fbpx
11 Cara Mempersiapkan Anak untuk Berkompetisi, Siapkah Ayah Bunda?

11 Cara Mempersiapkan Anak untuk Berkompetisi, Siapkah Ayah Bunda?

Ayah Bunda, pada hari Rabu, 23 Agustus 2023, beberapa kakak shalih-shalihah mewakili SD Islam Bintang Juara untuk berkompetisi pada lomba MAPSI (Mata Pelajaran Agama Islam dan Seni Islami) sekecamatan Gunung Pati. Terima kasih tak terhingga kepada Ayah Bunda yang telah membantu mempersiapkan anak untuk berkompetisi dengan usaha terbaiknya.

Mungkin sebagian besar Ayah Bunda bertanya-tanya mengapa sekarang SD Islam Bintang Juara rajin mengikuti beragam perlombaan. Sebenarnya prinsip SD Islam Bintang Juara masih tetap sama kok, Ayah Bunda, bahwasanya kakak shalih-shalihah lebih baik dikenalkan dengan sistem kolaborasi dibandingkan kompetisi.

Akan tetapi dalam situasi tertentu, baik berkompetisi ataupun berkolaborasi ternyata memiliki manfaatnya masing-masing, tergantung pada konteks dan tujuan spesifiknya. Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk masing-masing pilihan.

Melalui kegiatan yang membutuhkan kolaborasi, kakak shalih-shalihah dapat belajar untuk;

  • Menggabungkan Keterampilan: Kolaborasi memungkinkan kakak shalih-shalihah dengan keterampilan yang berbeda untuk bekerja bersama dan menggabungkan keahlian mereka. Ini dapat menghasilkan solusi yang lebih holistik dan komprehensif.
  • Mengatasi Tantangan Kompleks: Masalah dan tantangan yang sangat kompleks seringkali lebih baik diatasi melalui kolaborasi daripada kompetisi. Ini karena masalah tersebut mungkin melibatkan berbagai faktor yang memerlukan kerjasama.
  • Membangun Hubungan: Kolaborasi memungkinkan kakak shalih-shalihah untuk membangun hubungan yang kuat dengan orang lain. Ini adalah pendekatan yang baik dalam konteks kerja sama tim dan kehidupan sosial.
  • Mencapai Tujuan Bersama: Kolaborasi dapat membantu kakak shalih-shalihah mencapai tujuan bersama yang lebih besar daripada yang dapat dicapai secara individu. Ini berlaku dalam berbagai konteks, seperti proyek kelas atau kegiatan sosial.
  • Mengatasi Perselisihan: Kolaborasi dapat membantu mengatasi perselisihan dan konflik dengan menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak.

berkompetisi vs berkolaborasi

Sementara itu, di sisi lain mengikuti kompetisi juga bisa memiliki manfaat sebagai berikut:

  • Mendorong Peningkatan Diri Sendiri: Kompetisi dapat memberikan dorongan untuk meningkatkan diri sendiri. Ketika kakak shalih-shalihah bersaing, mereka cenderung bekerja keras untuk mencapai tujuan tertentu dan meningkatkan prestasi mereka.
  • Mengukur Kemampuan: Kompetisi dapat membantu kakak shalih-shalihah mengukur kemampuan dan prestasinya dibandingkan dengan teman atau siswa dari sekolah lain. Ini dapat memberikan umpan balik yang berharga tentang sejauh mana kakak shalih-shalihah telah mencapai tujuan mereka.
  • Menginspirasi Inovasi: Persaingan sering kali mendorong inovasi. Ketika kakak shalih-shalihah bersaing untuk menjadi yang terbaik, ini dapat memicu hadirnya solusi ataupun ide-ide baru.
  • Merangsang Kreativitas: Kompetisi dapat merangsang kreativitas dalam menemukan cara-cara baru untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah.

Tentunya penting untuk memahami bahwa dalam banyak situasi, baik berkompetisi maupun berkolaborasi bisa menjadi pendekatan yang efektif, dan keterampilan untuk beradaptasi dengan konteks yang berbeda sangat penting. Misalnya, dalam kegiatan di sekolah, contohnya menghias kelas, berkolaborasi dengan teman sekelas adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Apabila tujuannya untuk mengukur kemampuan kakak shalih-shalihah, serta memberikan pengalaman dan mengenalkan kakak shalih-shalihah pada kemampuan siswa dari sekolah lain, mengikutkan mereka ke dalam berbagai kompetisi bisa dipertimbangkan. Oleh karena itu, pilihan antara berkompetisi atau berkolaborasi harus didasarkan pada analisis situasional dan tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Jalan tengahnya, kakak shalih-shalihah bisa diajak untuk mengikuti kompetisi yang sifatnya kolaborasi. Misal, kompetisi Jumbara, Jambore ataupun kompetisi MAPSI cabang rebana yang mengharuskan kakak shalih-shalihah berkelompok dalam mencapai tujuan bersama.

Namun tidak menutup kemungkinan kakak shalih-shalihah dikirim untuk mengikuti kompetisi perorangan dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri, menguatkan mental dan menumbuhkan keberanian. Ada kalanya kakak shalih-shalihah menampilkan yang terbaik saat latihan di sekolah bersama para guru, tetapi pada saat tampil kakak shalih-shalihah merasa grogi dan belum menunjukkan penampilan terbaik.

Oleh karenanya, berkompetisi bisa melatih kakak shalih-shalihah untuk mengatasi grogi, takut dan ketidaknyamanan yang muncul sebelum tampil. Lalu sebenarnya, kapankah kakak shalih-shalihah siap diikutkan kompetisi?

Kapankah Kakak Shalih-shalihah Siap Diajak Berkompetisi?

Kapan anak siap untuk berkompetisi dapat bervariasi tergantung pada anak itu sendiri, minat mereka, dan tingkat perkembangan mereka. Tidak ada batasan usia yang pasti, karena setiap anak memiliki tingkat kematangan dan minat yang berbeda.

Namun, beberapa faktor yang dapat membantu menentukan kapan seorang anak mungkin siap untuk berkompetisi meliputi:

  • Minat dan Motivasi: Kakak shalih-shalihah harus menunjukkan minat dan motivasi untuk berkompetisi. Mereka harus benar-benar ingin mengikuti kompetisi dalam bidang tertentu, seperti olahraga, seni, matematika, atau lainnya.
  • Keterampilan dan Kemampuan: Kakak shalih-shalihah harus memiliki dasar keterampilan atau kemampuan dalam bidang kompetisi yang mereka pilih. Ini termasuk keterampilan fisik, keterampilan kognitif, atau keterampilan artistik, tergantung pada jenis kompetisi.
  • Kesiapan Emosional: Kesiapan emosional sangat penting. Kakak shalih-shalihah harus mampu menghadapi tantangan, kegagalan, dan tekanan kompetisi tanpa terlalu stres atau tertekan. Mereka juga perlu memahami konsep menang dan kalah.
  • Pemahaman Aturan dan Etika: Kakak shalih-shalihah harus memiliki pemahaman dasar tentang aturan dan etika yang berlaku dalam kompetisi. Mereka perlu tahu bagaimana berperilaku dengan sportif dan hormat terhadap lawan.
  • Kesehatan Fisik dan Mental: Hal yang tak kalah penting, kakak shalih-shalihah harus dalam keadaan kesehatan fisik dan mental yang baik. Mereka harus memiliki energi yang cukup dan kekuatan mental untuk menghadapi tuntutan kompetisi.

kapankah anak siap berkompetisi

Ayah Bunda perlu tahu bahwa tidak semua anak tertarik atau siap untuk berkompetisi, dan itu sepenuhnya wajar. Penting untuk mendengarkan keinginan dan minat kakak shalih-shalihah serta memberikan mereka kebebasan untuk mengejar minat mereka sendiri.

Sebagai guru dan orang tua, tentulah kurang bijak apabila kita memaksakan anak untuk berkompetisi jika mereka tidak ingin melakukannya. Pilihan ini harus didasarkan pada minat dan kesiapan mereka, bukan keinginan orang tua ataupun guru.

11 Cara Mempersiapkan Anak untuk Berkompetisi

Nah, sekarang Ayah Bunda sudah tahu kan manfaat kompetisi dan kapan waktu yang tepat untuk mengikutkan anak pada kompetisi, sekarang saatnya mencari tahu langkah terbaik untuk mempersiapkan anak berkompetisi.

Persiapan anak untuk berkompetisi dapat menjadi pengalaman yang positif dan berharga jika dilakukan dengan cara yang tepat. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Ayah Bunda ambil untuk mempersiapkan kakak shalih-shalihah sebelum mengikuti kompetisi:

mempersiapkan anak berkompetisi

1. Kenali Minat dan Bakat Anak

Identifikasi minat dan bakat khusus kakak shalih-shalihah. Bidang apa saja yang mereka sukai? Apakah mereka memiliki minat dalam olahraga, seni, matematika, atau bidang lainnya? Memahami minat mereka adalah langkah pertama dalam mempersiapkan mereka untuk berkompetisi.

2. Beri Dukungan Emosional

Pastikan kakak shalih-shalihah merasa didukung secara emosional. Jangan memaksa mereka untuk berkompetisi jika mereka tidak ingin melakukannya. Diskusikan kepentingan mereka dan apakah mereka ingin berpartisipasi.

