fbpx
BBOT Kelas 6: Warisan Rasa, Warisan Bangsa, Belajar Mengenal Kuliner Tradisional Jawa Tengah

BBOT Kelas 6: Warisan Rasa, Warisan Bangsa, Belajar Mengenal Kuliner Tradisional Jawa Tengah

BBOT Kelas 6 kali ini menggambarkan ketika jajanan tradisional menjadi pintu masuk belajar budaya. Diawali dengan “Ini namanya apa, Kak?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata bisa membawa kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada sebuah perjalanan belajar yang cukup panjang.

Pada Rabu, 12 Agustus 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) Kelas 6 menghadirkan Bunda Milan Indriani, bunda dari Kak Arkan, dengan tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa: Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan Kuliner Tradisional Jawa Tengah.”

Sekilas, kegiatan ini mungkin terlihat seperti sesi mengenal makanan tradisional. Ada jajanan yang dibawa ke kelas, ada kegiatan mencicipi, ada tebak-tebakan bahan makanan, hingga berdiskusi tentang tepung.

Namun, seperti halnya pembelajaran yang bermakna, ada hal yang lebih besar di balik setiap kegiatan.

Kali ini, kakak shalih-shalihah diajak menyadari bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang kita makan. Di baliknya ada bahan pangan, pengetahuan, kebiasaan, budaya, bahkan cerita tentang bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.

Dan menariknya, kegiatan BBOT kali ini juga menjadi bagian dari Project Based Learning (PBL) kelas 6 dalam rangka mengenal dan menjaga warisan budaya.

Dari Jajanan Tradisional, Anak Diajak Mengenal Kekayaan Indonesia

Bunda Milan membawa berbagai jajanan tradisional untuk diperkenalkan secara langsung kepada kakak shalih-shalihah.

Bukan hanya melihat melalui gambar atau membaca namanya dari buku, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk melihat, mengenali, bahkan mencicipi makanan tersebut.

Ternyata, tidak semua anak sudah mengenal jajanan tradisional yang diperkenalkan.

Ada yang bahkan menyebut lopis sebagai lontong.

Momen seperti inilah yang justru menjadi bagian menarik dari pembelajaran. Sebab, ketidaktahuan bukan sesuatu yang perlu ditertawakan. Ia bisa menjadi awal dari sebuah rasa ingin tahu.

“Ini sebenarnya terbuat dari apa?”

Pertanyaan pun bermunculan.

Kakak shalih-shalihah kemudian diajak menebak bahan yang digunakan untuk membuat makanan tersebut. Jika belum mengetahui jawabannya, mereka dapat mencari informasi menggunakan laptop.

Di sini, proses belajar tidak berhenti pada “tahu nama makanan”. Anak-anak diajak mencari tahu, bertanya, membandingkan informasi, dan menemukan jawaban.

Sebuah jajanan sederhana akhirnya menjadi pintu masuk untuk belajar lebih banyak tentang bahan pangan lokal.

Mengenal Tepung dan Karakteristiknya

Pembelajaran kemudian berlanjut pada salah satu bahan penting dalam berbagai olahan makanan, yaitu tepung. Bunda Milan mengenalkan beberapa jenis tepung, di antaranya tepung tapioka, tepung jagung, tepung singkong, dan tepung kentang.

Kakak shalih-shalihah tidak hanya dikenalkan dengan namanya. Mereka juga diajak memahami bahwa setiap jenis tepung memiliki karakteristik yang berbeda.

  • Bagaimana cara membedakannya?
  • Apa bahan dasarnya?
  • Bagaimana tekstur masing-masing tepung?
  • Dan bagaimana karakteristik tersebut memengaruhi penggunaannya dalam membuat makanan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembelajaran kuliner menjadi semakin luas.

Dari satu bahan, anak-anak dapat belajar tentang sains sederhana, sumber pangan, proses pengolahan, hingga kreativitas dalam membuat makanan. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek menjadi menarik.

Satu tema tidak berdiri sendiri.

Belajar budaya dapat bertemu dengan ilmu pengetahuan. Belajar makanan dapat terhubung dengan teknologi. Belajar tentang bahan pangan dapat mengantarkan anak pada pembahasan kesehatan dan keberlanjutan.

Indonesia Punya Banyak Pilihan Sumber Karbohidrat

Salah satu hal penting yang ditemukan kakak shalih-shalihah dari kegiatan ini adalah bahwa sumber karbohidrat di Indonesia ternyata sangat beragam.

Selama ini, anak mungkin lebih akrab dengan nasi atau produk berbahan tepung tertentu. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak bahan pangan yang dapat diolah menjadi makanan.

Dari kegiatan BBOT ini, kakak shalih-shalihah diajak melihat bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

Bahan yang selama ini mungkin dianggap sederhana dapat diolah menjadi makanan yang lebih modern, menarik, dan tetap memperhatikan aspek kesehatan.

Pesan ini menjadi penting untuk generasi muda.

