.

Salah satu testimoni datang dari Bunda Kak Fahri, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak.

Menurut beliau, kegiatan seperti ini membantu anak-anak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter sebagai calon pemimpin Muslim.

Bagi orang tua, melihat anak-anak tumbuh dengan nilai-nilai positif seperti ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Tentu ini selaras dengan tema yang diangkat pada RLC tahun ini; Aktif Membangun Karakter Positif di Bulan Ramadan.

Menanamkan Nilai Kepemimpinan Sejak Dini

Ramadan Leadership Camp bukan sekadar kegiatan bermalam di sekolah.

Setiap aktivitas yang dilakukan—mulai dari berbuka bersama, shalat berjamaah, hingga kajian kepemimpinan—dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan anak.

Melalui pengalaman ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang:

  • Kepemimpinan, dengan memahami tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Kedisiplinan, melalui jadwal kegiatan yang teratur
  • Kemandirian, saat menjalani berbagai aktivitas bersama teman-teman
  • Kebersamaan, dalam setiap ibadah dan kegiatan yang dilakukan bersama
  • Akhlak mulia, yang menjadi dasar karakter seorang Muslim

Bagi Ayah Bunda yang penasaran seperti apa sih rangkaian kegiatan di Ramadan Leadership Camp 2026, silakan bisa menyimak video berikut:

Ramadan: Bukan Hanya Menahan Diri, Tapi Membentuk Diri

Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi pengalaman yang dirasakan selama Ramadan Leadership Camp meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.

Langkah-langkah kecil yang mereka lakukan; bangun di sepertiga malam, berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur’an, dan belajar bersama—perlahan membentuk karakter mereka.

Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadan adalah tentang melatih hati, membentuk diri, dan menumbuhkan generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan.

Dan melalui kegiatan seperti Ramadan Leadership Camp, benih-benih kepemimpinan itu mulai tumbuh dalam diri kakak shalih-shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.

Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.

Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.

Dari Rasa Gugup Menjadi Berani

Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.

Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.

Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.

Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini

Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.

Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.

Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:

  • Menyusun materi sederhana
  • Memahami isi pesan yang akan disampaikan
  • Melatih keberanian berbicara di depan umum
  • Mengelola rasa gugup
  • Menyampaikan dakwah dengan santun

Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.

Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya

Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.

Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.

Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.

Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak

Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.

  1. Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
  2. Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
  3. Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
  4. Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
  5. Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.

Dakwah yang Tumbuh dari Hati

Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.

Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.

Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.

Membentuk Generasi yang Siap Memimpin

Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.

Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.

Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.

Melalui kultum:

  • Anak belajar berdiri tegak.
  • Anak belajar menyampaikan kebenaran.
  • Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.

Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”

Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.

Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka

Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”

Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:

  • Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
  • Residu: sisa dari bahan yang digunakan.

Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring

Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.

Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.

Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.

Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.

Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.

Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.

Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan

Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.

Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.

Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.

Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.

Anak-anak belajar:

  • Menghitung perbandingan secara nyata
  • Memahami konsep dilusi
  • Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
  • Bertanggung jawab terhadap lingkungan

Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.

Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.

Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

“Sedia payung sebelum hujan.”

Kalimat yang sering didengar itu ternyata menyimpan pelajaran penting bagi kakak shalih–shalihah kelas 1C. Pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) 1C menghadirkan narasumber istimewa: Bunda Surya Wilantika, orang tua dari Kak Ghumaisa.

Tema yang diangkat sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Cuaca.

Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Meja sudah disiapkan untuk praktik kecil. Wajah kakak shalih–shalihah tampak penasaran. Apa hubungannya payung, hujan, dan cuaca?

Mengenal Cuaca Lewat Gambar yang Dekat dengan Anak

Bunda Surya memulai sesi dengan mengajak kakak mengenal apa itu cuaca. Tidak langsung dengan definisi panjang, tetapi melalui gambar-gambar menarik—matahari bersinar cerah, awan mendung, hujan turun, dan angin bertiup.

“Kalau langitnya cerah dan panas, itu cuaca apa?” tanya Bunda.

“Cerah!” jawab kakak serempak.

“Kalau banyak awan hitam?”

“Hujan!”

Diskusi ringan itu membuat anak-anak menyadari bahwa cuaca adalah kondisi udara yang bisa berubah setiap hari. Kadang panas, kadang mendung, kadang hujan. Dari sini, mereka mulai memahami mengapa kita perlu bersiap—termasuk membawa payung saat langit terlihat gelap.

Saatnya Praktik: Bagaimana Hujan Terjadi?

