fbpx
Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.

Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.

Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.

Dari Rasa Gugup Menjadi Berani

Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.

Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.

Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.

Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini

Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.

Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.

Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:

  • Menyusun materi sederhana
  • Memahami isi pesan yang akan disampaikan
  • Melatih keberanian berbicara di depan umum
  • Mengelola rasa gugup
  • Menyampaikan dakwah dengan santun

Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.

Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya

Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.

Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.

Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.

Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak

Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.

  1. Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
  2. Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
  3. Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
  4. Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
  5. Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.

Dakwah yang Tumbuh dari Hati

Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.

Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.

Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.

Membentuk Generasi yang Siap Memimpin

Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.

Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.

Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.

Melalui kultum:

  • Anak belajar berdiri tegak.
  • Anak belajar menyampaikan kebenaran.
  • Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.

Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”

Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.

Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka

Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”

Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:

  • Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
  • Residu: sisa dari bahan yang digunakan.

Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring

Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.

Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.

Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.

Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.

Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.

Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.

Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan

Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.

Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.

Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.

Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.

Anak-anak belajar:

  • Menghitung perbandingan secara nyata
  • Memahami konsep dilusi
  • Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
  • Bertanggung jawab terhadap lingkungan

Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.

Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.

Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

“Sedia payung sebelum hujan.”

Kalimat yang sering didengar itu ternyata menyimpan pelajaran penting bagi kakak shalih–shalihah kelas 1C. Pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) 1C menghadirkan narasumber istimewa: Bunda Surya Wilantika, orang tua dari Kak Ghumaisa.

Tema yang diangkat sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Cuaca.

Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Meja sudah disiapkan untuk praktik kecil. Wajah kakak shalih–shalihah tampak penasaran. Apa hubungannya payung, hujan, dan cuaca?

Mengenal Cuaca Lewat Gambar yang Dekat dengan Anak

Bunda Surya memulai sesi dengan mengajak kakak mengenal apa itu cuaca. Tidak langsung dengan definisi panjang, tetapi melalui gambar-gambar menarik—matahari bersinar cerah, awan mendung, hujan turun, dan angin bertiup.

“Kalau langitnya cerah dan panas, itu cuaca apa?” tanya Bunda.

“Cerah!” jawab kakak serempak.

“Kalau banyak awan hitam?”

“Hujan!”

Diskusi ringan itu membuat anak-anak menyadari bahwa cuaca adalah kondisi udara yang bisa berubah setiap hari. Kadang panas, kadang mendung, kadang hujan. Dari sini, mereka mulai memahami mengapa kita perlu bersiap—termasuk membawa payung saat langit terlihat gelap.

Saatnya Praktik: Bagaimana Hujan Terjadi?

Bagian yang paling ditunggu pun tiba: eksperimen proses terjadinya hujan.

Bunda Surya menyiapkan:

  • Segelas air panas
  • Kertas bekas bungkus snack
  • Beberapa potong es batu

Air panas dimasukkan ke dalam gelas. Uap tipis mulai terlihat naik perlahan. Gelas kemudian ditutup dengan kertas snack. Di atas kertas itu, Bunda meletakkan es batu.

Kakak shalih–shalihah mengamati dengan penuh perhatian. Perlahan, es batu mulai mencair. Tak lama kemudian, titik-titik air muncul di bagian bawah kertas.

“Lihat! Tetesan hujan!” seru salah satu kakak.

Momen itu menjadi ajaib. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana uap air naik, bertemu suhu dingin, lalu berubah menjadi titik-titik air—mirip proses hujan di alam.

Bunda Surya menjelaskan dengan bahasa sederhana: ketika air di bumi terkena panas matahari, air menguap naik ke langit. Di atas, udara lebih dingin. Uap itu berubah menjadi titik air, berkumpul menjadi awan, lalu turun sebagai hujan.

Eksperimen sederhana ini membuat konsep yang biasanya sulit menjadi mudah dipahami.

Belajar Sains dengan Cara Menyenangkan

Kegiatan BBOT 1C ini menunjukkan bahwa belajar sains tidak harus rumit. Dengan alat sederhana yang mudah ditemukan di rumah, anak-anak bisa memahami proses alam yang luar biasa.

Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar untuk mengamati, bertanya, dan menyimpulkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi melihat langsung perubahan yang terjadi.