Melestarikan kuliner tradisional bukan berarti harus selalu menyajikannya dengan cara yang sama persis seperti dahulu. Tradisi dapat terus hidup ketika generasi baru mau mengenalnya, menghargainya, kemudian menemukan cara kreatif untuk mengembangkannya.

Dengan begitu, warisan budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dikenang. Ia terus bergerak bersama zaman.

galeri kegiatan BBOT kelas 6

Ketika Junk Food Bertemu Bahan Lokal

Menariknya, sesi BBOT tidak ditutup hanya dengan kesimpulan tentang makanan tradisional. Bunda Milan justru memberikan sebuah tantangan kepada kakak shalih-shalihah.

Bagaimana jika junk food dibuat dari bahan-bahan lokal?

Pertanyaan ini menjadi pemantik bagi anak-anak untuk berpikir lebih jauh.

Selama ini, junk food sering diasosiasikan dengan makanan modern yang kurang sehat. Namun, bagaimana jika bahan-bahan lokal Indonesia digunakan untuk menciptakan makanan yang lebih sehat sekaligus tetap menarik bagi anak-anak?

Di sinilah kreativitas mulai mendapatkan ruang.

Anak-anak dapat membayangkan berbagai kemungkinan: bagaimana bahan lokal dapat dikemas dengan cara kekinian, bagaimana makanan tradisional bisa dibuat lebih menarik, dan bagaimana sebuah inovasi makanan tetap dapat membawa cerita tentang budaya Indonesia.

Pertanyaan tersebut bukan sekadar tugas membuat makanan. Lebih dari itu, anak diajak menjadi pemecah masalah.

Mereka belajar bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti hanya mempertahankan sesuatu seperti bentuk aslinya. Ada kalanya budaya perlu dikenalkan kembali melalui bahasa dan bentuk yang dekat dengan generasi hari ini.

Belajar Bersama Orang Tua, Belajar dari Pengalaman Nyata

BBOT menjadi salah satu ruang istimewa dalam proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara karena pembelajaran tidak hanya berlangsung bersama guru. Orang tua juga hadir membawa pengalaman, pengetahuan, dan keahliannya untuk dibagikan kepada anak-anak.

Kehadiran Bunda Milan dalam kegiatan kali ini memperlihatkan bahwa orang tua dapat menjadi bagian penting dari ekosistem belajar anak. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga dari pengalaman nyata orang-orang di sekitarnya.

Ketika seorang ibu membawa makanan tradisional ke kelas, anak-anak bukan hanya mendapatkan kesempatan untuk mencicipi. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, mencari informasi, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Inilah pembelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan.

Dan ketika pembelajaran tersebut menjadi bagian dari Project Based Learning, anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga untuk memikirkan apa yang dapat mereka lakukan setelah mengetahuinya.

Warisan Rasa yang Perlu Dijaga Bersama

Ada satu hal yang mungkin terlihat sederhana dari kegiatan hari ini: anak-anak mengenal jajanan tradisional. Tetapi jika ditarik lebih jauh, ada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Kalau bukan generasi muda yang mengenal makanan tradisional Indonesia, lalu siapa yang akan melanjutkan ceritanya?

Warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan bersejarah atau benda-benda kuno. Ia juga dapat hadir di meja makan, dalam resep keluarga, dalam bahan pangan lokal, dan dalam makanan yang dibuat oleh tangan-tangan masyarakat dari generasi ke generasi.

Karena itu, mengenal kuliner tradisional adalah salah satu cara untuk mengenal identitas bangsa. Dan mencintainya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa makanan tradisional itu enak.

Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengenal asalnya, memahami prosesnya, mengetahui bahan-bahannya, menghargai orang-orang yang menjaganya, dan menemukan cara agar warisan tersebut tetap relevan di masa depan.

Itulah semangat yang ingin ditumbuhkan melalui tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa.”

Dari Kelas 6, Menjadi Generasi yang Menjaga Warisan

Kegiatan BBOT Kelas 6 bersama Bunda Milan Indriani menjadi salah satu pengalaman belajar yang mempertemukan budaya, ilmu pengetahuan, kesehatan, kreativitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Kakak shalih-shalihah belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Mereka juga belajar bahwa bahan-bahan lokal dapat diolah dengan cara yang kreatif dan modern tanpa kehilangan nilai budayanya.

Lebih dari itu, mereka diajak untuk melihat warisan budaya bukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki oleh masa lalu. Warisan budaya adalah amanah untuk generasi hari ini.

Dan mungkin, suatu hari nanti, dari pertanyaan sederhana tentang “lopis itu apa?”, akan lahir sebuah ide besar tentang bagaimana makanan lokal Indonesia bisa menjadi makanan sehat yang dikenal lebih luas.

Sebab di SD Islam Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan.

Belajar adalah tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, menemukan solusi, berkarya, lalu menghadirkan manfaat. Dari warisan rasa, semoga tumbuh rasa cinta. Dari rasa cinta, semoga lahir kepedulian.

