fbpx
Yuk Kenali 7 Manfaat Belajar Baris-Berbaris untuk Menumbuhkan Karakter Anak

Yuk Kenali 7 Manfaat Belajar Baris-Berbaris untuk Menumbuhkan Karakter Anak

Baris-berbaris adalah salah satu kegiatan yang identik dengan kepramukaan. Dalam kegiatan Quranic Leadership Camp (QLC) TP. 2024-2025 hari pertama (Jum’at, 29 November 2024), baris-berbaris juga menjadi salah satu agenda yang diramu dalam sesi bernama Leadership Games.

Mengetahui banyaknya manfaat baris-berbaris bagi kakak shalih-shalihah, menjadikan alasan mengapa sesi ini selalu ada dalam setiap kegiatan kepramukaan. Alhamdulillah, kakak shalih-shalihah Pramutara (Pramuka Bintang Juara) jenjang Siaga dan Penggalang sesi Leadership Games bersama kakak dari PENERBAD. Salah satu agenda pentingnya adalah latihan baris-berbaris, yang bukan hanya mengasah fisik, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan.

7 Manfaat Baris-Berbaris untuk Mengembangkan Karakter Positif Anak

Hampir sebagian besar anak selalu merasa malas ketika harus memulai kegiatan ini. Apakah Ayah Bunda semasa sekolah juga termasuk yang menghindari kegiatan baris-berbaris?

Namun di balik semua aturan yang ada, baris-berbaris sangat bermanfaat dalam membentuk karakter kakak shalih-shalihah. Apa saja manfaat yang bisa kakak shalih-shalihah dapatkan dari latihan baris-berbaris ini?

1. Melatih Disiplin

Latihan baris-berbaris memerlukan ketaatan pada perintah dan konsistensi dalam melaksanakan instruksi. Kakak shalih-shalihah diajarkan untuk mendengarkan, memahami, dan mempraktikkan perintah dengan tepat.

Kebiasaan ini melatih mereka menjadi individu yang disiplin, baik dalam konteks kegiatan Pramuka maupun dalam kehidupan sehari-hari. Melalui latihan ini, kakak belajar bahwa disiplin adalah kunci keberhasilan, baik dalam kelompok maupun individu.

2. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Dalam baris-berbaris, setiap anggota memiliki peran penting. Kesalahan satu orang dapat memengaruhi kekompakan kelompok.

Hal ini mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap tugas mereka, sehingga mereka tidak hanya fokus pada diri sendiri tetapi juga peduli terhadap keberhasilan bersama. Kakak diajarkan untuk saling mendukung dan memastikan setiap anggota memahami tugasnya, membangun rasa tanggung jawab kolektif.

3. Mengembangkan Kemampuan Kepemimpinan

Saat berlatih baris-berbaris, ada posisi seperti pemimpin barisan atau komandan. Kakak yang diberi kesempatan untuk memimpin, belajar bagaimana memberikan instruksi dengan jelas dan tegas.

Mereka juga belajar bagaimana menjadi panutan bagi teman-temannya. Hal ini menjadi bagian dari pembentukan jiwa kepemimpinan yang akan sangat berguna bagi anak-anak di masa depan.

galeri leadership games QLC SD Islam Bintang Juara

4. Meningkatkan Kerjasama dan Kekompakan Tim

Baris-berbaris tidak dapat dilakukan secara individual. Kakak shalih-shalihah diajarkan untuk bergerak secara serentak dan harmonis sebagai satu tim. Mereka belajar pentingnya komunikasi dan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Kegiatan ini mengajarkan kakak untuk saling mendukung dan memahami bahwa keberhasilan tidak hanya tergantung pada satu individu, tetapi juga pada kekompakan seluruh tim.

5. Membentuk Ketahanan Fisik dan Mental

Gerakan-gerakan dalam baris-berbaris, seperti berdiri tegap, berjalan, atau menghormat, melibatkan konsentrasi dan stamina. Latihan ini melatih ketahanan fisik dan membentuk mental yang kuat.

Kakak shalih-shalihah belajar untuk menghadapi tantangan fisik tanpa mengeluh, yang membantu mereka menjadi individu yang lebih tangguh.