Rasa ingin tahu pun tumbuh. Ada yang bertanya kenapa es bisa mencair. Ada yang penasaran apakah semua awan pasti turun hujan. Diskusi kecil itu menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna sedang terjadi.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak

Kehadiran Bunda Surya sebagai narasumber memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Anak-anak merasa bangga karena orang tua temannya bisa berbagi ilmu di kelas.

BBOT bukan sekadar program, tetapi ruang kebersamaan. Anak belajar bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja—termasuk dari orang tua yang peduli dan mau terlibat.

Dari Cuaca ke Karakter

“Sedia payung sebelum hujan” ternyata bukan hanya tentang cuaca. Ini juga tentang kesiapan. Anak-anak belajar bahwa penting untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi.

  • Belajar membawa payung saat mendung.
  • Belajar menjaga kesehatan saat cuaca berubah.
  • Dan belajar memahami alam sebagai ciptaan Allah yang penuh hikmah.

Alhamdulillah, sesi BBOT 1C hari itu berjalan dengan penuh keceriaan. Kakak shalih–shalihah pulang membawa pemahaman baru tentang cuaca—dan mungkin juga cerita seru untuk dibagikan di rumah.

Karena belajar tentang hujan hari itu bukan hanya soal air yang turun dari langit, tetapi tentang rasa ingin tahu yang terus bertumbuh.***

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

Ramadan memang belum tiba, tetapi getarannya sudah terasa kuat di lingkungan SD Islam Bintang Juara. Ada semangat yang tumbuh perlahan. Ada hati-hati kecil yang mulai dipersiapkan. Karena menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu tanggal di kalender—melainkan menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.

Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah di SD Islam Bintang Juara

Selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat, 11–13 Februari 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti Rangkaian Tarbiyah Ramadan SD Islam Bintang Juara. Setiap harinya menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesiapan ilmu, hati, dan amal dalam menyambut bulan suci.

Rabu, 11 Februari 2026: Tarbiyah Ramadan & Pembagian Buku Ramadan

Hari pertama dibuka dengan kegiatan Tarbiyah Ramadan dan Pembagian Buku Ramadan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok besar agar materi sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Kelas Tinggi (Kelas 4–6): Menguatkan Pemahaman dan Kesadaran

Kakak kelas 4–6 didampingi oleh Pak Zaki. Sesi dimulai bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan recalling—mengajak kakak mengingat kembali apa saja yang penting diketahui tentang Ramadan.

  • “Ramadan itu bulan apa?”
  • “Apa tujuan kita berpuasa?”
  • “Selain puasa, ibadah apa saja yang dianjurkan?”

Tangan-tangan terangkat. Jawaban mengalir: puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah, menahan amarah. Diskusi terasa hidup. Kakak tidak hanya menyebutkan, tetapi mulai memahami makna di baliknya.

Pak Zaki kemudian menguatkan kembali esensi Ramadan sebagai bulan pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perbuatan. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri.

Kelas Rendah (Kelas 1–3): Memahami Ramadan dengan Ceria

Sementara itu, kakak kelas 1–3 didampingi oleh Pak Ali dan Pak Rizki. Pendekatannya tentu berbeda. Anak-anak diajak menonton video animasi Rico tentang berpuasa.

Melalui tayangan yang ringan dan menyenangkan, kakak belajar tentang apa itu puasa, kapan waktu berpuasa, serta hal-hal sederhana yang perlu dijaga selama Ramadan. Setelah menonton, Pak Ali dan Pak Rizki memberikan penjelasan dasar dengan bahasa yang mudah dipahami.

  • Apa itu niat?
  • Kenapa tidak boleh makan dan minum saat puasa?
  • Bagaimana jika lupa?

Semua dijelaskan sesuai kebutuhan usia mereka. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangun pemahaman awal yang kuat.

Di akhir sesi, baik di kelas tinggi maupun rendah, kakak menerima Buku Ramadan yang akan menjadi panduan ibadah dan refleksi selama bulan suci. Buku ini bukan sekadar lembaran tugas, melainkan sahabat perjalanan spiritual mereka.

Hari pertama ditutup dengan senyum dan rasa penasaran. Ramadan terasa semakin dekat.

Kamis, 12 Februari 2026: BBM – Bersih-bersih Masjid dan Musala

Hari kedua diisi dengan kegiatan penuh makna: BBM (Bersih-bersih Masjid dan Musala).