3. Temukan Pelatih atau Mentor

Jika kakak shalih-shalihah tertarik pada kompetisi tertentu, temukan pelatih atau mentor yang berpengalaman di bidang tersebut. Pelatih dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan dan memberikan panduan yang diperlukan. Di sekolah, kakak shalih-shalihah biasanya akan didampingi dan dilatih oleh guru yang memiliki minat dan kemampuan sesuai dengan kompetisi yang akan diikuti.

4. Latihan dan Persiapan Rutin

Bantu kakak shalih-shalihah merencanakan jadwal latihan yang konsisten. Latihan rutin membantu mereka membangun keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, dan siap berkompetisi.

5. Pemahaman Tentang Aturan dan Etika

Ajarkan kakak shalih-shalihah tentang aturan dan etika yang berlaku dalam kompetisi. Ini termasuk pemahaman tentang sportivitas, serta rasa hormat terhadap juri dan lawan.

6. Fokus pada Pembelajaran

Ajarkan kakak shalih-shalihah bahwa kompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang pembelajaran. Bahkan jika mereka kalah, mereka tetap dapat mengambil pelajaran berharga dari pengalaman tersebut.

cara mempersiapkan anak berkompetisi

7. Percayakan Tanggung Jawab pada Anak

Berikan tanggung jawab pada kakak shalih-shalihah dalam persiapan mereka. Biarkan mereka mengatur jadwal latihan, mengambil inisiatif dalam mempersiapkan diri, dan mengatur tujuan pribadi.

8. Pemeliharaan Kesehatan Fisik dan Mental

Pastikan kakak shalih-shalihah menjaga kesehatan fisik dan mental mereka. Dukung pola tidur yang baik, asupan makanan seimbang, dan latihan fisik yang tepat.

9. Berikan Dukungan Moral

Tunjukkan dukungan dan dorongan kepada kakak shalih-shalihah. Apabila memungkinkan, Ayah Bunda bisa menghadiri kompetisi. Kalaupun tidak bisa hadir, setidaknya alirkan semangat kepada kakak shalih-shalihah sebelum mereka berangkat ke lokasi. Namun pastikan Ayah Bunda memberikan dukungan moral tanpa tekanan yang berlebihan.

10. Evaluasi Hasil dan Pembicaraan Setelah Kompetisi

Setelah kompetisi, luangkan waktu untuk mengevaluasi hasilnya bersama kakak shalih-shalihah. Diskusikan apa yang berhasil dan apa yang perlu ditingkatkan. Ayah Bunda juga bisa mengajak kakak shalih-shalihah menceritakan penampilan peserta yang menurut mereka terbaik dan berkesan, serta apa yang bisa dipelajari dari penampilan tersebut. Pastikan Ayah Bunda mengajak diskusi dengan kalimat yang konstruktif dan positif.

11. Jaga Keseimbangan

Pastikan kakak shalih-shalihah menjaga keseimbangan antara kompetisi dan kehidupan sehari-hari. Mereka juga perlu waktu untuk bersantai, berkumpul dengan teman-teman, dan mengejar minat lain di luar kompetisi.

Hal yang perlu Ayah Bunda ingat bahwa kompetisi bukanlah segalanya. Tujuan utama mengikutkan kakak shalih-shalihah dalam kompetisi bukanlah meraih kemenangan. Namun fungsi dari mengikuti kompetisi adalah memberikan pengalaman positif dan pembelajaran kepada kakak shalih-shalihah.

Selalu prioritaskan kenyamanan dan perkembangan mereka di atas segalanya. Pastikan pula di sela-sela mempersiapkan anak untuk berkompetisi, pahamkan pada kakak shalih-shalihah bahwa “Setiap anak adalah bintang dan berhak menjadi juara.”***

Referensi:

  • https://www.rimbanews.com/pendidikan/pr-1607469564/mengapa-manusia-perlu-berkompetisi-dan-berkolaborasi-pembahasan-jawaban-alternatif
  • https://edukasi.kompas.com/read/2018/05/05/13021551/haruskah-mengajarkan-kompetisi-pada-anak
  • http://beritadisdik.com/news/cerdas/kompetisi-versus-kolaborasi-
  • https://gaya.tempo.co/read/1118362/jangan-buru-buru-ajarkan-anak-berkompetisi-tilik-dulu-syaratnya
  • https://www.antaranews.com/berita/738627/jangan-tuntut-anak-berkompetisi-sejak-dini
  • https://www.halodoc.com/artikel/5-cara-mengajarkan-anak-untuk-berkompetisi-dengan-sehat
  • https://www.parenting.co.id/usia-sekolah/persiapkan-anak-sebelum-ikut-lomba
Yuk Kenali 10 Manfaat Air Putih untuk Tumbuh Kembang dan Kesehatan Anak, Ayah Bunda!

Yuk Kenali 10 Manfaat Air Putih untuk Tumbuh Kembang dan Kesehatan Anak, Ayah Bunda!

Membiasakan minum air putih pada kakak shalih-shalihah merupakan tantangan tersendiri. Namun apabila Ayah Bunda bisa membagikan informasi terkait manfaat air putih untuk tumbuh kembang dan kesehatan kakak shalih-shalihah, bisa jadi mereka jadi lebih bersemangat untuk minum air putih.

Kebutuhan air untuk kakak shalih-shalihah yang duduk di bangku SD (Sekolah Dasar)  bervariasi tergantung pada faktor-faktor tertentu. Namun, terdapat rekomendasi umum mengenai konsumsi air harian untuk anak-anak yang dapat digunakan sebagai pedoman.

Menurut informasi dari situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), berikut ini kebutuhan air yang harus dipenuhi untuk kesehatan anak:

  • Kakak shalih-shalihah berusia 4 – 8 tahun memerlukan 1700 mL/hari.
  • Kakak shalih-shalihah berusia 9 – 13 tahun memerlukan 2400 mL/hari pada laki – laki dan 2100 mL/hari pada perempuan.

Tentu saja harap diingat, Ayah Bunda, bahwa ini adalah perkiraan umum dan asupan air yang tepat dapat bervariasi antara anak yang satu dan lainnya. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:

  • Aktivitas fisik: Kakak shalih-shalihah yang lebih aktif membutuhkan lebih banyak air untuk menggantikan kehilangan cairan saat berkeringat.
  • Iklim: Di iklim yang lebih panas, kakak shalih-shalihah mungkin perlu lebih banyak air untuk mencegah dehidrasi.
  • Kesehatan individu: Beberapa kakak shalih-shalihah mungkin memiliki kondisi kesehatan tertentu yang memerlukan asupan air yang lebih tinggi. Konsultasikan dengan dokter jika ada kekhawatiran kesehatan.
  • Makanan: Sebagian besar makanan juga menyediakan sejumlah air, jadi asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kakak shalih-shalihah dapat memengaruhi seberapa banyak air yang mereka butuhkan.
  • Usia: Kakak shalih-shalihah yang lebih muda mungkin membutuhkan asupan air yang lebih sedikit daripada kakak yang berusia lebih tua.

10 Manfaat Air Putih untuk Tumbuh Kembang dan Kesehatan Tubuh Kakak Shalih-shalihah

Air memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak-anak. Berikut beberapa manfaat air bagi anak-anak:

manfat air putih

1. Hidrasi

Air sangat penting untuk menjaga tubuh anak tetap terhidrasi. Tubuh anak-anak membutuhkan air untuk berbagai fungsi, termasuk menjaga suhu tubuh, mengangkut nutrisi ke sel-sel tubuh, dan menghilangkan sisa-sisa metabolisme.

2. Fungsi Tubuh yang Optimal

Air membantu menjaga fungsi organ tubuh yang optimal. Ini termasuk fungsi jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaan. Dengan cukup minum air, anak-anak memiliki energi yang lebih baik dan dapat beraktivitas dengan baik.

3. Kesehatan Kulit

Air membantu menjaga kulit anak tetap sehat dan lembut. Kehilangan cairan yang cukup dapat mengakibatkan kulit kering, gatal, dan bahkan masalah kulit lainnya.

4. Sistem Kekebalan Tubuh

Air membantu sistem kekebalan tubuh anak-anak berfungsi dengan baik. Tubuh yang terhidrasi dengan baik cenderung lebih baik dalam melawan infeksi dan penyakit.

5. Pertumbuhan dan Perkembangan

Air adalah komponen utama dalam pembentukan sel dan jaringan tubuh. Selain itu, air membantu dalam penyerapan nutrisi dari makanan, yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.

manfaat air putih untuk tumbuh kembang

6. Kesehatan Ginjal

Air membantu dalam menjaga kesehatan ginjal. Dengan cukup minum air, anak-anak dapat membantu menghindari masalah seperti batu ginjal yang dapat menyebabkan rasa sakit dan masalah kesehatan lainnya.

7. Pencegahan Dehidrasi

Dehidrasi bisa berbahaya bagi anak-anak, dan air adalah cara terbaik untuk mencegahnya. Gejala dehidrasi pada anak-anak dapat mencakup mulut kering, mata cekung, dan lemas. Dalam kasus yang parah, dehidrasi dapat mengancam nyawa.