Dan dari kepedulian, semoga lahir generasi Bintang Juara yang tidak hanya mengenal warisan bangsanya, tetapi juga berani menjadi bagian dari orang-orang yang menjaganya.*** (CM-MRT)

Outing Class Kelas 6 ke Galeri Batik Zie: Belajar Warisan Budaya Tak Sekadar dari Buku

Outing Class Kelas 6 ke Galeri Batik Zie: Belajar Warisan Budaya Tak Sekadar dari Buku

Selama ini, mungkin batik lebih sering dikenal kakak shalih-shalihah melalui buku pelajaran, gambar, atau kain yang mereka kenakan pada hari tertentu di sekolah. Namun, bagaimana jika mereka bisa melihat langsung proses di balik selembar kain batik?

Bagaimana jika mereka dapat menyentuh bahan pewarna alaminya, mencoba membuat pola, memegang canting, melihat proses pewarnaan, hingga memahami bagaimana limbah produksi batik dapat diolah kembali?

Pengalaman itulah yang didapatkan kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara dalam Outing Class ke Galeri Batik Zie pada Senin, 10 Agustus 2026.

Berlokasi di Kampung, Jl. Malon, RT 03/RW 06, Gunungpati, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50225, kunjungan ini menjadi bagian dari Project Based Learning (PjBL) “Pengenalan Warisan Budaya”.

Bukan sekadar berjalan-jalan, kegiatan ini dirancang agar anak-anak dapat mengenal warisan budaya Indonesia melalui pengalaman nyata. Sebab, mengenal budaya tidak cukup hanya dengan mengetahui namanya. Anak-anak juga perlu memahami proses, sejarah, nilai, dan orang-orang yang menjaganya agar tetap hidup.

Mengenal Sejarah Batik dari Galeri Batik Zie

Sesampainya di Galeri Batik Zie, perjalanan belajar dimulai dari sebuah cerita.

Kakak shalih-shalihah diajak berkenalan dengan sejarah Zie Batik dan perjalanan galeri tersebut dalam menjaga tradisi membatik. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah bahwa galeri ini telah berdiri sebelum UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya.

Dari sini, anak-anak diajak melihat bahwa sebuah warisan budaya tidak tiba-tiba menjadi terkenal dan kemudian perlu dilestarikan. Ada proses panjang, ada orang-orang yang memilih untuk terus berkarya, dan ada generasi yang mau belajar untuk meneruskannya.

Batik bukan hanya tentang motif yang indah. Di balik setiap kain, ada pengetahuan, keterampilan, ketekunan, kreativitas, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Inilah salah satu nilai penting yang ingin dikenalkan melalui Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”. Anak-anak tidak hanya bertanya, “Apa itu batik?”, tetapi juga mulai diajak berpikir, “Mengapa batik perlu kita kenal dan lestarikan?”

Dari Daun, Kayu, hingga Menjadi Warna

Pembelajaran semakin menarik ketika kakak shalih-shalihah dikenalkan pada pewarna alami yang digunakan dalam proses membatik.

Ternyata, warna tidak selalu harus berasal dari bahan sintetis. Alam di sekitar kita juga menyimpan banyak sumber warna yang dapat dimanfaatkan.

Kakak dikenalkan dengan beberapa bahan pewarna alami, di antaranya:

  • Daun indigo, yang melalui proses fermentasi dapat menghasilkan warna biru.
  • Mahoni, yang dapat menghasilkan warna cokelat.
  • Secang, yang dapat menghasilkan warna merah.

Bagi anak-anak, pengalaman ini tentu membuka sudut pandang baru. Sesuatu yang terlihat sederhana seperti daun atau kayu ternyata dapat melalui proses tertentu hingga menghasilkan warna yang digunakan untuk mempercantik kain.

Dari sini, pembelajaran tentang batik sekaligus menjadi pembelajaran tentang sains, lingkungan, dan kreativitas.

Anak-anak dapat melihat bahwa budaya dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang terpisah. Di dalam proses membatik terdapat pengamatan, percobaan, proses, ketelitian, hingga kreativitas.

Batik Tulis, Batik Cap, Ecoprint, dan Tekstil: Apa Bedanya?

Setelah mengenal bahan pewarna, kakak shalih-shalihah diajak mengenali berbagai jenis kain dan teknik pembuatannya. Mereka belajar membedakan batik tulis, batik cap, ecoprint, dan kain tekstil.

Salah satu pemahaman penting yang dikenalkan adalah ciri batik dari proses pewarnaannya. Dalam kegiatan ini, anak-anak dikenalkan bahwa batik memiliki warna yang menembus hingga bagian belakang kain, sementara ecoprint dan tekstil bukan termasuk batik.

Bagi sebagian orang dewasa, perbedaan tersebut mungkin terasa sederhana. Namun bagi anak-anak, kemampuan membedakan karya budaya berdasarkan proses pembuatannya merupakan bagian penting dari literasi budaya.

Sebab, jangan sampai kita hanya mengenal sesuatu karena motifnya terlihat seperti batik. Dengan belajar langsung, kakak shalih-shalihah dapat memahami bahwa setiap karya memiliki proses dan karakteristiknya sendiri.

