fbpx
Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Pagi ini, Jumat, 24 April 2026, suasana di lapangan upacara SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Langit masih teduh, angin berhembus lembut, dan langkah kaki kakak shalih-shalihah dari kelas 1 hingga kelas 6 berjalan lebih tenang dari biasanya. Hari itu bukan sekadar hari sekolah biasa. Hari itu adalah momen istimewa: Istighosah dan Doa Bersama dalam rangka persiapan menghadapi TKA untuk kakak kelas 6.

Semua berkumpul dalam satu lingkaran harapan. Guru, siswa, dan seluruh elemen sekolah menyatu dalam satu tujuan: memohon kemudahan, kelancaran, dan keberkahan dari Allah SWT.

Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA dengan Sejuta Harapan

Kegiatan dibuka dengan penuh kekhusyukan, dipimpin oleh Pak Ali. Suara dzikir mulai menggema, pelan namun dalam. Kalimat-kalimat istighfar dilantunkan bersama, mengalir seperti aliran air yang menenangkan hati. Dalam momen itu, setiap anak belajar bahwa ada kekuatan besar dalam doa—bahwa sebelum berusaha menaklukkan soal-soal ujian, ada satu hal yang harus dikuatkan terlebih dahulu: hubungan dengan Allah.

Istighosah bukan hanya tentang membaca doa bersama. Ia adalah proses menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bahwa sekuat apa pun usaha kita, tetap ada ruang untuk berserah diri. Dan di sinilah pendidikan karakter itu tumbuh—dari kesadaran, dari kerendahan hati, dan dari keyakinan.

Di barisan depan, kakak kelas 6 duduk dengan lebih hening. Wajah-wajah mereka menyimpan banyak rasa—antara semangat, harap, dan mungkin juga sedikit cemas. TKA bukan sekadar ujian akademik. Ia adalah gerbang menuju fase berikutnya. Maka wajar jika momen ini terasa begitu penting.

Namun, yang menarik, mereka tidak menghadapi ini sendirian.

Seluruh adik kelas turut hadir, ikut mendoakan. Sebuah pelajaran berharga tentang kebersamaan dan ukhuwah. Bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, kita tidak berjalan sendiri. Ada doa-doa yang mengiringi, ada dukungan yang menguatkan.

Setelah rangkaian istighosah, kegiatan dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pak Arif. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar seluruh siswa kelas 6 diberikan kemudahan dalam memahami soal, ketenangan dalam mengerjakan, dan hasil terbaik yang penuh keberkahan.

Suasana semakin haru ketika doa selesai.

Musofahah dan Doa Restu

Satu per satu, kakak kelas 6 berdiri dan berjalan mendekati para guru. Mereka melakukan musofahah, berjabat tangan, menundukkan kepala, dan meminta doa restu. Sebuah tradisi sederhana, namun sarat makna.

Di balik genggaman tangan itu, tersimpan rasa hormat, cinta, dan harapan. Di balik ucapan lirih “mohon doanya ya, Pak, Bu…”, tersimpan keyakinan bahwa doa guru adalah salah satu kunci keberkahan ilmu.

Momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang hubungan hati—antara murid dan guru, antara usaha dan doa, antara ikhtiar dan tawakal.

Manfaat Istighosah dan Doa Bersama

Kegiatan Istighosah dan Doa Bersama ini juga mengajarkan kepada seluruh kakak shalih-shalihah bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak belajar, tetapi juga seberapa dalam kita bersandar kepada Allah.

Bagi kakak kelas 1 hingga 5, ini adalah pembelajaran yang sangat berharga. Mereka melihat langsung bagaimana kakak kelas 6 mempersiapkan diri, bukan hanya dengan belajar, tetapi juga dengan memperkuat spiritualitas. Sebuah bekal yang kelak akan mereka lakukan juga saat berada di posisi yang sama.

Sementara bagi kakak kelas 6, kegiatan ini menjadi penguat mental dan emosional. Rasa cemas yang mungkin muncul perlahan tergantikan dengan ketenangan. Karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada doa dari guru, dari teman, bahkan dari seluruh lingkungan sekolah.

Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai bahwa setiap langkah besar dalam hidup harus diawali dengan doa. Bahwa ikhtiar terbaik adalah yang diiringi dengan tawakal.

Istighosah juga melatih anak untuk mengenali emosi mereka—merasa cemas itu wajar, merasa takut itu manusiawi. Namun, mereka diajarkan cara mengelola perasaan tersebut dengan mendekat kepada Allah, bukan dengan menghindar atau menyerah.

Di sinilah letak keindahan pendidikan berbasis nilai. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.

Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali hangat. Senyum mulai merekah, obrolan ringan terdengar di antara kakak-kakak. Ada semangat baru yang tumbuh. Ada keyakinan yang semakin kuat.

Karena mereka telah belajar satu hal penting hari itu bahwa usaha terbaik adalah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan disempurnakan dengan doa yang tulus.

Istighosah dan Doa Bersama ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah momen pembentukan karakter. Momen di mana anak belajar tentang harapan, kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.

Dan mungkin, di antara semua pelajaran yang didapat hari itu, ada satu hal yang akan terus mereka ingat:

Bahwa setiap langkah menuju masa depan, selalu dimulai dengan menundukkan diri… dan mengetuk langit lewat doa.***

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.

Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.

Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.

Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.

Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?

Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak

Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.

Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.

Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.

Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.

Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol

Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.

Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.

Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.

Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.

Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini

Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.

Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.

Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.

Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.

Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut

Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:

Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.

Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.

Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.

Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman

Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.

Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.

Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.

Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar

Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.

Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.

Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:

Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)

Serunya Belajar Macapat Gambuh: Kelas 4B Menyanyi Penuh Makna

Serunya Belajar Macapat Gambuh: Kelas 4B Menyanyi Penuh Makna

Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.

Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.

Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.

Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna

Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.

Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.

Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.

Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu

Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:

  • Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
  • Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
  • Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.

Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.

Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.

Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.

Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.

Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.

Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.

Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang

Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.

Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.

Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama

Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.

Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.

Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.

Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.

Belajar Budaya, Membentuk Karakter

Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:

  • Menghargai warisan budaya lokal
  • Melatih kepekaan rasa dan empati
  • Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
  • Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
  • Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.

Menjaga Budaya, Menjaga Identitas

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.

Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.

Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)

Serunya Magang Adab di Pands: Belajar Kerja Sambil Menjaga Akhlak

Serunya Magang Adab di Pands: Belajar Kerja Sambil Menjaga Akhlak

Pagi itu suasana terasa berbeda bagi kakak shalih-shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara. Kali ini seragam sekolah yang mereka kenakan tidak hanya digunakan belajar di dalam kelas, melainkan melahirkan semangat baru untuk belajar langsung dari dunia nyata. Selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 April 2026, mereka mengikuti kegiatan Magang Adab di Pands Muslim Store.

Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pengalaman belajar yang dirancang untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kemandirian, dan tentu saja adab dalam bekerja.

Magang Adab ini merupakan kali ketiga diselenggarakan di Pands Muslim Store. Pesertanya adalah seluruh kakak kelas 5, serta satu kakak kelas 6 yang tahun sebelumnya belum sempat mengikuti. Meski konsepnya serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, pengalaman yang dirasakan setiap anak tetap terasa baru, menantang, dan penuh makna.

Belajar dari Dunia Nyata, Bukan Sekadar Teori

Setibanya di lokasi, kakak shalih-shalihah langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai area tugas masing-masing: gudang, toko, dan studio. Setiap area menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama; belajar bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Di area gudang, kakak belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian tinggi. Mereka membantu mengemas kerudung dan pakaian, menyortir alat sensor sesuai ukuran, hingga mengantarkan barang ke toko. Aktivitas ini melatih fokus, ketelitian, dan kesabaran.

Tidak sedikit dari mereka yang awalnya menganggap pekerjaan ini mudah, namun kemudian menyadari bahwa kesalahan kecil saja bisa berdampak besar. Dari sinilah mereka mulai memahami arti bekerja dengan sungguh-sungguh.

Berpindah ke area toko, suasana terasa lebih dinamis. Kakak shalih-shalihah belajar menata baju di rak agar terlihat rapi dan menarik. Mereka juga berlatih melayani pembeli dengan sopan dan ramah.

Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi pengalaman berharga. Mereka belajar menyapa, menawarkan bantuan, hingga menjaga sikap saat berbicara. Di sinilah adab benar-benar diuji—bagaimana bersikap santun dalam situasi nyata.

Dari Kamera hingga Percaya Diri

Sementara itu, di area studio, pengalaman tak kalah seru menanti. Kakak shalih-shalihah diajak untuk berperan sebagai model sekaligus fotografer. Mereka belajar berpose di depan kamera, sekaligus mencoba memotret teman-temannya.

Bagi sebagian anak, berdiri di depan kamera bukanlah hal yang mudah. Ada rasa malu, canggung, bahkan tidak percaya diri. Namun perlahan, dengan dukungan teman dan pembimbing, mereka mulai berani mencoba.

Dari sini, muncul satu pembelajaran penting: keberanian tidak datang dari rasa siap, tapi dari kemauan untuk mencoba.