8. Konsentrasi dan Fokus

Anak-anak yang terhidrasi dengan baik cenderung memiliki konsentrasi dan fokus yang lebih baik di sekolah dan dalam aktivitas sehari-hari.

9. Detoksifikasi

Air membantu tubuh anak mengeluarkan zat-zat berbahaya dan sisa-sisa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, sehingga membantu menjaga tubuh mereka tetap sehat.

10. Mengatur Suhu Tubuh

Air membantu tubuh mengatur suhu saat anak bermain atau beraktivitas fisik. Ini adalah penting terutama saat cuaca panas.

Ayah Bunda, penting untuk mengajarkan anak-anak untuk mendengarkan tubuh mereka sendiri. Mereka harus diajarkan untuk minum air saat mereka merasa haus dan untuk tidak menunda minum sampai mereka merasa sangat haus.

Selain air, makanan sehat yang mengandung buah-buahan dan sayuran juga dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan anak-anak. Selalu perhatikan tanda-tanda dehidrasi pada kakak shalih-shalihah, seperti mulut kering, mata cekung, atau sedikit buang air kecil, dan pastikan mereka mendapatkan cukup cairan.

fasilitas galon di SD Islam Bintang Juara

Untuk memastikan kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara mendapatkan manfaat penuh dari air, para guru konsisten untuk mengajarkan mereka kebiasaan minum air yang baik dengan cara membawa tumblr/ botol minum dalam setiap kegiatan.  Selain itu SD Islam Bintang Juara juga senantiasa memastikan kakak shalih-shalihah untuk memiliki akses mudah ke air bersih dan segar.

Di setiap gedung dan lantai sudah disediakan galon air yang siap untuk mengisi botol kosong kakak shalih-shalihah. Fasilitas air yang ada di SD Islam Bintang Juara ini juga bisa bebas dimanfaatkan oleh kakak shalih-shalihah tanpa biaya tambahan sedikit pun.

Oleh karenanya, Ayah Bunda tidak perlu khawatir saat kakak shalih-shalihah berada di sekolah. Insya Allah ketersediaan air selalu tercukupi dan para guru juga senantiasa mengingatkan kakak shalih-shalihah untuk minum air putih sesuai kebutuhan.

Semoga dengan adanya fasilitas air bersih di SD Islam Bintang Juara, kakak shalih-shalihah dapat mendapatkan manfaat air untuk tumbuh kembang dan kesehatan secara optimal. Terima kasih juga untuk Ayah Bunda yang selalu mendukung program-program kami.***

Referensi:

  • https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kebutuhan-air-pada-anak#:~:text=Diperkirakan%2C%20bayi%20usia%200%20%E2%80%93%206,perempuan%3B%20anak%2014%20%E2%80%93%2018%20tahun
  • https://www.alodokter.com/yuk-bunda-biasakan-si-kecil-minum-air-putih-dengan-cara-ini
  • https://www.klikdokter.com/ibu-anak/kesehatan-anak/berapa-kebutuhan-air-minum-yang-ideal-untuk-anak
  • https://www.halodoc.com/artikel/ini-4-manfaat-air-putih-untuk-tumbuh-kembang-anak
  • https://www.haibunda.com/parenting/20201102174541-59-170843/9-manfaat-air-untuk-anak-ketahui-kebutuhannya-sesuai-usia-yuk-bun
Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Calon Pemimpin Muslim Melalui Upacara Kemerdekaan Berpakaian Adat

Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Calon Pemimpin Muslim Melalui Upacara Kemerdekaan Berpakaian Adat

HUT Republik Indonesia ke-78 pada tahun 2023 ini bertemakan “Terus Melaju Untuk Indonesia Maju”. Dalam rangka menumbuhkan jiwa nasionalisme Calon Pemimpin Muslim, ada yang menarik dari upacara peringatan hari kemerdekaan di SD Islam Bintang Juara. Seluruh siswa, guru dan tenaga kependidikan SD Islam Bintang Juara mengenakan pakaian adat yang berbeda-beda.

Hal unik lainnya, di akhir upacara bendera dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-78, ibu Nur Shofwatin Ni’mah memberikan tantangan kepada kakak shalih-shalihah untuk menceritakan filosofi di balik pakaian adat yang dikenakannya. Nah, apakah Ayah Bunda sudah membekali informasi penting ini sebelum memilihkan pakaian adat untuk dikenakan kakak shalih-shalihah?

Nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu maupun masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas dan pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Nasionalisme sangat diperlukan demi  kelangsungan suatu negara, dengan harapan memunculkan rasa persatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, salah satunya melalui cara yang dilakukan oleh SD Islam Bintang Juara. Dengan meminta kakak shalih-shalihah mengenakan pakaian adat nusantara saat upacara kemerdekaan, diharapkan dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri kakak shalih-shalihah, serta untuk mengenalkan beragam budaya nusantara.

Manfaat Pakaian Adat dalam Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Calon Pemimpin Muslim

Pakaian adat Indonesia memiliki banyak manfaat dan peran penting dalam budaya dan masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari pakaian adat Indonesia:

manfaat pakaian adat untuk menumbuhkan nasionalisme

1. Penciptaan Identitas dan Kepribadian

Pakaian adat Indonesia membantu menciptakan dan mengekspresikan identitas dan kepribadian bangsa. Setiap etnis dan daerah di Indonesia memiliki pakaian adatnya sendiri yang mencerminkan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang unik.

2. Pelestarian Budaya dan Warisan

Pakaian adat merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Memakai pakaian adat adalah cara untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

3. Representasi Budaya dalam Acara Resmi

Pakaian adat sering digunakan dalam acara-acara resmi, seperti upacara keagamaan, pernikahan, festival budaya, dan perayaan nasional. Ini membantu memperkuat identitas budaya Indonesia dalam konteks resmi.

4. Menghormati Tradisi dan Adat Istiadat

Memakai pakaian adat adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi dan adat istiadat suatu daerah atau etnis tertentu. Ini menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

5. Menyatukan Masyarakat

Pakaian adat dapat menjadi faktor penyatuan dalam masyarakat. Ketika  kakak shalih-shalihah mengenakan pakaian adat dalam acara-acara tertentu, hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan yang kuat terhadap budaya mereka.

6. Pendidikan dan Pengetahuan

Pakaian adat juga merupakan sumber pengetahuan tentang sejarah, seni, dan budaya Indonesia. Melibatkan kakak shalih-shalihah sebagai generasi muda dalam memahami pakaian adat dapat membantu mempertahankan tradisi ini.

7. Melibatkan Kreativitas, Seni dan Penghormatan Terhadap Lingkungan

Pembuatan pakaian adat melibatkan keterampilan seni dan kerajinan tangan yang tinggi. Tak hanya itu beberapa pakaian adat Indonesia juga terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

Hal ini tentu saja menunjukkan penghormatan terhadap lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan dalam budaya. Dalam upacara peringatan kemerdekaan RI ke-78 di SD Islam Bintang Juara, pakaian adat yang dikenakan Kak Shaqueel dari kelas 2 terpilih sebagai pakaian adat paling unik dan kreatif. Ayah Bunda Kak Shaqueel mempersiapkan sendiri lo pakaian adat tersebut, masya Allah.

Silakan Ayah Bunda bisa menyimak dulu video dokumentasi kegiatan upacara dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-78:

Ayah Bunda, hal terbaik agar jiwa nasionalisme tumbuh subur dalam diri kakak shalih-shalihah melalui perantara pakaian adat yaitu dengan membiarkan mereka berpartisipasi aktif dalam proses mengenakan pakaian adat. Caranya, libatkan kakak shalih-shalihah dalam memilih pakaian, mengenakannya, dan memahami makna di balik setiap bagian pakaian tersebut.

Selama proses mengenakan pakaian adat, adakan diskusi tentang arti nasionalisme dan mengapa penting untuk mencintai dan menghargai budaya dan sejarah bangsa sendiri. Bicarakan juga tentang bagaimana pakaian adat adalah bagian dari warisan budaya kita.

Melibatkan kakak shalih-shalihah untuk berpartisipasi dalam upacara yang melibatkan penggunaan pakaian adat adalah kesempatan bagus bagi mereka untuk merasakan jiwa kebersamaan dan kebanggaan terhadap budaya mereka.

Selain menekankan pentingnya cinta terhadap budaya sendiri, ajarkan juga pentingnya toleransi dan menghargai keragaman budaya. Salah satunya dengan mengenalkan bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya, dari jenis pakaian adat, kuliner khas, rumah adat dan juga kesenian yang beragam.

Itulah mengapa di akhir upacara Bu Ni’mah memberikan tantangan kepada kakak shalih-shalihah yang berani menceritakan filosofi di balik pakaian adat yang dikenakan. Ada banyak kakak shalih-shalihah yang mencoba menjawab, tetapi belum ada yang benar-benar tepat menjabarkan filosofinya.
Sepertinya kakak shalih-shalihah masih kebingungan. Nah, ini tentu saja menjadi PR bagi pihak sekolah dan orang tua. Bagaimanapun guru dan orang tua adalah role model paling kuat yang bisa dilihat kakak shalih-shalihah.