6. Menanamkan Sikap Hormat dan Patuh

Melalui baris-berbaris, kakak belajar untuk menghormati pemimpin dan mematuhi instruksi yang diberikan. Sikap ini membentuk karakter anak menjadi lebih sopan dan menghargai aturan.

Selain itu, mereka juga diajarkan nilai-nilai penting seperti hormat kepada kakak pembina, teman, dan lingkungan sekitarnya.

7. Melatih Konsentrasi dan Fokus

Baris-berbaris membutuhkan konsentrasi penuh untuk mendengarkan instruksi dan melakukannya dengan tepat. Hal ini melatih kakak untuk fokus pada tugas yang sedang dihadapi, sebuah keterampilan yang sangat penting untuk kesuksesan dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Latihan baris-berbaris tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama. Dalam kegiatan Quranic Leadership Camp, momen berlatih baris-berbaris bersama kakak dari PENERBAD menjadi salah satu sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dan kekompakan pada kakak shalih-shalihah Pramuka Siaga dan Penggalang.

Dengan berlatih baris-berbaris, kakak shalih-shalihah tidak hanya siap menjadi pramuka yang unggul, tetapi juga generasi Muslim yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjadi pemimpin di masa depan. Di Sekolah Islam Bintang Juara, setiap anak adalah bintang yang bersinar, dan mereka berhak menjadi juara dalam setiap aspek kehidupan.*** (CM-MRT)

Agar Anak Siap Menghadapi Asesmen Sumatif Akhir Semester, Ini 7 Cara Menyiapkannya!

Agar Anak Siap Menghadapi Asesmen Sumatif Akhir Semester, Ini 7 Cara Menyiapkannya!

Pekan ini merupakan pekan sumatif di SD Islam Bintang Juara! Sudahkah Ayah Bunda menyiapkan kakak shalih-shalihah menghadapi asesmen sumatif akhir semester (ASAS)?

ASAS adalah momen penting bagi kakak shalih-shalihah untuk menunjukkan pemahaman dan pencapaian mereka selama satu semester. Bagi sebagian kakak, ini bisa menjadi waktu yang menantang.

Namun, dengan dukungan dan strategi yang tepat dari Ayah Bunda, kakak dapat lebih percaya diri dan siap menghadapi asesmen sumatif. Sebagai informasi, asesmen sumatif di SD Islam Bintang Juara tidak selalu berhadapan dengan tes tertulis lo, Ayah Bunda.

Beberapa jenis asesmen sumatif yang bisa ditemu di Sekolah Penggerak Angkatan 2 Kecamatan Gunungpati ini, di antaranya: diskusi kelas, drama, pembuatan produk, presentasi, ataupun tes lisan. Selain bentuknya yang beragam, asesmen sumatif di SD Islam Bintang Juara juga jauh dari kata menyeramkan.

Kakak tidak merasa sedang diuji, tapi seperti sedang melakukan aktivitas seru di sekolah sebagaimana hari-hari biasanya. Walau asesmen sumatif akhir semester di SD Islam Bintang Juara didesain untuk tetap menyenangkan, bukan berarti kakak shalih-shalihah tidak perlu bersiap diri ya.

7 Cara Menyiapkan Kakak Shalih-shalihah Menghadapi Asesmen Sumatif Akhir Semester

Berikut adalah beberapa cara efektif untuk membantu anak menghadapi asesmen sumatif akhir semester.

1. Ciptakan Jadwal Belajar yang Teratur

Persiapan yang baik dimulai dengan perencanaan. Buatlah jadwal belajar bersama kakak shalih-shalihah, mencakup semua mata pelajaran yang akan diujikan. Pastikan jadwal ini tidak terlalu padat agar kakak tidak merasa terbebani.

  • Luangkan waktu untuk belajar setiap hari, namun tetap berikan jeda untuk istirahat.
  • Prioritaskan mata pelajaran yang dirasa sulit oleh anak.
  • Tetapkan target harian yang realistis agar anak merasa progresif dan termotivasi.
  • Dengan jadwal yang teratur, anak akan terbiasa belajar tanpa merasa dikejar waktu.

2. Pastikan Kakak Memahami Materi

Alih-alih hanya menghafal, bantu kakak memahami konsep-konsep penting dari setiap mata pelajaran. Tanyakan apa yang telah mereka pelajari dan minta mereka menjelaskan kembali. Metode ini membantu kakak memproses informasi secara lebih mendalam.