Di sisi lain, saat memegang kamera, mereka belajar bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan proses. Mengatur angle, pencahayaan, hingga fokus—semuanya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

galeri magang adab di Pands

Magang Adab: Lebih dari Sekadar Bekerja

Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan hanya aktivitasnya, tetapi nilai yang dibangun di dalamnya. Kakak shalih-shalihah tidak hanya belajar “cara bekerja”, tetapi juga “bagaimana bersikap saat bekerja”.

Mereka belajar datang tepat waktu, mengikuti arahan, bekerja sama dalam tim, hingga menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa pekerjaan apapun, selama dilakukan dengan niat yang baik dan adab yang benar, akan menjadi bernilai ibadah.

Magang Adab ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan dunia kerja sejak dini, namun dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Tidak ada tekanan, yang ada justru pengalaman menyenangkan yang membangun karakter.

Pengalaman Pertama yang Tak Terlupakan

Bagi kakak shalih-shalihah kelas 5, ini adalah pengalaman pertama mereka terlibat langsung dalam aktivitas seperti ini. Wajar jika di awal mereka merasa bingung atau ragu.

Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa. Bahkan banyak di antara mereka yang justru merasa senang dan ingin mencoba lagi.

Tawa, cerita, dan pengalaman selama tiga hari ini menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Dari yang awalnya hanya “ikut kegiatan”, berubah menjadi “mengerti makna”.

Bekal untuk Masa Depan

Magang Adab di Pands Muslim Store bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah bagian dari proses panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar ilmu. Dibutuhkan sikap, etika, dan tanggung jawab.

Nilai-nilai inilah yang diharapkan akan terus mereka bawa, bukan hanya saat di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari hingga masa depan nanti.

Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita bersikap.

Dan dari langkah kecil di Pands Muslim Store ini, semoga menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah—dengan adab sebagai pondasinya.*** (CM-MRT)

Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Suasana aula sekolah pagi itu terasa berbeda. Senyum ceria, rasa penasaran, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan ketika kakak shalih–shalihah berkumpul untuk mengikuti Puncak Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim di SD Islam Bintang Juara.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Acara dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh Pak Amir dan Bu Laila, yang mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kegiatan dengan penuh kegembiraan.

Puncak Festival Ramadan tidak hanya menjadi momen pengumuman pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi tentang Idulfitri, penampilan inspiratif dari para peserta terbaik, serta pembagian apresiasi kepada siswa-siswi yang telah menunjukkan bakat dan usaha terbaik mereka.

Penguatan Materi Idulfitri: Kembali kepada Kesucian

Sebelum memasuki sesi pengumuman pemenang festival, kegiatan diawali dengan penguatan materi tentang Idulfitri yang disampaikan oleh Pak Ali.

Dalam pemaparannya, Pak Ali menjelaskan bahwa Idulfitri memiliki makna yang sangat mendalam. Secara bahasa, Idulfitri berarti kembali kepada kesucian. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih—baik hati, pikiran, maupun perbuatannya.

Pak Ali juga mengajak kakak shalih–shalihah memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan salat Idulfitri.

Beliau menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan salat Idulfitri dimulai sejak matahari terbit hingga sebelum waktu zuhur. Ini berbeda dengan salat Jumat yang dilaksanakan pada waktu zuhur.

Selain waktu pelaksanaan, terdapat juga perbedaan dalam jumlah takbir pada salat Idulfitri.

Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan jika ditambah dengan takbiratul ihram, maka jumlahnya menjadi delapan kali takbir. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah pendek, dan yang disunnahkan adalah Surah Al-A’la.

Sedangkan pada rakaat kedua, terdapat lima kali takbir. Jika ditambah dengan takbiratul qiyam, jumlahnya menjadi enam kali takbir.

Agar penjelasan semakin mudah dipahami, Pak Ali kemudian mengajak Kak Syabil dan Kak Nadhif untuk maju ke depan menjadi model praktik salat Idulfitri. Dengan contoh langsung, kakak shalih–shalihah dapat melihat secara jelas urutan gerakan dan bacaan salat Idulfitri.

Pak Ali juga mengajarkan niat salat Idulfitri, yaitu:

“Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.”

Artinya: Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Di akhir sesi, Pak Ali juga mengingatkan beberapa sunnah sebelum melaksanakan salat Idulfitri, di antaranya:

  • Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat
  • Mandi untuk menyambut Idulfitri dengan niat karena Allah Ta’ala
  • Berhias secukupnya, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian
  • Berjalan kaki menuju tempat salat, serta dianjurkan mengambil jalur berbeda saat berangkat dan pulang
  • Mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah

Penjelasan ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih–shalihah agar dapat menyambut Idulfitri dengan pemahaman yang benar.