Kakak kelas 3–5 berangkat ke masjid dan musala sekitar sekolah. Sapu di tangan, lap kain dibawa, dan hati yang siap beramal. Membersihkan karpet, merapikan sajadah, menyapu halaman—semua dilakukan bersama.

Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti. Dari hal sederhana ini, kakak shalih–shalihah belajar menjadi muslim yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat.

Membersihkan rumah Allah menjadi jalan untuk membersihkan hati. Setiap debu yang disapu seolah mengingatkan bahwa hati pun perlu dibersihkan dari iri, malas, dan amarah.

Ini adalah amalan spesial menyambut Ramadan.

Sementara itu, kakak kelas 1–2 dan kelas 6 mendapat tugas membersihkan area sekolah. Kelas 6 sebelumnya harus menuntaskan ujian praktik, sehingga mereka kemudian mendapat amanah mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2.

Pemandangan yang indah terlihat: kakak kelas 6 membimbing adik-adiknya. Mengajarkan cara menyapu, mengingatkan untuk berhati-hati, dan bekerja sama. Ramadan benar-benar menjadi momen pembinaan karakter.

Jumat, 13 Februari 2026: Pawai Ramadan – Syiar yang Berjalan

Hari ketiga menjadi puncak yang paling meriah: Pawai Ramadan.

Bersama PAUD Islam Bintang Juara, kakak shalih–shalihah berbaris rapi. Mereka membawa manggar yang telah dibuat di rumah masing-masing. Warna-warni hiasan menghiasi barisan, menciptakan suasana penuh semangat.

Langkah kecil mereka menyusuri area perkampungan dekat sekolah. Shalawat dilantunkan bersama. Suaranya mungkin sederhana, tetapi getarannya terasa kuat.

Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah syiar. Doa yang berjalan. Harapan yang dikibarkan bersama. Harapan untuk hati yang lebih bersih. Ibadah yang lebih kuat. Dan diri yang lebih baik dari kemarin.

Warga sekitar menyambut dengan senyum. Ada kebahagiaan yang menular. Anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Ramadan Dimulai dari Persiapan Hati

Rangkaian Tarbiyah Ramadan ini menunjukkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan menunggu hilal terlihat. Persiapan harus dimulai jauh-jauh hari—dengan ilmu, amal, dan kebersamaan.

  • Melalui tarbiyah, kakak memahami makna Ramadan.
  • Melalui bersih masjid, kakak belajar peduli dan beramal.
  • Melalui pawai, kakak belajar bersyiar dan berbagi semangat.

Di SD Islam Bintang Juara, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi proses pembinaan karakter yang berkelanjutan.

Kini, Ramadan semakin dekat. Dan pertanyaannya bukan lagi, “Kapan Ramadan tiba?” Tetapi, “Sudah sejauh mana kita menyiapkan diri?”

Kalau ayah bunda, sudah menyiapkan kegiatan apa di rumah untuk menyambut Ramadan bersama kakak shalih–shalihah?***

Tak Sekadar Penyuluhan! Kakak Kelas 4–6 Belajar Lawan Cacingan & Jaga Gigi

Tak Sekadar Penyuluhan! Kakak Kelas 4–6 Belajar Lawan Cacingan & Jaga Gigi

Belajar tentang kesehatan tidak harus selalu menunggu sakit. Justru, pemahaman sejak dini menjadi kunci utama agar anak tumbuh sehat, kuat, dan siap belajar dengan optimal. Inilah semangat yang terasa dalam kegiatan penyuluhan kesehatan dari Puskesmas Sekaran untuk kakak shalih–shalihah kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, yang dilaksanakan pada Jumat, 6 Februari 2026.

Pagi itu, suasana aula sekolah tampak berbeda. Kakak-kakak duduk rapi dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Bukan untuk ulangan atau lomba, melainkan untuk belajar mengenali dua hal penting yang sering dianggap sepele, namun berdampak besar bagi tumbuh kembang anak: penyakit cacingan dan kesehatan gigi.

Mengapa Cacingan dan Gigi Perlu Dibahas?

Tim dari Puskesmas Sekaran membuka penyuluhan dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang pernah sakit perut tanpa sebab yang jelas?” atau “Siapa yang pernah gigi berlubang tapi tetap dibiarkan?”