Jika ada materi yang sulit dipahami, luangkan waktu untuk membimbing kakak atau carilah sumber belajar tambahan seperti video edukasi, buku latihan, atau bantuan guru.

3. Latihan Soal Secara Berkala

Latihan soal membantu kakak terbiasa dengan format ujian dan melatih kemampuan berpikir kritis. Cari soal-soal latihan yang relevan dengan kurikulum sekolah. Ayah Bunda juga bisa membuat beragam alternatif soal. Tidak hanya tertulis, tapi juga bisa dikemas dalam bentuk lisan dan presentasi.

  • Jadikan latihan soal sebagai kegiatan rutin.
  • Diskusikan jawaban yang salah agar anak memahami kesalahan dan tidak mengulanginya di ujian.
  • Berikan pujian untuk setiap usaha, meskipun hasilnya belum maksimal.

4. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman

Lingkungan belajar yang kondusif sangat memengaruhi konsentrasi kakak. Pastikan tempat belajar bebas dari gangguan seperti televisi atau ponsel.

Siapkan meja yang rapi, pencahayaan yang cukup, dan alat tulis yang lengkap. Lingkungan yang nyaman akan membuat anak lebih fokus dan produktif selama belajar.

galeri asesmen sumatif di SD Islam Bintang Juara

5. Perhatikan Kesehatan Kakak

Kesehatan fisik dan mental anak sangat penting selama masa persiapan ujian. Pastikan anak:

  • Mendapatkan waktu tidur yang cukup setiap malam.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seperti buah, sayur, dan protein untuk mendukung daya pikir.
  • Tetap aktif secara fisik dengan bermain atau berolahraga ringan untuk mengurangi stres.
  • Anak yang sehat cenderung lebih mudah berkonsentrasi dan memiliki energi untuk belajar.

6. Bangun Kepercayaan Diri Anak

Tunjukkan bahwa Ayah Bunda percaya pada kemampuan anak. Jangan terlalu fokus pada hasil, tetapi hargai usaha yang telah mereka lakukan.

Berikan motivasi positif dengan mengatakan, “Kakak sudah belajar keras, Ibu/Ayah bangga padamu.” Dengan kepercayaan diri yang kuat, kakak akan lebih tenang dan siap menghadapi ujian.

7. Ajak Kakak Berdoa Bersama

Sebagai sekolah berbasis nilai Islam, kami percaya bahwa usaha harus diiringi doa. Ajak kakak berdoa agar diberikan kelancaran dan hasil terbaik. Doa bersama juga menciptakan momen kebersamaan yang bermakna.

Kesimpulan

Persiapan menghadapi asesmen sumatif akhir semester adalah perjalanan yang membutuhkan dukungan penuh dari orang tua. Dengan jadwal belajar yang teratur, pemahaman materi yang baik, latihan soal, lingkungan belajar nyaman, perhatian pada kesehatan, motivasi, dan doa, anak akan lebih siap menghadapi ujian.

Di SD Islam Bintang Juara, kami selalu mendukung kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk memastikan kakak tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berkarakter. Mari siapkan kakak shalih-shalihah menjadi bintang yang bersinar terang di manapun mereka berada! *** (CM-MRT)

Cerita QLC Bagian Dua: Materi Keputrian dari Bu Ni’mah untuk Kakak Shalihah

Cerita QLC Bagian Dua: Materi Keputrian dari Bu Ni’mah untuk Kakak Shalihah

Salah satu kegiatan dalam Quranic Leadership Camp (QLC) 2024 SD Islam Bintang Juara pada Jum’at, 29 November 2024 adalah materi keputrian. Materi ini disampaikan langsung oleh Bu Ni’mah selaku Kepala Sekolah. Diambil dari kitab Riyadhus Shalihin, Bu Ni’mah menyampaikan materi ini sebelum kakak shalih-shalihah memulai Salat Zuhur.

Sementara kakak shalih beranjak ke masjid untuk melaksanakan Salat Jumat, Bu Ni’mah mengajak kakak shalihah melingkar di Ruang Connecting Lantai 1. Dengan bahasa yang ringan dan santai, Bu Ni’mah menyampaikan ilmu fiqih terkait aurat, haid, tata cara mandi besar kepada kakak shalih-shalihah.
Walau bahasannya cukup berat, karena disampaikan dengan cara yang asyik, juga ekspresi dan gestur yang hidup, kakak shalihah insyaAllah mampu menerima materinya dengan lebih mudah. Penasaran pesan-pesan apa saja yang disampaikan bu Ni’mah dalam materi keputrian, Ayah Bunda?