Pengetahuan seperti ini menjadi bekal agar anak-anak tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya bangga menggunakan produk budaya, tetapi juga memahami apa yang mereka gunakan.

Saat Kakak Kelas 6 Mencoba Menjadi Pembatik

Bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba: praktik membatik. Kakak shalih-shalihah tidak hanya melihat demonstrasi dari dekat. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba sendiri proses membatik.

Dimulai dari membuat pola, anak-anak belajar menuangkan ide ke dalam bentuk visual. Setelah pola siap, perjalanan dilanjutkan dengan nyanting.

Memegang canting dan mengaplikasikan malam tentu membutuhkan ketelitian. Tangan perlu bergerak dengan hati-hati agar malam dapat mengikuti pola yang sudah dibuat.

Di sinilah anak-anak belajar bahwa menghasilkan sebuah karya membutuhkan kesabaran.

  • Tidak bisa terburu-buru.
  • Tidak bisa asal jadi.
  • Ada proses yang harus dilalui tahap demi tahap.

Setelah proses mencanting, kain kemudian masuk ke tahap pewarnaan dan selanjutnya dijemur.

Bagi kakak shalih-shalihah, pengalaman ini mungkin hanya berlangsung dalam satu kunjungan. Namun dari pengalaman tersebut, mereka dapat melihat betapa panjang proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar kain batik.

Sebuah kain yang selama ini mungkin hanya mereka lihat sebagai pakaian, ternyata menyimpan proses panjang di baliknya.

galeri kegiatan outing class kelas 6

Belajar Menjaga Lingkungan dari Proses Membatik

Ada satu pelajaran lain yang tidak kalah menarik dari kunjungan ini: kepedulian terhadap lingkungan.

Di Zie Batik, limbah dari proses produksi tidak langsung dibuang begitu saja. Konsep zero waste diterapkan dengan mengolah kembali bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

Salah satunya adalah malam yang digunakan untuk mencanting. Bahan tersebut dapat digunakan kembali sehingga tidak langsung menjadi limbah.

Pembelajaran ini menjadi sangat relevan bagi anak-anak saat ini. Pelestarian budaya ternyata tidak harus bertentangan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Justru keduanya dapat berjalan bersama.

Dari proses membatik, kakak shalih-shalihah dapat belajar sebuah prinsip sederhana:

Gunakan dengan bijak. Jangan buru-buru membuang. Cari tahu apakah sesuatu masih bisa dimanfaatkan kembali.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat membangun gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Batik yang Aman untuk Beribadah

Kunjungan ke Galeri Batik Zie juga memberikan pengetahuan lain yang dekat dengan keseharian kakak shalih-shalihah sebagai pelajar muslim.

Batik Zie telah memiliki sertifikasi halal, sehingga kainnya aman digunakan untuk salat dan beribadah.

Hal ini menjadi pengingat bahwa bagi seorang muslim, memilih sesuatu bukan hanya tentang apakah benda tersebut terlihat bagus atau menarik. Ada pula aspek keamanan dan kesesuaian dengan nilai-nilai yang diyakini.

Dengan demikian, pengalaman belajar di Galeri Batik Zie tidak berhenti pada aspek budaya dan keterampilan, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim.

Belajar Warisan Budaya Sambil Bertanya, Menjawab, dan Membawa Pulang Pengalaman

Setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, suasana semakin seru dengan sesi tanya jawab dan doorprize. Kakak shalih-shalihah diberi kesempatan untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar materi yang telah dipelajari.

Di sinilah terlihat bahwa belajar di luar kelas memberikan pengalaman yang berbeda. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi juga mengamati, mencoba, bertanya, mengingat kembali informasi, dan menyampaikan jawaban.

Dua kakak shalih-shalihah, Gesang dan Hya, berhasil membawa pulang bingkisan istimewa dari Galeri Batik Zie. Bukan sekadar hadiah, bingkisan tersebut menjadi semacam tanda kecil dari perjalanan belajar yang mereka lalui hari itu.

Sebab, hadiah yang paling berharga dari sebuah outing class sebenarnya bukan hanya sesuatu yang bisa dibawa pulang. Melainkan pengalaman dan pengetahuan yang menetap lebih lama dalam ingatan.

Dari Galeri Batik Zie, Pulang Membawa Cara Pandang Baru

Outing Class kelas 6 SD Islam Bintang Juara ke Galeri Batik Zie menjadi salah satu bentuk pembelajaran bermakna dalam Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang perlu diketahui untuk menjawab soal ujian.

Warisan budaya adalah sesuatu yang perlu dikenal, dihargai, dipahami, dan dilestarikan.

Anak-anak belajar tentang sejarah batik, mengenal pewarna alami, membedakan batik dengan ecoprint dan tekstil, mencoba proses membatik, memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui konsep zero waste, hingga mengenal aspek kehalalan produk.

Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam memahami kekayaan budaya di sekitar.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kakak shalih-shalihah mengenakan batik, mereka tidak lagi hanya melihat sebuah kain dengan motif yang indah.

