by admin admin | Feb 11, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa
Belajar tentang kesehatan tidak harus selalu menunggu sakit. Justru, pemahaman sejak dini menjadi kunci utama agar anak tumbuh sehat, kuat, dan siap belajar dengan optimal. Inilah semangat yang terasa dalam kegiatan penyuluhan kesehatan dari Puskesmas Sekaran untuk kakak shalih–shalihah kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, yang dilaksanakan pada Jumat, 6 Februari 2026.
Pagi itu, suasana aula sekolah tampak berbeda. Kakak-kakak duduk rapi dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Bukan untuk ulangan atau lomba, melainkan untuk belajar mengenali dua hal penting yang sering dianggap sepele, namun berdampak besar bagi tumbuh kembang anak: penyakit cacingan dan kesehatan gigi.
Mengapa Cacingan dan Gigi Perlu Dibahas?
Tim dari Puskesmas Sekaran membuka penyuluhan dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang pernah sakit perut tanpa sebab yang jelas?” atau “Siapa yang pernah gigi berlubang tapi tetap dibiarkan?”
Pertanyaan-pertanyaan ini langsung membuat kakak shalih–shalihah terlibat aktif. Dari sinilah anak-anak mulai memahami bahwa tubuh mereka menyimpan banyak tanda yang perlu dikenali sejak awal.
Cacingan dan masalah gigi memang sering terjadi pada anak usia sekolah. Namun, keduanya kerap luput dari perhatian karena gejalanya tidak selalu terasa berat di awal. Padahal, jika dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi konsentrasi belajar, stamina, hingga kepercayaan diri anak.
Mengenal Penyakit Cacingan dengan Cara yang Mudah Dipahami
Dalam sesi pertama, kakak shalih–shalihah diajak mengenal apa itu penyakit cacingan. Dengan bahasa yang sederhana dan visual yang menarik, tim Puskesmas Sekaran menjelaskan bahwa cacingan adalah kondisi ketika cacing hidup di dalam tubuh manusia, terutama di saluran pencernaan.
Anak-anak pun dibuat terkejut ketika mengetahui bahwa cacing bisa masuk ke tubuh melalui tangan yang kotor, kuku panjang yang jarang dibersihkan, atau makanan yang tidak higienis. Beberapa kakak terlihat reflektif, mulai mengingat kebiasaan sehari-hari mereka.
Tak hanya itu, dijelaskan pula tanda-tanda anak mengalami cacingan, seperti mudah lelah, perut sering sakit, berat badan sulit naik, hingga sulit berkonsentrasi di kelas. Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar aturan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Edukasi Kesehatan Gigi: Senyum Sehat Dimulai dari Kebiasaan Baik
Sesi berikutnya tak kalah menarik, yaitu tentang kesehatan gigi dan mulut. Tim Puskesmas Sekaran mengajak kakak shalih–shalihah melihat contoh gigi sehat dan gigi bermasalah. Reaksi anak-anak pun beragam—ada yang kaget, ada yang langsung memegang pipinya sendiri.
Melalui sesi ini, kakak shalih–shalihah memahami bahwa gigi berlubang tidak muncul begitu saja. Kebiasaan jarang menyikat gigi, terlalu sering mengonsumsi makanan manis, dan malas kontrol ke dokter gigi menjadi faktor utama penyebabnya.
Yang menarik, anak-anak tidak hanya diberi teori, tetapi juga tips praktis menjaga kesehatan gigi, mulai dari waktu menyikat gigi yang tepat, cara menyikat gigi yang benar, hingga pentingnya rutin memeriksakan gigi meski tidak terasa sakit.
Belajar Aktif, Bertanya Tanpa Ragu
Penyuluhan ini terasa hidup karena kakak shalih–shalihah sangat aktif bertanya. Ada yang bertanya apakah sakit gigi bisa sembuh sendiri, ada pula yang penasaran apakah cacingan bisa dicegah hanya dengan rajin cuci tangan.
Interaksi dua arah ini menunjukkan bahwa anak-anak benar-benar terlibat dalam proses belajar. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga berpikir, merefleksi, dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Menanamkan Kesadaran Sejak Dini
Lebih dari sekadar penyuluhan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SD Islam Bintang Juara dalam membangun pembelajaran yang berkesadaran dan bermakna. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah dan amanah terhadap tubuh yang Allah titipkan.
Dengan pemahaman ini, diharapkan kakak shalih–shalihah tidak hanya menerapkan kebiasaan sehat di sekolah, tetapi juga di rumah. Mulai dari rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan kuku, menyikat gigi secara teratur, hingga berani mengingatkan teman atau anggota keluarga untuk hidup lebih sehat.