Penting bagi guru dan orang tua untuk menunjukkan kepada kakak shalih-shalihah bagaimana kita menghargai budaya dan sejarah lokal, serta bagaimana kita merayakan hari-hari nasional dengan bangga. Semoga dengan demikian, jiwa nasionalisme kakak shalih-shalihah akan tumbuh dengan subur.

Alhamdulillah kak Syamil kelas 6 akhirnya mampu menceritakan makna pakaian adat yang dikenakannya. Harapannya di lain waktu, kakak shalih-shalihah lainnya juga bisa menceritakan arti dari busana adat yang dipakainya.

Selain membicarakan filosofi pakaian adat, Bu Ni’mah dalam amanah upacara juga menceritakan tentang filosofi Bambu Runcing. Nah, Ayah Bunda juga bisa lo menceritakan filosofi terkait sejarah bangsa kepada kakak shalih-shalihah sebagai bahan diskusi yang asyik dan seru di rumah.

galeri upacara kemerdekaan SD Islam Bintang Juara

Upacara peringatan kemerdekaan RI yang melibatkan pakaian adat tentulah menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Hal ini akan membuat kakak shalih-shalihah lebih terbuka untuk memahami dan menerima nilai-nilai nasionalisme.

Dengan menggabungkan pendidikan, pengalaman, dan contoh-contoh nyata, Ayah Bunda dapat membantu kakak shalih-shalihah mengembangkan jiwa nasionalisme yang kuat dan sekaligus menghargai kekayaan budaya mereka.

Ingatlah bahwa penting untuk menciptakan lingkungan yang terbuka, inklusif, dan penuh kasih, di mana kakak shalih-shalihah dapat merasa aman untuk bertanya dan belajar lebih banyak tentang budaya dan identitas nasional mereka. Jadi, apakah Ayah Bunda sudah siap menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam diri kakak shalih-shalihah dengan mengajak mereka berdiskusi tentang filosofi di balik pakaian adat daerah asalnya? Bagikan cerita Ayah Bunda di kolom komentar, yuk!***

Mengenal Kurikulum Merdeka Lebih Dekat bersama SD Islam Bintang Juara

Mengenal Kurikulum Merdeka Lebih Dekat bersama SD Islam Bintang Juara

Alhamdulillahirrobil’alamin, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka telah belajar dengan lancar. Sekitar 30an peserta hadir memenuhi Aula SD Islam Bintang Juara pada hari Kamis, 15 Juni 2023. Para peserta kegiatan cukup antusias untuk mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat.

Peserta pada kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka ini merupakan para guru yang berasal dari sekolah-sekolah dasar sekecamatan Gunungpati. Respon para peserta terhadap kegiatan ini cukup baik.

Suasana Kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Aula SD Islam Bintang Juara

Mengingat bahwa Kurikulum Merdeka akan diterapkan secara serentak mulai tahun pelajaran 2024-2025, banyak guru yang merasa perlu belajar dan mengenal lebih dekat tentang kurikulum baru ini. Sebagai Sekolah Penggerak Angkatan II satu-satunya di Kecamatan Gunungpati yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, SD Islam Bintang Juara berinisiatif untuk berbagi pengalaman kepada sekolah di sekitarnya.korsatpen gunungpati

Alhamdulillah gayung bersambut, Bapak Eddy Sutono, S.Pd. selaku Koordinator Satuan Pendidikan (Korsatpen) Kecamatan Gunung Pati mendukung berlangsungnya kegiatan ini. Agar paparan materi lebih menarik dan berdampak, dihadirkan pula Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan I yang juga membantu SD Islam Bintang Juara dalam proses Digitalisasi Kurikulum Merdeka, Bapak Mustafa M. Abdullah, S.T., M.M. atau yang akrab dipanggil dengan Cak Mustafa.cak mustafa

Tidak hanya berupa paparan yang teoritis, kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka juga berisi diskusi yang bernas antara peserta dan narasumber. Para peserta dibagi beberapa kelompok untuk saling berdiskusi, belajar dan mempraktikkan bagaimana menerapkan Kurikulum Merdeka.ibu nur shofwatin ni'mahIbu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara membagikan pengalaman beliau dalam mendampingi para guru SD Islam Bintang Juara dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran bermakna sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Sebagai informasi, Bu Ni’mah baru-baru ini telah dinyatakan lolos sebagai Narasumber Berbagi Praktik Baik Implementasi Kurikulum Merdeka.

Usai acara ditutup, kelegaan dan kebahagiaan terpancar melalui wajah sumringah para peserta. Beberapa peserta sempat memberikan pesan bermakna terkait kegiatan ini:

Ibu Ike Wulandari dari SD Negeri Sadeng 1 menyampaikan bahwa kegiatannya sangat menyenangkan, narasumbernya memberikan paparan yang cukup jelas. Selain itu dari SD Islam Bintang Juara juga berbagi bagaimana mempraktikkan Kurikulum Merdeka di sekolahnya, sehingga bisa diamati, tiru dan modifikasi.

Ibu Hani Al Amini dari SDIT Mutiara Hati mengaku setelah mengikuti kegiatan ini jadi lebih tahu dan paham apa yang dimaksud dengan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), serta bagaimana cara mengajar yang baik.

Senang sekali ya, Ayah Bunda, apabila kegiatan yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara bisa memberikan manfaat kepada para guru dan sekolah di sekitar. Semoga dengan adanya kegiatan ini, semakin banyak guru yang bisa menyambut kedatangan Kurikulum Merdeka dengan bahagia, sehingga semakin banyak siswa yang bisa mendapat pengajaran dan pembelajaran bermakna.

Ayah Bunda silakan bisa menikmati dokumentasi kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka melalui video berikut:

Mengenal Kurikulum Merdeka dan Istilah-istilahnya

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk bersama menciptakan pembelajaran berkualitas, yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar murid. Dalam proses menerapkan kurikulum ini, para tenaga pendidik perlu tahu istilah-istilah baru yang ada pada Kurikulum Merdeka, yaitu:

1. Capaian Pembelajaran

Apabila di Kurikulum 13, Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru mengenal istilah KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar), istilah yang digunakan pada Kurikulum Merdeka yaitu CP (Capaian Pembelajaran). Capaian Pembelajaran adalah kumpulan kompetensi yang diberikan sesuai fase pertumbuhan siswa. Di sinilah letak perbedaan besar antara Kurikulum 13 dan Kurikulum Merdeka.

KD dinyatakan dalam bentuk poin-poin dan diurutkan untuk mencapai KI yang diorganisasikan selama per tahun sesuai kelasnya masing-masing. Sementara itu, CP pada Kurikulum Merdeka dinyatakan dalam paragraf yang merangkaikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mencapai, menguatkan dan meningkatkan kompetensi.

Tahapan fase ditentukan oleh pusat, berikut ini pembagiannya:

  • Fase pondasi/ pra sekolah: PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
  • Fase A: Kelas 1-2 SD
  • Fase B: Kelas 3-4 SD
  • Fase C: Kelas 5-6 SD
  • Fase D: Kelas 7 – 9 (SMP)
  • Fase E: Kelas 10 SMA
  • Fase F: Kelas 11 – 12 SMA

Karena kompetensinya tidak dibatasi oleh kelas, tetapi oleh fase, eksplorasi kompetensi pada Kurikulum Merdeka menjadi lebih lama dan luas. Capaian pembelajaran sudah dibuat oleh pusat, guru hanya perlu menerjemahkan dalam alur pembelajaran.

2. Alur Tujuan Pembelajaran

Apabila dalam K13 ada istilah silabus, Kurikulum Merdeka mengenal istilah ATP (Alur Tujuan Pembelajaran). ATP yaitu dokumen yang berisi rangkaian kompetensi/ tahapan pembelajaran yang disusun secara sistematis mulai tahap awal sampai akhir. Fungsinya sebagai pedoman bagi guru agar lebih mudah dalam melaksanakan permbelajaran.

3. Modul Ajar

Pernah mendengar istilah RPP dalam penerapan K13? Nah, pada Kurikulum Merdeka, istilah RPP digantikan dengan Modul Ajar.

komponen modul ajar kurikulum merdeka

Modul Ajar di sini bukan semacam buku pendamping, tapi berisi rencana pembelajaran. Sederhananya, Modul Ajar berisi sekumpulan rencana yang terdiri dari beberapa komponen; informasi umum (identitas penulis), komponen awal, P5, target, model pembelajaran yang digunakan, dsb, komponen inti (pertanyaan pemantik, materi inti, refleksi, dll), dan bagian akhir berupa lampiran serta bahan bacaan.

4. Profil Pelajar Pancasila

Dalam K13 ditemukan istilah PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), sementara dalam Kurikulum Merdeka ditemukan istilah P3 (Profil Pelajar Pancasila). Kedua istilah ini memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu terkait dengan pendidikan karakter.