Tiga Hal Penting dalam Materi Keputrian

Pada sesi sebelum Salat Zuhur ini, Bu Ni’mah menitikberatkan pentingnya muslimah untuk belajar fiqih. Karena sebagai seorang perempuan, dari ujung rambut hingga ujung kaki ada banyak hal yang harus dijaga.

Bersyukurnya agama Islam telah memberikan aturan yang jelas tentang bagaimana muslimah menjaga dirinya. Dalam waktu yang cukup singkat, namun banyak sekali hikmah yang bisa dicatat dalam materi keputrian yang disampaikan bu Ni’mah siang ini.

1. Menjadi Muslimah Cerdas

Pada bagian pertama materi keputrian, Bu Ni’mah menyampaikan pentingnya menjadi muslimah yang cerdas. Yaitu muslimah yang tidak FOMO (Fear of Missing Out) alias suka ikut-ikutan tren. Sementara dalam Islam sudah jelas ada aturannya.

Dalam beberapa hadis juga disampaikan larangan untuk menyerupai orang kafir, salah satunya dalam Hadis Riwayat Abu Dawud dan Hasan;
Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.

Dalam hal ini, bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah berhati-hati ketika menyukai lagu-lagu barat, Korea atau Jepang. Terutama ketika kakak shalihah tidak memahami makna lagunya, karena ada lagu-lagu yang liriknya berisi tentang kemaksiatan.

2. Belajar Memakai Jilbab Segi Empat

Selanjutnya, Bu Ni’mah juga mengajak kakak shalihah, terutama yang sudah Kelas 6 dan bersiap untuk masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi, belajar cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat. Pertama, kakak wajib mengenakan ciput. Selain agar rambut bagian depan tidak keluar, ciput juga membantu menahan rambut bagian belakang tergerai. Bu Ni’mah memberikan tips kepada kakak shalihah untuk mengikat rambutnya lalu dimasukkan ke dalam ciput. Bagi kakak shalihah yang memiliki rambut panjang, rambutnya bisa digelung dan dirapikan ke dalam ciput.

Hal ini agar rambut bagian belakang kakak shalihah tidak mengintip, atau malah keluar dari jilbab. Rambut adalah bagian dari aurat perempuan, sehingga harus dipastikan rambut tidak boleh terlihat.

Kedua, kencangkan jilbab di bagian bawah dagu dengan jarum pentul atau peniti. Pastikan bagian ujung depan jilbab tidak menutup wajah. Muslimah memang perlu memiliki rasa malu, tetapi ada tempat dan waktunya.

Ketiga, kakak bisa menarik jilbab ke sisi bahu kanan atau kiri. Lalu kaitkan dengan peniti. Bu Ni’mah berpesan agar kakak shalihah tidak menggunakan jilbab dengan cara dililit di leher, pastikan panjang jilbab selalu menutup dada.

Bu Ni’mah juga membagikan tips lainnya terkait cara mengenakan jilbab segi empat. Di beberapa pondok tertentu, ada aturan yang melarang santrinya mengenakan jilbab yang ditarik ke bahu kanan/ kiri.

Agar aurat tetap terjaga, pastikan jangan ditali bagian bawah, tapi berikan peniti di bagian jilbab yang menjuntai. Sehingga saat kakak sedang beraktivitas, aurat tidak terlihat.

Pakai jilbab memang panas, kak… tapi lebih panas lagi api neraka,” ujar Bu Ni’mah saat menuntaskan bahasan tentang cara mengenakan jilbab segi empat yang tepat.

galeri materi keputrian QLC

3. Aturan Memotong Rambut untuk Perempuan

Masih berkaitan dengan aurat, Bu Ni’mah juga membagikan pesan penting terkait rambut. “Lebih baik kakak shalihah memotong rambutnya di rumah, daripada di salon. Kecuali kakak bisa memastikan salon tersebut amanah dalam menjaga rambut kita yang telah terpotong tersebut,” kalimat Bu Ni’mah sebagai pengantar bahasan berikutnya dalam materi keputrian.