Mereka akan mengingat bahwa di balik kain tersebut ada tangan yang berkarya, pengetahuan yang diwariskan, alam yang menyediakan warna, proses panjang yang membutuhkan kesabaran, serta budaya yang perlu dijaga bersama.

Menjadi Generasi yang Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan

Bagi SD Islam Bintang Juara, pembelajaran tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.

Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk melihat dunia secara langsung, bertemu dengan para pelaku budaya, mencoba prosesnya, lalu menemukan makna dari pengalaman tersebut.

Sebab generasi tangguh bukan hanya generasi yang cerdas menjawab pertanyaan, tetapi juga generasi yang mampu mengenali akar budayanya, menghargai karya orang lain, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki kemauan untuk meneruskan kebaikan.

Melalui Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”, kakak shalih-shalihah kelas 6 diajak untuk mengenal salah satu kekayaan budaya Indonesia lebih dekat.

Dari Kampung Malon, Gunungpati, semoga tumbuh kesadaran kecil yang kelak menjadi langkah besar:

  • Aku mengenal budayaku.
  • Aku menghargai prosesnya.
  • Aku menjaga warisannya.
  • Dan suatu hari nanti, aku ingin ikut berkarya untuk Indonesia.

Karena di Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang menjadi tahu. Belajar adalah perjalanan untuk menjadi pribadi yang berilmu, beradab, kreatif, tangguh, dan mampu memberi manfaat.*** (CM-MRT)

Semarak Hari Anak Nasional 2026 di SD Islam Bintang Juara: Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba) Sejak Dini

Semarak Hari Anak Nasional 2026 di SD Islam Bintang Juara: Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba) Sejak Dini

“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberi permen, boleh diterima?”

Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh kedua narasumber pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Sontak membuat ratusan tangan mungil terangkat. Ada yang menjawab “boleh”, ada yang mulai ragu, dan sebagian lainnya dengan lantang mengatakan, “Tidak boleh!”

Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan. Di baliknya tersimpan pelajaran penting yang mungkin dapat menyelamatkan masa depan seorang anak.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Kamis, 23 Juli 2026, SD Islam Bintang Juara menghadirkan peringatan yang berbeda. Mengusung tema “Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba)”, sekolah tidak hanya mengajak anak-anak bergembira, tetapi juga membekali mereka dengan bekal kehidupan yang sangat penting: menjaga kesehatan tubuh, berani mengatakan tidak pada narkoba, serta membangun karakter sebagai calon pemimpin muslim yang mampu menjaga diri di tengah tantangan zaman.

Menariknya, kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di dua lokasi berbeda agar materi dapat disampaikan sesuai usia dan kebutuhan perkembangan peserta didik.

Hari Anak Nasional tahun ini benar-benar menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Hari Anak Nasional 2026, Saatnya Melindungi Masa Depan Anak Indonesia

Hari Anak Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan dunia anak. Lebih dari itu, HAN menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung cita-citanya.

Di era sekarang, tantangan anak tidak lagi hanya sebatas belajar membaca atau berhitung. Mereka juga harus dibekali kemampuan memilih makanan sehat, mengenali bahaya narkoba yang semakin beragam bentuknya, serta berani menolak ajakan yang membahayakan dirinya.

Karena itulah SD Islam Bintang Juara memilih menghadirkan dua kegiatan edukatif yang saling melengkapi.

Anak-anak kelas rendah diperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui dongeng yang menyenangkan. Sementara kakak-kakak kelas atas memperoleh edukasi langsung mengenai bahaya narkoba bersama narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah.

Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menjaga amanah Allah berupa tubuh dan masa depannya.

Belajar Lewat Dongeng: Kak Kempho Mengajak Anak Mencegah Stunting Sejak Dini

Di area kelas 2, suasana dipenuhi gelak tawa ketika Kak Kempho mulai mendongeng di hadapan siswa kelas 1-3.

Namun di balik cerita yang menghibur, tersimpan pesan yang sangat serius.

Anak-anak diajak memahami apa itu stunting, mengapa tubuh membutuhkan makanan bergizi, dan bagaimana kebiasaan makan hari ini akan menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.

Melalui bahasa yang sederhana, Kak Kempho menjelaskan bahwa menjadi anak hebat bukan berarti selalu makan makanan yang viral atau jajanan berwarna-warni.

Sebaliknya, tubuh membutuhkan makanan yang mengandung protein, sayur, buah, susu, dan berbagai nutrisi lain agar otak berkembang optimal, tubuh tumbuh kuat, dan semangat belajar tetap terjaga.

Kak Kempho juga mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan MSG berlebihan, gula tinggi, serta jajanan yang tidak jelas kandungan gizinya.

Anak-anak pun mulai menyadari bahwa memilih makanan sehat merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.

galeri HAN dongeng bersama kak Kempho

Permen Tidak Selalu Manis, Ada Bahaya yang Harus Diwaspadai

Di penghujung dongeng, suasana mendadak berubah serius. Kak Kempho menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana.

“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan permen, bagaimana?”

Anak-anak mulai berpikir.