Namun P3 menggunakan istilah Pancasila agar semakin menggambarkan karakter siswa sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Selain itu agar nama Pancasila bisa semakin membumi di kalangan generasi muda Indonesia.

karakter profil pelajar pancasila

Untuk menuju P3, dimunculkan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang kegiatan-kegiatannya melebur dalam setiap pembelajaran di semua mata pelajaran. Adapun target karakter yang ingin dicapai melalui P5 adalah beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong,

5. KOSP

Dalam dokumen K13, dikenal istilah KTSP, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka memiliki KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan). Adapun lima prinsip Kurikulum Merdeka yaitu:

  • Berpusat pada peserta didik dan P3 harus menjadi rujukan semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah.
  • Kontekstual (menunjukkan kekhasan dan karakter  satuan pendidikan).
  • Esensial (Dokumen hanya berisi hal-hal utama dan penting).
  • Akuntabel (Dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual).
  • Melibatkan berbagai pemaagku kepentingan (komite satuan pendidikan, orang tua, berbagai sentra, dsb).

6. Teaching at Right Level

Maksudnya yaitu guru harus mampu mengajar sesuai dengan tingkatan/ kemampuan siswa. Kalau di K13, awal pijakan mengajar adalah dari KD. Misalnya, kelas KD kelas 3 adalah pembagian, maka guru akan mulai mengajar dari level pembagian.

Sementara di kurikulum merdeka, guru mengajar harus melihat kemampuan awal siswa. Apabila siswanya belum bisa berhitung, sementara CP-nya adalah bisa pembagian, ya guru tetap harus mulai mengajar dari berhitung, bukan langsung diajari pembagian.

Demikianlah secuil info terkait istilah-istilah dalam Kurikulum Merdeka. Semoga kegiatan Pengimbasan Sekolah Penggerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, juga informasi mengenai istilah dalam KuMer ini mampu membuat Ayah Bunda dan para guru bisa mengenal Kurikulum Merdeka lebih dekat. Semoga bermanfaat.***

Sumber:

  • https://kurikulum.kemdikbud.go.id/perbandingan-kurikulum#tb-perbandingan-left
  • https://www.youtube.com/watch?v=GzZ_Mb56jWs
Calon Pemimpin Muslim Mengenal Filosofi Wayang Bersama Bapak Agus Basuki

Calon Pemimpin Muslim Mengenal Filosofi Wayang Bersama Bapak Agus Basuki

Ayah Bunda, sebagai Calon Pemimpin Muslim yang tinggal di Jawa Tengah, kakak shalih-shalihah perlu dikenalkan dengan budaya Jawa. Oleh karenanya pada hari Senin, 29 Mei 2023, diselenggarakan kegiatan “Belajar Bersama Ahli” yang mengangkat tema “Mengenal Filosofi Wayang.”

Ahli yang didatangkan pada hari itu untuk menemani kakak shalih-shalihah kelas 2 – 5 belajar mengenai budaya Jawa adalah Bapak Agus Basuki, S.Pd.  Beliau adalah sosok yang menyebut dirinya sebagai Pelaku Budaya. Bapak Agus memiliki pengetahuan yang luas tentang budaya Jawa.

Apa saja ya yang dipelajari kakak shalih-shalihah bersama Bapak Agus Basuki? Simak catatan  Bintang Juara hingga akhir ya, Ayah Bunda.

Mengapa Calon Pemimpin Muslim Perlu Mengenal Budaya Jawa?

Sebelum kami mengajak Ayah Bunda untuk mengetahui hal-hal yang dipelajari kakak shalih-shalihah selama kegiatan “Belajar Bersama Ahli,” yuk terlebih dahulu mengenali mengapa Calon Pemimpin Muslim perlu mempelajari kebudayaan tempat mereka tinggal. Setidaknya ada tiga alasan yang menguatkan mengapa Calon Pemimpin Muslim sebaiknya belajar kebudayaan di tempat mereka tinggal:

1. Memahami Budaya Setempat Agar Berdakwah Lebih Mudah

Dalam Al Quran Surat Ibrahim ayat 4, Allah SWT berfirman;

quran surat ibrahim ayat 4

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Dari ayat tersebut, Ayah Bunda bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah SWT menurunkan para rasul yang berasal dari kaum tersebut. Tentu saja agar saat berdakwah, rasul tersebut bisa menyampaikan firman-firman Allah SWT dengan bahasa yang dipahami oleh kaumnya.

Sebagai Calon Pemimpin Muslim, kelak kakak shalih-shalihah akan terjun ke masyarakat dan memilih ladang dakwahnya masing-masing. Dalam menjalani perannya, tentu kakak shalih-shalihah akan lebih mudah masuk ke dalam masyarakat Jawa apabila mereka memahami budaya Jawa.

Sebagaimana para Walisanga yang berdakwah melalui budaya, seperti wayang, tembang dan gamelan. Maka diharapkan dengan kakak shalih-shalihah memahami budaya tempat mereka dilahirkan atau tempat mereka kini menetap, bisa membantu mereka kelak dalam menyelami masyarakat hingga bisa berdakwah secara tepat.

2. Memahami Budaya, Cara Calon Pemimpin Muslim untuk Saling Mengenal

Termaktub dalam Al Quran Surat Al-Hujurat: 13;

quran surat al hujurat ayat 13

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kalian terdiri dari berbagai bangsa dan suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nan Mahateliti.”

Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal satu sama lain. Nah, cara terbaik dalam saling mengenal adalah mempelajari bahasa dan budaya bangsa orang-orang yang ada di sekitar kita dengan baik.

Jadi semisal kakak shalih-shalihah tidak lahir di Jawa, dan tinggal di kota Semarang karena mengikuti orang tua, Ayah Bunda bisa memberikan semangat kepada kakak shalih-shalihah dalam mempelajari budaya Jawa dalam rangka agar lebih mengenal teman-temannya.

Diharapkan dengan mengenal budaya tempat ia tinggal, kakak shalih-shalihah jadi tahu bahwa di dunia, Indonesia khususnya, memiliki keragaman budaya. Sebagai Calon Pemimpin Muslim tentunya kakak shalih-shalihah diharapkan bisa menerima perbedaan budaya yang ada, sehingga tumbuh sikap toleransi dan tepa selira di antara mereka.

3. Belajar Budaya untuk Memahami Masyarakat

Dari Zaid bin Tsabit berkata: bahwa Rasulullah saw memerintahkanku untuk mempelajari bahasa orang-orang Yahudi, beliau bersabda: Demi Allah aku tidak percaya kepada orang-orang Yahudi atas suratku, Zaid berkata; setelah setengah bulan aku belajar bahasa tersebut aku dapat menguasainya, apabila beliau hendak mengirim surat kepada orang-orang Yahudi aku menulisnya untuk mereka, dan apabila mereka mengirim surat kepada beliau maka aku membacakan surat mereka untuk beliau. (HR. Imam Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi pada kitab sunan Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW meminta salah seorang sahabatnya, Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi. Hal itu dikarenakan agar Zaid bin Tsabit bisa memahami surat-surat yang dikirim oleh orang-orang Yahudi.

Belajar dari hadits tersebut, insya Allah semakin menguatkan kenapa mempelajari budaya di mana kakak shalih-shalihah tinggal penting dilakukan. Tentu saja agar kakak shalih-shalihah bisa memahami karakter masyarakat tersebut.

pentingnya belajar budaya

Saat kakak shalih-shalihah telah memahami karakter masyarakatnya, insya Allah kakak shalih-shalihah bisa lebih mudah masuk ke tengah-tengah masyarakat tersebut. Dampaknya, saat kakak shalih-shalihah ingin berdakwah ataupun ingin menyampaikan pendapat, akan lebih didengar dan dihargai.

Mengenal Filosofi Wayang bersama Bapak Agus Basuki, S.Pd.

Semoga setelah Ayah Bunda memahami mengapa Calon Pemimpin Muslim perlu belajar Budaya Jawa, Ayah Bunda bisa lebih semangat dalam mendampingi kakak shalih-shalihah belajar kebudaayan Jawa, khususnya Jawa Tengah, sebagai provinsi di mana SD Islam Bintang Juara berlokasi.

Dalam kegiatan “Belajar Bersama Ahli”, Bapak Agus Basuki, S.Pd. membagikan materinya dalam beberapa bagian:

1. Budaya Jawa

Pada bagian awal, Bapak Agus Basuki menjelaskan apa yang disebut dengan budaya Jawa. Dalam hal ini, beliau memperkenalkan kepada kakak shalih-shalihah tentang budaya subasita Jawa yang berkaitan dengan tri laku utama, meliputi tata basa, tata laksita dan tata busana.

busana adat jawa

2. Tata Busana

Salah satu keunggulan budaya Jawa adalah filosofi di setiap unsurnya, termasuk dalam pakaian adat Jawa.  Oleh karenanya, pada hari “Belajar Bersama Ahli” berlangsung, Bapak Agus Basuki sengaja mengenakan busana adat Jawa agar bisa menjelaskan secara langsung mengenai simbol dan makna/ filosofi di dalam pakaian tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan oleh dr. Amir Zuhdi dalam webinar ‘Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak’, bahwasanya otak anak SD agar berkembang kecerdasannya perlu pembelajaran yang nyata. Yaitu dengan cara diperlihatkan dan ditunjukkan secara langsung.

Dengan melihat langsung busana adat Jawa secara lengkap, dan mendapat pemaparan mengenai makna simbol-simbolnya, insya Allah kakak shalih-shalihah akan lebih mudah menerima dan merekam informasi tersebut dalam memorinya.