Kolaborasi Sekolah dan Layanan Kesehatan
Kegiatan penyuluhan ini juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara sekolah dan layanan kesehatan. Kehadiran Puskesmas Sekaran memberikan nilai tambah yang nyata, karena informasi disampaikan langsung oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berpengalaman.
Sinergi ini diharapkan terus terjalin agar anak-anak mendapatkan edukasi kesehatan yang utuh, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan usia mereka.
Sehat Itu Investasi Masa Depan
Dari kegiatan ini, kakak shalih–shalihah kelas 4–6 belajar satu hal penting: sehat bukan kebetulan, tetapi hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Mengenali penyakit cacingan dan menjaga kesehatan gigi adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan mereka.
Karena anak yang sehat akan lebih siap belajar, lebih percaya diri, dan lebih mampu meraih prestasi. Dan di SD Islam Bintang Juara, pendidikan selalu dimulai dari hal paling mendasar: menjaga diri, menjaga amanah, dan menumbuhkan kesadaran sejak dini.***
by admin admin | Feb 10, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
“Siapa yang tahu apa itu energi?”
Pertanyaan sederhana itu membuka pagi yang penuh rasa ingin tahu di kelas 3A SD Islam Bintang Juara, Jumat, 6 Februari 2026. Bukan pelajaran IPA biasa, hari itu kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Tri Widatma, Ayah dari Kak Zaki. Tema yang diangkat pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: energi.
Energi sering disebut, sering digunakan, tapi jarang benar-benar dipahami maknanya oleh anak-anak. Melalui BBOT ini, kakak kelas 3A diajak bukan hanya menghafal definisi, tetapi merasakan, memikirkan, dan mempraktikkan apa itu energi—dengan cara yang seru dan membekas.
Energi Ada di Sekitar Kita
Ayah Tri membuka sesi dengan mengajak kakak-kakak berdiskusi. Tidak langsung memberi definisi, Ayah justru meminta kakak shalih–shalihah menjelaskan energi dengan bahasa mereka sendiri. Kelas pun menjadi hidup. Tangan-tangan kecil mulai terangkat, wajah-wajah penuh semangat ingin menyampaikan pendapat.
Salah satu kakak yang dengan percaya diri mengangkat tangan adalah Kak Nazril. Ia menyebutkan bahwa energi panas adalah salah satu contoh energi. Jawaban itu langsung disambut dengan antusias. Ayah Tri kemudian menambahkan contoh-contoh sederhana dari energi panas yang dekat dengan kehidupan anak-anak: panas matahari, api kompor, hingga tubuh yang terasa hangat setelah berlari.
Dari diskusi ini, kakak shalih–shalihah mulai menyadari bahwa energi bukanlah konsep jauh dan abstrak. Energi selalu hadir dalam aktivitas mereka sehari-hari.
Apa Itu Energi? Definisi yang Mudah Dipahami Anak
Untuk menguatkan pemahaman, Ayah Tri kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sederhana namun bermakna:
“Energi adalah daya atau kekuatan yang bisa membuat sesuatu bergerak, menyala, atau berubah.”
Contoh-contoh pun langsung diberikan:
- Saat kakak berlari, tubuh membutuhkan energi.
- Saat lampu menyala, ada energi listrik yang bekerja.
- Saat kipas angin berputar, ada energi yang menggerakkannya.
Penjelasan ini membuat kakak shalih–shalihah mengangguk-angguk paham. Energi tidak lagi sekadar kata di buku pelajaran, tetapi sesuatu yang benar-benar mereka alami.
Macam-Macam Energi yang Ada di Sekitar Kita
Ayah Tri kemudian mengajak kakak kelas 3A menjelajah berbagai jenis energi yang ada di sekitar mereka.
Energi Angin
Angin disebut sebagai sumber energi. Angin yang bergerak dapat menggerakkan kincir angin, lalu menghasilkan energi lain berupa listrik. Dari sini, kakak belajar bahwa satu jenis energi bisa berubah menjadi bentuk energi lainnya.
Energi Cahaya
Energi cahaya alami berasal dari matahari. Matahari membantu manusia melihat, menghangatkan bumi, dan bahkan membantu tumbuhan tumbuh dengan baik.
Energi Air
Air yang mengalir bisa menggerakkan kincir air dan menghasilkan listrik. Diskusi pun berkembang hingga membahas manfaat pohon, yang membantu menjaga ketersediaan air. Kakak belajar bahwa menjaga lingkungan juga berarti menjaga sumber energi.