Lalu Kak Kempho menjelaskan bahwa saat ini ada oknum yang menyalahgunakan narkoba dengan cara menyamarkannya menjadi bentuk yang sangat akrab dengan anak-anak, seperti permen, minuman, jajanan, bahkan makanan ringan.

Pesan yang disampaikan sangat jelas:

Jangan menerima makanan ataupun minuman dari orang yang tidak dikenal.

Anak-anak belajar bahwa kewaspadaan bukan berarti curiga kepada semua orang, tetapi menjadi bentuk ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.

Bersama BNN Jawa Tengah, Mengenal Bahaya Narkoba Sejak Dini

Sementara itu, di ruang kelas 4 dan kelas 6, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti sesi edukasi bersama Pak Dela Sulistiyawan Yunior, S.I.Kom., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat dari BNN Provinsi Jawa Tengah.

Materi diawali dengan cara yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Pak Dela mengajak siswa menyaksikan sebuah video, kemudian berdiskusi tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga programmer.

Dari sinilah Pak Dela menghubungkan satu pesan penting:

Semua cita-cita membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Karena itu, narkoba harus dijauhi.

Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan pengertian narkoba, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang dapat merusak tubuh maupun otak manusia.

Narkoba Kini Hadir dalam Bentuk yang Tidak Disangka

Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika Pak Dela menunjukkan bahwa narkoba tidak selalu berbentuk seperti yang sering terlihat di televisi.

Justru saat ini narkoba dapat disamarkan dalam bentuk yang sangat akrab dengan kehidupan anak, seperti:

  • Permen
  • Minuman
  • Jajanan
  • Roti atau makanan ringan

Materi tersebut membuat kakak shalih-shalihah semakin memahami mengapa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang asing.

Pesan sederhana ini sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.

Mengapa Orang Bisa Terjerumus Narkoba?

Melalui sesi tanya jawab interaktif, Pak Dela menjelaskan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba karena berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh lingkungan pertemanan, keluarga, maupun kondisi psikologis seseorang.

Anak-anak diajak memahami bahwa memilih teman yang baik juga merupakan bagian dari menjaga diri. Mereka pun belajar bahwa keputusan kecil hari ini akan sangat menentukan masa depan.

galeri HAN 2026 edukasi bahaya narkoba bersama BNN

Rokok dan Minuman Keras Juga Berbahaya

Pak Dela menegaskan bahwa ancaman bagi generasi muda bukan hanya narkoba. Rokok dan minuman keras juga sama-sama berbahaya.

Rokok dapat merusak paru-paru, memicu penyakit kronis, bahkan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Sementara minuman keras dapat merusak kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan seseorang.

Pesan ini menjadi penguatan bahwa hidup sehat bukan sekadar menghindari narkoba, tetapi juga menjauhi seluruh kebiasaan yang merusak tubuh.

Berani Menolak Adalah Bentuk Keberanian Sejati

Bagian paling seru terjadi ketika seluruh siswa diajak mempraktikkan bagaimana cara menolak jika diberi makanan atau minuman oleh orang yang tidak dikenal.

Pak Dela memberikan tiga langkah sederhana yang mudah diingat anak-anak:

  1. Tolak dengan sopan.
  2. Tolak disertai alasan.
  3. Segera pergi atau menghindar dari situasi tersebut.

Praktik ini membuat anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan nyata apabila suatu saat menghadapi situasi serupa.

Inilah bentuk pendidikan yang aplikatif—belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk bertindak dengan benar.

Menjadi Generasi BERSINAR Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Dalam materinya, Pak Dela juga mengajak siswa melakukan berbagai kebiasaan positif agar terhindar dari narkoba.

Di antaranya:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
  • Rajin berolahraga.
  • Tidak jajan sembarangan.
  • Belajar dengan sungguh-sungguh.
  • Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tidak mengonsumsi obat tanpa arahan orang tua atau tenaga kesehatan.
  • Bergaul di lingkungan yang baik.
  • Berani menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.

Semua kebiasaan tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk menghindari narkoba, tetapi juga membentuk gaya hidup sehat yang akan membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.

SD Islam Bintang Juara memilih tema “Membangun Generasi Bintang Juara Bersinar (Bersih Narkoba)” ternyata selaras dengan salah satu sub tema Hari Anak Nasional tahun ini. Ternyata,  BNN juga sedang menggalakan program BERSINAR, yang baru saja launching secara serentak hari ini. Alhamdulillah, sekolah ini senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan.

semarak hari anak nasional di SD Islam Bintang Juara

Menjadi Calon Pemimpin Muslim yang Menjaga Amanah Allah

Hari Anak Nasional di SD Islam Bintang Juara tahun ini tidak berhenti pada slogan BERSINAR (Bersih Narkoba).

Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan cara pandang bahwa tubuh, akal, dan kesehatan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Seorang calon pemimpin muslim bukan hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, memilih lingkungan yang baik, berani berkata tidak terhadap ajakan yang salah, serta hidup sehat agar dapat terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Inilah makna pendidikan karakter yang terus dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.