3. Wayang

Selain belajar tentang filosofi busana adat Jawa, kakak shalih-shalihah juga belajar mengenal filosofi wayang. Bapak Agus Basuki, S.Pd. pertama-tama menjelaskan tentang apa itu wayang, kemudian dilanjutkan memberikan informasi peran wayang  sebagai media dakwah agama Islam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Bapak Agus Basuki juga menjelaskan mengenai hubungan wayang dengan ajaran-ajaran Islam. Misalnya, Pandawa yang berjumlah lima merupakan simbol dari keberadaan rukun Islam, Panakawan sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, dsb.

wayang kulit bersama agus basuki, S.Pd.

Narasumber yang menjelaskan dirinya sebagai Pelaku Budaya ini juga menginformasikan bahwa wayang adalah tontonan dan tuntunan. Dilambangkan dengan keberadaan Kurawa dan Pandawa, sebagai simbol hancurnya keburukan oleh kebaikan, sama seperti dalam perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Selain mendengarkan paparan dari Bapak Agus Basuki, kakak shalih-shalihah juga mendapat kesempatan untuk memainkan wayang. Bagian ini adalah hal yang paling dinanti. Kakak shalih-shalihah mendapat pengalaman baru yang insya Allah akan terekam hingga dewasa.

Selanjutnya Bapak Agus Basuki memainkan cerita wayang berjudul Dewa Ruci.  Cerita Dewa Ruci menggambarkan perjuangan siswa dalam menggapai cita-cita. Bentuk bakti Bima kepada Resi Drona, gurunya, yaitu dengan menumbuhkan sikap pantang menyerah.

Cerita ini dipilih oleh Bapak Agus Basuki dalam rangka untuk memberikan wewarah atau tuntunan mengenai pentingnya berbakti kepada orang tua dan guru.

Ayah Bunda, berikut ini video dokumentasi saat kakak shalih-shalihah belajar mengenai Filosofi Wayang bersama Bapak Agus Basuki:

Demikianlah Ayah Bunda catatan Bintang Juara tentang kegiatan “Belajar Bersama Ahli” yang mengangkat tema Mengenal Filosofi Wayang. Doakan agar SD Islam Bintang Juara selalu bisa menghadirkan ahli-ahli terbaik untuk memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi kakak shalih-shalihah. Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.***

Sumber:

  • https://umma.id/article/share/id/9999/644116
  • https://cakradunia.co/news/belajar-bahasa-asing/index.html
  • Juknis dan Materi “Belajar Bersama Ahli pada Senin, 29 Mei 2023”
Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak, Yuk Belajar Dasar-Dasarnya!

Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak, Yuk Belajar Dasar-Dasarnya!

Ayah Bunda, alhamdulillahirrobil’alamin, webinar pendidikan bersama dr. Amir Zuhdi bertajuk Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak, pada Ahad, 28 Mei 2023 telah berlangsung dengan lancar. Ada banyak sekali insight yang didapat dari event tersebut.

Apakah Ayah Bunda juga mengikuti webinar tersebut? Jika pada hari itu Ayah Bunda berhalangan untuk menghadirinya, silakan bisa menyimak di sini:

Pentingnya Berkesadaran dalam Mengajar

Webinar Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak dibuka dengan sambutan penuh semangat oleh Kepala SD Islam Bintang Juara, Ibu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd. Tidak berpanjang kalam, usai mendokumentasikan momen narasumber bersama seluruh peserta, acara inti segera dimulai.

Miss Meli, Kepala PAUD Islam Bintang Juara, yang didapuk sebagai moderator acara inti, membacakan profil dr. Amir Zuhdi. Setelahnya, dr. Amir Zuhdi mulai memaparkan beberapa hal dasar yang wajib diketahui oleh guru dan orang tua terkait pembelajaran ramah otak anak.

profil dokter amir zuhdi

Sebuah kalimat pembuka dr. Amir Zuhdi cukup menggelitik;

“Mengajar itu harus berkesadaran atau hipnotik?”

Ternyata kalimat tersebut adalah sebuah pertanyaan yang pernah disampaikan kepada seseorang kepada dr. Amir Zuhdi. Sebagai dokter dengan peminatan pada neurosains, menjawab pertanyaan tersebut tentu saja beliau menggunakan pijakan ilmu neurosains.

Sebagai informasi, yang disebut dengan neurosains yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang neuron (sel syaraf). Ilmu yang mempelajari bagaimana otak manusia bekerja. Kalau berdasarkan pijakan tersebut, disebutkan oleh dr. Amir Zuhdi, mengajar itu harus sadar, tidak boleh terhipnotis.

Aktivitas otak memang ada yang menyerupai keadaan terhipnotis, tapi sebenarnya kondisi otak saat itu sadar. Sebagaimana saat kita sedang menyimak webinar, kita mendengar apa yang disampaikan pembicara dan melakukan apa yang diminta pembicara. Kondisi tersebut bukan berarti kita sedang terhipnotis oleh pembicara, tetapi memang otak kita sedang fokus pada webinar tersebut.

Oleh karenanya dr. Amir Zuhdi menegaskan bahwasanya mengajar jika berbasis neurosains haruslah berkesadaran.

Setelah menyampaikan pembukaan yang apik, dr. Amir Zuhdi menceritakan sekelumit ‘sejarah hidupnya’. Ternyata dr. Amir Zuhdi dilahirkan dan dibesarkan di keluarga guru. Kakeknya guru, ibu bapaknya guru. “Hanya saya yang ‘tersesat’ di kedokteran,” ucap dr. Amir Zuhdi dengan senyum yang lebar.

Namun siapa sangka, kini takdir juga membawa dr. Amir Zuhdi ke dunia pendidikan. Lebih tepatnya menjadi gurunya para guru dan orang tua melalui program Neuroteaching dan Neuro Parenting School.

Dokter Amir juga menyampaikan pesan yang sangat menguatkan para guru agar tidak berkecil hati dengan profesi yang dijalaninya saat ini. Kata dr. Amir Zuhdi;

“Menyejahterakan keluarga dimulai dengan pendidikan.”

Oleh karenanya orientasi mengajar haruslah untuk membangun kecerdasan di bawah lindungan Allah SWT. Kecerdasan tersebut meliputi karakter, moral, literasi, numerasi dan lain-lain. Namun tidak lupa untuk menjadikan kakak shalih-shalihah sadar akan perannya sebagai Hamba Allah SWT.

Ditambahkan oleh dr. Amir Zuhdi, agar tujuan mengajar tercapai maka dibutuhkan guru yang ikhlas. Indikator guru ikhlas menurut wejangan dari sang ibu adalah guru yang senantiasa belajar.

Kemudian Dokter Amir menceritakan guru yang mendampingi beliau hingga berhasil saat ini. Suatu waktu, dr. Amir Zuhdi bertemu kembali dengan gurunya sewaktu SD. Si guru ini bercerita kalau dulu sempat bingung waktu mengajar dr. Amir.

Karena saat itu, kalau dr. Amir tidak sambil bermain, tidak ada pelajaran yang bisa dipahami. Sang guru kemudian berdoa agar Allah SWT bisa memberikan cara mengajar yang tepat untuk dr. Amir.

Mengetahui bahwa Dokter Amir memiliki kecerdasan kinestetik, maka sang guru sengaja untuk selalu memberikan tugas kepadanya. Setiap kali melihat dr. Amir selesai mengerjakan satu tugas, sang guru akan memberikan tugas lain.

Cara tersebut ternyata terbukti membuat dr. Amir bisa duduk tenang di mejanya dan tidak mengganggu teman sekelas. Setelah dr. Amir menjadi dokter yang mempelajari neurosains, ternyata cara yang digunakan oleh gurunya tersebut sesuai dengan otak belajar.

Belajar Neuroteaching, Belajar yang Tersistem

Dokter Amir menganggap gurunya adalah salah satu contoh guru yang ikhlas. Beliau senantiasa mencari solusi untuk setiap tantangan yang dihadapi.  Tak hanya itu beliau juga membawa nama murid-muridnya di dalam doa.

Semoga Ayah  Bunda dan para bapak ibu guru bisa menduplikasi apa yang telah dilakukan oleh gurunya dr. Amir Zuhdi dalam kehidupan sehari-hari ya.

Selanjutnya, dr. Amir Zuhdi menyampaikan bahwa mempelajari otak bagi guru dan orang tua bukanlah untuk menjadi dokter. Namun untuk bisa memahami bagaimana kinerja otak yang sebenarnya.

Oleh karenanya dalam Neuro Parenting School, mempelajari keseluruhan ilmu neuroteaching membutuhkan waktu 32 jam. Sedangkan untuk neuroparenting dibutuhkan waktu kurang lebih 50 jam. Selain neuroteaching dan neuroparenting,  dr. Amir Zuhdi juga memiliki program yang dinamai Neuro Leadership.

otak dan kegiatan belajar mengajar

Hal-hal yang disampaikan oleh dr. Amir Zuhdi melalui webinar ini barulah pondasinya saja. Diharapkan dengan mengetahui dasar-dasarnya, para guru dan orang tua memiliki alasan yang semakin kuat untuk mempelajari neuroteaching dan neuroparenting.