Energi dari Makanan: Kenapa Harus Mau Makan?
Bagian ini menjadi salah satu momen paling “kena” di hati kakak shalih–shalihah. Ayah Tri menyentil dengan pertanyaan yang sangat relate:
“Kenapa ya, kadang kakak susah banget diminta makan?”
Pertanyaan ini disambut tawa kecil dan wajah-wajah malu. Ayah kemudian menjelaskan bahwa makanan adalah sumber energi utama tubuh. Agar tubuh bisa beraktivitas dengan baik, dibutuhkan makanan dengan kandungan:
- Karbohidrat
- Protein
- Vitamin
- Mineral
- Lemak
Semua zat gizi tersebut membantu tubuh menghasilkan energi. Tanpa energi dari makanan, tubuh akan lemas dan sulit fokus belajar. Pesan sederhana ini menjadi pengingat penting bagi kakak shalih–shalihah untuk lebih menghargai makanan yang tersedia.
Energi Bahan Bakar dan Cara Menghemat Energi
Ayah Tri juga mengenalkan energi bahan bakar, seperti bensin dan gas, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini, diskusi berlanjut pada cara menghemat energi.
Kakak diajak berpikir: mematikan lampu saat tidak digunakan, menggunakan air secukupnya, dan tidak boros energi. Nilai kepedulian terhadap lingkungan pun ditanamkan sejak dini melalui diskusi sederhana namun bermakna.
Yang Paling Ditunggu: Waktunya Eksperimen!
Setelah diskusi panjang yang penuh interaksi, tibalah momen yang paling dinanti: eksperimen membuat mobil angin. Wajah kakak kelas 3A langsung berbinar. Inilah saatnya membuktikan bahwa energi benar-benar bisa dilihat dan dirasakan.
Kakak dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat anak. Mereka belajar bekerja sama, berbagi tugas, dan saling membantu sejak proses awal.
Bahan yang Digunakan:
- Botol bekas
- Empat tutup botol
- Dua sumpit atau tusuk sate
- Balon
- Dua sedotan (salah satunya sedotan tekuk)
- Lem tembak
Proses Membuat Mobil Angin: Belajar Teliti dan Kerja Sama
Ayah Tri memandu langkah demi langkah dengan sabar:
- Sedotan dipotong menjadi dua bagian.
- Lem tembak dipanaskan.
- Sedotan ditempel presisi di bagian bawah botol agar mobil bisa seimbang.
- Sedotan tekuk dimasukkan ke balon, lalu diikat kuat.
- Tutup botol dilubangi dan dipasang pada sumpit sebagai roda.
- Balon dimasukkan ke bagian atas botol.
Setiap langkah mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama. Tidak semua kelompok langsung berhasil, tapi justru di situlah proses belajar terjadi.
Balon Ditiup, Mobil Pun Melaju!
Saat balon ditiup dan dilepaskan, terdengar sorak sorai di kelas. Mobil dari botol bekas pun melaju! Kakak shalih–shalihah menyaksikan langsung bagaimana energi angin dari balon dapat menggerakkan mobil.
Ayah Tri kemudian mengajak seluruh kelompok untuk bertanding. Mobil mana yang melaju paling cepat? Namun penilaian tidak hanya soal kecepatan. Kelompok yang dinilai terbaik adalah kelompok yang sejak awal bekerja sama dengan baik.
Kelompok terbaik hari itu adalah kelompok Kak Wildan. Namun Ayah Tri menutup dengan pesan yang sangat menenangkan:
“Hari ini semua kakak kelas 3A adalah pemenang. Karena semuanya sudah berusaha, fokus, dan saling bekerja sama.”
Belajar Energi, Belajar Kehidupan
BBOT Kelas 3A hari itu bukan sekadar belajar tentang energi. Kakak shalih–shalihah belajar tentang:
- Berani mengemukakan pendapat
- Menghargai ide teman
- Bekerja sama dalam kelompok
- Tidak menyerah saat mencoba hal baru
Melalui eksperimen mobil angin, konsep energi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dipraktikkan langsung dengan penuh kegembiraan.
Penutup: Energi yang Menyalakan Semangat Belajar
Alhamdulillah, sesi BBOT bersama Ayah Tri Widatma berjalan dengan sangat seru dan bermakna. Kakak kelas 3A pulang dengan senyum lebar, cerita baru, dan pemahaman yang lebih utuh tentang energi.