Bagian yang paling ditunggu pun tiba: eksperimen proses terjadinya hujan.

Bunda Surya menyiapkan:

  • Segelas air panas
  • Kertas bekas bungkus snack
  • Beberapa potong es batu

Air panas dimasukkan ke dalam gelas. Uap tipis mulai terlihat naik perlahan. Gelas kemudian ditutup dengan kertas snack. Di atas kertas itu, Bunda meletakkan es batu.

Kakak shalih–shalihah mengamati dengan penuh perhatian. Perlahan, es batu mulai mencair. Tak lama kemudian, titik-titik air muncul di bagian bawah kertas.

“Lihat! Tetesan hujan!” seru salah satu kakak.

Momen itu menjadi ajaib. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana uap air naik, bertemu suhu dingin, lalu berubah menjadi titik-titik air—mirip proses hujan di alam.

Bunda Surya menjelaskan dengan bahasa sederhana: ketika air di bumi terkena panas matahari, air menguap naik ke langit. Di atas, udara lebih dingin. Uap itu berubah menjadi titik air, berkumpul menjadi awan, lalu turun sebagai hujan.

Eksperimen sederhana ini membuat konsep yang biasanya sulit menjadi mudah dipahami.

Belajar Sains dengan Cara Menyenangkan

Kegiatan BBOT 1C ini menunjukkan bahwa belajar sains tidak harus rumit. Dengan alat sederhana yang mudah ditemukan di rumah, anak-anak bisa memahami proses alam yang luar biasa.

Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar untuk mengamati, bertanya, dan menyimpulkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi melihat langsung perubahan yang terjadi.

Rasa ingin tahu pun tumbuh. Ada yang bertanya kenapa es bisa mencair. Ada yang penasaran apakah semua awan pasti turun hujan. Diskusi kecil itu menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna sedang terjadi.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak

Kehadiran Bunda Surya sebagai narasumber memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Anak-anak merasa bangga karena orang tua temannya bisa berbagi ilmu di kelas.

BBOT bukan sekadar program, tetapi ruang kebersamaan. Anak belajar bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja—termasuk dari orang tua yang peduli dan mau terlibat.

Dari Cuaca ke Karakter

“Sedia payung sebelum hujan” ternyata bukan hanya tentang cuaca. Ini juga tentang kesiapan. Anak-anak belajar bahwa penting untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi.

  • Belajar membawa payung saat mendung.
  • Belajar menjaga kesehatan saat cuaca berubah.
  • Dan belajar memahami alam sebagai ciptaan Allah yang penuh hikmah.

Alhamdulillah, sesi BBOT 1C hari itu berjalan dengan penuh keceriaan. Kakak shalih–shalihah pulang membawa pemahaman baru tentang cuaca—dan mungkin juga cerita seru untuk dibagikan di rumah.

Karena belajar tentang hujan hari itu bukan hanya soal air yang turun dari langit, tetapi tentang rasa ingin tahu yang terus bertumbuh.***

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

Ramadan memang belum tiba, tetapi getarannya sudah terasa kuat di lingkungan SD Islam Bintang Juara. Ada semangat yang tumbuh perlahan. Ada hati-hati kecil yang mulai dipersiapkan. Karena menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu tanggal di kalender—melainkan menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.

Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah di SD Islam Bintang Juara

Selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat, 11–13 Februari 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti Rangkaian Tarbiyah Ramadan SD Islam Bintang Juara. Setiap harinya menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesiapan ilmu, hati, dan amal dalam menyambut bulan suci.

Rabu, 11 Februari 2026: Tarbiyah Ramadan & Pembagian Buku Ramadan

Hari pertama dibuka dengan kegiatan Tarbiyah Ramadan dan Pembagian Buku Ramadan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok besar agar materi sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Kelas Tinggi (Kelas 4–6): Menguatkan Pemahaman dan Kesadaran

Kakak kelas 4–6 didampingi oleh Pak Zaki. Sesi dimulai bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan recalling—mengajak kakak mengingat kembali apa saja yang penting diketahui tentang Ramadan.

  • “Ramadan itu bulan apa?”
  • “Apa tujuan kita berpuasa?”
  • “Selain puasa, ibadah apa saja yang dianjurkan?”

Tangan-tangan terangkat. Jawaban mengalir: puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah, menahan amarah. Diskusi terasa hidup. Kakak tidak hanya menyebutkan, tetapi mulai memahami makna di baliknya.