Pertanyaan-pertanyaan ini langsung membuat kakak shalih–shalihah terlibat aktif. Dari sinilah anak-anak mulai memahami bahwa tubuh mereka menyimpan banyak tanda yang perlu dikenali sejak awal.

Cacingan dan masalah gigi memang sering terjadi pada anak usia sekolah. Namun, keduanya kerap luput dari perhatian karena gejalanya tidak selalu terasa berat di awal. Padahal, jika dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi konsentrasi belajar, stamina, hingga kepercayaan diri anak.

Mengenal Penyakit Cacingan dengan Cara yang Mudah Dipahami

Dalam sesi pertama, kakak shalih–shalihah diajak mengenal apa itu penyakit cacingan. Dengan bahasa yang sederhana dan visual yang menarik, tim Puskesmas Sekaran menjelaskan bahwa cacingan adalah kondisi ketika cacing hidup di dalam tubuh manusia, terutama di saluran pencernaan.

Anak-anak pun dibuat terkejut ketika mengetahui bahwa cacing bisa masuk ke tubuh melalui tangan yang kotor, kuku panjang yang jarang dibersihkan, atau makanan yang tidak higienis. Beberapa kakak terlihat reflektif, mulai mengingat kebiasaan sehari-hari mereka.

Tak hanya itu, dijelaskan pula tanda-tanda anak mengalami cacingan, seperti mudah lelah, perut sering sakit, berat badan sulit naik, hingga sulit berkonsentrasi di kelas. Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar aturan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Edukasi Kesehatan Gigi: Senyum Sehat Dimulai dari Kebiasaan Baik

Sesi berikutnya tak kalah menarik, yaitu tentang kesehatan gigi dan mulut. Tim Puskesmas Sekaran mengajak kakak shalih–shalihah melihat contoh gigi sehat dan gigi bermasalah. Reaksi anak-anak pun beragam—ada yang kaget, ada yang langsung memegang pipinya sendiri.

Melalui sesi ini, kakak shalih–shalihah memahami bahwa gigi berlubang tidak muncul begitu saja. Kebiasaan jarang menyikat gigi, terlalu sering mengonsumsi makanan manis, dan malas kontrol ke dokter gigi menjadi faktor utama penyebabnya.

Yang menarik, anak-anak tidak hanya diberi teori, tetapi juga tips praktis menjaga kesehatan gigi, mulai dari waktu menyikat gigi yang tepat, cara menyikat gigi yang benar, hingga pentingnya rutin memeriksakan gigi meski tidak terasa sakit.

Belajar Aktif, Bertanya Tanpa Ragu

Penyuluhan ini terasa hidup karena kakak shalih–shalihah sangat aktif bertanya. Ada yang bertanya apakah sakit gigi bisa sembuh sendiri, ada pula yang penasaran apakah cacingan bisa dicegah hanya dengan rajin cuci tangan.

Interaksi dua arah ini menunjukkan bahwa anak-anak benar-benar terlibat dalam proses belajar. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga berpikir, merefleksi, dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.

Menanamkan Kesadaran Sejak Dini

Lebih dari sekadar penyuluhan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SD Islam Bintang Juara dalam membangun pembelajaran yang berkesadaran dan bermakna. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah dan amanah terhadap tubuh yang Allah titipkan.

Dengan pemahaman ini, diharapkan kakak shalih–shalihah tidak hanya menerapkan kebiasaan sehat di sekolah, tetapi juga di rumah. Mulai dari rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan kuku, menyikat gigi secara teratur, hingga berani mengingatkan teman atau anggota keluarga untuk hidup lebih sehat.

Kolaborasi Sekolah dan Layanan Kesehatan

Kegiatan penyuluhan ini juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara sekolah dan layanan kesehatan. Kehadiran Puskesmas Sekaran memberikan nilai tambah yang nyata, karena informasi disampaikan langsung oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berpengalaman.

Sinergi ini diharapkan terus terjalin agar anak-anak mendapatkan edukasi kesehatan yang utuh, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan usia mereka.

Sehat Itu Investasi Masa Depan

Dari kegiatan ini, kakak shalih–shalihah kelas 4–6 belajar satu hal penting: sehat bukan kebetulan, tetapi hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Mengenali penyakit cacingan dan menjaga kesehatan gigi adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan mereka.