Belajar hari itu membuktikan bahwa ketika sekolah, orang tua, dan anak berjalan bersama, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan menggembirakan.
Karena energi bukan hanya tentang panas, cahaya, atau angin—tetapi juga tentang semangat belajar yang terus menyala.***
by admin admin | Feb 9, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar tidak selalu harus duduk rapi sambil membuka buku. Terkadang, belajar justru paling bermakna saat anak bergerak, mendengar, mencoba, dan merasakan langsung. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) yang berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026.
Hari itu, suasana kelas 1A terasa berbeda. Bukan suara pensil atau halaman buku yang terdengar, melainkan bunyi tak… dum… tap… yang berpadu ceria. Ya, kakak shalih–shalihah sedang belajar ritme musik bersama Ayah Eka, Ayah dari Kak Hiro, yang hadir sebagai narasumber kegiatan BBOT.
Mengenal Ritme Lewat Alat Musik Sungguhan
Sejak awal kegiatan, antusiasme kakak shalih–shalihah sudah terlihat. Ayah Eka datang membawa beberapa alat musik sederhana namun menarik perhatian: stik drum, tamborine, dan wave drum. Satu per satu alat diperkenalkan sambil menunjukkan cara memainkannya.
Kakak shalih–shalihah mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka belajar bahwa ritme adalah pola bunyi yang teratur, yang membuat musik terdengar hidup dan menyenangkan. Bukan sekadar bunyi keras atau pelan, tapi ada aturan, tempo, dan kekompakan di dalamnya.
Anak-anak pun diajak mencoba secara bergantian. Ada yang masih ragu-ragu memukul stik drum, ada pula yang langsung percaya diri mengikuti ketukan. Semua proses ini menjadi bagian penting dari belajar—tidak harus sempurna, yang penting berani mencoba.
Belajar Musik Bisa dari Apa Saja di Sekitar Kita
Yang membuat kegiatan ini semakin seru adalah saat Ayah Eka mengajak kakak shalih–shalihah berpikir kreatif. Ia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan ritme, tidak harus selalu menggunakan alat musik mahal atau khusus.
“Benda di sekitar kita juga bisa jadi alat musik,” ujar Ayah Eka.
Tak lama kemudian, sebuah galon air pun dijadikan contoh. Ketika dipukul dengan pola tertentu, galon menghasilkan bunyi yang unik dan menarik. Kakak shalih–shalihah pun terkejut sekaligus kagum. Ternyata, benda sehari-hari pun bisa menjadi sumber bunyi dan ritme.
Dari sini, anak-anak belajar bahwa kreativitas bisa lahir dari hal sederhana. Musik tidak terbatas di panggung besar, tetapi bisa hadir di kelas, di rumah, bahkan dari benda yang sering mereka temui.
Saatnya Praktik dan Bekerja Sama dalam Kelompok
Setelah mengenal ritme dan berbagai sumber bunyi, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik bersama kelompok. Kakak shalih–shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat alat-alat yang tersedia—baik alat musik maupun benda sekitar.
Tantangannya bukan sekadar menghasilkan bunyi, tetapi menciptakan ritme yang indah dan selaras. Dengan arahan Ayah Eka dan pendampingan guru, kakak shalih–shalihah mulai berlatih memainkan ritme secara bergantian dan bersama-sama.
Proses ini melatih banyak hal sekaligus. Anak-anak belajar mendengarkan teman, menunggu giliran, menjaga tempo, dan bekerja sama. Mereka menyadari bahwa ritme yang bagus tidak bisa dihasilkan sendiri, melainkan perlu kekompakan.
Momen Spesial: Mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara
Puncak kegiatan BBOT hari itu terasa sangat istimewa. Setelah cukup berlatih, kakak shalih–shalihah diajak memainkan ritme untuk mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara.
Nada mars yang sudah familiar kini terdengar berbeda—lebih hidup, lebih bersemangat, karena diiringi oleh ritme hasil karya tangan-tangan kecil penuh percaya diri. Wajah kakak shalih–shalihah tampak berbinar saat mereka menyadari bahwa bunyi yang mereka hasilkan bisa berpadu menjadi musik yang indah.
Momen ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang rasa bangga. Bangga karena bisa berkontribusi, bangga karena bisa berkarya bersama teman-teman.
Belajar Seni, Menumbuhkan Karakter
Melalui kegiatan BBOT Kelas 1A ini, pembelajaran seni musik tidak berhenti pada pengenalan alat atau ritme semata. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar nilai-nilai penting seperti keberanian mencoba, kerja sama, disiplin, dan kreativitas.