Mengajar dan mengasuh anak tidak boleh asal-asalan. Otak kalau dirangsang asal-asalan, nantinya sel-sel syaraf yang baru tidak akan terbentuk dengan baik/ tidak sistematis.

Ketika guru dan orang tua telah mengetahui bagaimana otak bekerja, diharapkan mereka bisa merancang sistem pembelajaran yang komprehensif dan bisa diaplikasikan. Catatan penting yang perlu diperhatikan baik oleh guru maupun orang tua;

Pembelajaran itu selalu membutuhkan otak.

Dokter Amir kemudian membagikan lima hal yang perlu ada dalam sebuah sistem pembelajaran yang ramah otak:

lima komponen pembelajaran ramah otak anak

1. Pengalaman Emosi

Pengalaman emosi memiliki dampak pada otak anak dan berperan penting dalam proses belajar mengajar. Semakin kaya pengalaman emosi yang dialami oleh anak, semakin pesat perkembangan otaknya.

2. Memberi Tantangan Hal-hal Baru

Membangun hubungan antar subjek, merespon dan beradaptasi, dapat memberi pengalaman belajar yang penuh makna bagi kakak shalih-shalihah.

3. Memberi Latihan Pengulangan

Semakin sering hal-hal baik diulang, maka semakin menambah kuat proses pengingatan. Tak hanya itu, hal-hal baik tersebut kemudian perlahan menjadi kebiasaan dan tumbuh menjadi karakter.

4. Gizi yang Cukup

Proses belajar selain memerlukan gerak, lingkungan variatif, emosi yang konstruktif, dan rangsangan, nutrisi/ gizi juga memegang peranan penting. Di dalam otak ada 900 neuron tidak aktif yang disebut dengan neuroglia.

Neuroglia bertugas menyiapkan makanan untuk aktivitas neuron. Neuron itu penting untuk otak bertumbuh. Nutrisi otak disimpan secara khusus di neuroglia. Selain berfungsi untuk mengelem nutrisi, neuroglia disebut sebagai posko makanan.

Saat seorang anak kurang gizi, nutrisi akan diambilkan dari cadangan lainnya. Kalau cadangannya habis, maka ambil dari neuron. Bahayanya, ketika semua nutrisi yang tersimpan di neuron habis, anak tersebut bisa mengalami perkembangan otak yang stagnan. Tidak bisa berpikir dengan baik, dan tentu saja berdampak pada kehidupan sehari-harinya.

Oleh karenanya, Ayah Bunda perlu memperhatikan nutrisi yang baik untuk otak kakak shalih-shalihah, antara lain; jus, madu, susu kambing, Ikan laut, ikan air tawar, tempe mentah dengan kurma, dan sebagainya.

5. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang dilakukan siswa menjelang belajar akan mengoptimalkan kinerja otak. Alhasil proses belajar mengajar akan berjalan dengan maksimal.

Neuroteaching melibatkan tiga komponen utama; otak guru, otak anak dan ramah otak. Semua guru harus sudah yakin dan percaya tentang hal tersebut.

Anak yang tangan kakinya tidak lengkap, asal otaknya distimulasi dengan baik, masih bisa cerdas. Namun anak yang tangan kaki lengkap, otak nggak terstimulasi, maka bisa saja otaknya tidak berkembang.

Guru dan orang tua juga perlu tahu bahwa usia PAUD – kelas 2 SD aktivitas belajar harus lebih banyak bermain. Saat anak duduk di kelas 3 SD, kegiatan-kegiatan yang diberikan boleh mulai masuk kognitif.

Cara belajarnya dengan dibuktikan, dilihatkan objeknya. Namun dengan catatan, cara belajar ini akan lebih optimal ketika kecerdasan emosinya sudah oke.

Guru PAUD juga harus bersinergi dengan orang tua di rumah. Jangan sampai di sekolah sudah melakukan pembelajaran ramah otak yang berbasis gerak, eh di rumah, kakak shalih-shalihah justru dirusak oleh orang tuanya sendiri dengan lebih banyak diberi gadget.

Fenomena ini dinamai Gadget Hijacking oleh dr. Amir Zuhdi. Dampak dari fenomena ini adalah semakin banyak anak yang kecanduan gagdet dan bahkan memerlukan terapi psikiatri untuk menanganinya.

gadget hijacking amir zuhdi

Disampaikan pula oleh Dokter Amir, orang tua yang memberi gadget kepada anak, sejatinya mereka adalah orang tua yang memiliki emosi tumpul. Karena malas berhadapan dengan balada tantrum anak, mereka memilih untuk memberikan gadget sebagai jalan pintas.

Namun kami yakin, Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang membaca artikel ini tidak termasuk golongan orang tua tersebut bukan?

Saat ini semakin marak pembuat game karena game telah berkembang menjadi bisnis. Maka semakin banyak game dibuat, semakin banyak uang yang masuk di kantong para pembuat game. Namun sebagai orang tua dan guru, kita perlu mengetahui fakta bahwa game dapat merusak otak anak.

Hubungan Pembelajaran Ramah Otak Anak dengan Pengasuhan Orang Tua

Dokter Amir kemudian menceritakan sebuah kisah  tentang seorang mahasiswa cerdas yang hippocampus-nya mengecil. Dari sejak usia dini hingga SMA, mahasiswa ini terkenal sebagai sosok yang nilai akademisnya selalu memuaskan.

Namun sayang orang tuanya tidak pernah merasa puas dengan prestasi sang anak. Alhasil pada saat kuliah, menyelesaikan soal yang harusnya bisa 10 menit, diselesaikan dalam 1 jam.  Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ukuran hippocampus si mahasiswa mengecil.

hippocampus dan kecerdasan anak

Sebagai informasi, hippocampus berkaitan dengan memori (khususnya memori belajar). Bagian kanan berhubungan dengan kecerdasan spasial, sementara bagian kiri berhubungan dengan kecerdasan analitik dan kritikal. Dengan mengecillnya hippocampus, si mahasiswa menjadi sulit berpikir secara analitik

Banyak sekali kasus-kasus setipe. Apabila dirunut, sebagian besar merupakan dampak dari buruknya pengasuhan pada 0-7 tahun. Karena diasuh secara temperamental, akhirnya anaknya juga akan tumbuh menjadi sosok yang terperamental.  Pada saat anak-anak, efek ini bisa jadi belum terlihat. Namun saat anak sudah dewasa, efeknya akan terlihat dengan nyata.

Kegagalan pengasuhan sebagian besar disebabkan karena kurang piawainya orang tua dalam mengelola emosi.

Dari cerita tentang mahasiswa di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa memang sangat penting bagi orang tua dan guru untuk mengetahui cara otak bekerja.

Guru dan orang tua belajar otak bukan untuk menjadi dokter, tetapi untuk mengajar, mendidik dan mengasuh anak secara tepat. Belajar dan mengajar  tanpa melibatkan ilmu tentang otak adalah hal mustahil. Apalagi ketika guru dan orang tua ingin materi ajarnya diterima oleh anak.

Nah, buat Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang ingin belajar tentang otak anak, otak orang tua dan otak belajar, silakan bisa mengikuti kelas Neuroparenting dan Neuroteaching yang digelar oleh Neuro Parenting School (NPS):

flyer neuroparenting

flyer neuroteaching

Mengenal Dasar-dasar Otak Anak

Dokter Amir Zuhdi menyampaikan bahwasanya otak memiliki dua belahan; kanan dan kiri. Neuroscience telah berkembang, tidak lagi saklek bahwasanya kanan untuk spasial, kiri untuk analitikal.

Tidak ada lagi istilah, mengajar matematika menggunakan otak kanan. Sambil berkelakar, dr. Amir Zuhdi bertanya, “Coba deh dipotong otak kirinya, apa bisa otaknya berjalan?”

Dua belahan ini memiliki fungsinya masing-masing, tapi berperan dengan saling melengkapi, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Dua-duanya saling digunakan dalam waktu bersamaan. Belahan kanan akan bekerja bagus bila dibackup belahan kiri dan sebaliknya.

Otak saat satu belahannya diambil akan terlihat dua bagian; otak dalam dan luar. Otak dalam berhubungan dengan emosi dan gerak. Sementara otak luar berhubungan dengan kemampuan berpikir dan bahasa.

Otak diproses dari dalam dulu baru luar. Otak dalam dulu, baru otak luar. Guru dan orang tua perlu mengetahui ini agar proses mengajar dan mengasuh bisa optimal dalam membangun kecerdasan.

Dalam Neurosains, ada lima kecerdasan, yang nantinya akan melahirkan kecerdasan-kecerdasan lainnya:

  • Gerak,
  • Emosi,
  • Rasio/ inteligen,
  • Sosial,
  • Spiritual.

Lima kecerdasan tersebut berasal dari tiga kecerdasan; gerak, emosi, dan rasio. Perlu Ayah Bunda dan bapak ibu guru ketahui bahwa ada dua kecerdasan yang posisinya sebagai fondasi, yaitu: gerak dan emosi.

Sebagaimana bangunan yang tinggi, semegah apapun kalau pondasinya rapuh akan berbahaya bukan? Begitu juga dengan kecerdasan anak.

hubungan otak dan proses belajar mengajar

Agar anak usia PAUD cerdas, fokuslah pada gerak dan emosi. Emosi akan terus berkembang di tahun-tahun berikutnya. Namun gerak benar-benar harus dikawal dalam 7 tahun, atau maksimal 9 tahun pertama.