Karena anak yang sehat akan lebih siap belajar, lebih percaya diri, dan lebih mampu meraih prestasi. Dan di SD Islam Bintang Juara, pendidikan selalu dimulai dari hal paling mendasar: menjaga diri, menjaga amanah, dan menumbuhkan kesadaran sejak dini.***

Belajar Mengenal Energi Jadi Super Seru! BBOT Kelas 3A Bikin Mobil Angin Melaju

Belajar Mengenal Energi Jadi Super Seru! BBOT Kelas 3A Bikin Mobil Angin Melaju

“Siapa yang tahu apa itu energi?”

Pertanyaan sederhana itu membuka pagi yang penuh rasa ingin tahu di kelas 3A SD Islam Bintang Juara, Jumat, 6 Februari 2026. Bukan pelajaran IPA biasa, hari itu kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Tri Widatma, Ayah dari Kak Zaki. Tema yang diangkat pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: energi.

Energi sering disebut, sering digunakan, tapi jarang benar-benar dipahami maknanya oleh anak-anak. Melalui BBOT ini, kakak kelas 3A diajak bukan hanya menghafal definisi, tetapi merasakan, memikirkan, dan mempraktikkan apa itu energi—dengan cara yang seru dan membekas.

Energi Ada di Sekitar Kita

Ayah Tri membuka sesi dengan mengajak kakak-kakak berdiskusi. Tidak langsung memberi definisi, Ayah justru meminta kakak shalih–shalihah menjelaskan energi dengan bahasa mereka sendiri. Kelas pun menjadi hidup. Tangan-tangan kecil mulai terangkat, wajah-wajah penuh semangat ingin menyampaikan pendapat.

Salah satu kakak yang dengan percaya diri mengangkat tangan adalah Kak Nazril. Ia menyebutkan bahwa energi panas adalah salah satu contoh energi. Jawaban itu langsung disambut dengan antusias. Ayah Tri kemudian menambahkan contoh-contoh sederhana dari energi panas yang dekat dengan kehidupan anak-anak: panas matahari, api kompor, hingga tubuh yang terasa hangat setelah berlari.

Dari diskusi ini, kakak shalih–shalihah mulai menyadari bahwa energi bukanlah konsep jauh dan abstrak. Energi selalu hadir dalam aktivitas mereka sehari-hari.

Apa Itu Energi? Definisi yang Mudah Dipahami Anak

Untuk menguatkan pemahaman, Ayah Tri kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sederhana namun bermakna:

“Energi adalah daya atau kekuatan yang bisa membuat sesuatu bergerak, menyala, atau berubah.”

Contoh-contoh pun langsung diberikan:

  • Saat kakak berlari, tubuh membutuhkan energi.
  • Saat lampu menyala, ada energi listrik yang bekerja.
  • Saat kipas angin berputar, ada energi yang menggerakkannya.

Penjelasan ini membuat kakak shalih–shalihah mengangguk-angguk paham. Energi tidak lagi sekadar kata di buku pelajaran, tetapi sesuatu yang benar-benar mereka alami.

Macam-Macam Energi yang Ada di Sekitar Kita

Ayah Tri kemudian mengajak kakak kelas 3A menjelajah berbagai jenis energi yang ada di sekitar mereka.

Energi Angin

Angin disebut sebagai sumber energi. Angin yang bergerak dapat menggerakkan kincir angin, lalu menghasilkan energi lain berupa listrik. Dari sini, kakak belajar bahwa satu jenis energi bisa berubah menjadi bentuk energi lainnya.

Energi Cahaya

Energi cahaya alami berasal dari matahari. Matahari membantu manusia melihat, menghangatkan bumi, dan bahkan membantu tumbuhan tumbuh dengan baik.

Energi Air

Air yang mengalir bisa menggerakkan kincir air dan menghasilkan listrik. Diskusi pun berkembang hingga membahas manfaat pohon, yang membantu menjaga ketersediaan air. Kakak belajar bahwa menjaga lingkungan juga berarti menjaga sumber energi.

Energi dari Makanan: Kenapa Harus Mau Makan?

Bagian ini menjadi salah satu momen paling “kena” di hati kakak shalih–shalihah. Ayah Tri menyentil dengan pertanyaan yang sangat relate:

“Kenapa ya, kadang kakak susah banget diminta makan?”