Penampilan Bermakna dari Peserta Terbaik

Setelah sesi penguatan materi, acara dilanjutkan dengan penampilan istimewa dari para peserta terbaik Festival Ramadan.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah ceramah dari Kak Akhtar, yang menjadi peserta terbaik Da’i Cilik kelas tinggi. Dalam ceramahnya, Kak Akhtar menyampaikan pesan tentang pentingnya adab seorang anak kepada orang tua dan guru.

Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Pesan yang sederhana namun penuh makna ini disampaikan dengan penuh percaya diri.

galeri penampilan bermakna puncak festival ramadan

Selanjutnya, suasana menjadi lebih meriah dengan penampilan Kak Sena dan Kak Balya yang menyanyikan lagu Rukun Iman. Lagu tersebut mengajak semua yang hadir untuk kembali mengingat dasar-dasar keimanan dalam Islam.

Tidak kalah menarik, Kak Ayra tampil membawakan cerita Islami tentang Nabi Nuh AS, nabi yang dikenal dengan kisah bahteranya yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.

Penampilan lain datang dari Kak Ihsan, yang menyampaikan ceramah bertema Nuzulul Qur’an, serta Kak Ganendra yang bercerita tentang salah satu sahabat Rasulullah, Usamah bin Zaid, seorang pemimpin muda yang dipercaya Rasulullah memimpin pasukan di usia yang sangat muda.

Acara penampilan ditutup dengan duet merdu dari Kak Naura dan Kak Neyva, yang membawakan lagu Islami dengan penuh penghayatan.

Puncak Festival Ramadan: Pengumuman Peserta Terbaik

Momen yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman pemenang Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang dipanggil. Berikut daftar peserta terbaik dalam berbagai cabang lomba:

1. Festival Azan

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Fatih (2A)
  • Juara 2: Zaky (3A)
  • Juara 3: Dipa (2A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Royan (5)
  • Juara 2: Naoki (4B)
  • Juara 3: Farabi (6)

2. Festival Da’i Cilik

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Ihsan (3B)
  • Juara 2: Alin (3A)
  • Juara 3: Hafsa (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Akhtar (5)
  • Juara 2: Hasna (4A)
  • Juara 3: Zahra (6)

3. Festival Kaligrafi

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Afsenia (3A)
  • Juara 2: Jezira (3A)
  • Juara 3: Feisya (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Al Kindi (4A)
  • Juara 2: Damar (4B)
  • Juara 3: Ghaza (5)

4. Festival Tahfiz

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Hisyam (3B)
  • Juara 2: Oki (1C)
  • Juara 3: Kaira (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Hya (5)
  • Juara 2: Banyu (5)
  • Juara 3: Fakhri (4B)

5. Festival Duet Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Sena – Hanya (2A)
  • Juara 2: Gentala – Jaziel (3A)
  • Juara 3: Rama – Karuna (1A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Naura – Neyva (4B)
  • Juara 2: Satria – Gesang (5)
  • Juara 3: Syabil – Aqasha (6)

6. Cerita Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Aira (3B)
  • Juara 2: Hanif (3A)
  • Juara 3: Abim (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Ganendra (4A)
  • Juara 2: Aleena (4A)
  • Juara 3: Sophia (4B)

7. Pengetahuan PAI & BTQ

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Rafif (3A)
  • Juara 2: Nura (2A)
  • Juara 3: Rumaisa (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Thalita (5)
  • Juara 2: Moza (4A)
  • Juara 3: Lina (4B)

8. Festival Tartil

Khusus untuk festival ini hanya diperuntukkan bagi kelas tinggi, terutama yang sudah belajar Qiraaty Juz 27 dan Ghorib. Dan inilah para peserta terbaiknya:

  • Juara 1: Yossi (5)
  • Juara 2: Nadhif (6)
  • Juara 3: Allea (5)

Menumbuhkan Calon Pemimpin Muslim

Puncak Festival Ramadan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani tampil, serta menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.

Dari panggung kecil tempat mereka membaca Al-Qur’an, bercerita tentang kisah para nabi, hingga menyampaikan ceramah, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keberanian, dan semangat untuk menyebarkan kebaikan.

Karena sejatinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan melalui kegiatan seperti inilah nilai-nilai tersebut mulai ditanamkan sejak dini kepada kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.

Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.

Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.

Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.

Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.

Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.

Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.

Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:

  • Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
  • Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)

Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.

Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita

Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.

Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Tantangan Membuat Ketupat dari Pita

Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.

Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.

Namun justru di sinilah letak keseruannya.

Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.

Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan

Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.

Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.

Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.

Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak

Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

  1. Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
  2. Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
  3. Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  4. Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
  5. Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.

Belajar Budaya, Memahami Makna

Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.

Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.

Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.

Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)