Karena kami percaya, membangun generasi hebat tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan. Anak-anak juga perlu dibekali keberanian untuk memilih yang benar, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan adab dalam setiap langkah kehidupan.

Semoga semangat Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara bahwa setiap anak adalah cahaya masa depan. Ketika mereka tumbuh sehat, beradab, bebas dari narkoba, dan memiliki cita-cita yang kuat, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena di SD Islam Bintang Juara, kami tidak hanya mendidik anak menjadi pintar. Kami menyiapkan mereka menjadi pemimpin muslim yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan siap menjadi solusi bagi tantangan zamannya.*** (CM-MRT)

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim

Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.”

Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.

Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.

Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan

Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.

galeri hari pertama pekan taaruf 2026

Apel Pembukaan

Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.

Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.

Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah

Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.

Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.

Pesona Bintang Juara

Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.

Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.

Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.

Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.

Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.

Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif

Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.

galeri hari kedua pekan taaruf 2026

Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.

Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.

Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu

Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

galeri hari ketiga pekan taaruf 2026

Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.

Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.

Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi

Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.

Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.

galeri hari keempat pekan taaruf 2026

Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.

Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.

Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik

Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)

Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.

galeri hari kelima pekan taaruf 2026

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.

Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.

Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama

Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.

Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.

Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.

Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.

Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna

Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.

Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)

Bukan Nama Kelas Biasa, Ini Alasan SD Islam Bintang Juara Memilih Nama Ilmuwan Muslim

Bukan Nama Kelas Biasa, Ini Alasan SD Islam Bintang Juara Memilih Nama Ilmuwan Muslim

Kalimat sederhana yang menyebutkan nama-nama ilmuwan muslim kini terdengar saat tahun ajaran baru dimulai. “Bu, aku kelas Ibnu Sina.”

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah nama kelas. Tidak berbeda dengan kelas Melati, Anggrek, Aster, atau bahkan nama warna dan tokoh kartun yang lazim digunakan di banyak sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, setiap nama kelas dipilih dengan penuh pertimbangan.

Karena kami percaya, apa yang sering disebut, didengar, dan dikenal anak setiap hari akan perlahan membentuk cara mereka berpikir tentang siapa yang layak dijadikan teladan.

Di tengah derasnya arus digital, anak-anak masa kini begitu akrab dengan tokoh superhero, karakter animasi, hingga tokoh-tokoh dalam gim daring. Sebagian memang menghibur, tetapi tidak semuanya membawa nilai yang membangun karakter.

Di sisi lain, sejarah Islam justru dipenuhi oleh tokoh-tokoh luar biasa yang nyata. Mereka adalah ilmuwan, pemimpin, dokter, matematikawan, astronom, hingga penemu yang karya-karyanya masih digunakan dunia hingga hari ini.

Inilah yang menjadi latar belakang lahirnya filosofi nama ilmuwan muslim menjadi nama-nama kelas pada Tahun Pelajaran 2026/2027 SD Islam Bintang Juara.

Menghidupkan Kembali Keteladanan yang Nyaris Terlupakan

Ada satu keresahan yang sering muncul di kalangan para guru. Banyak anak mampu menyebut puluhan nama karakter fiksi, tetapi belum mengenal siapa Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, atau Al-Biruni.

Padahal, tokoh-tokoh tersebut merupakan bagian penting dari peradaban dunia. Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah sosok yang berhasil menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan ibadah dan manfaat bagi umat manusia.

Karena itulah, SD Islam Bintang Juara memilih nama-nama ilmuwan muslim dan khalifah sebagai identitas setiap kelas. Harapannya sederhana, tetapi penuh makna. Semoga setiap kali anak menyebut nama kelasnya, mereka sekaligus mengenal sosok besar yang menjadi inspirasi di balik nama tersebut.

filosofi nama kelas SD Islam Bintang Juara TP 2026-2027 alasan

Nama Ilmuwan Muslim yang Menjadi Doa

Di SD Islam Bintang Juara, nama bukan sekadar identitas. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah pengingat tentang nilai yang ingin ditanamkan.

Kami berharap kakak shalih-shalihah tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, cinta ilmu, berani berkarya, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Sebagaimana para ilmuwan muslim dahulu menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat bagi dunia, kami berharap kelak para siswa juga menjadi generasi yang karya dan kontribusinya membawa keberkahan.

Karena sekolah bukan hanya tempat memperoleh nilai tinggi, melainkan tempat menumbuhkan mimpi besar.

Mengenal Sosok Inspiratif di Balik Nama Setiap Kelas

Setiap jenjang memiliki tokoh yang dipilih berdasarkan kontribusi besar mereka terhadap peradaban Islam dan dunia.

Kelas 1: Memulai Perjalanan dengan Semangat Mencintai Ilmu

  • Kelas 1A – Ibnu Sina : Dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb, kitab kedokteran yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Harapannya, anak-anak belajar bahwa ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi manfaat bagi banyak orang di masa depan.
  • Kelas 1B – Al-Khawarizmi : Tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Aljabar sekaligus pelopor konsep algoritma dan angka nol. Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nama Al-Khawarizmi menjadi semakin relevan karena istilah algorithm berasal dari namanya.
  • Kelas 1C – Ibnu Al-Haytham ; Ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Beliau merumuskan teori penglihatan dan hukum pembiasan cahaya yang menjadi dasar perkembangan ilmu optik hingga saat ini.