Pertanyaan ini disambut tawa kecil dan wajah-wajah malu. Ayah kemudian menjelaskan bahwa makanan adalah sumber energi utama tubuh. Agar tubuh bisa beraktivitas dengan baik, dibutuhkan makanan dengan kandungan:

  • Karbohidrat
  • Protein
  • Vitamin
  • Mineral
  • Lemak

Semua zat gizi tersebut membantu tubuh menghasilkan energi. Tanpa energi dari makanan, tubuh akan lemas dan sulit fokus belajar. Pesan sederhana ini menjadi pengingat penting bagi kakak shalih–shalihah untuk lebih menghargai makanan yang tersedia.

Energi Bahan Bakar dan Cara Menghemat Energi

Ayah Tri juga mengenalkan energi bahan bakar, seperti bensin dan gas, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini, diskusi berlanjut pada cara menghemat energi.

Kakak diajak berpikir: mematikan lampu saat tidak digunakan, menggunakan air secukupnya, dan tidak boros energi. Nilai kepedulian terhadap lingkungan pun ditanamkan sejak dini melalui diskusi sederhana namun bermakna.

Yang Paling Ditunggu: Waktunya Eksperimen!

Setelah diskusi panjang yang penuh interaksi, tibalah momen yang paling dinanti: eksperimen membuat mobil angin. Wajah kakak kelas 3A langsung berbinar. Inilah saatnya membuktikan bahwa energi benar-benar bisa dilihat dan dirasakan.

Kakak dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat anak. Mereka belajar bekerja sama, berbagi tugas, dan saling membantu sejak proses awal.

Bahan yang Digunakan:

  • Botol bekas
  • Empat tutup botol
  • Dua sumpit atau tusuk sate
  • Balon
  • Dua sedotan (salah satunya sedotan tekuk)
  • Lem tembak

Proses Membuat Mobil Angin: Belajar Teliti dan Kerja Sama

Ayah Tri memandu langkah demi langkah dengan sabar:

  • Sedotan dipotong menjadi dua bagian.
  • Lem tembak dipanaskan.
  • Sedotan ditempel presisi di bagian bawah botol agar mobil bisa seimbang.
  • Sedotan tekuk dimasukkan ke balon, lalu diikat kuat.
  • Tutup botol dilubangi dan dipasang pada sumpit sebagai roda.
  • Balon dimasukkan ke bagian atas botol.

Setiap langkah mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama. Tidak semua kelompok langsung berhasil, tapi justru di situlah proses belajar terjadi.

Balon Ditiup, Mobil Pun Melaju!

Saat balon ditiup dan dilepaskan, terdengar sorak sorai di kelas. Mobil dari botol bekas pun melaju! Kakak shalih–shalihah menyaksikan langsung bagaimana energi angin dari balon dapat menggerakkan mobil.

Ayah Tri kemudian mengajak seluruh kelompok untuk bertanding. Mobil mana yang melaju paling cepat? Namun penilaian tidak hanya soal kecepatan. Kelompok yang dinilai terbaik adalah kelompok yang sejak awal bekerja sama dengan baik.

Kelompok terbaik hari itu adalah kelompok Kak Wildan. Namun Ayah Tri menutup dengan pesan yang sangat menenangkan:

“Hari ini semua kakak kelas 3A adalah pemenang. Karena semuanya sudah berusaha, fokus, dan saling bekerja sama.”

Belajar Energi, Belajar Kehidupan

BBOT Kelas 3A hari itu bukan sekadar belajar tentang energi. Kakak shalih–shalihah belajar tentang:

  • Berani mengemukakan pendapat
  • Menghargai ide teman
  • Bekerja sama dalam kelompok
  • Tidak menyerah saat mencoba hal baru

Melalui eksperimen mobil angin, konsep energi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dipraktikkan langsung dengan penuh kegembiraan.

Penutup: Energi yang Menyalakan Semangat Belajar

Alhamdulillah, sesi BBOT bersama Ayah Tri Widatma berjalan dengan sangat seru dan bermakna. Kakak kelas 3A pulang dengan senyum lebar, cerita baru, dan pemahaman yang lebih utuh tentang energi.

Belajar hari itu membuktikan bahwa ketika sekolah, orang tua, dan anak berjalan bersama, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan menggembirakan.

Karena energi bukan hanya tentang panas, cahaya, atau angin—tetapi juga tentang semangat belajar yang terus menyala.***