Cara utama mengajari anak agar tumbuh cerdas; ajarilah anak bergerak. Oleh karenanya pengasuhan orang tua jangan sampai minim gerak. Biarkan anak banyak bergerak.

Cari permainan yang cara bermainnya bergerak. Semakin banyak gerakan tubuh, semakin baik.  Mulai usia SD, barulah mulai ditata kognisinya. Saat usia SMP, mulai ditata emosinya.

Tak sedikit yang kemudian bertanya kepada dr. Amir Zuhdi, “Kebutuhan anak kan cerdas, bukankah calistung termasuk di dalamnya?”

Tentu saja belajar berhitung dan menulis bagi anak usia PAUD diperbolehkan. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa cara mengajari/ cara belajarnya yang harus lewat gerak.

Mungkin Ayah Bunda dan bapak ibu guru yang baru pertama kali menerima materi tentang neurosains akan sedikit merasa bingung dan tak yakin.  Oleh karenanya, dokter Amir kemudian memberikan pijakan bahwa antara otak besar dan otak cerebelum {otak kecil) terhubungkan dengan ‘kabel’ atau syaraf-syaraf. Otak besar adalah pusat berpikir.

Nah, untuk membuat anak-anak berpikir dengan bagus, maka anak-anak harus banyak BERGERAK. Artinya diberikan stimulasi sensorik motorik yang sesuai kebutuhan.

Adapun kriteria berpikir bagus yang dimaksud oleh dr. Amir Zuhdi yaitu;

  • Fleksibel,  bisa melihat sesuatu dari sudut yang berbeda dan  tidak kaku/ mudah beradaptasi.
  • Pikirannya selaras dan tenang. Tidak mudah ngamukan alias tantrum.

Contoh anak-anak yang tidak fleksibel:

  • Pernah menemukan anak yang saat meminta A ya harus A, diganti B keukeuh tidak mau apapun alasannya.
  • Sering tantrum karena pikirannya tidak selaras.
  • Tidak bisa menunda, saat minta sesuatu harus sak dhet sak nyet kalau kata orang Jawa. Alias harus ada saat itu juga.

Cara memperbaiki anak-anak dengan kondisi seperti itu, yaitu dengan membenahi gerakannya. Bicara  tentang kecerdasan gerak, maka tak bisa lepas dari sistem sensorik. Ada 8 piranti sistem sensorik yang perlu diketahui orang tua dan guru, termasuk tentang reflek-reflek primitif. Sistem sensorik harus terintegrasi.

Contoh beberapa latihan untuk melatih gerak yaitu meniti jalan titian. Aktivitas tersebut bukan sekadar untuk melatih keseimbangan, tetapi juga untuk mengoptimalkan kecerdasan.

Memberikan pendidikan dan pengasuhan harus sesuai dengan pertumbuhan otak. Otak tidak langsung sempurna, paling cepat berkembang dalam jangka waktu 18  tahun. Perkembangan otak paling lama 25 tahun, sedangkan angka rata-rata adalah 21 tahun. Setiap fasenya, ada milestone yang harus dipahami oleh Ayah Bunda dan Bapak Ibu Guru.

Pembelajaran Ramah Otak Anak untuk SD atau PAUD Ya?

Hal tersebut paling banyak ditanyakan melalui formulir pendaftaran. Dokter Amir lalu memberikan jawaban yang bijak;

Guru SD harus tahu otak PAUD bekerja. Guru PAUD juga harus tahu bagaimana otak SD bekerja. Sehingga pada saat mengajar bisa saling berkesinambungan, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam program Transisi PAUD-SD.

Oleh karenanya, pengajaran antara guru PAUD – SD harus saling terkait, khususnya antara guru PAUD dan guru-guru kelas 1-3. Pada saat anak usia 7-8 tahun terjadi pergeseran, dari yang full gerak, bergeser ke aktivitas berpikir.

Walau berpikirnya masih yang sederhana. Namun pada usia tersebut, sebuah pertanda muncul, yaitu adanya angulus yang berkembang. Artinya, anak sudah bisa berpikir dengan lebih kompleks.

Masuk SMP, anak-anak bisa belajar emosi yang lebih rumit. Masuk usia remaja, tentut perkembangan otaknya berbeda lagi. Ada cara mengajar dan mengasuh yang berbeda pada setiap kelompok umur. Mengajar anak di bawah 7 tahun dengan anak di atas 12 tahun pasti beda caranya.

Dokter Amir memberikan pesan agar tidak pernah mengganti guru kelas 1 SD dengan guru kelas 6 SD, karena biasanya proses belajar mengajar akan berjalan berantakan. Kecuali guru kelas 6 SD yang kemudian diamanahi mengajar kelas 1 SD punya kemampuan adaptasi yang baik. Justru kalau guru kelas 1-3 SD diganti guru PAUD masih bisa berjalan baik.

pengertian neurosains

Otak dan Gender, Bedanya Pengasuhan antara Laki-laki dan Perempuan

Selain pertanyaan tentang pembelajaran ramah otak anak lebih cocok untuk SD atau PAUD, pertanyaan terkait bedanya pengasuhan antara anak laki-laki dan perempuan juga banyak diajukan melalui formulir pendaftaran. Menanggapi hal ini, dr. Amir Zuhdi memberikan jawaban;

“Tidak perlu tersegmenkan secara khusus, tapi yang pasti laki dan perempuan berbeda. Jenis kelaminya saja berbeda. Secara dasar, otak awalnya perempuan, lalu ada hormon-hormon seksual yang berkembang sehingga ada laki- dan perempuan.”

Apabila dilihat dari perkembangan secara fisik, otak laki dan perempuan memang berbeda. Otak dalam perempuan lebih tebal struktur pembuluh darahnya daripada otak dalam laki-laki.

Otak dalam berhubungan dengan emosi dan gerak, nutrisi dan oksigen banyak ditemukan di sini. Alhasil aktivitas perempuan biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kalau dianalagikan, laki-laki itu layaknya kompor minyak tanah, sementara perempuan seperti kompor gas.

“Jadi kalau perempuan suka ngegas, ya memang begitu, sudah fitrahnya,” ujar dr. Amir Zuhdi.

Terkait mengapa perempuan lebih suka mengomel dibandingkan lelaki, hal itu dikarenakan otak bahasa perempuan jauh lebih luas daripada laki-laki. Maka, perempuan cerewet itu normal.

Kalau perempuan nggak banyak ngomong, artinya ia belum ketemu  teman yang cocok. Kalau sudah bertemu teman, kok perempuan masih pendiam, bisa jadi perempuan itu mengalami stres.

Perempuan disebut sebagai madrasatul ula karena memiliki sub cortical/ otak dalam yang lebih tebal.  Kondisi ini membuat perempuan, normalnya, memiliki 1000 bahasa yang menyejukkan.

Sementara apabila dilihat dari fitrah perkembangan, anak laki-laki usia 7-9 tahun seharusnya didekatkan dengan ayah atau figur yang menggantikan sosok ayah. Begitu juga anak perempuan di usia 7-9 tahun, sebaiknya dekat dengan ibu.

Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan hormon seksual yang sedang tinggi-tingginya. Apabila anak dekat dengan orang tua yang memiliki gender sejenis, anak-anak jadi lebih mudah untuk bercerita dan mengekspresikan curahan hatinya.

Setelah masuk usia 12 tahun, anak-anak perlu mendapat nilai-nilai lainnya. Anak harus dekat dengan orang tua yang beda gender. Perempuan membutuhkan tampilan tentang laki-laki yang baik seperti apa, oleh karenanya dekatkan dengan ayah/ yang berperan sebagai figur ayah. Begitu juga sebaliknya.

Masya Allah webinar pendidikan Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak memang banyak sekali hikmah yang bisa diambil, Ayah Bunda. Apabila Ayah Bunda ingin mengetahui materi dari Bunda Vivi Psikolog yang dibagikan pada acara inti bagian kedua, silakan mengunjungi artikel “Kegiatan Bermain dan Belajar yang Bermakna sesuai Kebutuhan Perkembangan Anak.”

dokter amir zuhdi neurosains

Dokter Amir Zuhdi menutup paparannya pagi itu dengan kalimat-kalimat bermakna;

Belajar mengajar adalah satu aktivitas yang mulia. Ketika mengajar bukan sekadar untuk mencari nafkah, tapi juga untuk mengasah otak kita. Bukan sekadar untuk menjadi guru berotak normal, tapi guru berotak sehat.

Belajar mengajar  membutuhkan kapasitas otak, maka sudah sewajarnya guru belajar tentang otak. Bukan untuk sebagai dokter, tetapi untuk menjadi guru yang bijak dan menyenangkan. Pada akhirnya Anda akan mendapat murid yang cemerlang, ceria dan cerdas.

Apabila catatan Bintang Juara tentang Neuroteaching, Pembelajaran Ramah Otak Anak ini bermanfaat, mohon kesediaan Ayah Bunda untuk membagikan informasi ini kepada masyarakat luas. Terima kasih dan sampai jumpa pada catatan-catatan berikutnya.***