Pak Zaki kemudian menguatkan kembali esensi Ramadan sebagai bulan pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perbuatan. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri.

Kelas Rendah (Kelas 1–3): Memahami Ramadan dengan Ceria

Sementara itu, kakak kelas 1–3 didampingi oleh Pak Ali dan Pak Rizki. Pendekatannya tentu berbeda. Anak-anak diajak menonton video animasi Rico tentang berpuasa.

Melalui tayangan yang ringan dan menyenangkan, kakak belajar tentang apa itu puasa, kapan waktu berpuasa, serta hal-hal sederhana yang perlu dijaga selama Ramadan. Setelah menonton, Pak Ali dan Pak Rizki memberikan penjelasan dasar dengan bahasa yang mudah dipahami.

  • Apa itu niat?
  • Kenapa tidak boleh makan dan minum saat puasa?
  • Bagaimana jika lupa?

Semua dijelaskan sesuai kebutuhan usia mereka. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangun pemahaman awal yang kuat.

Di akhir sesi, baik di kelas tinggi maupun rendah, kakak menerima Buku Ramadan yang akan menjadi panduan ibadah dan refleksi selama bulan suci. Buku ini bukan sekadar lembaran tugas, melainkan sahabat perjalanan spiritual mereka.

Hari pertama ditutup dengan senyum dan rasa penasaran. Ramadan terasa semakin dekat.

Kamis, 12 Februari 2026: BBM – Bersih-bersih Masjid dan Musala

Hari kedua diisi dengan kegiatan penuh makna: BBM (Bersih-bersih Masjid dan Musala).

Kakak kelas 3–5 berangkat ke masjid dan musala sekitar sekolah. Sapu di tangan, lap kain dibawa, dan hati yang siap beramal. Membersihkan karpet, merapikan sajadah, menyapu halaman—semua dilakukan bersama.

Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti. Dari hal sederhana ini, kakak shalih–shalihah belajar menjadi muslim yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat.

Membersihkan rumah Allah menjadi jalan untuk membersihkan hati. Setiap debu yang disapu seolah mengingatkan bahwa hati pun perlu dibersihkan dari iri, malas, dan amarah.

Ini adalah amalan spesial menyambut Ramadan.

Sementara itu, kakak kelas 1–2 dan kelas 6 mendapat tugas membersihkan area sekolah. Kelas 6 sebelumnya harus menuntaskan ujian praktik, sehingga mereka kemudian mendapat amanah mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2.

Pemandangan yang indah terlihat: kakak kelas 6 membimbing adik-adiknya. Mengajarkan cara menyapu, mengingatkan untuk berhati-hati, dan bekerja sama. Ramadan benar-benar menjadi momen pembinaan karakter.

Jumat, 13 Februari 2026: Pawai Ramadan – Syiar yang Berjalan

Hari ketiga menjadi puncak yang paling meriah: Pawai Ramadan.

Bersama PAUD Islam Bintang Juara, kakak shalih–shalihah berbaris rapi. Mereka membawa manggar yang telah dibuat di rumah masing-masing. Warna-warni hiasan menghiasi barisan, menciptakan suasana penuh semangat.

Langkah kecil mereka menyusuri area perkampungan dekat sekolah. Shalawat dilantunkan bersama. Suaranya mungkin sederhana, tetapi getarannya terasa kuat.

Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah syiar. Doa yang berjalan. Harapan yang dikibarkan bersama. Harapan untuk hati yang lebih bersih. Ibadah yang lebih kuat. Dan diri yang lebih baik dari kemarin.

Warga sekitar menyambut dengan senyum. Ada kebahagiaan yang menular. Anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Ramadan Dimulai dari Persiapan Hati

Rangkaian Tarbiyah Ramadan ini menunjukkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan menunggu hilal terlihat. Persiapan harus dimulai jauh-jauh hari—dengan ilmu, amal, dan kebersamaan.

  • Melalui tarbiyah, kakak memahami makna Ramadan.
  • Melalui bersih masjid, kakak belajar peduli dan beramal.
  • Melalui pawai, kakak belajar bersyiar dan berbagi semangat.

Di SD Islam Bintang Juara, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi proses pembinaan karakter yang berkelanjutan.

Kini, Ramadan semakin dekat. Dan pertanyaannya bukan lagi, “Kapan Ramadan tiba?” Tetapi, “Sudah sejauh mana kita menyiapkan diri?”

Kalau ayah bunda, sudah menyiapkan kegiatan apa di rumah untuk menyambut Ramadan bersama kakak shalih–shalihah?***