Belajar ritme juga membantu anak melatih konsentrasi dan koordinasi. Mereka belajar bahwa setiap bunyi memiliki waktu yang tepat untuk dimainkan. Semua ini menjadi bekal penting dalam tumbuh kembang anak, baik secara akademik maupun karakter.
Orang Tua sebagai Inspirasi di Ruang Kelas
Kehadiran Ayah Eka sebagai orang tua dalam kegiatan BBOT kembali menegaskan bahwa pendidikan adalah hasil kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Anak-anak melihat langsung bahwa orang tua juga bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi.
Interaksi hangat antara Ayah Eka dan kakak shalih–shalihah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh kedekatan. Anak-anak merasa dihargai, didukung, dan semakin termotivasi untuk belajar.
Belajar yang Berbunyi, Bergerak, dan Bermakna
Kegiatan BBOT Kelas 1A: Belajar Ritme bersama Ayah Eka menjadi bukti bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang menyenangkan tanpa kehilangan makna. Musik menjadi jembatan untuk mengenalkan ritme, kerja sama, dan kreativitas sejak dini.
Di SD Islam Bintang Juara, setiap pembelajaran dirancang untuk menyentuh akal dan hati. Karena ketika anak belajar dengan gembira, maka pengalaman itu akan tinggal lebih lama dalam ingatan.
Dan hari itu, melalui bunyi stik drum, tamborine, wave drum, bahkan galon air, kakak shalih–shalihah Kelas 1A belajar satu hal penting:
belajar bisa berbunyi, bergerak, dan sangat menyenangkan.***
by admin admin | Feb 6, 2026 | Berita, Berita Utama, Pembelajaran
Ada getaran berbeda pada Kamis, 5 Februari 2026. Bukan sekadar kegiatan luar kelas biasa, tetapi sebuah perjalanan untuk menyelami akar budaya. Dengan semangat bertajuk “Menjaga Warisan, Menyuarakan Budaya”, kakak shalih–shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara melakukan eksplorasi seni ke Sanggar Teater Lingkar.
Langkah mereka disambut hangat oleh Om Pay, Pak Dadi, dan Kak Sindhu. Senyum ramah dan suasana sanggar yang penuh nuansa tradisional langsung membuat kakak shalih–shalihah merasa sedang memasuki ruang istimewa—tempat seni dan budaya hidup serta diwariskan.
Belajar Fokus dan Teknik Vokal Bersama Om Pay
Kegiatan dimulai dengan sesi seni teater bersama Om Pay. Sosoknya tidak asing bagi sebagian kakak, terutama yang pernah mengikuti proyek film Hari Guru. Pertemuan ini terasa seperti reuni kecil sekaligus kesempatan belajar yang lebih dalam.
Om Pay mengajak kakak-kakak berdiri membentuk lingkaran. Tidak langsung berakting, mereka justru diajak melakukan olah napas. Tarik napas perlahan, tahan, lalu hembuskan. Awalnya terdengar sederhana, namun perlahan kakak menyadari bahwa napas adalah fondasi utama dalam teater.
Setelah itu, mereka belajar teknik vokal. Suara harus jelas, lantang, tetapi tetap terkontrol. “Teater itu bukan berteriak,” ujar Om Pay, “tetapi bagaimana menyampaikan pesan dengan penuh kesadaran.” Kakak shalih–shalihah pun mencoba mengucapkan kalimat dengan intonasi berbeda—marah, sedih, bahagia—dan suasana pun penuh tawa sekaligus pembelajaran.
Latihan fokus ini bukan hanya untuk seni, tetapi juga melatih konsentrasi dan kepercayaan diri. Seni teater ternyata menjadi jembatan untuk membangun karakter.
Mengenal Karawitan dan Etika yang Menyertainya
Setelah sesi teater, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia karawitan bersama Pak Dadi. Suara gamelan yang lembut terdengar memenuhi ruangan. Satu per satu alat musik diperkenalkan:
Peking, Saron, Demung, Gong, Kempul (gong kecil), Rebab, Gambang, Gendher, Bonang, Kenong, Slenthem, Kepyak, Kendhang (termasuk kendhang ludruk dan kendhang jaipong dari Jawa Barat), Kethuk, hingga Gong Cina.
Kakak shalih–shalihah tidak hanya melihat, tetapi mendengar dan merasakan resonansi setiap alat. Setiap instrumen memiliki peran unik dalam menciptakan harmoni.