Rambut perempuan juga merupakan aurat, oleh karenanya penting untuk menjaganya, termasuk saat akan memotongnya. Bu Ni’mah berbagi pengalaman bagaimana beliau diajarkan oleh ayahnya cara menjaga rambut yang telah dipotong.

Setelah rambut dipotong, potongan rambut tersebut dikumpulkan lalu dikubur. Saat menguburnya, ada doa yang harus dibacakan. Bu Ni’mah juga mengajarkan kakak tentang doa ini. Seperti apa doanya? Coba Ayah Bunda bisa mengajak kakak shalihah untuk recalling ya, kira-kira kakak shalihah ingat tidak ya doa yang sudah diajarkan Bu Ni’mah ini.

4. Aturan Haid dan Tata Cara Mandi Besar

Di ujung materi keputrian, kak Adlina bertanya tentang hukum rambut yang rontok saat sedang haid. Dari pertanyaan tersebut, Bu Ni’mah lalu membahas sedikit tentang haid dan tata cara mandi besar.

Bu Ni’mah menyampaikan bahwa penting bagi kakak shalihah mencatat kapan haid dimulai. Bukan hanya tanggal, tetapi juga jam haid tersebut dimulai.
Apabila setelah hari kelima belas dari haid pertama, darah masih mengalir, maka darah tersebut dihukumi sebagai darah istiadhoh. Artinya, kakak shalihah tetap harus melaksanakan salat meski darah masih mengalir.

Bu Ni’mah juga menyampaikan penting bagi kakak shalihah untuk mengumpulkan rambut yang rontok, dan kuku yang dipotong saat sedang haid. Nanti ketika sudah dalam keadaan bersih, dan akan melaksanakan mandi junub, potongan rambut dan kuku tersebut bisa ikut disucikan.

Terkait mandi besar, bu Ni’mah juga berpesan bahwa air yang digunakan untuk membasahi rambut dan tubuh haruslah dalam kondisi mengalir. Oleh karenanya, berhati-hati apabila kakak shalihah mandi menggunakan bak atau ember. Apabila airnya tidak sejumlah dua kulah, maka air tersebut masuk kategori dalam air musta’mal. Air ini dihukumi sebagai air yang suci tapi tidak bisa mensucikan.

Bagi yang tidak memiliki shower di rumahnya, Bu Ni’mah menyarankan untuk mandi di bawah kran yang dinyalakan. Hal itu jauh lebih aman dalam mensucikan.

Tak lupa Bu Ni’mah juga mengajarkan doa yang harus dibaca saat melakukan mandi besar usai tuntas haid, yaitu;

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’aalaa.

Artinya, “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah Ta’ala.”

Demikian sepenggal cerita Quranic Leadership Camp bagian dua tentang materi keputrian yang bisa kami bagikan. Semoga bermanfaat dan nantikan cerita keseruan QLC selanjutnya, Ayah Bunda!***(CM-MRT)

Karunia Konsistensi dalam Pengasuhan Anak: Kunci Membangun Kepercayaan dan Karakter Anak

Karunia Konsistensi dalam Pengasuhan Anak: Kunci Membangun Kepercayaan dan Karakter Anak

Pada hari kedua Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA), Ahad, 17 November 2024, di Hotel Candi Convention Semarang, peserta diberikan pemahaman mendalam tentang Karunia Konsistensi dalam pengasuhan. Materi ini menekankan bahwa konsistensi adalah elemen vital yang harus dimiliki orang tua untuk menerapkan batasan, menularkan pengaruh baik, dan membangun kepercayaan anak kepada orang tua.

Karunia Konsistensi: Pilar Utama Pengasuhan

Konsistensi dalam pengasuhan berarti keselarasan antara ucapan dan tindakan yang diterapkan secara berulang. Ketika orang tua konsisten dalam menerapkan batasan—misalnya menetapkan aturan waktu tidur atau penggunaan gadget—anak akan belajar memahami dan menghormati aturan tersebut. Lebih penting lagi, konsistensi memberikan rasa aman karena anak tahu apa yang diharapkan dari mereka.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi sebagian besar orang tua saat ini adalah perbedaan antara tegas dan keras. Banyak orang tua tanpa sadar menerapkan pola asuh yang keras tetapi lembek—keras dalam bicara, namun tidak menindaklanjuti dengan batasan dan konsekuensi yang jelas. Ini berpotensi membingungkan anak dan melemahkan otoritas orang tua.