Kelas 2: Berani Berkarya dan Bereksperimen

  • Kelas 2A – Abu Qasim Al-Zahrawi : Pelopor ilmu bedah modern yang merancang berbagai alat bedah yang menjadi inspirasi dunia medis.
  • Kelas 2B – Jabir bin Hayyan : Dikenal sebagai Bapak Kimia Modern melalui penemuan proses distilasi, kristalisasi, serta pengembangan berbagai metode eksperimen ilmiah.
  • Kelas 2C – Abbas bin Firnas : Sosok visioner yang dikenal sebagai pelopor penerbangan melalui percobaan glider atau pesawat layang jauh sebelum teknologi penerbangan berkembang.

Kelas 3: Mengajarkan Rasa Ingin Tahu terhadap Alam Semesta

  • Kelas 3A – Al-Battani : Astronom dan matematikawan muslim yang berhasil menghitung panjang satu tahun matahari dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.
  • Kelas 3B – Ibnu Al-Nafis : Dokter muslim pertama yang menjelaskan secara ilmiah tentang sirkulasi darah melalui paru-paru, jauh sebelum ditemukan kembali oleh ilmuwan Barat.
  • Kelas 3C – Al-Biruni : Ahli geologi sekaligus astronom yang berhasil mengukur keliling bumi dengan metode ilmiah yang sangat mendekati hasil pengukuran modern.

filosofi nama kelas -2

Kelas 4–6: Belajar Kepemimpinan dari Para Khalifah

Tidak hanya ilmuwan, kakak shalih-shalihah juga dikenalkan kepada para pemimpin Islam yang meninggalkan warisan luar biasa.

  • Kelas 4A – Umar bin Abdul Aziz : Pemimpin yang dikenal dengan reformasi administrasi pemerintahan, penguatan kodifikasi hadis, serta komitmennya dalam memberantas korupsi dan menegakkan keadilan.
  • Kelas 4B – Ali bin Abi Thalib : Khalifah yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdasan, serta pembenahan sistem administrasi dan tata kelola negara.
  • Kelas 5A – Utsman bin Affan : Sosok yang berjasa dalam kodifikasi mushaf Al-Qur’an sehingga umat Islam hingga kini memiliki bacaan Al-Qur’an yang terjaga keseragamannya.
  • Kelas 5B – Umar bin Khattab : Pemimpin visioner yang menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam.
  • Kelas 6 – Abu Bakar Ash-Shiddiq : Khalifah pertama yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, serta keberaniannya menegakkan kewajiban zakat demi menjaga persatuan umat.

Agar kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat dan bisa meneladani karakter tokoh-tokoh di atas, pada Pekan Taaruf hari ketiga dan keempat, kakak diajak untuk membedah profil masing-masing kelas. Bukan hanya sekadar mendengarkan informasi satu arah dari guru di kelas, tetapi juga melalui beragam tantangan dan permainan yang seru, bermakna, juga menyenangkan.

Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal-Hal Sederhana

Mungkin bagi sebagian orang, pergantian nama kelas terlihat sederhana. Namun dalam dunia pendidikan, simbol memiliki kekuatan.

Ketika setiap hari anak memasuki kelas “Ibnu Sina”, “Al-Khawarizmi”, atau “Al-Biruni”, rasa ingin tahu akan perlahan tumbuh.

  • Siapa beliau?
  • Apa jasanya?
  • Mengapa namanya digunakan sebagai nama kelas?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang menjadi pintu masuk pembelajaran karakter, sejarah, dan kecintaan terhadap peradaban Islam. Kakak shalih-shalihah akan belajar bahwa menjadi muslim berarti juga menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Menyiapkan Generasi yang Menjadi Solusi

Di SD Islam Bintang Juara, kami memiliki keyakinan bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak generasi yang sekadar mengikuti tren. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan solusi.

  • Generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
  • Generasi yang berani bermimpi besar namun tetap rendah hati.
  • Generasi yang menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

Karena itu, filosofi nama kelas ini bukan hanya tentang mengenalkan tokoh sejarah. Ini adalah doa yang dipanjatkan setiap hari.

Semoga setiap anak yang belajar di bawah nama para ilmuwan dan pemimpin besar Islam tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah rapuh oleh zaman, serta kelak mampu melahirkan karya-karya yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

Sebab setiap anak adalah bintang. Dan setiap bintang berhak menjadi juara.*** (CM-MRT)

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh  yang Mengharu Biru

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh yang Mengharu Biru

Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.

Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.

Enam Tahun yang Penuh Cerita

Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.

Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan

Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.

Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.

Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.

Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru

Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.

Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.

Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.

Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan

Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.

Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.

Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.

Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.

Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim

Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.

Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.

Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih

Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.

Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.

Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta

Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.

Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.

Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran

Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.

Penyematan Samir yang Sarat Makna

Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.

Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.

Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru

Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.

Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.

Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.

Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***