Namun sebelum praktik, Pak … menekankan etika dalam karawitan. Untuk anak shalih, duduk bersila dengan kaki kanan ditumpangkan di paha kiri. Untuk shalihah, duduk timpuh—kedua kaki ditekuk ke belakang dan ditumpuk satu sisi, dengan posisi tubuh tegak dan tenang.
Etika ini bukan sekadar aturan posisi duduk, tetapi bentuk penghormatan terhadap seni dan budaya. Tubuh harus tenang, hati harus fokus.
Dan MasyaAllah, meski baru pertama kali mencoba, kakak shalih–shalihah sudah mampu memainkan pola sederhana. Ketukan demi ketukan terdengar menyatu. Wajah mereka tampak takjub—ternyata gamelan bisa dimainkan bersama dengan kompak.
Menjelajah Dunia Pedalangan Bersama Kak Sindhu
Petualangan budaya belum selesai. Setelah karawitan, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia pedalangan bersama Kak Sindhu.
Di hadapan mereka terbentang kelir—layar putih tempat bayangan wayang dimainkan. Kak Sindhu memperkenalkan berbagai istilah penting dalam dunia pedalangan:
- Cempala: alat untuk membuka pertunjukan wayang
- Keprak: alat yang digoyangkan dalang untuk membangun suasana
- Gebog: tempat menaruh wayang
- Kelir: layar putih tempat wayang dimainkan
- Blenchong: lampu penerangan dalam pertunjukan
- Gunungan/Kayon: simbol kehidupan, bisa bermakna gunung, angin, api
- Gapit: pegangan gunungan dari tanduk kerbau
- Cepengan: teknik memegang wayang
- Tudhing: penggerak tangan wayang
- Gegel: penggerak siku wayang dari kuningan
Setiap istilah membawa kakak lebih dalam pada filosofi dan teknik pedalangan.
Bertemu Tokoh Punakawan
Tak lengkap rasanya belajar wayang tanpa mengenal tokohnya. Kak Sindhu memperkenalkan tokoh Punakawan: Bagong, Petruk, Gareng (Dengklang dan Ceko), serta Semar.
Anak-anak tertawa saat mendengar karakter unik masing-masing tokoh. Namun di balik kelucuan Punakawan, tersimpan pesan kebijaksanaan. Wayang bukan hanya hiburan, tetapi media penyampai nilai moral dan filosofi kehidupan.
Belajar Solah: Menggerakkan Wayang dengan Rasa
Kakak shalih–shalihah tidak hanya menonton demonstrasi, tetapi juga praktik langsung melakukan solah—teknik menggerakkan wayang. Tangan-tangan kecil itu belajar mengatur gerakan agar tampak hidup di balik kelir.
Tidak mudah. Butuh koordinasi, fokus, dan rasa. Namun ketika satu tokoh wayang mulai bergerak luwes, senyum bangga pun merekah.
Menutup Hari dengan Pesan Bermakna
Di akhir kegiatan, Kak Sindhu menyampaikan pesan penting: budaya adalah warisan yang harus dijaga. Jika generasi muda tidak mengenalnya, maka perlahan ia bisa hilang.
Kegiatan hari itu bukan sekadar kunjungan, tetapi pengalaman yang menanamkan kesadaran. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang perlu dibanggakan.
Budaya yang Disuarakan, Warisan yang Dijaga
Melalui eksplorasi pedalangan, karawitan, dan teater di Sanggar Teater Lingkar, kakak kelas 5 tidak hanya belajar seni. Mereka belajar tentang disiplin, etika, kerja sama, dan penghormatan terhadap tradisi.
Suara gamelan yang mengalun, bayangan wayang di kelir, dan napas yang teratur dalam latihan teater menjadi saksi bahwa warisan budaya masih hidup—dan kini disuarakan oleh generasi muda.
Karena menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan yang berakar kuat pada jati diri bangsa.***
by admin admin | Feb 5, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar untuk anak kelas 1 bukan sekadar mengenal angka dan huruf. Lebih dari itu, belajar adalah proses memahami dunia—melalui benda di sekitar, cerita, dan pengalaman yang bermakna. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kegiatan ini terasa istimewa karena menghadirkan Ayah Rais Kandar dan Bunda Karina Yudono, orang tua dari Kak Inayah, yang mengajak kakak shalih–shalihah belajar dengan cara sederhana, konkret, dan penuh makna.
Belajar Konsep Berat dan Ringan dengan Cara Nyata
Pembelajaran dimulai dari hal yang sangat dekat dengan dunia anak. Ayah Rais dan Bunda Karina memperkenalkan timbangan sederhana dari hanger. Dengan alat ini, kakak shalih–shalihah diajak membandingkan dua benda: mana yang lebih berat, dan mana yang lebih ringan.