Sebaliknya, tegas berarti bersikap lembut namun tetap konsisten dalam menegakkan aturan. Tegas bukanlah sinonim dari kasar, melainkan kemampuan untuk memberikan arahan yang jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan kepada anak.

Menjadi Orang Tua Tegas, Bukan Keras

Untuk melatih konsistensi, Ayah Bunda perlu menjadi sosok yang tegas namun lembut. PR (pekerjaan rumah) dari Abah dalam modul ini menekankan komitmen untuk menjadi orang tua yang:

  • Tegas, bukan kasar: Menyampaikan aturan dengan nada yang tenang dan bahasa yang jelas tanpa kekerasan verbal maupun fisik.
  • Lembut, bukan lembek: Memberikan kasih sayang, namun tetap berpegang teguh pada batasan yang sudah ditetapkan.
    Ayah Bunda juga diminta untuk membiasakan diri berbicara sedikit namun bertindak lebih banyak. Ketika anak melanggar aturan atau bersikap berlebihan, respon terbaik bukanlah dengan banyak bicara, melainkan dengan memberikan konsekuensi logis yang telah disepakati sebelumnya.

Misalnya, jika anak tidak membereskan mainan setelah bermain, orang tua tidak perlu mengomel panjang lebar. Cukup katakan, “Mainan ini akan disimpan selama sehari karena kamu tidak merapikannya,” lalu laksanakan konsekuensi tersebut dengan tenang. Pendekatan ini mengajarkan anak untuk memahami sebab-akibat dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

galeri PSPA hari kedua

Manfaat Jangka Panjang Konsistensi

Konsistensi memberikan banyak manfaat jangka panjang, baik bagi anak maupun orang tua. Anak akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri, disiplin, dan mampu membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak dini. Selain itu, hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih harmonis karena anak merasa dipercaya dan dihormati.

Sebaliknya, inkonsistensi dapat memicu ketidakpercayaan dan kebingungan pada anak. Mereka mungkin merasa aturan yang diterapkan tidak adil atau tidak relevan, sehingga memilih untuk memberontak atau mengabaikan arahan orang tua.

Komitmen Mulai Hari Ini

Melalui modul ketiga ini pada PSPA hari kedua, Ayah Bunda diajak untuk mulai melatih diri menjadi teladan yang konsisten. Komitmen “Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh melatih diri untuk menjadi orang tua yang TEGAS bukan KASAR, dan LEMBUT bukan LEMBEK” adalah langkah awal menuju pengasuhan yang lebih efektif. Dengan menciptakan batasan yang jelas dan menegakkan konsekuensi yang adil, orang tua tidak hanya membantu anak berkembang, tetapi juga memperkuat hubungan yang penuh kepercayaan dan kasih sayang.

Konsistensi adalah karunia yang, jika dilatih dengan kesungguhan, akan membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Mari bersama melangkah menjadi orang tua yang lebih baik, demi masa depan anak-anak yang cemerlang. Selamat mempraktikkan Program 1821 dan juga batasan yang jelas pada anak, Ayah Bunda.***(CM-MRT)

Program 1821: Membangun Kualitas Hubungan Orang Tua dan Anak

Program 1821: Membangun Kualitas Hubungan Orang Tua dan Anak

Pada Sabtu, 16 November 2024, bertempat di Hotel Candi Indah Convention Semarang, Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) resmi dimulai dengan sesi pertama bertajuk Karunia Fitrah. Dalam sesi ini, Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari menyampaikan konsep penting yang menjadi landasan pengasuhan anak, yaitu Program 1821. Program ini menekankan pentingnya orang tua menyediakan waktu berkualitas bagi anak untuk menjaga dan merawat fitrah yang telah Allah anugerahkan.

galeri PSPA hari pertama

Apa Itu Program 1821?

Program 1821 merupakan panduan praktis bagi orang tua untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak. Inti dari program ini adalah komitmen orang tua untuk sepenuhnya hadir bersama anak dari pukul 18.00 hingga 21.00.