Saat dua benda digantungkan di sisi kanan dan kiri hanger, anak-anak memperhatikan dengan saksama. Ketika salah satu sisi turun, spontan mereka berseru, “Itu lebih berat!” Dari sini, konsep berat dan ringan tidak lagi menjadi istilah abstrak, melainkan pengalaman visual dan nyata.
Kakak shalih–shalihah pun mencoba satu per satu. Mereka belajar bahwa ukuran benda tidak selalu menentukan beratnya. Ada benda kecil yang ternyata berat, dan ada benda besar yang justru ringan. Proses ini melatih rasa ingin tahu dan kemampuan observasi sejak dini.
Cerita yang Membuat Konsep Lebih Hidup
Setelah praktik menimbang, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Bunda Karina membacakan sebuah cerita sederhana yang mengaitkan konsep berat dengan fenomena alam, yaitu hujan.
Kakak shalih–shalihah diajak membayangkan awan di langit. Awan membawa air di dalam “tubuhnya”. Ketika air itu semakin banyak dan semakin berat, awan tidak mampu menahannya lagi. Maka, air pun jatuh ke bumi sebagai hujan.
Cerita ini membuat anak-anak terkesima. Mereka mulai memahami bahwa konsep berat tidak hanya ada pada benda yang bisa dipegang, tetapi juga ada di alam sekitar. Belajar pun terasa seperti mendengarkan kisah petualangan, bukan pelajaran yang membosankan.
Mengaitkan Ilmu dengan Nilai Kehidupan
Yang membuat kegiatan BBOT ini semakin bermakna adalah saat Ayah Rais mengajak kakak shalih–shalihah berpikir lebih dalam. Ia bercerita bahwa timbangan tidak hanya ada di dunia, tetapi juga ada di akhirat.
Dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, Ayah Rais menjelaskan bahwa kelak amal baik dan dosa manusia akan ditimbang. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Pesan ini disampaikan dengan lembut, tanpa menakut-nakuti, namun penuh makna.
Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa konsep berat dan ringan juga bisa dimaknai secara nilai. Amal baik yang banyak akan menjadi “berat” di timbangan kebaikan. Sebaliknya, perbuatan buruk perlu dihindari agar tidak memberatkan timbangan dosa.
Pembelajaran Tematik yang Menyentuh Akal dan Hati
Kegiatan BBOT Kelas 1B menjadi contoh pembelajaran tematik yang utuh. Anak-anak tidak hanya belajar sains dan matematika sederhana, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Semua disampaikan melalui pengalaman langsung dan cerita yang dekat dengan dunia mereka.
Pendekatan seperti ini membantu kakak shalih–shalihah memahami pelajaran dengan lebih mudah. Mereka tidak hanya mengingat konsep berat dan ringan, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
Kehadiran Ayah Rais dan Bunda Karina menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga, di mana orang tua turut terlibat aktif sebagai pendamping dan inspirator.
Anak-anak melihat langsung bahwa belajar tidak hanya milik guru di sekolah, tetapi juga bisa dilakukan bersama orang tua. Hal ini menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan semangat belajar yang lebih besar.
Belajar yang Menyenangkan dan Berkesan
Sepanjang kegiatan, wajah kakak shalih–shalihah Kelas 1B dipenuhi rasa antusias. Mereka tertawa, bertanya, mencoba, dan mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Tanpa disadari, mereka telah belajar banyak hal dalam satu kegiatan sederhana.
Melalui BBOT “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang bermakna—menghubungkan ilmu, pengalaman, dan nilai kehidupan.
Karena sejak dini, anak perlu belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk dipahami, dirasakan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.***
by admin admin | Feb 4, 2026 | Berita, Berita Utama, Pembelajaran
Belajar matematika tak selalu harus duduk rapi di bangku sambil menatap buku. Di SD Islam Bintang Juara, pembelajaran bisa terjadi di mana saja—bahkan di dapur. Itulah yang dirasakan oleh kakak shalih–shalihah kelas 3B pada Rabu, 4 Februari 2026, saat mengikuti kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan.”
Hari itu, suasana kelas berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh rasa penasaran. Bunda Dian, orang tua dari Kak Ayman, hadir membawa bahan-bahan sederhana yang biasa digunakan di dapur: tepung dan minyak. Dari bahan sederhana inilah, kakak shalih–shalihah diajak memahami konsep pecahan dengan cara yang nyata, bisa disentuh, dan terasa menyenangkan.