Selama periode ini, orang tua diwajibkan menyingkirkan segala bentuk gangguan yang berasal dari perangkat berbentuk kotak, seperti televisi, ponsel, laptop, hingga kompor. Dengan begitu, fokus utama orang tua benar-benar tertuju pada kegiatan bersama anak.

Meski disebut dengan Program 1821, tetapi Ayah Bunda bisa mengganti pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keluarga masing-masing. Namun waktu paling ideal adalah jam tersebut, dikarenakan biasanya di jam-jam itu Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah sudah berada di rumah.

Program ini tidak hanya mengajarkan kedekatan fisik, tetapi juga kedekatan emosional melalui tiga kegiatan utama yang disebut 3B:

1. Bermain (Serius, Bukan Main-main)

Bermain di sini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi melibatkan keterlibatan penuh dari orang tua. Bermain secara serius menunjukkan bahwa orang tua memberikan perhatian penuh, mendukung perkembangan imajinasi dan kreativitas anak.

2. Bicara (Ngobrol yang Nggak Penting Itu Penting)

Berkomunikasi dengan anak dalam suasana santai, tanpa topik berat atau terlalu serius, membantu membangun kepercayaan. Percakapan sederhana ini menjadi momen di mana anak merasa dihargai dan diterima.

3. Belajar (Baca Buku atau Aktivitas Edukatif Lain)

Membaca bersama atau mendiskusikan sesuatu yang bermanfaat membantu menanamkan kecintaan anak terhadap ilmu. Aktivitas ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai positif secara langsung.

program 1821 Abah Ihsan

Menjaga Fitrah Anak melalui Kehadiran Berkualitas

Dalam modul Karunia Fitrah, Abah Ihsan menjelaskan bahwa setiap anak lahir dengan potensi baik yang disebut fitrah. Namun, menjaga fitrah ini memerlukan upaya dari orang tua untuk terus mendampingi anak, terutama dalam periode emas perkembangan mereka. Program 1821 hadir sebagai langkah nyata bagi orang tua untuk merawat fitrah anak-anak melalui kedekatan yang hangat dan konsisten.

Fitrah anak dapat terdistorsi jika orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan atau distraksi lainnya. Dengan menyediakan waktu khusus seperti dalam Program 1821, orang tua dapat memastikan bahwa hubungan mereka dengan anak tetap harmonis dan mendukung pertumbuhan karakter yang kuat.

Tantangan dan Komitmen

Menerapkan Program 1821 mungkin tidak mudah bagi sebagian orang tua yang terbiasa multitasking atau terikat dengan pekerjaan hingga malam hari. Namun, Abah Ihsan menekankan bahwa perubahan kecil dalam jadwal harian dapat membawa dampak besar. Dengan niat yang tulus dan disiplin, orang tua dapat menciptakan kebiasaan baru yang bermanfaat bagi keluarga.

Mengingat menerapkan kegiatan ini butuh komitmen dan pembiasaan yang rutin, Abah Ihsan menjadikan Program 1821 sebagai salah satu ‘PR” yang harus dilakukan para peserta PSPA hari pertama. Tentunya bagi Ayah Bunda yang belum berkesempatan ikut belajar bersama Abah Ihsan pada PSPA kali ini, boleh juga lo berjamaah bersama menerapkan program ini di rumah.

Menyongsong Generasi yang Lebih Baik

Program 1821 bukan sekadar metode pengasuhan, tetapi juga investasi untuk masa depan anak-anak. Dengan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan anak selama minimal tiga jam setiap hari, orang tua tidak hanya mendidik tetapi juga menjadi teladan bagi mereka. Hubungan yang erat ini akan menjadi fondasi kuat bagi anak-anak untuk tumbuh sebagai individu yang percaya diri, berkarakter baik, dan memiliki hubungan yang sehat dengan orang tua mereka.

Melalui Program 1821, Abah Ihsan mengajak setiap orang tua untuk merenungkan peran mereka, mengutamakan kedekatan dengan anak, dan memastikan bahwa setiap momen berharga yang dilewati bersama menjadi bagian dari perjalanan yang bermakna. Karena di balik setiap anak yang hebat, selalu ada orang tua yang hadir sepenuh hati.

Jika di hari pertama, Ayah Bunda peserta PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) mendapat PR untuk melaksanakan Program 1821, kira-kira di hari kedua nanti akan mendapat tantangan bermakna apa lagi ya?*** (CM-MRT)