Dari Dapur ke Konsep Matematika
Kegiatan diawali dengan obrolan ringan. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah membayangkan aktivitas yang sering dilakukan di rumah, seperti membantu bunda membuat kue. Anak-anak pun langsung terhubung dengan cerita tersebut. Dari sini, pembelajaran dimulai—bukan dari rumus, melainkan dari pengalaman sehari-hari.
Perlahan, Bunda Dian memperkenalkan adonan kue sebagai media belajar. Tepung dan minyak dicampur, diaduk bersama, lalu diuleni. Proses ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi sarana melatih sensori motorik kakak shalih–shalihah. Tangan bergerak, otot bekerja, dan fokus pun terbangun secara alami.
Mengenal Pecahan Lewat Sentuhan dan Rasa
Saat adonan sudah terbentuk, petualangan matematika pun dimulai. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah mengamati adonan secara utuh. “Kalau ini satu adonan penuh,” tanya Bunda Dian, “lalu bagaimana kalau kita bagi menjadi dua?”
Dengan penuh antusias, kakak shalih–shalihah melihat adonan tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Dari sinilah konsep setengah (½) diperkenalkan—bukan sebagai simbol di papan tulis, melainkan sebagai adonan yang benar-benar ada di hadapan mereka.
Petualangan berlanjut. “Kalau seperempat bagaimana?” Adonan pun dibagi lagi. Kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa semakin kecil bagian, semakin banyak potongan yang terbentuk. Konsep pecahan yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sangat nyata.
Belajar dengan Bertanya dan Bereksplorasi
Bunda Dian tidak hanya memberi contoh, tetapi juga mengajak kakak shalih–shalihah berpikir dan bertanya. Anak-anak diajak menebak, menghitung, dan membandingkan: mana yang lebih banyak, setengah atau seperempat? Mana yang lebih kecil?
Proses ini melatih logika berpikir dan pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa pecahan adalah bagian dari satu kesatuan, dan setiap bagian memiliki ukuran yang berbeda.
Kesalahan pun menjadi bagian dari proses. Ketika ada adonan yang terbagi tidak sama rata, Bunda Dian mengajak kakak untuk memperbaiki bersama. Dari sini, anak-anak belajar bahwa mencoba ulang adalah hal yang wajar dalam belajar.
Sensori Motorik dan Konsentrasi yang Terlatih
Selain memahami pecahan, kegiatan ini juga memberikan manfaat besar dalam pengembangan sensori motorik. Menguleni adonan, membaginya, dan membentuk bagian-bagian kecil melatih koordinasi tangan dan mata.
Aktivitas ini juga menuntut konsentrasi. Kakak shalih–shalihah belajar fokus pada instruksi, bekerja dengan teliti, dan menyelesaikan tugas dengan sabar. Tanpa disadari, keterampilan penting ini terasah melalui kegiatan yang menyenangkan.
Matematika yang Hidup dan Bermakna
Kegiatan BBOT kelas 3B membuktikan bahwa matematika bisa “hidup” ketika dikaitkan dengan pengalaman nyata. Pecahan bukan lagi sekadar angka di buku latihan, melainkan bagian dari aktivitas sehari-hari yang bisa ditemukan di dapur rumah.
Pendekatan ini membuat kakak shalih–shalihah lebih mudah memahami dan mengingat konsep. Mereka tidak hanya tahu arti setengah dan seperempat, tetapi juga merasakan perbedaannya secara langsung.
Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak
Kehadiran Bunda Dian sebagai orang tua sekaligus fasilitator belajar memberikan dampak positif bagi anak-anak. Mereka melihat contoh nyata bahwa belajar bisa dilakukan bersama orang tua, dengan cara yang hangat dan menyenangkan.
BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Orang tua tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pada kakak shalih–shalihah.
Petualangan yang Meninggalkan Kesan
Di akhir kegiatan, kakak shalih–shalihah kelas 3B pulang dengan senyum lebar dan cerita seru. Mereka telah menjelajah dapur, mengenal pecahan, melatih motorik, dan merasakan bahwa belajar itu bisa sangat menyenangkan.
Kegiatan “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan” menjadi bukti bahwa pembelajaran yang kreatif mampu menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam. Di SD Islam Bintang Juara, setiap pengalaman belajar dirancang untuk menguatkan ilmu sekaligus membangun karakter.
Karena ketika anak belajar dengan gembira, konsep akan lebih mudah dipahami—dan kecintaan terhadap belajar pun tumbuh sejak di